Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Makanan harimau yang lapar



Bab 57


Makanan harimau yang lapar


“Sudah kubilang, jangan bertengkar! Ada apa dengan kalian berdua itu Han Mina, Han Minjae?”


Mina dan juga Minjae yang mendengar kakaknya menceletuk keras itu hanya terdiam dengan pandangan yang melongo. Kedua kakak beradik yang sedang berdiri di atas sofa paling ujung itu perlahan lahan menundukkan kepala. Menatap ke arah Lysa yang terkena bantal yang tadi Mina lempar.


“Duduk yang baik di sofa!” suruh Mino pada kedua adiknya. Mina dan Minaje yang mendnegarkan suruhan itu pun duduk manis di atas sofa tanpa melakukan perlawanan. Mereka cukup mengerti bagaimana kondisi tubuh Lysa yang tidak begitu baik. Bibir Lysa terlihat pucat begitu pun kulit tubuhnya. Lysa juga tampak lemas setelah tidur sekejap karena efek obat yang membuat nya merasa sangat ngantuk.


Setelah melihat kedua adiknya yang telah duduk manis di atas soda, Mino mengembalikn pandangannya pada Lysa.


“Chagi, kau baik baik saja?” tanya Mino khawatir. Sejak peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi di kediaman ayahnya beberapa waktu lalu, keadaan Lysa tidak begitu baik. Wajar saja. Baru kemarin lusa Lysa ditemukan tergeletak di apartemen. Sehingga kondisi fisiknya tidak begitu baik, apalagi setelah peristiwa yang terjadi di kediaman ayahnya siang tadi. Tubuh lysa jadi bertambah pucat dan ia terlihat lemas meski selalu berkata bahwa dirinya baik baik saja.


“Aku tidak apa apa,” jawab Lysa. Kepalanya yang masih terasa pusing itu cukup keliyengan karena lemparan bantal sofa. Jika saja itu bantal tidur, mungkin akan lebih ringan. Sayangnya itu adalah banta sofa yang teksturnya lebih berat dari bantal tidur.


Meski Lysa sudah berkata bahwa dirinya sungguh baik baik saja, Mino tetap saja memarahi kedua adiknya yang maish suka bertengkar itu. Padahal mereka berdua sudah sama sama besar dan bukan anak SD lagi, tapi tetap saja suka bertengkar bahkan sampai melukai orang lain.


Di atas sofa, keempat orang yang ada di apartemen Mino itu duduk dengan saling berhadap hadapan. Mino sedang menegur kedua adiknya yang melakukan kesalahan yang sama entah untuk ke sekian kalinya. Tidak di apartemennya, tidak di rumah, kedua adiknya itu suka sekali berbuat ulah sampai sampai merepotkan orang lain.


“Ini bukan pertama kalinya kalian berulah dan membuat orang lain kerepotan, Mina, Minjae. Apa kalian itu anak anak? Bukan kan? Mina, harusnya kau lebih besar dari pada Minjae dan lebih dewasa darinya, jadi bersikaplah sedikit lebih dewasa. Dan kau, Minjae, sudah tau kalau kakak perempuanmu itu suka emosi dan sangat agresif, kau masih tetap menggodanya. Apa kalian tidak bisa akur sebentar saja? Di rumah kalian sering seperti itu sampai sampai membuat ibu terperanjat dari tidur bukan? Jangan kira aku tidak tahu, ayah menceritakan semuanya padaku. Dan mulai sekarang jangan mengulanginya lagi. Di rumah atau pun di sini, jangan mengulanginya lagi.” Mino memarahi kedua adiknya yang masih suka sekali berbuat kegaduhan sampai sampai membuat ibu di rumah sering terbangun di malam hari karena mereka berdua yang ramai di lantai dua. juga memarahi karena mereka berdua telah membuat orang sakit bertambah sakit lagi.


“Sudahlah, Chagi. Mereka kan masih muda, jadi wajar saja bermain seperti itu.” Lysa yang merasa tidak tega melihat kedua adik Mino dimarahi oleh kakaknya yang sangat tegas itu, menyela. Ia melihat Mina dan juga Minjae yang sejak tadi menundukkan kepala dalam dalam karena dimarahi oleh Mino. Dan begitu mendengar pembelaan dari Lysa, kepala Mina dan Minjae terangkat bersama menatap Lysa.


“Mereka sudah tidak usianya lagi untuk bermain, Lysa. Mereka itu sudah besar, bukan anak TK lagi yang harus selalu diingatkan untuk tidak membuat kegaduhan.” Mino menyangkal apa yang Lysa katakan.


“Kalau ini tentang peristiwa tadi, aku baik baik saja, Sayang. Aku sungguh tidak apa apa. Sekali kali orang yang sudah dewasa pun butuh bermain main. Jadi jangan marahi kedua adikmu karena mereka senang bermain. Aku bisa paham jika mereka berdua sudah sangat kelelahan belajar di sekolah dan di kampus, jadi biarkan mereka setidaknya bermain di apartemenmu.” Lysa kembali men yanggah apa yang Mino ucapkan. Lysa bisa berkata seperti itu karena ia merasa akan sangat bahagia jika saja memiliki saudara yang bisa diajak bermain bersama. Entah bermain atau pun bertengkar, pada akhirnya kedua saudara akan akur kembali dan merkea saling menemani, tidak sendirian seperti yang selama ini Lysa rasakan. Jadi, ia merasa sangat senang melihat sesama saudara menghabiskan waktu bersama dan meluapkan kasih sayang satu sama lain dengan cara apa pun. Dengan cara yang sewajarnya, atau pun dengan cara yang unik seperti saling mengejek dan bertengkar seperti yang Mina dan Minjae tadi lakukan.


“Benar, Oppa. Aku memukul Minjae juga tidak benar benar memukulnya. Tapi aku memukulnya karena dia adikku dan karena aku tahu kalau pukulanku tidak akan menyakitinya.” Mina yang merasa dibela oleh calon kakak iparnya itu, langsung menyahut. Tingkah laku Mina memang kadang masih terlihat kekanakan. Tapi pemikirannya tidak se kekanakan yang Mino pikirkan. Itu hanya karena Mino menilai Mina dan Minjae dari luarnya saja, tanpa melihat lebih dalam lagi.


“Apa yang dikatakan kakak ipar itu benar, Hyung. Aku selalu merasa sangat stres setelah ujian musim panasku berakhir. Tapi begitu pulang, selalu ada Nuna yang bisa aku goda. Meski pada akhirnya aku mendapat beberapa pukulan darinya, setidaknya stresku menjadi hilang.” Minjae yang tadi tampak ketakutan saat Mino memarahinya pun, ikut bersuara, mengutarakan apa y ang ada di pikiran dan juga hatinya. Akhirnya, setelah sekian lama, laki laki itu bisa mengutarakan apa maksud hatinya kepada kakak sulungnya yang sangat disiplin dan keras itu.


Melihat kedua adiknya yang mengutarakan pendapat sekaligus protes setelah mendapat pembelaan dari Lysa, Mino mengembuskan napas panjang panjang. Laki laki itu berdiri dari duduk sambil menggumam gumam.


“Kalian bertiga itu sama saja!” lalu ia meninggalkan ruang tamu. Naik ke lantai dua untuk menuju ruang kerjanya.


Sementara di sofa, Mina dan Minjae yang merasa dibela oleh Lysa, seketika itu memperlihatkan senyum semringah sambil menggeser duduk mereka dan mendekat pada Lysa.


“Sudha kuduga, hanya kakak ipar yang bisa memahami pikiran kita.” Mina berkata dengan senang sambil memeluk lengan Lysa dan menyandarkan kepalanya pada bahu Lysa.


“Nunim (bentuk formal dari Nuna, semacam panggilan yang lebih terhormat), apa aku juga boleh memelukmu?” tanya Minjae yang juga merasa terharu. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang membela ia dan juga Mina ketika dimarahi oleh Mino. Karena sebelum sebelumnya, tidak ada yang bisa melawan ucapan Mino. Di keluarga mereka, Mino itu seperti ‘tuan’ sekaligus penguasa rumah yang tidak bisa dilawan oleh siapa pun, bahkan ayah mereka sendiri. Dikarenakan Mino yang telah mengubah status keluarhanya, yang telah mengangkat keluarga mereka keluar dari garis kemiskinan. Sehingga semua orang di rumah sangat menghargai Mino. Tak hanya Mina dan juga Minjae, tetapi ibu dan juga ayah, bahkan saudara saudara jauh dari ayah dan juga ibu juga menghormati Mino seperti yang dilakukan oleh keluarganya.


“Tentu saja boleh, Minjae ya.” Lysa meyakinkan. Dan seketika itu, Minjae mendekatkan tubuhnya pada Lysa lalu memeluknya sama seperti Mina memeluk Lysa. Kedua adik Mino yang menggemaskan itu memeluk kedua lengan Lysa dengan hangat.


Sedari dulu yang sangat Lysa inginkan adalah saudara. Ia ingin memiliki adik, dan ia pernah memiilki seorang adik yang bernasip tragis karena meninggal di usia dua bulan karena terkena penyakit demam berdarah. Setelah itu Lysa tidak lagi memiliki adik dan hanya memiliki boneka yang dipanggilnya adik. Sungguh beruntung Mino karena memiliki dua adik yang sangat menggemaskan seperti mereka. sehingga hari harinya tidak pernah sepi karena ada dua adiknya yang selalu meramaikan hari hari di rumah.


“Eonni, kalau boleh jujur, aku lebih menyukaimu dari pada Kak Jiwon yang hampir menikah dengan Oppa itu.” Mina berkata sembari melepaskan pelukannya pada lengan Lysa.


“Aku juga sependapat. Selama ini aku hanya diam saja karena tidak berani menyalahkan pilihan Hyung. Karena bagaimana pun, Hyung dulu mencintai wanita itu. Meski pun aku tidak menyukainya karena dia sangat meremehkan keluarga kamu, aku tetap bersikap seolah olah mendukung hubungannya dengan Hyung.” Minjae juga menyambung bercerita.


“Kenapa? Apa wanita itu tidak pernah bersikap baik padamu?” tanya Lysa menanggapi kedua adik iparnya.


“Jangankan bersikap baik, menatapku saja tidak pernah. Aish! Dia sangat sombong dan suka memandang rendah orang lain,” cerita Mina penuh sinis. “Tapi untung akhirnya Oppa ku yang seperti tuan penguasa rumah itu bertemu dengan perempuan sepertimu, Eonni, yang bisa mematahkan argumennya dan mengendalikannya. Sangat jarang lho ada seseorang yang bisa membuat Oppa tidak bisa berkutik seperti tadi,” lanjut Mina bercerita.


Lysa yang mendengar itu entah mengapa merasa jauh lebih baik. Gadis itu terkekeh kekeh mendengar cerita Mina yang mengutarakan seolah olah Mino adalah sosok yang tidak bisa ditekuk dan dikalahkan oleh siapa saja. Padahal, di hadapan Lysa, Mino selalu mengalah dan merendahkan egonya. Selain Lysa, tidak ada yang bisa membuat Mino dengan sendirinya menurunkan egonya yang tinggi.


“haha. Aku tidak mengendalikan kakak kalian. Aku hanya mengatakan apa yang ada di otakku dan bisa kukatakan,” ucap Lysa.


“Justru karena itulah kau kelihatan sangat keren, Eonni. Karena bisa membuat seorang Han Mino yang kaku itu mengalah.” Mina berujar.


Lysa hanya tersenyum menanggapi itu.


“Kakak kalian bersikap seperti itu karena seperti itulah cara dia bertahan dengan semua beban dan tanggung jawab besar yang dia sangga. Jadi kalian maklumi saja ya. Yang perlu kalian tau, lakukan apa yang membuat kalian merasa bahagia. Asalkan kalian tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, lakukan saja apa yang membuat kalian merasa senang. Bermainlah jika ingin bermain. Bertengkarlah jika ingin bertengkar. Dan yang paling penting adalah jangan sampai melewati batas, seperti berbuat kegaduhan di malam hari saat semua orang sedang beristirahat dengan tenang.” Lysa lanjut bekata kata. Andaikan saja ia memiliki masa seperti kedua adik Mino itu, Lysa merasa bahwa hidupnya akan semakin menyenangkan dan akan ada banyak kenangan yang bisa ia ingat di masa depan. Bukan hanya tentang perjuangan dan rasa sakit, tapi juga saat saat menyenangkan dan saat saat konyol seperti yang kedua adik Mino itu sukai.


“Siap, Nunim!”


“Kalau begitu, aku ke atas dulu. Nanti dia marah kalau tidak segera aku datangi.”


Sambil mengatakannya, Lysa beranjak dari duduk. Meninggalkan sofa tempat Mina dan Minjae meneruskan bercanda dan bergulat. Sementara Lysa naik menuju lantai dua, mencari keberadaan Mino di ruang kerjanya. Ia tahu, Mino tidak benar benar sedang sibuk bekerja. Laki laki itu hanya mencoba menyi bukkan diri karena sedang merajuk pada Lysa.


“Chagi di sini rupanya.” Lysa berkata setelah membuka pintu ruang kerja Mino dan menapati laki laki itu sedang duduk di kursi kerja dengan komputer yang menyala.


“Hmm.”


Hanya gumaman pelan yang terkesan dingin yang Mino perdengarkan kepada Lysa. Laki laki itu tak mengalihkan pandangannya dari layar komputer, bahkan ketika Lysa terlihat sedang berjalan mendekat ke arahnya. Seperti berakting benar benar sibuk dengan pekerjaan.


“Chagi sedang bekerja?” tanya Lysa pelan.


“Hmm.”


Lysa hanya menghela napas ringan ketika pertanyaannya hanya dijawab dengan gumaman ‘hmm’ oleh Mino. Sudah dapat dipastikan, Mino benar benar marah pada Lysa yang membela kedua adik Mino yang sedang laki laki itu marahi karena ulahnya.


Sebenarnya Mino hanya merasa heran saja. Bagaimana bisa Lysa malah membela kedua adiknya di saat mino sendiri sedang memarahi mereka kegaduhan yang menyebabkan Lysa terbangun dari tidurnya? Mino marah karena Lysa tidak bisa melihat niatan baiknya di balik teguran yang diberikannya pada sang adik. Juga marah karena Lysa tidak berterima kasih padanya, dan malah menyalahkannya atas apa yang Mino lakukan.


Melihat Mino yang cemebrut dengan wajah bersungut sungut, Lysa nyaris saja tertawa lepas karena merasa begitu gemas dan lucu. Perutnya terasa tergelitik. Namun Lysa bersusah payah untuk menahan rasa ingin tertawanya. Kalau dia tertawa di saat suasana hati Mino sedang tidak baik seperti sekarang, bisa bisa Mino tambah marah dan mereka akan bertengkar.


Lysa berjalan mendekat. Menghampiri Mino di meja kerjanya. Lalu langsung memberikan sebuah pelukan hangat kepada laki laki itu. Lysa memeluknya dari belakang. Memeluk bahunya yang lebar dan juga lehernya. Tak lupa, Lysa menyandarkan dagunya pada pundak sang kekasih sambil berkata lirih, “


“Maafkan aku ya, Sayangku. Aku tahu kamu marah. Tapi, aku melakukannya supaya mereka berdua bisa menerima keberadaanku. Kadang aku merasa ragu jika tidak bisa diterima oleh kedua adikmu, apalagi Mina yang usianya hanya terpaut tiga tahun denganku. Jadi sebisa mungkin aku ingin membuat mereka nyaman akan keberadaanku, dan sebisa mungkin membuat mereka tetap merasa hormat padamu.” Lysa berkata dengan lirih. Lalu ia mengecup pipi kiri Mino dan membuat lelaki itu menolehkan kepala.


“Hahh, aku bahkan tidak tau kenapa aku merasa kesal.”


Mino berkata demikian sambil menarik lengan Lysa. Dalam sekejap mata, Lysa pun terduduk di pangkuan Mino setelah lelaki itu menarik lengannya ke depan.


“... Aku tau, pasti berat untukmu karena perbedaan usia kita yang cukup jauh. Tapi usia itu tidaklah penting. Entah kau lebih muda berapa tahun pun dariku, atau lebih tua berapa tahun pun dariku, aku tidak masalah.” Mino berkata. Di depan mata semua orang, Lysa hanyalah gadis muda yang baru berusia dua puluh tiga tahun, tapi jiwa gadis itu jauh lebih dewasa dari usianya. Tidak ada yang bisa mengira jika sikap seorang gadis muda itu kadang bisa lebih dewasa dari Mino sendiri. Kadang Mino pun berpikir demikian, bahwa di beberapa sisi, ia merasa Lysa jauh lebih dewasa darinya.


“Sekarang Chagi sudah tidak marah lagi?” tanya Lysa sambil tersenyum simpul.


“Tidak dong. Mana ada hal lain yang bisa meluluhkan rasa marah dari pada sebuah kecupan manis?” Mino menjawab sambil menggoda.


“Tcih, bisa saja!”


“Tapi...” Mino yang mulai memikirkan hal hal liar itu kembali menatap Lysa dengan tatapan yang penuh maksud tersembunyi. “Kecupan yang ringan sekali pun bisa memicu naiknya libido seorang lelaki. Kau harus bertanggung jawab setelah mengecupku tanpa izin, hm?” lanjut Mino menggumam penuh goda. Perlahan lahan, tangan kanannya yang nakal itu menelusup ke bawah pakaian Lysa dan meraba raba si kembar milik kekasihnya.


“Ada Mina dan Minjae. Kalau mereka tahu bagaimana?” rutuk Lysa yang gairahnya juga mulai meningkat karena remasan remasan lembut pada bendak sensitifnya.


“Tidak apa apa. Mereka sedang bermain di lantai satu.” Mino bergumam pelan sambil mendesah nikmat setelah kepalanya berhasil menelusup ke dalam pakaian Lysa dan menikmati benda kenyal yang lembut itu dengan bibir dan juga lidahnya.


“Tapi tetap saja... ahhh...”


Lysa yang tidak bisa menolak rangsangan dari lelaki itu pun ikut mendesah nikmat sambil meremas remas rambut kepala Mino yang sedang bermain di depan dadanya. Mengecup, menjilat, meremas, mencubit pelan, dan memainkan dengan cara apa pun, yang membuat Lysa juga tidak bisa menahan desahan untuk tidak keluar dari mulutnya.


“Hmphh... aku suka sekali sayangku... very love it,” desah Mino yang tidak bisa berhenti bermain di depan dada Lysa.


“Ruangan ini kedap suara kan? Hahh...” Lysa bertanya di sela desahan nikmatnya.


“Tentu saja. Mendesahlah sepuasmu, tidak ada yang mendengar,” ucap Mino meyakinkan.


Belum sempat Lysa mengeluarkan desahan yang semakin keras, tiba tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar.


“Hyung! Hyung... Nunim! Hyung!”


Suara Minjae yang sedang mengetuk ngetuk pintu di luar itu membuat Lysa segera tersadar. Gadis itu langsung kelabakan dan segera menghentikan permainan Mino pada benda miliknya. Ia menjuahkan kepala Mino dan segera menurunkan kembali kaus yang dipakainya, lalu mengaitkan kembali bra yang terlepas dari talinya.


“Hah, kenapa?” Mino yang masih belum puas itu memprotes sambil menatap Lysa penuh tuntutan.


“Minjae memanggilmu di luar.” Lysa menjawab dengan kelabakan. Gadis itu langsung turun dari pangkuan Mino. Mendinginkan pikiran, menyetabilkan perasaan, menurunkan libido nya yang telah meningkat karena rangsangan Mino. Juga, menyetabilkan paru parunya yang berkerja cepat karena rangsangan yang diperolehnya beberapa waktu lalu.


Sementara Mino yang merasa sebal karena aktivitas menyenangkanya di ganggu oleh sang adik, mengembuskan napas beberapa kali. Menyeimbangkan pikiran. Huh... menyebalkan sekali. Tadi itu Mino sudah hampir melayang layang bersama benda kenyal dan lembut milik kekasihnya. Dan ‘batang’ tubuh lelaki itu juga sudah menegang di balik celana panjang yang dia pakai itu. Tapi, terpaksa kegiatannya harus berhenti karena panggilan Minjae di luar.


Tok tok tok!


“Hyung! Buka pintunya. Ada orang yang datang mencarimu!” Minjae yang di luar pintu itu maish terus mengetuk pintu dan berteriak teriak memanggil kakaknya. Sedangkan Mino di dalam masih berusaha menenangkan pikiran, dan menidurkan kembali barang miliknya yang sudah tegang meski tidak semudah itu menidurkan ‘harimau’ yang sudah lapar.


“Haish, anak itu benar benar.” Mino menggumam pelan.


Lalu tidak lama kemudian, Mino beranjak bangkit dari duduk saat pikirannya sudah mulai tenang. Sementara Lysa, sedang berada di ujung ruangan, melihat lihat lukisan di dalam ruang kerja Mino supaya tidak kelihatan kalau mereka baru saja bersenang senang walau sangat singkat dan rasanya belum tuntas.


Cklek.


Mino membukakan pintu untuk adiknya dan langsung menceletuk, “Kenapa kenapa? Ada apa kau sampai berteriak teriak seperti itu?”


“Hyung, ada seseorang yang datang! Tapi dia tidak mencarimu, melainkan mencari Nunim. Dia seperti keturunan bule yang sudah lancar bahasa Korea. Siapa dia Hyung? Kenapa dia mencari Nunim sambil membawa seorang bodyguard bule?” Minjae menceletuk panik melaporkan hal tersebut.


Merasa mengerti siapa orang yang Minjae maksud, Mino mengembuskan napas panjang panjang. Ia sepertinya tau siapa laki laki yang datang mencari Lysa di apartemennya sambil membawa seorang bodyguard itu.


Lysa di ujung ruangan yang juga mendengar laporan dari Minjae, seketika menengokkan kepala. Gadis itu berjalan menuju pintu ruangan sambil menceletuk.


“Brian datang kemari? Mencariku?”


**