
Bab 48
Kim Lysa yang egois dan bodoh
[Maafkan aku. harusnya aku ada di sampingmu saat ini, Lysa. Aku benar benar menyesal.]
Lysa terpaku mendengar kalimat itu dari Mino di seberang telepon. Gadis itu terdiam, menatap kosong jalanan luas yang ada di hadapannya. Meresapi kata kata Mino di seberang telepon sambil terus menggenggap ponsel di dekat telinganya.
Gadis itu kini tidak dapat berkata kata lagi. Hati dan tatapannya masih kosong sembari ia memikirkan suatu hal yang tidak terduga dari Mino. Dari kata kata Mino, dan dari intonasi suaranya, sepertinya Mino sudah mendengar tentang berita tentang ia dan Brian di Indonesia. Entah dari siapa laki laki itu tahu tentang berita itu, Lysa dapat memastikan bahwa Mino telah mendengarnya.
Padahal Mino sama sekali tidak memiliki teman atau kenalan dari Indonesia. Dan laki laki itu juga berkata bahwa dirinya tidak mengenal siapa siapa dari Indonesia kecuali Lysa seorang. Pun ketika pertama kali datang ke Indonesia waktu itu, Mino juga selalu keluar bersama Lysa dan Lysa tahu apa saja yang Mino lakukan. Otomatis Mino tidak sempat berkenalan dengan orang baru di Indonesia, karena Lysa selalu bersamanya dan Lysa tidak mendapati Mino berinteraksi dengan siapa pun kecuali dirinya dan ibunya waktu itu. Jadi, dari mana Mino tahu? Tidak mungkin jika berita itu juga ada di Filipina, jadi Mino mengetahui hal itu dari mana? tidak mungkin kan Brian memberi tahu Mino?
Lysa yang sekarang sudah tahu bahwa Mino telah mendengar tentang skandalnya dengan Brian di Indonesia, merasa hatinya benar benar luluh lantah. Lysa tidak dapat berkata apa apa kepada Mino karena rasa bersalahnya yang cukup besar. Dan ia juga tidak memiliki keberanian yang besar untuk mengatakan suatu hal kepada Mino. Jadi yang dapat Lysa perbuat adalah...
Setelah mempertimbangkan, Lysa yang merasa benar benar tak tau harus berbuat apa, seketika itu menutup telepon dari Mino. Panggilan mereka pun terputus sepihak dan Lysa segera menurunkan ponsel dari telinga. Tangannya yang lemas itu menggeletakkan ponsel ke atas kursi halte yang ia duduki. Dan kakinya yang terasa begitu lemas, tidak bisa membuat Lysa beranjak berdiri meski sekarang bus yang ia tunggu tunggu telah tiba. Lysa hanya melamun, dengan pikiran kosongnya. Hingga kemudian bus yang berhenti tepat di hadapannya itu kembali melaju menuju arah jalan yang Lysa tuju. Dan ponsel yang ia geletakkan di atas kursi halte itu terus saja berdering karena mendapat panggilan dari Mino.
Telinga Lysa mendengar dering telepon itu. Namun meski ia mendengar, Lysa tidak memiliki niat untuk menjawab telepon yang masuk dari Mino dan juga beberapa pesan teks yang laki laki itu kirimkan. Hati Lysa begitu hancur. Ia merasa seperti tak memiliki daya lagi untuk mengucap apa pun di depan Mino yang telah ia kecewakan. Lysa tidak tahu apa saat ini Mino pikirkan. Apakah laki laki itu benar merasa kecewa setelah mendengar berita tentang Lysa dan brian di Indonesia. Ataukah ada hal lain yang Mino pikirkan setelah mengetahui hal itu. Lysa sama sekali tidka tahu. Dan ia merasa takut untuk sekadar tahu bagaimana reaksi Mino ke depannya.
Akhirnya Lysa memutuskan untuk tidka pernah menjawab lagi telepon dari Mino lagi. Meski pun laki laki itu selalu meneleponnya di setiap ada kesempatan, Lysa tidak menjawab. Dan meski pun Mino mengirimkan puluhan, atau bahkan ratusan pesan teks kepada Lysa, Lysa tidak membuka pesan teks itu. Ia hanya membiarkan semua pesan chat dan juga telepon dari Mino. Benar benar membiarkannya karena Lysa tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi Mino yang ternyata di negeri jauh sana sudah mengerti semuanya ... entah bagaimana dan dari siapa. Lysa hanya menghindari laki laki itu, karena merasa begitu frustasi dan tidak memiliki arah. Ia sudah terlalu lelah menghadapi semua hal yang terjadi padanya.
Sampai tiga hari kemudian, Lysa masih tetap melakukan hal yang sama; tidak menjawab telepon Mino dan mengabaikan semua pesan chatnya. Membuat Mino yang berada di Filipina merasa benar benar khawatir.
“Manajer Han, tolong Anda lihat ini. Saya sudah membuat desain kafe dan juga arsitektur di dalamnya. Untuk struktur bangunannya, nanti akan saya jelaskan ketika rapat.”
Seorang tenaga profesional yang sedang melakukan kerja sama dengan Moonlight Coffe di Filipina menghampiri Mino sambil membawa rancangan gambar denah bangunan. Laki laki tampan berkulit agak gelap yang merupakan orang blesteran Filipina – Korea itu dapat berbahasa Korea dengan lancar di hadapan Mino yang tidak mengerti bahasa Filipina. Sehari hari Mino berada di sini, ia menggunakan bahasa inggris, dan begitu pun semua orang atau pekerja yang terlibat dalam proyek ini, semuanya menggunakan bahasa inggris.
“Ohh, sudah jadi? Lebih cepat dari yang dibayangkan.” Mino berucap setelah meneguk minuman dingin yang baru diambilnya dari dispenser. Ia menerima rancangan gambar itu dan melihatnya sekilas. Tenaga profesional memang tidak diragukan. Mino mengangguk anggukkan kepala karena merasa cukup puas dengan rancangan gambar denah kafe yang maish belum terealisasikan.
“Kerja bagus, Tuan Hangs. Saya akan menunggu presentasi Anda untuk rapat nanti,” ucap Mino sambil tersenyum puas kepada teaga proffesional bernama Hangs yang melakukan pekerjaan dengan baik itu.
Setelah itu Hangs keluar dari ruangan yang ditempati Mino ketika istirahat siang ini. ia meneguk kembali minuman dinginnya sampai habis. Lalu menengok jam dan mendapati waktu yang kurang lima belas menit lagi untuk menuju rapat selanjutnya.
Mino mengembuskan napas panjang panjang. Memikirkan suatu hal yang selama tiga hari terakhir ini mengusik benaknya. Benar benar membuatnya merasa tidak nyaman dan sungguh khawatir. Yaitu, sikap Lysa.
Mino memang sudah tahu semuanya. Dan merasa sungguh pilu terhadap Lysa yang sekarang sedang berada di situasi yang sangat sulit di Korea, dan Mino senditi tidak bisa menemaninya karena harus menyelesaikan pekerjaannya di Filipina. Padahal waktu itu Mino belum menyampaikan apa yang ingin ia katakan, namun Lysa menutup telepon begitu saja dan membuat Mino merasa benar benar khawatir.
Setelah Lysa menutup telepon begitu saja di hari itu, di tempat ini Mino benar benar khawatir. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Lysa sampai suara Lysa terdengar begitu hancur seperti itu. Dan Mino belum sempat menanyakan hal itu, belum sempat mengatakan pada Lysa bahwa semuanya akan baik baik saja. Banyak sekali hal yang belum sempat Mino katakan ketika tiba tiba Lysa mengakhiri telepon mereka dan sampai detik ini tidak mau menjawab telepon lagi dari Mino. Bahkan tidak mau membaca semua pesan teks yang laki laki itu kirimkan. Dan sungguh, itu membuat Mino merasa benar benar bingung dan sangat khawatir. Ia mengkhawatirkan keadaan Lysa di sana yang jelas jelas sedang tidak baik baik saja tanpanya, namun gadis itu juga tidak mau menjawab telepon dari Mino. Dan, keadaan Mino saat ini sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di Filipina.
Setelah merenung cukup lama, Mino merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Ia memeriksa kembali semua pesan teks yang telah ia kirimkan untuk Lysa, dan mendapati bahwa semua pesna teks itu belum Lysa baca apalagi balas. Justru, pesan teks yang Mino dapat adalah pesan t eks dari Jiwon yang itu bena rbenar mengganggunya. Mino mendapat beberapa pesan beruntun dari Jiwon, namun Mino tak memiliki niat untuk membalasnya dan hanya membacanya saja, tanpa memberikan balasan.
Melihat Lysa yang tak kunjung membuka pesannya, Mino mengembuskan napas panjang dari perut. Merasa benar benar khawatir kepadanya. Lalu tepat setelah itu, datang sebuah panggilan dari seseorang yang tidak lain adalah asisten manajer Moonlight Coffe Korea yang saat ini sedang menghendel semua tugasnya di kafe pusat.
Begitu mendapat telepon dari asistennya, Mino segera menjawab telepon tersebut. ia yakin, asisten manajer itu meneleponnya untuk melaporkan sesuatu tentang informasi yang Mino minta kemarin sore.
“Halo, iya katakan saja.”
Selama beberapa saat Mino terdiam mendengar asisten manajer di seberang telepon berbicara. Ia mendengarkan dengan seksama setiap informasi yang asisten manajer itu katakan.
Mino mendengarkan dengan seksama semua informasi yang diberikan oleh asistennya.
[Kim Lysa masih bekerja di kafe sampai hari ini. Namun dia terlihat seperti sangat kelelahan untuk melaukkan semua hal. Bahkan kemarin Lysa berbuat kesalahan pada seorang pelanggan kafe yang membuat Kim Lysa harus secara terus terang meminta maaf pada pelanggan itu. Padahal, Kim Lysa selalu melakukan pekerjaannya dengan baik dan terlihat paling bersemangat di antara semua karyawan kafe yang ada. Saya bahkan terpaksa harus menegurnya karena beberapa kesalahan lain yang Kim Lysa lakukan. Dan ketika saya bertanya apakah dia ada masalah atau sedang sakit, Kim Lysa hanya menggelengkan kepala dan berkata ‘maaf, saya tidak akan mengulangi lagi’. Oh ya, tiga hari lalu, saat Lysa seharusnya masih bekerja di kafe, tiba tiba ada sebuah mobil datang dan Lysa dibawa oleh mobil itu. Saya tidak tau mereka siapa, tapi sepertinya Lysa saat itu akan bertemu dengan seorang yang penting ... mereka bahkan membawa dua bodyguard untuk membawa Lysa dalam sebuah mobil mewah itu. Hm ... sepertinya itu saja yang ingin saya sampaikan, Manajer Han. Kalau untuk hari ini, Kim Lysa saya suruh untuk beristirahat saja di rumah karena wajahnya terlihat sangat lesu dan pucat.]
Semua penjelasan panjang itu terdengar dari asisten manajer. Mino yang telah selesai mencerna semua itu, hanya diam selagi menarik napas panjang ke dalam perut. Merenungkan apa yang sedang terjadi pada Lysa di hari itu, dan bagaimana kondisi Lysa saat ini yang sepertinya sangat sangat kacau.
Benar, Lysa sangat kacau. Dari cerita yang Mino dengar dari asisten manajer, Lysa terdengar benar benar sedang tdak baik baik saja di Seoul. Dan Lysa sangat membutuhkan keberadaan seseorang yang bisa berada di pihaknya tanpa terkecuali.
Karena masih belum terdengar sahutan dari Mino, asisten manajer yang teleponnya masih tersambung dengan Mino, kembali menceletuk di seberang telepon.
[Maaf, saya lancang... tapi, kalau boleh saya tahu, apa hubungan Manajer Han dengan Kim Lysa? Sepertinya Kim Lysa sangat spesial di mata Anda sampai sampai Anda menanyakan hal itu langsung kepada saya di tengah kesibukan Anda di Filipina.]
Memang sedikit lancang untuk asisten itu menanyakan hal pribadi pada atasannya. Dan Mino mendengar pertanyaan itu. Merasa sedikit ragu untuk menjawab ‘tidak ada apa apa’. Setelah berpikir selama beberapa detik, akhirnya Mino pun menjawab pertanyaan lancang asisten manajer itu kepadanya.
“Lysa adalah calon istriku. Tolong perlakukan dia dengan baik dan jangan beri tahu siapa siapa tentang hal ini. aku bahkan belum mengatakan hal ini pada Bos Moon. Dan jangan perlihatkan pada Lysa kalau kau telah tahu hubungan kami,” jawab Mino dengan lugas dan tegas. Dari suaranya berbicara, tidak terdengar sedikit pun keraguan ketika mengatakan bahwa Lysa adalah calon istrinya.
[....]
Di seberang telepon, asisten manajer yang terdengar begitu kaget itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk berbicara. Dan sebelum terdengar suara lagi dari asisten manajer, Mino kembali memanggil asistennya, “Asisten Min.”
[Ah... ya, Manajer Han, ada apa?]
“Sepertinya aku akan menunda proyek kafe di Filiipina. Ada masalah besar dan rumit yang harus segera aku selesaikan. Tolong kirimkan aku agenda mingguan Bos Moon. Aku harus segera meneleponnya untuk mendiskusikan masalah ini dan segera kembali ke Korea.”
[Baik. Saya akan segera kirimkan pada Anda.]
Setelaj itu panggilan mereka tertutup. Dan seketika itu juga tubuh Mino terasa lemas, memikirkan seberapa besar masalah yang sedang Lysa hadapi saat ini.
‘Dua bodyguard ... Hangin Grup ... Tuan Alvendo ... Brian ... kekacauan di Indonesia dan Hangin Grup... tunangan ... Lysa Kim.’
Semua pecahan teka teki itu kini telah terangkai dan menjadi sebuah masalah besar di pikiran Mino. Sekarang Mino tahu, apa yang membuat Lysa begitu kacau dan hancur. Mino juga tahu, kalau sekarang, Lysa sedang berhadapan dengan Hangin Grup dan Tuan Alvend si pemilik Hangin Grup sekaligus ayah Brian. Lysa berhadapan dengan sesuatu yang jauh di luar jangkauannya ... sendirian, tanpa ingin melibatkan Mino.
Sekali lagi, Mino mengembuskan napas panjang. Lalu ia menggumam gumam bersama rasa sakitnya memikirkan keadaan Lysa saat ini dan masalah apa yang sedang Lysa hadapi.
“Gadis bodoh ... apa dia berusaha melawan Hangin Grup sendiri? Harusnya dia menceritakannya padaku, dasar Kim Lysa yang egois dan bodoh.”
**