
Bab 4
Lysa baru tahu kalau hari ini orang tua
Brian berkunjung ke Korea Selatan. Ah, pantas saja Brian hari ini kelihatan
bahagia sekali. Orang tuanya yang lama tinggal di Amerika, berkunjung ke Korea
Selatan untuk melihat putra semata wayangnya, Brian, dalam perjalanannya
kembali ke Indonesia.
“Harusnya kau bilang padaku, Sam, kalau
paman dan bibi akan datang. Kalau tahu kau mengajakku bertemu mereka, pastinya
aku akan memakai pakaian yang lebih bagus lagi. Kenapa kau membawaku begitu
saja tanpa berkata apa apa kalau bibi dan paman datang?”
Begitu turun dari mobil bersama Brian, Lysa
berutuk rutuk. Ia kira ia hanya akan makan siang bersama Brian di kantin kampus
atau di restoran dekat kampus. Eh, ternyata, lelaki itu justru membawa Lysa ke
sebuah tempat makan mahal dan berkata bahwa ayah dan ibunya datang dari
Amerika.
Mendengar itu, bagaimana Lysa tidka
terkejut? Ia terkejut setengah mati dan nyaris mengunpati Brian yang membawanya
begitu saja dalam keadaan seperti ini. Kalau dilihat lihat, penampilan Lysa siang
ini sangat lusuh. Ia mengikuti kuliah sejak pagi. Lalu berada di perpustakaan
selama berjam jam untuk mengerjakan tugas. Dan pakaian yang ia kenakan saat ini
adalah pakaian santau untuk kuliah. Bukan baju yang bagus untuk bertemu dengan
keluarga Brian. Tcih! Ini sungguh membuat Lysa kesal. Harusnya Brian
mengatakannya sejak awal kalau ingin mengajak Lysa bertemu orang tuanya. Bukan main
bawanya begitu saja seperti ini.
“Tidak apa apa. Ibu dan ayah cuma datang
sebentar di sela perjalanannya menuju Indonesia. Dan mereka memintaku untuk
mengajakmu makan bersama. Kau pasti juga merindukan mereka bukan?” brian
menjawab selagi berjalan menjauhi mobilnya yang terparkir di halaman sebuah
rumah makan berkelas di area Gangnam.
“Tapi, tetap saja. Harusnya kau
mengatakannya padaku lebih awal, Sam! Bagaimana aku bisa menemui mereka berdua
dengan keadaan seperti ini?” rutuk Lysa yang sungguh merasa kesal karena Brian
tak memberi tahunya sejak awal.
“Tidak apa apa. Ibu dan ayahku mengerti
kalau aku membawamu kemari di sela sela kuliahmu,” ucap tegas Brian.
Keduanya pun masuk ke dalam restoran untuk
bertemu dengan orang tua Brian yang datang dari Amerika. Lysa menyembut
kedatangan mereka berdua dengan hangat, selayaknya seorang putri yang menyambut
kedatangan orang tuanya.
“Putraku, aku sangat merindukanmu.” Ibu
Brian menceletuk melihat putra tunggalnya datang. Ia langsung memeluk tubuh
Brian dengan hangat untuk menghapus rasa rindu yang menumpung terhadap sang
putra. “Lysa, putri manis Tuan Kim, bagaimana kabarmu, Nak? Aku sangat
merindukanmu.” Ibu Brian berganti memeluk tubuh Lysa dengan hangat.
“Saya baik baik saja, Bibi. Bagaimana kabar
Paman dan Bibi?” sahut Lysa.
“Tentu, baik baik saja.”
Keduanya bertukar sapa dan melakukan makan
siang bersama di restoran tersebut. saling menanyakan kabar masing masing. Memberbincangkan
beberapa hal terkait kuliah Lysa dan adaptasinya di Korea, tentang pekerjaan
Brian dan pekerjaannya, juga tentang bisnia keluarga Brian. Tak hanya itu, ayah
dan ibu Brian menanyakan kabar dari ayah Lysa yang sudah lama tak memberi
mereka kabar.
Seselesainya makan siang, mereka pun keluar
dari restoran tersebut. Empat manusia yang baru saja menyelesaikan makan siang
itu sedang berdiri di depan gedung restoran untuk mengucapkan selamat tinggal. Setelah
ini, ayah dan ibu Brian harus segera terbang ke Indonesia karena jadwal
penerbangan pesawat yang sedang transit itu sangat sebentar.
“Hati hati, Mom, Dad. Aku akan pulang ke
Indonesia saat liburan musim panas nanti.” Brian berkata sambil memeluk ibu dan
ayahnya secara bergantian.
“Hati hati ya Nak. Ah, andaikan saja aku
memiliki lebih banyak waktu untuk bersamamu di sini. Sayangnya urusan mendesak
di Indonesia tidka bisa ditunda, jadi ayah dan ibu harus segera kembali.” Ibu
Brian yang berparas cantik dan terlihat sangat muda itu mengelus ngelus pundak
putranya. Merasa sayang untuk pergi begitu saja. Jujur, sebagai seorang ibu
yang jarang sekali bisa melihat wajah puranya, ibu Brian merasa kurang puas
melihat wajah putranya yang hanya sebentar.
“Minggu depan, atau paling lama dua minggu
lagi aku dan ibumu akan kembali kemari. Jadi tunggu saja ya,” ucap ayah Brian
di sela sela perpisahan ini.
“Baik, Dad.”
“Selamat tinggal, Paman. Selamat tingga,
Bibi. Hati hati di jalan.” Lysa mengucapkan selamat tinggal pada kedua paruh
baya itu sebelum masuk ke dalam mobil. Keduanya melesat pergi meninggalkan
gedung restoran, menuju bandara untuk melakukan penerbangan menuju Indonesia.
Sekepergian kedua orang tuanya dari tempat
itu, Brian menghela napas panjang. Ia menatap mobil taksi yang membawa kedua
orang tuanya dari kejauhan sambil beberapa kali menarik napas panjang dan
mengembuskannya perlahan.
“Mereka benar pergi. Sungguh sangat
singkat.” Di sebelah Brian, Lysa ikut menggumam melihat mobil taksi itu
bergerak semakin menjauh.
Setelah itu Brian merogoh saku celananya. Mengambil
kunci mobil.
Bip bip.
Suara itu terdengar ketika Brian membuka
mobil yang semulanya terkunci. Ia berjalan mendekat menuju mobil tersebut dan
segera masuk ke dalamnya. Lysa pun segera mengikuti Brian masuk ke dalam mobil
untuk pergi meninggalkan gedung restoran ini.
“Cuacanya mulai panas. Sangat menyegarkan
kalau bisa meminum segelas Americano dingin,” gumam pelan Lysa. Perutnya memang
sudah kenyang. Tetapi tenggorokannya masih terasa kering di siang hari yang
panas ini.
“Kau mau Americano?” tawar Brian.
Kepala Lysa langsung menoleh. Kedua keningnya
mengernyit semangat, tak dapat menolak tawaran Brian.
“Sam mau membelikannya?” tanya Lysa.
“Baiklah. Kita mampir sebentar di Moonlighr
Coffe nanti.”
“Thank you.”
Beberapa ratus meter sebelum tiba di
kampus, Brian menghentikan mobilnya di depan salah satu kafe besar yang
terlihat ramai pada siang ini. Ia masuk bersama Lysa dan memesan dua gelas
Americano dingin.
“Setelah ini kau ada kuliah?” tanya Brian
selagi menunggu pesanan esnya disiapkan. Ia menghadap Lysa yang tampak sedang
sibuk mencari cari seseorang.
“Tidak ada.” Lysa menjawab sambil menoleh
nolehkan kepalanya menatap sekeliling ruangan. Ia sedang mencari keberadaan
seseorang.
“Setelah ini kau akan ke mana?” lanjut
Brian bertanya.
“....”
Telinga Lysa tak mendengar pertanyaan Brian
ketika pandangan wanita itu sepenuhnya tertuju pada sesosok lelaki yang sedang
menuruni anak tangga dari lantai dua. tidak salah lagi. Laki laki itulah yang
sedari tadi Lysa cari; Mino, lelaki baik yang memberinya makan daging sebagai
ganti dari burger seharga seribu won.
Bola mata Lysa membulat antusias melihat
lelaki itu menuruni tangga. Dugaannya benar. Kalau laki laki itu bekerja di
Moonlight Coffe. Entah apa pekerjaan yang lelaki itu lakukan di kafe ini, Lysa menebak
dari mendengar percakapan antara bos kafe dengan Mino saat kemarin Lysa masih
menangis tersedu sedu gara gara burgernya yang rusak. Ketika itu Lysa memang
sangat sedih dan terlalu larut dalam kesedihannya. Namun di sela sela tangis,
telinganya masih dapat mendengar percakapan antara Mino dengan bos Moonlight
Coffe. Itu yang kemudian membuat Lysa berpikir bahwa laki laki yang
membelikannya daging sapi itu bekerja di Moonlight Coffe.
Pandangan Lysa masih tertuju pada Mino yang
selangkah demi selangkah menuruni anak tangga. Lysa terbengong mengikuti arah
kaki Mino melangkah. Sampai akhirnya Mino yang raut wajahnya tampak begitu
“Hei, Lysa Kim!”
Seruan Brian itu seketika membuat Lysa
tersadar. Ia langsung memalingkan wajahnya dari Mino yang baru saja keluar dari
kafe. Pandnagan Lysa pun kini tertuju pada Brian yang tadi mengatakan beberapa
hal padanya namun tak terdengar.
“Eh? Ada... ada apa Sam? Kau tadi berkata
apa? Maaf, aku tidak dengar.” Lysa menceletuk penuh rasa bersalah.
“Aku bertanya, setelah ini kau akan ke
mana?” tanya Brian.
Pada waktu bersamaan, pesanan dua gelas
Americano dingin Brian telah selesai disiapkan. Seorang pelayan kafe
mengulurkan dua gelas Americano itu kepada Brian. Lalu Brian menyerahkan salah
satu gelasnya kepada Lysa yang terlihat sedang tidak fokus.
“Ah... entahlah. Aku tidak tahu habis ini
mau ke mana. Bagaimana denganmu, Sam?” selagi menerima minuman dingin yang
diulurkan Brian kepadanya, Lysa menjawab. Keduanya melangkah bersamaan keluar
dari kafe.
“Aku ada jadwal mengajar siang ini,” jawab
Brian sambil merogoh saku celana untuk mengambil kunci mobil. Ia bersiap untuk
meninggalkan kafe ini.
Namun Lysa tak begitu mendengarkan apa yang
Brian katakan. Wanita itu sednag fokus menatap Mino dari kejauhan. Mino yang
beberapa waktu lalu keluar dari kafe itu tampak sedang berjalan menuju
persimpangan.
Sejenak Lysa merasa ragu. Ada hal yang
janggal dalam perasaannya ketika tadi melihat Mino berjalan melintas di
hadapannya. Entah mengapa Lysa begitu memperhatikan kejanggaan yang dirasakan
terhadap laki laki yang pernah menolongnya itu, Lysa sendiri pun tak tahu.
“Lysa. Hei, Lysa Kim!” di dalam mobil,
Brian yang sudah duduk manis di kursi pengemudi itu menjulurkan kepalanya
kepada Lysa yang masih berdiri melamun sambil memegangi pintu mobil. Ia tidak
takin apa yang sedang gadis itu pikirkan sampai melamun seperti itu.
“Oh, Sam!” Lysa yang terkejut mendengar
panggilan dari Brian itu segera menoleh ke dalam mobil. Menatap Brian.
“Apa yang kau pikirkan sampai melamun
begitu? Kau tidak akan masuk?” tanya Brian.
“Oh... iya.”
Ragu ragu, Lysa pun masuk ke dalam mobil. Ia
menyedot minuman dinginnya sambil beranjak masuk di kursi samping pengemudi. Dan
begitu Lysa memakai sabuk pengaman, Brian pun melajukan mobilnya menjauhi
gedung kafe.
“Sepertinya kau jadi sering melamun. Apa yang
sedang terjadi padamu? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Brian selagi
melajukan mobil. Sesekali ia melirik wajah Lysa yang memperlihatkan raut wajah
khawatir.
“Tidak apa apa, Sam.”
“Kau jadi sedikit aneh.”
Lysa hanya mendengarkan gumaman pelan Brian
sambil meminum minumannya. Lalu sesaat kemudian ia bertanya.
“Sam, apa kau tahu kenapa laki laki bisa
terlihat begutu murung dan sedih?” tanya Lysa sembari memberikan tatapan
penasaran kepada Brian yang sedang berkonsentrasi mengemudi.
Kening Brian mengernyit mendengar
pertanyaan itu. Sambil berpikir panjang ia menggumam gumam, “Entahlah.
Mungkin... hm... karena pekerjaan tidak lancar?”
Seketika napas Lysa berembus panjang
panjang. Bodohnya ia menanyakan hal itu pada laki laki yang gila pekerjaan
seperti Brian. Sungguh bodoh...
“Sudahlah. Seharusnya aku tidak bertanya.”
Lysa menggumam pasrah setelah menyadari kebodohannya. Yang Brian tahu itu
hanyalah pekerjaan dan karir. Jadi mana mungkin lelaki itu bisa memberikan
jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan Lysa?
Ketika ini mobil Brian berhenti di
persimpangan jalan karena lampu lalu lintas yang menyala merah. Pandangan Lysa
tertuju pada seorang laki laki yang raut wajahnya tampak gelap dan sendu, berjalan
pelan menyeberangi jalan raya.
“Sam, akhir akhir ini aku terus memikirkan
seseorang.” Di sela sela ia dan Brian menunggu lampu lalu lintas menyala hijau,
Lysa membuka suara. Air mukanya menyendu, merasakan suatu hal yang janggal
dalam benaknya.
“Apa kau memikirkan ayahmu? Atau... ibumu?”
tanya Brian.
Kepala Lysa sontak menoleh. Bertatap tatapan
dengan Brian.
“Tidak. Aku memikirkan seseorang yang baru
kukenal. Seseorang yang membuatku merasa sangat berterima kasih, sekaligus
seseorang yang mengingatkanku pada ayah ketika pertama kali mengetahui
penghiantaan yang dilakukan ibu. Raut mukanya, tatapan kelamnya, dan bahkan
deru napas panjangnya... semuanya mengingatkanku pada ayah. Hah... aku jadi
merindukan ayah. Akhir pekan nanti aku harus mengunjunginya.” Setelah selesai
bercerita, Lysa menghela napas panjang panjang. Mengingat lelaki itu,
membuatnya teringat pada ayahnya yang berada dalam kesulitan besar karena sang
ibu.
Pandangan Lysa seketika menunduk karena
perasaan pedih sekaligus rindu pada sang ayah. Ia meminum Americano dingin yang
semakin membuat benaknya terasa dingin.
Melihat Lysa yang mendadak murung seperti
itu, Brian menatapnya prihatin. Ia sudah mengenal keluarga Lysa selama lebih
dari sepuluh tahun. Secara pribadi, ia juga telah mengenal Lysa lebih dari ia
mengenal wanita lain yang datang dan pergi dalam hidupnya. Dan Brian pun
menyadari, apa yang sedang keluarga Lysa alami adalah hal yang begitu berat. Dari
kabar mnegejutkan tentang perceraian ayah dan ibu Lysa akhir tahun lalu. Sampai
kabar kebangkrutan perusahaan ayah Lysa. Brian tahu seperti apa situasi yang
sedang Lysa alami saat ini. Dan ia merasa turut prihatin atas hal itu. Namun,
yang bisa ia lakukan untuk Lysa, yang telah dianggapnya keluarga, adalah
menjadi satu satunya teman dan tempat bersandar untuknya. Brian menjaga Lysa
selayaknya seorang kakak yang menjaga adiknya dengan baik. Dan menjadi penyemangat
untuk Lysa yang selalu tampak ceria meski sebenarnya gadis itu mengalami
situasi yang sangat sulit baik untuk dirinya sendiri maupun ayahnya.
“Katakan nanti kalau kau ingin bertemu
ayahmu. Aku juga ingin mengunjunginya. Sudah lama sejak terakhir kali aku
melihatnya.” Brian berucap.
Lysa yang mendengar ucapan brian,
menganggukkan kepala pertanda setuju pada apa yang Brian katakan.
Tepat setelah itu terjadi kerumunan di
tengah persimpangan jalan. Beberapa orang pejalan kaki terlihat mengerumuni
seseorang yang baru saja terserempet motor pengantar pizza yang menerobos
zebracross.
“Sepertinya ada kecelakaan,” gumam pelan
Brian melihat kerumunan orang di depan sana.
Kepala Lysa ikut tertoleh mendengar Brian
bergumam. Dan, benar seperti yang lelaki itu katakan. Di jarak yang tidak
begitu jauh dari mobil Brian berhenti, terlihat seorang laki laki yang baru
diserempet motor pembawa pizza. Dari sela sela kerumunan yang ada itu, terlihat
sesosok lelaki yang menjadi korban.
“Oh! Ajeossi?”
Lysa yang samar samar melihat kerumunan itu
memekik penasaran. Ia memfokuskan pandangannya pada sosok laki laki yang
diserempet itu.
“Oh, tidak. Ajeossi...”
Menyadari bahwa laki laki itu adalah Mino,
Lysa buru buru melepaskan sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya. Ia meletakkan
Americanonya ke atas dasbor mobil Brian dan menceletuk.
“Sam, aku akan turun di sini! Terima kasih
kopinya. Nanti aku akan menghubungimu!” Sambil mengatakan kalimat itu dengan
tergesa gesa, Lysa beranjak turun dari mobil. Berlari ke arah kerumunan itu,
meninggalkan Brian yang kebingungan.
“Lysa! Kau mau ke mana?”
**