
Hari pernikahan Hun
“Tuan Moon, kukira kau sedang beristrahat dengan baik di kamar resort. Ternyata kau ada di sini rupanya.” Selagi berjalan dari ligt menuju pintu masuk aula, Leo Park berkata demikian. Ia menyapa Yul yang sedang duduk seorang diri di depan aula.
Sejenak Yul terdiam. Ia mengingat ingat pesan yang diberikan oleh Yebin tentang permintaan supaya Yul berhati hati dengan Leo Park. Permintaan yang sangat membingungkan dari Yebin itu masih terus berputar putar dalam kepala Yul. Membuatnya bertanya tanya, apa yang telah terjadi pada Yebin sehingga menangis tersedu sedu seperti tadi, dan apa yang sedang Leo Park rencanakan di hari menjelang pernikahan Hun dengan Jina ini.
Nampaknya membutuhkan waktu cukup lama untuk Yul memikirkan smeua itu. Sehingga ia lupa membalas sapaan Leo Park yang kini sedang berdiri di hadapannya sambil mengulurkan sekotak rokon dan sebatang pemantik api.
“Sepertinya kau banyak pikiran menjelang pernikahan Hakim Hun. Apa semua kakak memang seperti itu? Aku juga merasakan begitu dan sedikit lega setelah menghabiskan dua atau tiga batang rokok,” lanjut Leo yang mengira bahwa Yul sedang banyak pikiran—memikirkan pernikahan adiknya—sampai sampai tak membalas sapaannya beberapa waktu lalu.
Hal itu rupanya membuat Yul seketika bangun dari lamunan. Pandangannya menaik. Bertatapan dengan Leo Park yang sedang memberinya rokok.
Yul hanya tersenyum tipis. “Aku berhenti merokok. Istriku bisa memarahiku jika terus melakukannya,” kata Yul.
Leo mengangguk anggukkan kepala. “Kenapa kau sangat takut sekali dengan istrimu?” tanya Leo sambil mengambil duduk di sebelah Leo Park.
“Kau akan merasakannya nanti saat memiliki istri. Dan aku hanya merasa bahwa apa yang istriku katakan tentang rokok itu tidak salah. Aku hanya lebih berhati hati menjaga tubuhku,” kata Yul.
Terjadi perubahan sesirat raut luka di wajah Leo Park. Namun ia menyembunyikan itu di balik senyuman bibirnya yang terskesan ramah.
“Kalian itu hobi sekali ya merundung orang yang belum menikah untuk merasakan seperti apa kehidupan pernikahan,” sinis Leo Park sambil menyakui kembali rokok dan pematik api ke alam saku pakaiannya. Ia mengernyitkan salah satu alisnya sambil melirik Yul yang duduk manis di sebelah.
“Apa istriku juga sering mengatakan hal seperti itu?” tanya Yul.
“Ya. Benar sekali. Kadang itu membuatku sangat kesal, tapi kadang juga itu membuatku merasa terdoronh untuk segera menikah.” Leo menjawab.
“Kurasa, semua orang yang sudah menikah akan memberikan jawaban yang sama,” sahut Yul.
Keheningan di antara mereka terjadi setelah itu. Leo terdiam bersama angan angannya tentang suatu hal. Sednagkan Yul pun terdiam karena memikirkan apa yang sedang terjadi kepada Yebin beberapa waktu lalu. Ia masih memikirkannya.
“Tuan Moon, bagaimana kalau kita keluar sebentar untuk mencari udara segar? Ada yang ingin kukatakan padamu.” Setelah beberapa detik berlalu, Leo membuka kembali percakapan. Ia menawarkan hal itu kepada Yul dengan ekspresi wajahnya yang tidak dapat ditebak. Terlihat ramah dan bersahabat sehingga Yul tidak dapat memprediksi apa yang sebenarnya lelaki itu rencanakan.
Saat Yul masih menimbang-nimbang, Leo pun kembali menyahut, “Aku ingin bericara tentang adikku. Kuharap kau tidak menolak untuk mendengarkan beberapa hal tentang Jina yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluargamu.”
Karena Leo berkata demikian, Yul pun tidak dapat menolak. Ia pun menganggukkan kepala sambil beranjak dari duduk.
“Baiklah.”
**
Malam sangat gelap dan dingin. Di luar resort, terdapat kerlap kerlip cahaya lampu yang berasal dari daerah pesisir pantai.
Pohon pohon pinus menjulang tinggi di sekeliling resort. Sangat asri dan menawan. Nuansa gelap dan kelam ini menjadi sangat segar dan penuh dengan kesejukan. Siang atau pun malam, suasana di pulai ini tetap segar dan menenangkan. Rembulan di atas buih buih ombak lautan terlihat begitu cantidka dan bulat, seperti binar mata seseorang. Yul berjalan di antara teduhnya pepohonan depan resort. Berjalan di jalanan setapak yang penuh dengan bebatuan berwarna putih dan lampu lampu taman yang berjajar, memancar dengan begitu terangnya.
“Sebelumnya Jina berkata padaku, kalau dia tidak ingin menikah dalam waktu dekat. Dia masih ingin fokus pada karirnya di kehakiman, dan ingin melahirkan bayi dalam kandungannya tanpa memiliki suami secara sah. Lalu aku memarahinya. Aku membujuknya supaya tidak menyia nyiakan bayi dalam kandungannya itu dengan tetap fokus pada pekerjaannya. Supaya dia tak hanya mengejar kesukesan karir tetapi juga kebahagiaan dirinya sendiri,” cerita Leo. Ia tampak begitu menghayati ceritanya kepada Yul yang berjalan di sebelah. Kedua laki laki itu berjalan di jalanan setapak sambil menghirup aroma segar dari pepohonan pinus yang menjulang.
“Aku bisa memahami perasaan Jina.” Yul menanggapi cerita panjang Leo tentang sang adik. Kemudian Yul kembali bertanya, “Tampaknya kau sangat dekat sekali dengan Jina. Apa benar begitu?”
Leo tersenyum semringah. “Tentu kami sangat dekat. Jina bahkan menceritakan padaku apa yang tidak bisa dia ceritakan kepada orang lain. Dan mendiskusikan segalanya denganku,” cerita Leo Park.
Tidak bisa dimungkiri jika Jina dengan leo Park itu memang memiliki hubungan yang sangat dekat. Seperti kakak adik pada umumnya, seperti Yul dan Hun, keduanya saling memercayai satu sama lain dan menganggap penting satu sama lain. Dari sudut pandang seorang kakak, Yul merasa, jika suatu saat Hun difitnah melakukan suatu hal buruk, ia akan tetap percaya bahwa Hun tidak melakukannya dan Hun hanya mendapat perlakuan tidak adil dari orang orang. Kurang lebih seperti itu yang terjadi pada Jina. Pastinya Jina akan lebih memercayai kakaknya sendiri daripada mendengarkan perkataan orang lain yang tidak seperti keinginannya.
Sampai detik ini, kecurigaan Yul pada Leo Park sebenarnya telah terkumpul sebanyak delapan puluh persen. Ia yakin, sangat yakin, bahwa Leo Park adalah orang yang bisa melakukan kejahatan semacam itu. Seperti melakukan manipulasi bukti dan kesaksian. Juga orang yang bisa melakukan tindakan keji pada orang lain. Namun, Yul masih bersabar. Ia tidak ingin tindakan gegabahnya dapat memicu pertengkaran antara Hun dengan Jina—yang sampai detik ini masih sangat memercayai Leo Park, kakaknya. Sehingga pergerakan Yul pun sangat perlahan. Ia pun meminta kepada Haeri supaya tidak gegabah dalam mengambil tindakan karena itu akan memicu konflik besar antara Jina dengan Hun yang besok baru akan melangsungkan pernikahan.
“Ah, aku hampir lupa. Tolong sampaikan maafku mada istrimu. Tidak sengaja kami tadi bertemu di lift dan aku mengatakan beberapa hal yang mungkin membuatnya tersinggung,’ cetus Leo Park di tengah keheningan yang berlangsung. Lelaki itu mengucapkannya dengan begitu ringan dan dengan raut wajah yang menunjukkan penyesalan apa apa.
Di sisi lain Yul tersentak. Ia langsung menoleh kepada Leo.
Yebin... di lift. Jangan angan....
Berbagai macam pemikiran terlintas di otak Yul. Ia sungguh penasaran dan bertanya tanya apa yang tadi terjadi kepada Yebin sampai membuat wanita yang biasanya tegar itu menangis tersedu sedi dengan begitu pilunya di pelukan Yul. Yebin bahkan tidak mengatakan apa apa, dan hanya berkata kepada Yul supaya berhati hati kepada Leo Park.
Maksud dari kata berhati hati itu sebenarnya cukup ambigu utnuk Yul terjemahkan. Namun, Leo Park mengaku bahwa dirinya tadi bertemu dengan Yebin di lift. Bahkan meminta maaf secara tidak langsung atas apa yang terjadi. Berarti, apa yang terjadi pada Yebin beberapa waktu lalu itu disebabkan oleh Leo Park. Yul menarik kesimpulan setelah beberapa detik diam mencerna kalimat Leo.
“Apa yang terjadi pada istriku? Kau berbuat apa padanya?” Yul menanggapi dengan sinis perkataan Leo. Tatapan matanya tak selembut dan seramah beberapa waktu lalu. Pun kakinya berhenti melangkah dan ia menyerongkan tubuh menghadap Leo Park yang masih memasang wajah tidak berdosa.
“Aku? Aku tidak melakukan apa apa pada istrimu. Aku hanya mengatakan beberapa hal saja. Dan mungkin istrimu salah mengartikan ucapanku.” Leo berkata penuh percaya diri.
Kening Yul mengerut dalam. “Maksudmu?”
Tersirat kemarahan yang memercik di tatapan mata Yul. Ia tengah menahan diri untuk tak meluapkan kemarahannya kepada Leo Park sekarang juga.
Menanggapi itu, Leo Park hanya tersenyum sinis.
“Jangan salahkan aku. Aku hanya merasa lelah karena selalu diperlakukan kasar olehnya. Padahal dia sendiri tau betapa aku mengaguminya selama ini.”
Mendengar apa yang Leo ucapkan, kemarahan Yul seketika meledak di dalam benak. Tatapannya seolah olah ingin membakar rambut Leo sekarang juga. Namun, daripada meladeni lelaki yang jelas jelas memiliki niat butuk terhadap Yebin, lebih baik Yul pergi dari tempat ini dan menemui Yebin yang merasa sangat terpukul.
Tanpa berkata apa apa, Yul segera berlalu meninggalkan Leo. Ia hanya menatap tajam lelaki itu sebelum melangkah menjauh di jalanan setapak yang hanya diterangi oleh cahaya temaram.
Seketika Yul berjalan menjauh, Leo tersenyum menyeringai menatapinya dari belakang. Lalu ia mengeluarkan suatu benda dari saku jaket hitam yang dikenakannya. Sebuah pisau lipat yang memiliki ujung runcing. Mata pisau itu berkilat terkena cahaya dari temaram yang berdiri di sebelah Leo Park berdiri. Lelaki itu menyeringai tajam menggunakan sudut matanya yang gelap. Lantas berjalan mendekat ke arah Yul dengan pisau lipat di genggaman yang sudah siap digunakannya untuk menusuk nusuk organ dalam tubuh Yul.
Tiga langkah mendekat. Dua langkah medekat. Satu langkah mendekat....
“Yul-a!”
Satu teriakan seorang wanita sontak membuat langkah kaki Leo berhenti. Lelaki itu gelagapan menyembunyikan pisau lipat di genggamannya kebalik punggung.
“Jin Haeri?” sahut Yul menanggapi seruan seorang perempuan yang memanggilnya dari kejauhan. Dari jarak sepuluh meteran, terlihat Jin Haeri yang sedang melambai lambaikan tangannya kepada Yul.
Apa yang direncanakannya malam ini gagal. Leo Park buru buru melipat kembali pisaunya. Memasukkannya kembali ke dalam saku jaket seolah tidak terjadi apa apa. Lalu ia berjalan lebih cepat, mendahului Yul yang sedang ingin menyapa temannya, Jin Haeri yang tadi sore tiba di pulau bersama rombongan tamu lainnya.
**
Tibalah di hari yang ditunggu tunggu. Hari pernikahan Hun dengan Cho Jina.
Setelah melaui proses yang sangat panjang, juga segala persiapan yang dilakukan, akhirnya tiba juga di hari pernikahan Hun dengan Jina. Di waktu yang menunjukkan pukul dua siang ini, resepsi pernikahan sedang dipersiapkan. Dua mempelai sedang berada di ruang tunggu pengantin untuk berfoto dengan beberapa tamu undangan yang telah mempersiapkan diri untuk mengikuti acara resepsi.
Hun tampak tampan dan gagah dengan setelah hitam yang melekat pada tubuhnya. Tubuhnya yang langsing itu terbalut pakaian pengantin dengan sempurna. Rambut hitamnya ditata rapi dengan gel rambut yang tidak akan pudar meski terkena badai dan topan. Wajahnya yang tersenyum itu memperlihatkan lesung pipit yang cukup dalam, memperlihatkan kebahagiaan yang ia rasakan di momen paling bersejarah dalam hidupnya ini.
Begitu pun dengan Cho Jina yang duduk di samping Hun dengan elegan. Wanita itu memakai haun pengantin berwarna putih bersih seperti pakaian bidadari. Rambutnya terurai dengan lekukan lekukan rambut yang membuatnya semakin menawan. Tak lupa mahkota cantik yang menengger di atas kepalanya. Tidak ada yang tidak melihat kebahagiaan di wajah Jina yang sedang berfoto dengan keluarga besarnya dan juga pengantin pria.
Membutuhkan waktu cukup lama untuk Jina berfoto dengan keluarga besarnya. Hingga beberapa waktu kemudian, semua anggota keluarga itu keluar dari ruang tunggu untuk mengambil duduk di tempat yang telah disediakan di dalam aula.
Begitu ruang tunggu pengantin itu menyepi, Yul masuk bersama Yebin dan juga putranya, Hanyul. Lelaki itu tersenyum dengan begitu semringah melihat adik tersayangnya yang mengenakan pakaian itu untuk melangsungkan pernikahan. Kini semua terasa nyata. Apa yang semula hanya ada dalam angan angan Yul (tentang pernikahan Hun) telah menjadi nyata melihat sepasang manusia itu duduk bahagia di kursi ruang tunggu pengantin sambil berpegangan tangan dan tersenyum semringah satu sama lain.
“Paman! Jangan sampai paman nanti kesleo saat berjalan di depan, Paman!”
Di dalam pelukan Yul, Hanyul tiba tiba menceletuk. Anak kecil yang digendong oleh ayahnya itu tiba tiba menyeru sambil melambai lambaikan tangannya kepada Hun, pamannya yang suka bermain sepak bola, yang mau menikah.
“Aduh, baiklah. Paman akan hati hati supaya tidak kesleo.” Hun memberikan jawaban lugas untuk menanggapi seruan Hanyul. Sambil terkekeh kekeh ia berkata demikian, melihat Yul yang menggendong Hanyul berjalan mendekat.
“Waah, kau tambah tampan saja dengan pakaian seperti itu. Sudah kuduga, kau memang adikku yang menuruni ketampanan itu dariku,” desus Yul yang sedang beranjak duduk di sebelah sang adik. Ia tersenyum dengan percaya diri selagi mendudukkan Hanyul di antara ia dengan Hun.
“Wajah tampanku ini diturunkan dari ayah, bukan darimu, Hyung,” protes Hun tidak terima.
“Itu sama saja. Karena sebelum kau dilahirkan aku sudah lahir duluan dan mewarisi wajah tampan ayah,” balas Yul.
Hun mendensah panjang. Merasa pasrah saja atas apa yang Yul katakan.
“Terserah Hyung saja deh.”
Setelah itu, Kang Yebin yang masih berdiri itu menghampiri Hun dan Jina. “Selamat untuk kalian. Hun Oppa, selamat menikah. Semoga pernikahan kalian bahagia selamanya,” kata Yebin. Ia membungkukkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Hun, lantas memeluk Jina.
Sepasang manusia itu terlihat sangat bahagia. Karena Yebin pernah berada di posisi ini, ia seolah bisa merasakan apa yang sedang kedua mempelai itu rasakan. Pastinya, senang, bahagia, penuh haru, gugup, dan sebelenggu rasa lain yang tak dapat dideskripsikan.
“Terima kasih, Kang Yebin alias, kakak ipar,” ucap Hun membalas ucapan selamat yang diberikan Yebin.
Yebin terkekeh kekeh. Padahal dulu Hun yang berkeinginan tidak memanggil Yebin sebagai kakak ipar atau apa pun yang menunjukkan identitasnya sebagai istri dari Yul. Namun, sekarang Hun yang memanggil Yebin duluan dengan sebutan kakak ipar. Yebin terkekeh kekeh mendengar hal itu. Dalam waktu bersamaan, ia berpikir bahwa akhirnya Hun dapat menerimanya sebagai kakak ipar, bukan sebagai Kang Yebin saja.
Setelah itu Yul memeluk hatu Hun. Menoleh kepada sang adik lalu tersenyum penuh rasa haru dan rasa senang.
“Selamat menikah, adikku. Aku tahu selama ini kau menjalani kehidupanmu dengan sangat keras. Kau sangat keras kepala dan tidak ada seorang pun yang bisa menyalahi kehendakmu. Tapi akhir akhir ini kau sudah mulai berubah menjadi seseorang yang lebih lunak dan dapat mengekspresikan kasih sayangmu pada orang orang yang kau sayang. Kau juga lebih peka dan tak sekeras sebelumnya. Peranku, jangan sia siakan wanita yang ada di sampingmu, Hun-a. Dia yang akan menemanimu saat kau berada di titik paling bawah kehidupan. Dan yang akan menghiburmu ketika dunia seolah olah berbalik darimu. Jaga istrimu baik baik. Jaga perasaannya dan lindungi dia.”
Tutur nasihat lembut dari sang kakak itu terucap unutk Hun yang kini berada dalam titik baru kehidupan. Yul menasihati Hun demikian sebagai kakak yang teramat menyayangi adiknya. Sekaligus sebagai seorang yang lebih berpengalaman dari Hun dalam hal pernikahan. Meski usia pernikahan Yul dengan Yebin itu memang masih sangat muda, tetapi Yul telah melalui beberapa hal bersama Yebin sejak awal pernikahannya. Itu yang membuatnya merasa cukup untuk bisa memberikan nasihat nasihat baik kepada Hun yang selangkah lagi memasuki kehidupan pernikahan.
Hun tersenyum menanggapi tutur sang kakak. Tersenyum lembut. Lalu membalas rengkuhan tangan Yul pada bahunya.
“Terima kasih, Hyung. Akan kuingat semua nasihatmu.” Hun menanggapi.
“Baguslah.”
Tepat setelah itu, seorang fotografer yang siap memfoto momen penuh haru ini memberikan aba aba. Ia selesai menata kameranya dengan tripot yang berdidi beberapa meter di depan.
“Sudah siap?” celetuk fotografer itu sambil mengacungkan tangan.
Kepala Yun dan juga Hun langsung tertoleh pada seruan fotografer tersebut. Yebin yang duduk di sebelah sang suami pun merapatkan duduknya dengan Yul. Menggandeng lengannya untuk berfoto bersama kedua mempelai yang hari ini menikmati momen bahagia mereka bersama.
“Kalau sudah siap, saya hitung sampai tiga. Satu... dua... tiga.”
Creet!
Kilatan putih yang menyebar di seiri ruang menjadi tanda bahwa foto bersama itu telah diambil. Setelahnya, kelima orang yang duduk di kursi pengantin itu melanjutkan foto selama beberapa saat. Mencoba berbagai pose dan gestur.
Begitu merasa puas mengambil beberapa jepretan foto dengan mempelai laki laki dan perempuan, acara resepsi pun akan dimulai. Seorang yang bertugas mengkoordinis berjalannya resepsi pernikahan menghampiri Hun dan Jina di ruang tunggu. Berkata kepada mereka bahwa acara sebentar lagi di mulai dan mempersilakan masing masing mempelai untuk mengambil tempat di dalam aula.
Begitu mendengar instruksi itu, Yul, Yebin, Hanyul, dan sepasang mempelai itu berjalan keluar. Hun berjalan dengan menggandeng Jina yang kesulitan berjalan menggunakan gaun pengantin yang lebar. Sedangkan Yul berjalan sambil menggendong tubuh Hanyul di dapan dadanya.
“Yul-a.”
Suara panggilan itu terdengar begitu Yul keluar dari ruang tunggu. Di depan pintu ruagan, terlihat Jin Haeri yang memasang wajah cukup serius.
Keberadaan Haeri itu membuat Yul merasa cukup tersentak. Lelaki itu lantas menjawab, “Haeri-ya, ada apa? Kenapa kau ada di sini tidak bersama tamu undangan yang lain? Ada apa?”
“Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Bisa kita bicara sebentar? Mungkin tidak akan memakan waktu sampai lima menit.” Haeri berkata.
Mempertimbangkan ajakan Haeri tersebut, Yul terdiam selama beberapa detik. Sepertinya hal yang sangat penting. Dari raut wajah Haeri yang cukup serius dan menggambarkan sedikit kepanikan itu, Yul dapat menilai bahwa apa yang ingin wanita itu katakan adalah hal yang sangat serius.
Yul pun menoleh kepada Yebin yang masih berdiri di sebelahnya dengan raut penuh tanda tanya. Kemudian menagap Hanyul, putranya, yang ia gendong.
“Hanyul duluan ke aula dengan ibu ya? Ayah ada urusan sebentar saja,” kata Yul kepada putranya. Lalu ia menurunkan tubuh mungil Hanyul dan lanjut berkata kepada Yebin. “Duluan ke sana ya Sayang. Aku akan menyusul sebentar lagi, tidak akan lama,” ucapnya membujuk Yebin.
Sejujurnya Yebin tak merasa curiga karena hal itu. Karena ia tahu, bahwa Haeri adalah penasihat hukum yang Yul pekerjakan untuk mengungkap semua di balik kasus kecelakaan Hun dan orang orang yang terlibat di dalamnya. Sepertinya apa yang hendak mereka bicarakan itu adalah hal yang serius. Jadi Yebin pun menganggukkan kepala.
“Baiklah. Aku tunggu bersama Hanyul.”
Kemudian Yebin meraih tangan Hanyul. Mengajaknya berjalan pelan menuju aula tempat resepsi diselenggarakan. Mencari tempat duduk khusus yang telah disediakan untuknya. Sementara Yul dan Haeri, masih berdiri di depan ruang tunggu pengantin yang telah kosong tersebut utnuk berbicara empat mata.
Sekepergian Yebin dan semua orang dari ruang tunggu ini, Yul pun bertanya kepada Haeri.
“Ada apa Haeri? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yul penasaran.
“Aku mengatakan ini karena sepertinya kau tidak menyadarinya semalam,” ucap haeri yang membuat Yul bertambah bingung.
“Apa yang kau maksud?”
“Aku melihatnya. Semalam, aku melihat Leo Park yang hampir mencelakaimu, Yul-a,” kata Haeri dengan wajah cukup panik.
Kening Yul mengerut dalam. “Apa maksudmu? Mencelakaiku? Kapan?”
Haeri mengembuskan napas panjang. “Semalam, waktu kalian berdua berjalan di luar. Aku melihat lelaki itu memegang sebuah benda tajam yang terbuat dari titanium. Aku bisa melihat cahaya lampu yang memantul di benda tajam yang mau dia tusukkan padamu itu. Makanya tiba tiba aku memanggilmu dan dia akhirnya mengurungkan niat untuk mencelakaimu,” jelas Haeri panjang lebar karena tidak habis pikir. Ia pikir Yul akan tahu hal itu sehingga tak mengatakannya semalam. Namun, ternyata Yul tidak tau apa apa dan terpaksa Haeri harus memberi tahunya hal itu.
Wajah Yul terlihat kaget, seperti tak percaya. Ia masih berusaha mencerna apa yang Haeri katakan.
“Maksudmu... dia mencoba mencelakaiku?” Yul bertanya lirih untuk meyakinkan apa yang telah dicernanya di dalam otak.
Tapa ragu Haeri menganggukkan kepala.
“Tidak hanya mencelakaimu, tapi membunuhmu.”
**
Yul masih teringat dengan baik sebuah kejadian yang terjadi pagi hari sebelum pesta pernikahan Hun di laksanakan.