
“Oppa, wanita seperti apa yang kau sukai?” Yebin kembali melontarkan pertanyaan kepada Hun yang menggendongnya. Perlahan-lahan kaki Hun melangkah semakin dekat ke rumah. Sepanjang perjalanan dari toserta itu, mereka memperbincangkan banyak hal.
“Aku? Hm... aku menyukai wanita sepertimu. Yang keras kepala dan pekerja keras.”
Jawaban Hun itu seketika membuat Yebin tersenyum sipu. Di tengah kegetiran benak karena penolakan Yul, candaan Hun semacam ini sedikit demi sedikit mengobati lukanya.
“Apa-apaan? Aku bertanya serius. Mana ada laki-laki menyukai wanita yang keras kepala. Ibuku bahkan selalu khawatir kalau aku tidak akan bisa mendapatkan kekasih karena sikapku yang keras kepala.”
Hun sedikit menoleh ke belakang. Bertatapan sekilas dengan Yebin yang memiringkan kepala.
“Aku serius. Aku tidak bohong.”
“Sungguh?” Yebin memekik terkejut melihat Hun yang tampak serius. “Baiklah. Aku anggap itu serius. Tapi jangan menyesal setelah mengatakannya nanti.”
Hun terkekeh-kekeh mendengar kalimat Yebin yang seperti ancaman, lebih tepatnya peringatan. Ya. Peringatan untuk tidak menyesal setelah berkata menyukai wanita yang keras kepala.
“Oppa, apa kau tahu?”
“Apa?”
“Selera wanita itu ternyata aneh. Mana ada laki-laki yang saat ditanya wanita seperti apa yang kau sukai dan langsung menjawab ‘yang keras kepala’. Itu terdengar aneh. Normalnya lelaki akan menjawab yang pintar, yang cantik, yang menawan, yang memiliki senyum yang indah, seperti itu jawaban yang ideal. Kalau ‘yang keras kepala’ itu terdengar....”
“Hahahaha!”
Hun tak dapat menawan tawanya dan terbahak-bahak mendengar perkataan Yebin. Setelah mencernanya lagi, ia merasa aneh. Menjadikan wanita yang keras kepala sebagai tipe ideal itu sedikit....
Kedua manusia itu tertawa terpingkal-pingkal di pagar rumah Yebin. Hun yang menggendong Yebin, terlihat tidak bisa berhenti menertawakan jawabannya yang memang aneh itu.
Di sudut lain, ada seorang pria yang mengamati kedua manusia di depan pagar rumah Yebin. Ia adalah Yul, yang tengah duduk di balkon lantai tiga untuk melukis. Pria itu mengamati Yebin dan Hun yang sedang tertawa renyah bersama dengan tatapan yang tidak dapat dimengerti.
Perasaan yang tidak mengenakkan itu kembali bersemayam di hati Yul. Membuat dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernapas.
“Perasaan apa lagi ini?” keluh Yul sambil menggosok-gosok dadanya yang terasa sakit di dalam. Ia melihat Hun yang telah membawa Yebin masuk ke dalam rumah.
Yul pun mengembalikan pandangannya pada lukisan di hadapan. Ia melanjutkan kegiatan melukisnya dengan perasaan sesak itu.
Tangan Yul berbuat kesalahan dengan terbentuknya sebuah garis yang tidak diinginkan di atas kanvas. Setelah mengamatinya kembali, Yul mendapati lukisannya benar-benar rusak. Polesan cat minyaknya terlihat berantakan dan kontur warnanya tidak sepadan. Untuk pertama kalinya, Yul merasa tangan pelukisnya telah membuat kesalahan begitu fatal. Yul yang semakin disesakkan dengan kesalahan lukisannya, seketika itu berdiri dari duduk dan mengambil lukisannya yang rusak itu. Membantingnya dengan keras ke lantai dan menendang kaki meja tempatnya melatakkan cat minyak dan palet hingga cat itu tumpah berceceran di atas lantai balkon.
***
Yul berjalan tergesa untuk membukakan pintu gerbang kepada Haeri yang bertamu malam ini.
“Haeri~ya, apa yang terjadi?” tanya Yul khawatir begitu selesai membuka pintu gerbang. Ia mendapati Haeri yang terlihat habis menangis.
“Aku sudah berakhir, Yul~a. Semuanya sudah berakhir.” Wanita itu melirih. Air matanya jatuh berlinangan sembari menatap sendu ke arah Yul.
“Kemarilah.”
Segera Yul meraih kedua bahu Haeri untuk diajaknya masuk ke dalam rumah. Melihat Haeri yang langsung datang tanpa meneleponnya begini, Yul berpkiran kalau kali ini permasalahan Haeri bukan hal sepele.
Di dalam rumah itu Hun sedang sibuk membaca buku sastra di atas sofa. Ia menoleh mendapati keberadaan Haeri yang sedang dirangkul Yul.
Hun hanya terdiam mendapati kedua manusia itu yang naik ke lantai dua. Ia mengembuskan napas panjang melihat Yul yang mengajak Haeri masuk ke ruang kerjanya.
“Hyeong tidak akan bisa berkencan jika terus mengurusi Kak Haeri.”
Selesai menggumamkan hal itu, Hun kembali menolehkan pandangannya pada buku bacaan. Pada saat yang sama, ponselnya berdenting mendapat satu pesan masuk dari teman KakaoTalk yang dinamainya Kang Yebin.
Sementara Hun sibuk membalas pesan teks dari Yebin, Yul sibuk menenangkan Haeri yang sedang menangis. Pria itu mendudukkan Haeri ke kursi sofa dalam ruang kerja. Mengulurkan kotak tisu kepada Haeri yang terlihat benar-benar bersedih.
“Apa yang terjadi?” tanya Yul.
Begitu tangisannya itu mereda, Haeri mulai bercerita.
“Aku dengan Gojun~ssi sudah putus. Dia memiliki wanita lain selain diriku. Aku memergokinya sedang berselingkuh dan langsung memutuskannya. Sekarang... semuanya benar-benar berakhir. Sepuluh tahun hubungan yang kujalin, benar-benar berakhir.”
Haeri kembali meneteskan air matanya menceritakan kehancuran hatinya. Yul yang kaget medengar laki-laki itu selingkuh, seketika naik darah. Ia beranjak dari duduk dan menceletuk, “Di mana laki-laki brengsek itu sekarang? Aku akan memberinya pelajaran. Katakan di mana dia berada saat ini.”
“Jangan, Yul~a!” Haeri meraih tangan Yul yang terlihat seperti ingin menghajar Gojun sekarang juga. Ia menahan tangan Yul hingga membuat pria itu duduk kembali ke atas sofa.
“Aku sudah mengakhiri semuanya dengan baik. Dan tolong rahasiakan ini dari ibuku. Ibuku terlanjur berharap aku bisa menikah tahun ini juga.”
Apa yang Haeri ucapkan itu justru membuat napas Yul berembus semakin panjang.
“Bagaimana kau akan menyembunyikan ini dari ibumu? Cepat atau lambat ibumu akan tahu,” kata Yul.
“Kumohon. Hanya kau yang bisa kupercaya, Yul~a.”
Kedua manusia itu menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam ruang kerja Yul untuk bercerita. Yul mencoba menenangkan perasaan Haeri yang hancur berkeping-keping setelah hubungan yang dijalinnya sepuluh tahun bersama Gojuh berakhir. Lebih dari siapa pun, Yul seolah bisa merasakan kesedihan hati Haeri. Ia menghabiskan waktu cukup lama di ruang kerja bersama Haeri hingga tanpa terasa hari pun semakin malam.
Di tengah jalanan kompleks yang sangat sepi itu, Yebin berjalan perlahan bersama Hun di sebelahnya. Keduanya tengah menikmati bir bersama embusan angin malam yang cukup dingin.
“Akhir-akhir ini aku sudah seperti pecandu alkohol. Hampir setiap malam aku meminum bir.” Yebin bercerita sambil berjalan dengan setengah menyeret kaki kanannya yang digips.
“Tidak. Hanya saja aku selalu ingin minum bir saat malam hari. Lihatlah, aku sekarang aku juga mengajakmu keluar untuk minum bir bersama.” Yebin mengangkat kaleng birnya sambil berbicara kepada Hun.
Ia tadi mengirimi pesan teks kepada pria itu untuk mengajaknya minum bir sambil jalan-jalan di luar. Hun yang kebetulan sedang bersantai di rumah pun langsung keluar untuk menemani Yebin minum bir. Pria itu juga berpesan bahwa dirinya hanya akan meminum satu kaleng bir dikarenakan besok ia harus bekerja.
“Apa karena kakakku?”
Pertanyaan Hun sontak membuat Yebin menoleh. Sebenarnya, iya. Yebin yang menjadi kecanduan alkohol itu disebabkan oleh luka hatinya akbat penolakan Yul. Dan setiap kali ia merasa terluka, hanya Hun seorang yang ada di benaknya. Hanya laki-laki itu yang bisa menghibur perasaan Yebin.
“Sebenarnya aku ingin menjawab ‘tidak’. Tapi, bagaimana lagi? Aku tidak bisa berbohong pada laki-laki yang berbaik hati padaku.”
Senyum manis Hun mengembang.
“Kau tidak perlu berbohong. Lagi pula aku akan tahu kalau kau itu berbohong. Orang yang bekerja di bidang hukum sepertikudibekali untuk bisa mendeteksi kebohongan orang lain. karena ketika sidang berlangsung, tidak ada yang bisa dipercaya kecuali bukti. Bukti pun kadang bisa dipalsukan.”
“Sungguh?” Yebin mengernyitkan kening.
Kepala Hun termanggut-manggut.
“Yebin~a, kenapa sekarang kau tidak mencoba melupakan kakakku?” tanya Hun serius beberapa waktu kemudian.
“Aku ingin melupakannya. Tapi tidak tahu bagaimana. kami bertemu setiap hari karena hidup bertetangga. Dan hampir setiap hari juga ibuku mengundang kalian berdua untuk makan bersama di rumah. Bagaimana aku bisa melupakannya jika terus-terusan melihatnya?” keluh Yebin.
“Kau bisa memanfaatkanku untuk melupakan kakakku.”
Kalimat Hun yang mengherankan itu seketika membuat Yebin berhenti melangkah. Tubuhnya menyerong menghadap Hun yang memasang wajah misterius.
“Memaanfaatkan Oppa?”
“Maksudku, menggunakanku untuk melupakan kakakku. Aku bisa membantumu melupakan kakakku, kalau kau bersedia.”
“Bagaimana caranya?”
“Seperti ini.”
Hun meraih pergelangan tangan Yebin lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir sang wanita. Kecupan bibir yang berlangsung dalam waktu singkat itu sontak membuat kedua mata Yebin membelalak lebar. Tubuhnya yang kedinginan karena angin malam terasa membeku mendapat ciuman dadakan itu dari Hun.
Tubuh Yebin memaku dalam waktu lama merasakan bibir lembut Hun yang menyentuhnya. Perasaan Yebin berdebar-debar tanpa diduga. Wanita itu menolehkan kepala menatap Hun yang tersenyum manis memperlihatkan lesung pipitnya.
“Op... oppa.”
“Sekarang kau akan bisa melupakan kakakku. Aku akan membantumu, menggunakan ketulusan perasaanku.”
Satu kali lagi Hun mendekatkan wajahnya pada Yebin. Tubuhnya yang tinggi sedikit merendah, menyelarasi wajah Yebin yang merona merah. Wanita itu terlihat masih berusaha mencerna situasi tidak terduga ini. Sedangkan Hun tersenyum lembut dan hangat. Ia memperlihatkan ketulusan hatinya melalui tatapan matanya yang menyejukkan. Laki-laki yang sebenarnya memiliki sikap dingin dan serius itu menjadi begitu lunak dan perhatian saat di hadapan Yebin. Ya. Hanya di hadapan Yebin—yang telah meluluhkan hatinya sejak kedatangannya dari Amerika.
Perlahan-lahan Hun mendekatkan wajahnya yang tampan itu pada Yebin. Bibir keduanya bersentuhan cukup lama. Tubuh Yebin kembali mematung dan tak dapat berbuat apa-apa. Perasaan yang berdebar-debar ini sangat membingungkan. Yebin bingung selama beberapa saat hingga tanpa sadar kedua matanya tertutup. Saat itulah, Hun yang merasa mendapat lampu hijau, mulai memperdalam ciumannya. Ia meraih pinggang Yebin dan menggenggam lengannya. Mulai memperdalam ciuman itu. Memberikan sebuah ciuman dalam yang hangat dan lembut. Baik Yebin maupun Hun larut dalam atmosfer malam yang hangat layaknya sentuhan napas. Yebin larut dalam ciuman lembut Hun hingga luka yang tertoreh dalam lubuk hati terdalamnya perlahan-lahan tertutup. Berbeda dari ciuman menyayat hati yang terakhir kali Yebin dapatkan, ciuman kali ini benar-benar lembut dan hangat. Seolah bisa merasuk ke dalam semua sudut jiwa Yebin yang terluka.
Saat keduanya masih larut dalam ciuman itu, Yul mengendarakan mobilnya keluar dari gerbang untuk mengantar Haeri pulang. Lampu mobil yang dikendarakannya, menyorot kedua manusia yang sedang berciuman di pinggir jalan. Dan seketika itu juga mobil Yul berhenti. Yul diam terpaku menatap kedua manusia yang berciuman tersebut.
Merasa silau karena sorotan lampu mobil itu, Hun melepaskan ciumannya. Satu tangan Hun masih bergandengan dengan Yebin sementara tangan yang lainnya masih bertengger di pinggang wanita itu. Kemudian menoleh ke arah mobil yang menyorotkan lampu sangat terang kepadanya. Kening Hun mengernyit. Ia tak dapat melihat apa-apa selain cahaya putih yang menyilaukan dari mobil Yul. Pun penglihatannya tidak begitu jelas karena Hun tak sedang memakai kacamata minusnya.
Perlahan Yebin pun menoleh. Tepat setelah itu, lampu mobil Yul padam. Terlihat Yul yang sedang diam memaku di kursi pengemudi sementara Haeri di sebelahnya kelihatan kaget.
Hun pun terbelalak melihat keberadaan kakaknya. Sementara Yebin merasakan suatu perasaan aneh yang sama sekali tak dapat dimengerti. Hanya Tuhan yang dapat mengerti perasaan Yebin saat ini. Entah perasaan sedih, senang, atau lainnya, ia tidak yakin.
“Hy... hyeong.”
Kedua kakak beradik itu beradu pandang cukup lama. Hingga beberapa waktu kemudian, tatapan kecewa Yul tertuju pada Yebin. Mereka bertatapan tidak lebih dari lima detik sebelum akhirnya Yul menyalakan mobilnya kembali dan segera melesat pergi bersama Haeri.
Di dalam mobil yang hening itu tiba-tiba Haeri bersuara. “Mereka berdua berkencan. Akhir-akhir ini aku sering melihat mereka bersama. Tapi tadi itu benar-benar tidak terduga.”
Yul hanya diam mengendarakan mobilnya dengan raut wajah yang mengeras. Garis rahangnya menegang bersama ribuan sayatan dalam hatinya yang gaduh. Yul hanya menanggapi gumaman Haeri dengan satu kata, “Entahlah.”
Sementara pandangannya masih lurus menatap jalanan, Haeri tersenyum hangat. “Kukira Hun itu seperti robot. Melihat mereka berciuman tadi aku merasa kalau Hun itu benar-benar manusia. Dia tahu caranya jatuh cinta dan tahu caranya bersikap layaknya pria dewasa. Mengingat Hun yang sejak dulu tidak mempunyai hubungan sosial yang baik dan hanya seperti robot belajar.”
Haeri berkata tanpa memedulikan Yul yang merasa kepalanya mau pecah. Menyadari suatu hal, wanita itu segera menoleh.
“Yul~a, kau baik-baik saja? Bukannya dulu kau pernah menyukai nona itu?” tanya Haeri khawatir. Ia melupakan hal itu dan mencerocos seenaknya sendiri di hadapan Yul yang perasaannya kini benar-benar membuncah.
“Hm. Aku baik-baik saja.” Yul menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
Napas panjang Haeri berembus. Ia merasa lega.
“Syukurlah.”
Bola mata Yul tergetar seketika itu. Awalnya ia tak mengerti kenapa perasaannya seperti ini ketika melihat Hun selalu bersama Yebin. Namun, setelah melihat keduanya berciuman tadi, Yul benar-benar yakin. Ia yakin kalau dirinya ini memiliki suatu perasaan yang besar kepada Yebin. Perasaan yang awalnya ia kira bukanlah cinta, ternyata adalah cinta. Yebin yang awalnya ia kira hanya sebatas adik perempuan, ternyata adalah wanita yang menguasai perasaannya. Wanita yang membuat Yul bahagia. Wanita yang membuatnya bersedih. Serta wanita yang membuat hatinya tersayat-sayat seperti ini. Wanita yang benar-benar menguasai seluruh ruang dalam hati Yul.
Hati Yul meretih sakit menyadari satu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Benar. Satu kesalahan besar yang sangat fatal. Yaitu, menyakiti Yebin. Membuat wanita itu menderita dengan penolakan. Dan mengizinkan adiknya sendiri mengambil Yebin yang disayanginya dengan begitu besar.
Dalam hati Yul berteriak. Aku tidak baik-baik saja. ini sangat menyakitkan dan membuatku menderita. Walau aku pantas mendapatkannya. Aku tidak baik-baik saja. Sungguh... tidak baik-baik saja.
***