Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Hari Pernikahan!



**Hari pernikahan!


Yebin POV**


Hari yang kutunggu tunggu ini telah tiba. Hari di mana aku akan melangsungkan pernikahan dengan laki laki yang sangat aku cintai.


Aku telah menunggu hari ini datang. bersama lika liku perjalanan cintaku yang penuh rintangan. Menikah di usia dua puluh lima adalah keinginanku sejak remaja. Aku memutuskan untuk menikah di usia yang tergolong muda untuk wanita di Korea Selatan ini. memang bukan hal yang mudah. Memperjuangkan perasaanku pada laki laki yang sepuluh tahun lebih tua dariku. Yang diselingi oleh kisah cinta segi tiga yang melihatkan adik dari laki laki yang aku cintai.


Duduk di kursi ruang tunggu pengantin ini, ingatanku melayang ke belakang. Aku terduduk sambil memegangi satu buket bunga pernikahan, seraya mengingat pertemuan pertamaku dengan Yul Oppa di Moonlight Coffe. Sampai saat saat paling berat di mana aku melihat laki laki yang kucintai memperjuangkan cintanya untuk wanita lain. lalu kedatangan Hun Oppa yang menjadi penyelamat ku dari semua rasa sakit yang kurasakan akibat ulah Yul Oppa dengan wanita itu. Hingga pada akhirnya, Yul Oppa melamarku dengan mempertaruhkan nyawanya di tengah serasnya hujan dan halilintar.


Semua itu terasa seperti kenangan manis. Semua rasa sakit yang kurasakan di masa lalu bahkan menjadi kenangan manis. Semua ingatan tentang Yul Oppa menjadi kenangan paling manis dalam hidupku, yang tidak akan pernah aku lupakan.


Hari ini juga kami akan resmi menjadi sepasang suami istri bahagia yang saling mencintai. Saling menguatkan langkah. Saling memberi dukungan satu sama lain. saling mencintai dan saling memberikan kasih sayang sampai akhir hayat. Masa depan yang indah telah tergambar di depan mataku saat menatap Yul Oppa. Bersama kami akan melewati semua hambatan dan rintangan. Tidak peduli sebesar apa permasalahan yang akan datang menimpa kami berdua, kami akan melewatinya bersama sama.


Yul Oppa adalah sumber kekuatanku. Ia adalah laki laki yang diutus oleh ayahku dari atas langit untuk mendampingiku sampai akhir hayat. Yul Oppa adalah musim semi untukku. Musim yang menghangatkan dan menyejukkan. Orang yang akan selalu berada di sisiku dan memelukku dengan dekapannya yang hangat. Dan aku adalah perempuan paling beruntung karena berhasil mendapatkan Yul Oppa.


Di ruang tunggu ini perasaan ku berdebar debar. Semua tamu undangan telah datang. aku menunggu di tempat ini sedangkan Yul Oppa ada di depan bersama ibu untuk menyapa para tamu undangan.


Di ruangan ini teman teman kuliahku datang dan mengajakku berfoto. Mereka memberiku banyak hadiah dan juga ucapan selamat. Saudara dari kerabat jauhku dan kerabat Yul Oppa juga datang, menyapaku dan mengajakku berfoto.


Setelah beberapa waktu lalu Somin dan teman teman kuliah ku masuk untuk berfoto denganku, kini ada Hun Oppa di dalam ruangan. Hun Oppa tadi datang bersama wanita hakim yang saat itu datang ke rumah Yul Oppa. Tetapi Hun Oppa memasuki ruang tunggu ini seorang diri, tanpa wanita itu.


“Selamat Yebin~a, berbahagialah bersama kakakku.”


Hun Oppa mengucapkan selamat untukku. Aku hanya tersneyum hangat menanggapi ucapan selamat Hun Oppa.


“Terima kasih, Oppa. Aku juga berharap kau menemukan seorang wanita yang bisa membuatmu bahagia setiap saat,” balasku.


Setelah menanggapi ucapanku dengan senyuman, Hun Oppa duduk di kursi yang disediakan di sebelah kursi yang aku tempati. Hun Oppa menggesert kursi kayu itu lalu mendudukinya, berhadap hadapan denganku.


“Ada yang ingin kukatakan padamu.”


Aku terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apa itu?”


Hun Oppa meraih tangan kananku. Mengganggam tanganku dengan hangat. Untukku, genggaman ini hanyalah sebatas ungkapan kasih sayang sesama keluarga, tidak ada artian lebih.


“Awalnya aku merasa keputusanmu untuk menikah dengan kakakku ini adalah hal yang kejam. Kau tahu betul aku juga memiliki perasaan yang serius untukmu. Dan aku selalu mengupayakan yang terbak untukmu, tidak pernah membuatmu terluka apalagi sampai menangis. Tapi, setelah kupikirkan kembali, aku lah yang paling serakah. Di antara kau dan kakakku, akulah yang paling egois dan serakah. Kau tau kenapa?” Hun Oppa berkata. Aku hanya menatapnya dalam tanpa memberi respon. Diam ku ini adalah pertanda bahwa aku berharap Hun Oppa segera melanjutkan kalimatnya.


“Karena aku sudah merenggut semua yang kakakku miliki. Kakakku memperjuangkan segalanya untukku. Kakak ku meneruskan bisnis ibu kami meski ia sama sekali tidak minat berbisnis. Aku tahu betul, mimpi kakak ku sejak kecil adalah menjadi seniman seperti ayah. Tapi karena aku memutuskan untuk menjadi hakim dan memperjuangkan mimpiku tanpa melihat keadaan sekitarku, kakak ku mau tidak mau yang mengambil alih bisnis. Saat orang tua kami meninggal, kakak ku sendirian di Korea. tanpa keluarga, tanpa siapa siapa, kakakku berjuang sendirian di sini, untukku, satu satunya keluarganya yang tersisa. Aku tahu betapa kakakku merasa kesepian setiap kali meneleponku. Tapi aku selalu meyakinkannya dan bertahan untuk menetap di Amerika demi mencapai tujuanku. Tapi dia tidak pernah mengeluhkan keputusanku. Dia juga selalu meyakinkanku bahwa ia di Korea baik baik saja, meski kuyakin saat ia berkata begitu ia tidak lah sedang baik baik saja di sini.”


Hun Oppa menjede kalimatnya. Kulihat matanya yang berkaca-kaca saat menceritakan Yul Oppa.


“Tapi sejak ia mengenalmu, kakakku tidak terdengar kesepian sama sekali ketika aku meneleponnya. Dia terlihat lebih ceria dan bahagia, berkat kau, Yebin~a. Aku yang membuatnya selalu merasa kesepian dan sedih karena harus bertahan sendirian. Sedangkan kamu, kamu yang membuat kakakku selalu tersenyum ceria dan juga tertawa. Lalu aku menyadari, aku tidak boleh serakah. Sudah saatnya aku membiarkan kakakku bahagia dengan wanita yang dicintainya, sudah saatnya pula aku tidak menjadi beban lagi untuknya. Aku berharap kau bisa membahagiakan kakakku. Dan pastinya aku juga berharap kau bahagia.”


Hun Oppa mengakhiri ceritanya. Lalu tersenyum penuh pilu padaku.


Aku membalas genggaman tangan Hun Oppa. Kemudian menanggapi semua ceritanya itu.


“Hun Oppa tidak pernah menjadi beban untuknya. Justru, Hun Oppa adalah sumber kekuatan untuk ia melewati semuanya. Yul Oppa menyayangimu, karena itulah ia selalu mendukung apa pun yang kau inginkan,” ucapku. Kemudian aku menguntai senyuman lembut di bibir. “Aku akan selalu bahagia bersama Yul Oppa. Yul Oppa juga akan selalu bahagia bersamaku. Untuk itu, Hun Oppa juga harus bahagia bersama orang yang tulus mencintaimu. Hun Oppa pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.”


Yul Oppa tampak terkejut melihat keberadaan adiknya di ruangan ini. Namun ia segera menguntai senyum semringah dan menceltuk, “Pantas saja aku mencarimu di mana mana tidak ada. ternyata kau ada di sini,” celetuk Yul Oppa pada adiknya.


Seketika itu Hun Oppa berdiri dari duduk.


“Aku kemari untuk mengucapkan selamat pada Yebin,” balas Hun Oppa.


Yul Oppa menganggukkan kepala. Saat itu juga Hun Oppa berjalan pergi, hendak keluar dari ruangan ini sebelum kakaknya menceletuk.


“Hun~a, kakak mu ini akan menikah setelah hidup tiga puluh tahun melajang. Apa kau tidak mau memberikan satu pelukan?” ujar Yul Oppa.


Hun Oppa tampak terdiam sejenak sebelum berjalan mendekat kepada kakaknya dan langsung berpelukan. Kedua kakak beradik laki laki yang sama sama tampan dan rupawan itu saling berpelukan dengan mesra layaknya sepasang kekasih. Aku yang mengamati keduanya, tersenyum hangat.


“Selamat atas pernikahanmu, Hyung.”


Kudengar Hun Oppa mengucapkan hal itu kepada kakaknya. Yang segera dibalas oleh Yul Oppa dengan celetukan.


“terima kasih. Kuharap kau juga segera menemukan pasangan hidupmu.”


Begitu mendengar kata itu, Hun Oppa segera melepaskan pelukan hangatnya. Ia pun merutuk, “Ah, Hyung itu benar-benar. Aku masih ingin fokus pada karirku. Kenapa kau mendoakan hal semacam itu?”


“Memangnya kenapa? Kau tidak tahu betapa menyenangkannya menikah.”


“Aku tidak peduli. Aku keluar saja dari pada mendengarmu mengatakan hal hal aneh.”


Sambil merutuk rutuk Hun Oppa berjalan keluar, meninggalkan aku dan Yul Oppa berdua di ruang tunggu ini.


“Aku tahu sebenarnya dia juga ingin. Tapi malu malu mengungkapkannya.”


Yul Oppa terkekeh kekeh sembari menggumam. Ia berjalan mendekat padaku. Lalu duduk tepat di atas kursi pengantin bersamaku. Menunggu acara di mulai sebentar lagi.


Perlahan lahan Yul Oppa memutar bahuku. Membuatku menyerongkan tubuh berhadapan dengannya. Kudapati wajah Oppa yang tersenyum bahagia sembari kedua tangannya membelai lembut wajahku.


“Kau sangat cantik hari ini. Mahkota itu juga sangat cocok kau gunakan.”


Aku tersenyum.


“Oppa juga sangat tampan dengan pakaian itu,” ucapku.


Senyuman Yul Oppa mengembang kian melebar. “Sudah tidak diragukan lagi. setiap hari aku memang tampan. Hanya saja hari ini aku lebih tampan karena sangat bahagia.”


Apa yang Yul Oppa katakan itu membuatku terkekeh kekeh. Kami terkekeh bersama sebelum seorang yang bertugas menjadi pembawa acara pernikahan membuka pintu dan menyuruh kami untuk keluar karena acara sebentar lagi akan dimulai.


Yul Oppa berdiri dari duduk. Ia mengulurkan tangan kanannya kepadaku.


“Ayo, kita keluar dan melingkarkan cincin di jari masing masing.”


***