Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Bangunkan aku di pagi hari!



Bab 22


Bangunkan aku di pagi hari!


Malam terasa semakin sunyi ketika Mino menghabiskan waktunya di rumah dengan sendirian. Malam minggu, malam akhir pekan. Lelaki itu hanya seorang diri di rumah dengan satu kaleng bir di genggamannya yang menjadi temannya menghabiskan malam.


Rencananya malam ini ia akan menonton bersama Lysa sesuai janji mereka jauh jauh hari. Namun Lysa perlu beristirahat dengan tenang. Mino bahkan tidak tega melihatnya begitu kecepekan karena bekerja keras di kafe. Dan ia juga ingin membiarkan Lysa istirahat dengan baik meski itu artinya janji menonton mereka harus batal.


Hal yang menggangu pikiran Mino saat ini bukanlah janji kencannya yang batal. Juga bukan tentang Lysa yang mungkin sekarang sudah terlelap dalam tidur yang menyenyakkan. Yang Mino pikirkan adalah kejadian yang disaksikannya saat hendak keluar dari kampus setelah mengantar Lysa ke asrama. Kejadian yang membuatnya benar benar terkejut.


Rasanya, semua ini seperti lingkaran setan yang tiada habisnya. Bagaimana bisa, wanita yang memiliki kenangan masa lalu begitu membekas di hati Mino itu bersama dengan laki laki yang sempat dicintai oleh Lysa, wanita yang sekarang mulai singgah di hati Mino dan membuatnya bangkit kembali dari keterpurukan masa lalu yang dirasakannya. Dan bagaimana, Lysa yang membuat hari Mino terbuka kembali itu memiliki hubungan yang sedikit rumit dan dekat dengan laki laki yang akan dinikahi mantan kekasihnya, Jiwon.


Semua itu terasa tidak masuk akal sama sekali. Sekali saja, Mino tidak pernah membayangkan siapa laki laki yang akan menikah dengan Jiwon dan tidak pernah penasaran akan hal itu. Karena mengetahuinya hanya membuat luka Mino di masa lalu terbuka kembali dan membawa rasa yang teramat perih untuknya. Dan sekarang, semuanya telah Mino ketahui, seorang diri.


Suara pelan mengalun dari speaker dalam rumah Mino. Sebuah lagu berjudul ‘Dont Worry’ yang dinyanyikan ulang oleh Jo Jong Suk dan DO Exo itu sedang berputar, mengisi keheningan malam yang terasa dingin ini. Suara dari speaker yang mengalun lembut itu perlahan lahan mencairkan hati Mino. Lelaki itu sedang berdiri menghadap jendela. Menatapi keadaan luar, mengamati penjuru kota Seoul yang berkelap kelip pada malam hari seperti bintang. Lelaki itu sedang melamun, bersama satu kaleng bir di genggaman yang masih tersisa setengah.


Untuk saat ini, mungkin hanya Mino yang tahu tentang hal itu. Atau mungkin, Lysa pernah meliat Jiwon bersama Brian namun gadis itu tidak mengenali siapa wanita yang dilihatnya. Dan mungkin juga, Jiwon pernah melihat Lysa tetapi tidak mengenali siapa gadis itu.


Entah mengapa semuanya menjadi sangat sulit untuk Mino keluar dari masa lalunya. Ia ingin bebas. Ingin memulai cerita baru dengan seorang wanita yang mampu menghapus secercik luka dan rasa kekosongan dalam dirinya. Namun, untuk merasa bebas itu rasanya sangat sulit. Terlalu banyak kenangan dan kisah yang telah Mino lalui bersama Jiwon di masa lalu, meski itu semua berakhir dengan kepedihan yang tiada tara.


Mino tidak ingin salah langkah dengan segera memulai cerita baru bersama wanita yang ia inginkan saat ini, Kim Lysa. Ia tidak ingin menjadikan gadis itu pelampiasan masa lalunya. Mino tidak ingin memulai cerita cinta kembali sebelum hatinya benar benar bebas dari masa lalu. Bukan karena ia meragukan Lysa, tetapi karena ia tidak ingin semata mata menjadikan Lysa pelampiasan dari luka luka yang dirasakannya akibat Jiwon. Mino tak ingin menjadikan Lysa seperti itu. Lysa terlalu berharga dan terlalu berarti untuknya. Namun Mino tidak ingin salah langkah sehingga akan menimbulkan permasalahan yang besar di masa depan. Dan untuk saat ini, yang lelaki itu inginkah adalah, melangkah perlahan lahan bersama Lysa. Melupakan perlahan lahan apa yang pernah terjadi padanya di masa lalu, kemudian melupakan semua kenangan itu dan memulai kembali kisah cinta bersama Lysa.


Kadang Mino berpikir, apakah terlalu cepat untuknya bertemu ‘wanita baru’ di saat ‘wanita lama’ itu belum benar benar hilang dari ingatannya? Namun semuanya sudah terlanjur. Dan ia tidak ingin menyalahkan siapa siapa atas semua itu. Tidak ingin menyalahkan Lysa, dan tidak ingin menyalahkan dirinya yang terlalu gegabah dalam membuka hatinya kepada Lysa. Tetapi ketika melihat Lysa secara langsung, semua keraguan Mino hilang. Ia tak menyesal sedikit pun karena mengenal Lysa. Hanya saja, hanya saja waktu bertemu mereka sedikit tidak tepat. Benar benar tidak tepat.


Andai saja keduanya bertemu setelah Mino bisa melupakan Jiwon, mungkin keadaan tidak akan serunyam ini, mungkin perasaan Mino tidak akan bercampur aduk seperti ini. Namun, sekali lagi. Ini bukan salah siapa siapa. Mino elah dipertemukan dengan Lysa dan merasa bahwa keberadaan Lysa sangat berarti untuknya. Ia hanya perlu menjalani semua ini dengan perlahan lahan. Tanpa membuat Lysa ikut tenggelam dalam luka yang Mino rasakan.


Ting tong ting tong.


Suara bel pintu yang terdengar itu seketika membangunkan Mino dari segala lamunannya tentang Lysa. Mino segera meneguk minuman birnya yang tersisa setengah. Lalu membuang kaleng yang sudah kosong itu ke tempat sampah. Sambil bertanya tanya siapa yang datang di waktu semalam ini, Mino berjalan ke arah pintu. Ia menekan salah satu tombol di interphone untuk melihat siapa yang berkunjung ke rumahnya melalui layar interphone.


“Oppa, cepat buka pintunya! Aduh, berat sekali.”


Terdengar suara melengking dari speaker interphone begitu Mino menekan salah satu tombolnya. Dan Mino seketika itu menkan tombol ‘open’ yang membuat pintu apartemennya otomatis terbuka kuncinya. Seorang wanita yang datang ke apartemennya malam malam begini pun langsung masuk ke dalam apartemen Mino dengan satu keranjang besar yang dibawanya.


“Kau tau pasword apartemenku, kenapa repot repot menyuruhku membukakan pintu?” sahut Mino begitu melihat gadis dua puluh tahun yang tidak lain adalah Han Mina, adik perempuannya yang pertama.


“Aku sudah kerepotan membawa keranjang sebesar ini. Bagaimana aku bisa membuka pintu sendiri?” celetuk Mina sambil meletakkan keranjang besi yang terselimuti kain berwarna hitam itu. Seketika keranjang itu diletakkan, ia langsung menghela napas panjang karena lega. “Hfuhhh!”


“Kalau bgeitu kenapa tidak datang dari tadi sore? Sekarang kan sudah malam.” Mino lanjut mengomeli.


“Aku ada les hari ini, Oppa. Bagaimana pun juga tahun ini aku harus masuk universitas! Aku tidak mau membuang buang waktuku lagi. Jadi aku belajar dengan sangat giat dan selalu rajin mengikuti les sampai malam. Ini aku baru selesai les, dan langsung pulang untuk mengambil Mocky lalu berangkat ke sini.” Mina membalas omelan kakaknya dengan mengomel ngomel. Ia berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil satu botol bir.


“Jangan bir!”


Melihat adiknya yang belum cukup umur itu mengambil minuman bir, Mino langsung menceletuk. Ia berjalan cepat ke arah lemari pendingin dan segera merebut kaleng bir yang ada di genggaman Mina.


“Ah, kenapa?! Aku sudah dua puluh tahun, Oppa? Secara hukum aku sudah diperbolehkan minum alkohol,” protes Mina melihat minumannya langsung direbut oleh sang kakak.


“Peraturan dariku, tidak boleh minum alkohol sebelum masuk universitas.” Mino menegaskan.


“Ahh, Oppa!” protes Mina sambil merengek rengek di hadapan Mino. “Bagaimana pun caranya aku akan masuk universitas sebentar lagi. Aku sudah belajar sangat giat, Oppa. Aku sungguhan. Tanya saja pada Minjae kalau tidak percaya. Aku belajar sangat giat untuk bisa masuk universitas tahun ini.”


Ini bukan pertama kalinya Mina merengek ingin minum alkohol di depan Mino. Jadi bukan hal yang mengejutkan mendengar gadis itu merengek seperti anak kecil lagi.


“Tetap saja, tidak boleh!” Mino kembali menegaskan. Dan itu seketika membuat Mina menghela napas panjang, menyerah sekaligus pasrah. “Dan juga, kenapa tidak dari dulu kau giat belajar? Kenapa baru sekarang? Coba saja dari dulu kau giat belajar, kau sudah masuk universitas dan tidak perlu merengek untuk minum bir lagi di hadapanku,” imbuh Mino mengomeli.


Sepertinya gadis bernama Mina yang tahun ini genap berumur dua puluh tahun itu sudah bosan mendengar omelan kakaknya. Ia tak begitu menggubris ocehan kakaknya dan langsung menyambar satu kaleng minuman soda dari dalam kulkas dan berjalan ke arah sofa.


“Tau ah! Pokoknya tahun ini aku akan masuk universitas. Minjae sudah mau lulus SMA. Jangan sampai aku dengan adik laki lakiku masuk kuliah di tahun yang sama. Bagaimana pun aku ini kan kakaknya. Setidaknya aku harus jadi seniornya di kampus.” Mina lanjut mengomel omel sambil meminum birnya di atas sofa. Ia meraih remot tv dan mulai menyalakan televisi untuk melihat acara komedi malam ini.


“Sekarang kau baru sadar? Aku sudah menasihatimu sejak dulu tapi kau tidak pernah mendengarkan, dan sekarang kau baru menyadari hal itu?” sahut Mino sambil melirik adik perempuannya yang wajahnya terlihat kesal meski sedang melihat siaran komedi di televisi.


Mino berjalan menuju keranjang besi besar yang dibawa oleh Mina dari rumahnya. Keranjang itu adalah rumah Mocky, kucing peliharaan Mino yang beberapa minggu lalu ia titipkan pada sang adik saat hendak berangkat ke Jeju. Ketika ia pergi ke Jeju, tidak ada yang merawat kucingnya dan memberinya makan. Sehingga ia menitipkan kucing itu pada Mina untuk dirawat di rumah orang tuanya.


“Apa selama ini kau yang memandikan Mocky?” tanya Mino sambil membuka keranjang besi Mocky. Kemudian ia mengeluarkan kucing betina berwarna abu abu tersebut dan menggendongnya.


Sambil menggendong Mocky, Mino berjalan menuju sofa. Lalu ia terduduk di ujung sofa karena Mina yang selonjoran di atas sofa itu hanya menyisihkan sedikit ruang untuk Mino duduki bersama kucingnya.


“Oppa,” panggil Mina. Gadis itu teringat suatu hal dan langsung terbangun. Ia duduk menghadap Mino dan mengabaikan siaran komedi yang sednag berputar di televisi.


“Hm?” sahut Mino yang perhatiannya masih tertuju pada Mocky yang tampak begitu nyaman dalam pelukannya.


“Kemarin aku melihat kakak ipar,” ucap Mina, yang perlahan membuat perhatian Mino teralih padanya. Mino menatapnya dengan tatapan yang tak dapat Mina mengerti. Yang dimaksud kakak ipar oleh Mina itu adalah Jiwon. Dan Mino masih menunggu adiknya melanjutkan cerita. “Tapi, aku melihat kakak ipar keluar dari mobil berwarna biru. Ah, kupikir Oppa membeli mobil baru tanpa sepengetahuan ku dan Minjae. Tapi, setelah kuperhatikan lagi, sepertinya laki laki yang ada di dalam mobil itu bukang Oppa. Apa yang terjadi, Oppa? Mungkinkah ... kakak ipar selingkuh darimu?” Mina bercerita dengan hati hati, tidak ingin menyinggung perasaan sang kakak.


Sembari mengembuskan napas panjang, Mino mengembalikan pandangannya pada Mocky.


“Aku sudah putus dari Jiwon. Laki laki yang kau lihat itu adalah calon suaminya,” jelas Mino singkat.


“Heol! Daebak. Tcihh.. tidak bisa kupercaya. Oppa putus dari wanita itu? Dan dua sudah mau menikah dengan laki laki lain? Oppa, apa kau dicampakkan olehnya?” Nada suara Mina makin lama makin meninggi. Gadis itu tahu betul berapa lama Mino menjalin hubungan dengan Jiwon dan sejauh maka hubungan mereka berlangsung. Tapi, mereka sudah putus? Dan parahnya lagi wanita yang dipanggilnya kakak ipar selama ini itu sudah memiliki kekasih baru dan akan menikah?


“Itulah yang terjadi.” Mino menanggapi dengan menggumam gumam.


“Aku sudah menduga. Sejujurnya aku tidak begitu menyukai kakak ipar... ah, maksudku tidak begitu menyukai wanita itu,” celetuk Mina sambil kembali berselonjor di atas sofa.


“Kenapa kau tidak menyukainya? Kurasa dia cukup baik untuk kau sukai.”


“Di sudut pandang pria, wanita itu memang mendekati kata sempurna. Tapi dari sudut pandang perempuan, dia sangat kekanakan terlepas dari sikap lugu dan elegan yang dia tunjukkan selama ini. Dan dari awal aku berpikir kalau wanita itu tidak cocok denganmu, Oppa. Kau terlalu baik dan terlalu perhatian untuknya,” ucap Mina.


Apa yang gadis itu ucapkan jauh dari luar digaan Mino. Membuat Mino mengernyit dan seketika menoleh.


“Aku terlalu baik untuknya? Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Mino bingung. Ia sama sekali tidak bisa memahami ucapan adiknya.


“Dia sangat egois dan kekanakan, tidak mau mengalah darimu. Hanya Oppa yang selalu mengalah darinya. Kelihatannya Oppa seperti merawat anak perempuan dari kerajaan yang terbiasa dimanja dan dituruti semua kemauannya, seperti anak TK. Aku tidak menyukainya karena wanita itu membuat Oppa melakukan segalanya untuknya sedangkan dia sendiri tidak pernah berbuat apa apa untukmu. Dan pada akhirnya, Oppa yang ditinggalkan kan?”


Ucapan Mina memang terdengar sedikit berlebihan dan sarkatis untuk Mino dengar. Namun, apa yang dikatakan adiknya itu tidka sepenuhnya salah. Jiwon tubuh sebagai putri semata wayang seorang pebisnis yang sukses dengan semua kesuksesan yang dibawa keluarganya. Wanita itu terbiasa dimanja, dituruti semua kemauannya, diperlakukan seperti ratu, dan selalu dibenarkan setiap perbuatannya meski melakukan kesalahan sekali pun. Memang Mino yang selalu mengalah, karena ia pikir sebagai laki laki ia yang seharusnya mengalah. Dan ia juga selalu menuruti apa yang Jiwon mau, karena ia pikir itu hal yang seharusnya ia lakukan sebagai laki laki.


Jiwon yang tidak menyukai hewan peliharaan itu tidak pernah mau datang ke apartemen Mino karena ada Mocky. Sehingga Mino harus menitipkan Mocky ke kedua adiknya di rumah jauh jauh hari sebelum Jiwon berencana datang ke rumah Mino untuk menginap, merayakan ulang tahun, atau apa pun. Dan selain itu, memang ada banyak hal di mana Mino harus mengalah dan menurunkan egonya untuk Jiwon yang sangat sensitif terhadap banyak hal.


Bagaimana pun, apa yang Mina katakan tentang Jiwon itu memang tidak salah. Namun, tidak sepenuhnya benar juga.


“Mocky, waktunya kamu tidur.” Mino beranjak dari sofa bersama Mocky yang masih berada dalam gendongannya. Kemudian ia menoleh pada Mina yang masih seru menonton acara komedi. “Kau akan menginap di sini?” tanyanya pada Mina.


“Lalu apa Oppa menyuruhku pulang ke rumah di waktu selarut ini? Bus sudah berhenti beroperasi sejak tadi.” Mina menimpali dengan ketus.


“Aku hanya bertanya, kenapa kau sangat sewot? Apa kau itu sedang pubertas lagi?” cetus Mino membalas.


Kemudian Mino berjalan ke depan kamarnya. Meletakkan Mocky ke tempat tidurnya. Sebelum masuk ke dalam kamar, Mino menceletuk, “Pakailah kamar sebelah. Sudah ada bantal dan selimut di sana. Penghangat ruangannya juga sudah aku perbaiki kemarin.”


“Ng,” gumam Mina menjawab.


“Tcih, siapa yang mengajarinya tidak sopan begiu pada kakaknya?” gumam Mino pelan sambil menutup pintu kamar untuk beranjak tidur.


Keesokan paginya, tepat pada ukul tujuh, Mino terbangun dari tidurnya semalaman yang menyenyakkan. Dan seketika itu ia memeriksa ponsel. Seperti yang diduganya, Lysa telah mengiriminya beberapa pesan teks saat tadi ia masih teridur.


Membaca pesan teks yang gadis itu kirimkan, bola mata Mino langsung terbelalak. Rasa kantuk yang masih membuat kedua kelopak matanya terasa berat itu seketika hilang setelah membaca pesan teks dari Lysa.


Mino yang terperanjat itu seketika berdiri dari duduk. Dalam kondisi rambutnya yang masih acak acakan, mata yang masih sembab dan wajah yang masih kusut setelah tidur semalaman, lelaki itu berlari menuju jendela kamarnya. Menyibak korden yang menutupi jendela kaca kamar. Menengok ke bawah, ke arah trotoar jalan.


Di trotoar jalan yang sudah dipenuhi dengan orang orang yang sedang lari pagi itu, seorang gadis berambut panjang terikat menengok ke arah apartemen Mino. Gadis yang tidak lain adalah Lysa itu melambai lambaikan kedua tangannya ke atas seketika melihat Mino menampakkan wajahnya di dekat jendela.


“Ajeossi! Turunlah, ayo berolah raga!” teriak Lysa dari bawah. Membuat Mino ternganga. Laki laki itu sungguh tidak menduga Lysa akan datang sepagi ini di kompleks apartemennya untuk menunggunya bangun dan mengajaknya berolah raga pagi.


**