Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Bunga sakura yang menawan



“Sayang, apa aku terlihat lebih cantik memakai ini?” Di depan lemari pakaian itu Yebin mengeluarkan salah satu dres berwarna maroon dan menunjukkannya pada Yul. Meminta mendapat apakah pakaian itu cocok untuk ia gunakan bekerja bersama sang suami di Moonlight.


Di atas tempat tidur, Yul yang sedang membaca sesuatu melalui tablet itu sejenak menaikkan pandangan. Melihat ke arah Yebin yang sejak beberapa waktu lalu bingung memilih pakaian.


“Cantik kok.”


“Benarkah? Apa aku tidak kelihatan lebih gemuk memakai yang ini?” sahut Yebin. Secara insting ia pun memasukkan kembali pakaian berwarna maroon. Mengeluarkan lagi dua pakaian dengan model yang berbeda. Yang ada di tangan kanannya adalah pakaian dress selutut warna biru laut. Dan yang ada di tangan kirinya adalah pakaian kerja formal, semacam setelan jas berwara abu abu. “Kalau di antara yang dua ini, bagusan yang mana?” Yebin lanjut bertanya.


Sekali lagi, Yul menaikkan pandangannya ke arah Yebin. Sebenarnya lelaki itu sedang sibuk membaca isi dari surat kontrak yang selesai dibuat oleh Leo Park beberapa hari lalu. Sedang memeriksa kembali surat kontrak kerja sama itu dengan teliti sebelum mereka berangkat ke sebuah hotel untuk menandatanganinya.


Sejenak Yul menimbang nimbang. Kepalanya memiring menatap ke arah dua pakaian yang ditunjukkan Yebin.


“Yang itu,” kata Yul sambil menunjuk pakaian jas yang ditenteng Yebin menggunakan tangan kiri.


“Ini? Tapi, aku ingin memakai dress ini.” Yebin menceletuk sambil melihat baju dress di tangan kirinya.


“Lalu untuk apa kau meminta pendapatku jika sudah memutuskan mau pakai yang mana?” serobot Yul tidak habis pikir.


“Hanya saja... kupikir Oppa akan berpikiran yang sama denganku.”


“Sudahlah. Terserahmu saja mau pakai baju yang mana. Kau itu sudah cantik untuk mengenakan berbagai jenis pakaian. Jadi pakaian saja mana yang kau inginkan,” kata Yul.


Yebin yang merasa tubuhnya melayang mendapatkan pujian seperti itu, seketika tersenyum lebar sambil menatap ke arah Yul di atas kasur. Ia memasukkan dress biru laut itu kembali ke dalam lemari. Memilih memakai pakaian yang dipilihkan Yul itu sambil menggumam gumam.


“Benar sekali. Aku kan sudah cantik. Jadi aku akan tetap terlihat cantik memakai semua jenis pakaian. Karena kekayaan utamaku adalah wajahku yang cantik ini,” gumam Yebin sambil berjalan kembali menuju meja rias. Sementara Yul yang mendengarkan gumaman percaya diri itu hanya diam tak berkomentar. Ia sengaja memilih untuk diam karena tak mau disalahkan jika salah berbicara sedikit saja.


Di depan meja rias itu Yebin melanjutkan kegiatan berdandan. Memakai serangkaian krim dan cairan perawatan wajah. Mengolesi wajahnya dengan bedak. Memakai make up mata, pensil alis, dan juga lipstick.


Tepat setelah dirinya selesai mengolesi lipstick merah pada bibirnya, Yebin beranjak dari duduk. Berjalan gontai mendekat ke arah kasur. Mendudukkan tubuhnya tepat di hadapan Yul. Membuat kegiatan membaca Yul itu terjeda lagi dan lagi.


“Sayang, apa aku cocok memakai lipstick merah?” tanya Yebin sambil memajukan bibirnya di hadapan Yul. Menunjukkan warna baru pada bibirnya yang indah itu.


Yul menatap Yebin cukup lama. Menatap lekat bibirnya yang menggoda. Yebin sungguh cantik memakai lipstick merah itu. Lebih cantik dari biasanya. Terlihat lebih cantik, seksi, dan sensual di mata Yul.


Yul yang mendapatkan sinyal bahaya di otaknya segera menggelengkan kepala. Tidak boleh terjadi. Mereka hendak mengikuti acara penting tentang masa depan Moonlight Retail dan juga Biniemoon. Keduanya hendak menandatangani kontrak. Sekaligus Yul ingin memperkenalkan istrinya di hadapan semua investor besar Moonlight Grup dan juga semua manajer Moonlight Coffe yang hari ini akan berkumpul di suatu tempat. Memperkenalkan Yebin sebagai istrinya, sekaligus orang yang akan meneruskan bisnis Moonlight Grup.


Sinyal bahaya Yul itu adalah, ia merasa terangsang melihat bibir istrinya yang sangat menggoda itu. Dan itu tidak boleh terjadi di pertemuan penting mereka dua jam lagi.


Dengan hati hati Yul berkata, “Bagus. Kau cocok memakai lipstick merah. Tapi, saranku gantilah warna lipstickmu sekarang juga.”


Kening Yebin mengerut. “Ah, kenapa?”


Yul pun menyerah dan segera meletakkan tabletnya ke atas meja nakas. Lantas ia menarik pinggang Yebin untuk mencium bibirnya.


“Karena bibirmu itu sudah membuatku terangsang,” desah Yul sambil mencium bibir Yebin dengan nikmat.


“Hmp! Oppa.” Yebin melepaskan paksa ciuman itu dan langsung terbelalak menatap Yul. “Tidak boleh! Kita mau rapat penting, Sayang. Nanti bisa terlambat jika Oppa mau melakukannya sekarang juga,” rutuk Yebin.


Tapi rutukan Yebin itu tidak digubris oleh Yul yang langsung melentangkan tubuh Yebin ke atas ranjang tidur. Sambil menindihnya, Yul berbisik penuh goda. “Tidak apa apa. Rapatnya kan masih dua jam lagi.” Kemudian ia mengecup telinga Yebin dan berbisik, “Aku akan melakukannya dengan cepat."


**


Bukan Kang Yebin jika langsung menurut begitu saja pada suaminya. Meksi Yul melarang keras istrinya itu memakai lipstick merah untuk menghadiri rapat, Yebin tetap memakainya. Ia sama sekali tak mau mendengarkan Yul dan tetap bersikeras ingin memakai lipstick merah kesukaannya yang telah membuat mereka telat menghadiri rapat siang ini.


Saat turun dari mobil, Yul disambut oleh Manajer Yoon, manajer baru Moonlight Retail yang beberapa hari lalu baru ditunjuk oleh Yul.


“Semua sudah menunggu Anda bersama Nyonya di ruang rapat,” kata manajer itu sambil menunjukkan jalan pada Yul.


Yul berjalan cepat dengan Yebin yang mengikutinya di samping. Menuju ruang rapat hotel untuk bertemu dengan para investor besar Moonlight Grup dan semua manajer Moonlight Coffe.


Begitu masuk ke dalam ruang rapat, Yul langsung menceletuk, “Maaf, saya dengan istri saya terlambat lima menit. Ada kecelakaan mendadak di jalan tadi  yang tidak bisa dihindari.”


Jangan kira kalau Yul itu sedang berbohong. Saat perjalanan kemari tadi memang ada kecelakaan kecil di jalan raya. Namun sebenarnya bukan karena kecelakaan itu mereka terlambat. Tetapi karena urusan mendesak lainnya.


Di sudut depan, Leo Park terlihat sedang mempersiapkan diri untuk melakukan presentasi terkait rencana bisnis Moonlight Retail yang bekerja sama dengan Biniemoon. Ia duduk di pokok sambil menatap Yebin dari kejauhan. Mengamati perubahan penampilan Yebin hari ini yang terlihat lebih cantik dan menggoda dengan lipstick merahnya.


“Baiklah. Rapat siang ini bisa kita mulai dengan presentasi terkait rancangan bisnis Moonlight Retail yang akan dilakukan oleh penasihat bisnis saya yang mungkin beberapa dari Anda semua sudah kenal. Leo Park ssi, silakan mulai presentasinya,” ucap Yul. Ia mempersilakan waktu dan tempat pada Leo Park untuk menyampaikan semua rancangan bisnis Moonlight Retail.


Setelah mempersilakan Leo Park untuk presentasi, Yul beranjak duduk di kursi sebelah Yebin bersama semua manajer Moonlight Coffe yang tentunya akan berperan dalam bisnis retail ini.


Ruang rapat itu menjadi gelap ketika Leo Park menyalakan proyektor ruangan untuk menampilkan slide power point di dalam ruangan. Seketika itu juga, semua pandangan tertuju pada Leo Park. Pada audiensi yang ada di dalam ruangan, tampak berkonsentrasi mendengarkan presentasi dari Leo Park yang mewakili Yul sebagai bos.


Setelah presentasi selesai, acara berlanjut pada penandatanganan kontrak antara Moonlight Retail dan juga Biniemoon. Sepasang suami istri itu menandatangani kontrak secara bersamaan. Lalu berfoto sambil menunjukkan bukti kontrak kerja sama mereka sebagai pebisnis.


Surat kontrak kerja sama telah ditanda tangani dengan hati hati. Sekarang saatnya Yul memberikan satu pengumuman penting kepada para investor dan juga para jajaran manajer Moonlight Coffe.


“Tes tes.”


Yul mengecek kembali microphone yang hendak ia gunakan berbicara. Seketika itu, semua pandangan tertuju kembali kepada Yul yang berdiri di depan.


“Sehubungan rapat sudah hampir selesai, saya ingin menyampaikan satu pengumuman penting  untuk Anda sekalian, juga para manajer Moonlight Coffe dari ke dua ratus lima puluh cabang kafe yang tersebar di seluruh negeri. Ada satu pengumuman penting yang ingin saya sampaikan pada kalian semua.” Yul berkata dengan tegas. Pandangannya menyebar ke sekeliling. Lalu berhenti pada sesosok wanita cantik, istrinya, yang duduk di ujung bersama para manajer. “Di sudut sebelah sana, ada istri saya, Moon Yebin, yang ingin saya perkenalkan pada Anda semua. Seperti yang sudah Anda sekalian ketahui, istri saya adalah pebisnis sekaligus pemilik dari Biniemoon yang akan memiliki peranan besar dalam distribusi produk Moonlight retail kedepannya. Selain itu, saya selaku bos sekaligus pemilik saham terbesar Moonlight Grup, berencana menurunkan posisi saya kepada istri saya sebagai bos Moonlight Coffe yang juga akan mengelola Moonlight Grup secara keseluruhan.”


“Tuan Moon Yul! Apa Anda itu sedang bercanda? Jadi maksudnya, Anda akan memberikan jabatan kepada istri Anda yang masih muda dan berstatus sebagai pebisnis pemula itu?” Suara celetukan datang dari seorang investor yang merupakan seorang laki laki paruh baya. Di antara keseluruhan investor Moonlight Grup, delapan puluh lima persennya adalah laki laki dan sisanya perempuan. Berbeda dengan kedudukan manajer yang presentasi antara laki laki dan perempuannya adalah tujuh puluh banding tiga puluh yang perempuan.


“Meski istri Anda juga pebisnis, Anda tidak bisa menyerahkan jabatan Anda begitu saja pada istri Anda.”


“Betul! Mau di kemanakan semua nilai investasi kami jika bisnis kafe terbesar di negeri ini jatuh pada istri Anda yang masih sangat muda dan jadi pemula di bidang bisnis? Selama ini Moonlight Coffe menjadi kafe favorit di negara kita dengan jumlah cabang mencapai dua ratus lima puluh cabang kafe yang menyebar di seluruh kota di Korea Selatan. Dan semua orang pun tahu, skala bisnis kafe ini berlipat ganda lebih besar dari Biniemoon yang dikelola istri Anda itu. Jika Anda menyerahkan pekerjaan kafe pada istri Anda, mau bagaimana nasib semua uang yang sudah kami investasikan pada Moonlight Grup? Apa Anda mau bertanggung jawab jika kami dirugikan?”


Setelah argumen itu diluncurkan, beberapa argumen lainnya bermunculan. Ruang rapat menjadi sangat gaduh oleh para investor yang melayangkan protes atas keputusan mendadak Yul itu. Begitu pun dengan manajer kafe yang semuanya terlihat meragukan kemampuan Yebin dalam menggantikan tugas Yul.


Dari tempatnya berdiri, Yul mendengarkan semua argumen yang dikeluarkan oleh para investor yang ia yakini pasti kaget mendengar kabar ini. Namun untuk beberapa saat Yul diam mendengarkan semua protes yang dilayangkan itu. Ia mencoba tenang dan mempersiapkan diri untuk menanggapi semua protes yang sudah ia prediksi itu.


Sementara itu, di tempatnya terduduk, Kang Yebin tidak habis pikir pada semua investor yang beranggapan seolah olah Moonlight Coffe akan hancur di tangan Yebin. Yebin sungguh tidak habis pikir. Akhirnya ia tahu, kenapa sangat sulit meyakinkan Yul untuk memberikan kepercayaan itu kepadanya. Karena tak hanya merepotkan, tetapi juga membutuhkan strategi yang jitu untuk meyakinkan para investor yang sangat rumit itu.


Yebin hanya menghela napas dalam dalam. Usianya yang masih muda, juga pengalamannya di bidang bisnis yang tak selama suaminya, membuat Yebin merasa diintimidasi oleh orang orang yang melayangkan protesan itu. Memang jika masih muda dan masih pemula di bidang bisnis, itu berarti ia tidak bisa menggantikan pekerjaan Yul sebagai bos kafe? Toh, Yebin hanya menggantikan pekerjaannya. Sementara kepemilikan Moonlight Coffe dan juga pemilik saham terbesarnya tetaplah Yul. Kalau ada apa apa, harus tetap melalui persetujuan dan tanda tangan Yul. Kedudukan Yebin, jika dalam perusahaan besar, adalah sebagai direktur operasional. Sedangkan Yul adalah presdir alias presiden direktur, atau ketua, atau pemilik yang memiliki kuasa penuh terhadap Moonlight Coffe meski tak banyak berada di kafe.


Oke. Untuk saat ini, Yebin akan menahan diri. Paling tidak ia harus melatih kesabaran untuk tidak mempermalukan Yul di hadapan semua investor Moonlight Grup. Ia berada di tempat ini tak hanya sebagai Kang Yebin, tetapi sebagai Nyonya Moon Yebin, istri dari Moon Yul.


Setelah semua protes itu diluncurkan, Yul kembali buka suara.


“Sekali lagi saya tegaskan, itu adalah rencana,” kata Yul tegas. Suaranya yang terdengar serius itu memenuhi seluruh ruangan.


“Rencana itu kan berarti Anda punya keinginan untuk melepaskan jabatan sekaligus tanggung jawab mengelola Moonlight Coffe dan Moonlight Grup?” serobot seorang laki laki paruh baya yang merupakan investor besar yang dalam pemerintahan menjabat sebagai anggota parlemen.


"Ya. Saya memang memiliki rencana untuk memberikan istri saya wewenang penuh dalam mengelola bisnis saya. Di sini saya akan jelaskan dengan terperinci. Jadi Moonlight Grup, termasuk juga Moonlight Coffe, akan tetap berada dalam pengawasan saya. Segala dokumen dan permasalahan adiministrasi akan tetal melalui tanda tangan saya. Hanya saja, yang menjalankan pekerjaan operasional kafe adalah istri saya. Mengurusi masalah internal kafe, manajemen, alokasi dana, dan pembangunan, semua itu akan melalui istri saya dengan tetap menggunakan persetujuan saya. Singkatnya, dia seperti direktur operasional dan saya adalah presiden direktur.”


Semua orang terdiam ketika Yul mengatakan semua itu di hadapan para investor dan manager. Namun Yul belum menyelesaikan penjelasannya.


“Dan yang perlu saya tegaskan, itu semua adalah rencana. Seperti yang selama ini saya lakukan, saya mengelola bisnis ini dengan transparan dan dengan kecepakatan para pemegang saham. Saya mengatakan ini di awal. Lalu meninjau kembali untuk beberapa bulan ke depan apakah saya benar benar akan memberikan posisi itu kepada istri saya atau saya yang akan meneruskan keberlangsungan bisnis ini. Saya akan meninjaunya kembali dan dengan pertimbangan yang matang, lalu mendiskukan permasalahan ini dengan Anda semua. Dan untuk semua manajer Moonlight Coffe, akan ada lebih banyak bersiapan untuk kalian semua jika kuberitahukan hal ini lebih awal.”


Saat semuanya menghening, satu suara dari seorang investor perempuan memecahkan keheningan.


“Maksud Anda itu, Anda akan melakukan semacam simulasi pada istri Anda untuk mengelola bisnis Moonlight Grup? Anda pikir bisnis ini main main?” cetusnya.


“Yang saya maksud itu, selama beberapa bulan ke depan saya ingin tahu, apakah istri saya bisa membawa kemajuan untuk Moonlight Coffe. Jika kemajuannya pesat sesuai ekspektasi, tentu dengan senang hati saya akan menyerahkan wewenang saya padanya. Tapi, jika sebaliknya yang terjadi, saya yang akan tetap pada posisi saya yang sekarang.”


Jawaban Yul sepertinya bisa diterima dengan mudah oleh semua investor dan juga manajer Moonlight Coffe. Meski sebenarnya Yul sendiri merasa tak bisa membiarkan Yebin mengemban tugas seberat ini sebagai pengelola bisnisnya. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk Yul bisa mengabulkan permintaan Yebin ini. Ia tak yakin apakaj keputusannya ini sudah benar. Membiarkan istrinya memiliki pekerjaan yang sebelumnya ia kerjakan. Ini sama sekali bukan hal yang sewajarnya dilakukan oleh seorang suami. Tapi, inilah yang Yebin inginkan. Yebin serius mengatakan kemauannya ini pada Yul dan membujuk Yul sampai Yul benar benar luluh dan akhirnya mengambil keputusan ini.


Bagi Yebin sendiri, ini tentu bukan tugas yang mudah. Kadang kali ia merasa ragu apakah ia bisa melakukan pekerjaan ini dengan lebih baik. Ia juga takut jika saja Moonlight Grup menjadi jatuh terpuruk karenanya.


Tetapi semua ketakutan dan keraguan Yebin itu diusirnya jauh dari kepala. Ia yakin, asal ia memiliki kemauan, ia akan bisa melakukan segala hal. Menjadi bos Biniemoon atau pun bos kafe. Yebin merasa bisa melakukan semua itu selama Yul berada di sisinya dan membimbingnya di setiap langkah. Yul menyerahkan pekerjaan itu bukan berarti sepenuhnya lepas tangan. Ia akan tetap mendorong Yebin dari belakang dan akan tetap membantunya dalam menyelesaikan setiap masalah atau pun dalam mengambil suatu kebijakan. Yul tak pernah melepaskan sepenuhnya tanggung jawabnya di kafe kepada Yebin. Juga tak pernah melepas sepenuhnya tanggung jawabnya sebagai suami dari Kang Yebin. Dalam hal apa pun, Yul akan mendukung Yebin dan menyongkong pekerjaannya.


Setelah rapat itu benar benar selesai, Yul dan Yebin masih berada di dalam ruangan. Bersalaman dengan para investor dan juga manajer Moonlight Coffe yang akan pergi meninggalkan ruangan. Kemudian, di ruangan itu hanya tersisa Yul, Yebin, dan manajer Moonlight Coffe Gangnam yang sedang memberesi alat alat presentasi bersama Leo Park di meja depan.


“Menyebalkan sekali. Jadi seperti itu sikap para investor Moonlight Grup?” tanya Yebin begitu melihat semua investor itu berlalu pergi.


Yul hanya tersenyum. “Mereka tidak menyebalkan. Mereka hanya orang orang yang kritis dan kapitalis. Dan itu tadi bukan apa apa dibanding ketika ada permasalahan kafe yang menyebabkan turunnya nilai saham. Saat terjadi suatu masalah, mereka semua berubah menjadi singa hutan yang seolah olah siap menerkam untuk menghabisiku,” cerita Yul sambil bercanda.


Napas Yebin terhela panjang. Ia menatap pilu ke arah Yul.


“Pantas saja Oppa selalu terlihat lemas dan pucat setiap kali kafe ada masalah. Ternyata seperti itu sikap mereka.” Yebih mengembuskan napasnya, lalu lanjut berucap sambil mengelus ngelus pundak suaminya. “Kasihan sekail kau, Sayang. Bagaimana kau bisa bertahan selama ini sebagai bos kafe?” lanjut Yebin menggumam.


Hanya senyuman manis yang Yul perlihatkan. Ia mencubit hidung Yebin sambil berkata, “Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana kau akan bertahan jika semua yang kau hadapi itu adalah orang orang yang buas?”


Yebin mencibirkan bibirnya. “Oppa tidak tahu aku ini siapa? Aku Kang Yebin, bukan Moon Yul yang berhati lembut dan sangat berperasaan. Keahlianku adalah menaklukkan orang lain. Dan tidak ada yang lebih buas dariku ketika berurusan dengan bisnis. Mereka? Jangan khawatir. Aku bisa mengurus mereka dan membuat mereka semua takluk padaku.”


Yul terkekeh kekeh mendengar perkataan Yebin yang penuh percaya diri itu. “Kita lihat saja nanti, Nyonya Moon.”


Tepat setelah itu, Leo Park yang menyelesaikan kegiatan beres beresnya, berjalan menghampiri sepasang suami istri yang sedang bercanda ria itu.


“Tuan dan Nyonya Moon, bagaimana jika kita pergi bertiga ke kedai teh untuk membicarakan bisnis? Karena kontrak sudah ditandatangani, pastinya ada banyak hal yang harus kita bahas.”


Mendengar perkataan Leo Park itu, Yul dan Yebin pun berdiri dari duduk.


“Baiklah. Ayo kita pergi ke... ah, sebentar.”


Tiba tiba ponsel Yul berbunyi. Ada panggilan masuk dari salah seorang manajer Moonlight Coffe di pulau Jeju yang tadi tidak bisa menghadiri rapat di hotel ini.


Yul pun berjalan menjauh sambil menerima panggilan telepon itu. Saat itulah, Leo mengambil kesempatan untuk berbincang bincang dengan Yebin yang sejak tadi membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan pada obyek lain.


“Apa kabarmu, Kang Yebin?” tanya Leo dengan bahasanya yang terkesan santai. Sangat berbeda dari sesaat lalu.


Kening Yebin mengerut dalam. “Kang... Yebin? Sampai beberapa detik lalu kau masih memanggilku Nyonya Moon.”


“Itu adalah panggilan bisnis. Saat tidak ada siapa siapa, aku akan memanggilmu Kang Yebin. Toh, kau lima tahun lebih muda dariku kan? Tidak apa apa dong kalau aku menggunakan bahasa santai,” ucap Leo. Yebin yang merasa sedikit rasa tidak nyaman dari cara bicara Leo itu, hanya mengerutkan kening sambil menatapnya penuh intimidasi.


Hal yang membuat Yebin lebih merasa aneh adalah, Leo Park yang tiba tiba diam menatapnya lekat lekat. Aura aneh memancar dari sudut mata Leo Park. Ia tersenyum puas menatap Yebin lalu berkata, “Kau... sangat cantik hari ini. Sungguh menawan seperti bunga sakura.”


**