Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Awal munculnya rasa kagum ^^



Bab 10


Awal munculnya rasa kagum ^^


“Wah, aku tidak pernah merasa kalau


Jajangmyeon seenak daging sapi!”


Begitu satu porsi Jajjangmyeon disajikan di


hadapannya, Lysa menceletuk senang. Biasanya ia akan meminta Mino untuk


mentraktirnya makanan daging sapi seperti kesepakatan mereka di awal. Tetapi


karena suasana hati Lysa sedang baik karena pengumuman diterima bekerja paruh


waktu di Moonlight Coffe itu, Lysa ingin makan yang lain. Ia ingin makan


Jajjangmyeon yang dijual di sebuah restoran china dekat kafe.


“Kurasa tidak ada makanan yang tidak enak


buat seseorang yang sedang bahagia sepertimu. Apa pun makanan yang masuk ke


dalam mulut akan terasa enak ketika kau memakannya dengan perasaan senang. Jadi


nikmati saja makananmu.” Mino berucap.


Selama satu minggu terakhir ini, setiap


hari ia membelikan makan siang untuk Lysa. Untuk menebus kesalahannya karena


telah mencuri hal berharga Lysa di saat saat genting karena kedatangan mantan


kekasihnya, Jiwon.


Lysa di hadapan itu sedang mencampur bumbu


Jajjangmyeon dengan mie Jajjang. Mengaduknya sampai rata dan mulai memakan


sesuapan besar Jajjangmyeon ke dalam mulutnya yang kecil.


“Hmm, enak sekali.” Lysa menggumam gumam


nikmat merasakan mie dan bumbu Jajjang yang meleleh di dalam mulutnya.


“Ajeossi, nikmati makan siangmu,” ucap Lysa selagi menaikkan pandangan pada


Mino yang juga mulai melahap satu suapan mie Jajjang.


“Hm. Kau juga.”


Satu minggu mereka selalu makan bersama


seperti ini membuat Mino sedikit mengenal Lysa dan terbiasa terhadap keberadaan


gadis itu. Ah, mungkin ini masih terlalu dini untuk Mino berkata bahwa dirinya


mengenal Lysa. Karena selama satu minggu bersama ini, yang Mino tahu tentang


Lysa hanyalah satu hal, yaitu gadis itu selalu makan dengan baik. Saat berkata


dirinya sedih, kesal, marah, atau pun senang, Lysa selalu makan dengan lahap


dan tidak pernah mencampur adukkan urusan hati dengan urusan makan. Entah


mengapa, melihat seorang gadis makan dengan lahap seperti itu membuat suasana


hati Mino sedikit membaik.


Selama beberapa saat mereka makan dengan


lahap. Lalu pembicaraan yang sebenarnya pun dimulai ketika keduanya tinggal


menghabiskan beberapa suapan lagi.


“Apa kau selalu makan selahap itu? Kadang


meski pun kau berkata kalau perutmu sudah penuh, semua makanan masih bisa kau


makan. Apa perutmu memang seelastis itu?” Mino membuka pembicaraan di tengah


makan siang mereka yang masih berlanjut.


“Hm, bagaimana ya mengatakannya? Hanya saja


... semua makanan itu terlihat enak jadi aku tidak bisa melewatkannya sesuap


pun. Dan ketika melihat makanan enak itu, perutku otomatis menyisihkan sedikit


ruang untuk aku bisa menghabiskan semuanya.” Lysa bercerita sambil berangan


angan, seolah dirinya sedang menganalisa apa yang terjadi di dalam perutnya


ketika melihat makanan lezat di hadapannya.


Mendengar hal yang menggelikan itu, Mino


terkekeh kekeh pelan. Ia menelan mie Jajjangmyeon yang terasa lembut itu sambil


membayangkan kata kata konyol Lysa tentang makanan itu.


“Kau hebat sekali.” Mino menggumam pelan.


“Ah, asalmu Indonesia ya?” Setelah beberapa


waktu berlalu, Mino kembali membuka percakapan.


“Hm. Kenapa?”


“Apa makanan Indonesia juga enak enak


seperti di Korea?” tanya Mino.


“Kupikir begitu. Aku menyukai semua makanan


Indonesia.”


“Kurasa tidak ada makanan yang tidak kau


sukai.” Mino menambahi.


“Apa kau pernah ke Indonesia, Ajeossi?”


tanya Lysa kemudian. Ia baru teringat, kalau setiap kali mereka bertemu, ada


hal yang ditanyakan Mino tentang Indonesia.


Kepala Mino menggeleng geleng. “Tidak. Aku tidak


pernah ke Indonesia. Apa di sana ada banyak tempat bagus?”


“Tentu saja. Cobalah kau mencari di


internet, Ajeossi.”


“Baiklah. Aku akan mencarinya di internet


nanti.”


Lysa menatap Mino dalam waktu lama sambil


bertanya tanya. Ia penasaran kenapa lelaki itu terlalu penasaran sama hal hal


tentang Indonesia.


“Apa kau ingin pergi ke Indonesia, Ajeossi?”


tanya Lysa beberapa waktu kemudian.


“Aku? Hmm... mungkin nanti. Tapi aku


bertanya bukan untuk berkunjung ke Indonesia.”


“Lalu?”


“Bosku, dia ingin pergi ke Indonesia bersama


istri dan anak anaknya. Aku tidak yakin untuk apa bosku pergi ke Indonesia. Yang


pasti, kalau tidak untuk urusan bisnis, ya untuk sekedar liburan dan mencari


inspirasi. Bos Moon dan anak pertamanya kan seorang pelukis. Jadi wajar saja


kalau mereka sering berkunjung ke banyak negara untuk mencari inspirasi


melukis, juga sekaligus untuk mengembangkan jaringan bisnis di Korea.” Mino


menjelaskan panjang lebar. Beberapa hari terakhir ia dimintai tolong oleh Moon


Yul untuk mencarikan beberapa informasi tentang Indonesia. Dan kebetulan,


seorang kenalan Mino adalah orang Indonesia yang pastinya cukup tau banyak hal


tentang negara beriklim tropis tersebut.


Kepala Lysa mengangguk angguk. “Wah, keren


sekali bosmu itu, Ajeossi. Bisnisnya sukses, memiliki keluarga bahagia, dan


bahkan memiliki bakat melukis. Kurasa semua orang ingin menjadi sepertinya.”


Lysa menggumam gumam heran. Ia memang belum bertemu secara langsung dengan Moon


Yul yang menjadi bos Moonlight Coffe tersebut. Namun Lysa pernah melihatnya


beberapa kali di televisi dan juga di sampul majalah.


“Kalau orang hanya mengenal Bos Moon lewat


televisi atau mengenal lewat cerita cerita yang beredar, tentu orang orang akan


merasa iri pada Bos Moon. Tapi, orang orang tersebut tidak tahu apa yang sudah


dilalui oleh Bos Moon sebelum punya reputasi seperti sekarang.” Mino berucap. Sebagai


salah satu orang yang berjuang dengan Moon Yul dalam mengelola Moonlight Coffe


sejak awal, Mino tentunya tahu banyak hal yang telah terjadi pada bosnya


tersebut.


“Sepertinya aku pernah mendengar cerita itu


dari seseorang. Tapi, aku belum sempat mendengar apa saja yang terjadi di


Moonlight Coffe sebelum sesukses sekarang.” Lysa menyahut.


Mino menghela napas panjang panjang. Apa yang


hendak diceritakannya itu memang hal yang membuatnya selalu menghela napas


panjang panjang. Sebab ia tahu setiap rincian kejadian yang terjadi. Memang lima


tahun lalu, ketika ia pertama kali bekerja di Moonlight Coffe, ia bukan berada


di posisi manajer umum yang begitu dekat dengan Moon Yul. Tetapi paling tidak


ia tahu banyak ceritanya.


“Mulai dari kasus kriminal yang dilakukan


salah satu manajer kafe, yang membuat Moonlight Coffe seolah olah akan hancur


pada saat itu juga. Istri Bos Moon yang keguguran dan mengalami depresi tahap


awal. Sampai kasus kecelakaan adik Bos Moon dan keterlibatan seorang mafia


bisnis sebagai perancang Moonlight Retail, yang berujung pada penyerangan di


atas kapal sampai Bos Moon nyaris kehilangan satu satunya wanita yang sangat


dia sayangi, Nyonya Moon. Singkatnya, kesuksesan Moonlight Coffe benar benar


tidak didapatkan dengan mudah. Dan meski Moonlight Coffe menjadi sangat


populer, yang paling sulit adalah mempertahankan popularitas kafe dan citranya.


Di kasus keterlibatan mafia bisnis yang terakhir itu, internal Moonlight Coffe


juga mengalami guncangan hebat. Semua orang yang terlibat dengan perancangan


Moonlight Retail, termasuk aku yang waktu itu membantu Bos Moon dalam membangun


kerja sama bisnis, diselidiki oleh kepolisian untuk mengupas semua hal tentang


mafia bisnis yang merupakan kakak kandung dari adik ipar Bos Moon. Wahh, semua


kejadian itu membuat internal kafe semua berantakan. Dan yang paling terancam


adalah aku, karena aku memegang posisi manajer umum.”


Mino melanjutkan ceritanya panjang lebar. Menceritakan


semua kejadian tidak menyenangkan yang Moonlight Coffe dan bosnya alami sebelum


Moonlight Coffe mecapai popularitas seperti ini. Dan itu semua tentu bukan hal


yang mudah untuk dilalui semua orang. Untuk Moon Yul dan keluarga, untuk Mino


yang memgang posisi penting di Moonlight Coffe dan Moolight Retail, juga untuk


semua orang yang terlibat dengan Moonlight Grup termasuk para investor. Namun setelah


semua badai itu terlewati, lihatlah, kesuksesan Moonlight Coffe bertambah pesat


dan bisnis lain di bidang Retail yang bermitra dengan Biniemoon itu juga


berkembang semakin pesat.


“Wah... benar benar keren. Itu seornag


pebisnis sejati, seperti Bos Moon. Dan kau juga hebat, Ajeossi.” Lysa menggumam


gumam heran mendengar semua cerita yang membuatnya banya termotivasi itu.


“Aku? Apa yang kulakukan sampai kau


mengganggapku hebat? Kurasa aku tidak melakukan apa apa untuk Moonlight Coffe. Jadi


apa yang kau maksud berkata bahwa aku juga hebat?” tanya Mino tak yakin. Ia menanyakan


kemampuannya sendiri yang dirasa tidak sehebat itu untuk mendapat pujian dari


seorang gadis yang kelihatannya sangat tertarik dengan bisnis.


Kening Lysa mengernyit dalam. “Katanya,


Ajeossi yang melihat setiap proses yang dilalui Moonlight Coffe dan juga Bos


Moon dalam mengembangkan bisnis kafenya. Bertahan di tengah badai! Bukannya itu


hal terhebat yang dilakukan orang yang berkecimpung di dunia bisnis?”


Kedua alis Mino menaik. “Entahlah. Kurasa aku


tidak melakukan apa apa. Dan aku terlalu payah untuk dibandingkan dengan Bos


Moon. Sejauh ini, aku merasa tidak pantas berada di posisi sebagai manajer umum


Moonlight Coffe.”


Lysa yang telah menghabiskan makan siangnya


itu segera menaruh sumpit yang dipegangnya. Lantas meminum satu geas air putih


yang tersaji di hadapannya.


Ia menatap Mino dengan lekat dan dalam. Cukup


lama Lysa menatap Mino.


“Ajeossi, kenapa kau begitu meragukan


dirimu sendiri?” tanya Lysa legas.


Pandangan datar Mino saat ini tidak begitu


bisa Lysa artikan. Ia belum pernah mendapat tatapan seperti itu dari Mino.


“Hanya saja ...  aku hanya mengatakan apa yang kurasakan.”


Mino menjawab dengan terbata.


Lysa menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya


dengan capat. Ia cukup merasa heran pada Ajeossi yang satu ini. Dalam hati Lysa


lelaki itu tidak menyadari kemampuannya dan kurang percaya diri saja? Lysa


bertanya tanya. Namun pertanyaan yang dilontarkan dalam benak itu tak kunjung


mendapat jawaban.


“Ajeossi, kau tidak percaya pada dirimu


sendiri atau tidak percaya pada Bos Moon yang kau bicarakan tadi?” tanya Lysa


dengan tegas. Tatapan gadis yang selalu berbinar binar ketika melihat makanan


lezat itu menjadi sangat serius menatap Mino saat ini. Seperti tatapan seorang


pelatih untuk menaikkan rasa percaya diri seorang pemain sebelum bertanding.


Sejenak Mino terdiam. Ia tak bisa menjawab


apa apa.


Saat lelaki itu bingung mencari jawaban


yang tepat, Lysa kembali menyahut.


“Ajeossi, kau perlu tahu ini. Dari cerita


yang kudengar tadi, sekilas saja aku sudah dapat menebak bahwa Bos Moon adalah


orang yang sangat gigih dan sagat kompeten dalam mengembangkan bisnisnya. Menurut


Ajeossi, apa Bos Moon itu orang yang bodoh sehingga memilih anak buahnya yang


tidak becus untuk menjadi manajer umum kafe? Tidak kan? Tidak mungkin Ajeossi dipekerjakan


sebagai manajer umum dengan kemampuan yang payah. Sudah pasti Bos Moon hanya


memilih orang orang yang kompeten dan pekerja keras saja. Apalagi kalau melihat


sekarang seperti apa popularitas Moonlight Coffe, kafe nomor satu di Korea


Selatan!”


Lysa mengatakan semua itu dengan tatapan


penuh keyakinan kepada Mino. Semangat yang ada pada gadis itu sedang membara


sehingga ia seperti menjadi sosok yang berbeda dari Kim Lysa yang manja,


kekanakan, dan hanya mementingkan makanan.            Ia


seolah olah ingin menunjukkan kemampuan yang Mino miliki pada Mino sendiri yang


merasa tidak percaya diri atas semua itu.


Mino terdiam dalam waktu lama. Mencerna semua


yang Lysa katakan dan menatap gadis itu dalam waktu yang lama. Bukan pertama


kali ia mendengar seorang perempuan mengatakan hal semacam itu padanya. Namun,


Mino merasa kali ini ada yang berbeda.


Selama berkencan dengan Jiwon, Mino selalu


mendengar kalimat kalimat semacam itu dari kekasihnya. Jiwon selalu meyakinkan


Mino dan membuat Mino merasa lebih percaya diri atas semua yang ia lakukan. Namun


kadang apa yang Jiwon lakukan terhadapnya itu justru membuat Mino merasa bukan


seperti dirinya. Seolah olah kepercayaan diri yang ia rasakan itu adalah


bentukan dari Jiwon, bukan menjadi bagian dalam dirinya. Sehingga kadang Mino


merasa apa yang dikatakan Jiwon itu adalah sebagian dari kebohongan.


Tetapi melihat cara penyampaian Lysa yang


seperti menggebu gebu itu seolah memberikan tamparan untuk Mino. Mino merasa dirinya


seperti disiram oleh air ketika merasa sangan ngantuk dan loyo. Dan apa yang


lysa katakan tadi membuat Mino berpikir, bahwa apa yang dikatakan gadis itu ada


benarnya. Namun, tetap saja. Lysa terlalu ‘sok tau’ tentang urusan Mino di saat


gadis itu belum mengebal Mino begitu dalam.


Mino menarik napas panjang. Lalu meneguk


satu gelas air putih yang ada di hadapan setelah menghabiskan Jajjangmyeon nya.


“Perkataanmu ada benarnya. Tapi kau belum


mengenalku terlalu dalam dan belum mengenal orang seperti apa Bos Moon itu. Harusnya


kau tahan dulu kata katamu tadi. Dan ungkapkan saat kau sudah mengenal cukup


banyak tentangku dan mengenal orang seperti apa Bos Moon itu.” Mino menegur


pelan.


Lysa terdiam mendapat terguran seperti itu


dari Mino. Dan ia merasa kalau ucapannya tadi tidaklah salah. Ayah Lysa dulunya


juga seorang pebisnis sukses, sebelum ada perselingkuhan yang dilakukan ibunya


dan menghancurkan segalanya. Dan sejauh yang Lysa lihat dari ayahnya yang


seorang pebisnis, ayahnya tidak pernah mempekerjakan sembarang orang. Sudah pasti


bahwa orang yang diperkerjakan ayahnya adalah orang orang terpilih dan memiliki


kualifikasi tertentu sehingga bisa diajak bekerja sama untuk mengebangkan


bisnis bersama. Dan ia rasa orang bernama Bos Moon atau siapa pun itu, tidak


akan memilih langkah ‘bunuh diri’ dengan menempatkan orang tidak kompeten di


suatu posisi penting yang ibaratnya sebagai ‘jantung’ dari bisnis kafe yang


dikelolanya. Apalagi jika mendengar tentang semua kesulitan dan semua krisis


yang terjadi di Moonlight Coffe dan bagaimana Moonlight Coffe bertahan sampai


sekarang. Sudah pasti, lelaki yang Lysa panggil dengan sebutan Ajeossi itu


adalah orang yang sangat kompeten dan tentunya pekerja keras. Fakta Moonlight


Coffe bisa bertahan dan semakin sukses sampai detik ini setelah melewati krisis


internal karena kasus mafia bisns atau siapa pun itu, adalah bukti bahwa Mino


adalah orang yang sangat kompeten dan profesional di bidang bisnis. Hanya saja


lelaki itu tidak mau mengakuinya. Entah apa yang terjadi padanya hingga merasa


dirinya serendah itu, Lysa merasa sangat penasaran.


Setetes demi setetes, rasa perasaan Lysa terhadap


laki laki yang dipanggilnya Ajeossi itu makin bertambah. Ia merasa semakin


ingin untuk menyelami kehidupan lelaki itu semakin dalam. Semakin ingin untuk


mengenalnya lebih dekat. Semakin ingin mengetahui banyak sisi dalam diri lelaki


itu.


Setelah menyelesaikan makan siang, keduanya


keluar dari restoran China tempat mereka menghabiskan seporsi Jajjangmyeon. Mereka


berdiri di depan sebuah mesin penjual kopi otomatis. Mengambil dua cup kopi


seharga lima puluh sen.


“Ajeossi, kapan terakhir kali kau merasa


bahagia?”


Pertanyaan yang tiba tiba Lysa lontarkan


itu membuat Mino seketika menolehkan kepala selagi menyesap kopi hangat yang


terasa manis itu. Siang siang meminum kopi yang hangat, yah.. setidaknya


minuman itu yang bisa ia nikmati dalam perjalanannya menuju Moonlight Coffe


dengan berjalan kaki setelah melakukan makan siang.


Tetapi pertanyaan Lysa tadi tiba


mengingatkan Mino terhadap momen bahagia yang terakhir kali ia rasakan. Sekarang,


lelaki itu tidak ingat kapan terakhir kali bahagia. Karena semua momen


bahagianya bersama Jiwon di masa lalu sekejap mata menjadi momen paling


menyedihkan yang ada dalam hidupnya.


“Hm, entahlah. Aku tidak ingat. Mungkin.,.


ketika aku berhasil membuat kerja sama bisnis antara Moonlight Retail dengan


suplier resmi sebuah brand fahion terkenal di Paris. Sulit sekali untuk


melakukan kerja sama dengan satu brand itu karena mereka sangat pemilih dalam


menyalurkan produk. Jadinya aku sangat senang sekali ketika mereka menerima


tawaranku untuk bermitra dengan Moonlight Retail dan membangun kerja sama yang


berlangsung samapi detik ini dan sepuluh tahun kedepan.”


Mino menceritakan hal itu dengan perasaan


bangga yang terlihat dari wajahnya. Melihat itu, Lysa menggumam gumam.


“Lihatlah, kau itu sangat kompeten,


Ajeossi. Dan aku tidak tau kenapa kau begitu malu mengakui semua itu di hadapan


gadis miskin sepertiku.” Lysa bergumam dengan keras supaya Mino mendengarnya


dengan jelas. Namun nada suaranya tetap saja terdengar seperti gumaman yang


tidak begitu jelas. “Ajeossi, kau pasti sangat bahagia bisa bekerja Moonlight


Coffe dan mendapatkan kepercayaan sebesar itu dari Bos Moon untuk menawarkan


Moonlight Retail pada pihak yang sangat sulit diluluhkan. Itu semua pasti tidak


mudah.”


“Tentu aku merasa terhormat untuk


melakukannya. Kalau bukan Bos Moon, tidak ada yang akan memercayaiku untuk


melakukan pekerjaan besar seperti itu.” Mino mengimbuhkan.


“Bos Moon sepertinya sangat memercayaimu,


Ajeossi.”


“Mungkin. Itu yang membuatku merasa tidak


enak untuk mengundurkan diri dari Moonlight Coffe.” Mino bercerita.


Langkah kaki Lysa sontak berhenti. Tubuhnya


otomatis menoleh pada Mino yang baru saja mengatakan hal tidka terduga.


“Maksudnya, Ajeossi akan berhenti dari


Moonlight Coffe?” tanya Lysa tidak percaya.


Dengan berat kepala Mino mengangguk angguk.


“Hm, aku akan segera berhenti. Sebenarnya aku sudah menyerahkan surat


pengunduran diri pada Bos Moon beberapa minggu yang lalu. Dan surat pengunduran


diriku itu sudah diterima. Tapi aku diminta secara pribadi untuk tidak


meninggalkan posisiku begitu saja sampai penggantiku sudah ada.”


Tubuh Lysa tercengang. Ia menatap Mino


penuh pilu mendengar lelaki itu akan berhenti bekerja di Moonlight Coffe. Padahal


Lysa baru saja diterima bekerja di sana sebagai pegawai paruh waktu. Tapi


rupanya ia tidak akan lagi melihat Mino bekerja di kafe sebagai atasannya.


“Kenapa? Bukannya Ajeossi tadi bilang kalau


sejauh ini kau merasa bahagia bekerja di Moonlight Coffe?” tanya Lysa


penasaran.


Saat ini Mino kembali melangkah pelan untuk


berjalan menuju kafe. Dan otomatis langkah Lysa pun berlanjut. Lysa berjalan di


sebelah Mino sambil menikmati minumannya yang tiba tiba terasa pahit. Menanti


jawaban dari Mino.


Bola mata Mino melirik ke arah Lysa. Lalu ia


menjawab dengan santai pertanyaan itu.


“Kau tidak perlu tahu, ini urusan


pribadiku.” Mino menjawab dengan lembut tanpa membuat Lysa merasa sakit hati.


Mendengar itu, Lysa menghela napas panjang


panjang.


“Padahal aku baru saja berharap agar aku


bisa melihat Ajeossi bekerja dalam waktu lama di Moonlight Coffe. Ada banyak


sekali hal yang ingin kupelajari darimu, Ajeossi. Ada banyak sekali hal yang


ingin kulihat saat kau bekerja di Moonlight Coffe. Tapi, sepertinya harapanku


itu cuman sekedar harapan. Semakin sedikit waktu untuk aku bisa melihat Ajeossi


berada di Moonlight Coffe.” Lysa berkata dengan pandangan sendunya yang


menurun.


Sejenak Mino terdiam. Ada satu hal yang


membuatnya merasa tersentuh.


“Apa ... yang ingin kau pelajari dariku?”


desus lirih Mino. Tatapan harunya yang terasa hangat itu menatap Lysa dengan


lekat.


Saat Lysa hendak menjawab, “Seperti ....”


Tin tin!


Suara klakson mobil yang terdengar itu


membuat tubuh Lysa tersentak. Kepalanya otomatis menengok. Ia melihat sebuah


mobil berwarna biru melaju di samping trotoar tempat ia dan Mino berjalan pelan


menuju kafe. Jendela mobil tersebut perlahan lahan turun, terlihat Brian yang


menemudi di dalamnya.


“Oh, Sam!” pekik Lysa terkejut.


**