
Yul POV
Lilin beraroma lavender yang berada di sudut ruangan masih menyala tatkala aku keluar dari kamar mandi. Kesegaran musim semi masih terasa. Hawa hangat dari luar bercampur aroma lavender dari lilin dalam kamar menyambut kedatanganku yang masih mengenakan towel dress dengan rambut hitamku yang basah.
Di depan cermin ruangan yang menempakkan wajah rupawanku, aku menggumam-gumam.
“Seperti biasanya, aku masih saja tampan. Siapa yang bisa membayangkan usiaku yang sebenarnya di saat wajahku masih seperti perjaka dua puluh tahun? Apalagi saat jalan bersama kekasihku. Huhu~”
Pagiku ini terasa membahagiakan. Karena di setiap bangun pagi wajahku terlihat jauh lebih muda. Mungkin karena aku merasa bahagia. Setiap hari melihat kekasihku datang. Mengantar dan menjemputnya ke tempat magang lalu dihadiahi satu kecupan manis di bibir. Ah, kapan lagi aku bisa sebahagia ini di usiaku yang sudah tidak muda?
Sementara aku sibuk memikirkan Yebin, ponselku di atas meja rias berdenting. Aku melihat satu notifikasi pesan masuk dari Yebin.
‘Oppa, rahasiakan kejadian beberapa malam lalu di hotel. Ibu bisa memarahiku!’
Keningku mengernyit bingung melihat pesan teks ambigu dari Yebin. Kejadian beberapa malam lalu di hotel.... Maksudnya, itu?
Saat aku masih hendak membalas pesan teks ambigu dari Yebin, ada satu pesan teks lagi datang dari nomor yang sama.
‘Ibu mengira aku hamil!’
“Apa?!”
Aku yang terkejut ini spontan berteriak. Menyadari teriakanku, aku segera membungkam mulut.
Tunggu-tunggu, bukannya ini kabar baik? Kalau Yebin hamil, artinya aku akan menjadi ayah. Benar. Ini adalah kabar baik. Tapi, kenapa aku merasa ada yang salah? Di hotel malam itu, aku dan Yebin hanya menghadiri pesta perinkahan temanku. Tunggu. Apa bukan ketika di hotel itu? Melainkan dua hari sebelumnya....
“Moon Sajang!”
Tiba-tiba teriakan ibu Miyoon membuatku sadar dari lamunan. Aku langsung beranjak keluar dari kamar. turun menuju pintu rumah untuk membukakan pintu pada ibu yang pagi-pagi ini sudah mengheboh. Aku menuruni anak tangga dengan towel dres yang masih aku kenakan.
“Ibu, ada apa?” sahutku begitu membukakan pintu. Kudapati ibu Miyoon yang berdiri dengan ekspresi wajah menggebu-nggebu.
“Moon Sajang... maksudku, menantuku! Yebin hamil. Segera siapkan pernikahan kalian bulan depan, ya?”
“Ye?”
Tubuhku masih tak bergeming mendengar kabar ini. Benar. Ini kabar baik. Tapi, kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengganjal? Entah mengapa aku merasa ini semua sangat aneh. Tidak. Bukan aneh, tetapi seperti tidak masuk akal.
Sementara aku masih mencerna perkataan ibu, di depan pintu ibu masih menatapku dengan bola matanya yang membulat. Satu hal yang aku ketahui dari tatapan itu. Yaitu, ibu sedang bersemangat. Apa karena dia akan segera memiliki cucu?
Aku segera menggelengkan kepala untuk berpikir dengan jernih. Bagaimanapun, aku merasa ada satu hal yang aneh. Aku masih tidak bisa percaya kalau Yebin benar-benar hamil.
“Tunggu, Ibu. Apa itu sungguhan? Yebin yang berkata kalau dia hamil?”
“Yebin hamil?!”
Suara yang menyahut dari belakang seketika membuatku menoleh. Terlihat Hun yang baru bangun tidur, berjalan mendekat ke arah pintu sambil memegangi satu gelas air putih. Ia tampak terkejut mendengar kabar yang masih belum pasti ini. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan. Serta beberapa macam emosi lain yang tak dapat kukenali.
“Ah, aku tidak yakin.”
“Apa maksudmu tidak yakin, Moon Sajang? Tidak, maksudku, menantuku! Sudah kupastikan kalau Yebin hamil,” sahut ibu seketika membuatku meringis karena tepukannya pada pundakku yang cukup keras.
“Agh.”
Selagi mengelus pundakku yang terasa sakit karena tepukan ibu, aku meyakinkan ucapannya.
“Yebin sungguh hamil?” desusku tak percaya.
Setelah itu aku melihat ibu merogoh salah satu baju. Mengeluarkan sesuatu berwarna putih yang tidak lain adalah alat tes kehamilan.
Kedua bola mataku terbelalak melihat alat tes itu berada di genggaman ibu. Sementara aku masih terbelalak, ibu menunjukkan dua garis merah pada salah satu alat tes. Yang seketika itu juga membuatku menganga.
“Lihatlah! Sudan kubilang kan?”
“Hah!”
Segera aku merebut alat tes itu. Melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dua garus merah yang menjadi bukti kalau Yebin memang sedang mengandung. Mengandung anakku! Meski ini memang bukan yang kami rencanakan mengingat pernikahan yang masih akan diselenggarakan musim panas mendatang, tetap saja aku merasa bahagia. Benar sekali. siapa pun yang berada di posisiku sekarang ini pasti merasa bahagia.
Saat aku masih tertegun melihat dua garis merah pada alat tes yang aku genggam ini, terdengar suara nyaring dari arah gerbang rumah. Itu Yebin, yang sedang lari terbirit-birit dari arah rumahnya.
“Ibu! Alat tes itu bukan milikku. Kenapa Ibu membawanya kemari?”
Dari kejauhan Yebin berteriak kencang. Aku, ibu, dan juga Hun yang berdiri di sebelahku menoleh bersama ke arah datangnya Yebin.
“Apa-apaan ini? Apa maksudmu berkata begitu, Yebin~a?” sahutku spontan. Keningku mengernyit. Aku membingung mencerna teriakan Yebin yang mengatakan kalau tes kehamilan bergaris dua ini bukan miliknya.
“Apa maksudmu? Lalu punya siapa tes ini kalau bukan punyamu? Aku juga menemukannya di kamar mandi kamarmu kok.” Ibu yang tidak dapat menerima argumen Yebin, menceletuk tak percaya.
Yebin yang beberapa waktu lalu berteriak di depan gerbang rumah, kini telah tiba di hadapan kami. Ia tampak terengah engah sehabis berlari dari arah rumahnya. sejenak mengistirahatkan diri dan bernapas dengan baik sebelum lanjut menceletuk.
“Ibu, itu bukan aku. Aku bersumpah. Aku tidak pernah menggunakan tes kehamilan itu. Untuk apa aku membelinya? Lagipula aku tidak berencana untuk hamil di saat hidupku masih serba berantakan. Kenapa Ibu mengada-ngada dan mebuat keributan pagi pagi begini?” Yebin yang tidak habis pikir menceletuki ibunya. Kalau dipikir-pikir, itu memang tidak masuk akal. Bagaimana Yebin bisa hamil di saat kami tidak melakukan apa-apa? Itu sungguh konyol. Dan aku nyaris percaya seperti laki-laki tua yaang bodoh.
Mengakhiri khayalanku yang baru saja buyar setelah kedatangan Yebin, aku langsung bertanya.
“Lalu, kalau ini bukan punyamu, punya siapa?” lanjutku bertanya pada Yebin.
“Mana mungkin itu bukan punyamu? Lalu siapa lagi yang menggunakan alat tes kehamilan di rumah kita kalau bukan kamu, Yebin~a,” sahut Ibu.
“Bukan aku, Ibu. Kenapa Ibu tak memercayai ucapanku?” Yebin menanggapi dengan uring uringan.
“Lalu siapa?”
“Mana aku tahu?”
“Itu punyaku.”
Suara lirih dari arah gerbang membuat kami menoleh serentak. Termasuk Yebin yang terlihat kesal karena semua orang yang mengiranya hamil.
Beberapa meter dari jarakku berdiri, terlihat Jangmi, kakak sepupu Yebin berdiri menutup rapat kedua kaki dan menautkan kedua tangan di depan. Jangmi, yang usianya beberapa tahun di bawahku menatap semua orang dengan canggung sementara ibu dan Yebin mengernyitkan kening tak percaya.
“Alat tes itu... milikku, Bibi, Yebin~a.”
“Lihatlah! Sudah kukatakan itu bukan aku. Kenapa tidak ada yang percaya. Menyebalkan sekali.” Yebin seketika itu merutuk rutuk. Ia menoleh kepadaku selagi memberikan tatapan penuh kesal. Lalu menoleh pada Hun yang terlihat sangat lega.
Satu hal yang aku dapati saat Yebin menata Hun dalam sekilas. Yaitu, bola mata Yebin yang tampak bergetar, diselingi perasaan bersalah.
Sejak hari itu, sejak hari di mana aku berlutut di halaman rumah Yebin dan melamarnya beberapa minggu lalu, semua telah baik baik saja. hubunganku dengan Yebin membaik seiring berjalannya waktu. Begitu pun hubunganku degan Ibu Miyoon dan Jangmi yang sampai hari ini tinggal bersama di rumah Yebin. Hubunganku dengan mereka membaik. Aku dan Yebin telah merencanakan masa depan bersama dan merencanakan sebuah pernikahan di musim panas tahun ini yang akan datang dalam dua bulan ke depan. Semuanya memang membaik. Semua berubah semakin baik tanpa ada lagi hal yang membuatku merasa tercekik setiap saat. Tapi, ada satu hal yang belum terselesaikan. Adikku, Hun. Aku masih belum menemukan cara untuk menghadapinya. Seperti kakak laki laki yang bodoh, aku masih tak sanggup mengatakan apa-apa kepada Hun.
Hubungan yang rumit, memang. Satu hal yang sepanjang perjalanan hidupku tidak pernah aku bayangkan. Yaitu, terlihat dalam sebuah cinta segitiga dengan adik lelakiku satu-satunya yang sekaligus menjadi satu-satunya keluarga yang masih tersisa untukku. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, terlibat dalam sebuah hubungan cinta segitiga yang membuat hubungan kami tak seperti kakak adik pada umumnya.
Sudah satu bulan lamanya sejak hari di mana aku menjadikan Yebin seutuhnya milikku dan melamarnya pada saat hujan turun. Dalam kurun waktu satu bulan itu, aku masih seperti pengecut yang membuat Hun selalu menghindar. Padahal aku adalah seorang kakak. padahal aku telah bertekad untuk melindungi satu satunya keluarga yang masih tersisa untuk. Padahal, aku telah berjanji pada orang tuaku untuk berperan seperti ayah sekaligus ibu untuk adik tersayangku, Hun.
Tapi aku masih saja bodoh. Semakin bodoh dan seperti pengecut.
***
Yebin POV
Sial! Andai saja ibu tidak membuat keributan pagi pagi dengan mengira kalau aku sedang hamil, aku tidak akan semalu ini. Aku keran saja. kenapa ibu tidak menanyakannya lebih dulu kepadaku? Langsung menunjukkannya pada Oppa dan membuat aku malu setengah mati berdiri.
Pagi ini benar-benar kacau. Untuk saja ini akhir pekan. Aku tidak bekerja magang. Andai ini adalah hari kerja, moodku untuk satu hari ini sudah berantakan dan aku tidak akan bisa bekerja dengan baik karena merasa malu.
Bukan ibu saja masalahnya, tetapi juga Oppa. Bisa-bisanya dia percaya apa yang ibu katakan dan mengira kalau alat tes kehamilan bergaris merah dua itu adalah milikku? Padahal Oppa tahu dengan baik, kalau kami tidak melakukan apa-apa yang bisa membuatku hamil. Kenapa laki-laki mudah percaya begitu saja? kenapa dia sangat bodoh dan langsung percaya kalau garis merah dua itu adalah milikku? Aku sama sekali tidak habis pikir.
“Jadi, sekarang di mana Ibu?” tanya Oppa yang sedang mengeringkan rambutnya di atas meja rias.
“Ibu pasti sedang menyidang Kak Jangmi. Menanyai bayi siapa yang dia kandung,” jawabku spontan.
Pengap. Kamar tidur Oppa terasa sangat pengap. Aku yang belum ada lima menit masuk ke dalam kamar tidur ini, merasa pengap.
Sambil mengendus ngendus udara yang ada di dalam ruangan, aku menyebarkan pandangan sekeliling. Mendapati tiga lilin aroma terapi di sudut ruangan yang sudah padam. Gorden berwarna abu-abu yang masih terurai menutupi semua jendela ruangan. Dan AC ruangan yang mati sejak beberapa saat lalu.
“Oppa, kau menyalakan lilin aroma terapi setiap malam?” tanyaku sambil berjalan mendekat ke arah jendela.
“Hmm.”
“Sudah kubilang, nyalakan AC-nya kalau kau menyalakan lilin. Asap dari lilin yang ada di ruangan ini bisa mencekik pernapasanmu! Kenapa Oppa tidak pernah mendengarku? Setidaknya kalau AC dimatikan, bukalah semua jendelanya agar udara bisa berganti. Apa-apaan kamar yang sangat pengap dan penuh asap ini? orang bisa mengira di kamar ini baru terjadi kebakaran!”
Selagi menyibak semua gorden dan membuka jendela kamar untuk mengeluarkan udara pengap di dalam, aku mengomel-ngolem. Oppa yang masih tampak sibuk mengeringkan rambut, menoleh sekilas ke arahku.
“Nona Kang dan omelannya. Kenapa kau selalu mengomel setiap kali masuk kamarku?” desus pelan Oppa yang tampak tidak peduli.
“Karena Oppa pantas diomeli! Jangan salahkan omelanku. Tapi ketahuilah alasan aku mengomel.”
“Baiklah baiklah. Aku tadi lupa membuka jendela karena buru-buru keluar saat ibu memanggil.”
Kegiatanku membuka semua jendela ruangan selesai tepat ketika Oppa menngakhiri kalimatnya. Aku bergeming sejenak. Mengingat-ingat suatu hal. Lalu berjalan ke arah Oppa yang masih duduk di depan meja rias untuk menyisir rambutnya yang telah kering.
“Oppa,” panggilku.
“Ada apa?” sahut Oppa sambil menatapku dari cermin. Aku berdiri tepat di belakangnya.
Sejenak aku meragu saat ingin mengatakan suatu hal. Oppa yang melihat keraguan di mataku, segera memutar tubuhnya. Berbalik menatapku dengan posisi yang masih duduk di bangku meja rias.
“Ada apa? Ada yang ingin kau katakan?” lanjut Oppa bertanya.
Kedua tanganku diraih untuk digenggamnya. Sementara itu aku masih menatapnya dalam.
“Oppa, kau merasa bahagia?” tanyaku ambigu. Yang membuat Oppa mengernyitkan kening.
“Maksudnya? Bahagia yang seperti apa? Jika kau bertanya apa aku bahagia bersamamu, sudah pasti aku bahagia.”
Itu yang Oppa katakan. Tetapi kepalaku menggeleng kecil.
“Bukan itu maksudku.”
“Lalu?”
“Tadi, saat kau mendengar kabar bahwa aku hamil, apa Oppa merasa bahagia?” ucapku meluruskan.
Aku tak dapat memastikan emosi apa yang terpancar dari bola mata Yul Oppa saat menatapku. Yang aku rasakan, tetapan itu hanyat dan tulus. Perasaanku mendamai saat Oppa menatapku demikian.
Secara tiba-tiba Oppa menarik kedua tanganku yang ada di genggamannya. Membuatku lantas terduduk di atas pangkuannya. Aroma mint yang segar dari rambutnya menguar marasuki indra menciumanku. Oppa menatapku dari jarak yang sangat dekat. Dan aku merasa damai.
“Apa ada alasan untuk aku tidak merasa bahagia?”
Jawaban yang terkesan sederhana itu membuatku perlahan mengukir senyuman. Oppa memeluk pinggangku dengan kedua tangannya yang kekar.
“Aku sepertinya terbius sesaat. Itu memang tidak masuk akal. aku menimbang-nimbang apakah itu masuk akal, ketika aku memercayai itu benar, aku merasa bahagia. Lalu teriakanmu benar-benar membuatku sadar. Kalau itu semua memang sungguh konyol. Aku merasa seperti mendapat sentilan yang membuatku sadar dari hipnosis.” Oppa kembali berujar dengan senyum menawannya di wajah.
Aku tersenyum tipis selagi merapikan rambutnya yang sudah rapi.
“Tapi kenapa Oppa berkata itu tidak masuk akal? Kalau aku memang benar-benar hamil, sebenarnya itu masuk akal saja.”
Oppa mengangguk-angguk.
“Benar. Masuk akal saja sih. Tapi, kalau kau benar-benar hamil pada percobaan pertama, itu artinya aku benar-benar hebat.”
“Augh! Kenapa kata-katamu vulgar sekali, Oppa?”
Tanpa disadari wajahku bersemu merah. Aku tidak mengerti kenapa Oppa mengatakan hal semacam itu dan membuat suhu tubuhku menaik. Aku tidak habis pikir.
“Kenapa? Apa ucapanku salah?”
“Memang tidak salah. Tapi... tapi, itu sangat vulgar untuk didengar!”
“Maka dari itu—”
“Ah, terserah! Aku tidak mau tau.”
Oppa terkekeh-kekeh melihat wajahku yang semakin bersemu merah seperti tomat. Sementara aku masih sibuk menurunkan suhu tubuh dan membuat wajahku kembali menormal.
Setelah itu Oppa beranjak berdiri dari duduk. Dan otomatis aku mengikutinya berdiri. Melihatnya berjlaan ke arah lemari pakaian. Aku pun menyadari kalau ternyata Oppa masih mengenakan towel dress, belum berpakaian.
“Setelah Oppa selesai berpakaian, datanglah ke rumahku. Bersama Hun Oppa, untuk sarapan bersama.”
Tanpa banyak berpikir Oppa menganggukkan kelapa sementara masih memilih pakaian untuk dikenakannya. Begitu melihat anggukan itu, aku berjalan keluar dari kamar tidur Oppa. Menuruni anak tangga. Hendak kembali ke rumahku untuk melihat apakah urusan Kak Jangmi dengan ibuku sudah selesai.
Begitu tiba di lantai satu, aku bertemu pandang dengan Hun Oppa yang baru dari dapur. Aku terdiam sejenak saat melihat Hun Oppa. Tetapi dia mengabaikanku. Ia berjalan melintasiku seolah tidak menyadari keberadaanku di tempat ini. Hun Oppa... masih belum bisa menerimaku, sebagai calon kakak iparnya.
“Oppa,” aku memanggil.
Hun Oppa yang berjalan menaiki tangga, seketika itu berhenti melangkahkan kakinya. Ia termangu beberapa detik. Kemudian berbalik menatapku.
“ Ada apa, Yebin~a?”
***