Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Yebin si ahli menusukㅋㅋ



Yebin POV


“Apa ini maksudnya?! Aku kan sudah mengemasnya dengan baik sesuai yang dia inginkan, tapi kenapa mau dikembalikan? Kalau tidak mau ya tidak usah beli, kenapa repot sekali?! Retur itu bisa dilakukan saat ada kesalahan dalam pengemasan, barang yang didatang berbeda jenis dari pesanan, atau ada cacat! Bukan dikembaikan karena tidak sesuai yang dikarapkan. Apa wanita ini sedang main-main denganku?!”


Aku melompat turun dari sofa begitu selesai membalas chat dari seorang customer Biniemoon yang ingin melakukan retur barang setelah memberi komentar negatif di website.


Amarah yang menguasai kepalaku ini membuatku merasa haus. Aku berjalan ke arah dapur dengan raut wajah bersungut-sungut. Menuju lemari pendingin dan langsung menyerobot satu botol air mineral untuk kuteguk langsung dari botolnya.


“Hey! Kang Yebin. Bagaimana bisa manusia meminum air seperti kuda? Pelan-pelan, tenggorokanmu bisa berlubang.”


Suara Kak Jangmi menegurku yang sedang meminum air putih. Namun aku masih tetap melanjutkan kegiatan minumku sampai perutku terasa kenyang oleh air.


“Dasar gila. Sebenarnya tenggorokanmu itu isinya apa keran air? Bisa bisanya manusia meminum seperti pipa paralon?” Kak Jangmi lanjut merutuk setelah melihatku.


Kata-kata yang Kak Jangmi lontarkan itu bahkan tidak masuk ke telingaku. Hanya berlalu seperti angin malam yang berembus cepat. Yang ada di kepalaku hanya satu hal; Amarah. Kepalaku dipenuhi amarah pada satu orang pelanggan Biniemoon yang memaksa ingin melakukan retur barang dengan alasan yang tidak dapat aku terima sebagai penjual.


“Omong kosong. Dasar manusia-manusia tidak berguna! Apa dia pikir melakukan pengembalian itu tidak ada persyaratan? Mana ada orang melakukan retur karena tidak senang akan barang yang datang? Spesifikasi produk semuanya sudah jelas terpampang di website. Kenapa dia bodoh sekali tidak bisa membedakan jenis kain dan bersi keras ingin mengembalikan barang yang sudah dibeli?”


Kepalaku terasa mau meledak. Tidak. Sepertinya sebentar lagi kepalaku benar-benar akan meledak. Aku sungguh marah memikirkan satu pelangganku yang kurang ajar; merengek ingin mengembalikan barang dan meminta uangnya dikembalikan dengan ganti rugi! Tcih. Dia pikir aku ini bodoh? Dia pikir aku belum pernah menghadapi pelanggan sepertinya? Awas saja kau. Kita lihat siapa yang menang. Karena sampai bulan menangis pun aku tidak akan menuruti keinginannya.


“Aduh, kau dan emosimu.”


Mengebaikan gumaman heran Kak Jangmi yang sedang memasak sesuatu di dapur, aku pun berjalan kembali ke arah sofa. Tepat saat aku datang, ponselku di atas meja berdenting. Kulihat ada satu pesan masuk pada aplikasi chat KakaoTalk.


Kedua mataku terbelalak melihat siapa yang mengirimu pesan teks pada siang menjelang sore ini. sungguh. Aku tak menyangka sama sekali. Itu... itu adalah Hun Oppa. Dia benar menghubungiku terlebih dahulu.


‘Bukankah katamu tadi kau ingin makan es krim? Datanglah. Aku sudah ada di kedai es krim kesukaanmu.’


Sepertinya ada kilat yang menyambarku sampai-sampai sepuluh menit setelah mendapat pesan teks dari Hun Oppa aku telah berada di kedai es krim yang dimaksudnya. Aku berlari. Seperti orang kerasukan hantu pelari aku berlari kencang keluar dari rumahku, menaiki taksi menuju kedai es krim—tempat biasanya Hun Oppa mentraktirku es krim.


Sesampainya di kedai itu, kusebarkan pandangan ke sekeliling. Mencari keberadaan Hun Oppa. Lalu kuliat sesosok lelaki berlesung pipi melambaikan tangannya ke arahku. Tidak salah lagi, itu adalah Hun Oppa. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum hangat. Senyum hangat yang dulu selalu membuatku merasa tenang di tengah semua permasalahan yang terjadi.


Tanpa menunggu lama aku berjalan cepat ke arah bangku tempat Hun Oppa berada. Kedai es krim ini cukup ramai ketika aku datang. Tetapi aku merasa tidak ada orang lain selain aku dan Hun Oppa di kedai ini. Semua orang yang mengisi tempat ini seolah hanya sebagai figuran.


“Oppa! Kau sudah lama menungguku?” celetukku begitu tiba di bangku nomor dua belas tempat Hun Oppa duduk. Aku pun ikut mendudukkan tubuh berhadapan dengan Hun Oppa, berseberangan meja bundar kedai.


“Aku yang kaget karena kau datang lebih cepat dari yang kubayangkan,” jawab Hun Oppa sambil terkekeh.


“Aku bergegas kemari saat mendapat pesan teks darimu. Aku bahkan beberapa kali meminta supir taksi untuk menaikkan kecepatan. Aku khawatir kalau Hun Oppa menungguku terlalu lama,” ucapku yang tidak dapat menutupi rasa senang.


Hun Oppa telah kembali. Sosok lelaki hangat yang selalu memberiku kedamaian, akhirnya kembali di hadapanku berdama senyum menawannya. Sampai beberapa waktu lalu kepalaku memang dipenuhi amarah. Tetapi amarah itu sekejap mata hilang diterpa senyum menyejukkan Hun Oppa.


“Aku sudah pesankan es krim. Makanlah.”


Hun Oppa menyodorkan satu mangkuk es krim coklat padaku. Dilihat dari es krimnya yang belum mencair, sepertinya Hun Oppa tidak menungguku lama. aku pun segera mengambil sendok panjang yang disisipkan disamping gunung es krim. Kemudian menyendoknya dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis dingin coklat seketika itu memenuhi rongga mulutku. Kepalaku mendingin memakan es krim pembelian Hun Oppa. Begitu pun gerah tubuhku yang seketika pergi.


“Oppa tidak makan?” tawarku sambil memakn es krim dengan lahap. Di seberang meja, Hun Oppa hanya terdiam memandangiku memakan es krim. Wajahnya sedikit terlihat pucat.


“Perutku sudah sangat kenyang. Kau bisa menghabiskannya sendiri.”


“Oppa, kau sakit? Kenapa wajahmu memucat?” tanyaku curiga. Raut wajah Hun Oppa juga tak menunjukkan kalau dia baik-baik saja. ia terlihat seperti sedang menahan rasa sakit di satu bagian tubuh.


“Benarkah?”


Hun Oppa menyeka keringat yang menjatuhi pelipisnya. Sambil menggumam-gumam, “Sepertinya pencernaanku bermasalah. Perutku terasa tidak enak.”


Merasa khawatir, aku segera bangkit dari duduk. Mengambil tenpat tepat di sebelah Hun Oppa yang terlihat kesakitan dan semakin memucat.


Aku menepuk-nepuk punggung atas Hun Oppa. Membantunya mengurangi rasa sakit sembari memijit lengan kirinya.


“Apa yang Oppa makan siang ini sampai pencernaanmu sakit seperti ini? Seberapa banyak yang Oppa makan? Perlukah kita ke rumah sakit?” rutukku khawatir. Setahuku, Hun Oppa bukanlah tipe orang yang suka makan sembarangan. ia juga bukan tipe orang yang suka memenuhi isi perut sampai berlebihan. Tetapi kenapa ia sampai terkena sakit pencernaan seperti ini?


“Tidak apa-apa. Tidak usah ke rumah sakit. Sebentar lagi juga akan sembuh kok.” Hun Oppa berkata.


“Jangan bergerak. Aku akan menusuk jarimu.”


“Apa?”


Seketika Hun Oppa menoleh sambil menceletuk menanggapi ucapanku. Raut wajahnya terlihat bingung dan aku pun memberinya penjelasan sambil memijit lengan kirinya untuk melancarkan aliran darah menuju jari tangan.


“Saat sakit pencernaan, cara paling cepat untuk menyembuhkannya adalah menusuk jari tangan. Itu yang selalu dilakukan ibuku saat pencernaanku sakit,” jelasku tanpa memedulikan raut wajah terkejut Hun Oppa.


“Jadi, kau akan menusukku?”


“Hun Oppa bisa memilih. Aku yang menusuk atau pergi ke rumah sakit dan ditusuk dengan jarum suntik yang lebih besar.”


Sekilas aki melirik Hun Oppa yang memiringkan kepalanya ragu. Ia menggumam pelan, “Anehnya aku lebih percaya pada dokter yang jelas memiliki ijazah untuk menggunakan jarum suntik.”


Mengabaikan gumamannya, aku mencabut satu helai sambut dari kepalaku. Menggunakan sehelai rambut itu untuk mengikat ibu jari Hun Oppa. Kemudian kuambil jarum dari tas yang kuletakkan ke atas meja. Menusukkan ujung jarum itu tepat di atas ikatan rambut yang menghentikan peredaran darah pada ibu jari Hun Oppa.


“Akh.”


Hun Oppa mengerang pelan saat aku menusukkan jarum pada jarinya dengan perlahan. Seketika itu juga darah segar yang berwarna sedikit pekat keluar dari jari Hun Oppa yang kutusuk. aku pun menyeka darah itu menggunakan selembar tisu dari atas meja kedai. Lalu melepaskan ikatan rambutku dari jari tangan Hun Oppa.


“Bagaimana? Apa sekarang lebih baik?” tanyaku pada Hun Oppa yang memandangku penuh rasa heran.


Aku tersenyum menanggapi desusan heran Hun Oppa. Lalu ku segera bangkit dari duduk dan menempati tempat dudukku yang sebelumnya untuk melanjutkan kegiatan makan es krimku yang tertunda.


“Itu adalah cara tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tepatnya aku tidak tahu bagaimana cara kerjanya. Tapi setiap kali pencernaanku bermasalah karena makanan, ibuku selalu melakukannya. Dan anehnya cara itu benar-benar ampuh. Jadi, setap kali pencernaanmu bermasalah karena makanan, Hun Oppa bisa datang padaku. Aku bisa menusukmu kapan saja.”


Hun Oppa menanggapi celetukan panjangku dengan tertawa terbahak-bahak. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya tertawa seperti ini. Ada segelintir perasaan yang tak dapat kudeskripsikan ketika melihat Hun Oppa tertawa begitu ceria di hadapanku. Perasaan yang membuatku merasa senang. Perasaan yang seolah membuatku bisa bertahan tidak peduli betapa berat hari yang aku lalui.


“Itu memang sedikit meragukan. Tapi pencernaanku membaik.”


“Benar kan? Memang apa yang Hun Oppa makan sampai sakit pencernaan begitu?” lanjutku merutuk.


Kepala Hun Oppa menggeleng.


“Aku tidak makan macam-macam. Hanya saja, karena suatu hal makan siangku dua kali hari ini. Karena itu pencernaanku terganggu.”


Kepalaku yang kini mengangguk. Aku melanjutkan kegiatan makanku sementara Hun Oppa tersenyum memandangiku dalam keheningan.


“Yebin~a,” panggilnya.


Aku menaikkan pandangan. Kulihat sinar mata Hun Oppa yang memencarkan cahaya hangat. Namun diantara sinar hangat yang diperlihatkannya itu, aku melihat ada satu titik cahaya gelap dari ruang hatinya yang kosong.


“Ada apa?” balasku.


“Aku akan senang jika kau benar-benar bahagia karena pilihanmu. Aku berharap kau sungguh bahagia bersama kakakku. Tapi....”


Hun Oppa menjeda kalimatnya sejenak. Raut wajahnya menyendu.


“Tapi?” sahutku.


“Jangan memintaku untuk memperlakukanmu seperti kakak ipar. Meskipun kau menikah dengan kakakku nanti, aku akan tetap memperlakukanmu seperti sekarang. Seperti Yebin yang kukenal, bukan sebagai kakak ipar.”


Pandangan mataku ikut menyendu mendengar Hun Oppa berkata demikian. Aku membenci fakta bahwa aku telah melukai hati laki-laki sebaik Hun Oppa. Jujur saja. jutaan kali aku merasa lebih baik jika melukai laki-laki brengsek seperti Minho. Namun untuk laki-laki sebaik Hun Oppa, aku sungguh tidak tega membuatnya terluka. Ribuan kali lipat aku merasa bersalah karena melukai hati laki-laki serba sempurnya sepertinya.


“Oppa,” panggilku dengan nada suara yang melirih. Hun Oppa hanya menaikkan kedua alisnya sebagai tanggapan. “Aku tetaplah Kang Yebin. Dan Hun Oppa tetaplah Hun Oppa. Dengan siapa aku menikah, dan bahkan ketika margaku berubah menjadi Moon Yebin... aku tetaplah Kang Yebin. Sekarang atau pun nanti aku akan tetap menjadi Kang Yebin. Maka dari itu, perlakukan aku seperti Kang Yebin. Aku juga akan tetap memperlakukan Hun Oppa seperti Hun Oppa, laki-laki seperti malaikat yang telah kuanggap seperti kakak lelaki paling baik di dunia.”


***


Yul POV


“Kau bercanda? Kau kira permasalahan pajak itu hal yang sepele?”


Berkali-kali aku telah menegaskan. Tetapi orang yang kuajak bicara saat ini sepertinya tak juga mengerti apa maksud ucapanku.


Satu jam aku berada di ruang kerja manajer di cabang kafe yang terletak di distrik Mapo. Dengan seorang temanku yang aku percaya untuk menjadi manager di Moonlight Coffe Mapo. Tapi rasanya ruangan ini semakin memanas. Bukan karena udara panas yang merembes masuk ke dalam ruangan ini. Melainkan karena emosi dalam kepalaku yang sepertinya tak dapat lagi di tahan.


Segera aku beranjak bangkit dari sofa tempatku terduduk satu jam lamanya melihat laporan keuangan cabang kafe di Mapo. Jika tidak segera keluar dari ruangan ini, aku tidak yakin apa yang hendak aku lakukan dengan emosi yang hampir memucak.


Di hadapanku, Kwon Suk, yang menjadi manajer di Moonlight Coffe Mapo, masik duduk di atas sofa dengan tenangnya.


“Seperti perjanjian kita sebelumnya, meski kau adalah temanku, aku tidak segan memecatmu dari Moonlight Coffe. Penggelapan dana dan penghindaran pajak... kurasa dua alasan itu cukup untuk aku bisa memecatmu. Harusnya dari awal aku tidak memercayakan kafeku padamu. Harusnya dari awal kita cukup menjadi teman tanpa mengandalkan satu sama lain.”


Segera kulangkahkan kakiku menjauhi sofa. Belum sempat aku melangkah lebih jauh, suara Kwon Suk menghentikan langkahku.


“Kau akan masuk penjara saat kau memecatku!”


Napasku berembus panjang. perlahan tubuhku berbalik. Aku bertatapan dengan Kwon Suk yang kini berdiri dari duduk.


“Kau lupa? Moonlight Coffe adalah milikmu. Kau yang bertanggung jawab penuh atas semua yang terjadi di kafe,” lanjut Kwon Suk berucap.


“Kau tidak punya cukup alasan untuk menyeretku masuk penjara bersamamu. Kau yang menghindari pajak dengan mengatasnamakan Moonlight Coffe. Dan kau membuat laporan palsu untuk itu. Kau bahkan menggelapkan dana Moonlight Coffe. Sebelum kau berhasil menyeretku masuk penjara, kau yang akan lebih dulu kupenjarakan.”


Merasa begitu muak, aku segera mengakhiri kalimatku. Lalu melanjutkan langkah untuk keluar dari ruangan yang sangat pengap ini. Tepat sebelum kakiku melangkah keluar, Kwon Suk kembali angkat suara.


“Bagaimana dengan kasus Jesica? Aku bisa memenjarakanmu sewaktu-waktu dengan menceritakan siapa itu Jesica pada polisi.”


Kakiku seketika berhenti melangkah. Tubuhku terpenuh seperti batu. Seluruh urat dalam tubuhku seolah mengeras, membuatku tak dapat bergerak. Tanpa kusadari, kedua bola mataku bergetar. Memori dalam otakku terlintas tentang seorang gadis bernama Jesica yang tiga tahun lalu bekerja sebagai pelayan di Moonlight Coffe.


Selama beberapa detik tubuhku mematung. Namun aku segera menyadarkan diri dari segala lamunan yang melintasi kepalaku. Mengabaikan apa yang Kwon Suk katakan untuk mengancam, aku segera melanjutkan langkah untuk keluar.


Sudah kuduga. Hari ini menjadi hari yang sangat buruk berkat Kwon Suk, seorang teman yang pada akhirnya menghianat setelah kuberi kepercayaan untuk mengelola cabang Moonlight Coffe di Mapo.


Aku akui itu adlah kesalahanku. Mempekerjakan seseorang bukan karena spesifikasi, tetapi hanya karena dia adalah teman yang sering membantuku. Kukira Kwon Suk cukup bisa dipercaya untuk mengelola salah satu cabang kafeku. Namun pada akhirnya dia melakukan hal yang sangat memalukan. Tidak ada teman di dunia ini yang bisa kupercaya selain diriku sendiri. Satu kesalahanku, mungkin bisa menghancurkan Moonlight Coffe yang dengan susah payah aku perjungkan.


Semua permasalahan yang memenuhi kepalaku ini terasa sangat menyiksa. Sampai aku tak sadar kalau mobil yang kukendarakan telah tiba di depan rumah.


Napas panjangku terhela ketika mobilku melintas gerbang rumah yang terbuka. Kulihat bagasi rumahku yang kosong. Artinya Hun masih belum pulang setelah berkata ingin bertemu seseorang usai makan tonkatsu tadi siang.


Hari mulai menggelap seiring berjalannya waktu. Ini adalah hari yang sangat panjang. Langit masih belum benar-benar gelap, tapi aku sudah merasa sangat lelah. Beberapa waktu aku terdiam di dalam mobil yang sudah berhenti di halaman rumah. Merenungkan banyak hal. Tentang apa yang terjadi hari ini. Tentang apa yang akan terjadi di masa depan karena permasalahan yang terjadi hari ini. Entah bagaimana, firasatku buruk tentang itu semua.


“Penghindaran pajak, penggelapan dana, dan ... Jesica. Apa aku sungguh bisa menikah musim panas tahun ini?”


***