
Yebin terdiam beberapa waktu memandangi lelaki berpenampilan casual yang berdiri dua puluh meter darinya itu. Suasana atap sangatlah sepi. Embusan angin siang yang dingin membuat siapa pun enggan untuk berada di bangunan atap perusahaan. Yebin menyeka rambutnya yang berkibar-kibar diterpa angin. Menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga sambil memandangi pria itu. Tepat lima detik kemudian, Yul pun menoleh. Ia tersenyum tipis mendapati keberadaan Yebin. Lesung pipitnya yang manis seketika itu terlihat. Yul melambaikan tangannya kepada Yebin yang mulai berjalan mendekat.
“Lama tidak bertemu, Nona Kang.”
Senyuman Yul yang hangat merasuk ke dalam hati Yebin, menghangatkannya. Wanita itu kemudian berhenti tepat di hadapan Yul. Ia berusaha keras untuk mengendalikan ekspresi wajahnya di depan pria itu. Tak ingin memperlihatkan kerinduannya pada Yul yang lama tak dilihatnya.
“Kenapa Ajeossi kemari?” tanya Yebin dengan raut misterius yang diperlihatkannya.
“Kenapa lagi? Tentu aku datang mencarimu.” Yul menjawab dengan begitu ringannya. Seolah-olah ia serius. Atau, ia memang serius mengatakannya. “Aku sedang membuka cabang kafe di Busan, tepatnya di dekat lokasi Universitas Busan. Akhir-akhir ini aku sering pulang-pergi ke Busan dan sibuk di sana, jadi jarang melihatmu. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?”
Terjawab sudah semua rasa penasaran Yebin tentang Yul yang akhir-akhir ini jarang ada di rumah dan terlihat sangat sibuk. Ia sempat berpikir, apakah Yul sengaja menghindar dari Yebin setelah apa yang terjadi malam itu. Atau, Yul ingin benar-benar mengakhiri perasaan Yebin sehingga tidak muncul di hadapan wanita itu. Rasanya sangat aneh melihat Yul yang jarang di rumah. Yebin menyimpan tanda tanya yang bersar tentang pria itu. Pun ia merasa sungkan untuk menanyakan keberadaan Yul kepada Hun. Karena Yebin tahu Hun menyukainya. Pastinya Hun akan terluka mendengar Yebin menanyakan banyak hal tentang Yul. Pada akhirnya, Yebin memendam semua rasa ingin tahu itu dan kini ia mendengar langsung dari Yul—yang mencarinya.
Yebin yang terlihat melamun itu membuat kening Yul mengernyit. Ia tidak tahu apa yang membuat wanita itu melamun hingga mengabaikan pertanyaannya.
“Nona Kang.... Kang Yebin,” panggil Yul yang seketika membuat Yebi tersadar. Pria itu tersenyum melihat Yebin yang kembali menatapnya. “Aku bertanya, bagaimana keadaanmu. Kenapa kau tidak menjawab dan malah melamun?”
Pertanyaan Yul itu membuat Yebib segera membersihkan bayang-bayang aneh di kepalanya.
‘Sadarlah, Kang Yebin! Laki-laki itu sudah menolakmu. Kau tidak berarti apa-apa lagi untuknya. Sadarlah, jangan seperti orang bodoh.’ Yebin meneriaki dirinya sendiri dengan kalimat itu. Untuk menyadarkan dirinya. Untuk membuatnya sadar kalau tidak seharusnya Yul datang menemuinya seperti ini.
Kedua bola mata Yebin menatap legas ke arah Yul. Dengan raut wajahnya yang dingin wanita itu berucap, “Mulai sekarang, jangan seenaknya datang kemari untuk mencariku, Ajeossi. Aku bertekad untuk merampungkan kuliahku tahun ini juga dan berusaha menyelesaikan penelitianku di sini sebaik mungkin. Kalau Ajeossi datang seperti ini, aku akan merasa kesulitan. Lebih baik Ajeossi tidak usah datang. Dan jangan lagi mencariku.”
Raut wajah Yul berubah seketika kalimat itu dilontarkan dengan begitu ketusnya oleh Yebin. Seolah tak ingin mendengar apa-apa darinya lagi, wanita itu berbalik. Berjalan menjauh meninggalkan Yul yang hatinya terasa sesak.
“Kang Yebin,” panggil Yul. Ia berjalan cepat mendahului Yebin dan menghadangnya. Menatap wajah ketus wanita itu yang menengadah. “Kenapa kau seperti ini? Apa karena peristiwa itu? Jika karena hal itu, aku sungguh minta maaf. Aku tidak berniat menyakiti perasaanmu begitu dalam. Aku hanya ingin memiliki hubungan yang baik denganmu, seperti dulu.”
Yebin menahan perasaan menyakitkan dalam dadanya dan berusaha terlihat tenang. Ia bertatapan legas dengan Yul yang menatapnya pilu.
“Hubungan baik seperti dulu? Ajeossi pun tahu itu hal yang mustahil. Aku tidak lagi memandangmu sebagai Ajeossi baik hati yang tinggal di depan rumahku. Tapi aku memandangmu sebagai pria yang telah menolak perasaanku. Bagaimana hubungan kita bisa seperti dulu lagi. Itu hanya omong kosong.”
Tak ingin menunggu lama lagi, Yebin melanjutkan langkahnya meninggalkan pria itu. Berjalan pergi untuk melanjutkan tugasnya di perusahaan ini karena jam istirahat siang yang sudah habis.
Yul hanya terdiam seperti orang bodoh melihat kepergian wanita yang dikasihinya. Tatapan pilunya tertuju pada pintu atap tempat Yebin menenggelamkan diri.
“Dari awal semuanya sudah mustahil. Dan sekarang semuanya menjadi semakin tidak masuk akal.”
Sore harinya Yul pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya di kafe Gangnam. Ia baru saja membersihkan tubuhnya ketika Hun pulang dari bekerja. Yul sedang berada di dapur untuk menyeduh espresso sementara Hun baru saja melepaskan jasnya dan meletakkan tas kerja ke atas sofa.
“Kau sudah pulang, Hyeong? Kupikir kau ada di Busan sejak kemarin,” celetuk Hun sambil berjalan ke arah dapur dan mengambil air minum di dalam kulkas.
Sembari menunggu mesin espresso yang sedang menyeduhkan kopi untuknya Yul menjawab dengan santai.
“Siang tadi aku sudah kembali dari Busan. Kupikir pembangunannya berjalan dengan baik dan aku bisa kembali ke Seoul.”
Seperti inilah hubungan kedua kakak beradik itu akhir-akhir ini. Dibilang sama seperti sebelumnya, tidak. Namun juga cukup canggung seperti ini menyadari keduanya yang menyukai satu wanita yang sama. Mereka sudah sama-sama dewasa untuk tidak lagi bertengkar seperti anak kecil saat memperebutkan sesuatu. Saat kecil mereka memang tidak jarang memperebutkan suatu barang hingga berakhir pada adegan pukul-pukulan. Namun sekarang mereka sudah dewasa dan sama-sama mengerti bahwa pukulan akan bisa membahayakan nyawa satu sama lain. Terlebih dari itu mereka tidak punya lagi orang tua dan hidup dengan bergantung satu sama lain.
Persaingan ini memang bukan suatu hal yang dapat dihindari. Tapi, bukan berarti hal ini akan memperburuk hubungan keduanya sebagai kakak adik. Bagaimanapun, Yul menyayangi adiknya dan menjaganya dengan baik selama ini, sebagai kakak. Begitu pun Hun yang menyayangi kakaknya dan menyadari apa yang telah kakaknya itu korbankan untuknya. Setelah orang tua mereka meninggal, Yul yang menjadi wali Hun. Yul juga yang membiayai semua kebutuhan Hun dan menjadi sosok orang tua untuknya. Yul bahkan mengorbankan mimpinya untuk mengelola Moonlight Coffe agar Hun tetap bisa meneruskan impiannya menjadi hakim tanpa terbebani oleh bisnis yang ditinggalkan ibu.
“Pekerjaanmu di pengadilan, tidak ada masalah kan?” tanya Yul setelah menyesap espresso-nya. Aroma kafein yang pekat dan hangat memenuhi seisi dapur.
“Tidak ada masalah apa-apa kok. Yah, kecuali beberapa pendemo yang berdiri di depan gedung pengadilan. Mereka menuntut hakim untuk memberikan hukuman mati untuk kasus pemerkosaan dan pembunuhan balita. Tapi, mau bagaimana lagi? Hukuman mati sudah tidak berlaku lagi di negara ini. Paling berat adalah penjara seumur hidup dan penjara tanpa batas.” Hun bercerita panjang.
Kepala Yul mengangguk-angguk. “Sepertinya kau benar-benar sudah nyaman dengan pekerjaanmu.”
“Tidak mudah, Hyeong,” sahut Hun sambil menyerongkan tubuh.
“Apa?”
“Mencari uang, bekerja, dan menjadi orang dewasa... tidak mudah. Sekian lama aku bermimpi menjadi hakim. Setelah merasakannya, ternyata tidak semudah bayanganku dulu. Kemanusiaan dan rasa keadilanku berbenturan. Rasa kemanusiaanku ingin sekali memberi hukuman yang setimpal pada semua pelaku kasus-kasus kejahatan. Tapi profesiku tidak membiarkan hal itu terjadi. Bagaimanapun aku harus berpatokan pada hukum. Dan memberi sangsi yang adil setelah mempertimbangkan bukti dari kejaksaan dan argumen dari kuasa hukum tersangka. Tidak peduli betapa sedihnya aku melihat anak di bawah umur yang disiksa dan mendapat kekerasan seksual, aku tidak bisa memberi hukuman yang berat pada pelakunya karena bukti yang diserahkan kejaksaan tidak cukup kuat. Putusanku sudah adil menurut hukum. Tapi, bukan keadilan seperti itu yang kuinginkan.”
Hun bercerita panjang lebar dengan tatapannya yang mendung. Ia kira setelah menjadi hakim hidupnya akan semakin mudah. Ia akan menjadi orang yang taat hukum dan bisa menlindungi orang-orang di sekitarnya dengan hukum. Namun, dunia ini tidak bergulir dengan begitu mudahnya. Selalu ada pahit-manis di setiap pekerjaan yang dijalankan manusia. Kini Hun menyadari itu. Ia menyadari betul bahwa berjuang untuk kehidupan itu tidak mudah. Begitu pun berjuang untuk keadilan.
Di hadapannya Yul mendengarkan curhatan sang adik dengan baik sambil sesekali menyesap espresso.
“Kau sudah melakukan yang terbaik yang kau bisa. Selain hukuman yang kau jatuhkan, pelakunya pasti akan mendapat hukuman lain. Hukuman dari sosial, hukuman secara psikologis, kecemasan, dan rasa bersalah seumur hidup. Itu semua juga hukuman yang dirasakan oleh para pelaku kejatahatan. Kau sudah melakukan yang terbaik di mata hukum, itu sudah cukup.” Yul menanggapi cerita panjang adiknya. Kepala Hun pun mengangguk-angguk.
“Awalnya aku merasa bersalah. Tapi, itu semua adalah yang terbaik yang bisa kulakukan. Kalau pun keluarga korban menangis dan menghadang jalanku, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku berpikir, kejaksaan yang harusnya memberikan bukti yang kuat agar aku bisa memberi hukuman yang berat untuk pelaku,” lanjut Hun bercerita. ia merenung selama beberapa waktu lalu lanjut berkata, “Ini sudah pilihanku—menjadi hakim. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi aku senang menjalaninya.”
Senyum hangat Yul bermekaran di wajah. Ia mengulurkan mug pendek berisi espresso yang baru diseduhnya kepada Hun sambil berujar, “Kau tumbuh dengan baik, Hun~a.”
Hun menerima mug espresso yang diulurkan Yul. Senyum tipisnya terukir di wajah.
“Terima kasih, Hyeong.”
Hun menyesap espresso dengan tenang sebelum suara ledakan dari seberang jalan membuatnya terbelalak. Tubuh Hun seketika itu menoleh ke belakang. Dari jendela rumah ini ia melihat ada ledakan api di rumah Yebin. Hun dan Yul yang sedang ada di dapur, seketika membelalakkan mata.
“Yebin....”
“Nona Kang!”
Secepat kilat kedua saudara itu meninggalkan dapur. Berlari keluar menuju rumah Yebin yang baru saja terdengar ledakan keras.
***