
Bab 36
Kim Lysa yang kehilangan akal sehat
Menyadari tubuh dan pikirannya itu mulai berjalan di luar kendali, Lysa segera mengalihkan pandangannya dari Mino. Dan pada waktu itu juga Mino menatap Lysa yang sedang berdiri dengan gugup dan tampak canggung.
“Ada apa? Ada yang ingin kau katakan?” sahut Mino dari kejauhan.
“Hah?” Lysa menanggapi dengan bingung. Lalu ia menggeleng gelengkan kepala. “Ti tidak.”
Mendengar jawaban yang tidak memuaskan dari Lysa, Mino memiringkan kepala sambil mendesah ragu. Ia berjalan melewati Lysa untuk mengambil lotion wajah yang ada di dalam tas kulitnya.
“Hmm ... sepertinya ada yang ingin kau katakan padaku,” gumam ragu Mino sambil membuka tas kulit yang ada di atas meja untuk mencari cari lotionnya. Pada waktu itu juga, Lysa yang telah kehilangan akal itu berlari ke arah Mino dan memeluknya dari belakang. Mino yang merasa terkejut pun langsung membalik tubuh dan seketika itu juga Lysa mencium bibirnya dengan agresif.
“Hm ... hmph!”
Kedua mata Mino terbelalak lebar ketika mendapat serangan ciuman mendadak dari Lysa. Laki laki itu sampai tidak sempat bernapas hingga menjatuhkan lotion wajah yang belum sempat ia gunakan. Namun sebisa mungkin Mino mencoba untuk tetap terkendali dan tetap menggunakan logikanya untuk merespon Lysa yang sedang tidak terkendali ini.
“Hmph. Ly ... Lysa, Lysa!”
Setelah berususah payah akhirnya Mino bisa melepaskan ciuman gadis itu. Mino mencengkeram kedua bahu Lysa sambil terengah engah akibat ciumannya. Menatap kedua bola mata Lysa yang sudah tidak fokus.
Sambil terengah engah Mino mencoba mengendalikan akalnya untuk tidak hilang. Ia menatap Lysa dengan lembut dan memberinya instruksi untuk sedikit lebih terkendali.
“Pelan pelan. Kita lakukan dengan pelan, hm?” bujuk Mino sambil menatap kedua mata Lysa lekat lekat. Dalam hitungan detik, Lysa yang pelan pelan mencerna kata kata Mino itu pun tersadar dan segera menjauhkan tubuhnya dari Mino.
“Hh! Aku tidak tahu kenapa aku seperti itu.”
Sambil memegangi keningnya Lysa menggumam gumam penuh penyesalan. Sungguh, itu di luar kendalinya. Ia tidak tahu kalau tubuhnya akan bergerak di luar pikiran. Lysa yang sedang bingung kenapa reaksi tubuhnya bisa seperti itu, menjadi sangat malu. Gadis itu segera mendudukkan tubuhnya ke pinggiran ranjang dan menundukkan kepala dalam dalam, tidak berani menatap Mino karena merasa sangat malu.
Melihat Lysa yang terlihat begitu malu dan menyesal itu membuat Mino tersenyum hangat. Laki laki itu menundukkan tubuh untuk mengambil botol lotion nya yang jatuh ke atas lantai. Memakai lotion itu di wajahnya yang terasa kering setelah mandi. Baru kemudian menghampiri Lysa. Mino mendudukkan tubuhnya di atas ranjang tidur, tepat di sebelah Lysa. Meraih tangan gadis itu untuk di genggamnya.
“Aku tahu perasaanmu, Lysa. Aku pun demikian. Aku sangat merindukanmu dan sangat ingin memelukmu tanpa membiarkanmu terlepas sedikit pun. Sungguh, aku sangat sangat merindukanmu.”
Sambil membelai wajah dan rambut Lysa, Mino mengatakan hal itu. Karena memang Lysa tak sendirian mengalami semua perasaan itu. Mino juga merindukannya dan semakin merindukannya setiap harinya. Mino menahan keinginannya untuk bertemu dengan Lysa dalam waktu yang lama. Ingin sekali Mino memiliki tubuh Lysa sepenuhnya. Ingin menjalin cinta dengan Lysa tanpa sedikit pun melepaskan gadis itu dari cengkeramannya. Lebih dari apa pun, Mino menginginkan semua itu. Namun meski pun begitu, logika Mino masih berjalan dengan baik dan laki laki itu masih dapat berpikir dengan rasional. Ia tidak ingin membuat kesalahan yang akan ia sesali pada akhirnya. Dan memilih untuk bersikap tenang dan tetap terkendali.
Meski pun Mino tersenyum hangat untuk menenangkan hati Lysa yang sangat gelisah, Lysa masih mengerucutkan bibir. Gadis itu masih merasa sangat malu untuk sekadar bertatap tatapan dengan Mino.
“Tidak apa apa. Mulai sekarang aku yang akan mengambil alih,” lanjut Mino. Lalu mulai mencium bibir Lysa dengan tempo yang pelan dan lembut. Sebelum akhirnya ciuman itu semakin dalam dan menjadi gila!
**
Hujan yang tidak terduga turun pada petang ini, membasahi kota Yogyakarta yang makin bersinar di malam hari. Suasana di luar menjadi semakin dingin meski ketika siang hari udara di Indonesia sangatlah panas. Di antara dinginnya udara pada waktu yang baru menunjukkan pukul tujuh malam ini, kedua manusia tengah berbagi kehangatan di dalam selimut tebal. Lysa dan Mino yang tidak terlalap seusai bercinta itu tampak sedang asik mengobrol bersama di temani suara gemercik hujan yang membasahi dedaunan di luar.
“Aku selalu khawatir kalau saja Ajeossi memutuskan kembali untuk masa lalumu.” Lysa membalas cerita itu. Ia mengatakan yang sejujurnya yang ia rasakan selama ini. rasa takut dan khawatir jika saja Mino lebih memilih untuk kembali dengan wanita itu alih alih tetap bersama Lysa yang merupakan orang baru dalam hidupnya.
“Sekarang kau tidak usah khawatir. Aku memutuskan ini dengan sangat sadar dan rasional. Keputusaku untuk tetap bersamamu, dan memilihmu, adalah keputusan yang kuambil dengan sangat sadar. Saat kau berada jauh dariku, dan saat aku melihatmu berjalan di kejauhan tanpaku, aku baru menyadari bahwa yang aku butuhkan adalah kamu seorang, Lysa. Aku tidak lagi membutuhkan masa laluku, dan aku tidak lagi terus memikirkannya seperti sebelum aku mengenalmu. Waktu yang kuhabiskan lebih sering memikirkanmu dari pada memikirkan rasa sakit dan kekecewaan yang pernah kudapat di masa lalu. Lalu aku menyadari, bahwa hati dan pikiranku hanya berpusat padamu. Entah bagaimana aku menjelaskannya, tapi aku tidak memilikirkan hal selain dirimu.” Mino lanjut bercerita, meyakinkan Lysa bahwa Mino telah memilih gadis itu dan tidak akan menjauh darinya lagi.
Ketika Mino menjauh dari Lysa, yang paling menderita adalah Mino sendiri. Sama seperti ketika ia berkata ingin mmepertimbangkan hubungannya dengan Lysa, yang paling menderita dan mengalami banyak waktu sulit karena itu adalah Mino sendiri. Sekali saja cukup, Mino tidak akan mengulangi hal itu lagi, dan tidak akan membiarkan rasa keragu raguan kembali meracuni pikirannya dan pada akhirnya membuatnya benar benar hancur.
“Tapi, jujur, aku masih merasa sangat takut,” ungkap Mino saat ingatan tentang luka di masa lalunya itu kembali terbesit. Tatapannya yang semakin sendu itu menatap mata Lysa yang menyejukkan. “Saat aku memutuskan untuk bersama seorang wanita, aku selalu bisa memegang kata kataku dan mengerahkan semua tenaga dan pikiranku padanya. Aku akan memberikan apa pun, dan berusaha semampu yang aku bisa untuk mempertahankan hubungan itu. Tapi, pengalaman masa laluku sangat buruk. Di saat aku telah melakukan semuanya dan memberikan semua yang kubisa berikan, aku mendapatkan penghianatan. Luka itu yang sampai sekarang masih membekas. Kadang aku menjadi sedikit merasa takut untuk memulai cinta yang baru, dan juga takut untuk memberikan diriku sepenuhnya pada wanita yang kupilih. Aku masih merasa takut jika sana hal yang buruk itu kembali terjadi padaku. Jika itu benar terjadi, aku tidak yakin apa aku masih bisa bertahan lagi atau tidak. Aku tidak tahu bagaimana mengakhiri kecemasan ini dan terus saja mengkhawatirkan hal hal yang seharusnya tidak kukhawatirkan.”
Mino menceritakan semua itu dengan raut wajah pilu. Lysa yang mendengarkan kecemasan Mino dan menatap wajahnya yang memilu, merasa dapat merasakan apa yang Mino rasakan. Lysa seolah olah dapat merasakan berada di posisi Mino dan mencoba untuk memahaminya. Sama sepertinya, Mino juga memiliki luka yang begitu dalam di masa lalu. Baik Mino mau pun Lysa, kedua duanya sama sama memiliki ingatan yang buruk tentang hubungan cinta. Sehingga Lysa dapat mengerti dengan baik bagaimana berada di posisi Mino, yang telah memberikan segalanya untuk seorang wanita yang ingin ia jadikan pendamping hidup dan pada akhirnya ditinggalkan oleh wanita itu.
Lysa meletakkan tangannya pada pipi Mino dan membelainya dengan pelan. Di hadapannya, Mino seperti seorang anak kecil yang membutuhkan banyak cinta dan kasing sayang. Tidak peduli sekuat apa pun Mino sebagai laki laki dan setegar apa pun laki laki itu menjalani kehidupan yang sangat keras, di hadapan wanita yang dikasihinya laki laki itu hanya menjadi seorang anak kecil yang sangat manja dan membutuhkan kasih sayang. Lysa tidak yakin apakah semua laki laki seperti itu ketika di hadapan wanita yang dikasihinya, atau hanya segelintir laki laki saja yang seperti itu. Namun, sikap Mino itu membuat Lysa merasa benar benar berharga. Saking berharganya hidup Lysa untuk laki laki itu, Lysa sama sekali tidak bisa membayangkan jika ia harus pergi meninggalkan Mino. Tidak, jika itu benar terjadi, Lysa tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hidup Mino. Dan, memikirkan hal itu, membuat Lysa benar benar tidak ingin pergi, ia ingin terus bersama Mino dan ada untuknya sampai kapan pun. Sampai bumi ini berhenti berputar untuknya, sampai helaan napas terakhir sepanjang hidupnya.
“Aku tidak akan ke mana mana, Ajeossi. Selama Ajeossi tidak pergi dariku, aku tidak akan meninggalkanmu.” Lysa berkata dengan yakin untuk dapat meyakinkan Mino dan menghilangkan sedikit rasa cemasnya akan hal buruk di masa depan. Di depan mata Lysa, terlihat Mino yang begitu ekspresi wajahnya dipenuhi pilu dan haru.
“Aku bisa memercayai kata kata mu kan?” Mino meyakinkan.
“Tentu saja.” Sahut Lysa sponta, tanpa keraguan.
Setelah itu Mino mendekatkan tubuhnya pada Lysa untuk memeluknya dengan hangat. Mino yang merasa pilu campur terharu itu menyusupkan kepalanya di bawah dagu Lysa, di antara leher dan juga dadanya. Kehangatan tubuh keduanya pun bercampur menjadi satu dan membuat malam semakin hangat meski di luar masih terdengar suara rintik rintik hujan.
“I love you, Lysa Kim.” Sambil memeluk tubuh Lysa untuk mencari kehangatan, Mino mendesuskan satu kalimat itu. Itu adalah kata kata cinta pertama yang Lysa dengar sepanjang hidupnya dari seorang lelaki. Dan Lysa baru menyadari, efek dari kata ‘I love you’ itu sangat besar untuk Lysa. Seketika itu juga Lysa merasakan sederet emosi yang tak dapat ia deskripsikan dengan kata kata.
“I love you too, Chagiya.” Lysa pun membalas kata kata Mino dengan lembut.
Di pelukan Lysa, Mino tersenyum simpul mendengar Lysa memanggilnya Chagiya untuk pertama kalinya. Panggilan Chagiya yang berarti sayang itu entah mengapa terdengar begitu manis jika yang mengatakannya adalah Lysa. Dan, sejujurnya baru kali ini Mino dipanggil oleh wanita dengan sebutan itu. Karena biasanya, yang sering Mino dapatkan adalah panggilan Oppa. Dan ketika ia masih berkencan dengan Jiwon pun, Jiwon tidak pernah memanggilnya degan sebutan itu. Wanita itu hanya memanggil Mino dengan sebutan ‘Mino ya ~ Mino ya’.
“Benar. Itu adalah cara memanggil yang benar. Mulai sekarang panggillah aku dengan sebutan itu.” Mino yang merasa begitu senang mendapat panggilan sayang baru dari Lysa itu mengatakannya. Saking senangnya, wajah Mino tidak berhenti berhentinya tersenyum semringah di dalam pelukan Lysa,
“Haha. Baiklah, Chagiya.”
Begitu mendengar panggilan itu lagi dari Lysa, Mino semakin mempererat pelukannya pada Lysa. Merapatkan tubuh mereka untuk mencari kehangatan yang lebih dan lebih lagi.
“Nanti kalau hujannya sudah reda, kita keluar ya? Ada satu tempat yang belum sempat kukunjungi.” Lysa mengajak bicara. Ia mendengar suasa hujan di luar yang semakin tipis dan hampir reda.
“Baiklah. Ini adalah kunjungan pertamaku di Indonesia. Kau bisa mengajakku pergi ke mana pun yang kau mau. Aku melihat sekilas, sepertinya kota ini sangat ramai dan penuh dengan budaya.” Mino berucap.
“Hmm. Kota ini memang penuh budaya. Nanti aku tunjukkan tempat yang sangat terkenal di Yogyakarta. Orang orang memanggil tempat itu Malioboro, atau Malioboro Street, itu semacam jalanan yang panjang dari titik nol kilometer Yogyakarta. Saking terkenalnya tempat itu, tidak afdol jika berkunjung ke Yogyakarta tapi tidak mampir ke Malioboro,” jelas Lysa singkat. Kaerna beberapa alasan, wanita itu belum sempat datang ke Malioboro dan ingin mengajak Mino ke sana.
“Sepertinya menarik.”
**