Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Ancaman Kelabu



Ancaman kelabu


Malam harinya semua orang tengah sibuk menyiapkan pesta pernikahan Hun


untuk besok. Gedung resort penuh dengan petugas dekorasi dan juga beberapa


orang yang ikut membantu mempersiapkan acara di aula resort lantai satu. Sedangkan


di lantai atas resort tersebut, para tamu undangan sedang beristirahat setelah


turun dari kapal yang membawa mereka menuju pulau. Tamu undangan yang hanya


berjumlah kurang lebih seratus lima puluh orang tersebut merupakan keluarga


besar Yul dan Jina, teman teman terdekat Yul dan juga Hun, serta rekan kerja


terdekat Hun dan juga Jina. Mereka memang sengaja membatasi jumlah tamu


undangan karena tak ingin menimbulkan kegaduhan jika menghadirkan tamu sampai


lima ratus atau bahkan ribuan untuk resepsi pernikahan Hun di Pulau. Terlebih dari


pada itu, akomodasi menuju pulau akan semakin sulit jika jumlah tamu yang


dibawa melebihi seratus lima puluh.


Di dalam aula resort tersebut, beberapa orang berbondong bondong untuk


menata ruang dekorasi. Menyusun kursi untuk para tamu undangan dan menghiasinya


menggunakan kain khusus yang disediakan. Sedangkan Kang Yebin, yang mengatur


semua hal tentang dekorasi ruangan, kini sedang sibuk mengatur panggung depan,


mimbar, dan bunga bunga lavender yang menjasi penghias ruangan.


“Tidak tidak, lebih atas lagi, supaya dari pintu masuk tulisan ‘Happy


Wedding’ dan nama pengantinnya bisa terlihat. Ya, ya, bagus. Begitu.” Yebin


memberi arahan pada tiga orang petugas dekorasi yang sedang memasang tulisan ‘Happy


Wedding Hun Moon with Jina Cho’ yang berada di belakang panggung.


Setelah tulisan itu tampak terpasang dengan baik sesuai maksud hati


Yebin, ia pun beralih pada segerombol orang yang sedang menggulung kabel lampu


untuk penerangan ruangan.


“Aduh, kebelnya jangan sampai berserakan begitu ya? Kalau berserakan


begitu, nanti pengantin wanitanya bisa tersandung saat berjalan. Juga berbahaya


buat anak kecil yang berjalan di sini,” kata Yebin menegur para petugas


penggulung kabel yang membuat kabel tersebut berserakan di atas lantai ruangan.


“Iya, Nyonya. Nanti akan kami bereskan setelah semuanya selesai,” ucap


salah seorang petugas pemasang lampu.


“Baguslah. Nanti akan saya cek lagi.”


Yebin pun berlalu meninggalkan petugas pemasang kabel yang masih sibuk


dengan pekerjaannya di tegah tengah ruangan. Ia berjalan menuju kerumunan lain


yang sedang mendirikan pelengkungan yang nantinya akan dilalui oleh pengantin


wanita pada waktu upacara resepsi.


Selagi berjalan menuju pelengkungan yang sedang diberdirikan itu, Yebin


menemukan beberapa bunga yang terjatuh dari tempatnya. Pelengkungan berbentuk


seperti gawang pintu itu terbuat dari gumpalan bunga bunga tulip dan mawar


palsu. Beberapa bunga tersebut jatuh beserakan dan itu sangat mengganggu untuk


dipandang.


“Usahakan ya untuk bunga bunyanya jangan sampai ada yang jatuh


berserakan. Upacaranya itu masih besok sore, tetapi bunga yang rontok sudah


sebanyak ini. Jangan sampai hal ini terjadi lagi besok. Jadi lebih baiknya


pakai perekat bunga yang lebih lekat saja, supaya tidak jatuh dan mengganggu


pemandangan.” Yebin memunguti beberapa bunga tulip plastik yang jatuh ke atas


lantai. Lalu mengulurkan bunga bunga tersebut pada seorang perempuan yang merupakan


petugas dekorasi. Perempuan muda itu tampak ketakutan saat ditegur oleh Yebin. Ia


hanya menerima uluran bunga bunga plastik Yebin dengan kepala yang menunduk


takut dan pandangan yang turun, tak berani menatap legas si pegawai.


“I.. iya, Nyonya Moon.”


Setelah menyerahkan bunga bunga plastik yang rontok itu, Yebin


menyebarkan pandangan ke sekeliling. Melihat berjalannya penataan dekorasi yang


sampai detik ini masih lancar lancar saja. Lalu ia melihat jam tangan.


“Ah, benar. Waktunya aku membuatkan susu untuk Hanyul.”


Begitu teringat bahwa sekarang adalah waktunya ia membuatkan susu untuk


sang putra yang sedang tidur di salah satu kamar dalam resort bersama sang


ayah, Yebin pun segera berjalan menuju manajer resort yang sedang mengkoordinir


berjalannya kegiatan.


“Tehwan ssi,” panggil Yebin pada sang manajer. Seorang manajer pria yang


sedang mengatur penataan meja prasmanan itu seketika menoleh begitu mendengar


panggilan dari Yebin.


“Ya, Nyonya Moon.”


“Aku tinggal sebentar ya. Tolong hendel semuanya. Aku mau memeriksa


putraku dulu.”


“Siap.”


Yebin menyerahkan buku catatannnya kepada sang manajer. Lantas keluar


dari aula. Masuk ke dalam lift untuk menuju lantai tiga di mana putranya


berada.


Di salah satu kamar di dalam resort itu, Yul tampak sedang tidur pulas


dengan memeluk sang putra. Ayah dan anak yang terlihat sangat kompak itu sama


sama terlelap.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Biasanya, di jam jam ini Hanyul


akan terbangun karena lapar. Karena itulah Yebin selalu menyiapkan susu


untuknya, untuk berjaga jaga jika saja tiba tiba Hanyul terbangun karena


kelaparan.


Sambil membawa botol susu yang telah ia buat di dapur resort sebelum tiba


di kamar ini, Yebin berjalan mendekat ke arah kasur. Meletakkan botol susu


tersebut ke etas meja. Kemudian duduk di pinggiran kasur, dekat Yul terbaring.


Pasti Yul lelah sekali. Sejak tiba di pulau ini pagi tadi, ia belum


beristirahat sama sekali. Begitu tiba ia ikut mengecek semua perlengkapan


pernikahan. Lalu siang harinya menemani Hun dan Jina melakukan simulasi


pernikahan. Bahkan sampai sore harinya ia masih sibuk menyambut semua tamu


undangan yang baru tiba di pulau dengan menggunakan kapal very. Juga sibuk


mempersiapkan segala kebutuhan para tamu undangan tersebut di resort yang


menjadi tempat mereka menginap untuk acara pernikahan Hun besok. Dan begitu


matahari tenggelam, lelaki itu baru tertidur saat menemani Hanyul tidur di


resort. Alhasil kedua ayah dan anak itu sama sama tertidur di waktu bersamaan


dengan saling berpelukan. Seolah olah sedang berbagi kehangatan di tengah


dinginnya udara malam di pulau.


Rasanya Yebin sama sekali tidak tega membangunkan salah satu dari mereka.


Ia pun hanya meninggalkan botol susu di atas meja nakas. Jika nanti Hanyul


terbangun, pasti Yul akan melihat susu di atas nakas itu dan langsung


memberikannya pada Hanyul.


Dengan pemikiran seperti itu Yebin pun berlalu pergi meninggalkan putra


dan suaminya yang sedang berenang renang di alam mimpi. Ia keluar dari kamar


tempat suami dan anaknya tertidur. Hendak melanjutkan pekerjaannya di aula yang


masih tersisa banyak.


Begitu Yebin keluar dari kamar, keberadaan seseorang membuatnya


tersentak. Ia cukup terkejut melihat Leo Park tampak berdiri di di depan pintu


kamar sebelah. Ia tak yakin siapa yang menempati kamar sebelah itu, tetapi karena


Leo Park berdiri di depannya, kemungkinan ia yang menempati kamar resort itu.


“Aku sudah menunggumu sejak tadi.” Lelaki itu berucap. Lama kelamaan, Leo


Park menjadi sosok menakutkan yang membuat Yebin terpaku selama beberapa saat


setiap kali melihatnya seperti ini.


“Kenapa kau... menungguku?” tanya Yebin legas. Ia berusaha untuk


melegaskan tatapannya juga supaya lelaki psikopat yang ada di hadapannya ini


tak melihat ada setitik ketakitan di dalam hati Yebin yang membuat Yebin merasa


lemah dan tak berani melawan.


“Apa salah aku menunggu seorang wanita yang kuinginkan? Untuk sekedar


bertatap muka atau... bercakap cakap.” Lelaki itu menjawab dengan begitu


entengnya. Membuat Yebin tidak habis pikir.


Napas panjang Yebin berembus pelan. Tatapan muaknya itu benar benar tidak


dapat ia toleransi ketika bertatapan dengan Leo Park.


Tanpa memberi respon apa apa, Yebin langsung berjalan meninggalkan Leo


park. Berjalan menyusuri lorong, menuju lift yang akan membawanya turun menuju


aula untuk kembali membantu dekorasi ruangan.


“Kukatakan, aku sangat muak engan perkataanmu. Berhenti bermain main


denganku. Gunakan sikap baikmu di hadapanku itu untuk menyambut kedatangan


orang tua kandungmu. Kelihatannya kalian memiliki hubungan yang tidak baik,


sampai sampai ayah dan ibu dari adikmu tidak mau menganggap kau sebagai putra


mereka.” Yebin mencerocos panjang lebar dengan niat untuk membuat Leo Park itu


berhenti mengganggunya.


“Aku tidak masalah. Toh, sejak dulu aku sudah dipecat dari keluargaku. Namaku


saja bahkan sudah tidak ada di daftar keluarga. Mereka yang memecatku sebagai


anak, jadi buat apa aku memperlakukan mereka dengan baik? Aku hanya menyayangi


Jina, karena Jina satu satunya keluarga yang menyayangiku,” jawab Leo park


sambil berjalan mengikuti Yebin. Masuk ke dalam lift.


“Tidakkan kau itu sadar kenapa orang tuanya memecatmu sebagai anak? Karena


kau sudah mengecewakan mereka dengan teramat dalam. Jadi bukan salah mereka


jika namamu sekarang sudah tidak ada lagi di daftar keluarga.” Yebin menimpali.


Ia mencoba berpikir dari sudut pandang sebagai orang tua yang memiliki anak


laki laki. Yang pastinya, orang tua tidak akan melakukan  hal semacam itu jika memiliki anak yang baik


baik. Sudah dapat dipastikan, bahwa nama Leo park yang sudah tidak ada lagi di


daftar nama keluarga itu penyebabnya adalah dirinya sendiri.


Di dalam lift itu mereka hanya berdua. Leo Park, yang sampai beberapa


detik lalu tampak baik baik saja, menjadi sedikit perubahan raut muka. Tatapannya


menajam. Raut wajahnya menjadi lebih kelam dan sorot matanya menggelap.


Tiba tiba saja Yebin merasakan cengkeraman erat pada pergelangan


tangannya. Ia tersentak ketika tiba tiba Leo Park mencengkeram tangannya. Seketika


itu juga Yebin menoleh, bertatapan dengan Leo Park yang raut wajahnya benar


benar berubah menjadi lebih menyeramkan.


“Lepaskan. Apa yang kau lakukan?”


Meski sebenarnya benak Yebin dikuasai rasa takut saat ini, ia mencoba


untuk tetap tenang. Sekalipun bola matanya bergetar, ia mencoba memberanikan


diri untuk bertatapan legas dengan Leo Park. Memberinya peringatan.


“Lepaskan, kubilang lepaskan. Agh!”


Yebin memekik takut sekaligus sakit ketika Leo Park tiba tiba


mendorongnya ke dinding. Punggung Yebin membentur dinding lift. Ia mereingis


keskatan. Namun yang membuatnya jauh lebih tersiksa adalah rasa takutnya


melihat Leo Park yang menjadi orang yang benar benar berbeda.


Ttaapan Leo park yang menajam itu memberikan kekangan rasa takut untuk


Yebin. Ia mencengkeram pergelangan tangan Yebin sambil menahannya supaya tidak


bisa lepas.


Lift yang turun dari lantai tiga menuju lantai satu itu sangat singkat. Ketika


Leo belum sempat mengatakan sesuatu untuk memperingatkan Yebin, lift sudah tiba


di lantai satu dan hendak terbuka. Namun dengan cerdik lelaki itu memencet


kembali tertutup untuk naik kembali ke lantai atas.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan!” kecam Yebin. Ia berusaha memberontak


pada Leo Park yang kini mencengkeram kedua tangannya dan membawanya naik menuju


lantai paling atas.


Jujur. Hati Yebin memberontak dan sedang berteriak ketakutan mendapati


perlakuan Leo park yang seperti ini terhadapnya. Ia sungguh ketakutan, berada


di dalam lift bersama Leo park. Entah apa yang akan lelaki itu perbuat, Yebin


merasa sangat takut.


Begitu lift beranjak naik, Leo meregangkan cengkeramannya pada kedua


tangan Yebin. Salah satu tangannya menaik membelai wajah Yebin. Membuat Yebin


bergidik ketakutan. Tatapan lelaki itu sangat gelap, seolah olah ia bisa


melakukan apa saja kepada Kang Yebin.


“Selama ini aku menoleransi keketusan dan semua sikap dinginmu


terhadapku. Karena kau adalah wanita yang selalu membuatku berdebar debar. Jadi


aku bisa merelakan harga diriku kau injak injak. Tapi kali ini kau sudah


keterlaluan. Tidak seharusnya kau menyinggung aku dan keluargaku. Cukup


bersikap ketus saja padaku tapi tidak usah kau sangkut pautkan dengan


keluargaku. Kau mengerti?” desus lirih Leo Park tepat di hadapan Yebin. Suara rendahnya


yang terkesan seperti mengancam itu membuat raut ketakutan di wajah Yebin tidak


dapat ditoleransi lagi.


Napas Yebin menderu sangat cepat akibat rasa takutnya. Pemikirannya kalang


kabut. Ia takut menghadapi Leo Park yang seoah olah bisa melakukan apa saja


terhadapnya malam ini. Terlebih, semua orang sedang sibuk mengurusi dekorasi. Hun


sedang beristirahat dengan baik unutk pernikahannya besok dan suaminya, Yul,


juga sedang tidur karena begitu capek melakukan banyak pekerjaan hari ini. Jika


sesuatu terjadi pada Yebin, maka tidak ada satu orang pun yang bisa


menolongnya.


Sejauh itu Yebin berpikir jika sesuatu terjadi padanya. Otaknya tak dapat


berpikir dengan jernih karena sorot mata gelap yang menguasai pandangannya saat


ini. Leo Park menatapnya dengan tajam dari jarak yang begitu dekat. Membuat Yebin


tidak dapat berkutik sama sekali.


“Lepaskan aku,” desis lirih Yebin untuk yang ke sekian kalinya. Ia memohon


supaya Leo park mau melepaskan cengkeramannya yang menyakitkan ini.


“Aku sudah menunggumu cukup lama. Jadi mana mungkin aku bisa melepaskanmu


begitu saja?” sahut Leo Park. “Tunggu saja, aku akan mempercepat segalanya. Aku


akan mempercepat segalanya untuk menjadikanmu milikku seutuhnya. Kau hanya


tinggal menunggu sebentar lagi supaya aku yang membereskan siapa saja yang


menghalangiku.”


Setelah mengatakan kalimat kalimat yang penuh ancaman dan peringatan itu,


Leo Park melepaskan cengkeramannya pada kedua tangan Yebin. Lift setelah itu


berhenti di lantai paling atas. Leo Park beranjak keluar di lantai resort


paling atas itu, entah untuk melakukan apa. Di dalam lift itu hanya tersisa


Yebin seorang.


Ketika pintu lift otomatis tertutup, seluruh kekuatan kaki Yebin seolah


melayang hilang. Ia jatuh tersungkur di atas lantai lift seorang diri, sambil


terengah engah ketakutan dengan bola mata yang berkaca kaca seperti hendak


menangis. Ia tidak tahu lift kini membawanya ke lantai berapa. Pikirannya sangat


kosong. Ia tak mampu berpikir apa apa selain merasakan sebelenggu emosi yang


membuatnya nyaris menumpahkan air mata. Hingga detik berikutnya lift berhenti


di salah satu lantai. Sepertinya ada orang lain yang ingin menggunakan lift. Lift


tersebut berhenti di laati tiga. Perlahan lahan pintunya terbuka.


“Oh! Sayang....”


Di depan pintu lift itu, Yul tersetak bukan kepayang. Ia melihat istrinya


jatuh tersungkur seorang diri di dalam lift. Dengan pandangan kosong dan raut


wajah yang sangat kacau.


Ceritanya, beberapa waktu lalu Hanyul merengek karena lapar. Ia terbangun


dari tidurnya karena kelaparan. Dan otomatis, mendengar rengekan putra


kecilnya, Yul pun terbangun. Ia melihat susu yang sudah disediakan di atas meja


nakas dan langsung memberikan susu tersebut kepada putranya. Begitu memastikan


bahwa Hanyul kembali tidur dengan baik, Yul pun memutuskan untuk keluar dari


kamar untuk memeriksa sejauh mana pesiapan dekorasi ruang resepsi.


“Sayang! Apa yang terjadi? Apa kau baik baik saja?”


Begitu beranjak masuk ke dalam lift, yul menghampiri Yebin yang seperti


orang sedang linglung. Ia langsung berjongkok untuk mendekap Yebin yang dengan


anehnya ada di dalam lift sendirian dan jatuh tersungkur.


“Yebin-a, ada apa? Apa yang terjadi padamu?” tanya Yul panik sambil


memeluk tubuh Yebin yang benar benar dingin.


Seketika itu juga tangis Yebin pecah. Ia langsung membalas pelukan


suaminya dan menangis tersedu sedu dalam pelukan sang suami. Ia seperti


memecahkan semua rasa takut dan segala pemikiran buruknya dalam pelukan Yul yang


selalu terasa sama; sejuk dan menenangkan batinnya.


Selama beberapa detik Yul membiarkan Yebin menangis dalam pelukannya. Lalu


saat pintu lift terbuka di lantai satu, perlahan lahan Yul mencoba membuat


Yebin bangkit. Perlahan lahan ia membuat Yebin sanggup berdiri. Mereka pun


keluar dari lift. Yul merengkuh kedua bahu Yebin dan membawanya berjalan


berjalan di tempat dengan penerangan cahaya yang cukup. Lalu mendudukkan Yebin


di atas kursi furnitur depan aula yang tadi digunakan oleh beberapa pekerja


untuk beristirahat.


Saat ini Yebin masih sedang mencoba menenangkan diri. Ia menyeka air mata


di wajahnya yang mulai mengering. Di sela sela kegiatannya menghentikan tangis


itu, Yul kembali membawanya dalam dekapan. Menepuk nepuk punggung Yebin untuk


memberinya ketengangan.


Yul sungguh tidak tahu apa yang menyebabkan Yebin seperti ini. Melihat


isrinya jatuh tersungkur di dalam lift seorang diri sudah cukup membuatnya


terkejut setengah mati. Apalagi melihat Yebin menangis sampai tersedu sedu


seperti itu. Sungguh membuat benak Yul terasa sesak.


Sejauh yang dia tahu, Yebin bukan wanita yang gampang meneteskan air mata


dan menangis dengan begitu pilunya. Yebin tak pernah menangis karena hal hal


kecil yang terjadi. Jika ia sampai meneteskan air mata dan menangis, sudah


pasti ada suatu hal besar yang terjadi. Apalagi  jika tangisan Yebin sepilu itu. Yul tidak


dapat menebak apa yang sedang terjadi pada istrinya itu di malam yang sangat


menyibukkan ini.


“Tenanglah. Tenang dan ceritakan padaku.” Yul berbisik lirih kepada Yebin


yang masih berada dalam dekapan hangatnya. Sambil menenangkan sang istri, Yul


terus membisikkan supaya Yebin tenang terlebih dahulu lalu menceritakan apa


yang terjadi padanya.


Setelah beberapa saat, Yebin merasa lebih tenang. Perlahan ia melepaskan


diri dari dekapan hanga sang suami. Keadaannya jauh lebih tenang. Ia bertemu


pandang dengan Yul yang menatapnya penuh khawatir. Hanya mendapatkan tatapan


hangat dari Yul saja, Yebin merasa jauh lebih tenang lagi. Seolah olah


kegelisahan dan semua ketakutan yang membuncah dalam benaknya tersapi begitu


saja bersama debu halus yang melayang layang di udara.


“Apa yang terjadi? Kenapa kau berada di dalam lift sendirian dan menangis


tersedu seperti ini?” tanya Yul khawatir. Ia merapikan helaian rambut Yebin


yang terurai dengan menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga. Menatapnya


dengan lembut.


Yebin tak yakin apakah ia harus menceritakan apa yang terjadi pada sang


suami. Namun saat ini ia berada dalam rasa panik yang tidak dapat ditoleransi. Semua


itu karena ancaman dan peringatan peringatan yang diutarakan Leo Park sebelum


pergi meninggalkannya. Tentang seruan untuk Yebin supaya menunggu sebentar


lagi. Yang seolah olah itu adalah peringatan Leo Park untuk melakukan sesuatu


di luar dugaan.


“Aku ketakutan. Aku takut kehilangan Oppa dan juga Hanyul. Aku takut


kehilangan orang orang yang aku sayang,” kata Yebin lirih. Ia masih memikirkan


kata kata Leo park tadi dengan jeli.


Kening Yul mengernyit. “Siapa yang akan kehilangan siapa? Tidak tidak,


kenapa kau berpikir begitu? Apa yang membuatmu merasa ketakutan kehilangan


orang yang kau sayang? Ceritakan semua yang terjadi padaku.” Yul bertanya


dengan setengah menuntut. Ia hanya tidak bisa membiarkan Yebin ketakutan dan


menangis seperti ini. Ia merasa harus melaukkan sesuatu supaya Yebin tak lagi


merasakan takut kehilangan seseorang yang disayang itu.


Yebin menarik napas panjang panjang. Matanya terpejam. Mencari kekuatan


untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya.


“Sayang, berhati hatilah. Sepertinya Leo Park sedang merencanakan sesuatu


untuk menyakitimu, atau menyakiti orang orang di sekitar kita. Hati hatilah,


Sayang. Apa pun yang terjadi dan apa pun keadaannya, berhati hatilah.” Yebin


berucap penuh rasa khawatir.


Sejujurnya Yul masih merasa bingung terhadap apa yang Yebin katakan. Padahal


ia bertanya apa yang terjadi pada Yebin sampai membuatnya menangis tersedu sedu


seperti tadi. Namun jawaban yang diberikan Yebin adalah peringatan kepada Yul


supaya berhati hati pada Leo park yang tengah merencanakan sesuatu.


Kepala Yul mengangguk angguk. “Baiklah. Aku akan hati hati. Tapi,


ceritakan padaku terlebih dahulu kenapa kau ada di dalam lift seorang diri


dan  menangis tersedu sedu seperti tadi,”


kata Yul yang mencoba mengerti posisi Yebin.


Sejenak Yebin terdiam.


“Sebenarnya, tadi itu....”


“Oh, Nyonya Moon.”


Cerita Yebin harus berhenti ketika manajer resort yang tadi dipasrahi


tugas oleh Yebin, keluar dan melihat Yebin duduk di depan aula. Manajer itu


menghampiti Yebin dan mengajaknya berbicara. Membuat perhatian Yebin kembali


terfokus pada tugasnya mengatur dekorasi.


“Ada apa?” sahut Yebin.


“Sepertinya meja untuk prasmanannya masih ada yang kurang. Saya coba


hitung lagi, tapi yang tercantum di daftar dan yang ada di dalam aula memiliki


jumlah yang berbeda.” Manajer itu berkata.


Mengerti, kepala Yebin mengangguk angguk. Kemudian pandangannya kembali


pada Yul. Ia berkata lirih, seperti berisik pada Yul.


“Hati hatilah, Sayang. Aku menyayangimu.”


Belum sempat Yul menjawab apa apa, Yebin telah beranjak pergi sambil


membawa buku catatan yang diserahkan oleh manajer tadi. Lantas ia tenggelam


masuk ke dalam aula untuk mengurusi kekurangan meja prasmanan. Yul yang masih


duduk seorang diri di depan aula tersebut, diam selama beberapa saat memikirkan


ucapan Yebin. Lalu semenit kemudian, ia melihat Leo Parl berjalan keluar dari


lift yang baru saja terbuka.


**