
Bab 11
Munculnya sesosok wanita misterius
“Ke mana saja kamu pergi, Lysa? Aku sudah
membalas pesan teks mu, apa kau tidak tahu?”
Begitu Lysa masuk ke dalam mobil setelah ia
menghentikan mobilnya di samping trotoar, Brian langsung bertanya. Begitu Lysa
meninggalkannya di labolatorium setelah mengatakan beberapa hal kepadanya,
Brian tadi langsung membalas pesan teks yang dikirimkan Lysa melalui Kakao
Talk. Namun sepertinya sampai detik ini Lysa belum membuka pesan teks yang
dikirimkannya.
“Ah, begitukah? Aku baru saja makan siang
bersama Ajeossi. Jadi tidak sempat membuka ponsel.” Lysa menjawab.
Begitu ia memakai sabuk pengaman, kepala
Lisa melongok keluar jendela. Ia melambai lambaikan tangannya pada Mino yang
masih berdiri di trotoar.
“Ajeossi, sampai bertemu besok. Terima
kasih Jajjangmyeon nya!”
Dari dalam mobil Lysa menceletuk kepada
Mino yang sedang menghabiskan kopi seharga lima ratus sen yang dibelinya di
depan restoran china. Lelaki itu tersenyum dari kejauhan sambil membalas
lambaian tangan Lysa di dalam mobil.
Setelah itu mobil Brian melaju menjauh.
Meninggalkan bangunan besar Moonlight Coffe.
“Laki laki yang kau panggil Ajeossi itu,
bukannya dia manajer Moonlight Coffe?” tanya Brian begitu mobil yang
dikendarakannya melaju di tengah jalan raya.
“Benar. Apa kau mengenalnya, Sam?”
Kepala Brian menggeleng geleng. “Tidak. Aku
hanya pernah melihatnya beberapa kali di Moonlight Coffe.”
“Apa kita sekarang akan langsung bertemu
dengan orang tuamu, Sam? Mereka sudah datang?” Lysa lanjut bertanya. Ia memang
belum membuka pesan teks yang Brian bicarakan tadi. Namun ia yakin Brian akan
langsung membawanya bertemu orang tuanya yang hari ini tiba di Korea.
**
Lysa sama sekali tidak menyangka akan ada
kejadian tidak terduga ketika ia bertemu dengan orang tua Brian yang baru
datang dari Amerika. Ia kira mereka hanya akan malam bersama seperti yang
sebelum sebelumnya. Namun ternyata itu adalah pertemuan keluarga yang membuat
tubuh Lysa membeku dan tidak dapat bergerak.
Di ambang pintu itu Lysa berdiri terpaku.
Di sebelahnya, Brian yang juga tampak terkejut itu diam bergeming melihat siapa
sosok wanita yang ibu dan ayahnya bawa di tempat untuk makan malam ini.
Dari kejauhan, Lysa melihat sesosok wanita duduk
bersama ayah dan ibu Brian. Wanita itu terlihat sangat asing untuk Lysa, ini
pertama kalinya Lysa melihat wanita tersebut. dia sangat cantik menawan seperti
bidadari dengan pembawaannya yang sangat elegan seperti permaisuri kerajaan.
Wanita itu menoleh ke arah pintu tempat Brian dan Lysa masuk, namun
pandangannya hanya tertuju pada Brian dan tidak sama sekali pada Lysa.
“Apa apaan ini? Sam, apa kau mengenal
wanita itu?” Lysa yang bertanya tanya siapa wanita tersebut, bertanya pelan
tanpa mengalihkan pandnagannya dari meja makan.
“Hm ... dia ...”
“Oh, Lysa ikut juga rupanya. Baiklah,
silakan duduk Nak. Kita akan makan bersama di sini.”
Suara ibu Brian yang menceletuk dari
kejauhan membuat ucapan Brian terpotong. Ia tidak sempat menjelaskan apa apa
pada Lysa dan membuat Lysa bertambah bingung.
“Sam, jangan jangan ... kau mengajakku
kemari tanpa diminta oleh ayah dan ibumu?” Lysa merasa tidak dapat menutupi
kecurigaannya pada Brian, seketika itu menoleh. Ia menatap Brian dengan tatapan
mata yang tidak begitu berkenan.
“Lysa ... aku bisa menjelaskan.”
Apa yang Biran katakan membuat Lysa
menghala napas tidak percaya. Ia menatap Brian sinis sambil memalingkan muka.
Memang hal yang wajar jika Brian mengajak
Lysa untuk bertemu ayah dan ibunya utnuk makan malam bersama. Mengingat
hubungan Lysa dengan keluarga Brian yang sangat dekat. Namun, cara Brian seperti
ini membuat Lysa merasa tidak senang.
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan?
Cepatlah kemari. Ayo makan malam bersama.” Ibu Brian kembali menceletuk melihat
kedua manusia itu yang masih berdiri memaku di ambang pintu.
Menanggapi hal tersebut, Lysa seketika
menceletuk sopan, “Maafkan saya, Tante. Tapi sepertinya saya harus segera
pergi. Sebenarnya saya ada kelas kuliah sore ini. Jadi saya tidak bisa ikut
bersama kalian. Sekali lagi maafkan saya.”
Lysa segera membungkukkan tubuhnya untuk
mengucapkan salam pamit pada ibu Brian dan orang orang yang sudah menunggu di
meja makan. Setelah itu, Lysa menoleh sekejap ke Brian, memberikan tatapan
marah. Lalu berlalu meninggalkan lelaki itu. Keluar dari ruangan ini.
Yang membuat Lysa merasa heran hanya satu,
kenapa Brian mengajaknya makan malam bersama keluarganya jika ibu dan ayah
Brian sendiri tidak meminta? Sedekat apa apun hubungan mereka, tidak seharusnya
Lysa mencapuri urusan keluarga mereka. Apa alasan Brian mengajal Lysa ke tempat
ini juga membuat Lysa bertanya tanya.
Ia pikir Brian mengajaknya bertemu
keluarganya karena diminta oleh ibu atau ayah Brian yang baru tiba dari
Indonesia. Seperti yang terjadi sebelumnya, sehingga dengan mudah Lysa
mengiyakan ajakan Brian untuk bertemu dan makan malam bersama keluarganya.
Namun, melihat ada seorang wanita yang duduk bagaikan permaisuri dan seolah
olah sedang menunggu kedatangan sang pangeran, membuat Lysa benar benar tidak
yakin bahwa keberasaannya di tempat tersebut benar dibutuhkan.
Sebagai ‘orang lain’ dari keluarga Brian,
Lysa merasa cukup tau diri apa yang haris dia lakukan untuk mencegah perasaan
canggung di antara mereka. Apalagi ketika melihat wanita si permaisuri itu
tadi. Sudah jelas, siapa pun akan tahu, bahwa peretemuan mereka itu bukan untuk
sekedar makan malam. Tetapi ada maksud tertentu. Seperti, maksud untuk
menjodohkan Brian dengan wanita itu tadi.
Lysa berjalan di tengah koridor dengan
perasaan gusar yang berkecimpung dalam benaknya. Dalam kepalanya tersirat
banyak pertanyaan, tentang apa maksud Brian mengajaknya di acara seperti itu
(perjodohan dengan wanita lain).
Saat Lysa masih sibuk berjalan meninggalkan
tempat tersebut, Brian berlari menyusul langkah Lysa.
“Lysa, tunggu! Aku bisa jelaskan.”
Brian memanggil Lysa dan langsung
mencengkeram pergelangan Lysa yang membuatnya seketika berbalik.
Begitu Lysa berhadapan dengannya, Brian
berbicara.
“Aku tidak tau. Sungguh. Aku tidak tahu
sama sekali kalau ibu dan ayahku membawa wanita itu,” ucap Brian.
“Memangnya siapa wanita itu tadi?” tanya
Lusa cetus. Sebelum sempat mendengar siapa wanita itu, Lysa yang menyadari
sesuatu langsung menggeleng gelengkan kepala. Ia melepaskan cengkeraman
tangannya dari Brian. “Ah, aku tidak peduli siapa wanita itu. Yang penting, aku
tidak ingin ikut campur di urusan kalian. Dan kau, Sam. Kurasa kau sudah
keterlaluan. Meski pun kau memang menganggapku sebagai adik, tidak seharusnya
kau tetap mengajakku ke pertemuan seperti tadi. Ini sungguh memalukan. Ini
sungguh melukai harga diriku. Meski harga diriku sudah terluka karena kau tidak
pernah menganggapku sebagai wanita, paling tidak jangan menginjak injak lagi
harga diriku dengan cara seperti ini.”
“Tidak, Lysa. Aku tidak bermaksud—”
“ah, sudahlah. Nikmati saja makan malammu.
Aku akan pergi ke tempat di mana aku dibutuhkan.”
Tak menunggu Brian menjawab apa apa
pernyataannya tadi, Lysa buruan pergi. Ia berbalik meninggalkan Brian yang
masih memaku mencerna kata kata Lysa.
Lysa sudah berubah. Lysa bukan lagi Lysa
kecil yang selama ini Brian kenal. Lysa bukan lagi gadis kecil yang menjadi
teman Brian yang menyenangkan dan penurut. Brian merasakan perubahan dalam diri
Lysa. Lysa sudah berubah. Sejak bertemu laki laki yang dipanggil Ajeossi itu,
perlahan lahan ada yang berubah dari diri Lysa.
Begitu keluar dari restoran itu, Lysa
mengambil ponsel yang berada di dalam tas. Mencoba menelepon seseorang yang
mungkin bisa membantunya menetralkan perasaan yang tidak karuan karena Brian
ini.
Tidak lama setelah terdengar dering dari
seberang telepon, panggilan Lysa pun terjawab. Begitu panggilan tersambung,
Lysa berkata, “Ajeossi, kau ada di mana? Aku ingin menagih salah satu tiket
nonton yang sudah kau janjikan.”
**
“Manajer Han, ini laporan dari cabang Jeju
terkait suplier kopi yang mengalami kendala itu. Anda bisa memeriksanya.
Manajer cabang kafe di Jeju ingin saya menyampaikan pesannya pada Anda, bahwa
dia bersedia datang kapan saja ke Seoul jika Anda ingin bertemu dengannya.”
“Baiklah. Saya akan memeriksanya.”
Begitu Mino menerima sebuah dokumen yang
diserahkan oleh bawahannya, perempuan tersebut keluar dari ruang kerja Mino. Yaps,
betul sekali. Ruang kerja yang dipakai Mino ini adalah ruang kerja bekas milik
Yul. Ketika Yul datang, maka ruangan ini akan menjadi ruangan milik bos kafe
tersebut. namun ketika yang bekerja adalah Mino, maka ruangan yang terdapat
beberapa lukisan tentang kehidupan itu menjadi ruangan milik Mino.
Di atas kursi kerja miliknya, Mino
memeriksa laporan tersebut dan segera melakukan panggilan telepon dengan
seseorang.
“Halo, Manajer Jung, saya sudah membaca
sekilas laporan tentang kendala di cabang Jeju.” Mino membuka percakapan dengan
manajer Moonlighr Coffe cabang pulau Jeju. “Tidak tidak. Anda tidak perlu
datang ke Seoul untuk menangani masalah suplier. Jadi, pertama, saya akan
Coffe berada di Jeju. Saya akan jadwalkan untuk datang ke Jeju sekitar akhir
pekan minggu depan. Tolong hubungi pihak suplier sekalian untuk membahas
kendala ini. Sekaligus memutuskan apakah mereka masih ingin memasok kopi di
Moonlight Coffe atau kita cari suplier lainnya saja.”
Setelah mengucapkan apa yang ingin
diucapkannya pada manajer kafe Jeju, Mino memutus sambungan teleponnya. Secara sekilas
ia sudah tau apa yang menjadi sumber masalah. Ia pun meletakkan laporan
tersebut ke atas meja. Pada waktu itu juga, ponsel Mino berdering. Ada satu
telepon masuk dari seorang wanita.
Melihat nama yang menyembul di tengah layar
ponselnya, Mino mengembuskan napas panjang. Tubuhnya tiba tiba terasa lelah dan
lemas. Raut wajahnya seketika memendung. Ia mengumpulkan niat untuk menjawab
telepon yang masuk dari seorang wanita yang akhir akhir ini membuatnya merasa
targanggung.
Begitu telepon tersambung, Mino berucap, “Sudah
kubilang, jangan lagi menggangguku. Tidak ada hal yang ingin kukatakan padamu
setelah kau meminta berpisah dariku. Jadi kumohon, berhenti mengganguku. Aku juga
ingin memulai kehidupan baru tanpa keberadaanmu seperti sebelum sebelumnya.”
Terdengar embusan napas panjang dari wanita
di seberang telepon yang tidak lain adalah Jiwon, mantan kekasih Mino yang
entah mengapa akhir akhir ini sering meneleponnya. Padahal, hari itu ketika
Mino berada di rumah sakit, laki laki itu dengan tegas berkata pada Jiwon
supaya tak lagi datang ke kehidupannya karena itu hanya akan menyulitkan posisi
Mino. Tapi tetap saja, Jiwon menghubungi Mino dan selalu mengajaknya bertemu
untuk mengatakan sesuatu.
Napas gusar Mino kembali berembus keluar. Baiklah.
Daripada hidupnya terus terganggu karena Jiwon, lebih baik Mino turitu saja
kemauan gadis itu untuk bertemu.
“Baiklah. Benar, ini untuk terakhir
kalinya. Setelah itu aku benar benar ingin bebas dari masa laluku bersamamu.”
Mino segera beranjak dari duduk. Memakai
mantel panjang dan mengambil kunci mobil untuk bertemu dengan Jiwon yang sejak
hari itu memohon mohon kepada Mino untuk bertemu dengannya dan berbicara.
Di sinilah Mino berada saat ini. Di sebuah
kedai es krim. Di kedai inilah keduanya menghabiskan banyak waktu bersama
sehabis kuliah pada waktu itu. Tempat ini memiliki makna tersendiri untuk masa
lalu Mino bersama Jiwon yang sekarang telah hangus.
Di tempat yang penuh kenangan ini, keduanya
bertemu kembali. Bukan sebagai padangan kekasih yang sebelumnya telah sama sama
berjanji untuk tetap bersama satu sama lain dalam sebuah janji pernikahan. Tetapi
sebagai mantan kekasih yang kenangan indah pun terasa sakit untuk dikenang.
“Untuk apa kau meminta ku untuk bertemu?”
Di salah satu meja dalam kedai es krim,
tepat di bangku yang biasanya mereka gunakan untuk menghabiskan satu mangkuk es
krim stroberi bersama, Jiwon telah menunggu. Mino yang baru saja duduk di atas
bangku hadapan Jiwon, melontarkan pertanyaan spontan.
Jiwon tersenyum lembut. Seperti yang
biasanya, wanita itu tetap cantik dan menawan. Rambutnya yang panjang terurai
dengan beberapa gelombang yang membuatnya terlihat seperti bintang iklan. Senyumnya
yang tetap terasa lembut itu membuat Mino merasa benar benar kehilangan jika
terus menatapnya seperti ini.
“Lenganmu sudah membaik?” tanya Jiwon
begitu melihat Mino terduduk di hadapannya. Sungguh hebat wanita itu karena
bisa tetap tersenyum melihat keadaan Mino yang benar benar hancur karenanya.
“Tiga hari lalu gipsnya sudah dilepas.”
“Syukurlah.”
Mino menarik napas pelan. Tidak peduli
betapa marah dan sakit hatinya Mino karena ditinggalkan Jiwon, di hadapan Jiwon
secara langsung Mino tidak bisa marah. Dari dulu selalu seperti itu. Mungkin
itu sudah menjadi keahlian Jiwon. Ia bisa membuat Mino seolah olah terbius
begitu di hadapannya. Karena tidak peduli betapa marahnya Mino ketika ia
berangkat dari Moonlight Coffe menuju kemari, di hadapan wanita itu Mino tak
bisa meluapkan amarah dengan bebas. Emosi dalam tubuhnya seolah tersiram begitu
saja melihat senyum menawan Jiwon yang terasa seperti air segar.
“Jadi ada apa kau memintaku bertemu?” Mino
segera mengarahkan percakapan mereka langsung pada intinya. Ia tidak ingin
membuang buang banyak waktu dengan bernostalgia pada hal yang pada akhinya
membuatnya teringat akan semua kenangan indah yang dilaluinya bersama Jiwon di
masa lalu. Yang semua itu harus dilupakan oleh Mino.
Pandangan Jiwon yang mulanya berbinar binar
karena melihat Mino, kini menjadi semakin sendu. Wanita itu tak dapat
menyembunyikan perasaan sedih karena harus meninggalkan Mino.
“Mino ya, sejujurnya ... sampai detik ini
aku masih mencintaimu.”
Apa yang Jiwon katakan itu sontak membuat
pandnagan Mino menaik. Laki laki itu bergeming. Menatap Jiwon di hadapan
sembari menilai ketulusan yang wanita itu perlihatkan saat mengucapkan hal
demikian. Dan mirisnya, Mino merasa apa yang dikatakan Jiwon itu adalah suatu
kejujuran dan tulus. Mino tak mendapati setitik pun kebohongan dari binar mata
Jiwon yang sesendu rembulan di musim pancaroba.
“Apa maksudmu?” tanya Mino bingung. Jika memang
Jiwon masih mencintainya, tidak seharusnya wanita itu memilih berpisah dari
Mino.
“Maafkan aku. Kau tau, bisnis ayahku sudah
lama bangkrut. Dan sekarang ibuku dirawat di rumah sakit karena penyakit
jantungnya. Ayahku tidak bisa berbuat apa apa dan hanya mendesakku untuk
menikah dengan seseorang untuk menyelamatkan bisnisnya yang sudah sekarat. Aku
... aku sama sekali tidak punya pilihan, Mino ya. Aku ingin menyelamatkan
ibuku, aku ingin menyelamatkan keluargaku. Kita tidak bisa bersama, karena
sampai akhir ayahku akan menentang.”
Sembari memberikan penjelasan, air mata
Jiwon berjatuhan. Ia segera mengusap matanya karena tak ingin menangis di
hadapan laki laki yang telah ia tinggalkan.
Mino tahu betul kenapa hubungannya dengan
Jiwon selama ini tidak pernah berjalan dengan baik. Mereka saling mencintai
satu sama lain. Mereka telah berjanji untuk hidup bersama suatu saat nanti. Mereka
telah merencanakan pernikahan bersama dan membangun sebuah keluarga kecil yang
bahagia. Namun, halangan terbesarnya adalah restu orang tua. Ayah Jiwon tidak
pernah mengizinkan putrinya menikah dengan seorang laki laki yang berasal dari
keluarga biasa saja seperti Mino.
Ya, tepat sekali. Alasannya hanya satu,
yaitu Mino berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Ia tumbuh di sebuah
pedesaan yang jauh dari pusat kota. Lalu nekad untuk pergi ke Seoul dan
memperoleh pendidikan yang layak sampai akhirnya ia bisa menjadi seperti
sekarang. Bisa membawa keluarganya keluar dari desa tersebut untuk mendapat
kehidupan yang lebih layak di Seoul. Bisa memberikan penghidupan yang layak
untuk ayahnya yang sudah pensiun, ibunya yang tidak bisa apa apa karena
menderita kelumpuhan, dan dua adik perempuannya yang semuanya masih sekolah—satu
berada di bangku SMA dan satunya lagi berada di bangku SMP.
Mino menjadi tulang punggung keluarganya
saat ini. Dari kerja kerasnya yang tidak mengenal lelah, ia bisa menghidupi
semua anggota keluarganya sebagai anak nomot satu yang bisa diandalkan. Jika mengingat
betapa sulit waktu yang dilalui Mino ketika ia belum berada di posisi mapan
seperti sekarang, Mino sendiri akan meneteskan air mata. Karena semua itu tidka
mudah. Ia belajar dengan begitu giat supaya tidak kehilangan beasiswa yang
didapatnya dari kampus. Juga melakukan kerja paruh waktu untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya di Seoul. Ia berjuang sendirian. Bertarung melawan stigma
sosial bahwa dirinya adalah anak dari keluarga miskisn yang tidak memiliki apa
apa. Ia mendapatkan banyak gunjingan dan cacian, bahwa seberapa keras usahanya
ia tidak akan berhasil karena tidak memiliki power dari keluarga yang bagus. Namun
buktinya, Mino bisa membalik semua fakta itu. Ia bisa sukses dengan kerja keras
dan hati yang seperti baja. Ia bisa membuktikan pada orang orang yang pernah
mencelanya dulu, bahwa cara kerja dunia ini sepenuhnya tidak seperti yang
mereka katakan.
Tetapi tetap saja, Mino tetap dicap sebagai
anak desa yang berasal dari keluarga miskin. Ia dicap sebagai kaum pinggiran
dan tidak memiliki latar belakang keluarga yang bagus. Namun ia bertahan sampai
detik ini dan berjuang belawan kerasnya dunia tempatnya beranjak.
Di semua waktu sulit yang dilalui Mino, ada
Jiwon yang selalu menemaninya. Jiwon yang selalu membangkitkan Mino di saat
saat terpuruknya. Tanpa keberadaan Jiwon di sisi Mino saat itu, Mino tidak akan
seperti sekarang. Mungkin Mino akan tenggelan dalam klaim orang orang bahwa
orang yang berasal dari keluarga sepertinya tidak akan bisa sukses.
Jiwon merupakan perempuan yang memiliki
latar belakang bisnis. Ayahnya seorang pebisnis sukses di bidang properti. Keluarga
Jiwon selalu memandang sebelah mata Mino yang pernah diperkenalkan Jiwon
sebagai kekasihnya. Berapa kali pun Jiwon membujuk ayahnya, bahkan mengancam
akan bunuh diri jika tidak bersama Mino, ayahnya tak bergeming. Ayahnya tetap
berkata tidak ppada Mino yang tidak memiliki latar belakang keluarga seperti yang
diinginkannya.
Itu menjadi kendala terberat hubungan Jiwon
dengan Mino selama ini. Namun keduanya berjanji untuk tidak meninggalkan satu
sama lain dan tetap bersama untuk menghadapi semua kendala itu. Mino sedang
memikirkan caranya untuk meluluhkan hati ayah Jiwon. Namun saat Mino masih
sibuk memikirkan cara itu, tiba tiba Jiwon menginginkan sebuah perpisahan. Ini yang
membuat Mino sangat syok, sampai detik ini. Dan ternyata ... itu alasan Jiwon
meninggalkannya.
Pandangan Mino kembali terjatuh pada satu
mangkuk es krim di hadapannya yang mulai mencair. Sepertinya Jiwon memesan es
krim terlebih dahulu sebelum Mino datang. Es krim itu belum tersentuh sama
sekali. Namun perlahan lahan mencair seperti tidak pernah menjadi es
sebelumnya.
“Apa keluaragamu membutuhkan uang untuk
pengobatan ibumu? Aku bisa memberinya. Berapa pun, aku bisa membiayai
pengobatan ibumu kalau itu bisa membuatmu tetap bersamaku.”
**