
**Permohonan Maaf Yebin
Yebin Pov**
Di lantai satu ini aku menunggu Oppa turun. Aku berharap ia segera keluar dari ruang kerjanya.
Aku menunggu Oppa cukup lama di lantai satu. Sampai sore sudah berubah menjadi malam yang sangat gelap. Rasa sesak di dadaku, penyesalan yang telah berbenturan dengan rasa sakit dan sesak ini membuatku tak dapat lagi membendung tangisan. Aku menangis selagi duduk seorang diri di sofa ruang tamu. Berharap Oppa akan segera turun dan melihatku menangis penuh penyesalan. Tapi yang kurharapkan tidak terkabul.
Bersusah payah aku menghentikan tangisku. Menyeka air mataku yang berlinangan seperti hujan yang turun di luar sana. Perlahan kulangkahkan kakiku menaiki tangga menuju lantai dua. Rasa sesak dalam dadaku ini tak bisa kubendung lagi. aku harus segera mengutarakan apa yang ada dalam otakku dan meminta maaf pada Yul Oppa yang telah kukecewakan.
Sambil memberanikan diri aku mengetuk pintu ruang kerja Yul Oppa.
Tok tok tok.
Seketika itu juga terdengar sahutan dari dalam, “Tidak kukunci.”
Perlahan aku memutar knop pintu ruang kerja Oppa. Masuk ke dalam ruangannya, mendapati Oppa yang masih sibuk dengan tabletnya.
Dengan kepala yang menunduk dalam dalam, aku berjalan mendekat ke kursi Oppa. Pandangannya bahkan tak menaik meski aku tiba di hadapannya. Oppa ... masih marah padaku.
Bersama tangisanku yang kembali pecah, aku berlutut tepat di samping kursi tempat Yul Oppa duduk. Pandanganku terus menunduk dalam dalam. aku menangis terisak bersama semua penyesalanku yang membuncah.
“Maafkan aku Oppa. Maaf telah mengecewakanmu. Maaf karena aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Maaf ... maaf kan semua kesalahanku.”
Aku berlutut menghadap kaki Oppa. Membuang jauh jauh semua harga diri dan juga egoku. Memohon maaf pada Oppa yang berulang kali telah kukecewakan karena sikapku.
Sementara aku masih menangis terisak dengan kepalaku yang menunduk dalam dalam, kurasakan kedua tangan Oppa yang meraih kedua bahuku. Membangunkanku dari berlutut. Membuat tubuhku yang telah lemas ini berdiri tegap di hadapannya.
Perlahan lahan aku menaikkan pandangan. Bertatapan dengan Yul Oppa yang terlihat begitu sedih melihatku seperti ini.
Tanpa menjawab apa apa, Oppa langsung memelukku. Mendekapku dengan hangat dan membelai rambutku dengan lembut.
Oppa memaafkanku. Oppa tetap memberiku pelukan hangat meski aku tadi telah mengecewakannya begitu dalam.
Saat berada dalam pelukannya, aku menggumam gumam. Aku mengeluarkan semua yang ada di dalam otakku.
“Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku masih merasa asing dengan kehidupan baruku sebagai wanita yang sudah menikah. Aku masih belum terbiasa menyesuaikan sikapku dengan statusku. Aku ... aku tidak tahu bagaimana menjadi seorang istri yang baik dan mandiri. Ini pertama kalinya aku menjadi istri. Dan banyak sekali hal yang harus kusesuaikan dari Yebin yang masih muda dan Yebin yang sebagai istri. Aku tidak tahu banyak hal. Sejauh ini tidak ada yang mengajariku bagaimana menjadi istri yang baik. Semua hanya kulakukan sesukaku. Aku sama sekali tidak berniat membuat Oppa merasa begitu kecewa. Aku juga tidak berniat membuat Oppa semarah tadi. Aku tidak pernah menyesal menjadi istrimu. Aku tidak menyesal atas keputusanku menikah di usia yang tergolong muda. Aku sama sekali tidak menyesal menjadi istri dari Moon Yul.”
Tangisanku semakin keras dan air mataku turun semakin deras. Kurasakan Yul Oppa yang mendekapku semakin erat. Ia memegangi tubuhku yang hampir tidak bisa berdiri karena saking lemasnya.
Beberapa saat aku masih berada dalam dekapannya untuk menyelesaikan tasngisku yang masih menderas. Begitu aku merasa sedikit lega dan tangisku mulai berhenti, Oppa membawaku ke kama tidur. Memberiku air minum hangat lalu menyuruhku berbaring ke atas kasur.
Setelah melihatku berbaring, Oppa keluar dari kamar sejenak. Lalu kembali dengan membawa kompres mata untuk mengompres kedua mataku yang membengkak karena tangis.
Oppa ikut membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Menyelimuti tubuhku dengan selimut hangat yang telah bercampur dengan aroma tubuhnya. Ia memiringkan tubuh menghadapku. Menatap sayu kedua mataku sambil menempelkan pengompres mata yang hangat ini pada kelopak mataku dan daerah sekitar mata lainnya.
“Oppa memaafkanku?” tanyaku lirih selagi menatapnya pedih.
Karena Oppa terus terdiam menatapku, aku pun lanjut berbicara.
“Lebih baik Oppa marah dengan berteriak dari pada mendiamiu seperti tadi. Aku benar benar merasa hancur saat kau bersikap seperti itu. Seolah olah kau sudah tidak mau lagi bersamaku,” lanjutku berkata. Ini membuat air mataku yang sudah berhenti turun, kembali berlinangan.
Oppa menyeka air mataku yang turun menggunakan jari jarinya dengan lembut. Lalu ia segera memelukku. Memberiku dekapan hangat kembali.
“Baiklah. Aku tidak seperti itu lagi, selama kau tidak melewati batas.”
Kudengar suara lirih Oppa yang berbisik di telingaku. Tepat setelah itu, Oppa mengecup keningku dengan lembut dan pelan.
“Aku diam bukan berarti aku tidak lagi menyayangimu. Aku diam bukan berarti aku ingin meninggalkanmu. Aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir. Bagaimana kedepannya kita supaya lebih baik, tanpa menyakiti satu sama lain.” Oppa lanjut berucap.
“Karena itu aku minta maaf. Aku tidak berniat membuatku kecewa, Oppa. Aku sama sekali tidak menyesal atas pilihanku untuk hidup denganmu. Berhenti membuatku seolah olah merasa kecewa padahal perasaanku tidak demikian. Oppa tahu betapa hancurnya aku saat menyadari bahwa aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu? Oppa tau betapa aku menyesal karena membuatmu merasa kecewa?”
Mendengar ungkapanku, Oppa melepaskan pelukannya. Ia memberikan sedikit jarak di antara kami. Air mataku yang kembali berlinangan ini membuat Oppa kembali mengusapnya pelan. Kami bertatapan dengan jarak yang cukup dekat. Kurasakan hangat telapan tangan Oppa yang menangkup pipiku.
“Yebin~a, dengarkan aku baik baik. Sejak kita mengikrarkan janji hidup se mati itu, aku bukan lagi laki laki bujangan yang bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Tapi aku memilikimu. Aku yang bertanggung jawab atas hidupmu, hidup kita berdua, dan hidup anak anak kita kelak. Tanggung jawabku jauh lebih besar dari pemilik Moonlight Coffe. Semua hal yang kulakukan, semua pantangan yang kuberikan, adalah untuk kebaikanmu dan kebaikan kita bersama. Aku melarangmu bukan berarti mengekang hidupmu, aku hanya tidak ingin terjadi hal hal tidak diinginkan ... seperti tadi.”
Saat ini juga aku menyadari, kenapa Oppa melarangku memakai pakaian terbuka seperti tadi. Karena oppa ingin melindungiku dari hal hal tidak diinginkan ketika aku berada di luar dan berhadapan dengan banyak orang yang beberapa di antaranya adalah orang aneh.
Sebelumnya sama sekali tak terbayangkan, tentang seberapa besar tanggung jawab yang dimiliki Oppa setelah menikah denganku. Aku juga tidak pernah membayangkan seberapa besar peran suami dalam kelangsungan hidup keluarganya.
Oppa tidak hanya bertanggung jawab atas hidupnya dan Moonlight Coffe, tetapi juga bertanggung jawab atas kehidupanku, ibuku, dan anak anak yang akan kulahirkan nanti. Oppa memegang peran yang sangat besar, yang membuatnya mau tidak mau harus memperhatikan semua polah tingkahku supaya tidak terjadi hal hal tidak menyenangkan di masa depan.
Aku yang bodoh, karena baru menyadari semua itu sekarang setelah lebih dari sebulan aku menikah dengannya. Aku yang bodoh, karena tetap bersikap egois dan mementingkan diriku sendiri di saat Oppa mempertimbangkan segala hal dalam mengambil sikap dan juga tindakan.
Aku yang sebenarnya sangat tidak dewasa. Kukira, aku sudah cukup dewasa untuk bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya. Karena dibanding teman temanku, aku yang paling dewasa. Ibuku juga berkata bahwa sikapku lebih dewasa dari usiaku yang sebenarnya. Ini yang membuatku berani dan yakin untuk segera menikah dengan Yul Oppa tanpa menunda nundanya lagi. tapi ternyata, aku masih seperti anak kecil ketika terlibat dalam kehidupan pernikahan sebenarnya. Aku masih belum begitu dewasa untuk bisa memiliki peran sebagai istri yang baik dan mandiri untuk suamiku.
Kukira kehidupanku setelah menikah tidak jauh berbeda dari kehidupanku yang sebelumnya. Ini yang kurasakan setelah menjalani keseharianku sebagai wanita bersuami selama lebih dari satu bulan ini. Namun, pemikiranku itu salah. Karena kehidupan setelah menikah jauh berbeda dari yang kubayangkan. Kehidupanku setelah menikah sudah seharusnya berbeda dari sebelum menikah. Karena aku harus menyertakan ‘keluarga (saat ini baru ada suami karena aku belum memiliki momongan)’ dalam setiap sikap yang akan kuambil. Aku harus menyertakan keluargaku dalam hal bertindak dan berpikir. Karena hidup Kang Yebin bukan hanya ada aku seorang, tetapi juga ada Moon Yul yang menjadi bagian dari kehidupan Kang Yebin.
Aku hanya mendengarkan setiap kata yang Oppa lontarkan. Tanpa menyanggahnya seperti siang tadi. Aku hanya mendengarkan dengan baik dan merenungkan dalam dalam semua yang diucapkan Oppa.
“Yebin~a, kau bisa melakukan apa yang kau inginkan. Kau boleh bertemu dengan teman temanmu dan bergaul dengan banyak orang, melakukan banyak hal dan bersenang senang bersama teman temanmu. Kau bisa meneruskan Biniemoon dan mengembangkannya sesuai keinginanmu. Kalau kau ingin melanjutkan studi S2 juga akan kuperbolehkan. Tapi, ingatlah satu hal. Bahwa kau tidak sendirian lagi. Kau sudah memiliki suami dan menjadi bagian dari hidupku. Aku berharap kau mempertimbangkan satu hal itu dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. Dan aku ... aku akan selalu berusaha untuk bisa menjadi suami yang terbaik untukmu.”
Kali ini aku menangis bukan karena sedih. Melainkan karena terharu pada semua kata yang Oppa ungkapkan. Aku menangis haru, sembari mengangguk kepala. Kepalaku mengangguk angguk, sebagai tanda bahwa aku akan melakukan apa yang Oppa katakan. Bahwa aku akan belajar menjadi istri yang baik untuk Oppa.
“Aku juga ingin menjadi istri yang baik untukmu, Oppa. Ajari aku untuk dewasa. Ajari aku untuk menjadi istri yang baik dan bida diandalkan. Jangan lelah mengajariku sampai aku bisa menjadi istri yang baik yang siap untuk melahirkan anak anakmu dan membesarkannya.”
Oppa menyimpulkan senyuman yang sangat hangat dan lembut. Matanya berkaca kaca. Kepalanya mengangguk kecil. Kemudian Oppa memberikan kecupan hangat pada keningku dalam waktu yang cukup lama. kurasakan kasih sayangnya yang begitu besar ketika kecupan itu masih berlangsung.
“Aku tidak akan lelah bersamamu, Kang Yebin. Kita sama sama belajar untuk menjadi lebih dewasa sehingga siap memiliki keturunan,” ucap Yul Oppa.
Aku ikut tersenyum hangat mendengarnya. Lalu kudekatkan wajahku untuk mencium bibir Oppa dengan lembut. Setelah itu kami terlelap bersama dengan saling mendekap dan berbagi kehangatan sepanjang malam
***