
Bab 42
Kedatangan musuh yang tidak terduga
Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Mino yang telah menghabiskan waktu satu hari satu malam bersama Lysa di kota ini, sekarang harus kembali ke Filipina dan meneruskan pekerjaannya di sana. Pergi di saat rasa rindu mereka bahkan belum terobati dengan puas memang sangat berat. Baik untuk Mino yang harus pergi atau pun untuk Lysa yang ditinggalkan, kedua duanya sama sama berat dan harus tetap berada di jalur yang sama karena keduanya tidak boleh terlalu egois untuk urusan masing masing.
Pelukan Lysa pada tubuh Mino saat ini terasa sangat sulit untuk gadis itu lepaskan. Sebentar lagi, Lysa maish inginmemeluk laki laki itu dan merasakan keberadaannya. Sebelum benar benar melepaskan Mino, Lysa ingin memeluknya sedikit lebih lama lagi.
“Bagaimana jika aku nanti merindukanm, Chagi?” tanya Lysa sambil menggumam gumam selagi memeluk tubuh Mino. Kedua tangan gadis itu seolah tidak mau terlepas dari tubuh Mino, tidak mau melepaskannya dan ingin tetap berpelukan seperti itu dalam waktu yang lama, sampai Lysa merasa benar benar puas.
Melihat tingkah manja Lysa sebelum kembali ke Filipina itu membuat Mino terkekeh kekeh. Ia tidak menyangka jika Lysa bisa semanja ini kepadanya. Karena sebelumnya ia merasa bahwa dirinyalah yang lebih manja di hadapan Lysa. Namun ternyata Lysa juga dapat bersikap manja di hadapannya.
Sambil terkekeh kekeh Mino menjawab dengan yakin. “Kalau kau merindukanku, pikirkanlah aku. lalu kirimi aku pesan rindu atau kau juga bisa meneleponku,” ucap Mino.
“Kalau aku masih tetap rindu bagaimana?” lanjut Lysa bertanya.
“Hm ... kalau masih tetap rindu, katakan padaku dan aku akan langsung menemuimu,” jawab Mino basa basi.
Lysa tahu betul jika laki laki itu hanya membual dan basa basi saja mengatakannya. Kalau bukan orang yang benar benar gila, apakah itu mungkin dilakukan? Apakah Mino benar bisa menemui Lysa hanya karena Lysa berkata merindukannya? Dan apakah Mino bisa meninggalkan pekerjaan pentingnya di negara lain begitu saja hanya karena ia ingin menemui Lysa yang berkata merindukannya? Mino itu hanya membual. Jelas sekali kalau laki laki itu hanya menggombal supaya Lysa tidak lagi mengeluh.
“Tcih, dasar bucin!”
“Hahaha!” Mino seketika itu tergelak tawa karena mendengar celetkan Lysa yang mengatainya sebagai bucin alias budak cinta. Hm, baiklah, laki laki itu tidak bisa menyangkal kalau memang dirinya itu menjadi bucin karena seorang gadis yang tak mau melepaskan pelukannya ini.
“Sudahlah, aku mau berangkat. Nanti aku ketinggalan pesawat,” kata Mino sambil melepaskan pelukan Lysa. Dengan berat hati Lysa pun melepaskan pelkukannya. Mau tidak mau keduanya harus berpisah. Dan rela tidak rela Lysa dan Mino harus menjalani hubungan jarak jauh sampai proyek kafe yang dikerjakan Mino di Filipina itu selesai dan Mino bisa kembali ke Korea.
“Hati hati di jalan. Saat sudah sampai nanti jangan lupa telfon aku.” Lysa mengatakan kalimat itu begitu melepaskan pelukan Mino dan membiarkan laki laki itu untuk pergi.
“Baiklah. Selamat tinggal.”
Perpisahan itu sangat berat dilalui oleh siapa pun. Dan perpisahan dalam bentuk apa pun memang tidak ada yang mudah. Tetapi Lysa dan Mino harus berpisah sementara waktu. Dan akan bertemu lagi dengan kerinduan yang menumpuk dan siap untuk dilepaskan satu sama lain.
Terakhir, Lysa melambai lambaikan tangannya pada Mino yang perlahan berjalan menjauh di dalam bandara ini. dan tidak lama setelah itu, Mino telah menghilang dari pandangan. Laki laki itu benar benar pergi dari pandangan Lysa. Meninggalkan Lysa di kota ini dan merasa kesepian.
Setelah Mino menghilang dari hadapannya, Lysa pun mulai membalik tubuh. Ia hendak berjalan meninggalkan bandara. Namun begitu ia membalik badan, seorang wanita yang tampak tidak asing untuk Lysa sedang berdiri dari kejauhan dan memandangi Lysa dengan tatapan aneh.
Lysa yang merasa begitu terkejut melihat keberadaan wanita yang tidak lain adalah Im Jiwon itu hanya berdiri memaku seperti patung es. Gadis itu hanya terdiam, ketika perlahan lahan Im Jiwon yang terlihat baru saja tiba di bandara ini (dilihat dari koper yang ia bawa, pakaian airport atau yang sering disebut dengan ariport outfit, juga kaca mata luar ruangan yang ada di genggaman wanita itu karena baru saja dilepaskan) sedang berjalan menuju arah Lysa dengan tatapan anehnya.
Sungguh, Lysa tidak mengerti sama sekali kenapa wanita itu ada di tempat ini. Lysa hanya merasa tidak masuk akal saja, kenapa di semua tempat wanita itu selalu hadir dan membuatnya merasa aneh setiap kali melihatnya. Namun, dari dugaan sekilas, Lysa menebak kalau wanita itu datang untuk menemui Brian di sini. Siapa lagi memang yang bisa wanita itu temui selain Brian?
“Aku baru tahu, kalau ternyata kekasihmu itu adalah Han Mino. Jadi, kau wanita yang dia maksud itu?”
Kalimat ituyang pertama kali dilontarkan oleh Im Jiwon begitu tiba di hadapan Lysa dan bertatapan dengannya. Lysa sama skeali tidak mengerti apa maksud kalimat terakhir Jiwon padanya, dan hanya menebak nebak. Namun, Lysa maish terdiam selama beberapa waktu sambil memandangi Jiwon. Wnaita itu terlihat sangat berbeda dari yang terakhir kali Lysa lihat. Ia kira Im Jiwon itu adalah wanita bak bidadari yang selalu tersenyum pada semua orang dan mengepakkan sayap kebaikan pada orang lain yang ia temui. Karena tepat seperti itu image yang Jiwon tunjukkan saat pertama kali mengajak Lysa bertemu di kafe, menjaga sikap, terlihat sopan dan ramah, dan tidak memiliki tatapan maut yang sangat dingin dan menusuk seperti sekarang.
Bagi Lysa. Sosok yang saat ini berdiri di hadapannya sangat berbeda dari sosok Im Jiwon yang pernah Lysa kenal. Entah karena memang seperti itu kepribadian asli dari Jiwon. Atau hanya karena Jiwon merasa sangat terkejut sekaligus marah mengetahui kalau Lysa itu adalah kekasih Mino. Entah apa pun alasannya, yang pasti Lysa tidak peduli dan Lysa juga tidak mau tahu. Itu sama sekali tidak penting dan bukan urusannya!
“Baik. Karena kau sudah melihat secara langsung, aku tidak perlu menutup nutupi lagi darimu seperti yang dulu kulakukan. Benar. Aku adalah kekasih dari Han Mino. Kami sudah berkencan dan sudah memutuskan untuk terus bersama.” Lysa berkata dengan tegas. DI hadapan Jiwon, Lysa tidak ingin nyalinya itu menciut. Ia menunjukkan kalau ia juga bisa bersikap tegas dan sadis pada Jiwon yang notabene nya sebagai mantan kekasih dari Han Mino, kekasihnya.
Mendengar kata itu, Jiwon langsung tersenyum getir. pandangannya seketika terjatuh dan ia mencoba untuk menenangkan diri. Dan begitu pandangan Jiwon menaik, terlihat kilatan amarah yang terpancar di bola matanya saat menatap Lysa. Wanita itu berkata dengan nada suara yang lirih namun amat sini.
“Mino, mantan kekaishku ... dan bahkan Brian, yang ingin kujjadikan suamiku ... kenapa kau selau terlibat dalam setiap urusanku? Aku benar benar muak berurusan dengan gadis kecil sepertimu!”
Dengan wajah geram dan suara lembut yang Jiwon miliki, ia mengecam Lysa dengan kalimat itu. Membuat Lysa terpukul dan benar benar marah karena sebuatn ‘gadis kecil’ yang wanita itu sebutkan. Sungguh, lysa membencinya. Satu hal di duni ini yang paling Lysa benci adalah dikatai seperti anak kecil apalagi dikecam menggunakan kalimat itu. Lebih dari apa pun, Lysa tidak menyukainya dan benar benar marah mendengar itu.
Lysa yang merasa sangat marah itu mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarah. Rasa marah dalam tubuhnya sudah menyentuh ubun ubun dan hampir saja meledak.
“Kim Lysa, Im Jiwon!”
Suara seorang laki laki yang memanggil kedua wanita itu membuat Lysa sontak menghentikan niatnya untuk memberikan tamparan pada Jiwon yang mengecamnya dengan kata kata ‘gadis kecil’. Meski pun Lysa merasa sangat direndahkan dengan kata kata yang wanita itu lontarkan, Lysa tidak bisa berbuat apa apa karena Brian yang tiba tiba datang di bandara ini dan tengah berjalan menuju ke arah dua wanita itu.
“Brian ssi! Terima kasih sudah menjemputku di sini. Aku merasa sangat bingung karena ini adalah pertama kalinya aku datang ke Yogyakarta Indonesia. Kalau saja Ibu Brian ssi tidak memintaku datang dan menemanimu di sini, sepertinya aku tidak akan pernah datang ke Indonesia.” Im Jiwon menceletuk dengan nada bicaranya yang manis dengan setengah ber aegyo (bersikap lucu) di hadapan Brian. Dan itu benar benar membuat Lysa yang medengarnya merasa sangat muak.
“Aku mendengar dari ibu kalau kau akan datang. Dan ibu memintaku menjemputmu di bandara,” ucap Brian. Kemudian pandnagan Brian tertuju pada Lysa yang sejak tadi berdiri membengong dengan tatapn mata yang tak fokus. “Oh, Lysa, kau juga di sini?”
Pertanyaan brian itu membangunkan Lysa dari lamunan. Menyeret Lysa keluar dari lamunan kelamnya tentang amarah dan rasa tidak terima nya akibat kata kata Jiwon yang sangat mencekat dan menyebalkan.
Sembari menatap brian yang terlihat bingung melihat keberadaan Lyda di bandara, Lysa menjawab denan tergagap gagap. Bodoh, kenapa gadis itu jadi tergagap gagap hanya karena ucapan Jiwon? Untuk pertama kalinya Lysa merasa nyalinya sedikit menciut ketika berhadapan dengan Jiwon yang usianya tujuh tahun di atasnya, yang tentunya lebih berumur dan lebih dewasa secara usia dibandin dengan Lysa.
“Eh? I—iya.”
“Apa setelah ini kau akan kembali ke hotel?” lanjut Brian bertanya.
“Iya.”
“Kalau begitu ayo sekalian pakai mobilku. Aku juga akan ke hotel untuk mengantar Jiwon,” tawar Brian.
Lysa tidak dapat menolah dan hanya dapat mengangguk kecil menatap brian. Seketika itu Brian pun berbalik, berjalan menuju pintu keluar. Di sebelahnya, Jiwon yang juga mulai berbalik itu menatap sinis ke arah Lysa dan tersenyum menyeringai seolah olah ingin menjatuhkan Lysa dengan senyum sinisnya itu.
Sejak kedatangan Mino, Lysa sama sekali tidak melihat Brian dan semua pesan teks yang dikirimnya pada Brian tidak dibalas oleh laki laki itu. Namun secara mengejutkan Brian muncul di bandara untuk menjemput Im Jiwon yang baru saja datang dari Korea. Dan kedatangannya di waktu yang sangat tepat sehingga wanita itu berpapasan dengan Lysa dan akhirnya tahu bahwa wanita yang membuat Mino tidak bisa kembali pada Jiwon itu adalah Kim Lysa, yang menjadi rintangan terbesar Jiwon untuk memenangkan hati Brian.
Meski harga dirinya terluka karena Jiwon, Lysa berusaha menahan diri dan tidak bersikap kekanakan. Ia pun mengikuti langkah kedua manusia yang dari belakang terlihat seperti saling merasa terpaksa untuk dekat satu sama lain. Lysa berjalan di belakang kedua manusia itu seperti boduguard yang sedang mengawasi pasangan selebriti yang sedang berkencan di tempat umum. Sungguh. Lysa tidak menyangka dunia bisa berbalik dengan begitu cepat. Ia rasa, sampai beberapa menit lalu ia merasakan sangat bahagia seolah olah seisi dunia ini adalah miliknya, ketika memeluk tubuh Mino dan membuat laki laki itu berada dalam cengkeramannya. Namun, dalam sekejap dunia berbalik menjadi sangat jahat karena telah menempatkan Lysa pada posisi mengenaskan, merasa terinjak injak harga dirinya oleh Jiwon, dan sekarang menjadi penjaga. Ternyata, keberuntungan Lysa hari ini hanya sampai ketika Mino masih ada di depan matanya. Karena begitu laki laki itu pergi, Lysa menjadi terkucilkan dari dunia dan merasa benar benar kesal. Di saat seperti ini, Lysa berpikir bahwa Mino adalah seperti jimat keberuntungan untuknya. Dan belum ada lima belas menit Lysa berpisah dengan Mino, Lysa sudah merasa sangat merindukannya. Merindukan sentuhan Mino dan pelukan hangatnya. Merindukan suara lembutnya ketika bertutur kata kepada Lysa. Merindukan canda dan tawanya. Merindukan dekapan hangatnya yang seeprti sinar rembulan. Lysa merasa sangat sangat merindukan Mino dan semua tentang laki laki itu. Padahal, pesawat yang ditumpangi Mino menuju Filipina saja belum lepas landas, tetapi Lysa merasa sangat merindukannya.
**
Malam hari Lysa merasa sangat capek. Ini adalah hari yang sangat panjang untuknya. Selama berada di Indonesia ini, Lysa tidak pernah merasa harinya sangat panjang dan melelahkan seperti ini. dari pagi ia keliling kota menaiki dokar bersama Mino. Lalu siangnya emosinya terkuras habis sampai ia benar benar kehilangan tenaga. Dan sore harinya emosi Lysa kembali terkuras habis karena harus berpisah dengan Mino, ditambah kedatangan Jiwon yang tidak terduga di Indonesia. Sungguh hari yang sangat panjang. Entah mengapa dalam satu hari ini ada banyak kejadian yang terjadi. Membuat Lysa benar benar capek dan lelah, secara fisik maupun secara mental. Ia juga tak sabar ingin segera membaringkan tubuhnya ke atas kasur.
Padahal waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam/. Dan tubuh Lysa benar benar merasa capek. Ia ingin cepat cepat tidur dan tidak ada sedikit pun niatan untuk pergi keluar pada malam ini.
Begitu tiba di hotel menggunakan mobil Brian, Lysa langsung naik menuju kamar hotelnya. Ia langsung membaringkan tubuhnya sejenak di atas kasur yang sangat empuk. Di atas kasur yang sangat empuk itu, kemarin petang ia bercinta dengan Mino dan menghabiskan malam bersama, dengan sangat indah.
Lysa membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Tubuhnya terasa sanghat capek, namun mentalnya terasa lebih lelah lagi. Begitu Lysa memejamkan mata, ingatan tentang malam kemarin yang ia habiskan dengan Mino kembali terbesit. Kenangan indah bersama laki laki itu. Dan waktu sangat singkat yang dilaluinya bersama Mino, terasa begitu membekas dalam benak Lysa. Lysa seolah olah masih merasakan keberadaan Mino di kamar hotelnya. Dan menginginkan keberadaan Mino untuk menjadi teman tidurnya malam ini. Namun, ia tahu semua itu mustahil. Lysa hanya bisa berharap bahwa malam ini ia memimpikan Mino. Supaya tidurnya lebih lelap dan esok pagi energinya kembali terkumpul untuk memulai hari yang baru setelah hari ini berlalu dengan begitu panjang dan melelahkan.
Lysa membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata sejenak. Lalu ia terbangun untuk bergegas membersihkan tubuhnya dengan mandi. Ia ingin segera mandi supaya bisa segera beristirahat sampai nyenyak. Meski sebenarnya waktu malam hari di Jogja itu akan terasa sangat sia sia jika Lysa menghabiskannya dengan tidur, untuk malam ini saja Lysa ingin tidur lebih awal. tubuh dan pikirannya hanya terasa sangat lelah.
Lysa beranjak dari kasur. Berjalan menuju kamar mandi sambil membawa baju ganti dan juga handuk. Membersihkan tubuh dan rambutnya. Dan begitu selesai, Lysa duduk di atas meja rias hotel untuk mengeringkan rambut dan mengoleskan beberapa krim untuk wajahnya sebelum beranjak tidur.
Kamar Lysa sangat hening dan sunyi. Hanya suara mesin dari pengering rambut yang sedang Lysa nyalakan untuk mengeringkan rambut itu yang memecahkan keheningan ruang kamar Lysa. Dan beberapa saat kemudian, ketika rambut Lysa masih setengah kering, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat pelan di sela sela suara mesih pengering rambut yang menyala.
Medengar suara itu samar samar, Lysa segera mematikan mesin mengering rambut yang masih belum menyelesaikan tugasnya utnuk mengeringkan rambut Lysa itu. Lysa mematikannya dan langsung meletakkannya ke atas meja rias. Lantas memasang telinga tajam tajam untuk memastikan apakah suara ketukan pintu kamarnya tadi benar benar nyata atau hanya halusinasi Lysa yang benar benar erasa sangat lelah saja.
Dan, setelah memasang telinga selama beberapa detik.
Tok tok tok!
Ternyata memang benar ada yang mengetuk pintu kamar hotel Lysa. Lysa yang mendengarnya dengan pasti, segera berdiri dari duduk. Dengan keadaan rambutnya yang masih setengah kering, gadis itu berjalan menuju pintu kamar hotel untuk membukakan pintu pada orang yang mengetuknya.
Cklekk!
Dan ternyata, yang berdiri di depan pintu itu adalah Brian.
“Oh, Brian! Ada apa?” tanya Lysa kaget saat melihat Brian berdiri seorang diri di depan pintu hotelnya, tanpa Jiwon yang ada di sebelah laki laki itu. Lys ayang merasa bingung itu hanya menatap Brian yang terlihat berbeda hari ini.
“Ada yang ingin kukatakan padamu. Bisakah kita bicara sebentar? Aku akan menunggumu di restoran hotel lantai dua. turunlah setelah kau mengeringkan rambutmu dan berpakaian dengan baik.” Brian mengatakan kalimat itu dengan cepat dan langsung pergi meninggalkan Lysa. Kepergian Brian itu sangat cepat seperti orang yang sangat terdesak. Lysa yang kebingungan kenapa Brian bersikap aneh itu, hanya membengong sambil melongokkan kepalanya ke luar pintu untuk melihat Brian yang telah masuk ke dalam lift.
“Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya aneh sekali?”
**