
Tok tok tok.
Begitu terdengar bunyi ketukan pintu dari luar, Yul beranjak turun dari kasur. Berjalan menuju pintu ruang rawat Yebin. Lalu membukakan pintu untuk orang yang datang sambil membawakan pesananan bubur Yul beberapa waktu lalu.
“Sangsik-a, terima kasih. Aku akan menghitungnya sebagai pekerjaan tambahan.”
Yul segera menerima bubur yang dibelikan Sangsik untuknya seketika lelaki itu menyerahkannya pada sang bos. Tetapi pandangan Sangsik tampak tak fokus menatap Yul. Ia sibuk melihat seseorang yang ia duga adalah Leo Park yang berjalan menjauh dengan aura yang tidak biasa.
“Bos, apa Leo Park tadi kemari?” tanya Sangsik tiba tiba dengan pandangan yang masih terpaku pada lorong tempat Leo Park tenggelam.
“Leo Park? Tidak. Tidak ada siapa siapa yang baru kemari kecuali kau.”
Begitu Yul menjawab demikian, pandangan Sangsik pun kembali terarah pada Yul. “Ah, begitu rupanya. Pasti aku salah lihat. Dari belakang dia terlihat seperti Leo Park, tapi sepertinya bukan.”
Yul mengangguk anggukkan kepala sambil mengeluarkan beberapa lembar uang untuk mengganti uang Sangsik membayar bubur.
“Terima kasih.”
“Sama sama, Bos.”
“Hehei, sudah kukatakan. Panggil saja aku Hyung saat kita hanya sedang berdua,” tegus Yul.
Sangsik adalah salah satu pelayan Moonlight Coffe Gangnam yang sangat setia dan memiliki loyalitas tinggi. Ia tak berhenti sekali pun Moonlight Coffe dilanda krisis. Dan tetap bertahan sampai detik ini. Alih alih sebagai karyawan paruh waktu yang bekerja di kafenya, Yul sudah menganggap Sangsik seperti junior sekaligus adiknya.
“Bagaimana aku memanggilmu Hyung di saat ada istrimu yang galak itu?” balas Sangsik. Nada suaranya melirih.
Yul terkekeh. “Apakah istriku galak pada kalian?” Yul menanggapi celetukan Sangsik sambil terkekeh kekeh.
“Galak sih tidak. Tapi dia sangat tegas. Dan auranya... menakutkan, seperti dia bisa menelanku hidup hidup jika berbuat salah.”
Yul tambah terkerkeh mendengar keluhan yang diutarakan Sangsik. Pantas saja laporan harian yang ia dapat dari manajer kafe memperlihatkan perubahan sikap para karyawan dengan begitu signifikan. Dan pantas saja, Sangsik yang hampir setiap hari selalu terlambat, selama beberapa hari terakhir datang tepat waktu sesuai jam kerjanya. Ternyata, itulah yang terjadi....
“Bos Yul, aku sangat menyukai gaya kepemimpinanmu. Jadi kembalilah ke kafe,” lanjut Sangsik berucap.
“Hahaha! Aku pasti akan kembali ke kafe ketika istriku sudah sembuh.”
“Ngomong ngomong, usia Nyonya Moon itu berapa? Dia masih terlihat sangat muda.” Sangsik lanjut bertanya. Membuat Yul seketika menaikkan kedua alis.
“Usianya... sama sepertimu, 25 tahun.”
“Haa?” mulut Sangsik seketika itu ternganga. Ia seperti tak percaya apa yang baru saja ia dengar. “Pantas saja dia kelihatan sangat muda. Ternyata dia seusiaku. Wahhh.... Bos, kau benar benar.... Yuhuuu!”
Tiba tiba Sangsik menyeru sambil menyenggol lengan Yul. Bersama tatapan nakalnya yang tampak terkesan, Sangsik kembali menyeru, “Bravo!”
“Hahaha.” Melihat kelakuan karyawan setianya itu, Yul tertawa terbahak bahak. Ia cukup terkejut mendengar lelaki itu menyeru ‘bravo!’ di saat ada beberapa perawat rumah sakit yang berlalu lalang.
“Kalau begitu, sampai ketemu lagi, Bos Yul! Aku harus kembali bekerja. Dan semoga istri dan adikmu segera sembuh,” lanjut Sangsik saat harus segera pergi untuk melanjutkan pekerjaannya di kafe.
“Mau pergi sekarang? Tidak bertemu dulu dengan istriku?” kata Yul. Yang seketika mendapat jawabna dari Sangsik berupa gelengan kepala.
“Tidak tidak. Terakhir kali Nyonya Moon ada di kafe, aku ketahuan saat menggoda beberapa pelanggan wanita. Saat itu, aku merasakan tatapan matanya yang menusuk nusuk. Aduh, aku jadi merinding lagi.” Sangsik yang memang hobinya adalah menggoda pelanggan wanita itu, kembali bergidik mengingat kejadian pagi tadi. Saat ia ketahuan sedang melalaikan pekerjaan dan bersenang senang bersama pelanggan kafe.
Tak menunggu lama, Sangsik langsung berbalik untuk meninggalkan Yul. Namun baru dua langkah ia menjauh, satu ingatan terbesit di benak Sangsik. Membuatnya kembali menoleh pada Yul yang hendak masuk ke dalam ruangan.
“Bos Yul,” panggilnya.
Yul yang hendak masuk itu kembali menoleh. “Ada apa?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi jangan tersinggung dan jangan salah paham ya Bos,” ucap Sangsik ambigu.
Kepala Yul mengangguk ringan. “Katakan saja.”
“Berhati hatilah pada Leo Park. Jangan biarkan dia sering sering datang ke kafe dan bertemu Nyonya Moon. Bukannya aku berburuk sangka padanya. Hanya saja aku juga laki laki yang pernah merasakan jatuh cinta.”
Setelah mengatakan semua itu, Sangsik melanjutkan jalan. Berjalan pergi menjauhi ruangan tempat Yebin dirawat. Lalu tenggelam ke dalam lift yang akan membawanya turun menuju lantai satu.
Yul masih diam sejenak mencerna ucapan Sangsik.
Pada dasarnya laki laki memiliki pola yang sama ketika sednag jatuh cinta. Yaitu, ingin terlihat bisa diandalkan di hadapan wanita yang dicintainya dan bersedia melakukan apa pun demi wanita tercinta.
Apa yang Sangsik ucapkan itu sebenarnya hal yang mudah untuk Yul cerna dan cermati. Namun ada satu sisi dalam dirinya yang ingin menutup kecurigaannya terhadap Yebin. Bukan. Yang patut Yul curigai dan waspadai adalah Leo, bukan Yebin. Karena yang menunjukkan perasaan terlarang adalah Leo Park, dan Yul mengerti hal itu sejak sebelum keberangkatannya ke Jeju.
Seolah tak ingin mengambil pusing, Yul segera tenggelam ke dalam ruang rawat Yebin. Berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan. Membuka bungkus bubur, menyiapkan air minum dan peralatan lainnya. Lalu membawanya menuju Yebin yang sedang duduk menyandarkan tubuh di atas kasur.
Yul menatakan meja makan portabel yang menjadi bagian dari kasur pasien yang Yebin duduki. Meletakkan bubur dan air putih itu ke atas meja itu di hadapan Yebin. Kemudian Yul sendiri mengambil duduk di pinggiran kasur. Menyuapi Yebin yang masih perlu banyak istirahat.
“Aaaa.”
Otomatis Yebin membuka mulut melihat Yul menyuapkan satu sendok bubur padanya. Biasanya, orang yang sedang sakit tidak akan nafsu makan dan merasa apa pun yang masuk ke dalam mulutnya itu pahit. Tapi, tidak dengan Yebin. Meski badannya masih sakit, dan luka bekas operasi serta luka luka di tubuhnya itu terasa panas dan perih, ia tetap makan dengan lahap. Bukan karena bubur adalah makanan kesukaannya. Tetapi karena ia disuapi oleh Yul. Jarang sekali lelaki itu menyuapinya makan seperti ini. Kalau tidak sakit parah seperti ini, Yebin pasti tidak akan disuapi oleh Yul.
“Waa, senang sekali melihatmu makan dengan lahap seperti ini.”
Melihat istrinya yang makan dengan lahap seperti itu, Yul merasa senang. Ia terkekeh kekeh menatap Yebin yang sedang sakit tapi tak terlihat seperti orang sakit.
“Aa.”
Yebin kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan bubur dari Yul. Barusan, terbesit satu hal di dalam kepala Yebin.
“Oppa,” panggilnya.
“Hm?”
“Oppa tahu apa yang baru saja kupikirkan?” ucap Yebin.
“Mana aku tahu? Aku kan bukan dukun yang bisa membaca pikiran orang,” jawab Yul sambil terkekeh.
Yebin diam sejenak. Menyimpulkan senyum.
“Aku membayangkan aku tidak bisa hidup tanpamu, Oppa.”
Mendengar itu, Yul berhenti terkekeh. Menatap Yebin hangat bersama segelintir keraguan yang meluruh. Ia tahu, Yebin mencintainya sebanyak ia mencintai Yebin. Itu sudah cukup untuk Yul menilai bahwa Yebin tidak akan berpaling pada siapa pun selain dirinya.
“Aku juga tidak bisa hidup tanpamu, Yebin-a.” Yul berucap lirih, membalas perkataan Yebin. Kemudian ia menyendok sup. Mengulurkannya perlahan di depan mulut Yebin. “Yebin-a,” panggil Yul.
“Hm?” sahut Yebin sambil ******* bubur yang baru disuapkan Yul.
“Bagiku, hal yang paling utama untuk menjaga pernikahan kita adalah kepercayaan. Aku akan memercayaimu apa pun yang terjadi nantinya. Selama kita sama sama saling memercayai, kita akan selalu baik baik saja, sebagai suami istri.”
“Oppa, kau sudah mendengarnya kan?” tanya Yebin lirih. Ia menatap Yul dengan tatapan tenang.
Diam Yul berarti ia sudah mengetahui semuanya. Tatapannya pada Yebin menyendu.
“Aku tahu, kalau lelaki itu menyukaimu. Aku juga melihat foto dari rekaman CCTV, kalian berpelukan di dalam ruang rapat,” kata Yul lirih.
Yebin menghela napas. Tidak diduga, suaminya itu adalah Moon Yul, yang memiliki teman hampir di semua tempat yang ada di Korea Selatan ini. Tidak heran jika Yul bisa melihat remakan CCTV saat Leo Park memeluk Yebin hari itu.
“Itu salah paham, Oppa.”
“Aku tahu, karena itu aku berkata seperti tadi.”
“Kami tidak berpelukan. Dia yang tiba tiba memelukku dan membuatku terkejut setengah mati.”
Yul tersenyum hangat kemudian. Mencoba menenangkan Yebin.
“Aku tahu, tenanglah. Aku lebih percaya padamu dibanding orang yang mengirimkan foto CCTV itu padaku. Tadi sudah kukatakan, aku akan percaya padamu apa pun yang terjadi. Jadi kau juga harus percaya padaku apa pun yang terjadi,” kata Yul dengan tenang.
Yebin mengangguk anggukkan kepala. Lalu ia menerima kembali suapan bubur dari Yul. Melanjutkan kegiatan makannya sampai habis. Kemudian tertidur dengan Yul yang membaringkan tubuh di sebelah, memeluknya.
**
Tiga hari berlalu sejak Yebin mendapatkan perawatan penuh setelah kecelakaan yang dialaminya. Selama tiga hari dirawat ini, orang yang selalu ada untuknya hanya Yul seorang. Lelaki itu menemani Yebin kapan pun dan tak pernah meninggalkannya barang sejenak. Bekerja? Tentu saja Yul tetap bekerja untuk kafe. Tetapi ia tak datang secara langsung ke kafe. Hanya memantau kinerja para pegawainya melalui masing masing manajer yang bertanggung jawab. Pun urusan di Jeju telah diserahkan pada Pak Kim yang memiliki pengalaman lebih banyak daripada Yul. Pak Kim itu mengambil keputusan untuk memecat manajer Moonlight Coffe di Jeju karena tak ada jalan lain untuk menyelesaikan konflik yang masih terus berlangsung. Dan Yul menyetujui keputusan Pak Kim yang dirasa bijak itu.
“Aku berharap Hun Oppa segera bangun. Ada banyak yang ingin kukatakan padanya.”
Di atas kursi roda tempatnya duduk, Yebin berbicara. Pandangannya lurus menatap Hun yang masih belum sadarkan diri sejak kecelakaan hari itu. Berbagai peralatan kesehatan masih melekat di tubuh Yul. Alat bantu pernapasan. Alat pemantau detakan jantung. Dan beberapa peralatan kedokteran lainnya terpasang di tubuh Hun untuk membantunya bertahan hidup di tengah kondisi komanya.
Wajah Yebin menyendu. Ia sungguh merasa bersalah pada Hun. Yebin berpikir, kecelakaan itu terjadi karenanya. Andai saja ia bisa lebih mandiri, Hun tidak perlu mengantar dan menjemputnya setiap hari. Jika seperti itu, tidak mungkin Hun terlibat kecelakaan menuju distrik Gwangjin tempat tinggal Yebin berada.
“Hun akan segera bangun. Aku yakin.”
Di belakang Yebin, Yul yang sedang memegangi kursi roda Yebin itu menyahut. Begitu pun raut wajahnya yang tampak sendu menatap sang adik yang masih berada dalam ketidak sadaran pasca kecelakaan yang menimpa si adik dan sang istri.
“Apa kekasihnya selalu menunggi Hun Oppa di sini?” tanya Yebin kemudian.
“Setiap hari dia datang. Sebelum berangkat bekerja dan sesudah berangkat bekerja, Jina selalu datang. Bahkan ia juga bermalam di sini, menunggu Hun yang sewaktu waktu bisa bangun.” Yul menjawab singkat.
“Sebenarnya, sebelum kecelakaan itu, Hun Oppa sempat bertengkar dengan kekasihnya. Ceritanya aku dan Hun Oppa selesai makan di restoran China. Kami bertemu Jina ssi yang datang ke restoran itu bersama seorang lelaki yang juga menjadi hakim di Mahkaman Agung. Hun Oppa dan kekasihnya terlibat perdebatan dan aku memilih untuk masuk duluan ke dalam mobil. Menunggu mereka. Entah mengapa, aku merasa sepertinya pertengkaran mereka itu disebabkan karenaku. Benar begitu kan, Sayang?”
Yebin lantas menoleh ke belakang, menatap Yul, setelah menceritakan semua itu. Wajah Yebin menunjukkan rasa bersalah. Yul yang melihat itu, segera menyanggah.
“Apa maksudmu? Mereka bertengkar bukan karenamu. Mereka bertengkar karena ada masalah lain.” Begitu Yul meyakinkan. Meski sebenarnya Yebin lah yang menyebabkan sepadang kekasih itu bertengkar. Tepatnya, bukan Yebin. Tetapi perasaan Hun terhadap Yebin yang pernah adalah yang menyebabkan pertengkaran itu.
“Benarkah? Oppa tahu alasan mereka bertengkar?” Yebin meyakinkan.
Yul mengangguk yakin. “Tentu saja. Siapa lagi tempat bercerita Hun kalau bukan aku? Dia selalu mengeluarkan keluh kesahnya padaku, termasuk tentang permasalahannya dengan Jina.”
Sedikit, Yebin merasa lega mendengar hal itu. Bahwa bukan dirinyalah penyebab pertengkaran sepasang kekasih yang terlihat sangat cocok saat bersama itu.
“Semua itu bukan karenamu, Yebin-a. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Dan jangan berpikir macam macam. Fokus saja pada penyembuhanmu,” tutur Yul.
Medengar Yul berkata demikian, Yebin lantas menoleh ke belakang. “Bagaimana denganmu Oppa? Bukannya kau juga menyalahkan dirimu sendiri atas kecelakaan yang terjadi padaku dan pada Hun Oppa? Semuanya terlihat jelas di wajahmu, bahwa kau merasa semua itu adalah kesalahanmu.” Yebin merutuki. Lalu ia kembali menoleh pada Hun. Merapikan selimut yang menyelimuti tubuh Hun dengan hangat.
“Wajar kalau aku merasa bersalah. Istri dan adikku kecelakaan bersama saat aku pergi ke Jeju untuk urusan bisnis. Mana mungkin aku tidak merasa bersalah?” keluh Yul.
“Tetap saja itu bukan kesalahanmu, Sayang. Itu adalah kesalahan pengendara dua mobil van yang tiba tiba menghadang mobil Hun Oppa dan menghantamnya dari belakang,” omel Yebin pelan sambil membenarkan selimut Hun dan menyeka wajah Hun yang terasa hangat.
Yul terdiam sejenak.
“Dua... mobil van hitam? Kau mengingat bagaimana kecelakaan itu terjadi?” tanya Yul ragu.
“Tentu saja. Aku masih mengingatnya dengan baik. Ada satu mobil van hitam yang melaju sangat kencang. Mobil itu menyalip mobil Hun Oppa dan tiba tiba berhenti di depan, sampai Hun Oppa mengerem mendadak hingga terdengar suara decitan ban mobil. Tidak lama setelah itu ada satu mobil lagi dari belakang yang melaju sangat kencang. Mobil itu menabrak mobil Hun Oppa dengan begitu keras, sampai terpental ke depan dan menabrak mobil van yang berhenti di depan. Setelah itu aku sudah tidak begitu ingat. Hanya beberapa detik sebelum kesadaranku hilang, aku sempat melihat Hun Oppa sudah tidak sadar dengan darah yang berlumuran di wajahnya.”
Yul diam mencerna semua penjelasan Yebin itu dengan cermat. Jika memang seperti itu, maka proses penyelidikan akan lebih mudah. Polisi tinggal menemukan dua movil van yang menabrak mobil Hun itu melalui rekaman blackboks mobil Hun yang sekarang diamankan kepolisian.
“Polisi sedang menyelidiki kasus itu. Kalau kronologis kecelakaannya begitu, pengendara mobil van itu pasti akan segera ditangkap dan dipenjara,” ucap Yul meyakinkan. Baru saja ucapannya itu terlontarkan, ponsel di dalam saku Yul bergetar. Ia segera merogoh sakunya. Melihat satu panggilan masuk dari Pengacara Bae.
Tanpa menunggu lama Yul pun menjawab telepon itu. Sudah dipastikan itu adalah telepon yang penting. Karena Pengacara Bae adalah orang yang dipercaya Yul untuk membela hak Hun dan istrinya yagn terluka karena kelalaian pengemudi lain.
“Halo,” Yul membuka percakapan. “Semendesak itukah? Aku sedang di rumah sakit, menjaga istri dan adikku. Ada apa?”
Sejenak Yul mendengar Pengacara Bae berbicara di seberang telepon
“Sekarang kau sudah ada di rumah sakit? Baiklah. Kita bicara di kafetaria lantai satu rumah sakit. Tunggu sebentar. Aku akan segera turun.”
Seketika telepon itu tertutup, Yebin bertanya, “Siapa?”
“Pengacara Bae. Dia penasihat hukumku untuk menyelesaikan kasus kecelakaan yang menimpamu dan juga Hun. Bagaimanapun, Hun adalah seorang hakim. Citranya perlu dijaga. Aku meminta bantuan Pengacara Bae untuk mengendalikan media yang banyak meliput kasus itu.” Yul menjelaskan singkat.
“Wah, media banyak yang meliputnya? Aku tidak tahu karena tidak pernah menonton berita.” Yebin yang merasa heran itu menggumam gumam pelan.
Yul tersenyum. Lalu menepuk pundak Yebin dan bertanya, “Aku akan berbicara dengan Pengacara Bae di lantai satu. Kau masih ingin di sini atau kuantar sekarang ke kamarmu?”
“Tidak. Aku masih mau di sini bersama Hun Oppa.”
“Baiklah. Sewaktu waktu ingin kembali ke kamar, atau kau merasa capek, telepon aku,” ucap Yul. Ia membungkukkan tubuh. Mencium kening Yebin karena ingin meninggalkannya sejenak untuk membicarakan hal penting dengan Pengacara Bae.
Yebin ikut tersenyum hangat merasakan kecupan Yul pada keningnya. Setelah itu ia melihat Yul berjalan keluar dari ruang rawat Hun.
Untuk sejenak, Yebin masih ingin menemani Hun di ruangan ini. Untuk sekadar menunggu atau mengajaknya berbicara. Dari yang pernah Yebin dengar, orang yang berada dalam kondisi koma tetap bisa mendengar ucapan ucapan orang di sekelilingnya.
“Hun Oppa, cepatlah bangun. Saat kau bangun nanti, aku akan bersikap lebih baik padamu. Aku akan lebih sering mengajakmu makan bersama di rumah bersama ibu dan suamiku. Juga, aku akan membuatkan masakan enak untukmu saat kau bangun nanti. Oppa suka cake kan? Aku akan buatkan itu.”
Saat Yebin masih sibuk berbicara dengan Hun yang sedang koma, tiba tiba terdengar suara pintu terbuka. Yebin yang tersentak pun sektika menoleh. Mendapati seseorang sedang masuk ke dalam ruangan rawat VIP Hun.
“Leo ssi, sedang apa kau ada di sini?”
Laki laki yang baru masuk ke ruang rawat Hun itu tidak lain adalah Leo. Ia masuk ke dalam ruangan. Lalu mengunci pintu dari dalam dan berjalan pelan ke arah Yebin.
“Aku datang untuk seseorang....”
**