
Hun berdiri dari duduk begitu mendapati kakaknya pulang setelah mengantar Haeri. Ia melihat Yul masuk ke dalam rumah setelah memasukkan mobil ke bagasi.
“Hyeong.”
Langkah Yul terhenti sejenak mendengar panggilan adiknya. Keduanya bertatapan sedangkan Hun berjalan menghampiri sang kakak.
“Soal tadi....”
“Aku lelah. Kita bicara besok saja.”
Yul menyela ucapan Hun dan segera berlalu pergi. Menaiki tangga menuju lantai dua. Di tengah perjalannya, Hun dari lantai satu menceletuk.
“Bukannya kau sudah menolak Yebin?”
Pertanyaan itu sontak membuat langkah Yul berhenti. Ia menghela napas dalam-dalam kemudian menoleh ke belakang. Hun sedang menaiki anak tangga dan mereka pun berdiri berhadapan di anak tangga yang sama.
“Kenapa kau seperti ini, Hyeong? Kalau kau sudah menolak Yebin, pastinya kau akan merelakannya untukku. Aku mencintai Yebin. Aku tulus menyayanginya. Oleh karena itu aku membantunya menobati luka yang kau torehkan.” Hun berucap tegas. Wajahnya ini benar-benar serius menatap Yul tajam.
Yul bergeming. Matanya yang legas menatap Hun serius.
“Kalau kau sudah menolak Yebin, tidak seharusnya kau terlihat cemburu seperti ini. Aku tidak bodoh untuk tidak tahu apa yang kau rasakan saat ini, Hyeong.”
Yul pun tahu kalau adiknya itu sangat cekatan dan pintar membaca situasi. Namun, untuk saat ini Yul hanya ingin....
“Hentikan.” Pria itu akhirnya mengeluarkan sepatah kata. “Aku tidak ingin berdebat denganmu. Jadi, hentikan.”
Tanpa menunggu lama lagi Yul pun melanjutkan langkahnya. Menaiki tangga dan sampailah ia di lantai dua. Namun, Hun tidak berhenti. Ia menyusul kakaknya dan kembali bertanya dengan keras.
“Kau menyukai Yebin?” tanya Hun yang seketika membuat tubuh Yul membeku. Raut wajah Yul makin mengeras ketika mendengar Hun kembali melontarkan kata-kata. “Mungkinkah, kau menyukai Yebin setelah memberinya luka sedalam itu? Kau yang menolak Yebin dan membuatnya terluka, Hyeong! Tapi, kau menyukainya?”
“Hentikan!”
Yul sontak berteriak sambil berbalik menatap Hun yang memasang raut wajah tercengang, tidak percaya. Pernapasan Yul memberat. Dadanya naik turun karena pernapasan yang berat itu. Keduanya bertatapan dengan tatapan geram masing-masing.
“Kubilang, hentikan,” ucap Yul di sela pernapasannya yang tidak teratur.
Tatapannya yang tajam itu perlahan berubah sayu saat bertatapan dengan Hun, sang adik. Yul merasa ini bukan saat yang tepat untuk mereka memperdebatkan hal ini. Hanya Hun satu-satunya keluarga yang tersisa. Yul tidak ingin menyakiti adiknya baik secara emosi atau pun fisik. Jika perdebatan ini diteruskan, salah satu atau kedua-duanya akan babak belur dan berakhir di rumah sakit. Yul tidak ingin ada pertengkaran semacam itu di keluarga yang tersia dua anggota; ia dan adiknya. Ia tidak ingin hal ini menjadikan pertarungan antar saudara yang tidak pernah berakhir. Yul, memutuskan untuk berhenti.
“Aku tidak dalam keadaan baik untuk berdebat denganmu, Hun~a. Kita bicara besok, atau lusa, atau kapan pun.”
Setelah mengucapkannya, Yul berjalan cepat meninggalkan Hun. Masuk ke dalam kamar tidur dan menutup pintunya rapat-rapat. Sementara Hun yang melihat kakaknya tenggelam ke balik pintu, seketika itu mengembuskan napas panjang.
“Jadi kau juga menyukai Yebin... setelah melukainya seperti itu.”
***
Akhir bulan Januari adalah saatnya Yebin mengawali kembali perkuliaannya di semester baru. Apa pun yang terjadi, tahun ini juga Yebin harus lulus kuliah. Ia membangun tekad tersebut dan berusaha memfokuskan diri untuk menyelesaikan penelitian akhir kuliahnya. Selama kurang lebih sampai lima bulan ke depan, Biniemoon yang mulai ramai digunakan orang-orang untuk berbelanja, dikelola oleh dua orang kakak sepupunya.
Salah satu kakak sepupu perempuan dari ayah Yebin yang juga merupakan orang bisnis itu baru saja menikah. Ia terpaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai manajer salah satu brand di departemen store karena diminta suaminya untuk mengurus ibu mertua di rumah. Dan Yebin memasrahkan Biniemoon untuk sementara waktu kepada kakak sepupunya tersebut yang mengurusi website. Sementara pengemasan pesanan dan pengiriman barang, diurus oleh kakak sepupu lainnya yang sekarang tinggal di rumah Yebin. Kakak sepupu perempuan dari ibu bernama Jangmi tersebut bekerja sebagai guru les di Seoul. Ia menginap di rumah Yebin karena belum menemukan tempat tinggal yang tepat untuk ditinggalinya setelah ia diterima bekerja di Seoul sebagai guru les piano di sebuah lembaga les musik Gangnam.
“Stok baju desainer Danie tinggal satu? Baiklah. Nanti aku akan menelepon mereka untuk mengirimkan pakaian dari brand desainer Danie secepatnya. Sementara kosongkan saja stok baju Danie di website. Kalau barangnya sudah datang, baru kita buka kembali produknya.”
Yebin memegangi ponsel di telinga kiri sementara tangan kanannya menyendok sup tulang.
“Aku nanti pulang sore. Kak Jangmi tidak perlu menungguku pulang.”
Tepat setelah itu panggilan telepon Yebin dengan Jangmi berakhir. Yebin meletakkan ponsel ke atas meja restoran dan melanjutkan kegiatan makan siangnya.
“Sepertinya Biniemoon-mu terus berkembang. Apa kau tidak berniat memperbesar jangkauan pasarnya?”
Suara Hun di seberang meja membuat pandangan Yebin menaik. Laki-laki itu terlihat sedang menikmati makan siangnya bersama Yebin di sebuah restoran yang berdiri dekat gedung pengadilan.
“Tentu aku harus memperluas jangkauan pasarnya. Tapi, untuk itu aku harus lulus dulu. Tahun ini tidak peduli apa pun aku harus lulus. Setelah itu aku benar-benar bisa fokus mengembangkan pasar Biniemoon. Penjualannya sudah stabil dalam beberapa bulan terakhir. Aku tinggal memperluas jangkauan pasar dan membangun kerja sama dengan banyak pihak lainnya.” Yebin menjelaskan panjang di sela kegiatan makannya.
“Wah, kau hebat sekali. Saat aku seusiamu, aku tidak bisa apa-apa selain belajar dengan giat. Aku belum bisa menghasilkan uang dan hanya minta uang saku pada kakakku,” cerita Hun. Mungkin itu yang membuatnya jatuh cinta pada Yebin. Karena Yebin berbeda dari wanita lain.
“Hei, bagaimana seorang hakim berkata begitu? Tentu Oppa yang lebih hebat daripada aku. Kau menjadi hakim di usia muda dan langsung ditugaskan di Pengadilan Pusat Seoul. Ah, tahun depan kau pasti sudah berada di Mahkamah Konstitusi.” Yebin membalas ucpaan Hun.
Hun terkekeh. “Jangan berlebihan. Aku masih merasa sangat kurang dan masih perlu banyak belajar.”
Senyum manis teruntai di bibir Yebin.
“Aku sungguh tidak menyangka,” kata Yebin.
“Seorang hakim menyukaiku.”
Perkataan Yebin sontak membuat kepala Hun menaik perlahan. Ia menatap wanita itu yang menggumam-gumam sendirian.
“Wah... di kehidupanku yang sebelumnya, aku pasti orang yang sangat baik dan berbudi luhur. Melihat bagaimana sekarang seorang hakim yang terhormat menyukaiku.”
“Hidupmu pasti sangat diberkati,” sahut Hun pelan.
Peralatan makan Hun diletakkannya ke atas meja. Ia menatap lurus ke arah Yebin yang memasang raut wajah sungkan. Sudah berlalu lama sejak Hun menyatakan perasaannya kepada Yebin setelah mereka berciuman malam itu. Dan Yebin belum bisa memberikan jawaban apa-apa karena merasa bimbang. Mereka hanya menghabiskan waktu bersama seperti ini tanpa ada kejelasan hubungan.
“Kau tidak perlu merasa sungkan padaku. Tidak mendengar jawaban apa pun aku tidak masalah. Asalkan kau masih tetap bersedia menghabiskan waktu bersamaku seperti ini.”
Ucapan Hun tersebut membuat pandangan Yebin menyayu. Ia tak dapat berbuat apa-apa di hadapan Hun yang baik hati dan selau menjaganya dengan baik. Ia juga tak dapat melupakan luka yang telah Yul goreskan.
Hati Yebin memang berdebar-debar saat bersama Hun. Saat mereka jalan bersama, makan bersama, dan menghabiskan waktu bersama, jantung Yebin berdetak kencang. Namun ia masih belum bisa melupakan luka yang digoreskan terlalu dalam oleh Yun. Saat bersama Hun, perasaan Yebin memang lebih baik. Namun, saat berhadapan kembali dengan Yul, perasaannya juga masih bergetar dan itu sangat menyakitkan. Apa yang Yul lakukan di sore hari. Kenapa pria itu kadang tak ikut makan malam bersama di rumah Yebin. Kenapa ia jarang terlihat di rumah dan apa dia sibuk juga di akhir pekan. Yebin selalu penasaran terhadap semua hal itu, dengan bodohnya. Ia selalu mengkhawatirkan Yul yang akhir-akhir ini sangat sibuk dan jarang muncul di hadapannya. Juga merindukan pria itu, seperti orang bodoh.
Yebin tidak tahu pasti kenapa perasaannya bergetar karena dua laki-laki yang berbeda. Jantungnya berdetak kencang saat bersama Hun. Namun ia tak dapat melupakan kerinduannya pada Yul. Yebin merindukan Yul yang dulu. Yang selalu ada untuknya dan selalu menyapanya dengan menyerikan namanya menjadi Nona Kang. Yebin merindukan itu. Jantungnya bahkan berdetak keras saat ia sedang memikirkan Yul. Hanya sedang memikirkannya. Dan itu sangat menyakitkan.
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika Oppa mengatakan hal tersebut,” sahut Yebin beberapa waktu kemudian. Hun memperlihatkan lesung pipitnya melihat Yebin yang mengembuskan napas panjang-panjang.
“Aku sungguh. Aku tidak mengharapkan balasan cinta darimu. Cukup izinkan saja aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Seperti ini. Dengan menghabiskan waktu bersamamu.”
Perkataan sungguh-sungguh yang diungkapkan Hun dengan serius itu membuat Yebin terdiam beberapa waktu. Kemudian kepalanya mengangguk-angguk. Ia tidak tahu apakah menggantung perasaan Hun itu adalah hal yang benar. Dan ia juga tidak yakin apakah kenyamanan yang dirasakannya saat bersama Hun itu adalah perasaan cinta yang pernah dirasakannya terhadap Yul. Ah, semua ini sangat membingungkan.
“Kapan pun Oppa merasa kesepian, panggil saja aku. Aku akan datang dengan cepat begitu kau memanggilku.” Yebin berkata.
Hun terkekeh-kekeh mendengar jawaban Yebin.
“Bagaimana jika aku memanggil saat kau sedang melakukan penelitian atau bertemu profesormu?” canda Hun.
“Hei... aku yahu Hun Oppa tidak akan melakukannya.”
Yebin menebarkan senyuman jahil di wajahnya yang menawan. Itu membuat Hun kembali terkekeh sebelum ada panggilan masuk.
“Sebentar,” kata Hun sambil merogoh saku jas yang disampirkannya di kursi restoran. Ia menjawab panggilan dari rekan kerjanya di kantor.
“Sekarang juga? Baiklah. Aku akan kembali ke kantor sekarang.”
Panggilan telepon Hun berakhir dalam waktu singkat. Ia menutup teleponnya sambil memakai kembali jas hitamnya dan meminum air putih di atas meja restoran.
“Oppa akan kembali sekarang juga?”
“Hm. Ada urusan mendesak. Aku pergi dulu. Nanti aku akan meneleponmu.”
Hun yang tergesa-gesa itu telah keluar dari restoran. Menghilang dari hadapan Yebin yang belum menyelesaikan makan siangnya. Kembali ke kantor karena ada urusan yang sangat mendesak. Yebin yang kini sendirian, mengangguk pasrah dan melanjutkan makan siangnya sampai habis. Setelah itu, barulah ia kembali ke perusahaan tempatnya melakukan penelitian yang letaknya hanya sekitar seratus meterean dari restoran ia berada saat ini.
Saat kembali ke perusahaan, jam makan siang masih tersisa lima belas menit. Yebin berjalan di lobi perusahaan dan tiba-tiba saja ada yang menyerukan namanya.
“Yebin~a!” panggil seorang teman Yebin yang juga melakukan penelitian di perusahaan ini.
Kepala Yebin seketika menoleh. Ia mendapati Hayeong yang berjalan ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Yebin begitu Hayeong tiba di hadapan.
“Sejak tadi ada yang mencarimu.”
“Mencariku? Siapa?”
“Aku tidak tahu. Katanya dia kakakmu dan sekarang sedang menunggumu di atap,” jelas Hayeong.
Tanpa menunggu lama Yebin mengangguk. “Hm. Baiklah. terima kasih.”
Dengan benak yang bertanya-tanya Yebin berjalan menuju lift. Masuk kedalam lift yang akan membawanya ke atap bangunan perusahaan ini. Entah siapa yang menunggunya di atap, sepertinya orang tersebut memiliki koneksi di perusahaan ini. Tidak ada orang luar yang bisa masuk perusahaan dengan mudah. Yah, kecuali orang tersebut menggunakan koneksi dari dalam.
Setibanya di atap, Yebin berjalan mencari-cari orang yang menunggunya. Di salah satu sudut atap yang tak terlalu panas karena cuaca mendung hari ini, seorang pria berdiri.
Pria tinggi yang berpenampilan santai-rapi. Kemeja lengan pendek motif dengan dua kancing bagian atas yang tak dipautkan. Celana denim panjang yang terdapat dua sobekan di bagian lutut. Ikat pinggang kulit. Sepatu kulit hitam yang dipoles mengkilap. Serta, tatanan rambut hitam yang disisir rapi menggunakan gel. Tidak salah lagi. laki-laki yang berdiri di sudut selatan ruang atap dengan menghadap ke luar itu adalah pria yang sangat Yebin kenal. Pria dengan tangan seniman yang kini bekerja sebagai bos kafe.
***