
Kabar Buruk
Yul Pov
“Aku sudah memeriksa laporan keuangan bulan ini. Dan aku menemukan satu kejanggalan pada laporan keuangan cabang Jungnang. Apa Jisoo~ssi bisa menghubungi manajer Jungnang? Aku mencoba meneleponnya tapi tidak bisa. Mungkin Jisoo~ssi bisa coba hubungi kenalanannya atau siapa yang mungkin bisa dihubungi.”
Di balik layar komputer ruang kerja, aku berucap pada Jisoo~ssi yang berdiri di seberang meja. Wanita berambut sebahu yang sudha kuanggap seperti kakak perempuanku sendiri itu mengangguk mengiyakan.
“Baiklah. Saya akan mencoba menghubungi karyawan di cabang Jungnang. Barang kali ia tahu di mana keberadaan manajernya,” jawab Jisoo~ssi.
Tepat setelah itu Jisoo~ssi menyerahkan dokumen berisi laporan penjualan kafe di Gangnam.
“Ini laporan penjualan bulan ini. Peningkatannya cukup bagus dari pada bulan sebelumnya. Anda bisa mengeceknya sendiri,” ucap Jisoo~ssi.
“Benarkah?”
Aku menerima map dokumen berwarna hitam itu. membuka map dokumen dan melihat beberapa lembar kertas di dalamnya.
Aku hendak membaca laporan itu, sebelum satu panggilan masuk dari Yebin.
Segera aku menjawab telepon yang masuk itu. Tumben sekali Yebin meneleponku di jam jam seperti ini (jam yang masih pagi). Karena biasanya Yebin baru menghubungiku ketika memasuki jam makan siang atau setelah jam makan siang.
Padahal beberapa jam lalu kami baru berpisah di depan gedung kantor Biniemoon. Tapi sekarang ia sudah merindukanku. Aku menguntai senyum hangat ketika mengangkat telepon itu.
“Halo, sayangku. Tumben sekali kau telepon di jam segini?”
Aku menceletuk begitu teleponku dengan Yebin tersambung, bersama senyum semringah yang masih mengembang. Namun perlahan lahan senyumku memudar saat menyadari bahwa wanita yang berbicara di seberang telepon bukan Yebin.
“Siapa ya?” tanyaku mendengar suara yang terdengar asing itu. “Ah, Somin? Yebin nya mana?”
Dadaku terasa terhamtam benda keras ketika mendengar kabar mengejutkan itu. Wajahku yang semua tersenyum ini perlahan berubah cemas. Aku mencemaskan Yebin.
“Yebin pingsan? Sekarang dia di rumah sakit mana?”
Seketika itu aku pergi meninggalkan kafe. Meninggalkan segala pekerjaanku yang masih menumpuk. Mengendarakan mobilku menuju rumah sakit tempat Yebin dirawat saat ini.
Untungnya Jisoo~ssi sangat pengertian ketika mendengar bahwa istriku masuk rumah sakit. Ia berkata akan menuntaskan pekerjaanku hari ini dan melaporkannya nanti. Tentu aku sangat berterima kasih. Karena, jujur, aku tidak bisa berpikir apa apa selain keselamatan Yebin saat ini. Seluruh isi otakku seolah terbius ketika mendengar kabar bahwa Yebin pingsan dan ia masuk rumah sakit. Terbius dan membuatku tidak bisa memikirkan apa apa kecuali Kang Yebin yang sedang terbaring di rumah sakit.
Saat aku tiba di rumah sakit, Somin sedang duduk di ruang tunggu UGD. Ia segera berdiri begitu melihatku tiba dengan tergesa gesa.
“Di mana Yebin?” tanyaku spontan.
“Dia ada sana, masih belum sadarkan diri setelah diperiksa dokter,” jawab Somin sambil menunjuk salah satu ranjang di UGD yang tertutupi tirai berwarna putih.
Segera aku berlari menuju ranjang tempat Yebin terbaring. Kusibak tirai putih itu. Kulihat Yebin yang sedang terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Dengan kulit dan bibir yang pucat.
Tubuhku langsung melemas. Aku terduduk di kursi kayu samping ranjang sambil menggenggam tangan Yebin yang pucat dan dingin.
Hatiku terasa teremas remas melihat keadaan Yebin seperti ini. Seolah olah duniaku telah runtuh melihat Yebin terbaring tak berdaya di hadapanku. Aku menciumi tangan Yebin yang pucat. Lalu membelai wajahnya yang terasa dingin saat kusentuh.
“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Yebin seperti ini?” tanyaku pada Somin yang berdiri di sebelahku.
“Yebin tadi mengeluh mual dan pusing. Ia lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya dan memintaku untuk mengambilkan aroma terapi untuk menghangatkan perutnya. Saat aku keluar, tiba tiba Yebin berteriak dan terdengar suara orang terjatuh. Begitu tiba di kamar mandi, kulihat Yebin sudah tergeletak di atas lantai dan tidak sadarkan diri. lalu aku langsung menelepon 119 dan ambulan segera datang untuk membawanya kemari,” jelas Somin panjang lebar.
Selama hamil muda, Yebin memang selalu mengeluhkan mual dan pusing. Ia merasa mual setiap kali meminum susu ibu hamil. Dan aku sempat melarangnya, tetapi Yebin bersi keras ingin meminum susu ibu hamil untuk memberi bayi kami nutrisi. Meski akibatnya adalah mual, Yebin berkata bisa menahannya.
Hal ini yang membuatku merasa paling sedih. Aku sudah mencoba untuk meminta rekomendari susu hamil yang tidak menyebabkan mual pada beberapa dokter kandungan. Tapi saat mencobanya, tetap saja Yebin mual mual bahkan ada yang sampai membuatnya muntah. Dan aku sudah berkata bahwa ia tidak perlu minum susu jika memang tubuh dan kandungannya tidak cocok. Sebagai gantinya, ia bisa meminum jus buah dan makanan makanan bergizi tinggi untuk bayi kami. Tapi Yebin yang keras kepala itu berkata bahwa itu tidak cukup dan memutuskan untuk tetap meminum susu meski ia selalu mual.
Aku menyadari, itu adalah perjuangan seorang ibu untuk bayinya. Tidak peduli jika rasa mual itu sangat menyiksanya, Yebin ingin menahannya dan tetap mengonsumsi susu yang baik untuk bayi kami. Karena Yebin sangat menyayangi bayinya. Karena Yebin ingin melakukan yang terbaik untuk bayi yang ada di dalam kandungannya. Tapi, jika sampai ia terluka seperti ini, aku semakin merasa sedih melihatnya.
Aku masih terus menggenggam tangan Yebin. ia masih belum sadarkan diri.
“Baiklah.”
Setelah itu Somin berlalu pergi. Aku kini yang menjaga Yebin.
Beberapa waktu kemudian aku yang menjadi wali dari Yebin, dipanggil oleh seorang dokter. Dokter kandungan yang tadi memeriksa Yebin itu ingin mengajakku bicara di ruangannya yang letaknya cukup jauh dari UGD.
Di dalam ruangan dokter ini hanya ada aku dan dokter kandungan. Ia memeberitahukan perihal keadaan Yebin dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
“Anda suami dari Nyonya Kang Yebin?” tanya dokter itu.
“Ya. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya Dok?”
“Istri Anda terjatuh di kamar mandi dan mengalami guncangan yang cukup kuat pada rahim. Jadi begitu Istri Anda tiba, saya melakukan USG. Mohon maaf sebelumnya, karena bayi yang istri Anda kandung tidak bisa diselamatkan. Istri Anda mengalami keguguran.”
Setelah mendengar semua penjelasan dokter itu, aku keluar dari ruang dokter kandungan ini. Seketika itu tubuhku terkulai lemas. Kakiku serasa lemas tak bertulang dan tak berotot. Aku terduduk di kursi tunggu depan ruangan dokter. Merasakan guncangan batin yang sangat menyakitkan.
Rasanya duniaku sudah luruh mendengar kabar keguguran itu. Dan yang paling menyakitkan adalah membayangkan bagaimana aku memberitahu Yebin ketika ia sadar nanti.
Pastinya Yebin akan merasa hancur berkali lipat dari yang kurasakan. Karena ia adalah seorang ibu. Dan aku paling tidak bisa melihat Yebin hancur berkeping keping.
Namun, aku harus tetap kuat untuk bisa menguatkan Yebin. aku harus menjadi kuat agar bisa menjadi kekuatan untuk Yebin. agar bisa menjadi tempatnya bersandar.
Setelah terduduk cukup lama, aku mengumpulkan kekuatan untuk kembali melangkah. Aku berjalan kembali menuju UGD. Berkata pada petugas yang berjaga di UGS untuk memindahkan Yebin ke ruang rawat VIP. Petugas yang cekatan itu segera mencarikan ruangan VIP untuk Yebin tempati. Dan tidak lama setelah itu, Yebin pun dipindahkan ke bangsal VIP.
Aku mengabari ibu sesaat setelah Yebin dipindah ke bangsal VIP. Mengabari tentang keadaan Yebin dan kegugurannya. Bagaimanapun, ibu harus tahu. Agar beliau jugsa bisa ikut men-suport Yebin supaya tidka dalam keadaan terpuruk terlalu lama. karena dukungan keluarga dan orang orang terdekat yang sangat penting.
Tidak ada ibu yang tidak akan sedih setelah kehilangan bayi dalam kandungannya. Dalam beberapa kasus, aku mendengar ibu yang keguguran janinnya sampai mengalami depersi dan trauma. Untuk itu, aku perlu memberi dukungan yang besar untuk Yebin. Dan, bukan aku saja tentunya. Tetapi juga orang orang di sekeliling Yebin; ibu, Somin, Hun, dan orang terdekat lainnya.
Aku duduk di sebelah ranjang tempat Yebin terbaring seselesainya mengabari ibu melalui telepon. Oh ya, aku juga berkata pada ibu untuk tidak usah berkunjung ke rumah sakit. Aku memintanya beristirahat saja di rumah karena kemungkinan Yebin besok sudah boleh pulang.
Kugenggam lagi tangan Yebin di atas ranjang rawat. Sesaat setelah itu, Yebin mulai menyadarkan diri.
Matanya mengerjap ngerjap pelan. Ia meremas genggamanku dengan begitu lemasnya.
“Oppa, kita di mana?” tanya lirih Yebin.
Aku segera bangkit dari duduk. Membungkukkan tubuh ke atas ranjang untuk memeriksa keadaan Yebin.
“Yebin~a, kau sudah sadar? Kau baik baik saja? apa masih merasa pusing? Perlukah kupanggilkan dokter untuk memeriksamu lagi?” tanyaku spontan begitu melihat Yebin mulai sadar. Kulihat wajah dan bibirnya yang tak sepucat beberapa waktu lalu.
“Tidak apa apa. Aku baik baik saja,” kata Yebin.
Setelah itu Yebin mencoba untuk bangkit. Aku membantunya duduk di atas ranjang rawat dengan punggungnya yang bersandar bantal tebal.
“Kenapa Oppa ada di sini? Oppa tidak bekerja?” tanya Yebin kemudian.
Aku mendudukkan tubuhku ke atas ranjang rawat. Duduk berhadapan dengan Yebin dan terus menggenggam tangan mungilnya.
“Aku meninggalkan semua pekerjaanku di kafe dan segera kemari begitu Somin memberi tahu bahwa kau tidak sadarkan diri. Bukan pekerjaanku yang penting, tapi kau, Kang Yebin. Di saat saat seperti ini aku juga tidak bisa memikirkan pekerjaan, karena terus memikirkanmu,” ucapku.
Anehnya Yebin justru tersenyum dan terkekeh kekeh. Ia kira aku sedang bercanda atau bahkan sedang menggodanya. Padahal, aku sedang mengungkapkan isi hatiku. Aku mengatakan yang sejujurnya pada Yebin.
“Jangan berlebihan, Oppa. Aku kan hanya jatuh dan pingsan sebentar. Yang penting aku tidka kenapa napa kan? Bayi ku juga baik baik saja kan?” imbuh Yebin dengan sangat optimis.
Sayangnya aku bukan orang yang pandai menyembunyikan emosi. Segala emosi yang merasuki perasaanku ketika Yebin mengatakan sesuatu tentang bayinya, terpancar melalui tatapanku yang kian mendung. Aku menatap Yebin dengan amat sedih. Raut wajah Yebin yang semua terlihat ceria itu pun perlahan lahan berubah saat menatap mataku.
“Bayiku ... telah hilang rupanya.”
***