Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Cinta Hun yang Membara



Cinta Hun yang Membara


Yul Pov


Gara gara Hun, aku dan Yebin yang menonton film dengan tenang, diusir keluar oleh petugas bioskop karena dianggap telah menggangguk penonton lain. Aduh. Aku merasa sangat bersalah pada Yebin yang terlanjur asik menyaksikan film yang dibintangi oleh So Ji Sub tadi. Peraturan yang diterapkan di bioskop ini memang sangat ketat. Mengingat para penontonnya yang berasal dari kelas menengah ke atas. Sudah pasti mereka mebayar mahal mahal tiket masuk untuk menyaksikan film secara utuh, bukan untuk mendengar gangguan. Sudah sewajarnya jika petugas bioskop bersikap tegas dengan mengusirku keluar bersama Yebin.


“Ahh, bagaimana kelanjutannya film tadi? Kita keluar pas adegan yang sangat membuatku penasaran untuk melihat kelanjutannya.”


Yebin yang berjalan di sampingku ini mengeluh. Membuatku merasa benar benar bersalah. Aku tadi tidak terkendali dan langsung berteriak begitu saja karena kaget. Aku tidak sadar jika teriakanku itu mengganggu banyak orang hingga Yebin pun juga merasa dirugikan.


“Maafkan aku, Yebin~a. Besok kita kesini lagi ya untuk menonton?” ucapku meyakinkan Yebin yang terlihat kesal.


Tanganku yang memeluk bahu Yebin ini semakin erat. Aku meolehkan kepala, melihat wajah Yebin yang ikut mengesal. Wajah Yebin sangat menggemaskan saat sedang kesal. Tapi, bukan itu masalahnya. Aku tisak bisa membuat Yebin kesal lama lama karena ia sedang mengandung bayiku.


“Jangan cemberut gitu dong. Aku khawatir kalau bayi kita nantinya juga akan sangat menggemaskan seperti saat kau cemberut,” candaku.


Menanggapi itu, Yebin tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. Ia terlihat menahan senyum di balik bibir. Tapi aku melihat sudut matanya yang tersenyum menanggapi candaanku. Masalah kekesalan Yebin ... beres. Besok aku hanya perlu pergi ke mari lagi untuk mengajaknya menonton ulang film tadi. Yebin kelihatannya sangat menyukai film itu, sampai aku yang ada di sebelahnya diabaikan seperti peran figuran.


“Ah benar. Apa tadi itu sungguh Hun Oppa? Dia datang bersama hakim wanita yang saat itu?” tanya Yebin beberapa waktu kemudian.


Aku baru teringat kembali pada Hun, yang entah berada di mana setelah keluar lebih dulu begitu ketahuan olehku. Sepertinya dia sangat cekatan membawa kekasihnya kabur setelah ketahuan olehku kalau mereka baru saja berciuman dengan begitu sensual di gedung bioskop.


Pertanyaan Yebin membuatku teringat kembali pada Hun. Sekarang juga aku harus menemukan adikku yang bandel itu dan memberinya pelajaran. Bisa bisanya dia berbohong padaku tentang kekasihnya? Dia selalu saja menyanggah bahwa wanita itu hanya rekan kerja dan bukan siapa siapanya. Dia yang selalu menyangkal sampai aku pun akhirnya percaya bahwa wanita itu hanyalah rekan kerja Hun. Tapi, kenyataannya mereka ada di gedung bioskop ini dan berciuman dengan mesranya di depan mataku? Hun benar benar kurang ajar karena telah membohongiku.


Sejak kapan mereka berpacaran? Dan apa keduanya sudah pernah tidur bersama? Mengingat apartemen Hun yang letaknya tidak jauh dari gedung pengadilan pusat Seoul. Dan yang kudengar, wanita hakim itu juga tinggal di apartemen dekat gedung pengadilan. Apa jangan jangan mereka tinggal bersebelahan di gedung yang sama? Atau justru mereka tinggal bersama sejak kepindahan Yul ke apartemen barunya? Kalau diingat ingat, karena kesibukanku mengurusi kafe, aku belum sempat sekali pun datang ke apartemen Hun untuk memeriksa tempat tinggalnya.


Kedua bola mataku tiba tiba saja membara. Kalau benar mereka sudha tinggal bersama seperti pasangan pasangan yang ada di Amerika, aku akan memberikan hukuman pada Hun. Padahal aku tidka pernah mengajarinya seperti itu dengan wanita. Dari siapa dia belajar? Apa itu yang ia pelajari selama bersekolah di Amerika?


Aku mempercepat langkah sambil menggandeng tangan Yebin.


“Kita akan tahu apa wanita itu benar kekasihnya setelah menemukan ke mana Hun bersembunyi,” dengusku dengan tatapan yang membara bara. Sepertinya aku sudah siap untuk menginterogasi Hun sebagai seorang kakak.


“Oppa, kita mau ke mana?” Yebin menceletuk sembari mengikuti langkah cepatku berjalan di gedung bioskop ini. mencari ke mana Hun lari setelag berciuman dengan wanita itu.


Aku mencari cari dan akhirnya menemukan keberadan Hun di restoran yang letaknya masih di satu gedung dengan bioskop. Di restoran itu, ia terlihat sedang menikmati makan siang dengan hakim wanita.


“Itu dia. Kutangkap kalian berdua!”


Aku berjalan mendahului Yebin. berjalan cepat menuju meja tempat Hun dan hakim wanita itu duduk. Lalu segera mengambil duduk tepat di kursi seberang meja Hun.


Saat aku merutuk rutuk, Yebin yang tadi berjalan di belakangku, tiba di meja tempat Hun berada. Ia juga langsung terduduk di sebelahku. Ikut menginterogasi Hun yang ketahuan berkencan.


“Ah, Hyung ... ada apa denganmu? Kenapa kau berlebihan sekali? aku kan sudah dewasa. Biarkan aku mengurusi perkencananku sendiri. Kau tidak usah ikut campur.”


Begitu Hun membalas rutukan panjangku. Bocah ini ... sungguh membuatku tidak bisa berkata kata dengan lugas.


“Apa katamu? Kalau kau memang sednag berkencan, ya jujurlah saja pada kakakmu. Apa aku akan memarahimu jika kau memang berkencan dengan nona hakim ini? Apa aku berkata akan memberikan hukuman berdiri di pojok dengan mengangkat satu kaki jika memang berkencan? Tidak kan? Atau ... jangan jangan kau malu mengatakan hal seperti itu padaku?”


Sementara aku mencerocos panjang lebar, Hun memperlihatkan wajah kesal. Sedangkan nona hakim itu tampak menundukkan kepala dalam dalam. ia terlihat sangat sungkan menatap mataku dengan legas.


“Jangan mencoba coba untuk mengelak. Jelas jelas aku tadi melihat kalian berciuman dengan sangat mesra di dalam...”


“Apa?! Hyung ... kau melihat?” sahut Hun seketika dengan kedua telinganya yang memerah.


“benar. Aku melihat kalian berdua berciuman! Kenapa? Jangan mencoba membohongiku lagi dengan berkata kalau sebenarnya kalian tidak berkencan. Kau tau!” cetusku. Yebin yang duduk di sebelahku juga terlihat terkejut mendengar tentang ciuman itu. Begitu pun nona hakim yang wajahnya langsung memerah menahan malu.


Sembari menundukkan kepala, Hun mengumpat ngumpat. Ia meneguk airnya untuk melegakan tenggorokan.


Di sela itu, aku mengacungkan tangan pada pelayan restoran untuk memesan makan siang.


“Yebin~a, kau makan apa? Pilih saja semua makanan yang kau sukai. Karena sekarang kau harus makan yang banyak. Ya?” ucapku pada Yebin.


Yebin mengangguk anggukkan kepala sambil melihat buku menu. Ia melontarkan semua makanan yang diinginkannya pada petugas restoran. Lalu petugas restoran itu pergi untuk menyiapkan semua pesanan kami.


Tepat setelah petugas restoran pergi, Hun yang awalnya terlihat enggan untuk mengakui semuanya, tampak pasrah. ia menjelaskan setelah beberapa saat berpikir.


“Baiklah. Aku sedang berkencan dengan Jinhee~sii.” Hun akhirnya mengaku.


“Sejak kapan?” tanyaku tegas.


“Sekitar ... seminggu yang lalu.”


Kepalaku mengangguk angguk, mengerti.


“Masih baru rupanya,” tanggapku. “Kalian sudah tidur bersama?”


***