
Suasana luar sore ini memang cerah, seperti yang tadi Leo katakan. Di salah satu sudut taman rumah sakit tempat anak anak bermain, Yebin duduk di atas kursi rodanya dengan bibir yang sedikit memucat karena terkena hawa dingin. Namun ia tersenyum. Senyumnya terlihat tulus dan hangat. Ia sedang mengamati anak anak kecil yang sangat menggemaskan itu bermain di taman bersama para badut yang disewa pihak rumah sakit untuk menghibur anak anak yang sedang direhabilitasi.
Sejauh ini Yebin merasa bahagia akan rumah tangganya dengan Yul. Namun, sebahagia apa pun ia rasakan, belum terasa lengkap jika belum memiliki bayi yang dapat ia timang. Yebin menginginkan seorang bayi. Bayi yang ia kandung dan ia lahirkan dari buah cintanya bersama Yul. Dan sebagai seorang istri, ia merasa belum berbuat apa apa untuk suami yang dicintainya jika belum berhasil memberikan keturunan untuk Yul. Namun, untuk saat ini Yebin masih belum memiliki keberanian lebih untuk mencoba hamil kembali. Ia masih memiliki rasa trauma atas kegagalannya pada kehamilan pertama itu.
Tentu saja, Yul tidak memaksakan Yebin untuk segera hamil kembali. Lelaki itu pastinya tahu posisi yang dialami Yebin dan mengerti bagaimana hancurnya perasaan Yebin ketika kehamilan pertamanya itu gagal. Yul tidak memaksakan Yebin untuk segera memiliki keturunan. Yang Yul pentingkan adalah kebahagiaan istrinya, Yebin. Tetapi, sebagai istri Yebin pun tahu bahwa ia harus segera memberikan bayi untuk Yul. Secara terus terang Yul memang tak pernah meminta Yebin utnuk tergesa gesa hamil kembali. Tetapi Yebin pun tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa Yul juga ingin untuk segera menjadi seorang ayah dari bayi yang dikandung Yebin. Selain alasan itu, bertambahnya usia Yul juga menjadi pertimbangan Yebin untuk segera hamil lagi. Hanya saja, waktunya sedikit kutang tepat. Yebin masih harus benar benar pulih dari luka akibat keguguran itu dan memiliki keberanian untuk hamil kembali.
Melihat anak anak itu bermain, rasanya sedikit mengobati lara yang pernah Yebin rasakan di masa lalu. Entah bagaimana caranya, Yebin merasakan kebahagiaan ketika melihat anak anak itu tertawa ceria di tengah sakit yang diderita ketika bermain main dengan sang badut yang menunjukkan berbagai trik sulap dan bergoyang goyang.
“Kelihatannya kau ingin sekali memiliki anak. Bukannya usiamu masih terlalu muda untuk melahirkan seorang bayi?” ucap Leo yang sambil duduk di kursi kayu sebelah kursi roda Yebin. Sedari tadi ia terdiam mengamati Yebin yang tersenyum sendu melihat anak anak itu bermain bersama badut.
“Memang aku harus setua apa untuk memiliki seorang bayi yang sehat?” sahut Yebin. Perlahan kepalanya menoleh, menatap Leo.
Leo melihat bibir Yebin yang terlihat sedikit pucat. Sepertinya wanita itu kedinginan. Mengetahui hal itu, Leo melepaskan mantel panjangnya. Memakaian coat itu pada kedua bahu Yebin untuk menghangatkan tubuhnya.
“Biasanya wanita karir itu menikah paling tidak di usia akhir dua puluhan, atau bahkan tiga puluhan awal. Dan baru memiliki anak pertama di usia tiga puluh lebih. Tapi, kau juga seorang wanita karir, yang menikah muda dan ingin melahirkan anak pertama di usia muda. Menurutku, itu cukup unik. Karena kau berbeda dari kebanyakan wanita,” ucap Leo.
Sambil membenarkan coat Leo yang melekat pada tubuhnya itu, Yebin mengembalikan pandangan pada anak anak yang sedang bermain di harak lima meter darinya.
“Ya, anggap saja aku berbeda dari kebanyakan wanita. Terkadang menjadi berbeda itu membuatku merasa spesial, walau kadang juga membuatku sedikit minder.” Yebin berucap lirih. Ia lanjut tertawa saat melihat seorang anak laki laki tertawa gembira ketika tubuhnya diangkat tinggi tinggi oleh si badut.
“Kau pernah merasa minder karena menikah di usia muda?” lanjut Leo.
“Merasa minder... tidak pernah. Justru aku merasa paling beruntung di antara teman temanku karena lebih dulu menemukan laki laki baik dan tulen, dan menjadikan lelaki itu pasanganku seumur hidup, alias suamiku. Aku bisa membanggakan hal itu di hadapan semua orang. Tapi aku juga perempuan. Kadang kadang aku merasa iri melihat teman teman kuliahku yang sibuk menikmati masa muda mereka selayaknya wanita muda pada umumnya. Tapi aku merasa demikian hanya terkadang sekali. Selebihnya aku merasa bahagia akan pernikahanku. Di beberapa pertemuan aku merasa bangga ketika bertemu teman temanku. Dari karirku sebagai pendiri Biniemoon sampai statusku sebagai istri dari Moon Yul, aku bisa membanggakan kedua hal itu dan membuat teman temanku merasa iri. Tapi, aku tetap tidak tahu apa yang mereka bicarakan di belakangku.”
Cerita Yebin mengalir dengan begitu natural selagi ia masih sibuk mengamati anak anak menggemaskan itu. Ia bercerita seolah olah Leo adalah teman lamanya. Menceritakan pengalamannya sebagai wanita muda yang telah menjalani kehidupan pernikahan dengan seorang pengusaha sukses, Moon Yul.
“Kapan saat saat paling sering kau merasa iri melihat teman temanmu menikmati masa muda mereka?” Leo kembali melontarkan pertanyaan.
“Tidak menentu.”
Tepat setelah Yebin menjawab singkat itu, sebuah bola plastik yang dimainkan anak anak melambung ke arahnya. Dengan sigap Yebin menangkap bola plastik ringan itu dengan tangannya. Lantas tersenyum manis ke arah anak laki laki lima tahunan yang tadi melempar bola plastik itu untuk bermain.
Anak laki laki berpakaian pasien rumah sakit itu berlari ke arah Yebin. Wajahnya yang menggemaskan tampak pucat. Wajahnya sendu dan penuh kekalutan. Ia memakai tudung kepala, seperti yang banyak digunakan oleh pasien pengidap kanker. Dari celah tudung kepalanya itu, Yebin melihat kepala anak laki laki itu yang tak berambut. Ia gundul, sepertinya anak laki laki yang manis itu adalah pengidap kanker yang sedang menjalani pengobatan kanker di rumah sakit ini.
Anak itu sedang berjuang melawan kanker dalam tubuhnya. Bisa dibayangkan betapa perihnya hati anak yang masih sangat kecil ini, juga hati orang tuanya yang dari kejauhan mengamati. Tetapi anak itu masih tersenyum ketika tiba di hadapan Yebin. Ia tersenyum lebar, sambil mengulurkan tangannya untuk meminta bola yang dipegang Yebin.
“Bibi, berikan bolaku,” ucapnya pelan.
Hati Yebin meretih haru melihat betapa kuat mental anak ini, yang masih bisa tersenyum di tengah keadaannya. Bahkan bicaranya kepada orang yang lebih tua sangat sopan.
Yebin mencoba tersenyum hangat menatap anak laki laki itu. Tangannya yang lembut terulur untuk menyentuh wajah manis dari anak laki laki ini.
“Siapa namamu?” tanya Yebin.
“Namaku, Yul. Han Yul,” jawab anak itu.
Terkejut, Yebin lantas tersenyum lebih lebar. “Wahh, namamu juga Yul rupanya. Suami bibi namanya juga Yul, Moon Yul. Saat besar nanti kau pasti akan tumbuh baik dan tampan, seperti suami bibi.” Yebin berucap dengan ceria. Membuat anak laki laki itu tersenyum semringah.
“Bibi, apa dia suamimu yang bernama Yul itu?” tanya anak laki laki sambil menunjuk ke arah Leo.
Sambil terkekeh kekeh, Yebin menjawab, “Bukan. Dia teman bibi, namanya Paman Leo. Kalau suaminya bibi sedang ada di dalam. Kamu ingin bertemu?”
Meski terlihat agak kecewa, anak laki laki itu mencoba mempertahankan senyuman di wajahnya. Ia tersenyum malu sambil merapatkan kedua kaki.
“Yebin-a!”
Seruan dari arah lain yang memanggil nama Yebin itu membuat sang pemilik nama sekaligus menoleh. Ia melihat Yul yang sedang berlari terengah engah menuju arahnya, diikuti seorang wanita yang tidak lain adalah Jin Haeri.
“Sayang,” balas Yebin memanggil sambil melambaikan tangan. Lalu ia memegang kedua bahu anak kecil itu sambil berkata, “Itu suami bibi. Namanya sama sepertimu, Yul.”
Sejujurnya Yul ingin memarahi Yebin yang pergi tanpa memberitahunya apa apa. Karena kepergian Yebin, Yul kelabakan mencari ke semua tempat yang ada di dalam rumah sakit. Dari lobi lantai satu sampai lantau dua puluh. Ia mencari Yebin sambil terengah engah, bersama rasa khawatirnya yang memuncak. Dan ternyata, Yebin malah sedang ada di luar bersama laki laki yang kemunculannya tidak terduga, Leo Park. Karena perasaan cemasnya yang membuncah, juga karena rasa lelahnya mencari keberadaan Yebin yang tiba tiba menghilang, Yul ingin sekali memarahi Yebin. Memarahi karena telah membuatnya merasa begitu panik. Namun, karena ada anak laki laki pengidap kanker yang sedang bersama Yebin itu, kemarahan Yul seketika mereka. Ia menelan kembali kemarahannya yang nyaris membuncah. Menatap Yebin yang tampak begitu gembira bisa menghirup udara luar, meski dengan wajah yang mulai pucat.
“... sapalah,” imbuh Yebin pada anak laki laki bernama Yul itu.
“Annyeonghaseyo. Saya Yul, Han Yul. Bibi ini bilang, kalau saat sudah besar nanti aku akan sepertimu, Paman Yul. Baik hati dan tampan, karena namaku juga Yul, sepertimu.” Yul kecil berkata dengan nada bicaranya yang masih sangat polos.
Yul yang mendengarnya, ikut tersenyum. Ia menghampiri Yebin bersama anak itu. Lalu berjongkok di hadapan Yul kecil.
“Anak pintar. Kau pasti akan membanggakan orang tuamu saat sudah besar nanti,” ucap Yul sambil mengelus lembut kepala sang anak. Senyum Yul yang hangat dan bersahabat itu membuat Yul kecil tersenyum semringah. “Ikuti pengobatanmu dengan baik ya, Yul. Saat kau sudah sembuh nanti, ayo kita bermain bersama.” Yul melanjutkan sambil menyerahkan satu lembar kartu namanya pada Yul kecil.
Pada saat yang bersamaan, Yebin juga menyerahkan bola plastik pada Yul kecil. Yul kecil yang menerima bola plastik itu dengan kartu nama Yul, membungkukkan tubuh sambil menyeru, “Terima kasih.” Lalu ia berlari ceria menghampiri ayah dan ibunya yang mengamatinya dari kejauhan.
Sekepergian Yul kecil, Yul memutar tubuhnya. Sambil berjongkok ia menghadap ke arah Yebin yang masih tersenyum hangat melihat kepergian anak itu. Lalu pandangan Yul teralih pada Leo, yang memasang wajah tidak berdosa setelah membawa pergi Yebin tanpa seizinnya.
“Sayang, wajahmu mulai pucat. Ayo kita kembali ke kamar. Kau bisa bertambah sakit jika terlalu banyak terpapar udara luar yang dingin. Sebentar lagi dokter juga akan datang untuk memeriksa keadaanmu. Jadi ayo kita pergi sekarang,” bujuk Yul sembari menggenggam kedua tangan Yebin yang dingin.
Yebin yang masih tampak senang mengamati anak anak bermain itu, sebetulnya enggan untuk diajak pergi. Tetapi ia tak memiliki pilihan lain karena kurang dari sepuluh menit lagi adalah waktu para dokter datang untuk memeriksa keadaannya.
Kepala Yebin pun terangguk angguk. Pada waktu itu juga Yul berdiri dari duduk. Berjalan ke belakang kursi roda Yebin lalu mendorongnya menjauh dari Leo yang masih duduk manis di kursi taman. Yul membawa Yebin pergi. Masuk kembali ke dalam bangunan rumah sakit, dengan Jin Haeri yang mengikuti mereka di belakang.
**
Begitu Yul masuk ruangan tempat Yebin dirawat, Haeri yang memiliki sesuatu untuk dibicarakan dengan Yul itu menunggu di luar pintu. Di dalamnya, Yul sedang mengangkat tubuh Yebin dari kursi roda menuju ranjang tempat tidur. Yul membaringkan tubuh Yebin dengan perlahan ke atas kasur. Lalu menyelimuti tubuh sang istri yang dingin itu dengan selimut hangat yang disediakan rumah sakit.
“Kau jadi semakin pucat. Harusnya kau menolak tawaran Leo Park untuk membawamu keluar.” Yul berkata lirih selagi duduk di sebelah Yebin berbaring. Memegangi wajah dan leher Yebin yang terlihat pucat dan terasa dingin karena terkena udara luar yang semakin dingin saat sore hari.
“Aku berencana menolaknya. Sebelum akhirnya aku mendengar kalau di taman rumah sakit ada banyak anak anak kecil sedang bermain. Selain itu aku juga merasa bosan. Aku ingin menghirup udara luar dan merasakan berada di luar,” jawab Yebin.
Yul terdiam, mencerna ucapan Yebin. Ia merasa mengerti kenapa Yebin bosan ada di dalam ruangan terus mengerus sehingga ingin merasakan udara luar. Sejauh yang Yul tahu, Yebin memang bukan tipikal orang yang betah berada di dalam rumah atau di dalam ruangan dalam waktu yang lama. Yebin adalah orang yang suka berada di luar dan melakukan banyak kontak dengan dunia serta lingkungan.
Alasan Yebin itu dapat diterima oleh Yul.
“Baiklah. Mulai besok aku akan mengajakmu ke luar supaya kau tidak bosan,” kata Yul. Lalu ia melihat suatu benda yang digenggam Yebin di tangan kirinya.
Miniatur bunga mawar merah di dalam sebuah tabung kaca kecil. Yul mengambil benda itu dari genggaman Yebin dan bertanya, “Ini apa?”
“Ahh, itu miniatur yang diberikan Leo Park.”
Seketika pandangan Yul tertuju pada Yebin. Kedua alisnya mengernyit, penuh tanda tanya.
“Kau menerimanya dari Leo Park? Kenapa dia memberimu benda ini?” lanjut Yul bertanya.
“Itu bukan apa apa. Dia membeli benda seperti itu dalam jumlah banyak dari anak anak yang berjualan di pinggir jalan. Lalu membagikan benda itu ke semua orang yang dia temui. Karena tersisa satu dia memberikannya padaku. Jadi aku menerimanya saja. Lagi pula itu kan bukan benda berharga, dan bukan hanya aku yang dapat.” Yebin menjelaskan dengan perasaan ringan.
Sejujurnya Yul meragukan semua alasan Leo memberikan benda ini pada istrinya. Namun, bisa jadi memang seperti itu ceritanya. Yul yang tak ingin menaruh prasangka buruk pun mengangguk ringan.
Setelah hening sejenak, Yebin yang merasakan sesuatu pun menatap Yul dengan bola mata yang membulat. Ia lantas memanggil suaminya itu dengan nada suara yang manja.
“Oppa....”
Merasa ada yang sedikit berbeda dari nada suara Yebin, Yul mengernyitkan dahi. Menatap Yebin yang matanya membulat.
“Kenapa? Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?” tanya Yul khawatir.
“Sudah lama kita tidak bercinta.” Yebin menjawab dengan tatapan polos dan suara yang manja.
Seketika itu juga Yul menyebarkan pandangan ke sekeliling. Khawatir jika ada seseorang melihat atau mendengar apa yang baru saja Yebin katakan.
“Kau kan sedang sakit. Kenapa memikirkan tentang bercinta?” desus Yul lirih. Ia merutuki istrinya yang pikirannya sedang liar.
“Apa masalahnya? Saat malam hari jarang ada dokter atau perawat yang masuk. Kita bisa melakukannya di sini,” jawab Yebin.
Yul menghela napas ringan. Merasa heran pada pikiran liar istrinya yang sedang sakit itu. Wajahnya saja masih pucat. Dan beberapa jam sekali keadaannya harus diperiksa. Di tengah kondisi seperti itu, yang dipikirkannya justru bercinta? Yul dibuat tidak habis pikir oleh Kang Yebin.
“Tidak bisa. Pikirkan dulu kesembuhanmu,” tegas Yul.
“Ahh... Sayang... Oppa,” desah Yebin. Entah apa yang wanita itu pikirkan. Ia justru meraih tangan kanan Yul. Menarik tangan lelaki itu untuk diletakkan di atas dadanya, memaksa tangan Yul untuk meremas dadanya.
Yul yang mendapati sikap liar Yebin itu segera melepaskan tangannya dari paksaan Yebin. Lantas menyentil kening Yebin untuk menyadarkannya sekarang juga.
“Agh!” pekik Yebin saat keningnya merasakan sentilan cukup keras dari Yul.
Di waktu itu juga Yebin disadarkan oleh sentilan tangan Yul. Ia terlihat mengelus ngelus keningnya yang disentil.
“Kenapa Oppa menyentilku? Sakit!” pekik Yebin yang sungguh kesal karena disentil keningnya. Ia menatap kesal Yul yang tak mau menuruti keinginannya.
Napas Yul terhela panjang. Gara gara perlakuan Yebin itu, Yul yang hampir seminggu tak mendapat jatah itu merasakan gairahnya yang membangkit. Namun ia tahu dirinya tidak bisa melakukan hal itu di saat kondisi Yebin yang seperti ini. Sehingga mau tidak mau Yul harus mengontrol dan menenggelamkan kembali gairahnya yang hampir bangkit gara gara kelakuan Yebin.
Untuk saat ini, yang Yul pikirkan hanyalah kesembuhan Yebin. Dan juga kesadaran Hun. Tidak ada yang Yul pikirkan selain kedua hal itu. Ia menjaga dirinya dan hanya mengharapkan kesembuhan sang istri.
Melihat Yebin yang memasang raut wajah kesal itu, Yul membelai wajah Yebin. Mengelus pipi Yebin pelan sambil meyakinkannya.
“Yebin-a, aku hanya berharap kau segera sembuh. Aku tidak mengharapkan apa pun darimu selain kesembuhanmu. Itu saja. Saat kau sudah sembuh nanti, aku akan melakukann tugasku sebagai suami dan kau akan menjalankan tugasmu sebagai istri. Itu sudah cukup.”
Yebin hanya diam merenungkan semua perkataan Yul. Tiba tiba saja ia merasa malu karena telah berpikiran sangat liar dan melakukan hal yang memalukan.
Karena rasa malunya yang semakin besar, Yebin hanya bisa menurunkan pandangan. Ia seolah olah tak memiliki keberanian untuk menatap Yul setelah melakukan hal memalukan seperti tadi.
Yul tersenyum melihat Yebin yang saat ini terlihat begitu malu. Ia membelai lembut pipi Yebin sambil berucap lirih, “Untuk saat ini, hanya untuk ciuman.”
Setelah berkata demikian, Yul mulai mencium bibir Yebin. Mereka berciuman mesra dengan suara suara desahan ringan yang hanya dapat terdengar di telinga mereka. Berciuman dalam waktu cukup lama sebagai pelampiasan hasrat suami istri yang harus dipendam karena situasi yang tidak begitu mendukung.
Namun suara desahan ciuman itu tak hanya terdengar di telinga Yul dan Yebin yang sedang menikmati ciuman yang masih berlangsung itu. Leo Park, yang telah menyisipkan alat penyadap di dalam tumpukan kelopak miniatur bunga mawar itu juga dapat mendengar apa yang pasangan itu sedang lakukan. Membuatnya sekaan akan merasakan api cemburu membakar jiwanya. Di kursi taman tempatnya duduk itu, Leo seketika melepaskan earphone yang ia gunakan untuk mendengarkan aktivitas ciuman yang Yebin dan suaminya lakukan. Leo berdiri dari duduk dengan kedua tangannya yang mengepal erat menggenggam earphone nya. lalu menenang nendang kursi taman sebagai pelampiasan rasa cemburu dan rasa irinya mendengar wanita yang membuatnya tergila gila sedang menikmati ciuman dengan laki laki yang bukan dirinya.
**