
Yebin menuruni anak tangga dengan perasaan gelisah. Kepalanya masih terus terngiang ngiang tentang alat penyadap yang baru ditemukannya pada miniatur bunga yang ia kira hanya sebatas miniatur biasa.
Setelah berjalan beberapa langkah menuruni anak tangga, Yebin pun tiba di lantai satu. Dalam kepalanya mencoba mengingat ingat apa saja yang telah dikatakannya. Apa ia pernah salah berucap. Apa ia pernah menyinggung sesuai yang berbahaya untuk didengar orang lain.
Bagi Yebin, kamar adalah ruang privasinya dengan Yul. Selayaknya suami istri pada umumnya, di dalam kamar Yebin membicarakan semua hal penting atau berdiskusi dengan sang suami. Sebelum tidur, sebangunnya dari tidur, atau kapan pun. Yebin merasa sering mendiskusikan sesuatu dengan Yul di dalam kamar. Yang sesuatu itu mungkin tidak seharusnya didengarkan oleh orang lain. Anehnya lagi, meskipun tahu bahwa di dalam miniatur itu terdapat alat penyadap, kenapa Yul diam saja dan tetap membiarkan Yebin memiliki benda mungil yang terlihat lucu itu?
Dengan memikirkan itu semua Yebin mendudukkan tubuhnya ke atas sofa. Pada waktu itulah Yul yang sudah mengenakan baju piama lengan pendek itu turun menuju lantai satu. Ia berjalan menuju dapur sambil menceletuk, “Coklat hangat atau teh hijau?” menawari Yebin yang tampak gelisah.
“Coklat.”
“Baiklah. Tunggulah sebentar.”
Setiap kali mereka ingin membicarakan sesuatu yang serius, dan Yebin terlihat cemas atau ragu, Yul pasti berinisiatif membuatkan minuman coklat hangat atau teh hijau untuk membuat istrinya itu lebih tenang. Kadang hal itu juga berarti bahwa hal yang hendak mereka bicarakan itu cukup serius hingga berpotensi besar untuk membuat Yebin menjadi cemas. Karena itulah coklat hangat atau pun teh hijau diperlukan, untuk membantu Yebin lebih menenangkan diri.
Selama beberapa waktu Yul berkecimpung di dapur untuk membuatkan minuman coklat hangat untuk sang istri. Sembari itu, Yebin menunggu di sofa ruang tamu dengan kepalanya yang terus mencoba mengingat ingat apa saja yang pernah ia katakan. Sayangnya, itu semua terlalu banyak di dalam memori Yebin. Tidak mungkin ia bisa mengingat semua yang telah diucapkannya setelah memiliki benda lucu sekaligus menakutkan itu.
Setelah minuman coklat hangat itu selesai dibuat, Yul berjalan menghampiri Yebin sambil membawa mug keramik. Kemudian terduduk di sebelah Yebin dan menyerahkan minuman itu pada sang istri yang raut wajahnya terlihat cemas.
“Sudahlah. Jangan terlalu kau pikirkan,” kata Yul sambil menyerahkan gelas itu.
“Bagaimana aku tidak memikirkan, Oppa? Ini sangat mengejutkan untukku. Mungkin kau sudah tahu dari awal jadi bisa bersikap setenang ini. Tapi, aku.... Paling tidak Oppa harus memberitahuku sejak awal.” Yebin seketika itu juga merutuki Yul.
Yul menghela napas. Ia mendekatkan mug minuman coklat yang telah digenggam Yebin itu pada mulutnya.
“Minumlah ini dulu,” kata Yul yang melihat reaksi Yebin teramat panik.
Perlahan, Yebin pun meminum minuman coklat hangat yang dibuatkan sang suami. Meneguknya perlahan. Seketika rasa manis, hangat, lembut, bercampur rasa pahit khas coklat, beradu dalam mulut Yebin dan turun membasahi tenggorokannya. Setelah itu ia terlihat lebih tenang. Yebin menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Berusaha lebih rileks dan mengurangi rasa panik yang membuncah di dadanya.
“Sejak kapan Oppa tahu kalau kita sedang disadap?” Setelah merasa lebih tenang, Yebin pun melontarkan pertanyaan. Mata sayunya menatap Yul lekat lekat.
“Aku sudah curiga sejak kau mendapat benda itu dari Leo Park. Dia bukan tipikal orang yang mudah memberikan sesuatu pada orang lain. jadi aku memeriksanya. Saat kau sudah tidur, aku membongkar benda itu dan menemukan alat penyadap di dalamnya. Sejak saat itu aku tahu kalau kita sedang disadap,” jelas singkat Yul.
“Tapi kenapa Oppa diam saja? Oppa harusnya bilang padaku untuk membuang benda itu jauh jauh. Kenapa Oppa diam saja, bahkan membiarkan aku meletakkannya di dalam kamar?” celetuk Yebin.
Tentu, Yul tahu kecemasan yang dirasakan Yebin. Yul yang merasa peka itu pun meletakkan salah satu tangannya di atas lutut sang istri. Lalu kembali berucap, “Leo Park pasti punya tujuan menyadap kita berdua, Sayang. Untuk mendapat informasi atau apa pun itu. Yang perlu kita lakukan adalah memberikan dia kesempatan palsu untuk mendengarkan apa yang ingin dia dengar.”
“Ke... kesempatan palsu?” ulang Yebin.
Yul mengangguk angguk. “Ya. Seolah olah kita memberikan kesempatan untuk dia mendengarkan apa yang ingin dia dengar.”
Yebin terdiam mencerna penjelasan Yul dengan baik. Tetapi masih ada yang janggal dalam benaknya.
“Tapi tetap saja, seharusnya Oppa memberi tahuku sejak awal!”
“Karena aku tahu kau akan seperti ini. Jadi aku diam saja,” sahut Yul.
“Jika Oppa memberi tahuku sejak awal, aku tidak akan secemas ini. karena aku baru tahu makanya aku menjadi panik.”
“Tidak, Kang Yebin.” Yul kembali menyanggah. “Tahu sejak dulu atau pun barusan, kau akan tetap panik. Aku yakin itu.”
Napas Yebin terembus panjang. Baiklah. Yul mengerti Kang Yebin cukup baik dari Kang Yebin sendiri. Dulu atau pun sekarang, Yebin pasti akan panik jika tahu dirinya sedang disadap. Itu tidak masuk akal sekali. Memang dunia ini seperti apa? Sepanjang kehidupannya, Yebin tidak pernah menemui hal semacam ini. Baginya, apa yang sekarang sedang dialaminya itu harusnya hanya ada di dunia fantasi atau dalam drama Korea yang tayang di akhir pekan. Bukan di kehidupan nyata seperti ini. Sungguh tidak masuk akal dan sangat mengherankan.
“Lalu, sekarang kita harus bagaimana?” desah Yebin cemas.
“Bersikap saja seperti biasanya. Seoah olah kau tidak tahu kalau kita sedang disadap” kata Yul.
Yebin diam. Tatapannya mengatakan keraguan yang besar. Bersikap seperti tidak tahu apa apa saat dirinya mengetahui sedang disadap dan diawasi oleh seseorang.... Bagaimana Yebin bisa bersikap seolah tidak terjadi apa apa?
Saat Yebin masih sibuk memikirkan caranya, Yul mengimbuhkan, “Aku sedang mencari cara terbaik untuk membuat Leo berhenti mengawasi rumah tangga kita.”
Kening Yebin mengernyit. “Memang apa yang sedang terjadi? Oppa, kau ada permasalahan apa dengan Leo Park? Katakan yang sejujurnya, apa yang terjadi pada kalian,” cetus Yebin.
Sejenak Yul menimbang nimbang. Ia tak berencana membeberkan hal ini pada Yebin karena bisa membuatnya lebih cemas. Tetapi tatapan penuh tuntutan Yebin itu membuat Yul tidak tega membuatnya penasaran.
“Sebenarnya Leo Park mengincar bisnisku. Dia ingin memiliki Moonlight Retail. Sejak awal dia menjadi konsultanku untuk tujuan itu. Ingin membeli lima puluh persen saham Moonlight Retail dengan uang pribadinya. Itu sama saja dia ingin mengambil alih Moonlight Retail dariku.” Yul menjelaskan singkat.
Rupanya penjelasan itu dapat meresap dengan baik di kepala Yebin. Terlihat dari Yebin yang tiba tiba naik pitam.
“Dasar gila! Ternyata dia mau bekerja sama denganmu untuk niat busuk itu. Wah... benar benar manusia licik. Dasar kamu kapitalis!” rutuk Yebin. Ia hampir mengumpat ngumpat. Tapi umpatannya berhenti di ujung lidah karena ada Yul di hadapan.
“Sayang... kita ini juga kaum kapitalis,” lirih Yul menyadarkan sang istri.
Yebin sontak terdiam. Menatap Yul ragu.
“Kita kan kapitalis yang baik. Sedangkan laki laki itu adalah kapitalis yang benar benar kapitalis!” sentaknya.
Suasana tiba tiba menghening ketika Yebin berhenti merutuk. Ia kembali diam dan terngiang ngiang suatu hal.
“Sial. Aku merasa Leo Park sudah mendengarkan banyak hal tentang keluarga kita. Kenapa Oppa tidak mengingatkanku? Ah... benar benar aneh rasanya. Semua percakapan kita didengar orang lain. bahkah saat kita berhubungan ****... ah, benar benar, memalukan.” Yebin kembali mendesus desus pelan sendirian.
Wajah Yebin tiba tiba memerah. Ia merasa sangat malu. Ia langsung menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah karena merasa terlalu malu.
“Ini semua gara gara Oppa! Kenapa kau tidak mengatakan kalau ada orang lain yang mendengar kita. Kalau seperti ini kan aku malu sekali!” lanjut Yebin merutuk rutuk sambil menutupi wajah.
Yul hanya terkekeh kekeh melihat istrinya kelabakan karena merasa malu. Ia teringat segala macam desahan yang keluar dari mulut Yebin ketika mereka sedang bercinta. Teringat itu sangat menggelikan dan membuat hatinya kembali bergetar.
“Tenang saja, tidak mungkin dia mendengarkan sampai segitunya,” ucap Yul santai.
Napas Yebin pun berembus panjang karena lega. Ia kembali meneguk minuman hangatnya. Lalu meletakkannya ke atas meja ruang tamu.
“Sepertinya aku tidak bisa bersikap seolah olah tidak tahu apa apa. Ahh, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana. Sepertinya malam ini aku juga tidak bisa tidur,” keluh Yebin.
Yul yang dapat memahami posisi Yebin, merangkul kedua bahu sang istri. Meremas remas bahu Yebin sambil berucap, “Tidak apa apa. Kau akan segera terbiasa.”
Apa yang Yul ucapkan itu membuat Yebin menatapnya sendu. Merasa belas kasih.
“Sepertinya aku tidak bisa tidur,” kata Yebin.
“Kita tidur di sini saja malam ini.”
**
Seperti biasanya, yebin tetap menjalani rutinas hariannya. Yaitu bekerja di Biniemoon. Terlepas dari apa yang terjadi padanya semalam, ia tetap harus bekerja membantu pekerjaan di Biniemoon yang akhir akhir ini penjualannya melonjak karena Moonlight Retail.
Tetapi hari ini Yebin tak se-fit biasanya. Ia berangkat bekerja dengan tubuh yang pegal pegal. Tidurnya semalam tak begitu leluasa sehingga badannya sakit semua. Andai saja semalam itu tidak ada kejadian tentang alat penyadap, mungkin tidur Yebin tidak akan terganggu dan ia bisa lebih leluasa memulai aktivitas hariannya dengan bekerja di kantor Biniemoon.
Langkah Yebin terasa berat. Tidur di sofa membuat pergerakannya terbatas sehingga sepuruh tubuhnya terasa pegal pegal. Yebin melangkah masuk ke dalam kantor sambil memegangi lehernya yang terasa pegal.
“Selamat pagi, semuanya,” sapa Yebin begitu masuk ke dalam kantor. Sapaannya yang terdengar lemah itu membuat Somin seketika merespon.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa suaramu begitu loyo?” tanya Somin.
Yebin mendudukkan tubuhnya di kursi kerja sambil mengembuskan napas panjang panjang. Sebagai seorang perempuan, ingin sekali ia menceritakan permasalahannya pada sahabat yang benar benar ia percaya. Tetapi, karna ini menyangkut kehidupan pernikahannya dengan Yul, Yebin merasa tidak bisa sembarang bercerita.
Sembari menghela napas panjang panjang, Yebin menggumam gumam tidak jelas, “Tau ah.... Hidupku rasanya sudah seperti drama. Drama bergenre komedi-horor.”
“Apa maksudmu? Mana ada genre komedi-horor?” sahut Somin.
“Tidak ada. Berarti hidupmu lebih dramastis dari drama. Ah, sial. Tubuhku sakit semua, otakku tidak bisa berpikir apa apa.”
Gara gara tahu bahwa dirinya sedang disadap, Yebin benar benar merasa terbebani. Ia tidak bisa bergerak leluasa di dalam kamarnya. Ia selalu merasa seolah olah sedang diawasi sehingga tidak bisa leluasa. Padahal Yul sudah berpesan agar Yebin bersikap biasa saja. Tetapi itu bukan hal mudah dilakukan untuk Yebin yang tidak terbiasa berada dalam situasi seperti ini. Ia menjadi lebih waspada dan berhati hati.
“Sudahlah. Lanjutkan pekerjaanmu. Kemarin ada yang mengirim proposal kemari. Coba deh kamu lihat, ada perusahaan ekspedisi internasional yang menawarkan kerja sama dengan Biniemoon.” Somin berucap.
“Benarkah? Kebetulan sekali kita lagi butuh ekspedisi baru untuk ke luar negeri. Kontrak tahunan dengan perusahaan ekspedisi yang lama juga sudah mau habis,” lata Yebin.
Mengesampingkan semua kegelisahannya, Yebin pun mulai melakukan pekerjaannya di Biniemoon. Ia menyalakan komputer. Mulai membuka email perusahaan Biniemoon. Memeriksa semua email bisnis yang masuk itu.
Terdapat banyak sekali pesan email yang masuk. Di antara banyaknya email yang masuk, yebin pun menemukan satu email yang dikirim dari salah satu perusahaan ekspedisi internasional, yaitu Korean Grand Express.
“Oh, ini dia.”
Segera Yebin membuka email itu. Membaca setiap isi dari lampiran Email. Kemudian mencetak proposal dari perusahaan ekspedisi tersebut untuk diperiksa lebih lanjut.
“Somin-a, Korean Grand Express itu apa perusahaan ekspedisi baru?” tanya Yebin sambil menunggu cetakan dari poposal tersebut selesai diprint.
“Dibilang baru sih iya. Kurasa itu baru satu tahunan beroperasi. Jadi masih baru dan masih mencari banyak mitra. Tapi sejauh yang kutahu, ekspedisi itu mempunyai kemudahan untuk pengiriman ke luar negeri. Proses bea cukainya juga lebih gampang dan cepat dari ekspedisi lain. Kalau untuk pemasaran produk ke luar negeri, sepertinya lebih mudah,” jelas Somin singkat.
Yebin mengangguk angguk. Ketika itu proposal selesai dicetak. Yebin beranjak dari duduk. Menghampiri mesin printer yang selesai mencetak semua proposal.
“Hyesun-ssi,” panggil Yebin pada salah satu karyawannya yang bekerja di bidang marketing.
“Ya?”
“Tolong cari tahu lebih banyak tentang Korean Gran Express. Juga ulasan ulasan dari penggunanya ya,” pinta Yebin pada salah seorang karyawannya.
“Iya, Bu Bos.”
Sembari kembali berjalan ke kursi kerjanya, Yebin membaca hal hal yang tertulis dalam proposal itu. Kemudian meletakkan proposal yang telah dicetak itu ke atas meja. Untuk kerja sama dengan ekspedisi itu, yebin perlu mempertimbangkan dengan matang lalu melakukan rapat dengan karyawan Biniemoon yang lain.
Setelah itu Yebin melakukan pekerjaannya yang lain. Memeriksa grafik penjualan, menjawab beberapa keluhan yang masuk, dan beberapa pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan mengemas atau mengepak pesanan. Karena dua pekerjaan itu sudah ada yang melakukan.
Siang harinya, Hyesun yang dimintai tolong oleh Yebin untuk memeriksa semua hal tentang Korean Gran Express, selesai melakukan pekerjaannya. Wanita itu berjalan menuju meja Yebin lalu menyerahkan laporannya.
“Ini laporannya, Bu Bos.”
“Ya, terima kasih.”
Yebin menerima laporan itu. Membacanya secara teliti dan perlahan lahan.
“Cukup bagus. Ulasannya juga lebih banyak yang positif,” gumam pelan Yebin sambil membaca laporan itu.
Secara keseluruhan, Korean Grand Express adalah perusahan pengiriman barang yang terjamin dan bagus meski belum lama berdiri. Dari ulasan sampai review yang diberikan, semuanya menunjukkan kesan yang positif. Banyak masyarakat yang merasa puas melakukan pengiriman barang ke luar negeri menggunakan ekspedisi itu. Meski masih terdapat beberapa kendala yang tertulis dalam usalan beberapa orang. Seperti pesanan diterima terlalu lama karena proses transitnya memerlukan waktu cukup lama dan lain lain. Tetapi Korea Grand Express telah bekerja sama dengan banyak perusahaan. Dan juga memiliki kerja sama yang baik dengan perusahaan pengiriman luar negeri sehingga lebih terjamin.
Setelah memeriksa semua ulasan itu, Yebin membalik di halaman berikutnya. Tentang sejarah berdiri Korean Grand Ekspress. Jadi Korean Grand Express itu adalah anak dari perusahaan besar Korea di bidang pengiriman. Lalu memecahkan diri dan membuat perusahaan baru dengan fokus lebih kepada pengiriman barang lintas negara. Didirikan pertama kali tiga tahun lalu. Dan baru beroperasi satu tahun kemudian. Tetapi Korean Grand Express baru dikenal lebih banyak orang setelah berpindah kepemilikan pada seorang pebisnis handal kurang lebih satu tahun lalu. Dan pebisnis yang menjadikan Korean Grand Express lebih maju itu adalah ... Leo Park.
Bola mata Yebin terbelalak melihat nama itu. Ia memastikan penglihatannya itu tidak salah dan berkali kali membaca baris nama itu. Rupanya penglihatannya itu tidak salah. Korean Grand Express merupakan salah satu perusahaan yang dikelola Leo Park dengan jumlah kepemilikan sahamnya mencapai lima puluh persen.
“Heol. Benar benar ... tidak bisa kupercaya.”
**