
Semua pelayan Moonlight Coffe Gangnam membungkukkan tubuh dan berbaris di depan pintu seketika Yebin berjalan masuk ke dalam kafe. Para karyawan yang rata rata perempuan itu membungkukkan tubuh dengan wajah yang terlihat gugup. Ia mendengar dari desas desus, kalau istri dari bos mereka—Moon Yul—adalah wanita yang sangat galak. Dari desas desus yang mereka dengar, istri bosnya itu sangat tidak ramah, sangat perfeksionis, dan mudah marah. Itulah yang membuat para karyawan kafe tampak gugup menyambut kedatangan Yebin, bos baru yang akan menggantikan tugas Yul di kafe.
“Selamat pagi, Nyonya Moon,” sapa seorang manajer Moonlight Coffe Gangnam yang beberapa waktu lalu bertemu dengan Yebin di Bandara Gimpo.
“Ya, selamat pagi.”
Yebin berjalan penuh wibawa melintas di depan lima belas pelayan kafe yang mendapat shift pagi hari. Lalu berhenti tepat di depan pelayan kafe yang tak memakai seragam kafe dan malah mengenakan celana training olah raga berwarna biru.
Tubuh Yebin sontak menoleh menatap seorang pelayan yang masih membungkukkan tubuh itu. Menatap pakaiannya yang berbeda dari pelayan lainnya.
“Di mana seragammu?” tanya Yebin yang menambah ketegangan suasana kafe. Kafe masih sangat sepi. Hanya terisi oleh para pegawai shif pagi yang sedang mempersiapkan banyak hal untuk membuka kafe tepat pukul sepuluh.
Perempuan tak berseragam yang merasa terpanggil itu, perlahan menaikkan pandangan. Beradu pandang dengan Yebin.
“Y—ya?” tanggapnya gugup.
“Kau itu mau bermain tenis atau mau bakerja di sini? Kalau kamu memakai pakaian seperti itu, lalu berlalu lalang di antara para pelanggan, siapa yang akan mengira kalau kau ternyata adalah pegawai kafe?” tegas Yebin.
“Ma—maaf. Se... seragam saya....”
“Maaf, Nyonya Moon. Saya akan menegurnya lebih dahulu lain kali.” Manager kafe yang merasa bertanggung jawab terhadap para pegawai, segera menyerobot. Ia menyadari itu adalah kelalaian tugasnya. Dan meminta maaf kepada Yebin.
Yebin pun menganggukkan kepala. “Kali ini akan kubiarkan. Lain kali, siapa pun yang tidak memakai seragam kafe, lebih baik ambil cuti saja.”
Baru saja Yebin menyelesaikan perkataannya, seorang laki laki bertubuh tinggi kurus yang merupakan pegawai kafe itu berjalan masuk ke dalam kafe. Ia masih memakai pakaian biasa dan juga membawa tas punggung. Berjalan masuk dan langsung membungkukkan tubuh melihat keberadaan bos barunya.
“Oh! Selamat pagi, Nyonya Moon. Maaf, saya terlambat.” Pria bermata sipit itu menyapa Yebin sambil maminta maaf karena keterlambatannya. Itu membuat Yebin menarik napas ringan dan berdiri berhadapan pria tinggi yang terlihat lebih senior dari beberapa pegawai lainnya.
“Berapa tahun kau bekerja di Moonlight Coffe?” tanya Yebin sambil menghadap pria itu.
“Ya? Ah... sekitar empat tahun.”
Sudah lama rupanya, Yebin menyimpulkan di dalam benak. Jika sudah empat tahun, berarti lelaki ini sudah bertahan ketika Moonlight Coffe berada dalam krisis besar dan hampir bangkrut. Bertahan sampai detik ini. Tapi sering terlambat.
“Empat tahun, sudah lama rupanya. Kau anak kuliahan?” lanjut Yebin bertanya. Ia melihat tas punggung yang ada punggung lelaki itu.
“Ya. Saya bekerja paruh waktu untuk kuliah. Dan sering mengambil cuti,” jawabnya.
“Berapa usiamu?”
“Dua puluh lima.”
Terkejut, Yebin menarik napas. Lelaki itu, seusia dengannya. Oh, situasi macam apa ini....
“Dua puluh lima... kita seusia rupanya,” desah lirih Yebin sambil memalingkan wajahnya pada semua pelayan kafe yang sedang berbaris itu. “Dengarkan, semuanya. Saya mau memberikan pengumuman penting pada kalian semua. Mulai hari ini, saya yang akan menggantikan tugas suami saya di kafe. Selama suami saya berada di Jeju untuk urusan bisnis, saya yang akan memantau kinerja kalian semua di sini. Saya harap kalian semua menjadi pegawai yang disiplin, mematuhi peraturan kafe, dan tentunya tidak terlambat. Suami saya memberikan gaji di atas rata rata bagi para pegawainya, bukan untuk melihat kalalaian pekerjaan dan ketidakdisiplinan kalian. Moonlight Coffe bukan sembarang kafe yang bisa kalian temui di pinggir jalan. Moonlight Coffe adalah kafe elit, yang memiliki brand kopi sendiri dan punya lebih dari dua ratus cabang kafe di seluruh Korea Selatan. Artinya, saat sedang bekerja di kafe, kalian membawa nama baik kafe dan citra dari brand kopi kita. Dengan itu saya harap semua karyawan mematuhi peraturan dan memiliki loyalitas yang tinggi untuk kafe.”
Semua orang terdiam saat Yebin mengutarakan semua itu. Sekiranya apa yang ingin dikatakanya itu sudah selesai, Yebin lanjut berkata, “Itu tadi yang perlu saya tegaskan. Silakan lanjutkan pekerjaan kalian.”
Yebin hendak berbalik seselesainya mengatakan apa yang ingin ia sampaikan pada semua karyawan. Sebelum akhirnya ia teringat suatu hal dan kembali menceletuk. Membuat semua karyawan yang hendak beranjak dari tempat, kembali berdiri sigap.
“Ah, hampir saja lupa! Jika tidak ada urusan penting saya tidak akan datang ke kafe. Jadi Manajer kalian yang bertugas mengawasi kalian semua. Saya percayakan hal itu pada manajer. Dan tolong semuanya menjaga tata tertib dan peraturan jika tidak mau setiap hari melihatku di kafe.”
Setelah ia benar benar selesai, Yebin berjalan meninggalkan lantai satu. Menaiki tangga menuju lantai dua. Masuk ke dalam ruang kerja Yul yang tampak sunyi tanpa keberadaan pemiliknya.
Di belakang Yebin, Leo Park mengikutinya seperti seorang sekretaris. Padahal, jelas jelas Yebin menolak tawarannya untuk menjadi sekretaris.
“Kau tipikal pemimpin yang sangat tegas dan disiplin, juga otoriter ya,” sahut Leo begitu masuk ke dalam ruangan Yebin sambil mengeluarkan beberapa dokumen dari tas kerjanya.
“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Suamiku itu orangnya sangat toleran dan demokratis. Murah hati, gampang percaya, dan akhirnya dihianati. Aku tidak mau hal seperti itu terjadi lagi. Jadi aku bersikap lebih tegas pada semua orang yang bekerja untuk Moonlight Coffe,” jelas Yebin panjang lebar.
“Dengan sikapnya yang seperti itu, suamimu itu tidak cocok jadi pebisnis,” celetuk Leo.
“Aku tahu.”
“Suamimu lebih cocok pada pekerjaan yang benyak menggunakan emosi dan perasaan. Seperti....”
“Melukis,” sela Yebin. “Aku juga tahu itu. Karena itulah aku ingin mengambil alih pekerjaan suamiku di kafe. Supaya ia bisa kembali melukis. Duniaku adalah bisnis. Aku merasa dilahirkan untuk menjadi pebisnis. Tapi tidak dengan suamiku. Dia dilahirkan untuk menjadi pelukis. Dunianya adalah melukis, seisi kepalanya adalah gagasan gagasan yang imajinatif. Aku tidak bisa membiarkan dunia yang seharusnya dia miliki tenggelam oleh dunia lain yang hanya menjadi beban untuknya.”
Nada suara Yebin melirih. Ia memandangi sebuah lukisan besar di dalam ruangan. Yang itu adalah lukisan Yul yang tidak pernah ditunjukkan pada dunia. Sayang sekali, mahakarya sebagus itu hanya bisa dilihat oleh segelintir orang yang terkadang keluar masuk ke ruangan ini.
Leo yang melihat tatapan Yebin menjadi sendu itu, berdiri tepat di sebelahnya. Memandang sebuah lukisan yang menjadi mahakarya yang masih tersembunyi dari dunia.
“Jadi, itu alasannya kau ingin mengambil alih Moonlight Coffe? Karena kau ingin memberikan ruang untuk suamimu melukis,” sahut Leo Park dengan nada bicaranya yang ikut melirih. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja kerja Yul. Lalu menyilangkan tangan di depan dadanya sambil lanjut berkata, “Kukira memiliki Moonlight Coffe adalah ambisimu. Ternyata, itu hanya bentuk kasih sayangmu pada suamimu.”
“Setidaknya itu yang bisa kulakukan,” jawab Yebin.
“Beruntung sekali suamimu, karena memiliki istri yang sangat menyayanginya sepertimu. Andaikan saja aku memiliki pendamping hidup sepertimu, aku akan bahagia meski tak memiliki apa apa. Aku pasti akan merasa cukup hanya dengan memilikimu.” Leo berkata dengan sedikit ambigu. Membuat Yebin menolehkan kepala.
“Kau bisa mencari wanita yang mencintaimu sepenuh hati. Memang banyak wanita ****** di luar sana. Tapi banyak juga wanita baik yang bisa mencintaimu sepenuh hati,” kata Yebin.
“Masih ada wanita baik di luar sana. Tapi sudah tidak ada wanita sepertimu.”
Yebin terdiam. Menatap air muka Leo Park yang terasa aneh menatapnya.
Merasa tatapan Leo Park itu semakin lekat, Yebin segera mengalihkan pandangannya. Beranjak pergi dari tempatnya berdiri sambil menceletuk.
“Sudah cukup bahas hal pribadinya. Sekarang saatnya bekerja. Jadi bagaimana kerja sama Moonlight Retail dengan brand luar negeri? Sudah ada kabar baik?” Yebin yang merasa pembahasan mereka semakin mengarah pada hal hal pribadi, segera menyela untuk membahas pekerjaan. Ia harus bekerja dengan baik untuk menggantikan tugas Yul. Yebin sama sekali tak ingin mengecewakan Yul dengan kinerjanya yang buruk di Moonlight Coffe maupun Moonlight Retail.
“Dua desainer dari Perancis sudah memberi respon positif. Beberapa brand dari USA, UK, dan Canada juga sudah memberi respon positif. Tinggal menunggu beberapa brand dan beberapa desainer lagi yang belum memberikan respon sama sekali.” Leo segera beranjak dari tempatnya. Menuju meja untuk mengambil dokumen yang tadi telah ia persiapkan. “Ini untuk daftar brand yang ingin digaet Moonlight Retail. Tujuh puluh persen sudah memberi respon bagus dan sisanya belum ada respon sama sekali.”
“Halo, Hun Oppa, ada apa?” sahut Yebin begitu mendengar suara Hun di seberang telepon. “Suamiku sudah berangkat ke Jeju tadi. Kenapa?”
Selama beberapa saat Yebin mendengar. Ia mengangguk anggukkan kepalanya sembari mencerna apa yang Hun ucapkan di seberang.
“Begitukah? ... Baiklah. Tapi aku tidak ingin membebani siapa pun, dan tidak mau ada kesalah pahaman. Jadi benar tidak apa apa? Baiklah. Kututup dulu, Oppa.”
Panggilan Yebin dengan Hun pun berakhir setelah itu. Yebin meletakkan kembali ponsel ke atas meja kerja. Lalu lanjut membaca dokumen itu sambil menyandarkan tubuhnya ke badan sofa.
“Sepertinya kau sangat dekat dengan Hakim Hun. Kalian pernah terlibat kisah cinta ya? Atau jangan jangan... cinta segitiga dengan suamimu?” Leo Park menceletuk dari arah sofa.
Seketika Yebin terdiam. Ia heran saja, jangan jangan Leo Park itu sebenarnya adalah seorang dukun yang bisa mengerti semua hal meski tak diceritakan. Yebin yang merasa ragu untuk menjawab itu pun memilih untuk tetap bungkan dan berkonsentrasi membaca dokumen. Seolah olah ia tadi tak mendengarkan celetukan Leo Park.
Saat itulah Leo Park bangkit dari duduk. Berjalan menghampiri Yebin sambil bergumam keras, “Apa suamimu tidak cemburu? Bagaimanapun, adiknya pernah menjadi saingannya untuk mendapatkanmu.”
“Kenapa harus cemburu? Suamiku yang berhasil mendapatkanku, dia adalah pilihanku. Dan cinta segitiga itu hanya masa lalu. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.” Yebin menimpali. “Aku sudah bahagia bersama suamiku. Dan Hun Oppa juga sudah bahagia bersama kekasihnya.”
“Kau yakin Hakim Hun bahagia bersama Jina?” desus Leo lirih. Membuat Yebin seketika menoleh padanya.
“Maksudmu?”
“Hanya saja, kau tidak tahu alasan mereka berkencan itu apa. Kemungkinan kau juga tidak tahu apa Hakim Hun sungguh bahagia bersama adikku,” ucap Leo ambigu. Lalu ia segera mengalihkan topik. “Sudahlah. Jadi kau masih tidak mau mempekerjakanku sebagai sekretaris?”
Sambil mengembalikan pandangan pada dokumen, Yebin berucap, “Memang tugasmu sebagai sekretaris nanti itu apa?”
“Jelas sekali. Membantu pekerjaanmu. Memastikan kau makan dengan baik. Mengurus segala keperluanmu. Bisa jadi, aku akan mengantarmu ke mana mana. Menjemputmu setiap pagi dan mengantarmu ketika pulang,” jelas Leo Park.
“Membantu pekerjaanku adalah tugasmu. Tadi suamiku juga sudah berpesan kan? Agar kau banyak membantuku menggantikan tugasnya. Jadi, itu tidak termasuk tugas sekretaris, tapi amanat suamiku untuk kau lakukan. Dan untuk mengantar atau menjemputku pulang, sudah ada orang lain yang akan melakukannya.” Yebin menjelaskan.
“Orang lain? Siapa?”
“Hun Oppa. Barusan dia meneleponku. Dia diamanati oleh suamiku untuk menjagaku dengan baik. Termasuk mengantar dan menjemputku pulang. Aku memang sudah memiliki lisensi mengemudi, tapi jarang mengendarakan mobil di jalan raya. Mungkin itu yang membuat suamiku khawatir dan akhirnya meminta adiknya untuk mengantar dan menjemputku pulang setiap hari. Juga menjagaku.”
Leo Park terdiam dengan raut wajahnya yang perlahan berubah tidak senang. Tatapannya pun ikut menajam. Air mukanya berubah gelap mendapati rencananya yang sepenuhnya gagal gara gara panggilan telepon Hun sesaat lalu.
“Hakim Hun... akan sangat sibuk setelah ini.”
**
“Oppa!”
Begitu keluar dari kafe, Yebin menceletuk. Ia melambai lambaikan tangannya pada Hun yang baru saja turun dari mobil.
“Yebin-a,” balas Hun memanggil.
Setelah jam kerjanya di Mahkamah Agung berakhir, Hun berangkat menjemput Yebin seperti yang telah ia janjikan pada sang kakak. Kemarin malam Yul menelepon adiknya itu. Meminta tolong supaya Hun menjaga Yebin selama Yul pergi ke Jeju untuk urusan bisnis. Meski sebetulnya Yebin bukanlah anak kecil yang perlu dijaga.
“Tumben sekali Oppa pulang lebih awal. Biasanya kau bahkan melembur sampai malam,” ucap Yebin begitu tiba di hadapan Hun.
“Aku sengaja menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat. Supaya bisa menjemputmu. Hyung bilang jam empat kau meninggalkan kafe kan?” kata Hun.
Yebin menghela napas. Merasa tak enak pada Hun yang repot repot melakukan hal ini untuk memenuhi permintaan Yul.
“Sebenarnya Oppa tidak perlu melakukan ini untukku. Aku punya lisensi mengemudi. Aku bisa kok pulang ke rumah pakai mobil sendiri.” Lalu Yebin berjalan mendekat pada Hun dan membisikinya lirih. “Bilang saja pada suamiku kalau kau sudah melakukan semua yang dia minta. Tapi mulai besok aku akan pergi ke mana mana pakai mobil sendiri. Jadi kau tidak perlu repot repot seperti ini.”
“Hyung bilang terakhir kali kau menyetir mobil menabrak pohon! Bagaimana aku bisa berbohong padanya tentang itu? Kalau kau kenapa napa, aku yang akan disalahkan kakakku. Bisa bisa aku sudah tidak diangap adik nantinya. Kakakku itu kalau sudah benar benar marah seperti orang kesetanan. Kau tidak mau melihat itu kan?” cetus Hun yang seketika membuat Yebin terdiam.
Yebin tidak bisa menyanggah apa apa dan hanya diam. Di saat seperti ini, ia hanya bisa merutuki suaminya di dalam benak. Merutuki lelaki itu kenapa terlalu mengkhawatirkan Yebin yang bukan anak kecil lagi.
“Sudahlah. Cepetan masuk.”
Hun membukakan pintu mobilnya untuk Yebin. Kemudian Yebin pun beranjak masuk ke dalam mobil Hun tanpa banyak memprotes.
Sesaat kemudian, mobil itu melaju meninggalkan kafe. Menembus jalanan distrik elit Gangnam di sore hari.
“Apa kau sungguh boleh melakukan ini, Oppa? Bagaimana jika kekasihmu nanti salah paham?” desus Yebin. Entah sejak kapan, Yebin yang dulu tidak pernah peduli tentang orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri itu, menjadi lebih peka dan mudah merasa tidak enak untuk hal hal semacam ini.
Awalnya Yebin bukan tipe orang yang sangat berperasaan seperti Yul. Ia tidak banyak peduli tentang orang lain. Dan hanya mementingkan dirinya sendiri juga orang yang dia sayangi. Namun sejak ia menikah dengan Yul, kepekaan Yebin diperkuat. Di mana ia lebih mudah merasa tidak enak hati dan merasa tak nyaman untuk merepotkan orang lain. Dan tentu saja, itu karena Yul yang membuat Yebin memiliki sensitivitas lebih terhadap orang lain. Walau kadang hal itu sering menyusahkan Yebin sendiri.
“Tidak ada apa, Yebin-a. Jina pastinya juga mengerti. Sejak kau menikah dengan kakakku, kau bukan lagi gadis bernama Kang Yebin yang kukenal. Tapi kau menjadi bagian dari keluargaku yang juga harus kujaga. Jadi jangan terbebani atau merasa berat hati karena kita pernah punya kisah di masa lalu. Bagiku semua itu adalah masa lalu. Bagian terpentingnya sekarang adalah fakta bahwa kau menjadi bagian keluargaku, istri dari kakak yang sudah membesarkanku.”
Ucapan bijak Hun itu menguntai senyum di bibir Yebin. Tidak bisa dimungkiri, apa yang terjadi pada mereka di masa lalu kadang kala masih menjadi beban dalam benak Yebin. Ia merasa tak leluasa untuk berkomunikasi dengan Hun karena terbebani oleh perasaan itu. Di mana ia pernah menolak cinta Hun untuk bersama kakaknya, Yul. Perasaan itu kadang masih membuat Yebin merasa tak leluasa untuk berbuat apa apa pada Hun. Bahkan membuat Yebin merasa canggung saat harus berhadapan langsung dengan Cho Jina, kekasih Hun yang sekarang. Tapi, baiklah. Semua itu kini hanya menjadi masa lalu. Yebin akan menyimpan memori itu dalam kenangan yang indah. Dan memperlakukan Hun maupun Jina seperti keluarganya.
Kepala Yebin mengangguk angguk. Ia tersenyum simpul.
“Aku berharap Hun Oppa segera memiliki keluarga kecil seperti aku dan Yul Oppa,” gumam pelan Yebin. Lalu ia teringat suatu hal dan menceletuk, “Ah! Suamiku sering sekali bermimpi tentangmu, Oppa. Katanya dia sering memimpikanmu menikah dengan seorang perempuan cantik. Dalam mimpinya, Oppa dengan wanita itu juga memiliki anak perempuan.”
Mendengar itu, Hun seketika menaikkan kedua alis. Heran sekaligus tidak mengerti.
“Ahh, kenapa dia memimpikan hal semacam itu? Memalukan sekali.”
“Selain itu, Yul Oppa juga sering berangan angan tentang rumah besar yang dia persiapkan untuk hadiah pernikahanmu kelak. Dia sering membayangkan kau tinggal di rumah itu bersama anak dan istrimu, yang bertetangga dengan kami,” imbuh Yebin.
“Imajinasinya itu benar benar! Kalau kau mendapati suamimu itu berimajinasi liar seperti itu, seharusnya kau menghentikannya, Yebin-a. Kenapa dia itu suka sekali berimajinasi dan berangan angan? Kekanakan sekali untuk orang setua dirinya.” Hun yang merasa apa yang kakaknya itu lakukan sungguh konyol, merutuk rutuk heran. Ia sungguh heran kenapa kakaknya itu masih suka berimajinasi di usia setua itu. Apalagi berimajinasi tentang dirinya bahkan sampai istri dan anaknya kelak. Kekanakan sekali, batin Hun.
**