
Astaga, wanita itu datang lagi. Sial! Seratus, dua ratus persen aku yakin mereka akan keluar berkencan setelah ini.
Yebin merutuk-rutuk dalam hati menyadari Haeri yang datang lagi ke rumah Yul di waktu sore ini.
“Pacarnya Ajeossi benar-benar cantik. Wanita itu adalah seorang pengacara. Dia yang membela pamanku saat mendapat tuduhan suap. Beberapa kali aku melihatnya. Dan dia benar-benar sangat cantik saat dilihat dari dekat. Orangnya sangat ramah, lemah lembut, dan mudah sekali tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya.”
Somin berucap panjang lebar sambil mengamati sepasang manusia di halaman rumah Yul. Mulutnya yang menggumam-gumam membuat Yebin beberapa kali mengembuskan napas panjang.
“Benar. Wanita itu memang cantik. Dia sering datang ke rumah Ajeossi. Mereka juga sering terlihat keluar bersama. Tapi, aku tidak begitu menyukainya.” Yebin membalas sambil fokus melakukan pekerjaannya.
Tubuh Somin sontak berbalik. Ia kembali ke tempatnya setelah melihat sepasang manusia itu masuk ke dalam rumah.
“Kenapa? Wanita itu cantik. Sikapnya juga ramah dan lembut. Tidak ada alasan orang lain tidak menyukainya,” celetuk Somin.
“Wanita itu terlihat sangat lemah. Meski belum bertemu langsung dengannya, aku bisa tahu kalau dia itu lemah. Aku sering melihatnya datang ke rumah Ajeossi malam-malam sambil menangis. Dan Ajeossi, dia selalu datang setiap kali wanita itu menelepon. Bahkan ketika Ajeossi sedang makan malam di rumahku bersama ibu, dia langsung pergi setelah wanita itu meneleponnya.” Yebin bercerita.
Ingatannya melayang ke belakang. Mengingat-ingat kejadian yang sering terjadi pada Yul.
“Wanita itu terlihat lemah dan terlalu bergantung pada Ajeossi. Ajeossi yang bodoh selalu datang setiap kali dia memanggil. Padahal Ajeossi adalah orang yang sangat sibuk sebagai pemilik kafe. Pun kehidupan Ajeossi tidak mudah karena ia harus bertahan seorang diri sebagai kepala keluarga. Dia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan adiknya. Juga bertanggung jawab atas Moonlight Coffe dan semua karyawannya. Ajeossi bahkan mengubur mimpinya sebagai seniman karena harus mengurusi kafe.”
Tatapan Yebin menyendu mengingat-ingat kembali pria bernama Yul dan semua kisah hidup pria itu. Meski baru satu musim ia mengenal Yul, Yebin merasa telah mengerti jauh tentangnya. Tentang kisah Yul dengan sejuta luka dan caranya bertahan tanpa satu pun keluarga yang menemani. Yebin yang juga pernah kehilangan sosok ayah, merasa dapat mengerti seberapa dalam luka Yul yang kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu bersamaan. Juga mengerti seberapa keras Yul bertahan hidup seorang diri dengan semua tanggung jawabnya sebagai anak pertama.
“Kadang aku merasa pilu mendengar kisahnya. Bagaimanapun, berjuang sendirian itu tidak mudah. Tapi Ajeossi berjuang hidup sendirian sementara adiknya di Amerika. Ajeossi juga harus mengubur mimpinya sebagai pelukis. Itu pasti sangat berat dan menyesakkan. Aku sendiri tidak pernah membayangkan betapa sakitnya menyerah dari mimpi, karena itu sangat berat dan membawa luka yang sangat dalam. Tapi, Ajeossi bertahan dari itu semua dan hidup sebagai pria yang baik dan penuh tanggung jawab,” lanjut Yebin bercerita.
Ia teringat pada sosok wanita yang dibicarakan Somin barusan.
“Wanita itu tidak tahu. Dia tidak tahu betapa keras Ajeossi menjalani kehidupannya. Dia sangat egois dan bergantung terlalu erat pada Ajeossi. Aku tidak menyukai wanita itu. Siapa yang peduli jika dia cantik dan ramah? Dia tidak memikirkan kehidupan orang lain dan hanya bergantung.”
Somin terdiam mencerna semua kalimat Yebin dengan baik.
“Itu benar juga sih. Tapi,” kalimat Somin terjeda. Kedua matanya memicing menatap Yebin yang sedang menoleh. “Tidakkah kau terlalu peduli pada Ajeossi? Katamu kau tidak menyukainya. Apa kau tahu kalau cerita panjangmu tadi itu terdengar benar-benar peduli pada Ajeossi? Seolah-olah kau mencemaskan Ajeossi dengan sangat dalam, sebagai wanita.”
Perlahan-lahan seluruh pikiran Yebin dikuasai oleh Yul. Benaknya telah didominasi oleh laki-laki yang Yebin anggap sebagai sosok pria dewasa yang dapat diandalkan. Tanpa Yebin sadari, semua pikirannya terfokus pada Yul setelah mengetahui semua cerita tentang pria itu. Membuat Yebin merasa bingung. Apakah sungguh ia menyukai laki-laki itu sehingga memedulikannya dengan begitu dalam. Tapi, perasaan itu sungguh tidak masuk akal. Yebin yang berdebar-debar setiap kali bertemu Yul, menganggap itu adalah reaksi yang biasa ketika perempuan bertemu laki-laki dewasa yang dapat diandalkan. Sama sekali Yebin tidak pernah berpikir bahwa dirinya itu menyukai Yul. Tidak. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin Yebin menyukai Yul yang menganggapnya adik perempuan.
Tubuh Yebin bergeming memikirkan ucapan Somin. Ia kembali menggelengkan kepala dan menyanggah, “Tidak. Bukannya menyukai Ajeossi, hanya saja aku peduli padanya. Seperti halnya dia peduli padaku dan ibuku.”
“Hei, mana ada perasaan semacam itu? Cinta kadang berawal dari rasa peduli. Berhati-hatilah, Yebin. Kau bisa benar-benar menyukai Ajeossi yang sudah memiliki wanita lain,” cerocos Somin.
“Kubilang tidak!” Yebin berteriak kesal. Seketika itu Somin menjingkat kaget.
“Kalau tidak ya sudah! Kenapa kau berteriak?” cetus Somin.
Dengan nada suara yang menurun Yebin mengimbuhkan. “Hanya saja ucapanmu itu tidak masuk akal. Membuatku kesal saja.”
“Kalian belum selesai?”
Suara Miyoon dari arah pintu seketika mmebuat kedua wanita itu menoleh. Mereka mendapati Miyoon yang baru masuk ke kamar Yebin sambil membawakan satu piring penuh berisi buah-buahan yang telah dikupas.
“Bibi Miyoon,” panggil Somin.
“Makanlah ini selagi mengerjakan itu. Di bawah masih ada banyak buah. Kalau habis turunlah. Aku akan mengupaskannya lagi.” Miyoon berucap sambil menyerahkan piring buah kepada Somin.
“Terima kasih, Bibi.”
***
Yul menyalakan mobil setelah melihat Haeri selesai memasang sabuk pengaman. Roda mobilnya mulai berputar. Yul mengeluarkan mobil dari gerbang rumah. Kemudian turun untuk menutup kembali gerbang rumah yang terbuat dari besi nirkarat.
Selagi mengunci pintu gerbangnya, Yul mendapati Yebin yang sedang mengantarkan kotak paket kepada kurir jasa antar barang kilat. Wanita itu menyerahkan kotak paket sebanyak kurang lebih tiga puluh lima kotak dibantu oleh Somin dan Miyoon. Ketiga orang tersebut berdiri di samping mobil boks pengantar barang sementara dua orang kurirnya menata kotak-kotak paket ke dalam mobil.
“Wah, kau dapat pesanan banyak hari ini.”
Yul yang selesai mengunci pintu gerbang menceletuk kepada Yebin di seberang jalan. Suaranya itu membuat ketiga wanita yang berdiri di samping mobil boks menoleh.
Yebin mengembuskan napas gusar mendengar pria yang hendak pergi berkencan itu menceletuk. Tatapan Yebin yang dingin menatap malas ke arah Yul yang tersenyum riang dari seberang jalan.
Tanpa membalas apa-apa Yebin berlalu pergi sambil mencibirkan bibir. Mata sinisnya sekelebat memandang Yul sebelum berbalik masuk ke dalam gerbang. Yul yang mendapati sikap sinis dari Yebin, mengernyit bingung.
Ia tidak tahu kenapa Yebin marah saat ia mengatakan hal baik sementara saat Yul mengejeknya Yebin pun lebih marah. Apa pekerjaannya itu hanya marah-marah? pikir Yul sambil mengernyit bingung. Ia sama sekali tidak bisa memahami perasaan wanita yang sungguh rumit dan membingungkan, serta tidak dapat ditebak.
“Apa pubertasnya terlambat? Dia marah saat aku menyapanya dan marah saat aku tidak menyapanya,” gumam pelan Yul mendapati Yebin yang baru masuk ke dalam rumah.
Mengabaikan Yebin yang berlalu pergi, Yul menujukan pandangannya pada Miyoon yang masih berdiri di depan gerbang bersama Somin.
“Ibu Miyoon, selamat sore,” sapa Yul kepada Miyoon. Lalu pandangannya beralih pada Somin. “Selamat sore juga, Somin.”
“Selamat sore, Ajeossi.” Somin membalas sapaan Yul sambil tersenyum semringah.
“Mau ke mana kau sore-sore begini Moon Sajang?” Miyoon menanyai Yul yang sepertinya hendak pergi keluar bersama seseorang.
“Kami mau ke Yangcheon. Ada sesuatu yang harus kami belanjakan,” jawab Yul sambil menoleh ke arah Haeri. Di dalam mobil, Haeri menganggukkan kepala sekenanya menyapa Miyoon sambil tersenyum.
Yul memekarkan senyuman ramahnya kepada Miyoon. Miyoon dan Somin pun beranjak masuk ke dalam gerbang setelah mobil pengangkut yang membawa barang-barang pesanan melesat pergi.
Tidak menunggu lama Yul pun naik ke dalam mobil. melesatkan mobilnya menjauhi rumah. Menuju Yangcheon untuk membeli hadiah ulang tahun ibu Haeri.
***
“Sepertinya yang ini lebih bagus.” Yul berargumen sembari menunjuk salah satu scraft yang dibawakan oleh seorang pelayan toko. Di antara beberapa scraft yang diperlihatkan oleh pelayan itu, Yul menunjuk scraft motif berwarna toska.
“Begitukah? Bagaimana dengan yang ini?” Haeri bertanya sambil menunjuk scraft warna khaki.
Kepala Yul memiring. Ia menyentuh dagu sambil berpikir.
“Itu juga bagus. Tapi, aku tidak berpikir kalau ibumu akan menyukainya. Warnanya terlalu terang untuk dipakai ibumu yang berkulit cerah, bisa membuat ibumu terlihat pucat.” Yul berucap.
“Itu benar sekali,” sahut Haeri yang merasa perkataan Yul itu benar. Sambil menunjuk scraft warna tosca yang dipilihkan Yul, Haeri berkata kepada pelayan toko. “Saya ambil yang ini saja. Tolong dibungkus dengan cantik. Saya ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahun.”
“Tunggu sebentar, Nyonya.”
Pelayan toko pergi meninggalkan Yul dan Haeri yang berdiri di depan etalase. Keduanya menunggu pelayan toko itu membungkus scraft pesanan sembari mengamati sekeliling mall yang ramai pada hari yang mulai menggelap ini.
Di tangan Yul terdapat tiga tas belanja berisi beberapa kebutuhan harian. Sementara di sebelahnya, Haeri menenteng dua tas belanja berisi pakaian dan kosmetik yang baru dibelinya di lantai dua gedung pusat perbelanjaan di Yangcheon.
Sudah menjadi rutinitas untuk Yul yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Haeri, membelikan hadiah ulang tahun untuk ibunya. Yul yang telah lama mengenal keluarga Haeri selalu memberikan ibunya hadiah dan beberapa kali berkunjung dalam setahun. Selain karena mendiang ayah Haeri yang merupakan teman akrab ayah Yul, Yul dekat dengan keluarga Haeri karena ia berteman dekat dengan Haeri sejak SMA. Keduanya telah berteman akrab seperti saudara. Haeri yang merasa dapat mengandalkan Yul, selalu menceritakan permasalahannya kepada Yul. Menjadikan Yul sebagai tempat paling nyaman untuknya menceritakan permasalahan pribadi. Sementara Haeri yang merupakan satu-satunya teman wanita paling dekat dengan Yul, menjadi teman untuk Yul yang kesepian. Yul memang memiliki banyak teman bermain dan juga patner. Tetapi ia hanya memiliki Haeri sebagai teman yang paling mengerti dirinya. Yul merasa bisa bercerita kepada Haeri tentang keluarganya karena wanita itu juga kenal dekat dengan keluarga Yul; yang kini tersisa Hun seorang.
“Kelihatannya kau tambah akur dengan tetanggamu,” kata Haeri yang berdiri di hadapan Yul.
Mengingat awal-awal Yul pindah rumah, ia selalu mengeluhkan tentang tetangganya—Yebin—yang selalu bersikap ketus seolah-olah tidak mau menerima keberadaannya sebagai tetangga baru. Dan Haeri merasa ingin tertawa setiap kali mendengar cerita tentang Yul yang diperlakukan seperti itu oleh gadis yang jauh lebih muda darinya.
“Maksudmu Nona Kang? Yebin~ie?” Yul memastikan. Mendapat anggukan pasti dari Haeri.
“Ah, aku tidak yakin apa kami benar-benar akur. Kadang dia bersikap seolah-olah membutuhkanku. Kadang juga sikapnya dingin dan ketus tanpa alasan yang jelas. Tadi kau juga lihat kan? Nona Kang langsung melengos saat aku menyapanya dengan baik. Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini dia sangat sensitif. Kupikir bisnisnya juga berjalan lancar-lancar saja. Sikapnya tidak bisa ditebak dan sangat membingungkan. Kadang-kadang Nona Kang membuatku merinding dengan tatapannya. Apa dia sedang PMS?” Yul berkeluh kesah.
Akhir-akhir ini Yebin memang bersikap dingin dengan Yul. Ketika Yul mengajak Yebin ke galeri, sikap Yebin masih riang dan baik-baik saja. Namun, setelah Yul mendapat telepon mendadak dari Haeri tepat setelah Yul memberikan hadiah ulang tahun, sikap Yebin kontan berubah. Bahkan ketika Yul mengantarnya pulang untuk segera bertemu Haeri, Yebin sudah berada dalam mood yang buruk yang membuatnya langsung keluar begitu saja dari mobil Yul tanpa mengcapkan kata. Pun keesokan harinya, saat Yul ingin memberi tumpangan Yebin yang hendak menghadiri kuliah pagi, dengan ketus Yebin menjawab, ‘Aku bukan anak TK yang perlu diantar untuk pergi ke sekolah. Ajeossi duluan saja, aku akan naik bus yang hemat energi’.
Yul sampai bingung kenapa sikap gadis itu berubah. Padahal malam sebelumnya ia menangis di pelukan Yul dan menjadikan Yul seolah pria yang paling dibutuhkannya. Sikap Yebin yang tidak terprediksi itu membuat Yul kebingungan tentang bagaimana ia harus bersikap.
Haeri mengernyitkan kening mendengar cerita Yul tentang Yebin. Dalam kebingungan yang beradu di otaknya itu, Haeri menyimpulkan suatu hal tentang Yul.
“Apa kau menyukai nona itu?” tanya Haeri. Pertanyaannya yang tiba-tiba itu sontak membuat bola mata Yul melebar.
“Apa maksudmu? Apa mungkin aku menyukai Nona Kang? Dia bahkan lima tahun lebih muda dari Hun. Dia lebih cocok dengan Hun dan menjadi adik iparku.” Yul mencerocos.
Sambil mengangguk kecil Haeri menggumam, “Hanya saja sikapmu itu mencurigakan. Kau tampak antusias saat menceritakan nona itu. Dan tidak ada alasan untukmu merasa bingung akan sikapnya yang tidak terprediksi. Yah, kecuali kau menyukainya.”
Sejenak Yul bergeming mencerna perkataan Haeri yang sebenarnya masuk akal.
“Hei, tidak mungkin.”
Kepala Yul mengerling karena merasa ucapan Haeri itu tidak berlaku untuknya. Yul merasa bingung pada sikap Yebin yang berubah-ubah karena ia berusaha bersikap baik pada Yebin dan ibunya. Dengan siapa pun Yul berusaha bersikap baik karena pria itu adalah pria yang ramah dan sopan. Ia berpikir kalau Yebin itu adalah satu-satunya orang yang hampir selalu menolak keramahan dan sikap baik Yul. Membuat Yul merasa tidak nyaman.
“Aku berharap kau jatuh cinta dan segera berkencan. Agar kau tak selalu kesepian.” Haeri menggumam dengan sangat pelan dan nyaris tak terdengar oleh Yul.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali Yul berkencan. Mungkin sekitar lima sampai enam tahun lalu. Sejak orang tuanya meninggal, Yul tidak berpikiran untuk menjalin hubungan dengan wanita. Ia ingin memfokuskan dirinya untuk mengelola Moonlight Coffe dan meluangkan sedikit waktunya untuk berseni. Meningat dirinya yang menjadi tulang punggung keluarga, Yul merasa tidak sempat memikirkan wanita. Seluruh waktunya hanya tersudut pada pekerjaan dan keluarga. Selain itu, Yul juga masih membiayai sekolah dua keponakan dari ibunya yang masih ada di bangku SMA dan kuliah.
Tepat setelah Haeri berhenti menggumam, seorang pelayan toko datang. Ia membawa scraft tosca yang telah dibungkus cantik di dalam kotak hitam berpita silver.
“Terima kasih,” kata Haeri sambil menerima barang beliannya.
Selesai membeli hadiah, Yul dan Haeri melangkah keluar. Ketika itu seorang laki-laki berpakaian jas berjalan terburu-buru ke arah Yul dengan tatapan kemarahan.
Haeri membelalakkan mata saat melihat Gojun, kekasihnya, ada di pusat perbelanjaan ini. Langkah Haeri pun seketika terhenti. Ia menatap ke arah Gojun yang berjalan menghampiri Yul dengan segenap amarah yang tergambar di wajah.
“Pria brengsek! Sudah kukatakan jangan dekati Haeri.” Sambil mengepalkan tangan Gojun mendensus geram melihat Yul yang berdiri di sebelah kekasihnya. Pria bertubuh tinggi kurus dengan kacamata yang menengger di hidung itu mendekat pada Yul dan langsung mencengkeram kerah lehernya. Membuat langkah Yul terhuyung ke belakang.
“Gojun~ssi, jangan seperti ini. Aku bisa jelaskan.” Haeri yang memanik berusaha menenangkan kekasihnya yang terbakar emosi. Ia memegangi lengan Gojun yang telah siap mendaratkan tinjuan untuk Yul.
“Diam! Biar aku yang mengurusnya.”
Gojun melepas paksa cengkeraman tangan Haeri. Mengayunkan tangannya sekuat mungkin pada wajah Yul. Yul tidak sempat memberikan perlawanan ketika pipinya mendapat pukulan Gojun dengan brutal.
Seluruh penghuni toko beteriak ketika tubuh Yul terhempas ke lantai karena pukulan Gojun yang tidak terkendali. Mereka berteriak dan menjadikan kedua laki-laki yang sedang memukul-dipukul itu tontotan. Sementara Haeri yang memanik melihat pipi dan sudut bibir Yul mengeluarkan darah.
“Berapa kali kukatakan, jangan dekati Haeri-ku. Kenapa kau masih mendekatinya?!” teriak Gojun yang mencengkeram kerah leher Yul. Yul terbaring di atas lantai dan sekuat tenaga menahan kedua tangan Gojun yang mencekiknya.
“Harusnya kau tidak membuat Haeri sengsara selagi aku bersikap baik. Dengan begitu, aku tidak perlu mencemaskan Haeri sebagai temannya.” Yul menegaskan. Wajahnya memerah karena aliran darah yang menderas ke kepala. Urat leher dan otot di wajah Yul meruam biru menahan cekikan Gojun.
“Apa katamu?”
Kemarahan Gojun kembali meledak. Sedikit pun ia tak ingin membiarkan Yul lolos kali ini. Tangan Gojun kembali mengepal. Ia mengayunkan tangannya dari atas untuk memukuli wajah Yul sebelum akhirnya lima orang petugas keamanan mall datang melerai.