Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Tamu tamu tidak terduga yang datang



Bab 61


Tamu tamu tidak terduga yang datang


Semenjak hari itu Lysa memang belum bertemu dengan ayahnya lagi, begitu pula Mino belum bertemu dengan ayah Lysa. Namun laki laki itu memiliki rencana untuk kembali menemui ayah Lysa dan mengajaknya berbicara secara baik baik. Memperkenalkan diri sebagai kekasih Lysa. Menjelaskan tentang alasan mengapa Lysa mengiap selama beberapa hari di rumah Mino. Juga memberikan penjelasan bahwa sekarang Lysa tidak lagi tinggal bersamanya, melainkan tinggal bersama ayah dan ibu Mino dan kedua adiknya. Untuk melindungi Lysa dari Brian yang seolah olah ingin menculik Lysa dari Mino.


Cepat atau lambat Mino harus memberi tahu ayah Lysa tentang semua kejadian yang terjadi pada Lysa. Mulai dari anccaman Tuan Alvend sampai Lysa yang hampir sekarat di asrama itu hingga akhirnya Mino memutuskan untuk membawa Lysa ke apartemennya. Ah, dan juga tentang gangguan kecemasan yang dimiliki Lysa karena rasa tertekannya menghadapi Hangin Grub yang ingin menjadikannya alat untuk menyelesaikan semua skandal yang yang timbul karena kelakuan Brian itu.


Rencananya nanti sore sepulangnya bekerja Mino akan menemui ayah Lysa di kediamannya. Ia berharap ayah Lysa ada di sana ketika Mino datang. Dn ia berharap hari ini pekerjaannya berjalan dengan lancar sehingga Mino bisa meninggalkan akfe sedikit lebih cepat dari biasanya.


Tapi rupanya hari ini Mino mendapatkan banyak sekali tamu. Mulai dari kedatangan Pengacara Bae yang datang untuk memamerkan mobil barunya. Kemudian disusul Won Sik yng datang untuk mendiskusikan beberapa hal. Dan, pada jam makan siang ini, Mino kembali kedatangan tamu kehormatan yang tidak lain adalah Tuan Alvend, pemilik Hangin Grub. Ia dengan senang hati mengunjungi kafe untuk bertemu dengan Mino dan berbicara secara empat mata.


Awalnya Mino bingung ketika asistennya berkata bahwa ada tamu yang datang dengan membawa empat pengawal yang berada di depan kafe. Empat pengawal itu yang menyebabkan para pelanggan kafe merasa tidak nyaman dan mengeluh karena merasa seperti diawasi oleh badan intelijen. Hingga akhirnya Mino pun memperbolehkan Tuan Alvend masuk ke dalam ruangannya dengan syarat supaya keempat penjaganya itu pergi atau bersembunyi sehingga para pelanggan kafe tidak mengeluh seperti sedang diawasi oleh pengawal istana.


Tuan alvend pun masuk seorang diri ke dalam ruang kerja Mino, tanpa didampingi oleh penjaganya yang sekarang sedang bersembunyi di dalam mobil untuk menunggu Tuan Alvend keluar.


Sekarang pria paruh baya itu sedang duduk berhadap hadapan dengan Mino. Mino menjamunya dengan secangkir teh. Dalam lubuk hati yang paling dalam, ingin sekali Mino menaruh racun tikus di teh yang ia sajikan untuk Tuan Alvend. Namun jiwa kemanusiaannya tidak mengizinkannya melakukan  hal serendah itu.


Di tengah keheningan yang menghiasi ruangan, tiba tiba Tuan Alvend menceletuk tanpa basa basi. Menyampaikan maksud kedatangannya bertemu dengan Mino hari ini.


“Berapa harga yang bisa kuberikan supaya kau mau melepaskan Lysa untuk Brian?”


Satu kalimat itu yang dilontarkan pertama kali oleh Tuan Alvend. Laki laki paruh baya yang tidak bisa berbahasa Korea itu mengjak Mino berbicara menggunakan  bahasa inggris. Namun, cara bicaranya yang tidak menyenangkan ditambah maksud ucapannya yang sanagt tidak sopan itu membuat Mino mengeryitkan kedua alisnya tinggi tinggi. Dalam hati, ia sudah merasa marah karena kata kata lelaki paruh baya itu yang terkesan seperti ingin membeli Lysa dari Mino.


“Saya tidak tau apa maksud ucapan Anda.”


Karena merasa begitu geram, Mino hanya membalas perkataan Tuan Alvendo dengan jawaban seperti di atas. Ia sungguh malas untuk menaggapi pak tua yang tidak tau diri itu.


“Aku akan memberimu apa pun yang kau inginkan, asalkan kau memberikan Lysa untuk Brian. Perusahaanku sangat membutuhkan gadis itu. Keselamatan berjuta juta orang sekarang ada di tangan Lysa. Dia harus kunikahkan dengan Brian. Putraku Brian sangat menyanyanginya.” Tuan Alvend kembali berucap. Mengatakan maksud yang sebenarnya kepada Mino, untuk membeli Lysa dari Mino dan menukarnya dengan sejumlah uang.


Mino hanya mengembuskan napas panjang panjang. Ia sungguh tidak mengerti apa yang ada di dlam pikiran pak tua yang duduk di hadapannya sambil menyilangkah kaki itu.


Sekali pun pak tua itu ingin memberikan Hangin Grub kepada Mino, Mino tidak akan melepaskan Lysa. Lysa lebih dari berarti untuk sekadar di tukar dengan nilai aapa pun. Lelaki tua yang tidak berperasaan itu tidak tahu batapa Mino menyayangi Lysa dan betapa berartinya hidup Lysa untuk kelangsungan hidup Mino. Mino hanya bisa hidup jika bersama Lysa. Ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Lysa, apalagi orangyang berniat membeli Lysa dengan sejumlah uang dan menganggap bahwa Lysa adalah barang yang bisa dimiliki dan dibeli dengan mudah.


“Anda dan Brian tidak akan pernah bisa menyentuh Lysa sedikit saja. Bahkan jika Anda memberikan seluruh Hangin Grub untuk saya, itu tidak akan cukup untuk mengambil Lysa dari saya.”


Ucapan Mino itu terdengar sangat tajam dan lirih. Ia mengatakan hal itu dengan tatapan mata yang sangat tajam, seperti ini menusuk dan mencabik cabik jantung laki laki tua yang terlihat sangat arogan itu. Brian atau pun ayahnya, sama saja. Mereka tidak lebih dari manusia rendahan yang mencoba membeli nyawa seseorang menggunakan uang kotor mereka.


Tampaknya Tuan Alvend menjadi geram mendengar penegasan Mino itu. Tatapan matanya semakin tajam dan menyala nyala. Ia seperti seseorang yang bisa melakukan apa saja  untuk mendapat kan apa yang dia inginkan. Tepat seperti Leo park yang sekarang jasatnya mungkin sudah membusuk dimakan belatung di dalam tanah.


“Jika kau tidak bisa kuajak berkompromi, hati hati saja. Anak itu, bagaimana pun caranya aku akan membuatnya menikah dengan Brian. Jika kau bisa, halangi saja. Tapi melihatmu yang sangat keas kepala itu membuaku merasa sangat kasihan. Aku tau sekarang Lysa sedang kau sembunyikan di sebuah tempat, jadi lebih baik katakan saja padaku di mana sebenarnya kau menyembunyikan Lysa. Aku tidak segan untuk memberi pelajaran siapa pun yang mencoba menghalangi jalanku. Jadi lebih baik katakan padaku di mana Lysa, maka aku akan membiarkanmu untuk tetap bernapas.” Tuan Alvend melayangkan ancaman kepada Mino yang benar bena kukuh tidak akan melepaskan Lysa untuk siapa pun.


Mino terdiam sejenak. Ketika itulah Tuan Alvend berdiri dari duduk. Sepertinya tidak ada gunanya ia datang karena pada akhirnya Mino tetap tidak dapat ia hasut untk memberi tahu di mana keberadaan Lysa.


Ketika Tuan Alvend baru hendak berdiri dari duduk, Mino yang masih duduk itu melontarkan suatu kalimat.


“Itu tidak baik untuk Anda jika tetap berusaha untuk merebut Lysa dari saya. Tidak peduli se berapa besar Anda berusaha, Anda tidak akan pernah bisa merebut Lysa dari saya. Dan kalau Anda keras kepala ingin tetap melakukannya, bersiap siaplah untuk kehilangan apa yang Anda cintai di dunia ini untuk selamanya.”


Kepala Mino menaik. ia bertatapan dengan Tuan Alvend yang tersenyum miring, seperti ingin menertawakan Mino yang mengancamnya dengan kata kata seperti itu.


“Dunia ini tidak seperti dongeng, Anak muda. Kau sendiri yang akan hancur saat ingin memiliki apa yang seharusnya tidak kau miliki.”


Tuan Alvend membalas Mino dengan dua kalimat itu. Kemudian pergi meninggalkan ruangan Mino, meninggalkan Mino yang masih duduk di atas kursi dengan perasaan yang berampur aduk. Entah mengapa, niatnya untuk bertemu dengan ayah Lysa sepertinya terurung hari ini. karena seselesainya bekerja laki laki itu ingin untuk segera bertemu dengan Lysa dan memeluknya sepanjang malam.


**


Di kediaman orang tua Mino, Lysa tampak gembira menghabiskan waktu bersama Mina dan juga Minjae. Usia mereka bertiga tidak terpaut cukup jauh sehingga mereka bisa terlihat benar benar akrab satu sama lain. Sepertinya Lysa juga sangat cocok dengan kedua adik Mino itu. Kedua adik Mino terlihat sangat menyayangi Lysa meski baru kemarin Lysa mereka bertiga saling bertemu.


“Ooh, jadi Kak Lysa itu lahirnya di Indonesia? Dan kau baru pindah di Korea Selatan tahun lalu? Tapi kenapa wajahmu benar benar seperti orang asli Korea? Dan bagaimana bisa kau bisa berbahasa Korea dengan begitu lancar?” Minjae yang baru mendengar kalau Lysa adalah orang Korea blesteran itu langsung menanyai Lysa banyak prtanyaan, Sepertinya Minjae yang memiliki rasa penasaran yang banyak itu tidak bosan bosannya melontarkan banyak pertanyaan untuk Lysa selagi Lysa merajut kain di kamarnya.


“Ayahku orang asli Korea. Di rumh, ayahku kadang memakai bahasa Korea jadi aku sudah paham bahasa Korea sejak kecil. Dan setiap beberapa tahun sekali ayahku mengajakku berkunjung ke Korea, ke rumah nenek kakekku di Busan yang sekarang dua duanya sudah meninggal.” Lysa menjelaskan singkat.


“Ahh, begitu rupanya.”


Sejenak suasana kembali hening. Minjae kembali memfokuskan pandangannya bermain game di ponselnya.


“Eonni, bisa kau ceritakan padaku tentang laki laki yang kemarin lusa datang ke apartemen itu? Siapa dia? Dan kenpa dia seperti ingin menculikmu dengan membawa pengawal segala. Dan juga, kenapa Oppa ku membawamu datang ke sini, seolah olah ingin menyembunyikanmu.” Mina yang sedang tiduran di atas kasur kamar tamu yang dipakai Lysa itu bertanya. Sungguh, kemarin lusa Mina sangat penasaran siapa laki laki bernama Brian yang datang ke aaprtemen Mino dengan membawa seorang pengawal. Rasanya Mina sangat penasaran.


“Benar. Siapa laki laki menyebalkan itu Nunim?” sahut Minjae yang sebenarnya juga sangat penasaran. Ia sangat penasaran, dan bertanya tanya dalam benak keika melihat Mino membawa Lysa ke rumah hari ini. tidak biasanya Mino membawa kekasihnya ke rumah dan meninggalkannya untuk bekerja. Dan rasanya aneh sekali, karena kemarin lusa baru ada kejadian di apartemen Mino yang tak dimengerti oleh kedua adiknya. Jadi Minjae merasa sangat penasaran. Hanya saja laki laki itu tidak memiliki keberanian utnuk bertanya secara etrus terang kepada kakaknya.


Lysa terdiam sejenak. Menimbang nimbang apakah ia harus menceritakan semuanya kepada kedua adiknya. Dan setelah menimbangnya selama beberapa saat, Lysa pun memutuskan untuk menceritakan semuanya.


“Jadi, ceritanya sangat panjang sekali. Itu dimulai ketika aku diajak oleh Brian pergi ke Indonesia saat awal musim panas kemarin, untuk bertemu ibuku yang baru saha melahirkan di Indonesia. Jadi Brian itu adalah orang yang kukenal baik sejhak kecil, bisa dikatakan dia seperti kakak laki lakiku, yang menjadi teman bermainku sejak kecil. Tapi ada suatu permasalahan di antara kami...”


Setelah Lysa selesai menceritakan semuanya, Mina dan Minjae yang akhirnya tau itu menghela napas panjang secara bersamaan. Membayangkan saja mereka sudah sangat capek. Entah mengapa, Mina dan Minjae kini menjadi sangat ingin untuk melindungi Lysa supaya Lysa bisa bersama kakaknya, Mino, yang terlihat begitu mencintainya.


“Heol... daebak! Kukira cerita seperti itu hanya ada di drama televisi, ternyata calon kakak iparku sendiri yang mengalami. Benar benar Daebak!” Minjae yang merasa begitu ‘kagum’ pada cerita yang menceletuk pelan. Sementara itu Mina menunjukkan tatapan yang bekobar kobar.


“Dasar iblis iblis jahat! Kenapa konglomerat itu selalu seenaknya sendiri? Aku benar benar muak dengan orang yang sangat berkuasa seperti Ha.. ha.. siapa? Hangin Grub?” celetuk Mina.


Lysa hanya tersenyum manis melihat kedua adiknya yang kelihatannya begitu larut dalam ceritanya tentang masalah ini. dan tiba tiba saja Lysa merasa haus.


“Sebentar, aku ingin mengambil air dulu.”


Lysa beranjak bangkit dari duduk. Ia keluar dari kamar tamu, menuruni anak tangga untuk pergi menuju dapur. Di dapur itu, terlihat ibu Mino yang sedang menggulung kimbab untuk dimakan kedua anaknya, juga Lysa.


“Ibu, apa yang Anda buat itu?” sapa Lysa begitu tiba di dapur. Ia melihat Ibu Mino yang duduk di atas kursi rodanya sambil menghadap meja dapur yang disetting khusus memiliki tinggi sejajar dengan kursi roda sehigga ibu Mino mudah untuk mencapainya.


“aku membuatkan Kimbab untuk kalian. Apa kau juga menyukai kimbab? Mina dan Minjae sangat menyukai kimbab, mungkin karena waktu miskin dulu mereka hanya memakan kimbab saat tidak bisa membeli lauk daging atau yang lainnya.” Ibu Mino berkata.


“Saya sangat menyukai kimbab, Ibu. Kimbab hanya bisa saya makan di Korea. Kalau pun di Indonesia ada Kimbab, rasanya sangatlah berbeda dengan kimbab yang ada di Korea.” Lysa menyahut. Ia ikut duduk di salah satu kursi pendek yang ada di dapur untuk membantu ibu Mino setelah meneguk satu gelas air mineral.


“aku belum banyak mendengar tentangmu dari Mino. Setiap kali datang, Mino hanya menceritakan tentang betapa dia menyayangimu. Tapi dia tidak pernah bercerita yang jelas tentangmu. Jadi, bisakah kau menceritakan tentang dirimu?” ibu Mino berucap dengan cara bicaranya yang sangat lembut dan terdengar rendah hati.


“Ya, ibu.” Lysa langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang. “Jadi saya keturunan Indonesia-Korea. Ayah saya orang Korea dan ibu saya orang Indonesia. Saya lahir dan besar di Indonesia. Saya dan keluarga saya hidup dengan bahagia dengan keadaan yang berkecukupan. Sampai di suatu ketika, saya melihat ibu saya sedang berselingkuh dengan seorang laki laki muda yang merupakan bawahan ayah. sejak saat itu keluarga saya hancur. Ibu dan ayah saya bercerai. Ibu hamil dengan selingkuhannya itu dan ayah kehilangan semua asetnya karena keteledoran saat keluarga kami berantakan. Bisnis ayah saya bangkrut dan keluarganya juga hancur. Setelah bercerai ayah mengajak saya untuk meninggalkan Indonesia, kembali ke negara asalnya dan mengajak saya untuk memulai hidup baru di sini. Dan begitulah saya dan Mino ssi saling mengenal.”


Lysa meceritakan cerita tentang keluarganya kepada ibu Mino. Dari yang pernah Lysa dengar dari Mino, ibunya itu adalah sosok ibu yang sangat perhatian dan sangat senang mendengar semua cerita dari anak anaknya.


Mednengar cerita Lysa itu, tangan ibu Mino terulur untuk menepuk nepuk punggung Lysa. mengelus pundaknya pelan untuk memberikan dukungan.


“Kamu sudah melalui banyak kesulitan. Kamu sudah bekerja keras untuk hidupmu.” Ibu Mino berkata demikian sambil menepuk nepuk pundak Lysa. Lysa yan merasakan sentuhan lembutnya itu, tersenyum manis sambil menatap sang ibu.


“Terima kasih, Ibu.”


“Hoho! Nona cantik, kamu pasti sedang berusaha memenangkan hati metu ya?”


Tiba tiba saja terdnegar suara ayah Mino yang sedang berjalan menuruni tangga. Apa yang dilihatnya di dapur itu adalah seperti pemandangan di drama Korea ketika seorang wanita sedang berusaha memenangkan hati mertuanya untuk mendaatkan restu.


Mendengar celetukan ayah Mino yang diselingi tawa itu, Lysa ikut menyunggingkan senyuman.


“Anyeongahaseyo, abonim (panggilan hormat untuk ayah.)”


“Tidak apa apa. Kau santai saja denganku,” desus ayah Mino saat Lysa mencoba menyapanya dengan sopan.


Tepat setelah itu, terdengar suara bel rumah yang berbunyi.


Ting tong ting tong.


“Oh? Siapa yang bertamu jam segini?” gumam ayah Mino yang cukup kaget mendengar suara bel pintu rumah berbunyi.


“Biar saya saja yang membukakan pintunya, Abeonim.”


Lysa buru buru beranjak bangkit dari duduk. Ia berjalan cepat menuju pintu untuk membukakan pintu kepada tamu yang memencet bel rumah orang tua Mino. Dan begitu sampai di depan pintu, Lysa pun membukakan pintunya. Betapa terkejut gadis itu ketika melihat siapa yang saat ini sedang berdiri di depan pintu rumah orang tua Mino. Tamu itu adalah...


“A... ayah.”


Benar sekali. Yang sedang berdiri berhadap hadapan dengan Lysa di depan pintu rumah orang tua Mino itu adalah ayah Lysa, Tuan Kim. Dia sedang berdiri di depan pintu, dengan ditemani oleh dua pengawal Brian yang merupakan bule di belakangnya.


“Ayah.. ke kenapa kau datang?” Lysa yang merasa sangat terkejut melihat kedatangan ayahnya itu bertanya dengan tergagap gagap. Ia tidak pernah setakut ini sebelumnya saat ebrhadapan dengan ayahnya, karena ayahnya adalah satu satunya orang yang bisa ia percaya di dunia ini setelah ibunya melakukan penghianatan.


“Kenapa kau bertanya seperti itu, putriku? Aku kan ayahmu. Aku memiliki hak untuk menjemputmu pulang dan membawamu pergi dari tempat ini bukan? Sekarang, ayo ikut ayah. ayah tidak ingin melihatmu bersama laki laki itu. Ayo ikut ayah pergi.”


Tuan Kim berkata demikian sambil menarik tangan Lysa untuk keluar dari rumah itu. Ayah Mino yang ada di dalam melihat kejadian itu, dan dia langsung mendekat ke arah pintu.


“Hei, siapa Anda menarik narik tangan putri saya?” celetuk ayah Mino yang melihat seorang laki laki paruh baya menarik tangan Lysa dengan dibantu dua pengawalnya yang berbadan kekar itu.


“Siapa Anda mengaku ngaku Lysa sebagai putri Anda? Lysa adalah putriku, dan aku ingin membawanya pergi.” Pak Kim menceletuk.


**