
Menjelang Pernikahan
Yul POV
Aku hendak mengeluarkan mobilku dari bagasi, ketika mobil Hun tiba di halaman rumah. Di dalam mobil Hun hanya terlihat Hun seorang diri, tanpa ada sesosok wanita yang kemarin lusa berangkat bersamanya. Dari dugaanku, sepertinya Hun lebih dulu mengantar wanita itu ke apartemennya. lalu pulang ke rumah pada hari Minggu siang ini.
“Hun~a, bagaimana akhir pekanmu? Menyenangkan? Apa jantungmu berdebar-debar?”
Kuceletuki Hun yang sedang turun dari mobilnya dengan raut wajah bersungut-sungut. Melihat raut wajah Hun yang mudah ditebak itu, aku pun menyimpulkan.
“Ah, tidak berjalan dengan baik? Kenapa?” Aku lanjut menanyai.
“Sudahlah, Hyung! Aku capek. Berhenti menanyaiku.”
Begitu Hun menanggapi pertanyaanku dengan raut wajahnya yang sebal. Entah apa yang terjadi padanya, aku hanya menduga kalau kencannya bersama hakim bernama Cho Jinhee itu tidak berjalan dengan baik.
Mengabaikan Hun yang sedang murung, aku berjalan masuk ke dalam mobil. Melanjukan mobil keluar dari bagasi. Lalu berhenti tepat di depan gerbang rumah Yebin. hari ini adalah hari di mana kami akan menemui desainer interior yang akan mendesain ruang resepsi kami minggu depan.
Aku memencet klakson mobil. tidak lama setelah itu, Yebin yang telah berdandan cantik, keluar dari gerbang. Ia segera masuk ke dalam mobil. memakai sabuk pengaman.
“Kau sudah makan siang?” tanyaku pada Yebin yang selesai memasang sabuk pengaman. Aku mulai melajukan mobil menjauhi gerbang rumah, menuju distrik Gangnam tempat gedung pernikahan kami berada.
“Sudah. Bagaimana denganmu Oppa?” Yebin balik bertanya.
Aku ikut mengangguk. “Sudah. Tadi ibu mengantarkan lauk pauk untukku dan juga Hun.”
“Hun Oppa sudah pulang?”
“Baru saja. tapi dia terlihat murung. Sepertinya kencannya tidak berjalan dengan baik.”
“Kasihan sekali Hun Oppa,” gumam Yebin.
Perjalanan kami berlanjut. Di sela kegiatan mengendara ku, Yebin mengajakku mengobrolkan banyak hal. Hingga tanpa terasa mobil yang membawa kami menuju gedung pernikahan ini telah sampai di tempat tujuan. Aku dan Yebin turun dari mobil. melangkah bersama memasuki gedung pernikahan dan bertemu desainer interior yang akan mendekorasi ruang pernikahan kami minggu depan.
“Baik. Tuan menginginkan desain interior yang seperti apa?” Seorang desainer interior mengajakku berbicara selagi memasuki ruangan auditorium luas yang akan menjadi tempat pernikahanku dengan Yebin kelak.
Aku menggeleng gelengkan kepala.
“Tidak. Semuanya ku serahkan pada calon istriku. Jadi silakan berbicara dengannya tentang desain interior,” kataku. Jujur saja. aku tidak peduli desain interior apa untuk pernikahanku. Yang aku butuhkan hanyalah menikah dengan Yebin. Jadi tidak masalah Yebin ingin interior yang seperti apa. Kupasrahkan saja semuanya padanya.
Setelah itu Yebin mulai menjelaskan interior yang ia inginkan. Ia menjelaskan tentang interior gaya kerajaan Rusia yang dikelilingi perabotan keramik dan juga souvenir berwarna emas. Bunga tulip warna oranye dan merah. Karpet turkey yang penuh dengan pernak pernik. Serta lampu hias berbentuk rembulan dan segala hal yang sifatnya sangat mendetail. Sudah kuduga, Yebin memang tipe orang yang totalitas dalam mengerjakan sesuatu. Ia mempertimbangkan segala hal dan sedetail-detailnya.
Sembari Yebin memberikan penjelasan secara terperinci kepada desainer interior pernikahan, aku hanya berjalan di sebelahnya. Mengamati sekeliling sekaligus berangan angan tentang semua hal yang dilontarkan oleh Yebin mengenai desain interiornya.
Beberapa waktu setelah itu, saat Yebin masih sibuk bercakap-cakap dengan desainer interior, ponsel di dalam saku kemejaku bergetar. Aku mengambil ponsel yang ada di dalam sakuku. Kulihat telepon yang masuk dari Jisoo, manager Moonlight Coffe Gangnam yang sangat kupercaya sekaligus yang menjadi tangan kananku dalam mengella bisnis kafe.
Tak menunggu lama aku menjawab telepon yang masuk dari nomor Jisoo. Lalu menempelkan ponselku pada salah satu telinga.
“Halo, ada apa Jisoo~ssi?”
Aku bercakap cakap cukup lama dengan Jisoo di seberang telepon yang sedang melaporkan sebuah peristiwa yang terjadi di kafe Gangnam. Aku mendengarkan laporan itu dengan seksama.
Setelah mencerna semua laporan yang dilaporkan Jisoo, aku menanggapi.
“Aku akan ke kafe sebentar lagi. Katakan pada mereka untuk menungguku datang.”
Tepat setelah itu panggilan kami berakhir. Yebin, yang telah selesai bercakap-cakap dengan desainer interior, berjalan mendekatiku.
“Oppa, kau sedang apa?” tanya Yebin begitu tiba di hadapanku.
“Ooh, kau sudah selesai?” aku balik bertanya tanpa menjawab pertanyaannya.
“Belum. Mereka masih mau memperlihatkan beberapa desain taplak dan juga karpetnya. Kenapa?”
Yebin memerhatikan dengan seksama raut wajahku yang tampak cemas. Mungkin aku terlihat buru-buru setelah mendapat laporan dari Jisoo.
Aku tahu seharusnya aku bisa menemani Yebin mengurus semua hal untuk persiapan pernikahan. tetapi lagi lagi ada urusan mendesak yang tak dapat kuhindari. Dengan berat hati, aku menjelaskan situasiku kepada Yebin.
“Yebin~a, sepertinya aku harus buru buru ke kafe. Apa kau tidak apa apa sendirin di sini dan mengurus interiornya sampai selesai? Urusanku tidak akan lama kok. Aku akan segera kemari lagi untuk menjemputmu nanti. Aku benar benar minta maaf.”
Yebin diam dalam waktu lama mencerna kata kataku. Aku tidak dapat menebak ekspresi wajahnya. Tetapi aku menatapnya penuh permohonan, berharap Yebin bisa mengerti dan mengizinkanku untuk pergi ke kafe sekarang juga.
Cukup lama untuk aku mendengar jawaban dari Yebin. Kelihatannya Yebin mempertimbangkan kata kataku matang-matang.
“Aku juga ikut,” jawab Yebin tanpa kuduga.
“Apa? Lalu bagaimana dengan interior....?”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat tanyaku, Yebin berjalan menghampiri seorang desainer interior. Ia tampak mengatakan suatu hal pada desaineer itu sebelum kembali berjalan mendekatiku.
“Aku mengatakan pada mereka untuk mengirimkan desainnya melalui email. Jadi kita bisa pergi sekarang. Ayo.”
Tanpa pikir panjang Yebin menarik tanganku keluar dari auditorium. Meski merasa ragu apa yang membuat Yebin bergitu kukuh ingin ikut aku ke kafe, aku pun hanya menuruti permintaannya.
“Tunggu sebentar di sini. Aku akan ke ruanganku dulu,” ucapku. Yebin hanya menganggukkan kepala menuruti ucapanku. Dan aku pun segera naik ke lantai dua, menuju ruanganku.
Begitu aku membuka ruangan, kulihat empat orang, termasuk Jisoo berada di dalamnya. Jisoo bersama tiga orang perempuan yang merupakan karyawan Moonlight Coffe.
“Tuan, Anda sudah datang?” sapa Jisoo sambil membungkukkan tubuh kepadaku.
Aku menganggukkan kepala. Berjalan menuju meja kerjaku yang terdapat tiga lembar surat pengunduran diri dari karyawanku.
Napasku terhela panjang melihat surat pengunduran diri itu.
Dan, beginilah keadaan kafeku saat ini. Palanggan kafe terus berkurang setiap harinya. Karyawanku sedikit demi sedikit mengundurkan diri karena merasa kafeku yang sedang dilanda krisis ini tidak memiki harapan lagi untuk bangkit.
Sejak muncul banyak artikel tentang Moonlight Coffe gara gara kasus penghindaran pajak yang dilakukan oleh Kwon Suk, image kafeku menurun. Banyak ulasan negatif yang tersebar di internet. Para pelanggan memilih untuk pindah kafe karena tak mau percaya lagi pada Moonlight Coffe yang terkena kasus hukum terkait pajak.
Kasus penghindaran pajak memang bukan hal yang asing lagi di negeri ini. Tetapi ksebelumnya kafeku sangat dipercaya. Sehingga mungkin banyak yang merasa kecewa ketika melihat berita yang beredar di internet tentang penghindaran pajak Moonlight Coffe dan manajer salah satu cabangnya yang terjerat kasus hukum yang sangat tercela, penggelapan dana.
Aku mengambil tiga surat pengunduran diri yang ada di atas mejaku. Membawa ketiga surat ini menuju sofa dalam ruangan. Aku terduduk di atasnya, menatap ketiga karyawan Moonlight Coffe yang memutuskan untuk pergi.
“Kalian yakin tidak akan menyesal?” tanyaku meyakinkan.
Ketiga karyawan wanita itu menundukkan kepala selama beberapa saat. Hingga satu orang di antara nya ada yang berani menaikkan pandangan dan bertatapan denganku.
“Kami juga butuh penghidupan, Tuan Moon. Dengan keadaan kafe yang seperti sekarang, saya tidak bisa menjamin berapa lama saya bisa bekerja di sini. Mohon pengertiannya,” ucap salah satu karyawan bernama Minah.
“Aku akan tetap menggaji kalian meski kafe sepi pelanggan. Kalian hanya perlu melakukan tugas kalian seperti biasanya,” tegasku.
“Tetapi Tuan Moon juga tidak tahu berapa lama lagi Moonlight Coffe akan bertahan.”
Tanpa kusadari kedua mataku bergetar. Benar. Aku memang tidak tahu berapa lama lagi Moonlight Coffe akan bertahan dengan usalan negatif dan artikel buruk yang beredar di mana mana. tetapi, aku tetap akan mempertahankan Moonlight Coffe dengan segala jerih payahku.
“Aku sedang mencari cara untuk memulihkan nama baik Moonlight Coffe. Bagaimana pun Moonlight Coffe akan bertahan. Apa kalian tidak bisa menunggu?” tanyaku dengan tegas.
Karyawan wanita bernama Minah, yang satu satunya karyawan yang berani angkat suara itu menatapku dalam keheningan. Cukup lama. lalu ia melontarkan suatu hal yang sama sekali tidak kuduga.
“Bukannya Tuan Moon akan menikah? Anda pasti sibuk mempersiapkan pernikahan Anda. Dan Anda pastinya tidak memiliki waktu yang lebih untuk memikirkan cara mengatasi krisis yang sedang terjadi di Moonlight Coffe. Bagaimana Anda mau mengatasi semua permasalahan yang ada di saat Anda sendiri masih sibuk mengurusi pernikahan?” ucapnya tandas.
“Minah ~ssi, jaga bicaramu!”
Kudengar Jisoo yang langsung menceletuki Minah yang blak blakan berkata demikian. Tidak dapat kupungkiri, pernikahanku di tengah semua permasalahan yang terjadi ini memang terkesan seperti itu. Seolah aku sedang melakukan pelarian dari semua masalah kafe dengan menikah di tengah permasalahan yang masih berlangsung.
“Tidak apa-apa,” aku segera menengahi Jisoo yang langsung naik pitam karena perkataan jujur Minah.
Setelah merenungkan cukup dalam, aku menganggukkan kepala. Dengan berat hati aku mengabulkan permintaan ketiga karyawanku yang ingin mengundurkan diri dari kafe.
“Baiklah jika itu keinginan kalian. Aku kabulkan pengunduran diri kalian. Dan semoga kalian bertiga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”
Setelah mendengar kata kataku, ketiga karyawan yang berada di ruanganku berdiri dari duduk. Mereka membungkukakn tubuh bersamaan, memberikan salam untuk terakhir kalinya kepadaku sebagai pemilik kafe.
“Terima kasih, Tuan Moon. Maafkan kami.”
“Tidak apa-apa. Kalian sudah bekerja keras untuk kafe selama ini.”
Setelah itu mereka berjalan keluar dari ruanganku. Di ruangan ini hanya terdapat aku dan juga Jisoo.
“Apa yang akan Anda lakukan, Tuan Moon?” tanya Jisoo sekepergian tiga orang karyawan yang telah mengundurkan diri. “Artikel yang beredar di internet semakin banyak. Kafe pesaing sepertinya memanfaatkan momen ini untuk menjatuhkan Moonlight Coffe. Pun kebanyakan artikel yang beredar di internet itu ditulis oleh wartawaan sewaaan yang disewa oleh kafe pesaing. Bagaimana Anda akan mengatasinya?”
Akibat kasus itu semua memang terkena dampaknya. Terutama Moonlight Coffe dan semua cabangnya yang tersebar di Seoul. Bahkan semua karyawan Moonlight Coffe dan aku sendiri merasakan dampak dari kasus Kwon Suk.
“Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan berita yang beredar. Kita mencari kesepakatan dengan wartawan sewaan untuk menghapus semua artikel buruk mereka tentang Moonlight Coffe. Setelah itu baru kita pikirkan strategi untuk meningkatkan market, bisa dengan iklan atau pun melakukan kerja sama dengan media patner untuk mengubah persepsi publik tentang Moonlight Coffe.”
Selagi menjelaskan, aku berdiri dari duduk. Merasa urusanku telah selesai, aku hendak keluar dari ruang kerjaku sebelum Jisoo kembali melontarkan pertanyaan.
“Apa pernikahan Anda jadi dilangsungkan Sabtu besok?” tanyanya ragu.
Sejenak aku terdiam.
“Jadi. Aku sudah berjanji untuk menikah dengannya musim panas tahun ini. Aku tidak bisa membuatnya menunggu terlalu lama lagi.”
Mendengar penjelasanku, Jisoo menganggukkan kepala.
“Baik. Anda bisa persiapkan dulu pernikahan Anda. Masalah wartawan itu, biar saya yang membuat kesepakatan dengan mereka,” kata Jisoo meyakinkan.
Aku tersenyum. Kinerja Jisoo memang sudah tidak dapat diragukan lagi. aku telah memercayainya sejak tahun pertama menjadi pemilik Mooblight Coffe.
“Terima kasih.”
Aku keluar dari ruang kerjaku kemudian. Namun aku dibuat terkejut oleh kericuhan yang terjadi di lantai satu kafeku. Bukan kericuhan pelanggan, (mengingat pelanggan kafe yang tidak begitu banyak, mungkin tidak lebih dari sepuluh orang). Itu adalah keributan pelayan kafe dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Kang Yebin. benar, Kang Yebin! Ia terlihat sedang bertengkar dengan dua orang pelayan kafe.
***