
Bab 33
Perasaan yang tidak baik baik saja
Hari ini adalah hari yang sangat memilukan untuk Lysa. Karena ia akan bertemu dengan ibunya setelah berpisah akhir tahun lalu, di hari perceraian sang ibu dengan sang ayah. Lysa yang bahkan tidak pernah bertelefon dengan ibunya, dan bahkan tidak pernah penasaran bagaimana keadaan ibunya di Indonesia, hari ini akan bertemu secara langsung dengannya. Bukannya gugup atau malah merasa senang, yang lysa rasakan saat ini adalah perasaan pilu, kelam, dan juga suntuk.
Lysa memang tak lagi membenci ibunya seperti dulu lagi akibat penghianatan yang telah dilakukan ibu terhadap ayahnya. Namun ia masih belum dapat memaafkan ibunya sepenuhnya. Pasalnya Lysa mengerti dengan baik betapa ayahnya mencintai dan menyayangi ibunya sepenuh hati. Dan lebih menyedihkannya lagi, selama ini ibunya menunjukkan kasih sayang yang sama besarnya terhadap Lysa dan ayahnya. Sungguh sangat besar sampai sampai Lysa merasa sangat terpukul ketika pertama kali melihat ibunya bercumbu dengan laki laki itu. Saat itu terjadi, dunia Lysa seolah olah runtuh. Awalnya ia menyalahkan dirinya sendiri karena melihat kejadian itu. Karena jika saja Lysa tidak melihat ibunya berselingkuh pada hari itu, maka Lysa tidak akan sesakit hati dan semarah ini pada ibunya. Namun seiring berjalannya waktu, Lysa menyadari bahwa itu bukanlah kesalahannya. Karena bagaimana pun, apa yang ibunya lakukan itu sangat tidak etis dan pasti akan ketahuan suatu saat nanti. Entah cepat atau lambat.
“Apa kamu merasa gugup?”
Brian sedang mengemudikan mobil yang ia sewa menuju rumah sakit tempat ibu Lysa melahirkan. Laki laki itu melontarkan pertanyaan pada Lysa yang tampak begitu mendung sejak keluar dari hotel beberapa waktu lalu.
“Bukannya gugup, aku hanya tidak tau bagaimana perasaanku saat ini. hahh, aku tidak tahu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahku nanti saat bertemu dengan ibu,” keluh Lysa. Raut wajahnya benar benar frustasi. Ia duduk di samping kursi kemudi sambil terus mengembuskan napas panjang panjang dan membuat mobil ini terusi suara napasnya.
“Tenanglah. Ibumu bukan orang yang akan bersikap canggung pada putrinya sendiri. Pasti beliau juga sangat merindukanmu.” Brian berucap. Sejauh ia mengenal ibu Lysa, ibu Lysa bukan tipikal seorang ibu yang akan mengabaikan putrinya ketika datang. Selama in beliau selalu menunjukkan kasih sayang yang besar terhadap Lysa. Namun Lysa berbalik membencinya karena satu kesalahan fatal yang seharusnya tidak pernah ia lakukan sebagai seorang ibu sekaligus istri dari laki laki pekerja keras dan baik seperti Paman Kim, ayahnya Lysa.
Sekali lagi, napas Lysa berembus panjang panjang. Ia memang masih mengingat dengan baik bagaimana kasih sayang yang ibunya berikan sebelum berakhir menghianati dan mengecewakannya setengah mati. Ibu lysa selalu memperhatikan Lysa dan memperhatikan hal hal yang sangat mendetail tentang Lysa, yang bahkan Lysa sendiri tak menyadari itu.
Memang itu semua benar. Apa yang dikatakan Brian memang benar, seratus persen benar. Dan yang ada di pikiran Lysa tentang ibunya juga benar. Namun, tetap saja ada perasaan yang tak dapat Lysa deskripsikan jika bertemu dengan ibunya. Perasaan yang jauh dari lubuk hatinya. Mungkin perasaan paling tersembunyi yang letaknya sangat tertutup dalam kegelapan.
“Tau ah. Aku tidak bisa berpikir sama sekali. Aku hanya akan pasrah saja.” Lysa menggumam karena tak ada hal yang dapat dikatakannya lagi tentang sang ibu. Dan Brian yang mendengar itu hanya tersneyum kecil seraya menoleh sekilas melihat raut wajah Lysa yang tidak karuan.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Brian telah sampai di salah satu rumah sakit besar yang ada di Yogyakarta. Lysa pun turun dari mobil, diikuti Brian yang menyusul langkahnya. Keduanya berjalan menuju sebuah bangsal rumah sakit yang khusus berisi ibu ibu pasca melahirkan.
Tiba di depan pintu ruangan VIP yang merupakan ruang rawat ibu Lysa, Lysa dan Brian berhenti sejenak. Wajah Lysa mendadak sangat pucat. Dan ia berdiri memaku beberapa meter di depan pintu ruangan tersebut. kedua tangannya bergetar, dan wajahnya yang pucat itu sudah cukup menjelaskan bahwa sebenarnya Lysa belum siap untuk bertemu dengan ibunya lagi.
“Brian ... a—aku ... sepertinya aku tidak bisa.” Lysa mengatakan hal itu dengan raut wajah yang panik\, menatap Brian penuh rasa pilu. Sungguh\, berdiri di depan pintu ini membuat Lysa teringat semua yang pernah dilihatnya kala itu. Hari di mana ibunya ketahuan berselingkuh\, sedang bercumbu mesra dengan salah satu karyawan ayahnya di tempat wisata yang dikelola sang ayah. jika teringat kembali hari itu\, entah mengapa Lysa merasa batinnya benar benar lemas dan tercabik cabik. Saking mencekat dan menyakitkannya ingatan itu\, Lysa merasakan keraguan yang begitu besar tentang pernikahan setiap kali teringat oleh apa yang pernah dilakukan ibunya dengan laki laki Br*ngs*k itu.
Mendengar apa yang Lysa keluhkan, Brian terdiam sejenak. Lalu mendudukkan gadis itu di sebuah kursi tunggu yang ada di depan ruangan pasien. Brian melihat wajah Lysa yang tampak begitu pucat. Dan juga merasakan tangannya yang dingin dan bergetar. Selain itu, tatapan Lysa yang sangat sedih dan pilu membuat Brian seolah olah dapat merasakan apa yang saat ini Lysa rasakan.
Sambil menatap Lysa dengan lembut, Brian berkata lirih.
“Jangan memaksakan diri jika memang kau tidak bisa. Biar aku saja yang masuk,” kata Brian meyakinkan Lysa.
“Tapi ayah menyuruhku untuk menemui ibu. Aku harus menuruti kata kata ayah, karena hanya aku yang bisa ayah percaya dan andalkan.” Lysa berucap dengan bola matanya yang berkaca kaca. Gadis itu ingin menangis, namun ia terlihat sedang menahannya sekuat yang ia bisa. Lysa mencoba untuk tegar dan menahan air matanya supaya tak nerjatuhan. Karena sungguh, ia sudah sangat lelah untuk menangis pilu akibat penghianatan yang dilakukan sang ibu. Ia sekarang tidak ingin menangis lagi, karena menangis itu sangat melelahkan.
“Paman Kim memang menyuruhmu untuk bertemu dengan ibumu, tapi tidak harus sekarang. Kita masih memiliki lima hari ke depan berada di Yogyakarta. Dan dalam lima hari itu kau bisa mempersiapkan diri untuk bertemu ibumu sebelum kembali ke Korea,” jelas Brian. Kata katanya itu membuat Lysa sedikit merasa tenang.
Napas lega Lysa berembus panjang. Kepalanya mengangguk angguk. Untuk saat ini ia memang tidak bisa bertemu dengan ibunya. Namun dalam beberapa hari ke depan Lysa akan mempersiapkan diri untuk dapat bertatap muka dengan ibunya.
“Baiklah.” Lysa pun menyetujui perkataan Brian.
“Sekarang biar aku saja yang menemui ibumu di dalam. Kau tunggu di sini saja ya,” ucap Brian. Yang segera disambut dengan angukan kecil oleh Lysa.
Lysa menatap Brian yakin. Merasa dapat mengandalkan Brian untuk menggantikannya menghadap sang ibu yang ada di dalam. Kali ini, Lysa akan mengikuti kata Brian. Brian lah yang paling tahu tentang hubungan Lysa dengan sang ibu. Dan ibu Lysa juga sangat menyukai Brian dan bahkan menganggapnya sebagai putranya sendiri, karena Brian terlalu sering bermain dengan Lysa di waktu kecil.
**
Waktu menunjukkan pukul tiga sore ketika Brian dan Lysa meninggalkan rumah sakit tempat ibu Lysa dirawat. Seperti yang Brian katakan sebelumnya, bahwa laki laki itu yang akan menemui ibu Lysa seorang diri sedangkan Lysa yang belum siap untuk bertatap muka dengan ibunya, memilih untuk menunggunya di luar. Dan entah apa yang dibicarakan Brian dengan ibu Lysa, keduanya bercakap cakap di dalam ruangan cukup lama. Selama kurang lebih dua puluh menit. Dan Lysa yang menunggu di luar itu hanya duduk melamun dengan pandangan mata yang kosong dan tubuh dinginnya yang perlahan lahan mulai menghangat.
Sampai akirnya Brian keluar dari ruangan dan berkata pada Lysa bahwa ibunya baik baik saja dan bayi laki laki yang dilahirkannya juga baik baik saja.
Mendengar itu perasaan Lysa sedikit melega. Lalu kedua manusia itu pun pergi meninggalkan rumah sakit. Menuju sebuah mall untuk berbelanja kebutuhan mereka selama lima hari ke depan. Dan begitu kegiatan berbelanja mereka selesai, keduanya makan malam bersama di sebuah restoran mewah yang terletak di tengah tengah kota Yogyakarta, yang letaknya tak begitu jauh dengan lokasi jalan Malioboro.
Di atas meja itu tersaji beberapa makanan khas Indonesia yang aroma rempah rempahnya menguar sampai membuat Lysa hampir mengeluarkan air liur. Sungguh, gadis itu merindukan sekali masakan Indonesia. Ia merindukan nasi goreng, sate kambing, gulai kambing, ikan gurami bakar, dan beberapa makanan khas Indonesia lainnya. Dan melihat semua makanan yang sangat lezat itu membuat kedua bola mata Lysa membelalak lebar lebar. Sudah diduga, bukan Lysa jika tidak berbinar binar di hadapan makanan. Dan bukan Lysa jika tak terlihat sangat bersemangat dan bahagia saat dihadapkan dengan makanan lezat yang aromanya sungguh ingin membuat air liur Lysa terus menetes.
“Wahh! Aku sudah lama sekali ingin makan semua ini. Brian, apa aku boleh menghabiskannya?” Lysa menceletuk gembira dengan bola matanya yang tak berhenti memancarkan sinar kebahagiaan. Sungguh mudah membahagiakan gadis itu; hanya dengan makanan lezat yang membuatnya serasa hidup di surga.
Setelah sekian lama Brian tidak makan bersama Lysa lagi, Brian yang kembali melihat Lysa seperti itu terkekeh kekeh karena merasa gadis yang duduk di hadapannya ini sangat menggemaskan saat dihadapkan dengan makanan lezat.
“Makanlah sepuas yang kau mau. Jika masih kurang, nanti tinggal pesan lagi kan?” celetuk Brian yang segera disambut dengan senyuman yang sangat manis dan meriah dari Lysa.
“Terima kasih, Brian. Kau memang yang terbaik!”
Setelah itu Lysa mulai menyantap makan malamnya. Ia makan dengan lahap tanpa memedulikan image atau apa pun di hadapan Brian. Toh, ia hanya tinggal makan. Lysa bukan tipe orang yang memperumit diri sendiri dengan menjaga sikap ketika makan. Karena baginya, makan adalah salah satu hal terpenting yang harus dilakukan dalam hidup. Dengan memakan makanan yang lezat dan bergizi, Lysa yakin bisa melakukan apa pun dan bisa melewati serumit apa pun masalah dalam hidupnya.
Di meja itu, Lysa melahap berbagai jenis dan rasa makanan bersama Brian. Dan tak membutuhkan waktu lama untuk gadis itu menyelesaikan makan malamnya meski makanan yang disajikan di hadapannya itu sangat banyak dan bervariasi.
“Di Indonesia mau pun di Korea, selera makanmu tidak berubah, Lysa.” Brian berkata tepat ketika dua orang pelayan restoran datang membawakan makanan penutup berupa pudding dan juga minuman berawarna merah pekat yang tidak lain adalah Wine.
“Di mana pun aku berada, di Indonesia, Yogyakarta, atau pun di Korea, aku perlu bertahan hidup. Jadi aku tetap memerlukan makanan. Tubuhku terlahir seperti ini, tidak memiliki banyak timbunan lemak, jadi aku harus makanan untuk mengisi tenagaku,” jelas singkat Lysa yang seketika membuat Brian terkekeh kekeh.
Brian mengambil sendok kecil panjang yang merupakan sendok dari pudding yang ada di hadapannya. Lalu memberikan isyarat dengan mengacungkan sendok itu kepada Lysa.
“Makanlah. Setelah ini aku akan pergi bertemu seorang teman lamaku.” Brian berucap. Membuat kepala Lysa mengangguk angguk.
“Baiklah.”
“Apa kau tidak apa apa sendirian? Kalau kau berkata padaku jangan pergi, aku tidak akan pergi untuk bertemu temanku itu.”
Brian yang tampaknya cukup mengkhawatirkan Lysa itu memberikan penawaran atas rasa tanggung jawabnya terhadap Lysa. Namun Lysa justru terkekeh kekeh mendengar laki laki itu mencemaskannya.
“Hehei, aku sudah bukan anak kecil lagi, Brian. Dan sudah berpuluh puluh tahun aku hidup di sini. Jadi kau tidak perlu mencemaskanku. Lagi pula aku juga akan bertemu dengan teman temanku setelah ini,” jelas singkat Lysa.
“Baiklah.”
Setelah menghabiskan makanan penutupnya, keduanya beranjak berdiri dari meja makan. Keduanya berjalan bersebelahan, hendak menuju pintu keluar restoran. Namun langkah mereka terhenti saat melihat penampilan band indi di lobi restoran yang sedang melakukan perayaan ulang tahun yang ke enam puluh lima tahun.
“Wah! Pertama kalinya aku melihat band tampil di restoran ini,” celetuk Lysa yang merasa tertarik melihat penampilan Band itu. Selain mereka berdua yang berhenti, ada gerombolan orang lainnya yang ikut menyangsikan penampilan klasik dari band indi yang tak Lysa kenali itu. Sepertinya, band itu adalah band baru yang terbentuk ketika Lysa telah pindah ke Korea. Karena sejauh ini Lysa mengenal semua band indi yang melakukan penampilannya di Yogyakarta.
Jujur, Lysa ingin sekali melihat penampilan band itu. Mengingat ini adalah pertama kalinya juga Lysa melihat ada band tampil di restoran. Namun, Brian harus segera pergi untuk bertemu dengan seorang teman lamanya. Dan laki laki itu tidak memiliki banyak waktu untuk melihat penampilan band ini.
Akhirnya Lysa pun menggeleng geleng. “Tidak perlu.”
Mereka berdua pun keluar dari restoran itu. Masuk ke dalam mobil yang hendak dikendarakan Brian. Di dalam mobil yang siap melaju itu, Brian tampak sibuk berbalas pesan teks dengan seorang teman lamanya yang sebenar lagi akan bertemu dengannya di sebuah tempat.
“Kenapa? Ada masalah apa?” tanya Lysa melihat perubahan raut wajah Brian ketika membaca pesan teks dari temannya.
“Tiba tiba temanku mendapat perintah untuk lembur menggantikan temannya yang tidak bisa malam ini. Jadi baru bisa bertemu denganku besok karena kebetulan besok itu dia tidak ada shif di rumah sakit.” Brian menjelaskan singkat. Lalu ia memasukkan kembali ponselnya ke saku kemeja dan menoleh kepada Lysa sambil menaikkan kedua alisnya. “Kapan kau akan bertemu teman temanmu?” tanya Brian.
“Nanti pukul sembilan.”
“Ooh, masih lama berarti.”
Setelah itu suasana menghening. Keduanya kehabisan percakapan di dalam mobil. Dan akhirnya suasana di dalam mobil itu menjadi canggung.
Beberapa detik berlalu, saat tiba tiba Brian menanyakan suatu hal yang cukup sensitif pada Lysa.
“Kau apa sudah baikan dengan manajer itu?” tanya Brian tiba tiba.
Pertanyaan itu membuat tubuh Lysa makin menggugup. Gadis itu tak tahu harus merespon seperti apa. Ia ingin mengatakan yang sejujurnya, namun tak ingin menyakiti Brian. Selama beberapa waktu gadis itu berpikir bagaimana caranya supaya Brian tidak sakit hati mendengar bahwa Lysa dan Mino telah baikan kemarin malam meski keduanya belum sempat bertemu. Dan setelah berpikir beberapa saat, Lysa menyadari bahwa tidak ada cara untuk tidak menyakiti Brian. Karena bagaimana pun caranya dan apa pun yang terjadi, faktanya adalah Lysa telah menolak cinta laki laki itu. Dan itu menjadi fakta yang cukup menyakitkan untuk Brian sendiri.
Karena tak menemukan cara untuk tidak menyakiti hati Brian, Lysa pun hanya menjawab dengan jujur.
“Sudah. Aku sudah baikan dengan Ajeossi.”
Brian terdiam. Kepalanya mengangguk angguk mengerti namun tataannya memperlihatkan dengan jelas bahwa sebenarnya ia sangat terluka menengar itu. Saat ini Lysa memang bersamanya, namun jiwa gadis itu tak bersamanya.
“Lysa, boleh aku jujur?” ucap Brian.
Lysa hanya menatap laki laki itu sebagai pengganti dari jawaban iya.
“Kalau pun kau tidak bisa menerima perasaanku, bisakah kita melakukan sesuatu?” Brian berucap. Membuat kedua alis Lysa mengernyit bingung.
“A ... apa?” tanya Lysa pelan.
Seketika itu juga Brian menjulurkan tubuhnya pada Lysa dan langsung menecup bibir gadis itu. Lysa yang tersetak terhadap kecupan tak terduga Brian pada bibirnya itu, membelalakkan mata. Ia menatap kedua manik mata Brian yang saat ini begitu dekat dengan kedua matanya. Suara napas Brian bahkan terdengar di telinga Lysa. Dan embusan napasnya yang hangat menerpa wajah Lysa dengan lembut. Lysa sama sekali tidka menyangkan akan mendapatkan kecupan tiba tiba dari Brian.
“Sebenarnya aku sangat menginginkanmu, Lysa. Aku tahu aku tidak boleh seperti ini. Tapi aku selalu seperti ini saat bersamamu.”
Jujur saja, Lysa tidak tahu apa makna tersebunyi dari kata ‘seperti ini’ yang diutarakan oleh Brian. Namun ia maish terdiam untuk mendengarkan laki laki itu berbicara dan melanjutkan perkataannya.
“Aku bodoh. Dan aku sangat menyesal. Aku ingin membuatmu jauh dari laki laki itu, ingin membuat kalian berpisah dengan cara apa pun. Tapi, jika aku melakukannya, aku yakin kau akan membenciku kan?” Brian melanjutkan kata katanya sambil menatap Lysa dengan begitu sendu. Seolah olah laki laki itu sedang meminta izin kepada Lysa untuk dijauhkan dari Mino yang telah memiliki seluruh hati Lysa.
Dengan tegas Lysa pun menjawab. “Ya. Aku akan sangat membencimu, Brian. Karena yang kau lakukan selama ini adalah memutarbalikkan perasaanku. Dan itu lebih menyakitkan daripada saat kau menolak cintaku untuk ke sekian kalinya.”
Tubuh Brian yang seketika melemas itu sontak menjauh dari Lysa. Kedua matanya semakin sendu. Kepalanya menunduk dalam dalam dan laki laki itu tak dapat menatap Lysa yang duduk di sebelahnya.
“Maafkan aku. aku akan menebus kesalahanku,” desus lirih Brian.
“Tidak perlu, Brian. Selama ini kau sudah melakukan banyak hal untukku. Kau sudah banyak membantuku dan ada untukku di saat aku membutuhkanmu. Kau sudah menemaniku di saat yang paling berat dalam hidupku. Itu sudah cukup. Kau tidak perlu merasa bersalah lagi. Hatiku sekarang sudah sembuh. Laki laki itu yang perlahan lahan meyembuhkan hatiku, dengan semua cinta dan kasih sayangnya.” Lysa menjelaskan. Ia tidka pernah menyangka, percakapan seusai makan malam yang mewah tadi akan berjalan seserius ini.
Sejenak itu Brian terdiam. Tatapannya misterius dan Lysa tidak dapat menebak apa yang sedang Brian rasakan atau pikirkan.
“Aku tahu aku tidak boleh seperti ini, tapi aku sangat menginginkanmu, Lysa. Aku ingin bersamamu. Aku ingin menggantikan laki laki itu untuk bersamamu. Aku ingin merasakan keberadaanmu, secara jiwa mau pun raga.” Lagi lagi, Brian mengatakan hal itu. Membuat Lysa perlahan lahan merasa muak.
Napas Lysa terela panjang panjang. Ia sudah mengatakannya dengan pasti, bahwa hanya Mino yang ada di hati Lysa. Hanya laki laki itu yang Lysa pikirkan dan inginkan. Tapi, tetap saja Brian tidak mengerti dan mengatakan demikian. Membuat Lysa merasa benar benar lelah, seperti seolah olah ia sedang dipermainkan oleh mantan kekasih yang meminta putus di saat Lysa benar benar menyayanginya tanpa pamrih. Lalu mengajak kembali di saat hati Lysa telah pulih dan Lysa berhasil menemukan laki laki baru yang lebih menyayangi Lysa.
Karena merasa capek mendengar itu dari Brian, Lysa mengatakan sesuatu dengan tegas.
“Brian, kau sedang tidak stabil saat ini. Lebih baik aku menjauh, sampai kau sudah kembali seperti Brian yang aku kenal.”
Begitu menyelesaikan kalimat itu, Lysa langsung melepas sabuk pengaman dan segera turun dari mobil Brian. Untuk saat ini Lysa ingin meninggalkan Brian yang pikirannya mulai tidak terarah. Biarkan laki laki itu lebih tenang dan stabil, baru Lysa akan bericara lagi dengannya.
Lysa yang telah turun dari mobil itu berjalan masuk ke dalam gedung restoran. Suasana hatinya saat ini sedang tidak baik. Dan ia memilih untuk memulihkan pikirannya dengan menyaksikan penampilan dari band klasik yang sekadang sedang perform. Sedangkan mobil Brian yang beberapa detik lalu masih terparkir di luar, sekarang telah pergi entah ke mana.
Di salah satu sisi lobi Lysa menyaksikan band indi itu perform. Lysa duduk di salah satu kursi yang ada di lobi restoran dan memfoto penampilan band indi itu menggunakan smartphone yang ia genggam. Dan ketika ia masih sibuk memfoto band itu, satu panggilan masuk dari Mino mengejutkannya.
Tak menunggu lama Lysa segera menjawab telepon dari Mino itu. Dengan tergesa gesa Lysa mengangkat teleponnya. Di tengah suasana hatinya yang masih sangat buruk ini, suara Mino di seberang telepon mungkin dapat seketika menenangkannya. Membuat hati Lysa terasa damai.
“Halo, Ajeossi,” sahut Lysa begitu panggilan itu tersambung.
[Lysa? Kenapa suaramu berbeda? Apa yang sedang terjadi padamu?]
Di seberang telepon itu, kelihatannya Mino merasakan berbedaan suara dari Lysa. Suara Lysa terdengar lebih lirih dan murung, sepertinya wanita itu tidak sedang dalam kondisi hati yang baik.
**