Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Tangisan bahagia seorang gadis yang sering terluka



Bab 50


Tangisan bahagia seorang gadis yang sering terluka


Setelah mendapatkan perawatan intensif di unit gawat darurat rumah sakit Seoul, lysa yang masih terbaring lemas di atas kasur pelan pelan mulai menggerak gerakkan bola matanya di balik pelupuk. Perlahan lahan gadis itu mulai terbangun setelah tidak sadar selama kurang lebih tiga jam di tempat ini.


Seketika kedua bola mata Lysa terbuka, yang tersaji di depan matanya adalah sosok lelaki yang mengenakan kaus oblong musim panas yang sedang duduk tepat di samping ranjangnya. Pandangan Lysa yang masih kabur dan samar samar itu menangkap obyek yang duduk di sebelahnya. namun masih belum bisa mengenali siapa sosok lelaki yang duduk dengan genggenggam tangannya itu. Lysa masih terlalu pusing dan pandangannya berkunang kunang sehingga penglihatannya tidak jelas. Dalam hati ia menebak nebak apakah ia sedang bermimpi, ataukah ia sudah berada di alam lain.


Beberapa detik ketika kedua bola mata Lysa mengerjap ngerjap, Mino mengangkat kepala. Ia melihat Lysa yang mulai terbangun dari ketidak sadaran, dan langsung berdiri dari duduk untuk melihat kedua bola mata Lysa yang mulai mengerjap dengan sangat pelan.


“Lysa, kau sudah bangun? Huh... aku sangat mengkhawatirkanmu.”


Merasa sangat senang sekaligus terharu karena Lysa yang telah sadar, Mino yang merasa sangat lega segera memeluk gadis itu. Ia memeluk Pysa dengan erat dan membuat Lysa segera sadar bahwa ia masih hidup di dunia ini dan tidak sedang bermimpi.


“Maafkan aku. harusnya aku datang lebih cepat. Sungguh, maafkan aku, Kim Lysa. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Mino mengucapkan sederet kalimat itu selagi mendekap Lysa dalam pelukan hangatnya. Ia sungguh merindukan Lysa. Sunggih mengkhawatirkannya. Sungguh takut kehilangan gadis itu. Mino yang sedang emosional itu memeluk Lysa dnegan sangat erat dan tidak mengizinkan gadis itu untuk berkata kata.


“Terima kasih sudah bertahan. Aku sangat merindukanmu.”


Karena perlakuan Mino ini, Lysa perlahan lahan meneteskan air mata. jujur. Ia sangat merindukan Mino selama ini. ia sangat merindukan laki laki itu, tapi bahkan tidak bisa menjawab teleponnya atau membalas pesan teks yang lelaki itu kirimkan. Lysa sangat membutuhkan Mino dan menginginkan pelukan hangatnya seperti ini. Nmaun Lysa bahkan tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun pada laki laki itu. Karena rasa bersalahnya. Karena rasa berdosanya gara gara ciuman dengan brian yang beredar di internet itu. Tidak peduli sebera besar Lysa merindukan Mino, gadis itu memilih untuk tetap diam. Ia memilih untuk menahan semuanya di dalam benak meski itu perlahan lahan mengikis tubuhnya sampai tidak berdaya seperti ini.


Dihadapkan dengan situasi yang sangat tidak terduga ini, Lysa hanya bisa menangis. Ia tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana Mino bisa ada di tempat ini di saat ia tahu laki laki itu sedang bekerja di Filipina. Lysa pun tidak mengira jika Mino masih mau memeluknya dan tidak menghindar darinya karena merasa kecewa atau yang lainnya. Lysa hanya merasa bersyukur tentang semua ini. ia hanya bisa menangis selagi merasakan dekapan hangat Mino yang sangat dirindukannya selama ini. dan Tidak lama setelah itu, Lysa perlahan membalas pelukan hangat Mino. Mereka berpelukan dengan erat seolah olah sedang melepaskan segala gundah dan juga kerinduan yang mereka rasakan beberapa hari terakhir ini.


Setelah beberapa waktu berpelukan, Mino pun perlahan melepaskan pelukannya. Ia sedikit menjauhkan tubuh Lysa. Menatap wajah pucat gadis itu dan juga bibirnya yang memucat berwarna biru.


Mino mengembuskan napas panjang saking merasa prihatinnya terhadap Lysa.


“Kalau sakit harusnya kau berkata sakit, dasar bodoh. Kenapa kau sangat egois dan membiokot semua panggilan teleponku?” Mino yang sungguh merasa kesal karena hal itu, mengutarakan protesnya begitu bertatapan dengan Lysa. Gadis itu todak tahu betapa khawatirnya Mino karena ia menolak semua panggilan teleponnya. Mino sungguh kesal akan hal itu. Ia bisa saja mengomeli Lysa sehari semalam karena terlalu kesal kepadanya. “Apa kau tau betapa khawtirnya aku di Filipina? Kau tidak menjawab semua panggilan teleponmu. Bahkan tidak membalas semua pesan teks yang aku kirimkan. Kau hanya terus bekerja di kafe dan akhirnya sakit seperti ini kan? Kenapa kau tidak menjawab teleponku dan tidak membalas smeua pesan teks yang kukirimkan? Tidak mungkin kau tidak tau bukan? Aku sangat mengkhawatirkanmu di Filipina karena tiba tiba kau tidak bisa dihubungi setelaj mematikan telepon secara sepihak waktu itu....”


“Aku merindukanmu, Sayang.”


Lysa yang sedang diomeli panjang lebar oleh Mino itu menyela omelannya dengan ucapannya yang lirih dan lemah. Gadis yang masih terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit itu menatap Mino dengan tatapannya yang sangat sendu, dan dengan kedua bola matanya yang berkaca kaca. Ia sungguh merindukan Mino. Lebih dari apa pun ia merindukan Mino dan membutuhkan keberadaan laki laki itu untuk menemaninya di situasi yang masih kacau seperti ini.


Mendengar selaan Lysa itu, Mino sontak terdiam. Ia menghentikan semua omelan panjangnya kepada Lysa. Padahal Mino adalah termasuk laki laki yang sedikit berbicara, namun hari ini ia mengomel terlalu banyak karena begitu mengkahwatirkan Lysa.


Setelah meredakan kekhawatirannya terhadap Lysa yang hampir satu minggu tidak bisa ia hubungi, Mino pun menyimpulkan senyuman tipis di wajah. Bibirnya melekuk manis namun matanya memperlihatkan perasaan pilu yang tidak bisa ia sembunyikan. Kemudian laki laki itu kembali memeluk Lysa dan mencium keningnya dengan lembut.


“Aku juga merindukanmu, sangat merindukanmu. Aku melepaskan pekerjaanku di sana, untuk bisa kembali kemari. Karena aku sangat merindukanmu, Lysa, aku sangat merngkahwatirkan keadaanmu. Maafkan aku, karena tidak datang lebih awal. Aku benar benar minta maaf.” Mino mengucapkan semua itu sembari memeluk tubuh Lysa yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kemudian melepaskan dekapan itu untuk mencium kening sang gadis yang hangat.


Mendapatkan perlakuan lembut itu dari laik laki yang sangat dirindukannya, Lysa hanya bisa tersenyum manis dengan rasa sakit yang masih menghujam kepalanya. Ia sungguh pusing. Kepalanya berdenyut denyut seperti dihantam berkali kali oleh benda keras. Namun hatinya merasa bahagia karena Mino sekarang ada di hadapannya, memeluknya, menciumnya, dan memberinya kehangatan yang sangat dalam.


“Apa kau baik baik saja?” tanya Mino sambil menatap lekat kedua bola mata Lysa dari jarak dekat, sembari membelai wajah gadis itu dengan lembut.


Lysa terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan Mino itu. Kemudian kepalanya menggeleng geleng pelan, sebagai jawaban tidak dari pertanyaan yang lelaki itu ajukan.


“Aku tidak baik baik saja. Aku sungguh tidak baik baik saja.” Lysa berucap lirih dengan kedua matanya yang berkaca kaca. Ia teringat kembali masalah yang sedang ia dapati saat ini. “Ayahku sudah tahu semuanya, dan sepertinya ayah dibawah ancaman mereka.”


Sepertinya permasalahan dengan Brian dan Hangin Grup yang dialami oleh Lysa benar benar semakin serius. Hangin Grup tentu tidak akan membiarkan begitu saja skandal putranya dengan Lysa itu menghambat kelanjutan bisnis mereka. dan tidak ingin rugi sendiri karena ulah anak laki lakinya. Mereka berusaha mengancam Lysa dan juga ayahnya untuk bertanggung jawab terhadap kekacauan itu dengan cara menikahkan Brian dengan Lysa sungguhan. Supaya skandal itu bisa dapat dihentikan, dan smeua rumor buruk tentang putra Hangin Grup bisa hilang; dengan cara menikahkan Brian dengan Lysa yang terlanjur terekspos oleh publik dan media masa.


Lysa menangis ketika mengatakan hal itu kepada Brian. Dan dari tangisan Lysa saja, Brian sudah dapat menilai seberapa buruk situasi yang gadis itu alami saat ini. Brian yang sekarang cukup khawatir pada kondisi kesehatan Lysa yang memburuk, tidak ingin membuat gadis itu kembali teringat masalahnya dan semakin sedih lagi.


“Sudah sudah, kamu tidak perlu menceritakan semuanya sekarang. Apa pun yang terjadi, aku akan membantumu. Aku akan melindungimu dari mereka. kau tidak perlu takut,” ucap Mino menenangkan. Ia mengatakannya sembari memegang kedua tanagn Lysa untuk meyakinkannya. Kemudian mencium tangan Lysa itu dengan lembut.


Tangisan Lysa berhenti setelah itu. Segunung beban yang memuncak di kepalanya seolah luruh begitu saja ketika mendengar kata kata yang Mino ucapkan. Sungguh. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa Lysa percaya melebihi Mino. Ayahnya yang ia kira adalah pahlawannya pun, sepertinya telah luluh pada ancaman Hangin Grup yang ingin ‘membeli’ Lysa untuk menutupi semua rumor dan gosip yang beredar mengenai skandal itu.


Tepat setelah itu, terdengar suara pintu terbuka di ruangan tempat Lysa berada. Rupanya itu adalah dokter yang ingin memeriksa kondisi Lysa. Selesai memeriksa kondisi Lysa, dokter itu mengajak Mino untuk keluar dan berbicara. Sementara di dalam Lysa sedang mendapatkan perawatan dari para perawat, berupa injeksi, pemeriksaan tekanan darah dan detak jantung, suhu tubuh, kadar gula dan segenap pemeriksaan rutin lainnya.


Mino mengikuti dokter itu menuju ruangannya. Mino tidak yakin apa spesialisasi dari dokter yang menangani Lysa tersebut. namun begitu dokter itu masuk ke ruangannya dan mempersilakan Mino duduk, barulah Mino tahu bahwa itu adalah dokter spesialis psikiatri.


“Saya kekasihnya. Hm, lebih tepatnya, tunangannya.” Mino pun menjawab tanpa pikir panjang.


“Wali pasien, Han Mino ssi, apa Anda tau apa saja gejala yang pasien tunjukkan selama beberapa hari terakhir ini?” tanya dokter itu. Wajahnya terlihat ramah, seperti seorang ibu yang hangat dan dengan senyum ramah yang tampak tulus.


Sejenak Mino berpikir. “Gejala lebih tepatnya saya kurang tahu, Dok. Karena selama beberapa minggu terakhir ini saya berada di Filipina untuk urusan pekerjaan. Tapi saya selalu menanyakan keadaan Lysa kepada orang terdekatnya, sebelum akhirnya saya memutuskan kembali ke Korea dan tiba itba menemukannya hampir pingsan di asrama kampus,” jelas Mino panjang lebar. Ia memang tidak cukup tahu tentang keadaan Lysa akhir akhir ini. karena Lysa tidka menjawab telepon Mino. Dan dari informasi yang Mino dengar dari Asisten Min pun, ia hanya mengatakan bahwa Lysa terlihat murung dan seperti tidak bersemangat. Itu saja. Selebihnya Mino tidak tahu apa apa tentangnya. Dan itu membuatnya sungguh merasa bersalah kepada Lysa, karena tidak tahu apa apa di saat gadis itu benar benar menderita.


Dokter perempuan itu tersenyum tipis dan menganggukkan kepala.


“Kalau begitu, apa saja yang Anda dengar tentang pasien?” tanyanya lagi.


Sambil mengingat ingiat, Mino pun menjelaskan sebanyak yang ia tahu. “Terakhir kali menelepon, Lysa seperti sedang menangis. Lalu tiba tiba menutup teleponnya dan setelah itu tidak mau menjawab telepon dari saya lagi. Saya meminta seseorang untuk memberi tahu keadaan Lysa di Seoul. Dan dia hanya memberi tahu kalau Lysa masih bekerja di kafe, tidak pernah absen, dan terlihat seperti ‘gila kerja’, namun juga terlihat murung sepanjang hari. Lysa bukan tipikal orang yang ceroboh dan suka berbuat ulah, tapi katanya ia sering berbuat kesalahan saat bekerja di kafe. Dan itu membuat asisten saya, yang sedang mengambil alih manajemen kafe, memarahinya dan menyuruhnya beristirahat di rumah karena wajahnya semakin terlihat pucat seperti orang sakit. Setelah Lysa tidak bekerja di kafe, saya tidak lagi mendengar kabar tentangnya. Orang orang di sekitarnya tidak ada yang tahu apa yang sedang dia alami, tapi, sebenarnya saya tahu masalah apa yang sedang Lysa alami. Mungkin karena itu Lysa tidak mau menjawab telepon dari saya, karena saya tau semuanya. Dan itu yang membuat saya segera kembali ke Korea meski harus mempertaruhkan karir saya di kafe. Saya sangat mengkhawatirkannya, karena dia sama sekali tidak terlihat setelah hari itu.”


Dokter perempuan itu mendengarkan penjelasan Mino dengan baik dan memberinya respon berupa anggukan kepala. Ia meilihat raut wajah Mino yang penuh rasa khawatir, rasa penyesalan, dan rasa bersalah.


“Baiklah. Saya mengerti.”


“Dokter, apa yang sedang terjadi pada Lysa? Apa dia sakit parah?” tanya Mino khawatir.


“Lebih tepatnyam gangguan kecemasan. Pasien mengalami gangguan kecemasan yang cukup buruk, yang menyebabkan adanya gangguan psikosomatis. Singkatnya, pasien mengalami gangguan kecemasan dan stres yang menyebabkan fungsi tubuhnya terganggu. Seperti kelelahan, sesak napas, nyeri ulu hati, nyeri kepala, nyeri seluruh tubuh, dan juga indomnia.” Dokter itu menjelaskan dengan gamblang kepada Mino.


“Apa itu berbahaya untuk Lysa?” tanya mino menanggapi.


“Tentu saja berbahaya jika terus dibiarkan. Pasien bisa kehilangan fungsi tubuh dan juga mentalnya. Ini tidak akan baik untuk pasien jika terjadi terus menerus,” jawab dokter itu.


“Lalu, apa yang harus saya lakukan Dokter? Apa Lysa bisa sembuh dengan perawatan dan obat?” lanjut Mino bertanya dengan panik.


Dokter itu kemudian tersenyum. Seolah olah sednag berkata kepada Mino supaya tidak perlu panik.


“Pasien bisa sembuh dengan bantuan obat obatan. Jadi Anda tidak perlu kahwatir. Dan selalu awasi kondisi pasien, awasi pola makan dan pola tidurnya, juga pastikan kalau pasien tidak merasa cemas berlebihan tentang suatu hal. Anda bisa membuat pasien merasa nyaman dan aman saat bersama Anda, itu akan sangat membantu untuk penyembuhannya.” Dokter itu menjelaskan panjang.


Sedikit Mino merasa lega. Meski itu tidak menghapuskan semua kekhawatirannya terhadap Lysa sepenuhnya. Setidaknya itu bisa membuat kecemasan Mino sedikit reda.


“Saya akan resepkan obat untuk pasien. Dan setelah ini pasien bisa beristirahat di rumah saja. Kalau obatnya sudah habis, tolong ke sini lagi dan biarkan pasien sendiri yang berhadapan dengan saya.”


“Baik. Terima kasih, Dokter.”


Setelah itu Mino keluar dari ruangan dokter. Ia pergi menuju apotek rumah sakit untuk menebus resep obat untuk Lysa, kemudian menyelesaikan administrasi rumah sakit karena hari ini juga Lysa akan keluar dari rumah sakit. Baru setelah menyelesaikan semuanya Mino kembali ke ruang rawat Lysa sambil membawakan kursi roda dan juga resep obat yang tadi selesai ia tebus.


“Oh? Apa sungguh aku bolah pulang sekarang juga?”


Lysa yang merasa terkejut itu langsung menceletuk seketika melihat Mino memasuki ruangan. Sebenarnya ia cukup terkejut ketika semua perawat itu melepaskan infus dan peralatan rumah sakit yang masih ia pakai. Ia mendengar dari perawat kalau ia boleh pulang setelah ini. tapi masih belum percaya. Sampai akhirnya Mino masuk ke dalam ruangan sambil membawa kursi roda.


“Ya. Kau sudah diperbolehkan pulang dan beristirahat di rumah. Jadi ayo kita pulang. Aku sudah mendapatkan resep obat untukmu,” kata Mino sambil menghentikan kursi roda tepat di samping kasur Lysa dan mengunci roda kursi tersebut supaya tidak bergeser.


“Rumah?” tanya Lysa bingung. Ia tidak memiliki rumah. Ia hanya tinggal di asrama. Dan tidak mau memperlihatkan sakitnya kepada sang ayah jika tinggal bersama sang ayah. jadi, ke mana sebenarnya Lysa akan tinggal?


“Hm. Rumah. Ahh... lebih tepatnya, ke apartemenku. Kamu akan tinggal di sana, bersamaku.”


**