
Bab 28
Pengakuan cinta di saat yang tidak tepat
“Aku ... ingin mempertimbangkan perasaanku kembali, Lysa. Kurasa hubungan ini hanya menguntungkanku sepihak. Dan kadang aku juga takut kalau ternyata aku ini sedang memanfaatkan gadis baik dan lugu sepertimu untuk terbebas dari luka masa lalu yang pernah kurasakan.”
Kata kata yang begitu mengejutkan dari Mino itu membuat Lysa sontak terbelalak. Dalam pelukannya yang hangat, Mino berkata demikian. Namun tak sedikit pun pelukan Lysa semakin dingin terhadap lelaki itu. Lysa hanya terdiam mencerna kaya kata Mino. Ia tidak mengerti kenapa Mino mengatakan hal itu. Sangatlah tiba tiba.
Setelah beberapa saat, Mino pun meregangkan pelukannya. Ia menatap Lysa yang diam tanpa kata menatapnya lurus.
“Maafkan aku. Aku sama sekali tidak meragukan perasaanmu, Lysa. Aku hanya perlu berpikir lebih dalam lagi tentang apa tujuanku bersamamu. Karena sungguh, aku tidak ingin melibatkanmu dalam masa laluku yang rumit.” Mino kembali berucap. Ia menatap Lysa penuh pilu sambil menggenggam kedua tangan gadis itu. Sementara Lysa hanya terdiam dan mendengarkan apa yang Mino ucapkan sampai selesai.
Suasana menghening. Lysa sama seklai tak mengira kencan akhir pekannya akan menjadi seperti ini.
Setelah beberapa waktu mencerna ucapan Mino dan merenung dalam, Lysa pun angkat suara. Ia menatap Mino dengan legas.
“Lalu, apa yang sekarang harus kulakukan? Jika itu yang diinginkan Ajeossi, apa yang harus ku perbuat?” tanya Lysa.
Sebenarnya Mino cukup terkejut mendengar gadis itu kembali memanggilnya Ajeossi. Namun, Mino merasa tidak berhak untuk menegur apa lagi meminta Lysa untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu. Lelaki itu pun terdiam sejenak untuk memikirkan pertanyaan Lysa dan menjawabnya dengan penuh keraguan.
“Sejujurnya aku tidak yakin apa yang harus kukatakan. Tidak, aku bahkan tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi padamu. Aku merasa begitu bersalah padamu sampai sampai berkata kata saja rasanya sangat sulit.” Mino berkata lirih. Pandangannya menunduk. Ia tak dapat menaikkan pandangan untuk bertatapan dengan Lysa. Rasa bersalahnya terhadap gadis itu begitu besar sampai ia merasa menyesal dan bertanya tanya kenapa gadis sebaik dan selugus Lysa harus terlibat urusan dengannya.
Di hadapannya, Lysa melihat Mino yang tampak kebingungan. Pandangan Mino tak fokus. Namun tatapannya menghadap bawah dan laki laki itu terlihat sedang berpikir keras tentang suatu hal. Tak hanya itu, Lysa juga melihat raut wajah Mino yang sangat sendu dan penuh rasa bersalah.
Yang ada dalam pikiran Lysa saat ini adalah, tanda tanya besar tentang apa yang terjadi pada Mino. Pasalnya, sampai kurang lebih satu jam yang lalu, lelaki itu terdengar begitu ceria dan semangat saat menelepon Lysa dana bertanya apakah gadis itu sudah bersiap siap. Dari nada suara Mino tadi ketika di dalam telepon, Lysa yakin betul bahwa pria itu sangat antusias untuk bertemu dengannya. Namun, apa yang terjadi pada Mino sekarang jauh di luar dugaan Lysa. Lysa sama sekali tidak dapat menebak mengapa Mino mengatakan hal itu dengan sangat tiba tiba.
Tidak tahu harus berkata apa, Lysa hanya bergumam sambil memegangi perut, “Aku lapar.”
Hanya sepatah kata itu yang dapat keluar dari mulut Lysa di tengah situasi yang mengejutkan ini. Ia tadi terlalu bersemangat untuk berkencan dengan Mino sampai sampai lupa makan. Dan sekarang ia merasakan perutnya yang memprotes untuk segera diisi.
Namun itu hanya alasan. Alasan yang sebenarnya Lysa berkata ‘aku lapar’ adalah karena ia ingin memiliki sedikit waktu untuk berpikir. Ia perlu memikirkan bagaimana ia akan merespon ucapan mino tadi. Tentang keinginan lelaki itu untuk berpikir sekali lagi dan mempertimbangkan semua yang tengah mereka makan. Perlu di ketahui, di saat seperti ini tidak mungkin Lysa dapat merasakan lapar. Karena yang bekerja untuk saat ini hanyalah hati dan perasaannya, bukan yang lain. Ia hanya memerlukan sedikit waktu untuk berpikir.
**
Akhirnya Mino membawa Lysa ke sebuah tempat makan yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka sebelumnya. Sepanjang perjalanan mereka menuju tempat makan itu, hanya keheningan yang terasa. Mino tak dapat mengatakan apa pun kepada Lysa karena rasa bersalahnya pada sang gadis. Sedangkan Lysa tak dapat berkata apa apa karena ia masih sibuk berpikir dan mempertimbangkan apa maksud dari perkataan Mino itu tadi.
Dalam hati Lysa hanya bertanya tanya. Apakah Mino mempertimbangkan perasaannya karena merasa bahwa bersama dengan Lysa itu adalah sebuah kesalahan dan hal yang seharusnya tidak boleh terjadi? Ataukah, Mino meragukan perasaan Lysa karea selama ini Lysa tak pernah mengatakan ‘aku menyayangimu’ atau kata ‘aku mencintaimu’? atau jangan jangan, terjadi sesuatu yang membuat Mino merasa tidak ingin melihatkan Lysa dalam urusan masa lalunya yang sangat rumit itu?
Entahlah. Apa pun yang Lysa pikirkan saat ini tidak pasti dan semuanya hanya tebakan Lysa semata. Karena yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi hanyalah Mino. Ya, Mino seorang.
Mino dan Lysa masih berasa di dalam mobil bersama. Mino baru saja menghentikan mobilnya di halaman sebuat restoran besar yang terlihat cukup ramai pada hari ini. tempat parkir yang letaknya di halaman itu terlihat sangat ramai. Namun keadaan di dalam mobil itu sangat sunyi dan hening. Suara detak jantung Lysa dapat terdengar di telinganya sendiri. Dan suara napas Mino dapat terdengar untuk lelaki itu sendiri. Mereka benar benar diselimuti keheningan yang berlarut dari beberapa waktu yang lalu.
“Aku...”
Setelah lama menghening, suara lembut Lysa pun memecahkan keheningan. Ia mengumpulkan keberanian untuk membuka percakapan.
Mendengar Lysa bersuara, kepala Mino sontak tertoleh. Keduanya bertatapan dalam keheningan suasana yang masih begitu dingin.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, Ajeossi. Entah apa yang terjadi sampai kau berkata ingin mempertimbangkan kembali perasaanmu ...”
Saat Lysa belum menyelesaikan perkataannya, Mino tiba tiba menyela, “Tidak. Tidak terjadi apa apa padaku. Aku hanya... aku hanya—”
“Sebenarnya aku pun tidak penasaran,” sela Lysa kemudian. Ia menatap hangat Mino yang terlihat kelabakan karena kata katanya. Kamudian gadus itu menggeleng gelengkan kepala. “Aku tidak ingin tahu, Ajeossi. Melihatmu begitu khawatir dan resah seperti ini, membuatku tidak ingin tahu lebih lanjut tentang apa yang terjadi padamu. Aku tahu itu mungkin suatu hal yang tidak sepantasnya aku tahu, jadi aku tidak akan menanyakannya lebih lanjut.”
Mino terlihat seperti mengembuskan napas panjang panjang setelah mendengar Lysa mengatakan hal itu. Ia terlihat lebih lega, namun di satu sisi juga merasa terbebani dan merasa lebih bersalah lagi terhadap Lysa.
Perasaan Lysa saat ini sangat bercampur aduk. Ia sudah terlarut menyayangi Mino dan berharap lebih kepada laki laki itu. Walau pun secara resmi mereka belum benar benar berkencan, Lysa telah menyayangi Mino dan menganggap setiap momen yang ia lalui bersama Mino adalah momen yang sangat berharga untuknya. Dengan harapan yang tinggi itu Lysa lebih senang ketika Mino mengajaknya bertemu. Namun, seperti inilah yang terjadi. Lysa dihadapkan dengan kenyataan yang sama sekali tak manis seperti yang ada di dalam angan angannya sampai ia mendengar kata yang mengisyaratkan keraguan itu dari Mino.
Saat Mino masih terdiam, Lysa kembali berbicara. Sebelum itu, ia meraih salah satu tangan Mino untuk digenggamnya dengan hangat.
“Aku tidak meragukanmu, Lysa. Sama sekali tidak.” Mino menyela ucapan Lysa dengan tegas. Namun Lysa hanya menatapnya lurus tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
“Ajeossi mau mengakui atau tidak, saat ini kau sedang ragu. Aku merasakan keraguan yang besar dari cara Ajeossi menatapku. Bahkan itu tersirat jelas dari raut wajahmu saat ini.” Lysa menegaskan dengan yakin.
Seketika itu juga napas Mino mengembus panjang. Ia tidak tahu kalau Lysa akan sejeli itu memperhatikan setiap hal dalam dirinya. Dan jujur, ini adalah pertama kali ada seorang wanita yang memperhatikan Mino sampai sejeli itu, sampai Mino tidak dapat berbohong apa apa dan sampai lelaki itu tidak dapat menutupi apa pun darinya.
Lysa mempererat genggaman tangannya pada Mino. Perlahan lahan Mino pun mengembalikan pandangan Mino pada Lysa. Raut wajah Mino saat ini memperlihatkan sejuta rasa bersalah. Dan itu semua dapat dicerna dengan baik oleh Lysa yang ditatapnya.
“Kalau Ajeossi ingin mempertimbangkan lagi perasaanmu padaku, aku akan memberikan waktu. Tapi aku ingin memberi tahu Ajeossi suatu hal sebelum itu. Aku ingin mengatakan, bahwa aku telah menyayangimu sejak saat itu. Sejak kau memelukku di bandara dan berkata padaku untuk menunggu kau datang dari Pulau Jeju. Aku sudah menyayangi Ajeossi sejak saat itu, hanya saja aku belum memiliki kesempatan untuk mengatakannya. Jadi sekarang aku mengatakannya, bahwa aku sayang padamu, Ajeossi. Entah kau menyayangiku apa tidak, fakta yang aku akui adalah aku sayang padamu.”
Setelah itu Lysa menundukkan kapala. Genggamannya pada Mino pun terlepas. Gadis itu menundukkan kepala karena tak memilik keberanian untuk menatap Mino setelah menyatakan perasaannya pada lelaki yang sedang meragukan perasaannya.
Merasa tak memiliki hal lain untuk dikatakannya sekarang, Lysa pun melepas sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya. Lantas menoleh pada Mino dan berkata, “Jadi silakan pikir baik baik, Ajeossi. Tidak usah mencemaskanku. Aku baik baik saja. Dan aku akan menunggu sampai Ajeossi merasa benar benar yakin lagi. Entah yakin untuk melanjutkan hubungan ini denganku, atau yakin untuk mengakhirinya saja.”
Terakhir, Lysa yang telah membuka pengunci pintu mobil itu berkata, “Ah, benar. Ngomong ngomong aku tidak lapar. Tadi aku hanya beralasan. Dan karena aku tidak lapar, aku akan pulang saja dengan taksi. Ajeossi tidak perlu mengantarku atau bagaimana, cukup biarkan saja aku bertindak sesuaku.”
Setelah itu Lysa langsung turun dari mobil Mino. Mino yang ada di dalam mobil itu tidak bisa berbuat apa apa. Tidak bisa menyusul Lysa yang sedang berjalan menjauh dan menghentikan sebuah taksi untuk membawanya pergi.
Dasar bodoh! Mino mengumpat pada dirinya sendiri yang sangat bodoh dan *****. Ia tidak bisa berbuat apa apa, ia sangat *****. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap kepergian Lysa di dalam sebuah mobil taksi berwarna hitam yang membawa gadis itu ke arah Mino tadi datang.
**
Di dalam mobil taksi yang menyelamatkannya dari situasi itu, Lysa hanya mengembuskan napas panjang panjang. Ia menaiki taksi itu tanpa tahu ke mana ia akan pergi. Dan hanya terdiam melamun sampai sopir taksi itu menanyakan tujuan Lysa.
“Mau pergi ke mana, Nona?” tanya sopir taksi itu sambil melirik ke arah kaca spion di dalam mobil dan bertatap tatapan dengan Lysa.
Seketika itu Lysa langsung tersadar dari segala lamumannya. Ia pun segera menganggukkan kepala.
“Sebentar ya,” ucapnya pada sopir taksi. Kemudian ia merogoh ponselnya yang ada di dalam tas bahu. Lantas membuat panggilan dengan Brian.
“Halo, Brian. Apa sekarang kau masih bersama ayah?” Begitu panggilan teleponnya tersambung dengan Brian, Lysa langsung bertanya demikian. Dan setelah Brian di seberang telepon menjawab, Lysa pun kembali menanggapi. “Baiklah. Aku akan ke sana. Katakan pada ayah untuk menunggu ya. Aku sangat lapar. Pesankan juga aku makanan yang banyak ya Brian!”
Setelah itu panggilan telepon tertutup. Lysa segera mengatakan kepada supir taksi ke mana ia akan menuju.
“Tolong antarkan saya ke Restoran Conghyang di Cheongdam dong,” ucap Lysa kepada supir taksi. Akhirnya, ia menemukan tujuan ke mana akan pergi setelah kencan akhir pekannya berantakan.
“Baik, Nona.”
Lysa mulai bernapas lega setelah itu. Sebelum akhirnya ia teringat suatu hal.
Dengan perasaan ragu Lysa kembali merogoh tas bahu yang ada di pangkuannya. Ia meraba raba ke dalam tas bahunya. Menemukan sebuah foto yang tampak masih bagus dan bersih.
Raut wajah Lysa semakin sedih melihat ke arah foto itu. Ia seolah olah sedang bertatap tatapan dengan Han Mino yang tersenyum lebar dalam selembar foto berukuran kecil yang ada di genggamannya. Melihat Mino tersenyum selebar itu, Lysa merasa semakin pedih. Pasalnya, itu bukanlah senyum yang biasa Mino tunjukkan selama ini. Bukan senyum bahagia yang lelaki itu tunjukkan saat bersama Lysa. Senyum Mino di dalam foto itu terasa sangat tulus dan bahagia. Dan yang membuat Lysa begitu sedih saat melihat foto itu adalah seorang wanita di sebelah Mino yang membuat Mino tersenyum selebar itu.
Ya, itu adalah foto Mino bersama Jiwon. Senyum lebar yang Mino perlihatkan dalam foto itu membuat hati Lysa teriris iris karena kenyataannya, hanya wanita itu yang bisa membuat Mino tersenyum selebar itu.
“Harusnya aku tidak menemukan foto ini. Harusnya aku tidak mengambilnya hari itu. Harusnya, wanita itu tidak menjatuhkan foto ini ....”
Kedua mata Lysa bergetar saat mulutnya bergumam pelan. Andai saja hari itu Jiwon tidak menjatuhkan foto ini depan kasir sebelum bertemu dengan Lysa di kafe, Lysa mungkin tidak akan menemukannya. Lysa mungkin tidak akan tahu kalau wanita bernama Im Jiwon yang ia kenal sebagai calon tunangan Brian itu adalah mantan kekasih dari laki laki yang amat Lysa sayangi saat ini. andai saja wanita itu lebih berhati hati dan tidak menjatuhkan foto ini di depan kasir kafe, mungkin Lysa tidak akan sesakit ini, meski itu berarti ia menjadi gadis paling bodoh di dunia ini.
**