Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Apa itu Kebahagiaan



“Tidak, Oppa. Kau hanya berhalusinasi saja karena terlalu banyak memikirkan Hun Oppa.”


Seturunnya dari mobil, Yebin menceletuk demikian. Ia merasa sangat prihatin pada Yul yang pikirannya sedang tak karuan sampai sampai berhalusinasi.


“Aku yakin sekali, Sayang. Aku yakin melihat Hun melintas di hadapanku.” Yul, yang sedang menurunkan barang barang dari bagasi mobil itu membalas celetukan tak percaya Yebin. Yul merasa sangat yakin bahwa yang dilihatnya tadi adalah Hun. Sangat sangat yakin. “Kau pernah dengar istilah kalau orang yang sedang koma itu arwahnya gentayangan? Pasti seperti itu. Raga Hun memang sedang koma tetapi jiwanya bisa berkeliaran ke mana mana. Pasti Hun ingin menemuiku, makanya ia muncul sekelebat seperti tadi.”


Yebin mengembuskan napas ringan. Ia sedang berdiri di depan rumah yang sangat ia rindukan selama sepuluh hari terakhir. Sejak hari pertama dirawat ia ingin untuk segera pulang. Namun sekarnag ketika ia telah sampai rumah, perasaan tidak nyaman lain muncul karena Yul yang terus meyakini hal hal yang tidak masuk akal.


Sambil berjalan menghampiri Yul di belakang bagasi mobil, Yebin kembali berucap.


“Sayang, tidak ada hal semacam itu di dunia ini. Yang kau ceritakan tadi hanya ada di film film dan juga drama. Dalam dunia nyata, tidak ada yang namanya arwah gentayangan. Apalagi itu adalah arwah Hun Oppa. Kau itu mengada ngada sekali. Hun Oppa kan sekarang sedang sakit. Dia sedang koma dan tidak sadarkan diri. Tetapi arwahnya tetap ada di dalam tubuhnya yang sakit itu.” Yebin kembali merutuki.


Satu hal yang sampai detik ini tidak pernah ia percayai adalan hantu. Hantu, arwah gentayangan, atau jenis apa pun yang berbau magis. Yebin yang kepalanya sangat realistis itu tidak pernah percaya pada hal hal magis seperti itu. Apalagi tentang roh Hun yang muncul di hadapan Yul. Yebin sama sekali tidak percaya dan hanya menganggap itu sebagai halusinasi Yul karena terlalu banyak mencemaskan adiknya yang sedang koma.


“Ada hal hal di dunia ini yang tidak bisa kita lihat, Yebin-a. Dan dunia yang luas ini tidak hanya terisi oleh manusia. Kau harus tahu itu dan memikirkannya lebih dalam.” Yul menegaskan.


“Tau ah! Pokoknya aku tidak percaya. Bisa jadi Oppa hanya salah lihat atau hanya terbayang bayang saja. Mana mungkin arwah Hun Oppa berkeliaran ke mana mana? Dia kan masih hidup, masih bernapas, bahkan jantungnya masih berdetak.” Yebin berucap dengan nada suara yang meninggi. Ia sungguh kesal pada Yul yang terus mengatakan hal hal tidak masuk akal yang sama sekali tidak logis.


“Ada apa kalian itu? Baru pulang sudah bertengkar saja.”


Suara ibu yang menceletuk itu membuat Yebin dan Yul menoleh bersamaan. Ibu yang mendengar kedatangan mobil Yul itu segera bergegas keluar dari rumah untuk melihat putrinya yang baru pulang dari rumah sakit. Tetapi yang ia saksikan begitu melihat putri dan putra menantu itu adalah perdebatan.


Melihat Yebin yang menunjukkan raut wajah tidak senang, ibu kembali berkata, “Kenapa dengan wajahmu itu, Yebin-a? Kau yang merengek rengek minta segera dipulangkan dan sekarang setelah pulang malah cemberut seperti tupai yang ketahuan mencuri kacang. Jangan begitu sama suamimu. Kau tidak tahu betapa kerasnya Manantu Moon menjagamu di rumah sakit. Dia tidak sempat bekerja, tidak sempat pergi minum dengan temannya, bahkan tidak sempat merawat tubuhnya dengan baik.”


Seketika itu Yebin melirih ke arah Yul. Dan, benar. Selama ia sakit, Yul tidak merawat tubuhnya dengan baik. Rambutnya mulai memanjang. Di bawah hidung dan di dagu dan sekitarnya ditumbuhi bulu bulu halus. Yul tidak sempat bercukur karena harus menjaga Yebin sepanjang waktu di samping mengurusi urusan bisnisnya.


Itu membuat Yebin merasa bersalah. Tatapan kesalnya seketika itu berubah sayu. Ia berdeham deham pelan untuk mengusir rasa bersalahnya terhadap Yul.


“Ini salah Oppa karena dia mengatakan hal hal yang tidak masuk akal. Mana ada arwah orang yang sedang sakit itu gentayangan?” gerutu Yebin menghilangkan rasa bersalahnya pada Yul.


Ibu sontak menatap ke arah Yul. “Benar itu Menantu Moon? Kau melihat arwah Hun?” tanya ibu pada sang menantu.


“Tidak secara jelas, Ibu. Hanya sekelebat saja. Aku merasa tadi itu Hun melintas dengan cepat di depan mobil yang sedang aku kendarai,” jelas Yul singkat.


“Ah, begitu rupanya. Bisa jadi itu betul Hun. Bisa jadi juga itu hanya angan anganmu saja karena begitu memikirkan Hun,” ucap bijak ibu. Membuat Yul mengangguk angguk. “Kalau begitu kalian masuklah. Dan kau, Kang Yebin, jangan terus mengomeli suamimu. Sekarang karena kau sudah sembuh, rawatlah suamimu dengan baik dan jangan suka membangkang. Apa ibu pernah mengajarimu menjadi istri yang seperti itu?” lanjut ibu merutuki putri semata wayangnya yang cukup temperamen.


Tak mengiyakan dan tak menolak, Yebin hanya diam mendengarkan nasihat itu dengan baik. Dalam hati ia mengiyakan perkataan ibunya. Tetapi karena rasa egonya yang tinggi Yebin hanya diam dan tak memberikan tanggapan apa pun.


Sambil berbalik pulang, sang ibu menggumam gumam, “Untung saja kau dapat suami yang penyayang dan sangat sabar. Jadi kalian bisa hidup tenang meski kau sering mengomel ngomel dan suka marah marah tidak jelas.”


Kang Yebin melemaskan kedua matanya sambil mengembuskan napas panjang menatap punggung ibunya. Ibunya itu terlaly menyayangi dan membanggakan sang menantu. Sehingga yang dilihat ibu hanyalah sisi sisi baiknya Yul saja. Sedangkan yang dilihat dari putrinya sendiri, Yebin, adalah sisi burukbnya saja.


Okelah. Yebin cukup sabar untuk hal itu. Yul memang tipikal menantu idaman yang paling disayangi oleh ibu mertua. Tidak heran jika ibu Yebin pun selalu membanggakan Yul dan menganggapnya yang paling benar.


“Tidurlah dengan nyenyak, Ibu!”


Terakhir, Yul menceletuk tepat ketika sang ibu berjalan melintasi pagar rumah. Ibu melambaikan tangan dan tersenyum bangga kepada Yul. Sedangkan Yebin terus diam dengan pandangan malas. Begitu ibu sudah tak terlihat lagi di depan matanya, Yebin menatap Yul sinis sambil menggerutu.


“Kenapa ibuku lebih menyukaimu dibanding putrinya sendiri? Aku ini sebenarnya apa anak yang dipungut dari jalanan sampai sampai selalu disalahkan? Sedangkan Oppa malah selalu dibenarkan dan dipuji puji,” rutuk Yebin selagi menatap kesal ke arah Yul yang menyerap sebagian besar dari perhatian ibu kandungnya sendiri.


Setelah merutuk rutuk cemburu pada suaminya sendiri, Yebin melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Yul yang sibuk membawa semua barang barang dari bagasi.


“Ibu memperlakukanku seperti itu supaya aku juga berlaku seperti itu padamu, Sayang. Kau tidak perlu marah marah apalagi cemburu seperti itu. Ibu ingin menyampaikan rasa perhatiannya padamu melalui aku. Jadi semua yang dilakukan ibu itu tetap berakhir untukmu.”


Sembari menarik satu koper besar dan membawa satu tas, Yul mengikuti langkah Yebin masuk ke dalam rumah. Lantas terduduk di sebelah Yebin di atas sofa ruang tamu.


“Oppa senang kan diperlakukan seperti itu oleh ibu?” Yebin menukasi Yul yang baru duduk di sebelahnya.


Yul hanya memperlihatkan senyum semringahnya kepada sang istri. Kemudian ia merapatkan duduknya dengan Yebin. Dengan senyum yang masih ia terbarkan itu, Yul menatap Yebin penuh goda. Tangan kirinya merangkul kedua bahu Yebin sedangkan tangan kanannya mulai merayap rayap di dalam pakaian Yebin.


“Ah, Sayang....”


Yebin sedikit mengerang ketika merasakan tangan Yul meremas sesuatu di balik pakaiannya.


“Aku hanya memastikan kalau luka operasimu sudah benar benar kering,” jawab Yul nakal.


“Kalau sudah kering Oppa mau apa?” sahut Yebin.


Sambil tersenyum, Yul berbisik lirih di telinga Yebin. “Kau tahu apa yang aku inginkan, Sayang.”


**


“Kau yakin mau mulai bekerja di Biniemoon? Dokter masih melarangmu melakukan aktifitas berat karena tulang rusukmu masih belum pulih seutuhnya.”


Sekeluarnya dari kamar mandi, yang Yul dapati adalah kang Yebin yang sedang berdandan di depan cermin. Wanita itu memakai pakaian yang biasa ia gunakan untuk bekerja. Dengan tatanan rambut yang rapi dan wajah yang sedang dipoles menggunakan foundation.


“Aku harus bekerja. Mulai sekarang aku sendiri yang akan memantau pertumbuhan Biniemoon dengan Moonlight Retail. Oppa fokus saja di Moonlight Coffe dan juga melukis.” Yebin menceletuk tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin. Setelah meratakan foundation pada wajahnya. Saat ini ia sedang menggunakan pensil alis.


“Sudah kubilang, aku berhenti melukis.”


Apa yang Yul ucapkan itu membuat Yebin sontak menoleh. Didapatinya sosok Yul yang beru saja melepas towel dress. Sedang bertelanjang bulat di samping kasur sembari memakai celana dalam yang beberapa saat lalu telah disiapkan Yebin.


“Hmm.”


Tetapi raut wajah Yul tidak menunjukkan rasa yakin. Ia terlihat ragu ketika menggumam ‘hm’ untuk menjawab pertanyaan istrinya itu.


“Bagaimana bisa aku percaya kalau raut wajahmu saja sudah jelas jelas sedang berbohong?” Yebin mencerocos setelah mendapati Yul sedang berbohong. “Oppa, kenapa kau selalu berbohong padaku? Kenapa kau selalu menyembunyikan sesuatu dariku? Seberapa keras pun kau berusaha berbohong, pasti akan ketahuan. Aku tidak bodoh untuk tidak tahu apa yang sedang kau tutup tutupi.”


Saat kembali melirih, Yebin mendapati Yul yang telah memakai celana panjang dengan atasan kemeja. Kostum itu yang selalu Yul gunakan untuk bekerja. Celana panjang bahan dan juga kemeja kasual. Jarang sekali Yul memakai jas kalau tidak ada acara yang sangat penting.


“... Coba deh Oppa telusuri semua bos kafe yang ada di Korea Selatan ini. Tidak ada bos kafe yang serajin dirimu, bekerja seperti orang kantoran dan ditentukan jam. Semua bos di negeri ini suka berleha leha, kedatangannya tidak menentu, dan memantau bisnisnya dari jauh tanpa terlibat langsung dalam keseharian bisnis. Kalau Biniemoon nanti sudah tumbuh semakin besar dan kuat, aku juga akan menjadi bos yang hanya datang seperlunya saja.” Yebin lanjut merutuk panjang lebar untuk didengarkan Yul.


“Tapi Moonlight Coffe berbeda. Kebanyakan kafe tidak punya struktur dan sistem yang paten. Sedangkan Moonlight Coffe itu sudah terstruktur dengan baik sejak awal dibangun. Karena struktur dan sistem yang baik itu, Moonlight Coffe bisa jadi kafe nomor satu kan? Pada akhirnya tidak ada hasil yang menghianati usaha. Kafe yang aku kelola menjadi kafe nomor satu dengan perkembangan pesat pada satu tahun terakhir, dari jumlah 8 anak cabang menjadi 230 cabang di seluruh negeri. Apa lagi yang perlu dipermasalahkan?” Yul balas menimpali dengan perasaan bangga yang menyertai.


Yebin yang sekarang tak tahu harus berkata apa, hanya bisa mengembuskan napas panjang. Apa yang baru didengarnya itu memang tidak bisa disanggah.


“Ya... ya... Tuan Moon Yul yang sukses dan kaya raya,” desah Yebin dengan pasrah. Ia melirih ke arah Yul yang sedang mengancingkan kemeja yang dipakaianya di depan cermin.


Suasana sejenak itu hening. Lalu Yebin kembali berucap, “Coba Oppa kesampingkan semua itu. Singkirkan kesuksesan kafe, singkirkan semua aset yang kau miliki, dan singkirkan semua hal yang kau miliki. Jika seperti itu, apa Oppa bahagia?”


Yul yang sedang mengancingkan lengan kemejanya itu sontak berhenti. Ia membengong manatap dirinya di depan kaca. Pertanyaan Yebin yang sangat filosofis itu membuatnya bergeming selama beberapa detik.


Ketika itu Kang Yebin telah selesai memoles wajahnya dan memakai lipstick. Ia beranjak bangkit dari duduk. Lantas berjalan mendekat pada Yul. Ia melihat Yul yang sedang melamun menatap kosong ke arah cermin yang memantulkan keberadaannya.


Yebin ikut menatap air muka Yul yang berlahan lahan berubah melalui cermin. Kemudian ia merangkul tubuh Yul dari samping. Mengandarkan kepalanya pada lengan kiri Yul.


“Aku akan tetap merasa bahagia, selama masih bisa bersamamu.” Yul menjawab lirih setelah beberapa waktu berlalu.


“Yang aku tanyakan jika Oppa tidak memiliki semuanya, termasuk aku. Bayangkan saja suatu saat nanti aku harus pergi lebih dulu. Apa artinya kau tidak akan bisa bahagia setelah kepergianku?”


“Apa maksudmu bertanya begitu?!” Yul yang sangat terkejut pada pertanyaan Yebin itu seketika menceletuk. Ia menggeser tubuhnya dari Yebin sehingga pelukan itu terlepas. Yul menatap Yebin sinis sambil lanjut berucap, “Jangan suka berkata sembarangan. Aku tidak suka kau berkata seperti itu! Siapa yang akan pergi duluan? Tidak ada yang akan pergi duluan. Kita pergi sama sama nanti.”


Nada suara Yul yang meninggi itu pertanda bahwa ia benar benar tidak suka Yebin berkata demikian. Yul yang sedang marah akibat perkataan Yebin itu langsung beranjak keluar setelah mengancingkan kemejanya. Ia keluar meninggalkan Yebin yang membengong di depan cermin.


Karena kata kata Yul, Yebin merasa terharu. Bola matanya berkaca kaca namun ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata. Sambil memandangi pintu tempat Yul keluar, Yebin menggumam gumam.


“Kenapa dia jadi suka marah marah. Apa aku sudah menularinya? Ahh... kenapa aku jadi mau menangis.”


Yang membuat Yebin terharu adalah kata kata Yul bahwa tidak ada di antara mereka yang akan pergi duluan. Mereka akan pergi sama sama nanti ketika raga sudah menjadi sangat renta dan lelah. Kata kata seperti itu mampu merasuk ke dalam lubuh hati Yebin dan menggetarkan jiwanya. Sedalam itu Yul mencintainya. Sedalam itu cinta mereka sebagai sepasang manusia tidak pernah pernah pudar.


Setelah beberapa detik Yebin mengendalikan diri dan menghilangkan perasaan ingin menangisnya. Lantas berjalan keluar mengikuti Yul yang sedang di dapur menyiapkan sarapan menggunakan sereal dan susu kream yang dihangatkan.


Di depan meja dapur itu Yul masih menunjukkan raut wajah tak senang akibat ucapan Yebin. Yul yang sedang menghangatkan susu kream itu bersikap seolah olah tidak melihat keberadaan Yebin yang berdiri di sampingnya.


“Oppa, kau marah?” sahut Yebin.


“Apa mungkin kalau aku tidak marah?” Yul menimpali sambil menoleh pada Yebin.


Tiba tiba Yebin merasa sangat bersalah karena sudah merusak mood Yul di pagi hari. Karena rasa bersalah itu, sikap Yebin jadi sedikit lunak dan manja.


“Sayang....”


Yebin mulai memeluk perut Yul dari samping. Suaranya bahkan berubah manja dan raut wajahnya dipermanis seperti anak kecil.


“Aku tidak bermaksud membuatmu marah, Sayang. Aku hanya ingin kau tahu apa yang membuatmu bahagia dari dalam dirimu sendiri. Bukan dari aku, bukan dari siapa pun. Tapi kebahagiaan yang murni dari dalam dirimu sendiri dan hanya bisa kau rasakan,” jelas Yebin dengan nada suaranya yang memanja. Ia tetap memeluk erat Yul dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.


Susu yang sedang dipanaskan oleh Yul itu telah menghangat. Ia segera mematikan kompor listrik yang ada di hadapannya. Lalu menatap Yebin yang bersandar di dadanya dengann raut wajah seperti anak kecil yang ketahuan baru jajan sembarangan di pinggir jalan.


“Aku tidak tahu kenapa kau selalu bertanya apakah aku benar benar bahagia dengan semua yang punya. Yang membuatku bahagia bukan kafe, bukan bisnis, bukan seberapa besar profit yang aku dapatkan sebagai bos. Yang membuat aku bahagia kamu, Kang Yebin. Hidup bersamamu, aku bisa melihatmu, bisa menyentuhmu, bisa berbagi rasa denganmu. Itu yang membuatku bahagia. Berbisnis atau pun melukis, tidak bisa membuatku bahagia jika tidak bersamamu. Jadi berhentilah bertanya. Dan jangan berbicara yang tidak tidak.” Yul menegaskan denan serius.


Setelah mencerna semua itu, Yebin melepaskan pelukannya. Berdiri di hadapan Yul. Lalu Yul mengimbuhkan, “Aku sudah memutuskan untuk menjadi kepala keluarga yang baik. Terlepas dari pekerjaanku sebagai pebisnis atau pun pelukis, aku ingin menjadi suami yang baik sekaligus ayah yang baik untuk anak anak kita nanti. Ini sudah keputusanku. Menjadi kepala keluarga yang bisa menyejahterakan semua anggota keluarganya.”


Apa yang Yul katakan membuat Yebin merenung dalam dalam. Ia terdiam cukup lama mencerna smeua ucapan Yul.


Ketika Yul sedang menuangkan susu hangat ke atas dua mangkuk sereal yang telah ia siapkan, Yebin menjawab semua penjelasan Yul tadi.


“Kalau begitu berjanjilah satu hal padaku,” kata Yebin.


Yul kembali menoleh. “Apa?”


“Oppa ingin menjadi ayah yang baik untuk anak anak kita kan? Jika di antara anak anak kita ada yang menuruni bakat darimu dan berkata ingin menjadi pelukis hebat seperti kakeknya, Oppa harus mewujudkan keinginan itu. Bagaimana pun caranya Oppa harus mewujudkan keinginan anak itu dan menjadikannya pelukis hebat sebagaimana harusnya kau menjadi.” Yebin berucap serius.


Yul diam. Hatinya bergetar mendengar Yebin berkata demikian. Di antara anak anaknya nanti, paling tidak satu, pasti ada yang akan menuruni bakat melukis Yul. Meski sebetulnya Yul sendiri tidak memaksakan salah satu anaknya harus pandai melukis sepertinya. Karena dari Yul sendiri, ia akan mendukung apa pun cita cita anak anaknya nanti. Tanpa ada paksaan atau kekangan.


Menanggapi ucapan Yebin itu, Yul mengangguk angguk.


“Baiklah. Aku berjanji.”


**