
**Diam Bukanlah Kang Yebin
Yebin POV**
Tubuhku basah oleh minuman wine yang pelayan ini bawa. Sial! Kenapa dia tidak lihat-lihat kalau sedang jalan?
Perih di sekujur tubuhku. Telapak tanganku tertusuk beberapa pecahan beling dari gelas wine yang pelayan itu jatuhkan. Kepalaku terasa berdenyut-denyut karena tertimpa botol wine yang seketika itu pecah membasahi selutuh tubuhku. Perih. Tangan dan bagian tubuhku yang terluka semakin perih terkena minuman wine yang tumpah. Kepalaku juga semakin pusing dan sekarang mataku berkunang-kunang.
Kenapa hari ini aku sial sekali? kenapa apa yang aku rencanakan tidak ada yang berjalan dengan mulus?
Semua orang kini memerhatikanku. Mungkin juga Yul Oppa yang sedang berbicang-bincang dengan dua wanita pengacara itu.
Setelah aku memastikan bahwa Yul Oppa berada di tempat ini karena memang ada urusan mendesak, aku berencana mengakhiri pengintaianku. Aku telah memastikan kalau Oppa tidak berselingkuh dariku dengan wanita teman baiknya itu. Aku juga mendengar dari petugas hotel, kalau wanita yang datang bersama Jin Haeri itu adalah pengacara terkenal dari Firma Hukum Kyensang, firma hukum paling terkenal di Seoul tempat Jin Haeri bekerja.
Artinya Oppa tidak berselingkuh dariku. Artinya ia memang ada urusan mendesak bertemu dua orang pengacara di restoran hotel ini. Dan artinya, aku harus mengakhiri kecurigaanku pada Yul Oppa. Aku pun berniat mengakhiri pengintaianku di sini dan menuju pulang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi, nasipku naas sekali. karena tepat setelah aku memutuskan meninggalkan tempat ini, seorang pelayan menabrakku dan menjatuhkan winenya ke seluruh tubuhku. Membuatku menjadi sorotan perhatian semua pelanggan restoran.
Aku merasa waswas saat semua pandangan tertuju padaku. Alih-alih merasakan perih yang teramat dari bagian-bagian tubuhku yang terluka karena pecahan beling dan juga wine, aku merasa waswas jika Yul Oppa memergokiku berada di tempat ini.
Ketakutanku benar terjadi ketika mendengar derap langkah Yul Oppa mendekat. Tepat setelah itu, ia menyebutkan namaku.
“Kang Yebin!”
‘Tamatlah riwayatku. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.’
Kepalaku masih menunduk dalam-dalam saat Yul Oppa tiba-tiba berjongkok dan mencengkeram kedua bahuku erah. Ia membuat kepalaku mendongak. Kemudian ia menurunkan masker hitam yang menutupi hidung dan juga mulutku.
Raut wajah Oppa seketika berubah saat kami beradu pandang. Kulihat secercah kekecewaan yang mendalam dari tatapannya. Oppa kecewa padaku yang mencurigainya. Oppa memperlihatkan kekecewaan dan perasaaannya yang terluka melalui tatapan lekatnya pada kedua bola mataku.
“O... oppa....”
“Kang Yebin, kau...”
Dengan nada suara Oppa yang merendah seperti itu, aku bisa merasakan seberapa besar kemarahan yang tengah beradu dalam kepalanya. Serta seberapa besar rasa kecewa dan sakit hatinya atas perilakuku yang tak sewajarnya ini.
Aku sungguh bodoh. Aku terlalu larut dalam emosiku sampai melupakan janji yang telah kubuat waktu itu. Janji untuk tetap memercayainya. Janji untuk tetap percaya padanya apa pun yang terjadi. Aku... telah membuat orang tersayangku merasakan kekecewaan yang begitu dalam.
***
Dalam keheningan mobil yang melaju menuju rumah sakit di Gangnam, aku termenung. Memengangi kedua tanganku yang terluka karena pecahan beling. Merasakan perihnya luka pada tangan dan kakiku serta darah yang bercucuran. Di antara rasa perih akibat semua luka itu, perasaanku yang terasa jauh lebih sakit. Fakta bahwa aku telah menghancurkan kepercayaanku pada Yul Oppa dengan melakukan hal-hal bodoh tadi, membuatku merasa sakit. Dan yang membuatku merasakan sakit yang paling dalam adalah aku telah membuat pria yang paling aku sayangi terluka dan merasakan kekecewaan yang tiada tara.
Sepanjang perjalanan dari hotel, Yul Oppa hanya diam mengandarai mobilnya. Dengan terpaksa ia mengakhiri pertemuannya dengan Haeri dan wanita yang dipanggilnya Pengacara Bae di hotel tadi. Kemudian mengantarku menuju rumah sakit untuk memberikan pertolongan pertama pada luka akibat pecahan beling pada kedua telapak tangan dan juga kakiku.
Yul Oppa tak mengucapkan sepatan katapun setelah membawaku keluar dari gedung hotel. Bahkan ia tak memberikan aku kesempatan untuk berbicara. Ia menyuruhku diam dan berkata akan membahas semuanya di rumah nanti.
Tidak ada yang bisa kulakukan saat ini selain menurut. Meski sebenarnya aku tidak bisa diam, aku memutuskan untuk diam dan menahan diri.
Alasan dibalik perubahan sikap Oppa. Ia yang semula adalah sosok yang ceria, menjadi sering murung dan terlihat tertekan. Ia yang semula mudah tersenyum dengan begitu indah, menjadi jarang tersenyum bahkan sekali tersenyum pun terlihat terpaksa. Aku tidak mengerti apa yang melatarbelakangi perubahan sikap Oppa ini. Karena setahuku, Oppa adalah orang yang hangat, ceria, dan ramah pada semua orang.
Beberapa waktu berlalu dan kami pun tiba di rumah sakit. Oppa menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit. Lalu turun dan membukakan pintu mobil untukku. Tepat ketika itu, aku ingin mengajaknya bicara.
“Oppa, dengarkan aku dulu. Kumohon. Yul Oppa,” ucapku penuh permohonan.
Yul Oppa tak mendengar keluhanku. Tidak. Ia sebenarnya mendengar dan mengabaikanku dengans engaja.
Tangan Oppa melambai memanggil seorang perawat IGD sesaat setelah kami memasuki rumah sakit.
“Permisi, tolong rawat luka pada tangan dan kaki tunangan saya. Dia baru saja terluka karena pecahan beling. Dan tolong lakukan pemeriksaan MRI, kepalanya terjatuhi benda tumpul cukup keras,” kata Yul Oppa pada seorang dokter yang bergaja di IGD.
Aku hanya menghela napas panjang. Merasa pasrah ketika dokter itu bersama dua perawat yang membantunya, menuntunku menuju ranjang pasien untuk dirawat luka-luka pada tubuhku. Sementara aku melihat Yul Oppa tampak sibuk menerima panggilan telepon di depan meja administrasi.
Anehnya aku tak merasa sedikit pun sakit saat merka mencabuti pecahan beling yang ada di dalam luka tangan dan kakiku menggunakan pinset. Aku juga tak merasa sakit sedikit pun ketika dokter itu menjahit luka-lukaku akibat pecahan beling. Yang aku pikirkan hanyalah satu hal, Yul Oppa. Otakku dikuasai oleh Yul Oppa. Aku tak bisa berhenti memikirkannya. Ia telah membius semua rasa sakitku akibat pecahan beling yang melukai tubuhku.
Sampai ketika aku selesai menjalani pemeriksaan MRI, Oppa masih sibuk bertelepon dengan seseorang. Sekarang aku tahu, sesibuk apa Yul Oppa sampai di rumah sakit saja ia bertelepon dengan seseorang cukup lama.
Luka-luka pada tangan dan kakiku telah selesai diperban dengan rapi oleh para perawat itu. Kepalaku juga telah diperiksa menggunakan MRI yang hasilnya sebentar lagi akan keluar. Tanpa menunggu hasil pun merasa yakin kalau kepalaku tidak apa-apa. Memang sedikit menyakitkan, sampai terasa puyang ketika botol wine yang masih penuh itu menimpa kepalaku dengan keras. Rasanya seperti mau pingsan. Tapi, tulang tengkorakku cukup kuat. Aku merasa baik-baik saja. sekarang memang masih menyisakan sedikit pusing. Namun aku yakin pusing itu akan segera hilang setelah aku meminum obat yang diresepkan dokter.
Aku masih tertidur di atas ranjang pasien di salah satu bilik IGD. Kulirik jam yang melekat didinding. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. sudah lama juga aku berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan.
Perlahan aku bangun dari posisi tidurku. Duduk di ranjang pasien dan hendak turun sebelum Yul Oppa yang telah selesai bertelepon menghentikanku.
“Jangan ke mana-mana. Tunggu saja di sini sampai hasilnya keluar,” ucapnya dengan raut wajah yang tidak dapat ditebak. Tidak peduli semarah apa Oppa padaku saat ini, aku masih melihatnya mengkhawatirkanku. Suaranya juga terdengar hangat meski aku tahu ia saat ini sanagt marah karena apa yang baru saja kulakukan—mengintainya, mencurigainya.
“Oppa, aku baik-baik saja.”
“Kalau baik-baik saja kau bisa pergi dengan mudah? Setidaknya tunggulah hasilnya keluar. Baru aku bisa pastikan kalau kau memang baik-baik saja.” Yul Oppa menegaskan. Membuatku seketika terdiam dan menurut.
Yul Oppa terduduk di kursi bundar yang berdiri di samping ranjang. Ia mendiam dengan raut wajah mengeras dan tatapan yang dingin. Begitu pun denganku yang seketika menundukkan kepala, merasa bersalah.
“Maafkan aku, Oppa.” Aku membuka pembicaraan setelah beberapa waktu hening. Aku akui kesalahanku. Aku akui kebodohan dan kecerobohanku saat ini. “Sebenarnya, saat kau memilihkan mahkota untukku di butik, ada panggilan masuk dari wanita itu. Dan aku menjawabnya.”
“Karena itu kau mengikutiku sampai hotel dan terluka seperti ini?”
Seperti itu Oppa menanggapi permintaaanmaafku dengan nada suaranya yang terkesan dingin.
Aku menaikkan pandangan. Bertatapan dengan Oppa yang penuh kekecewaan.
“Kau lupa isi permohonanku malam itu? Aku sudah memohon, untuk percaya padaku apa pun yang terjadi. Jika karena satu panggilan telepon saja kepercayaanmu sudah hancur, bagaimana kau bisa bertahan di masa depan?” kata Oppa, yang cukup menusuk jantungku. Mengoyak organ dalam tubuhku kuat-kuat.
Oppa menarik napas panjang. sementara aku memerhatikan setiap gerak-gerinya di depanku.
“Yebin~a, dengarkan aku baik-baik.”
Perkataan Yul Oppa yang sangat serius ini mebuatku bergidik takut. Ia menatapku lekat. Menggenggam kedua tanganku yang diperban. Meski perban yang membalut kedua tanganku ini cukup tebal, aku masih bisa merasakan kehangan tangan Yul Oppa yang menggenggamku.
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Yebin~a. Yang aku butuhkan hanya satu, kepercayaanmu kepadaku. Hanya itu yang aku butuhkan saat ini. Jadi, kumohon, berhenti melakukan hal-hal bodoh. Berhenti membuat dirimu sendiri terluka seperti ini.”
Kedua bola mataku bergetar. Aku mencerna ucapan Yul Oppa dengan begitu dalam sampai merasakan sebuah kegetiran yang tak dapat kutoleransi. Membuat bola mataku berkaca. Namun aku masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
“Lantas, apa Oppa memercayaiku?” Aku membalas perkataan Yul Oppa. “Aku bertanya, apa Oppa memercayaiku? Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tidak tau beban apa yang kau tanggung sampai membuatmu terlihat murung setiap hari. Tapi aku mencoba untuk diam. Aku diam karena aku percaya Oppa akan menceritakannya padaku suatu saat. Aku menunggu, dan aku diam. Aku berlagak bodoh dengan terus diam meski melihatmu semakin hari semakin tumbang. Jika memang Oppa percaya padaku, kenapa Oppa tidak mengatakan apa-apa? Mengapa kau selalu berpura-pura baik dan menutipi semuanya dariku?”
“Aku sudah menahan sebisaku untuk tetap diam. Tapi, aku tahu itu bukan diriku. Diam bukanlah Kang Yebin. Bagaimana pun aku harus tau apa yang terjadi. Ketika itulah aku menangkat telepon dari Jin Haeri yang mengajakmu bertemu di suatu tempat. Lalu, apa aku punya pilihan lain? Jika saja bisa memilih aku akan memilih. Tapi, Oppa bahkan tidak memintaku memilih. Kau membiarkanku seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa.”
Aku melihat bola mata Yul Oppa yang berkaca. Pada saat itu juga seorang dokter datang membawakan hasil pemeriksaan MRI.
“Tuan dan Nyonya, hasilnya sudah keluar.”
***
“Yebin~a, mau ke mana kau? Kau tidak akan menyelesaikan skripsimu?”
Suara ibu yang menceletuk dari depan rumah itu membuatku menggelengkan kepala. Skripsi?! Hh, aku bahkan tidak mau memikirkannya.
“Molla! Bukan itu yang terpenting sekarang.”
Dengan kalimat itu aku meneruskan langkah. Keluar melintasi gerbang rumah. Masuk ke dalam taksi tak sejak tadi telah menungguku keluar.
“Ayo Pak, berangkat.”
Tepat setelah itu taksi yang kunaiki melaju meninggalkan rumah. Ketika itu juga aku menyadari, Yul Oppa sedang berdiri di depan rumahnya memandangiku pergi.
Setelah perdebatan kami semalam, kami pulang ke rumah masing-masing dengan saling diam. Tak ada satu pun dari kami yang memulai pembicaraan. Dan aku pun merasa malas untuk sekadar mengeluarkan kata. Karena aku tahu, apa pun yang aku katakan pada malam itu hanya akan memicu pertengkaran. Sudah cukup aku dengan Yul Oppa bertengkar di waktu itu. Aku tidak ingin lagi bertengkar dengannya setelah sama-sama bertunangan. Aku memilih untuk diam agar tidak ada hati yang terluka seperti dulu lagi.
Tetapi Kang Yebin tidak bisa sepenuhnya diam. Untuk menghindari pertengkaran semalam aku memang memilih diam. Namun dalam kehidupan yang nyata Kang Yebin tidak pernah diam.
Taksi yang membawaku melaju menjauhi distrik Songpa ini telah bertenti di halaman sebuah bangunan besar setelah beberapa belas menit melaju melintasi jalanan Seoul yang ramai pada pagi hari. Aku turun dari taksi. Melangkaah masuk ke dalam bangunan besar bertuliskan ‘Firma Hukum Kyensang’ pada bagian depannya.
Tepat sekali. ini adalah firma hukum tempat Jin Haeri dan wanita yang kemarin kulihat di restoran hotel bekerja.
“Permisi, di mana letak ruangan Pengacara Bae?” tanyaku pada seorang resepsionis.
“Anda siapa? Apa Anda sudah membuat janji dengannya?” Resepsionis itu balik bertanya.
Dengan lugasnya aku menjawab, “Katakan saja pada Pengacara Bae kalau saya diutus Tuan Moon Yul.”
“Tolong tunggu sebentar.”
Resepsionis itu membuat panggilan dengan seseorang yang kuduga adalah Pengacara Bae. Setelah panggilan itu berakhir, resepsionis menjelaskan.
“Silakan Anda naik ke lantai delapan. Ruangan Patner Senior 3A.”
“Terima kasih.”
Tanpa menunggu lama lagi aku masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai delapan. Mencari ruangan patner senior 3A. Begitu menemukan, aku mengetuk pintu dan seseorang langsung menyuruhku masuk.
Wanita yang kemarin berbaju hitam dengan rambut diikat ekor kuda kini duduk di hadapanku. Raut wajahnya sama sekali tidak ramah. Tatapannya dingin dan bibirnya merah menyala seperti kulit strawberry. Setidaknya, Jin Haeri bisa bersikap sedikit ramah—meski terasa kepura-puraannya—kepadaku. Sedangkan wanita ini tidak menunjukkan keramahan sama sekali. ia tahu siapa aku. Kami sempat bertatap muka ketika Yul Oppa mau tidak mau harus mengakhiri rapatnya untuk mengantarku ke rumah sakit.
“Yul tidak pernah mengutus seseorang untuk bertemu denganku. Dia pasti yang datang secara langsung. Jadi apa maumu, gadis muda? Ah, maksudku, apa maumu, Nyonya Moon?” katanya dengan nada suara tajam.
Aku menghela napas panjang.
“Baiklah. Aku juga tidak akan berbasa-basi. Ceritakan padaku apa yang terjadi pada Yul Oppa. Kenapa dia meminta nasihat hukum darimu dan juga Jin Haeri?”
“Untuk apa kau menanyakannya? Hanya sebatas penasaran? Kurasa kalian bahkan belum memiliki ikatan secara hukum untuk bisa mencampuri urusan satu sama lain. Jadi buat apa aku memberitahumu semuanya? Yang kau tanyakan itu adalah rahasia klien. Dan seorang pengacara sepertiku juga memiliki kode etik.”
Satu hal yang sempat terlupakan. Aku dan Yul Oppa memang belum memiliki ikatan yang dapat diakui sah secara hukum. Sial. Aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya.
Aku mengangkat tangan kiriku. Memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manisku.
“Aku adalah keluarga Yul Oppa, sejak cincin ini dilingkarkan. Tidak lebih dari satu bulan lagi kami akan menikah. Jadi aku berhak tahu apa yang terjadi pada Yul Oppa,” tegasku.
“Kau sangat keras kepala,” desus pelan Pengacara Bae yang terdengar seperti embusan napas panjang. kedua matanya memicing menatapku, entah apa yang ia pikirkan. Selama beberapa saat. Lalu kepalanya mengangguk. “Baiklah. Kurasa kau berhak tahu. Karena ini melibatkan pernikahanmu dengan Yul. Jadi, apa yang ingin kau ketahui?”
Aku mulai menanyakan tentang permasalahan apa yang sednag terjadi di Moonlight Coffe. Lalu mengorek-ngorek infomasi sebanyak mungkin untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada Yul Oppa hingga ia bersikap seperti itu. Dan, seperti yang diduga. Aku sama sekali tidak tahu kalau Oppa sedang berada dalam masalah besar terkait hukum. Penggelapan dana itu murni perbuatan Manager Moonlight Coffe yang bernama Kwon Suk tanpa campur tangan siapa pun. Tetapi penghindaran pajak yang dilakukan Kwon Suk itu sudah pasti adalah tanggung jawab Yul Oppa. Karena Oppa adalah pemilik sah Moonlight Coffe dan yang bertanggung jawab atas semuanya.
“Masalah penghindaran pajak memang murni perbuatan Kwon Suk. Tetapi Yul adalah yang bertanggung jawab, karena dia pemilik Moonlight Coffe. Mungkin dia bisa terbebas dari hukuman karena bukti-bukti konkret penghindaran pajak tidak ada yang mengarah pada Yul. Yul nanti mungkin hanya akan dikenakan denda beberapa juta won karena kasus yang dilakukan Kwon Suk. Tapi masalahnya, ada hal lain yang akan menjerat Yul sekali polisi melakukan penyelidikan terhadapnya.” Pengacara Bae memberikan penjelasan.
“Hal lain yang menjerat? Apa maksudnya?”
“Tiga tahun lalu Yul pernah mempekerjakan seorang wanita bernama Jesica sebagai pelayan di Moonlight Coffe. Tetapi Jesica itu adalah imigran gelap dari Jepang yang menjadi buronan sampai sekarang, yang memperdagangkan obat-obatan terlarang.”
Di antara semua pukulan yang kurasakan setelah mendengar permasalahan apa yang menimpa Yul Oppa, ini adalah pukulan yang paling berat. Tubuhku seketika melemas. Tenggorokanku pun mengering.
“Dia menggunakan identitas palsu untuk bekerja di Moonlight Coffe. Dan Yul langsung memecatnya begitu tahu apa yang dia lakukan. Tapi ketika polisi tahu Jesica pernah bekerja di Moonlight Coffe, mereka akan melakukan penyelidikan menyeluruh dan mendikte bahwa Moonlight Coffe tempat perdagangan obat-obatan terlarang.” Pengacara Bae melanjutkan.
Kepalaku terasa tertembusi peluru-peluru tajam mendengar semua itu. Bagaimana pun, bernikahanku musim panas ini harus tetap berjalan. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat pernikahan kami tetap berjalan pada musim panas tahun ini.
“Lalu, di mana wanita bernama Jesica itu?” tanyaku.
“Dia masih menjadi buronan.” Lalu ia mengembuskan napas panjang. “Kita harus menemukannya segera.”
Aku tidak habis pikir. Bagaimana Yul Oppa menyenbunyikan hal sebesar ini dariku? Bisa-bisanya ia bertahan menyembunyikan permasalahan sebesar ini dariku? Apa dia itu sedang bercanda?
Kepalaku terasa berat memikirkan ini semua. Lalu tiba-tiba aku teringat suatu hal. Wanita itu bernama Jesica? Tunggu, Jesica?
“Lalu, jika wanita itu bisa ditemukan daam waktu dekat, apa keadaan akan banyak berubah?” tanyaku sekali lagi.
“Jesica harus ditemukan. Dengan begitu Yul bisa selamat dari semua tuduhan. Aku bisa membuat Jesica mengakui perbuatannya tanpa melibatkan Yul atau pun Moonlight Coffe, dengan caraku. Tapi, konsekuensi jatuhnya nama baik Moonlight Coffe akan tetap ada. Dan itu sudah bukan menjadi tanggung jawabku.”
Tubuhku mendadak terbakar api semangat mendengar penjelasan Pengacara Bae. Yang aku ketahui hanya satu hal. Nama Jesica itu terasa sangat familiar. Jesica, imigran gelap dari Jepang yang kemungkinan sedang bersembunyi di suatu tempat di Korea.
“Sepertinya... aku tahu di mana Jesica,” ucapku yang seketika membuat Pengacara Bae membelalakkan kedua matanya.
“Apa?”
***