Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kedatangan Yul junior



Ketika sampai di rumah, tubuh Yebin lemas seketika. Seolah sudah mengantisipasi hal itu, di teras rumah Yul menunggu kedatangan istrinya.


Begitu turun dari mobil tubuh Yebin terlihat lemas. Wajahnya tampak pucat. Pandangan kosongnya tertuju pada Yul yang berdiri di teras rumah sambil membawa buku majalah untuk dibacanya.


Yul melihat wajah Yebin yang terlihat kacau. Berbeda dari ketika meninggalkan kafe di mana Yebin terlihat berkobar kobar dengan amarah, sekarang wanita itu terlihat sangat kacau dan sendu. Yul tak dapat menebak apa yang terjadi pada istrinya itu. Namun ia meyakini bahwa apa yang terjadi tidak sejalan dengan apa yang Yebin rencanakan ketika memutuskan pergi ke sana.


“Oh!”


Tiba tiba saja kang Yebin menundukkan kepala dan jatuh ke atas lantai. Secepat kilat Yul berlari menghampiri Yebin. Pria itu langsung memeluk tubuh Yebin dan membantunya bangun. Tanpa berkata apa apa. Tanpa menanyai apa yang terjadi pada sang istri. Yul hanya membantu Yebin bangun dan membawanya masuk ke dalam rumah di hari yang telah beranjak gelap ini.


Di pelukan Yul itu Yebin menangis meraung raung. Seperti tangisan anak kecil kepada ayahnya. Seperti tangisan penyesalan dan juga luka yang teramat dalam. Yebin menangis tersedu dengan Yul yang mendekapnya dalam pelukan yang hangat. Membiarkan istrinya itu menangis sepuasnya. Membiarkan istrinya itu menjadikannya sandaran ketika ia terjatuh akibat kecerobohan yang dia perbuat.


Hingga akhirnya tangisan Yebin selesai. Perlahan lahan ia melepaskan pelukannya pada tubuh Yul. Menundukkan kepala. Tak berani menatap Yul setelah kecerobohan yang ia perbuat. Harusnya Yebin mendengarkan apa kata Yul. Harusnya ia tak keras kepala. Padahal Yul hanya mencoba untuk melindunginya supaya tidak terluka seperti ini.


Yul tahu kini Yebin menyesal atas perbuatannya. Yul tahu kini Yebin sedang terjatuh atas sesuatu yang dia lakukan, seperti yang dikatakan ibu sore tadi.


“Kau sudah makan malam?” tanya Yul. Sungguh. Ia tidak berniat mengetahui apa yang terjadi pada Yebin sampai istrinya itu menangis meraung raung seperti tadi. Yul tak penasaran. Juga tak ingin menyalahkan Yebin yang tak mau mendengarnya sejak awal. Andai saja Yebin mau mendengarkannya, maka wanita itu tak akan terluka dan tak akan menangis seperti ini ketika pulang. Namun Yul tak mau mengungkitnya. Yul hanya cukup memastikan Yebin merasa lebih baik bersamanya.


Kepala Yebin menggeleng geleng. “Belum.”


Pandangan Yul menyebar sekeliling. Menatap ke arah dapur dan mengingat ingat apa yang sekiranya bisa mereka makan untuk makan malam.


“Selain ramyeon, tidak ada yang bisa kita makan. Bagaimana kalau kita makan ke luar saja?” ucap Yul.


“Tidak perlu. Aku tidak ingin ke luar. Kita makan di sini saja, seadanya.”


Mengiyakan permintaan istrinya itu, Yul mengangguk angguk. Lantas berjalan menuju dapur. Membuatkan ramyeon dan telur untuk mereka santap sebagai makan malam.


Sementara Yul masih memasak di dapur, tiba tiba Yebin mengikutinya. Wanita itu menghampiri suaminya yang sedang memasak dan memeluk tubuh Yul dari belakang.


“Maafkan aku,” desus Yebin yang sedang menempeli punggung Yul. Terkadang sikapnya seperti anak kecil. Namun Yul masih terdiam untuk beberapa saat. “Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud melukaimu dengan kata kataku tadi. Aku hanya terbawa rasa marah. Sekali lagi maafkan aku.”


Satu hal yang Yebin sadari setelah mendapat perlakuan seperti itu dari Leo Park. Yaitu, tidak ada laki laki di dunia ini yang memperlakukannya sebaik Yul. Hanya Yul satu satunya laki laki yang selalu memperlakukan Yebin dengan baik dan tak pernah berkata kasar kepadanya. Padahal mulut Yebin itu kadang menjadi sangat tajam ketika ia diselimuti amarah. Dengan mulutnya ia bisa melukai siapa pun, bahkan Yul yang tak pernah melukainya secara verbal. Semua yang Yul lakukan semata mata untuk kebaikan Yebin dan ketahanan mereka berdua sebagai keluarga yang akan selalu bersama sampai akhir hayat.


Yul masih tak memberikan respon selama beberapa saat karena ia sibuk memasak ramyeon di atas kompor. Bukan karena ia sibuk memasak, tetapi karena ia memikirkan bagaimana ia menanggapi permintaan maaf Yebin yang terdengar tulus.


Setelah ramyeon itu matang, Yul mematikan kompornya. Lalu berbalik menatap Yebin yang raut wajanya begitu sendu dan terlihat sangat menyesal.


“Kita sudah sama sama dewasa, Yebin-a. Kita bukan sepasang anak muda yang berkencan untuk bersenang senang. Kita sepasang suami istri, yang terikat dalam pernikahan. Kita membangun keluarga yang semua di dalamnya tidak hanya tentang dirimu. Baiklah. Aku akan terima jika kau mengatakan aku adalah laki laki jahat yang melebihi....”


“Tidak. Tidak, Oppa. Aku asal mengatakannya dan tidak serius. Aku hanya terbawa suasana.” Yebin langsung menyela perkataan Yul dengan air matanya yang berlinangan. Kepalanya menggeleng cepat supaya Yul memercayai bahwa itu semua tidak benar.


Yull terdiam sejenak. Ia memegangi kedua bahu Yebin.


“Aku tahu. Sekali pun aku memang benar laki laki paling jahat di dunia—”


“Kubilang tidak!” Kali ini Yebin berteriak supaya Yul berhenti berkata demikian. Jika mengingat apa yang sudah dikatakannya pada Yul sore tadi, hati Yebin terasa dicabik cabik. Ia merasakan rasa sakit jauh lebih tercekat dari yang dirasakannya akibat perlakukan Leo Park. “ Kubilang itu tidak benar. Berhenti mengungkitnya,” desah Yebin memohon dengan air mata yang terjun dengan derasnya.


Yul kembali diam. Ia mengamati wajah Yebin yang benar benar mengelak ucapannya tadi.


Kepala Yul mengangguk pelan kemudian. Melihat Yebin bersedih dan menangis seperti ini adalah satu hal yang membuatnya merasa hancur lebih dari apa pun.


Perlahan lahan Yul menyeka air mata di pipi Yebin. Menatapnya lekat lalu berkata, “Jangan ucapkan hal semacam itu lagi pada siapa pun. Aku tidak apa apa karena aku tahu tadi kau tidak bermaksud mengucapkannya dan hanya terbawa suasana. Tapi jangan pada orang lain. Kadang kata kata semacam itu bisa membuat beberapa orang merasa benar benar hancur. Jangan berkata seperti itu lagi ketika marah, padaku atau pada siapa pun.” Yul menuturi.


Yebin langsung mengangukkan kepala. “Aku janji.”


Yul mengukir sedikit senyuman di bibirnya. Setelah itu Yebin kembali berkata ragu ragu, “Tadi itu yang terjadi....”


“Kau tidak perlu menceritakan apa yang terjadi. Kau bisa kembali dengan selamat dan menyesali semuanya itu sudah cukup. Jangan memaksakan diri lagi di lain waktu. Kita bisa melakukannya sama sama jika ada sesuatu yang terjadi,” sela Yul pelan. Yebin hanya menganggukkan kepala bersama raut menyesal yang tersirat di wajah. Kemudian Yul mengelus elus punggung Yebin dan mencium keningnya. Membuat Yebin merasa lebih tenang lagi.


“Sekarang ayo kita makan,” ucap Yul.


Setelah itu mereka pun mulai makan malam bersama di meja makan. Menyantap satu panci ramyeon bersama kimchi dan daging ham.


Di sela kegiatan mereka, Yul mengungkapkan suatu hal.


“Aku sudah membeli sebuah pulau kecil di daratan selatan semenanjung Korea. Sekaligus membeli properti yang sudah dibangun di sana berupa vila dan resort kecil.”


Terkejut, Yebin diam mendengarkan pengakuan suaminya. Di saat seperti ini, tidak mungkin ia menolak apa yang Yul lakukan. Toh, lelaki itu sudah membelinya.


“Kapan?” tanya Yebin.


“Semingguan lalu. Surat kepemilikan, surat pengesahan, dan ijinnya akan jadi dalam beberapa hari ke depan. Termasuk surat pajak dan beberapa perlengkapan adiministrasi lainnya akan jadi dalam dua atau tiga hari lagi,” jelas Yul.


Yebin menghela napas ringan. Namun tak menunjukkan tanda tanda penolakan.


“Kita akan tinggal di pulau itu untuk berlindung selama beberapa waktu sementara masalah di Seoul diselesaikan. Rencananya aku juga akan membawa Hun dan juga ibu ke pulau itu setelah kondisi Hun memungkinkan untuk menempuh perjalanan jauh ke sana. Kita akan tinggal selama beberapa waktu di sana.”


Mendengarkan penjelasan itu, Yebin diam dan sesekali mengangguk. Tidak ada yang bisa Yebin lakukan di saat Yul sudah menggunakan sebagian besar dari kekayaannya untuk membeli sebuah pulau untuk mereka pribadi.


“Juga, aku mendapat satu kabar baik untukmu,” lanjut Yul berkata. Ia teringat suatu hal yang terjadi sebelum ia meninggalkan rumah sakit.


“Apa itu?” tanya Yebin.


“Yul akan datang kemari,” ucap Yul.


“Yul?”


**


Yebin merasa sangat bersemangat selama perjalanan mereka dari rumah menuju sebuah lembaga pengasuhan anak anak. Semalam Yul memberitahunya sesuatu tentang seorang anak kecil bernama Yul yang sangat disukai Yebin. Pagi ini, Yebin bersama Yul, suaminya, pergi ke sebuah tempat di mana Yebin akan bertemu dengan seorang anak kecil bernama Han Yul.


Begitu mereka tiba di halaman sebuah lembaga pengasuhan anak anak sekaligus panti asuhan anak, Yebin langsung turun dari mobil. Ia turun dari mobil terlebih dahulu menunggu Yul melapaskan sabuk pengaman.


“Sesemangat itukah kau bertemu Yul?” tanya Yul yang baru saja menutup pintu mobil.


“Hmm. Aku merasa sangat bersemangat,” sahut Yebin sambil berjalan mendekat pada Yul dan menggandeng lengannya. “Tapi, Oppa. Bagaimana kita memanggil Yul nanti? Orang orang akan salah paham jika kita memanggil Yul dengan sebutan Yul. Apalagi jika kau yang memanggilnya,” kata Yebin sambil berjalan di sebelah Yul menuju pintu masuk rumah pengasuhan.


“Ah, benar. Han Yul. Aku juga memakai produk kosmetik Han Yul di rumah.” Yebin bergumam pelan sambil bercanda. Han Yul adalah nama salah satu brand kosmetik terkenal di Korea Selatan yang dipakai Kang Yebin.


“Kau itu ada ada saja.”


Keduanya masuk ke dalam rumah pengasuhan dan disambut dengan baik oleh ibu pengasuh.


“Anda datang lebih pagi dari yang saya kira,” sambut ibu pengasuh itu sambil bersalaman dengan Yebin dan Yul secara bergantian. Ia mengarahkan Yul dan istrinya untuk duduk ke atas kursi kayu yang ada di dalam ruangan ibu pengasuh. Mereka bercakap cakap setelah seorang pegawai lembaga datang mengantarkan minuman untuk kedua tamu yang datang.


“Saya senang sekali Anda bersua bersedia datang kemari untuk menjemput Yul. Dia masih menjalani pengobatan untuk kankernya dan sekarang yul menjadi terpuruk karena peristiwa itu,” cerita ibu pengasuh.


Semalam, Yebin hanya mendengar dari Yul bahwa ia mendapat telepon dari sebuah lembaga pengasuhan. Telepon itu berisi permohonan kepada Yul untuk bersedia datang dan menjemput seorang anak kecil bernama Yul yang baru saja ditelantarkan oleh orang tuanya di panti pengasuhan anak tersebut.


“Boleh saya mendengar bagaimana ceritanya Yul bisa ditelantarkan?” tanya Yebin.


“Yul adalah salah satu anak yang sering dititipkan di sini. Orang tuanya sama sama sibuk. Saya juga mendengar bahwa Yul sedang menjalani pengobatan kanker sehingga beberapa bulan terakhir dia jarang datang kemari. Tapi, beberapa hari lalu tiba tiba Yul kembali dibawa orang tuanya kemari. Mereka berkata ingin menitipkan Yul sebentar. Lalu pergi dan sampai sekarang tidak datang. Saya mencoba menelepon orang tua Yul, tetapi nomornya sudah tidak aktif. Dan setelah itu saya mendengar kabar kalau bisnis orang tua Yul sedang bangkrut. Mereka pergi ke luar negeri dan meninggalkan Yul di sini. Sehari setelah saya medengar kabar itu, tiba tiba ada telepon asing masuk ke panti. Ayah Yul menelepon saya dan berkata bahwa dia tidak bisa kembali ke Korea karena terjerat sebuah kasus di sana. Mereka tidak bisa menjemput Yul dan menitipkan Yul di panti asuhan.”


Begitu ibu pengurus berceria penuh pilu kepada sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak. Sepasang suami istri itu adalah harapan satu satunya ibu pengurus untuk bisa merawat dan mengurus Yul, alias mengadopsinya.


“... Panti dengan senang hati menerima Yul sebagai bagian dari kami. Tapi, Anda tahu bagaimana keadaan Yul.  Dia sedang berperang melawan penyakit kankernya. Itu tidak mudah untuk Yul jika berada di panti dengan pengasuh yang jumlahnya sangat terbatas. Dan hampir tidak ada keluarga yang bersedia mengambil anak dari panti asuhan dengan keadaan seperti Yul. Selain alasan Yul, panti kami juga sedang mengalami kesulitan dalam hal keuangan sehingga akan sulit untuk Yul mendapatkan perawatan yang baik di rumah sakit. Donatur tetap panti ini baru saja meninggal dan terjadi perebutan hal waris di antara anak anaknya. Kami tidak bisa berbuat apa apa. Dan hanya kartu nama Anda yang ada di dalam tas pakaian Yul yang dia bawa kemari. Sehingga saya menghubungi Anda karena siapa tahu Anda dan istri Anda memiliki niat baik untuk mengasuh Yul yang keadaannya seperti itu.”


Hati Yebin terasa sakit medengar cerita memilukan tentang Yul. Anak sekecil itu sedang dihadapkan dengan musibah besar. Ia yang masih berjuang melawan kanker, dihadapkan dengan masalah besar di mana ia ditelantarkan oleh orang tuanya di panti asuhan ini dan tidak bisa apa apa.


Karena hatinya terasa sangat sakit, Yebin tidak bisa berkata apa apa. Ia meremas tangan Yul di bawah meja. Menahan rasa sakitnya dengan cara seperti itu.


“Lalu, sekarang bagaimana keadaan Yul?” tanya Yul setelah sejenak hening.


“Dia tidak mau berbicara selama beberapa hari terakhir. Bahkan satu kata pun dia tidak mau berbicara. Dia tidak mau minum obat dan tidak mau kami ajak ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan kanker sehingga kami sangat khawatir pada keadaan Yul,” jelas ibu panti dengan sangat sedih. Sorot matanya menyiratkan kepeduhan yang mendalam dan juga rasa pilu.


Yebin menghela napas dalam dalam.


“Sekarang di mana keberadaan Yul? Kami ingin bertemu dengannya.” Kata Yebin.


“Mari saya antarkan ke kamar Yul.”


Ibu pengasuh tersebut beranjak dari duduk. Mengantarkan Yul dan Yebin menuju kamar Yul kecil.


Di sebuah kamar kecil yang dikelilingi oleh dinding berkarakter kartun itu, Yebin dan Yul masuk ke dalamnya. Mereka berdua, dengan ibu pengasuh yang mengawasi dari ambang pintu, berjalan menuju tempat tidur. Yul kecik sedang duduk melamun di atas kasur itu dengan buku gambarnya yang kosong di pangkuan.


Melihat hal itu saja hati Yebin terasa seperti dicabik cabik. Ia sunggh merasa pilu melihat Yul yang biasanya ceria menjadi murung seperti itu dengan buku gambar kosong di tangannya.


Perlahan lahan Yebin mendekat. Ia memperlihatkan senyuman hangat di tengah perasaan pilu yang menguasai benak. Ia berjongkok tepat di hadapan Yul kecil dengan sang suami yang ikut berjongkok di sebelahnya.


“Yul-a, kamu masih ingat bibi dan paman kan?” tanya Yebin pelan bersama seutas senyum yang ia perlihatkan.


Namun Yul masih diam melamun menatap Yebin kosong. Kemudian, Moon Yul yang ada di sebelah Yebin itu memegangi kedua lutut kecil Yul di atas ranjang tidur yang seketika membuat perhatian Yul kecil teralih pada Moon Yul.


“Yul-a, paman masih punya janji yang belum sempat paman tepati padamu. Apa kau masih ingat janji itu?” tanya Yul.


Yul kecil menganggukkan kepala. Ia mengingat janji yang diucapkan Yul saat itu.


Yul pun tersenyum lebar melihat anggukan itu. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Yul kecil sambil berucap, “Bagus. Hari ini paman datang untuk menepati janji itu. Paman ingin mengajakmu bermain main. Kita akan bermain bersama sama, dengan bibi dan juga Paman Hun. Kamu belum tahu Paman Hun kan? Dia adalah seorang hakim yang pandai bermain sepak bola. Kau mau berkenalan dengannya? Kita bermain bersama sama nanti,” bujuk lembut Yul kepada anak kecil yang tatapannya kini fokus kepadanya.


Membutuhkan waktu lama untuk Yul kecil mencerna semua kata kata Yul. Hingga kemudian anak laki laki kecil itu menganggukkan kepala.


“Apa paman dan bibi akan membawaku?” tanya lirih Yul kecil.


Mendengar Yul kecil bersuara untuk pertama kalinya, Yebin merasa sangat bahagia. Itu pertanda bahwa Yul menerima keberadaannya. Kemudian Yebin menyahut sambil membelai wajah pucat Yul.


“Kamu mau ikut bersama ke rumah bibi dan paman kan?” tanya Yebin.


Yul terdiam sejenak.


“Kenapa bibi dan paman ingin membawaku pergi ke rumah? Aku mendengar ibu berkata kalau penyakitku ini tidak bisa disembuhkan. Aku tidak punya banyak waktu yang tersisa, karena itu ibu dan ayah meninggalkanku pergi.”


Yebib terpukul mendengarnya. Begitu pun Yul. Bagaimana seorang anak kecil yang baru berusia lima tahun mengatakan hal semacam itu.


“Tidak, Yul-a. Bibi dan paman akan mengusahakan semuanya untukmu. Bibi dan paman akan melakukan segala cara untuk kau bisa sembuh. Pasti akan ada cara, Yul-a. Percayalah pada bibi dan paman, ya?”


Setelah berhasil dibujuk, Han Yul pun bersedia untuk ikut Yul dengan Yebin pulang ke rumah. Mereka izin kepada ibu pengasuh untuk membawa Yul pulang dan mengadopsinya sebagai anak. Pun segala macam prosedur yang harus Yul tempuh secara hukum untuk mengadopsi Hanyul akan diproses dengan bantuan pengacaranya, Haeri.


Setelah berpamitan dengan ibu pengasuh, Hanyul pun bergi bersama Yul dan Yebin. Mereka meniki mobil untuk pulang menuju rumah mereka dan mengenalkan Hanyul di rumah tersebut.


Yul duduk di bagian depan untuk mengemudi. Sedangkan Yebin duduk di kursi penumpang sambil memeluk Hanyul.


“Yul-a, karena nama belakang kita sama Yul, mulai sekarang kau akan dipanggil Hanyul, bagaimana? Kau suka? Atau kau ingin dipanggil dengan sebutan lain?” tanya Yul yang sedang mengemudi modil di depan.


“Aku menyukainya.”


Senyuman hangat Yul menyambut jawaban Hanyul di belakang. “Baguslah.”


“Hanyul-a, kalau minta apa apa, katakan saja pada bibi atau paman. Jangan sungkan sungkan ya? Mulai sekarang kita adalah keluarga. Hanyul, paman, dan bibi, adalah keluarga. Kamu tidak perlu ragu untuk memberi tahu apa pun pada bibi atau paman.” Yebin berucap.


Hanyul mengangguk pelan. Kemudian Yebin merapikan penutup kepala yang menutupi kegundulan Hanyul.


“Sekarang tidurlah. Nanti kalau sudah sampai bibi kasih tahu. Dan mulai besok kamu akan menjalani pengobatan lagi di rumah sakit bersama bibi. Jangan takut ya? Ada bibi dan paman yang menemanimu,” lanjut Yebin berucap. Setelah itu, Hanyul menyandarkan kepalanya di dada Yebin dan kemudian terlelap.


Sejenak setelah Hanyul terlelap di pelukan Yebin, Yebin membuka percakapan ringan dengan Yul di kursi kemudi.


“Sayang, firasatku benar,” ucap Yebin.


“Maksudnya?”


“Firasatku benar, kalau anak pertama kita akan menjadi pelukis. Karena Hanyul yang menjadi anak pertama di keluarga kita. Aku akan melindungi Hanyul dengan cara apa pun. Aku tidak akan membiakannya diambil kembali oleh yang sudah menelantarkannya di panti asuhan dengan keadaan Hanyul yang seperti ini.” Yebin bercap penuh tekad, sambil memeluk Yul yang kini terlelap di pangkuannya.


**