Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Keinginan membeli pulau!



Sudah dua jam Yebin menunggu kedatangan Yul. Ini adalah hari pertamanya bekerja. Dan ternyata meski sepuluh hari lamanya ia tak bekerja di kantor Biniemoon, keadaan Biniemoon baik baik saja. Somin, dan semua karyawan Biniemoon melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan lebih baik dari yang Yebin prediksi mengingat ini adalah pertama kali Biniemoon bekerjasama dengan perusahaan retail lain, Moonlight Retail.


Pukul empat sore adalah saatnya Yebin pulang dari kantor Biniemoon. Tetapi sejak tadi ia menunggu Yul tidak kunjung datang. Sudah setengah jam Yebin menunggu. Dan yang ia tunggu tidak kunjung datang.


Yebin masih duduk di kursi kerjanya. Beberapa detik sekali ia menengok ke arah jendela untuk memastikan apakah mobil yang dikendarakan Yul sudah tiba.


“Yebin-a, aku balik duluan ya! Kau tidak pulang?” Somin yang baru selesai mengganti baju itu berjalan melintasi meja kerja Yebin.


“Kau duluan saja. Aku masih menunggu Yul Oppa,” jawab Yebin.


“Baiklah.”


“Hati hati di jalan!” celetuk Yebin ketika Somin hendak keluar dari kantor operasional Biniemoon.


“Hm! Kau juga.”


Keluarnya Somin sebagai pertanda bahwa di kantor ini hanya tersisa Yebin seorang. Semua pegawai Biniemoon sudah pulang sejak tadi. Dan Somin adalah karyawan yang terakhir pulang setelah menyelesaikan sisa sisa pekerjaan. Sekarang Yebin seorang diri ada di dalam kantor itu. Menunggu kedatangan Yul yang akan menjemputnya pulang bersama menuju rumah.


Satu helaan napas kemblai terlontar dari mulut Yebin. Ia memeriksa ponselnya. Mencoba menghubungi Yul tetapi tidak bisa. Nomor Yul berada di luar jangkauan. Yang artinya ponsel Yul sedang mati, atau lelaki itu sedang berada di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh sinyal telepon. Kemungkinan nomor dua sepertinya sangat mustahil. Karena sejauh yang Yebin tahu, tidak ada tempat tanpa jangkauan sinyal di negara maju seperti Korea Selatan ini. Jadi yang paling mungkin adalah ponsel Yul mati, sehingga ditelepon pun tidak bisa.


Awalnya Yebin bingung kenapa Yul yang selalu tepat waktu menjemputnya itu, hari ini terlambat. Ia bertanya kenapa lelaki itu terlambat sampai lebih dari setengah jam. Tetapi setelah sekian lama berlalu, Yebin menjadi khawatir. Apa yang terjadi pada Yul, dan apakah ia baik baik saja. Yebin mulai mengkhawatirkan Yul yang tidak seperti biasanya.


Akhirnya Yebin mencoba menghubungi salah satu pegawai Moonlight Coffe. Ia tahu ada satu pegawai kafe yang cukup akrab dengan Yul. Pegawai itu tidak lain adalah Sangsik.


Sambil beranjak bangkit dari duduk, Yebin mencoba menghubungi Sangsik. Baru beberapa kali terdengar dering di seberang telepon, panggilan itu segera diangkat oleh Sangsik.


[Halo, Nyonya Moon, ada apa?]


“Sangsik ssi, aku mau bertanya, apa suamiku masih berada di kafe?” jawab Yebin begitu mendengar suara Sangsik di seberang telepon.


[Bos Moon sudah pulang sejak tadi. Sejak jam tiga dia sudah meninggalkan kafe. Kenapa, Nyonya Moon?]


“Tidak apa apa. Terima kasih infonya.”


Setelah mendengar informasi itu, Yebin segera menutup teleponnya. Lalu menggenggam ponselnya bersama perasaan panik yang semakin menjadi. Jika Yul sudah meninggalkan kafe sejak tadi, bukankah seharusnya ia sekarang sudah menjemput Yebin. Namun apa yang terjadi pada Yul yang tidak dapat dihubungi itu?


Yebin menengok ke arah jam dinding. Sudah pukul lima sore. Sudah satu jam Yebin menunggu Yul yang tak kunjung datang.


Sekali lagi. Yebin mencoba untuk menghubungi nomor Yul. Pada waktu itu juga sebuah mobil berhenti di depan kantor Biniemoon. Tidak salah lagi. Itu adalah mobil Yul.


Seketika itu Yebin merasa lega. Ia segera berjalan menuju meja untuk mengambil tas. Lalu bergegas keluar dan mengunci kantor Biniemoon dari luar.


“Maaf, aku terlambat sekali ya?”


Begitu Yebin masuk ke dalam mobil, Yul menceletuk. Raut wajahnya penuh rasa bersalah karena telah membuat istrinya menunggu cukup lama.


Sembari memakai sabuk pengaman, Yebin menjawab, “Aku khawatir sekali. Ponselmu tidak bisa dihubungi dan kata Sangsik kau sudah meninggalkan kafe sejak pukul tiga. Apa yang terjadi, Oppa?”


“Ah, tidak. Ada sedikit urusan mendesak di luar dan ponselku mati karena baterainya habis. Jadi tidak bisa menjawab teleponmu.” Yul menjelaskan. Ia mulai melajukan mobilnya menjauhi kantor Biniemoon. “Lain kali, jika aku terlambat lebih dari lima belas menit, kau pulang duluan saja ya Sayang. Panggil taksi atau pakai kendaraan umum terserah. Daripada kau menunggu terlalu lama seperti tadi,” imbuh Yul.


“Baiklah,” jawab Yebin. Ia menatap wajah Yul yang sedikit berbeda dari biasanya. “Oppa, kenapa wajahmu pucat? Apa yang terjadi? Dan kenapa bajumu sedikit kotor?”


Pandangan Yebin tertuju pada bagian lengan kemeja Yul yang kotor. Yul seperti bersenggolan dengan benda kotor sehingga lengan kemeja panjangnya terkena noda. Pun raut wajah Yul sedikit pucat. Seperti ketika seseorang sedang terkena flu.


“Ah, benarkah? Apa karena aku belum makan?” sahut Yul ragu. “Bagaimana kalau kita makan dulu? Kamu mau makan apa?” lanjutnya.


“Aku tidak begitu lapar. Jadi terserah Oppa saja.”


Setelah itu keduanya pun berhenti di sebuah restoran yang masih terletak di sekitar Gangnam. Masuk ke dalam restoran itu. Duduk di sebuah meja lalu memesan makanan.


“Yebin-a, apa kau tidak ingin tinggal di sebuah pulau?” Yul yang sedang menanti pesanan makanan mereka datang, tiba tiba bertanya demikian kepada Yebin.


“Pulau? Semacam pulau Jeju atau pulau Namil?” sahut Yebin. Sejujurnya ia cukup terkejut pada Yul yang tiba tiba membahas pulau.


Kepala Yul menggeleng geleng. “Bukan. Bukan pulau seperti itu. Tapi semacam pulau pribadi yang bisa kita tinggali saat tua. Aku tadi ada wawancara dengan majalah Seoul. Dan aku mendengar dari jurnalis majalah itu tentang pulau-pulai kecil yang diperjual belikan secara legal oleh pemerintah.”


“Maksudnya, Oppa ingin membeli pulau?” Yebin menyimpulkan dari semua penjelasan Yul itu.


Jujur. Ia kira membeli pulai itu hanya bisa dilakukan oleh pejabat tinggi negara atau orang dengan total kekayaan paling banyak di Korea. Tetapi, seorang Moon Yul yang notabenenya bukan pejabat tinggi negara maupun orang terkaya se-Korea itu mau membeli pulau pribadi? Baiklah. Yebin akui jika Yul adalah seseorang yang tajir dan punya sejumlah aset di negeri ini. Tapi, ia tidak pernah mengira jika lelaki itu menginginkan sebuah pulau. Ingat, itu pulau! Bukan rumah, hotel, atau vila, tapi pulau. Apa suaminya yang tidak terduga itu ingin seperti Gu Jun Pyo dalam serial drama Boys Before Flower yang memiliki pulau pribadi?


“Ya, aku ingin membeli sebuah pulau pribadi.”


Merasa apa yang Yul inginkan itu sungguh tidak masuk akal, Yebin hanya menganga. Membeli pulau pribadi.... Ia pikir hal semacam itu hanya ada di dalam drama yang tingkat halu nya sangat tinggi.


“Op... oppa... membeli pulau? Oppa, kau sungguh mengatakannya?” desus Yebin tak percaya.


Dengan yakin Yul mengangguk angguk. “Aku sudah memikirkannya baik baik. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika setelah kita tua nanti kita bisa hidup di pulau yang tenang dan damai. Bagaimana menurutmu?” tanya Yul dengan penuh semangat.


Napas Yebin terembus panjang. Ia sungguh tidak mengerti maksud suaminya itu untuk membeli pulau.


Pada waktu itu juga seorang pelayan datang mengantarkan pesanan makanan mereka berdua. Ketika makanan itu dipindahkan dari nampan ke atas meja mereka, Yul masih menanti jawaban Yebin dengan semangat. Menatap antisuas Kang Yebin untuk meminta persetujuan.


Yebin mendapati Yul yang menunggu jawabannya dengan antusias. Lalu ia berkata, “Kita makan dulu. Bahas itunya nanti saja.”


**


Semenjak hari itu, Yul tidak henti hentinya membahas tentang membeli pulau. Padahal Yebin sama sekali tidak beniat menggubrisnya.


Bagaimana mau menggubris keinginan Yul yang tidak masuk akal? Yebin sungguh tak mengerti apa pentingnya membeli pulau untuk mereka tinggali saat tua. Itu sama sekali tidka penting. Padahal sekarang ada urusan yang lebih penting. Wajar saja jika Yebin tak menggubris keinginan tidka masuk akal Yul untuk membeli pulai itu.


“Aku tidak akan mengizinkanmu membeli pulai atau apa pun itu, Oppa! Berhenti membahasnya lagi. Aku sungguh capek mendengarnya.”


Tak mau mendengar Yul yang terus terusan membujuknya untuk membeli pulau pribadi, Yebin berjalan tanpa menengok ke belakang. Sedangkan Yul di depan mobil itu mengembuskan napas panjang panjang karena usahanya yang sekali lagi gagal.


“Telepon aku jika sudah selesai!”


Pada akhirnya Yul hanya meneriakkan hal itu pada Yebin yang berjalan semakin jauh. Begitu Yebin terlihat telah masuk ke dalam bangunan rumah sakit, Yul pun masuk kembali ke dalam mobilnya.


Hari ini adalaj jadwal Yebin untuk kontrol. Memeriksa keadaan tulang rusuk dan bahunya yang pernah cedera karena celekakaan. Yebin terpaksa harus melakukannys seorang diri, tanpa ditemani Yul, karena Yul memiliki urusan yang sangat mendesak. Ia ada wawancara lain dengan majalah seputar binis tepat di jam yang sama ketika Yebin harus kontrol dengan dokternya.


Sesuai prosedur rumah sakit, Yebin melakukan beberapa jenis pemeriksaan. Juga berkonsultasi dengan dokter orthopedi yang menanganinya.


Memakan waktu kurang lebih dua jam untuk Yebin melakukan seperangkat prosedur pemeriksaan dan juga konsultasi dengan dokter itu. Dan untungnya kondisi tulang rusuknya yang pernah patah semakin membaik. Begitu pun cedera bahu yang pernah dialaminya semakin membaik sehingga dokter berkata pada Yebin tidak perlu khawatir. Dalam satu atau dua bulan tulang rusuknya akan pulih total dan Yebin tidak perlu datang lagi untuk kontrol.


Seselesainya melakukan pemeriksaan, Yebin naik menuju lantai dua puluh. Karena kesibukannya bekerja, ia tak sempat menengok Hun selama tiga hari terakhir. Mumpung ada kesempatan, ia ingin menjenguk Hun. Menemaninya selama beberapa saat.


Di depan pintu ruang perawatan Hun, terdapat dua laki laki berpakaian rapi dan berjas hitam. Mereka berdua adalah bodyguard yang disewa Yul untuk mengawasi adiknya. Bagaimana pun, dalam beberapa waktu Hun tidak ada yang menjaga. Yul sibuk dengan pekerjaannya dan hanya bisa datang sebentar untuk menengok setiap harinya. Begitu pun kekasih Hun, Jina yang sekarang sedang sibuk bekerja dobel untuk mengerjakan semua pekerjaan Hun di kantor. Jina hanya bisa datang di sore atau malam hari ketika pekerjaannya selesai. Untuk menginap semalaman di ruang perawatan Hun. Pun, ibu Yebin, Miyoon, tidak bisa setiap hari datang ke rumah sakit karena harus bekerja mengelola restoran galbinya.


Kedua penjaga itu membungkukkan tubuh menyapa Yebin.


“Ada yang datang hari ini?” tanya Yebin pada kedua penjaga yang duduk di kursi depan pintu.


“Tidak ada. Nyonya Moon adalah yang pertama kali menjenguknya hari ini.”


“Baiklah. Kerja bagus.”


Yebin pun masuk ke dalam ruangan Hun. Hawa udaranya sangat sunyi. Meski ruangan ini hangat karena penghangat udara yang bekerja dengan baik, tetapi rasanya sungguh sunyi. Yebin merasakan kesunyian setiap kali masuk ke dalam ruangan ini. Apalagi Hun yang setiap hari terbaring di dalamnya.


“Oppa, aku datang.” Yebin berucap ketika telah tiba di sebelah ranjang yang ditiduri Hun. Kemudian duduk di atas kursi bundar tepat di sebelah ranjang. Ia menggenggam tangan kanan Hun dengan hangat. “Kapan kau bangun, Hun Oppa? Aku sangat merindukanmu. Merindukan sosokmu yang tenang dan menyenangkan. Yul Oppa juga sangat merindukanmu. Dia memikirkanmu setiap hari sampai sampai merasa melihat sosokmu di beberapa kesempatan. Aku tahu itu karena dia terlalu banyak memikirkanmu. Dia sangat menginginkanmu untuk segera sadar dan bermain lagi dengannya.”


Yebin mulai bercerita panjang lebar kepada Hun. Meski kemungkinan besar Hun tidak mendengar ceritanya ini, Yebin tetap ingin bercerita. Ia pernah mendengar bahwa mengajak bicara orang yang sedang koma bisa menjadi rangsangan otak pada pasien tersebut sehingga peluang kesadarannya akan semakin besar. Walau pun apa yang didengar Yebin itu hanya desas desus dan belum tentu kebenarannya, Yebin tetap melakukannya untuk merangsang kinerja otak Hun.


“... Oppa, kakakmu itu sedang ingin membeli pulau yang katanya akan ditinggalinya saat tua, bersamamu dan istrimu kelak saat sudah pensiun. Aku hanya tidak mengerti saja kenapa dia kepikiran membeli pulau. Tidak masuk akal kan? Bukan rumah, bukan mobil, tapi pulau... apa itu sungguh masuk akal? Aku sungguh tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya sampai punya keinginan membeli pulau. Hah, sangat tidak masuk akal. Ada ada saja otaknya itu. Tentu aku tidak menyetujuinya. Buat apa membeli pulau? Buang buang duit saja.”


Yebin mengembuskan napas panjangnya. Lantas kembali berucap, “Oppa, cepatlah bangun. Rasanya sangat sunyi tidak ada dirimu. Tidak ada yang datang setiap akhir pekan ke rumah. Ibu bilang, katanya dia merindukan memasakkan bekal makanan untukmu. Ibu merindukan memasakkan persediaan makanan untuk kau bawa ke tempat tinggalmu seperti biasanya. Aku juga merindukan makan es krim denganmu. Yul Oppa tidak pernah mengajakku makan es krim, karena dia tak suka es krim. Hanya kamu yang bisa aku ajak makan es krim, Oppa. Selanjutnya aku berjanji yang akan bayar. Tapi kau harus bangun dulu.”


Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Pandangan Yebin pun langsung tertoleh pada orang yang baru melangkah masuk ke dalam.


Terlihat sesosok perempuan cantik bertubuh tinggi semampai yang berpakaian rapi. Wanita itu tidak lain adalah Jin Haeri.


“Kau di sini juga rupanya,” sapa Haeri dengan seutas senyum menawannya kepada Yebin. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang Hun. Berdiri di berseberangan ranjang dengan Yebin.


Senyuman lembut Haeri itu dibalas oleh senyuman canggung Yebin. Jin Haeri memang wanita baik, yang ramah dan lemah lembut. Namun itu yang membuat Yebin tidak menyukainya. Karena Jin Haeri terlalu sempurnya sebagai seorang wanita. Yebin tak begitu suka pada wanita itu, karena segala hal yang ada pada Haeri seolah olah telah sempurnya. Apalagi jika mengingat apa yang pernaj terjadi di masa lalu.


Baiklah. Itu semua memang masa lalu. Tetapi kesempurnaan Haeri sebagai wanita membuat Yebin merasa tak pantas untuk bersanding dengan seorang Moon Yul. Ini yang membuat Yebin tidak suka pada Haeri dan tidak suka bertemu dengannya entah secara langsung maupun tidak langsung.


“Kau juga sering datang menjenguk Hun Oppa?” sahut Yebin.


Haeri mengangguk angguk pelan. “Lumayan sering. Lama sekali aku tidak bertemu dengan Hun sejak keberangkatanku ke Amerika. Saat kembali, dia sedang kritis. Kami bahkan belum sempat mengobrol. Jadi aku sering kemari, untuk sekedar menjenguk di sela aktivitasku, atau untuk melakukan pekerjaanku.”


Kening Yebin mengernyit. “Pekerjaan?”


Pandangan Haeri yang semula tertuju pada Hun itu perlahan teralih pada Yebin.


“Ya. Pekerjaanku sebagai pengacara Hun. Aku menjadi penasihat hukum kasus kecelakaan yang kalian alami. Kau tidak tahu?” kata Haeri.


Ya. Yebin tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu kalau Haeri adalah pengacara kasus kecelakaan Hun.


Belum sempat Yebin menjawab apa apa, Haeri kembali menyahut, “Yul belum memberitahumu ya? Pengacara Bae yang semua dipekerjakan Yul mengundurkan diri. Sejak saat itu aku diminta Yul untuk mengawal semua proses hukum kasus kecelakaan kalian yang menurutku bukan kecelakaan biasa. Jadi aku adalah penasihat hukum Hun, dan juga kau.”


Jin Haeri menjelaskan semua itu dengan cara bicaranya yang kalem dan senyuman. Membuat Yebin yang sebenarnya sangat kesal ini tak bisa benar benar kesal karena tak tahu apa apa.


“Oh, begitu rupanya.” Yebin akhirnya hanya mendesus pelan.


“Kasus kecelakaan itu memiliki banyak kejanggalan. Salah bertindak sedikit saja, karir Hun akan terancam dan semua usaha kerasnya selama ini akan sia sia. Untuk mengantisipasi itu, Yul mencoba membangun relasi yang baik dengan perusahaan media. Itulah sebabnya ia sering melakukan wawancara. Bukan untuk sekadar wawancara, tetapi juga membangun relasi yang baik dengan mereka. Dengan begitu akan lebih mudah mengendalikan media ketika semua kebenaran terungkap,” jelas Haeri.


“Jadi, untuk itu Oppa diwawancarai di banyak tempat?” tanya Yebin tak yakin.


Dengan wajah tidak berdosa Haeri justru bertanya, “Kau juga tidak tahu hal itu?”


Diam. Yebin diam membisu mendengar pertanyaan yang terdengar meremehkan itu. Namun ia mencoba untuk bersabar.


Haeri pun menjelaskan, “Secara teknis wawancara itu memang untuk promosi bisnis dan juga permintaan langsung dari media yang ingin menyorot bisnis Moonlight Coffe dan Moonlight Retail yang akhir akhir ini sering diperbincangkan di sosial media. Ada istilahnya, sambil menyelam minum air. Yul sangat cerdas membangun strategi. Jadi dia memanfaatkan semua itu untuk membangun relasi yang baik dengan semua media. Dengan relasi itu ia bisa bertindak cepat ketika sesuatu yang baik atau yang buruk terjadi nantinya. Yul itu orangnya penuh antisipasi. Dia sudah memprediksi semua itu dan membuat rencana yang matang dari semua prediksinya.”


Sejujurnya Yebin sangat tidak menyukai gaya bicara Haeri yang seolah olah tahu segalanya tentang Yul. Yang istrinya Yul itu sebenarnya siapa? Kenapa wanita itu bersikap seolah tahu segalanya? Bahkan berlagak lebih tahu tentang Yul daripada Yebin? Untungnya Yebin masih bisa menahan amarah yang mulai membakar kepalanya.


Sabar.... Kang Yebin, sabar....


Yebin hanya menghela napas panjang panjang ke dalam perut. Menahan rasa kesalnya pada Haeri yang bersikap sangat menyebalkan di hadapannya.


“Aku kira Yul akan memberi tahumu tentang semua rencananya. Kalau tentang ini, kau sudah tahu kan? Besok lusa itu kau dan Yul diminta menghadiri salah satu acara talkshow di stasiun televisi SBC,” lanjut Haeri berucap.


Apa? Hadir di acara talkshow? Ia dengan Yul? Yebin sama sekali belum mendengar hal itu.


Sepertinya kemarahan Yebin sudah akan meledak. Ketika ia tiba nanti di rumah dan bertemu dengan Yul, sepetinya Yebin akan meledakkan amarahnya pada sang suami.


Saat ini Yebin mencoba untuk terlihat keren di depan Haeri. Meski dalam hatinya sangat kaget dan marah, Yebin mencoba terlihat tenang. Ia menjawab celetukan Haeri dengan tenang, “Tentu sudah. Aku kan istrinya.”


Setelah itu... tamatlah sudah riwayat Yul!


**