
Hari ini Yul pulang terlambat karena wawancaranya dengan salah satu majalah di Seoul. Ia baru selesai wawancara pada pukul tujuh malam. Dan sampai rumah kurang lebih setengah jam kemudian.
“Sayang!”
Begitu masuk ke dalam rumah, Yul memanggil Yebin. Suasana rumah sangat sunyi seolah olah Yebin tidak ada di rumah. Biasanya, jika Yul pulang terlambat Yebin akan menunggunya di ruang tamu sambil membaca buku atau membaca grafik penjualan Biniemoon. Tetapi Yebin tidak terlihat ada di lantai satu rumah mereka. Ruang tamu kosong. Dapur juga kosong.
“Yebin-a... Sayang, kau ada di mana?” lanjut Yul memanggil Yebin.
Tetapi panggilan Yul itu tak kunjung mendapat tanggapan. Sembari menaiki tangga menuju lantai dua, Yul menggumam gumam.
“Apa dia sudah tidur? Mungkin dia kecapekan lalu tertidur.”
Dengan pemikiran itu, Yul memeriksa kamar mereka. Begitu pintu kamar terbuka, tak terlihat sosok Kang Yebin sedang terbaring di atas kasur. Artinya, Yebin tidak sedang tidur. Lalu ke mana wanita itu pergi?
Akhirnya Yul pun menutup pintu kamar setelah mendapati Yebin juga tidak ada di dalam kamar. Dari tempat berdiri Yul, terdengar suara suara yang berasal dari speaker televisi. Yul pun berjalan menuju ruang televisi. Dan, benar yang diduganya. Yebin ada di ruangan televisi. Sedang menonton salah satu program televisi.
Mendapati istrinya yang ternyata sibuk menonton televisi sampai sampai tidak mendengar panggilannya, Yul pun mengembuskan napas panjang. Merasa lega. Ia berjalan ke arah sofa yang diduduki Yebin sambil menceletuk.
“Di sini kau rupanya. Apa yang sebenarnya kau tonton sampai sampai tidak mendengar panggilanku beberapa kali?” kata Yul.
Pandangan Yebin masih tertuju pada televisi ketika menjawab, “Aku mendengar panggilanmu kok. Hanya saja aku sengaja tidak menjawab.”
Yul merasakan sesuatu yang berbeda dari Yebin. Raut wajah Yebin tak begitu baik. Bersungut sungut seperti ketika seseorang sedang marah. Bibir Yebin memberengut. Matanya menatap tajam ke layar televisi. Ia menyilangkan kedua kakinya. Juga menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Satu hal yang Yul pastikan dari semua bahasa tubuh yang ditunjukkan Yebin. Bahwa Yebin sedang tidak dalam suasana hati yang baik.
“Sayang, ada apa? Kenapa kau cemberut begitu? Apa ada yang tidak beres dengan pemeriksaan kesehatanmu tadi?” tanya Yul selagi terduduk di sebelah Yebin.
Mulanya Yebin hanya diam. Lalu sesaat kemudian ia mengembuskan napas panjang panjang. Pandangannya masih belum teralih dari televisi saat berkata, “Tidak. Kata dokter aku benar benar sehat. Tulang rusukku semakin membaik dan tidak ada masalah apa apa,” dengan nada bicaranya yang dingin.
“Syukurlah kalau begitu. Tapi kenapa kau cemberut?” lanjut Yul bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, akhirnya Yebin menolehkan kepalanya pada Yul. Menatap wajah khawatir Yul yang diselingi rasa tidak bersalah.
“Talkshow, wawancara, atau apa pun itu... aku tidak mau ikut. Oppa saja yang lakukan sendiri.” Yebin berkata penuh kesal.
Seketika itu juga raut wajah Yul berubah. Rupanya, itu yang membuat Yebin cemberut malam ini.
“Ye... Yebin-a, kau... sudah mendengarnya?” Yul bertanya dengan tergagap gagap.
Napas Yebin terhela. Ia menatap Yul penuh amarah. Tetapi dalam tatapannya itu menyiratkan kesedihan yang dalam.
“Oppa, aku benar benar kecewa padamu. Kenapa kau selalu menyembunyikan sesuatu dariku? Sebenarnya aku ini istrimu atau bukan? Kenapa kau justru meceritakan segalanya pada wanita itu sedangkan padaku kau tidak pernah mengatakan apa apa?” cetus Yebin. Bola matanya meremang. Mata Yebin berkaca kaca seperti hendak menangis. Tetapi ia mencoba menahan tangisan itu.
Melihat Yebin menunjukkan reaksi seperti itu, Yul hanya diam membengong. Ia tak menyangka Yebin akan sesedih ini.
“Itu... aku minta maaf. Aku berencana memberi tahumu lebih awal, tapi tidak sempat—”
“Oppa tidak sempat memberitahuku tapi sempat memberi tahu wanita itu tentang semuanya? Baiklah. Lakukan saja apa yang kau mau, aku tidak peduli dan aku tidak mau terlibat apa pun.”
Yebin segera beranjak bangkit dari duduk. Membanting remot tv yang ke atas sofa. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Yul di ruang televisi. Masuk ke dalam kamar dan segera membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Yebin menyelimuti tubuhnya menggunakan selimut tebal sampai leher. Memiringkan tubuh ke kiri, ke arah luar. Matanya mencoba terpejam meski otaknya tidak bisa berhenti memikirkan suatu hal.
Sejenak kemudian, terdengar pintu kamar terbuka. Sudah dapat diduga bahwa laki laki itu adalah Yul. Ia mengikuti Yebin yang sedang marah terbaring ke atas kasur.
Yul yang merasa sangat bersalah itu pun mendekat pada Yebin. Memeluk tubuh Yebin dari belakang. Meski mata Yebin terpejam, Yul tahu bahwa istrinya itu tidak benar benar tidur. Di sisi lain, Yebin juga tak menepis pelukan Yul dan membiarkan tubuhnya dipeluk oleh sang suami.
“Aku tidak yakin apa yang baru kau dengar dari Haeri. Tapi, aku tidak pernah menceritakan apa pun padanya. Aku sungguh. Soal wawancara itu, aku masih memikirkan cara untuk memberi tahumu. Dan aku tidak mengatakan apa apa pada Haeri.”
Sudah dapat dipastikan bahwa ucapan ‘wanita itu’ yang sejak tadi disebut sebut oleh Yebin adalah Haeri. Yul mendengar dari dua pengawal yang menjaga kamar rawat inap Hun, bahwa saat Yebin berkunjung Haeri juga datang. Mungkin dari situ Yebin mendengarkan beberapa hal dari Haeri. Yang semuanya berujung pada kesalahpahaman.
Awalnya Yebin masih terus berpura pura tidur dan seolah olah tak mendengarkan apa yang Yul ucapkan. Tapi Yul tidak menyerah. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Yebin. Meraba raba untuk mencari tangan Yebin dan menggenggamnya hangat.
“Untuk saat ini maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya. Satu hal saja yang perlu kau ketahui, aku tidak pernah bercerita apa pun pada orang lain selain kau dan Hun. Hanya kalian berdua tempatku bercerita. Aku tidak tahu apa yang Haeri katakan, tapi aku bersumpah aku tidak mengatakan apa apa padanya.” Yul lanjut berbicara.
Rupanya hati Yebin perlahan mulai meluruh. Ia meregangkan pelukan Yul. Lantas membalik tubuh untuk berhadapan dengan sang suami.
“Oppa mengatakan yang sejujurnya kan?” Yebin meyakinkan.
Yul mengangguk pelan sambil memegangi bahu Yebin. “Aku bersumpah.”
“Tapi bagaimana wanita itu bisa tahu semuanya?” tanya Yebin.
“Memang apa yang dia katakan?”
“Tentang wawancara dan alasan kau melakukan wawancara selain untuk promosi Moonlight Retail,” jawab Yebin.
Yul menghela napas ringan. “Haeri itu sudah berteman sangat lama denganku. Dia cukup memahami pola pikirku dan apa yang kurencanakan. Pertama kali aku terjun di dunia bisnis, Haeri yang membantuku. Tidak heran jika dia tahu apa yang kurencanakan saat ini. Termasuk dengan kasus kecelakaan Hun.”
“Lalu bagaimana dia tahu kalau kau hendak mengajakku menghadiri sebuah acara televisi di SBC?” tanya Yebin kembali.
“Yebin-a, kuberi tahu kau satu hal. Koneksi yang dimiliki Haeri lebih luas dariku. Pamannya adalah pemilik firma hukum terkenal. Dia mengenal banyak wartawan dan juga produser. Bukan hal yang sulit untuk dia tahu tentang wawancara itu. Apalagi dia yang mengawal perkembangan kasus kecelakaan Hun. Dia hanya melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai pengacara,” jelas Yul.
“Kenapa Oppa tidak memberitahuku sejak awal kalau Jin Haeri adalah pengacara kasus kecelakaan Hun Oppa? Setidaknya aku tidak akan seterkejut ini jika kau sudah memberi tahuku sejak awal.”
Yul terdiam. Pandangannya menurun.
“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Sepertinya kau akan marah jika aku menjadikan Haeri pengacara Hun.” Nada suara Yul melirih ketika mengatakan hal itu. Lalu ia segera menambahi, “tapi terlebih dari itu... Haeri selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Dia tidak kalah kompeten dari Pengacara Bae. Kita bisa memercayainya.”
Raut wajah Yebin berubah kesal.
“Ya.... terus teruslah saja memuji wanita itu.”
Sambil mengatakannya Yebin kembali membalik tubuh untuk membelakangi Yul. Wajahnya memberengut kesal pada Yul yang memuji muji Haeri.
“Sayang, jangan cemburu. Di hatiku kau tetap menjadi yang nomor satu.” Yul berucap pelan sambil kembali memeluk tubuh Yebin dengan mesra. Pelukan yang lama lama terasa penuh mafsu itu membuat Yebin merasa risi.
“Apa kulepas saja bajuku di sini?” bisik Yul dengan menggoda.
“Maksudku, mandilah dulu. Badanmu bau.”
“Hm, baiklah. Tunggulah sebentar ya, aku mandi dulu.”
Yul langsung beranjak turun dari kasur dan berjalan secepat kilat ke kamar mandi. Sementara Yebin yang sebenarnya belum mengantuk, bangun dari tidurnya. Pada waktu itu juga perhatiannya tertuju pada sebuah benda yang ia geletakkan di atas nakas. Benda itu tidak lain adalah miniatur bunga mawar di dalam tabung kaca yang pernag diberikan Leo.
Sejak Moonlight Retail diresmikan, Leo sudah tidak bekerja lagi untuk Yul. Pekerjaannya telah mencapai titik akhir. Dan memang benar perkataan orang orang, bahwa Leo itu pekerjaannya selalu bagus dan tidak pernah mengecewakan. Buktinya saja Moonlight Retail yang ia rancang bisa berkembang dengan sangat baik sejak diresmikan. Tentu ini semua berkat proses perencanaannya yang matang. Leo memang sangat terkenal di bidang itu. Ya, walau ia juga terkenal egois dan sangat tidak sopan.
Sambil kembali teringat pada Leo, Yebin mengambil miniatur bunga mawar itu. Terlebih dari rasa tidak sukanya pada Leo yang sangat tidak sopan dan seenaknya sendiri itu, dia pernah menyelamatkan Yebin sebanyak dua kali. Meski tak begitu suka, Yebin tetap bukanlah orang yang tak tahu terima kasih pada orang lain. Ia tetap merasa berterima kasih pada Leo. Berkat Leo juga, bisnis retail suaminya berjalan dengan begitu baik.
Yebin memandangi miniatur itu cukup lama sambil memikirkan suatu hal. Hingga kemudian Yul selesai mandi. Lelaki itu berjalan dari kamar mandi menuju kasur dengan tubuh telanjang bulat.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Yul yang sedang menyisipkan tubuhnya di bawah selimut.
“Menurut Oppa, Leo Park itu orang baik atau bukan?”
Pertanyaan Yebin yang tiba tiba itu membuat kening Yul mengerut. Pastinya, Yul tahu bahwa Leo bukan orang yang baik. Lelaki itu berencana merebut separuh saham Moonlight Retail setelah pekerjaannya sebagai konsultan bisnis Moonlight Retail berakhir. Artinya, lelaki itu melakukan pekerjaan dengan begitu baik untuk akhirnya bisa merebut apa yang telah dikerjakannya milik orang lain.
Sejak Moonlight Retail diresmikan, beberapa kali Yul mendapatkan teror dari seseorang. Setelah kejadian di mana Yebin nyaris saja terculik, beberapa kali kejadian serupa terjadi. Seperti ketika sore itu, di mana Yul tiba tiba mendapat panggilan yang mengaku sebagai wartawan yang ingin bertemu dengannya secara pribadi. Pada pukul tiga sore pun Yul pergi meninggalkan kafe untuk bertemu dengan wartawan tersebut. Ia datang ke tempat seperti yang tertulis dalam pesan teks si wartawan. Namun siapa yang menduga jika tempat itu adalah lorong bawah tanah yang gelap dan kotor. Dan di dalam sana ada Leo Park bersama anak buahnya.
Yul terperangkap dalam tempat itu cukup lama hingga terlambat menjemput Yebin selama satu jam. Di dalamnya, Leo lagi lagi mengajak Yul bernegoisasi untuk menjual separuh saham Moonlight Retail padanya.
Membeli setengah dari keseluruhan saham, itu sangat tidak masuk akal. Sama seperti Leo Park ingin mengambil alih Moonlighr Retail dan menyedot semua keuntungan perdagangan dari sana. Yul bukan orang yang bodoh. Ia tahu niat busuk Leo Park. Dengan tawaran apa pun, Yul tidak akan menjual setengah saham itu pada Leo Park.
Sore itu Yul nyaris terkurung di sana dan tidak bisa keluar. Tetapi dewi fortuna masih berpihak padanya. Tiba tiba saja segerombol anak SMA berseragam bisbol yang berjumlah sekitar dua puluh orang datang ke lorong bawah tanah untuk mengambil peralatan latihan bisbol yang disembunyikan di sana. Anak anak SMA itu melihat wajah Yul dan berbisik bisik. Mereka menenali wajah dari pemilik Moonlight Grup yang sering muncul di majalah dan di internet itu. Leo Park bersama anak buahnya kemungkinan akan kalah jika bertarung dengan anak SMA yang sangat agresif dan seorang atlet bisbol. Apalagi mereka juga kalah jumlah dari ‘pasukan’ Yul yang datang dengan cara tidak terduga. Hingga akhirnya Leo Park memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan berkata lain kali ingin bertemu dengan Yul.
Berkat anak anak SMA yang seorang atlet bisbol itu, Yul bisa keluar dari lorong bawah tanah dengan mudah. Kemudian Yul memberikan sebuah kartu berwarna emas pada ke dua puluh anak SMA berseragam bisbol. Kartu berwarna emas itu adalah kartu yang bisa digunakan untuk makan dan minum secara gratis di Moonlight Coffe tanpa ada batasan waktu alias selamanya. Mereka sangat berterima kaish pada Yul, dan memberikan nomor ponsel salah satu laki laki yang menjadi ketua tim. Mereka berkata kalau ada apa apa di daerah situ, Yul bisa menghubunginya dan mereka akan langsung datang.
Seperti itu ceritanya bagaimana Yul terlambat satu jam menjemput sang istri.
Kembali pada pertanyaan Yebin, Yul masih terdiam. Beberapa saat ia terdiam karena merasa ragu untuk menjawab.
“Entahlah. Aku tidak bisa menilai orang dengan mudah,” ucap Yul penuh keraguan.
“Sepertinya dia orang yang baik. Hanya saja sikapnya tidak sopan dan seenaknya sendiri, juga menyebalkan,” kata Yebin.
Yul menghening. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya pada Yebin karena itu bisa membuatnya semakin cemas. Lebih baik, biar Yul pendam sendiri saja cerita itu. Daripada membuat orang yang disayanginya khawatir.
Karena tak ingin membahas hal itu lagi, Yul menarik tubuh Yebin untuk terbaring bersamanya.
“Lupakan saja itu. Sekarang saatnya kita bersenang senang,” kata Yul sambil mulai menciumi tubuh Yebin dan berusaha melepaskan baju yang membalut tubuh sang istri.
Yebin yang masih menggenggam miniatur bunga mawar itu berusah payah mengulurkan tangannya ke atas nakas untuk meletakkannya kembali ke sana. Tetapi karena pergerakan Yul yang agresif, Yebin tidak bisa meletakkan benda itu dengan benar. Benda yang terbuat dari kaca berbentuk tabung itu telah lepas dari tangan Yebin dan jatuh ke atas lantai.
Pyarr!
“Ha? Oppa, sebentar....”
“Kenapa? Kenapa?” sentak Yul yang sejenak menghentikan kegiatannya.
“Bunga mawarnya pecah,” desus pelan Yebin. Ia yang semula terbaring itu beranjak duduk untuk melihat miniatur bunga mawarnya yang pecah perkeping keping ke atas lantai.
Terlihat satu benda berkedip merah di antara pecahan kaca miniatur bunga mawar. Yebin yang penasaran, mengulurkan tangannya ke lantai untuk mengambil setitik benda yang menyalakan lampu berwarna merah yang berkedap kedip.
“Sayang hati hati, tanganmu bisa terluka,” ucap Yul.
Perlahan lahan Yebin mengambil benda itu. Sebuah benda berwarna hitam yang berukuran sekecil mutiara. Di salah satu bagian benda itu terdapat lampu yang berkedap kedip merah. Ia seperti pernah melihat benda seperti itu. Tapi tidak secara langsung, melainkan pernah melihat di televisi atau pun film film.
Benda itu....
“Oppa, bukannya ini....”
“Stttt!”
Yul membelalakkan matanya sambil membekap mulut Yebin untuk tidak mengucapkannya lebih lanjut. Yul memberikan isyarat pada Yebin untuk diam dengan menempatkan jari telunjuknya di depan bibir.
Melihat sikap Yul yang seperti itu, Yebin terbelalak bingung. Tergesa gesa Yul mengambil ponselnya di atas meja nakas. Lalu mengetikkan beberapa kalimat dan langsung memperlihatkan tulisan di ponsel itu kepada Yebin.
‘Itu alat penyadap. Bersikaplah seolah olah kau tidak tau kalau kita sedang disadap.’
Itu isi pesan yang dituliskan Yul pada ponselnya. Membaca dua kalimat itu, Yebin langsung menggugup. Tubuhnya panas dingin. Jantungnya berdegup kencang dan tiba tiba ia merasa gugup. Berarti, sejak awal Yul tahu kalau dirinya sedang disadap.
Yebin berusaha mengandalikan kegugupannya. Ia menganggukkan kepala. Mengerti apa yang Yul perintahkan.
“Oppa, tabung kacanya pecah. Bagaimana ini? Apa bisa diperbaiki? Ahh, aku sangat menyukai miniatur bunga ini.”
Yul menganggukkan kepala. Pertanda apa yang Yebin ucapkan itu sudah benar. Perlahan ia merebut alat penyadap suara itu dari tangan Yebin, meletakkan alat itu kembali ke atas nakas.
“Tidak apa apa. Besok kita belikan tabung kacanya lagi,” kata Yul. Kemudian ia kembali membaringkan tubuh Yebin untuk melanjutkan kegiatannya tadi.
Tetapi Yebin yang masih sangat terkejut itu merasa tidak bisa memikirkan hal selain alat penyadap itu. Ia yang masih terus memikirkan hal itu dan merasakan kebingungan, merasa tidak bisa bercinta dengan Yul sekarang juga.
Yul hendak kembali mencium bibir Yebin. Tetapi sebelum bibir mereka saling bersentuhan, Yebin menyela, “Oppa, aku lapar. Kita makan dulu saja.”
Sambil mengatakan itu, Yebin menatap Yul serius. Arti tatapannya seolah olah menuntut penjelasan dari Yul yang sejak awal tahu bahwa dirinya sedang disadap. Yul yang mengerti isyarat tatapan Yebin pun beranjak duduk. Mengurungkan niatnya untuk bersenang senang dengan sang istri.
“Baiklah. Kita makan dulu.”
**