Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kedatangan musuh besar untuk bertarung



Bab 58


Kedatangan musuh besar untuk bertarung


Mendadak suasana aprtemen Mino menjadi sangat dingin dan canggung. Di ruang tamu itu, beberapa orang duduk berdempet dempetan. Mino duduk bersebelahan dengan Lysa yang dipepet oleh kedua adik Mino; Mina dan Minjae. Mereka berempat duduk berhadap hadapan dengan Brian, yang dibelakangnya berdiri seorang bodyguard berkulit putih seperti bule yang berbadan kekar seperti binaragawan. Brian yang sedang menatap Lysa dan keheningan itu, ditatap tajam oleh Mina dan Minjae yang tidak menyukai kedatangannya.


Sudah hampir sepuluh menit Brian dan penjaganya itu masuk ke dalam apartemen Mino. Tapi masih belum ada percakapan yang dimulai oleh lelaki itu. Yang berlangsung hanyalah keheningan. Brian hanya diam menatapi Lysa dalam heningnya. Seolah olah, sedang meluapkan kerinduannya pada gadis itu dan juga rasa inginnya untuk memiliki Lysa yang berhasil membuatnya jatuh cinta sedalam ini.


Karena Lysa sudah tidak betah dengan keheningan yang berlangsung lama ini, ia pun membuka percakapan.


“Untuk apa kau datang dengan membawa pengawal itu Brian?” Lysa bertanya memecahkan keheningan. Pandangan tajamnya tertuju pada Brian dan juga pengawal yang berdiri di belakangnya.


“Aku merindukanmu.”


“Ajeossi ini benar benar!” Mina yang merasa marah mendengar kalimat pertama yang dikatakan Brian, langsung menceletuk. Ia sunggh tidak suka jika kakak iparnya digoda dengan laki laki lain di saat kakaknya sendiri; Mino; ada di hadapannya. Apa sebenarnya mintanya Ajeossi yang satu ini? batin Mina yang menatapnya dengan perasaan tidak suka.


“Benar sekali. Apa apaan kau datang, Ajeossi? Untuk apa kau datang sambil membawa laki laki bule tang kelihatan sadis itu? Dan kau itu sebenarnya siapa? Berani beraninya berkata rindu pada calon kakak iparku!” Minjae yang juga merasa kesal akan kedatangan Brian—yang belum pernah dilihatnya sebelumnya itu.


Melihat kedua adiknya yang ikut campur di urusan ini, Mino segera memberikan teguran sekaligus perintah.


“Mino, Minjae, kalian naik dulu ke atas. Ini urusannya orang dewasa, kalian tidak perlu ikut campur.” Mino memberikan teguran.


Hah!


Terdengar helaan napas kesal dari Minjae yang segera beranjak dari duduk bersama Mina. Kedua kakak beradik itu terlihat sangat tidak menyukai Brian. Mereka memberikan tatapan seperti tompak yang sangat tajam pada Brian sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang tamu. Jika Mino sudah memberikan perintah, kedua kakak beradik itu tidak bisa membantah. Mereka harus segera pergi sebelum melihat kakaknya yang super disiplin itu marah dan membentak.


Begitu Mina dan juga Minjae pergi meninggalkan lantai satu dengan naik ke lantai dua, percakapan yang sesungguhnya antara orang dewasa itu pun dimulai. Mino mulai larut dalam situasi mencekam yang berlangsung di antaranya dengan Brian.


“Apa dengan membawa pengawal itu bisa mengurangi rasa rindu yang kau bicarakan itu?” Mino membalas dengan tajam. Ia yakin, tujuan Brian datang bukan hanya akrena dia sangat merindukan Lysa. Tetapi ada niat terselubung di dalamnya.


“Karena aku merindukan Lysa, aku ingin membawanya pergi. Aku suka dia tinggal di satu tempat bersamamu.” Brian membalas dengan tegas. Tatapan tajamnya tertuju pada Mino. Seolah olah ingin menusuk mata Mino dengan tatapannya yang tajam itu.


Tercengang, Mino hanya tersenyum miring. Lucu sekali laki laki yang ada di hadapannya itu. Dia pikir, Mino akan diam saja? Dia pikir bisa membawa Lysa pergi dari Mino? Dasar!


“Siapa kau berhak membawa Lysa pergi dariku? Setelah membawa Lysa dalam kesulitan dan permasalahan keluargamu itu, kau masih berani memiliki niat untuk membawa Lysa pergi dariku? Lucu sekali!” timpal Mino.


“Kau tidak berhak bersama Lysa. Kau tidak tau apa apa tentangnya. Baru mengenal Lysa beberapa bulan dan tidak menemani semua masa sulit yang Lysa lewati selama ini. Han Mino, tidak peduli siapa dirimu, kau hanyalah orang baru di kehidupan Lysa. Kau sama sekali tidak berhak untuk bersamanya. Karena hanya aku yang bisa bersama Lysa, hanya aku yang telah mengenal Lysa lebih baik dari siapa pun, yang telah menemani Lysa setiap waktu sepanjang usianya sekarang. Siapa kamu berani beraninya mencuri Lysa dariku dan menyembunyikannya di tempat seperti kandang tikus seperti ini?” Brian menceletuk panjang dengan semburat emosu yang ia perlihatkan untuk Mino. Seperti Mino, laki laki itu juga memiliki ego yang tinggi untuk memiliki Lysa. Karena Brian memiliki kekuatan besar di belakangnya, yaitu Hangin Grub dan sang ayah yang telah mengiyakan keinginan Brian untuk dapat menikah dengan Lysa.


“Rumah... tikus katamu?” desus Mino pelan sambil menyipitkan kedua mata. hatinya sangat marah mendengar itu. Ia merasa tidak terima dan harga dirinya terasa diinjak injak.


“Ya! Rumah tikus. Tempat ini sangat tidak layak untuk ditinggali oleh Lysa ku yang berharga. Aku bisa memberikan tempat tinggal yang jauh lebih baik kepada Lysa, bila perlu aku bisa membangunkan istana untuknya.” Brian menceletuk.


“Brian, hentikan!”


Lysa yang sudah tidak tahan lagi mendengar Brian menginjak  injak harga diri Mino, segera berteriak untuk menghentikan lelaki itu. Jika bukan Lysa yang menghentikan mereka, mereka tidak akan berhenti dan hati Lysa akan semakin  hancur karena Mino, orang yang dikasihinya, diinjak injak oleh Brian. Lysa tidak bisa diam saja. Lysa tidak akan membiarkan orang yang disayanginya diinjak ilah orang lain.


Untuk Brian, rumah seperti ini memang bukan apa apa. Lysa tahu betul betapa kayanya Hangin Grub yang bisa membangun hotel bintang lima dan gedung apartemen dengan nilai jual yang fantastis. Lysa tahu betul sekaya apa Brian yang merupakan pewaris Hangin Grub yang sekaligus menjadi profesor biologi, yang secara intelektual diakui dan memiliki derajat yang tinggi di mata siapa pun. Namun, Lysa sama sekali tidak menyukai sikap Brian yang seperti itu. Lysa tidak pernah menilai seseorang dari apa yang dipunya dan dari apa saja aset yang dimilikinya. Lysa menilai seseorang dari perilaku atau kelakuan dan juga etika yang dimiliki.


Untuk Mino, memiliki tempat tinggal seperti ini tidaklah mudah. Memang, apartemen yang ditinggali Mino ini memiliki nilai jual yang sangat mahal dan memang diperuntukkan untuk kalangan masyarakat Seoul yang berada di atas. Meski pun begitu, pastinya tidak bisa dibandingkan dengan kepemilikan Hangin Grub yang merupakan perusahaan properti besar dan memiliki jutaan unit apartemen seperti ini. Mino bekerja dengan begitu keras untuk memiliki apartemen mewah seperti ini. ia bekerja untuk keluarganya, untuk mengangkat derajat keluarganya dan mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan, untuk menyekolahkan kedua adiknya yang masih SMA dan kuliah. Mino memiliki tanggungan yang jauh lebih besar dari Brian yang semuanya dapat dia dapatkan dengan mudah dari orang tuanya. Mino selama ini bekerja dengan tangannya sendiri. Mendapatkan semua hasil pekerjaannya tanpa mendapat satu pun dukungan finansial dari keluarganya. Yang itu sangat bertentangan dengan brian yang bisa mendapatkan segalanya atas nama Hangin Grub. Brian hanya bersembunyi di balik punggung ayahnya sedangkan Mino berada di garda terdepan untuk menghidupi keluarganya. Dari mendengar perbedaan ini saja, siapa pun dapat menilai mana yang lebih baik. Dan Lysa pun berpikir, bahwa dari sudut pandang mana pun, Mino tetap yang terbaik. Lysa merasa salut akan semua kerja keras Mino dan semua usaha yang dilakukan pria itu. Lysa merasa sangat kagum dan telah banyak belajar darinya; Mino.


Lysa yang melihat dengan baik Mino yang tidak bisa berkutik di sebelahnya. laki laki itu hanya diam ketika Brian melemparinya dengan sederet kata kata penuh hujatan yang semuanya memang tidak salah. Kedua mata Mino menyendu dan tampak mendung meski raut wajahnya menunjukkan kemarahan. Ia marah mendengar semua itu. Marah karena harga dirinya diinjak injak oleh laki laki yang berniat ingin merebut Lysa darinya.


“Brian, aku tidak suka cara bicaramu yang seperti itu. Ku kira selama ini kau bukan orang yang seperti itu. Nyatanya selama ini aku salah menilaimu.” Lysa lanjut berkata.


“Lysa, dengarkan aku kali ini saja. Aku sungguh ingin bericara denganmu.”


Brian berusaha membujuk Lysa untuk dapat berbicara empat mata dengannya. Ia merasa sangat merindukan Lysa dan memiliki banyak hal yang harus dibicarakan dengan gadis itu.


Sejenak Lysa menimbang nimbang.


“Baiklah, ayo kita bicara. Tapi sebelumnya, tolong bawa keluar bodyguard mu itu. Aku sungguh merasa tidak nyaman akan keberadaannya. Membuatku merasa sangat terusik dan san sangat risi. Jadi tolong bawa dia keluar kalau kau memang ingin membicarakan sesuatu dengan ku,” ucap Lysa yakin.


“Baiklah.”


Setelah itu Brian meminta pengawalnya untuk keluar dari apartemen ini. dan pengawal yang memakai pakaian hitam hitam itu berjalan keluar dari apartemen Mino, berjaga di depan pintu apartemennya. Dan setelah penjaga itu keluar, Lysa menolah kepada Mino yang duduk di sebelahnya dengan amarah yang tertahan.


Raut wajah Mino tampak tidak setuju. Bagaimana ia bisa mengiyakan permintaan Lysa itu sementara melihat Brian berdua dengan Lysa saja membuat Mino merasa sangat tidak nyaman dan juga terganggu? Mino menggelengkan kepala karena tidak ingin menyetujui permintaan Lysa.


“Tidak. Apa yang ingin kalian bicarakan berdua saja? Bagaimana dia melakukan sesuatu yang buruk padamu Sayang?” Mino memprotes lirih di hadapan Lysa.


Baik. Lysa mengerti apa yang Mino khawatirkan. Ia takut Brian melakukan sesuatu yang butuk kepada Lysa. Tapi kali ini Lysa yakin, Brian tidka akan melakukan apa apa padanya. Ia hanya ingin berbicara dengan Lysa secara empat mata.


Untuk meyakinkan Mino, Lysa menggenggam salah satu tangan Mino. Memberinya keyakinan yang besar bahwa semuanya akan baik baik saja. Bahwa mereka hanya akan bicara dan Brian tidak akan berani melakukan sesuatu hal yang buruk kepada Lysa seperti yang terjadi di akfe Indonesia pada waktu itu.


Sambil menggenggam tangan mino dengan hangat, Lysa berusaha meyakinkannya.


“Jangan khawatir. Dia hanya ingin berbicara denganku. Tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. Yakin lah padaku, Sayang. Hmm? Kau bisa menungguku di lantai dua bersama adik adikmu. Kalau ada apa apa, kau pasti mendengarnya dari lantai dua bukan?” Lysa berusaha meyakinkan.


Namun raut wajah Mino masih tampak tidak setuju. Kepalanya menggeleng kecil. Ia memegangi wajah Lysa dengan kedua tangannya.


“Kau yakin? Aku sangat khawatir padamu.”


Kemudian Lysa tersenyum simpul. Ia memegang tangan Mino yang mendekap pipinya dengan hangat. Lalu mengangguk angguk pelan.


“Jangan khawatir. Ada permasalahan yang harus aku selesaikan dengan Brian. Berikan kami waktu untuk berbicara sebentar saja.”


Setelah dibujuk dengan susah payah, akhirnya Mino pun luluh dan menuruti apa yang Lysa inginkan. Laki laki itu mulai beranjak dari duduk. Lantas memberikan tatapan tajam yang penuh peringatan kepada Brian yang duduk di seberang sofa. Lalu ia berlalu pergi.


Begitu Mino naik di lantai dua, Lysa mengembuskan napas panjang sambil menujukan pandangannya pada Brian yang ada di seberang meja. Menatap laki laki itu dengan legas. Sementara Brian memperlihatkan raut wjah yang sangat sedih dan pilu.


“Lysa, berikan aku satu kesempatan lagi. Kau sudah lama menyukaiku selama ini. berikan aku kesempatan untuk membalas semua rasa sukamu dan mebahagiakanmu seumur hidupku, Lysa. Kau sudah menyenalku dengan baik, dan aku sudah menyenalmu dengan  baik selama ini. kita telah memiliki banyak cerita bersama selama ini. telah melalui banyak rintangan sampai akhirnya kita berada di titik ini. kumohon, pertimbangkan sekali lagi, dan ayo menikah denganku. Aku berjanji tidak akan membuatmu terluka sedikit saja dan akan selalu membuatmu bahagia dengan semua yang aku miliki.”


Begitu seorang Brian Alvendo berusaha meyakinkan Lysa untuk menjadi istrinya, untuk menikah dengannya. Namun, di mata Lysa, laki laki itu menjadi sangat menyedihkan. Lysa tidak pernah tau kalau Brian bisa menjadi orang yang sangat menyedihkan seperti ini. karena sampai satu bulan yang lalu, Lysa maish menganggap bahwa Brian adalah laki laki baik yang bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya. Namun saat ini, Lysa berpikir Brian tidak lebih dari laki laki yang sangat menyedihkan, yang mengemis cinta pada seorang wanita yang telah menjadi ‘milik’ laki laki lain.


“Brian, aku sudah mengatakan semuanya padamu waktu itu. Perasaanku sudah berubah. Sejak saat di mana kau menolakku untuk kesekian kalinya, perasaanku sudah benar benar berubah. Sejak aku mengenal Han Mino, perasaanku padamu sudah benar benar berubah. Aku masih merasa kalau hubungan kita maish bisa diperbaiki sampai pada hari itu. Aku masih berpikir kalau kita bisa memiliki hubungan kakak adik seperti itu lagi. Tapi, sejak kejadian di kafe itu, aku benar benar tidak bisa menerimamu lagi, Brian, entah sebagai laki laki atau entah sekadar menganggapmu kakak laki lakiku seperti saat itu.” Lysa bercerita panpang lebar tentang perasaannya. Sementara itu Brian maish terdiam mendengarkan dengan bola mata yang berkaca kaca, menahan hatinya yang hancur berkeping mendengar Lysa mengatakan semua itu.


“... Bahkan, setelah hari itu aku masih berpikir untuk memaafkanmu, Brian. Tapi, setelah tau bahwa ayahmu membuat pengumuman resmi tentang pernikahan kita, aku benar benar marah. Sekujur tubuhku menolah apa yang kalian lakukan. Aku marah semarah mungkin karena merasa diperbudak oleh keluargamu. Dan bahkan apa kau tau bahwa ayahmu mengancamku?” Lysa lanjut bercerita dengan tatapan sedihnya yang menatap Brian penuh rasa kecewa.


“Itu... karena aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkanmu kembali, Lysa. Jadi dengan cara itu aku ingin menjadikanmu miliku. Aku menginginkan mu, bukan hanya sebagai adik. Tapi aku menginginkan mu untuk menjadi wanitaku, menjadi satu satu nya wanita yang akan menemaniku sepanjang hidup. Aku sungguh mencintaimu Lysa. Aku tulus menyayangi mu. Aku hanya terlambat mengetahui perasaan ku yang sebenarnya. Aku hanya terlambat selangkah dari laki laki itu.” Brian menjelaskan dengan suara yang lirih dan bergetar karena sangat sedih.


Lysa menarik napas panjang panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Ia tidak tau lagi bagaimana ia bisa menjelaskan pada Brian bahwa hati Lysa sudah bukan untuk laki laki itu lagi. Bahwa Lysa sekarang telah memberikan seluruh hati dan juga hidupnya untuk laki laki lain yang keberadaan nya sungguh jauh lebih berarti dari semua waktu yang telah Lysa lalui bersama Brian. Lysa telah kehabisan kata kata. Lysa telah lelah untuk mengatakan apa yang sering kali ia jelaskan kepada Brian, bahwa sekarang Lysa bukan untuknya. Bahwa sekarang Lysa telah mencintai laki laki lain dan cintanya bukan untuk Brian yang dalam waktu yang sangat lama telah menyia nyiakan perasaan Lysa.


Kepala Lysa terasa sangat pusing. Tubuh dan hatinya sudah sangat lelah menghadapi Brian yang tetap bersi kukuh ingin mendaatkan hatinya kembali meski berkali kali Lysa menolak. Karena merasa pusing itu, Lysa memikit pelipisnya menggunakan kedua tangan. Memijitnya dengan sangat lembut untuk mengurangi rasa pusing sekaligus untuk berpikir dengan jernih.


Hati Lysa sungguh sangat sedih saat ini. hubungan baik yang telah ia pupuk dengan Brian selama puluhan tahun ini sudah benar benar rusak. Padahak Brian termasuk salah satu orang yang berharga dalam hidup Lysa. Lysa telah menganggapnya seperti keluarga, seperti teman, seperti kakak, dan kdang juga seperti adik. Mereka tumbuh bersama dan telah menghbiskan banyak waktu bersama. Menjadi penghibur satu sama lain saat ada yang merada sedih atau tertekan. Dan sekarang, semuanya telah hancur berkeping keping. Meski Lysa tidak mencintai Brian lagi, Lysa masih menyayanginya sebagai kakak laki laki, sebagai teman, dan sebagai keluarga. Sangat disayangkan jika Brian tidak bisa ia ajak berdamai dengan cara yang baik baik.


Hati Lysa terasa sangat hancur saat ini. benaknya seperti tersayat sayat ketika semua kenangan tentang waktu yang telah dihabiskannya bersama Brian kembali menyembul di dalam benak. Waktu ketika ia merasa kelaparan dan akhirnya Brian membelikannya daging sapi. Wakti di mana Lysa merasa sedih dan Brian mengajaknya pergi ke Namsan Tower. Bahkan, waktu di masa kecil di mana Brian berkata sedang stres dan akhirnya Lysa mengajaknya bermain di sungai belakang rumah nenek untuk berburu ikan ikan kecil. Semua waktu yang Lysa lalui bersama Brian selama ini menjaid kenangan yang indah di benak Lysa. Sangat disayangkan jika semuanya rusak begitu saja. Sangat di sayangkan jika Lysa tidak memiliki pilihan selain melawan Brian di mata hukum karena sudah tidak tahu cara bagaimana lagi membuat Brian berhenti.


Karena rasa sedihnya, Lysa meneteskan air mata. gadis itu menangis pelan dengan air mata yang berlinang di pipi. Dan Brian melihatnya. Laki laki itu melihat bagaimana Lysa menangis di hadapannya, yang itu membuatnya merasa semakin sedih.


“Sam... aku ingin bahagia.”


Di sela sela tangisnya, Lysa berkata lirih. Ia menggunakan panggilan Sam lagi untuk meemanggil Brian. Sam adalah panggilan masa kecil Lysa terhadap Brian. Dan sekarang Lysa menggunakan panggilan itu lagi karena teringat semua masa kecil yang telah ia lalui bersama Brian dengan panggilan Sam itu.


“Jangan lupakan bahwa aku adalah manusia yang ingin merasa bahagia. Semua kekacauan dalam hidupku selama ini membuat kebahagiaanku terhambat. Masalah di dalam keluargaku. Perceraian ayah dan ibu. Perselingkuhan ibu. Dan sampai sengketa kepemilikan harta antara ayah dan ibu. Semua yang telah aku lalui terasa sangat kelam. Aku ingin bahagia bersama orang yang aku sayangi. Sungguh aku tidak ingin lagi larut dalam semua kesedihan itu lagi. Aku ingin bahagia bersama dia, laki laki yang bisa membuatku merasa bahagia lebih dari apa pun dan membuatku merasa begitu berarti. Aku mencintainya, Sam. Aku sangat menyayanginya. Ini adalah rasa sayang yang belum pernah kumiliki sebelumnya. Rasa sayang yang terasa sangat besar dan dalam, yang membuatku merasa ingin memberikan semua yang kumiliki untuk bisa bersama nya sepanjang usiaku. Kumohon, kalau pun kau tidak bisa berdamai denganku, aku mohon... tolong jangan ganggu kebahagian kami, jangan halangi aku untuk bahagia. Aku sudah tidak sanggup lagi jika harus terus berada dalam kesedihan.” Lysa berkata penuh pilu dengan semua emosi yang dibawanya. Rasa sedih, kecewa, rasa penuh harapan, dan semua perasaan pilu yang ditujukan nya untuk Brian. Lysa mengusap air matanya yang masih terus mengalir karena perasaan sedih itu.


Mendengar semua ucapan yang Lysa lontarkan, Brian hanya diam. Ia menatap Lysa yang sedang menangis dengan tatapan penuh pilu. Ingin rasanya Brian memeluk Lysa, namun ia tau Lysa pasti akan menolak pelukannya. Dan akhirnya Brian hanya terdiam. Ia hanya diam seperti orang bodoh ketika melihat wanita yang amat disayangi nya menangis dengan teramat sedih.


Sampai beberapa waktu kemudian, tangisan Lysa mulai mereda dan Brian mulai angkat bicara untuk membalas semua keluhan Lysa terhadapnya.


“Rasa mencintai yang teramat dalam. Rasa sayang yang begitu besar yang membuatmu seolah olah ingin memberikan apa pun yang kau miliki untuknya... Itu semua seperti yang kurasakan terhadapmu, Lysa. Aku menyayangimu sedalam itu. Aku mampu memberikan semua yang kau mau. Aku bersedia menjadi apa pun yang kau mau dan memberikan semuanya padamu. Sebesar kau mencintai laki laki itu, sebesar itulah aku mencintaimu. Dan aku tidak bisa berhenti di titik ini. aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Aku akan melakukan apa pun untuk bisa membuatmu kembali padaku. Tunggu saja. Aku bisa meluluhkanmu dan membuatmu meninggalkan laki laki itu.”


Setelah mengatakan semua itu, Brian beranjak dari duduk. Ia pergi meninggalkan apartemen Mino. Sementara Lysa yang masih duduk di atas sofa itu, kembali menangis karena merasa begitu sedih mendapati Brian yang tidak bisa berhenti menghambat kebahagiaannya dengan Mino.


**