Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kekuatan Kang Yebin



Kakuatan Kang Yebin!


Yebin POV


Sesuai ucapan Yul Oppa, aku menunggnya di lantai satu sedangkan Oppa ada urusan di dalam ruangannya. Entah apa urusan itu sampai membuat Yul Oppa terlihat begitu cemas dan terlihat tidak baik baik saja.


Di lantai satu ini aku menunggunya. Aku duduk di salah satu meja kafe, sambil menebarkan pandangan ke sekeliling. Mengamati bagian dalam kafe yang sangat sepi. Padahal biasanya jam segini adalah jam ramai ramainya pelanggan. Tetapi kulihat hari ini hanya ada pelanggan yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh.


Bukannya aku tidak tahu. Justru aku mengerti dengan baik seperti apa artikel yang beredar di internet tentang Moonlight Coffe. Aku juga membaca semua ulasan negatif di website dan juga semua sosial media kafe.


Secara keseluruhan Oppa memang terbebas dari semua tuduhan hukum. Karena semua bukti menunjukkan kalau Oppa sama sekali tidak terlibat dalam penghindaran pajak dan pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh mantan manajer cabang Moonlight Coffe. Tetapi, tetap saja Oppa merasakan dampaknya. Moonlight Coffe dan semua orang yang bekerja untuk Moonlight Coffe merasakan dampak dari kasus yang menjerat mantan manajer Moonlight Coffe cabang Mapo.


Di kursi ini aku hanya duduk melamun. Kurasakan kehampaan yang teramat kelam dalam lubuh hatiku yang terdalam. Aku bisa merasakan betapa besar beban yang ditanggung Yul Oppa melihat keadaan kafe yang seperti ini, kering keruntang seperti padang pasir di negeri Arab.


Saat aku masih duduk dengan tenangnya sambil menebarkan pandangan ke sekeliling, dua orang pelayan kafe berjalan melintas. Kedua pelayan itu terlihat sedang sibuk bercakap-cakap di depan meja kasir yang bisa dengan mudah kudengar.


“Lihatlah kafe ini, semakin sepi setiap harinya. Apa yang bos kita lakukan? Kurasa dia tidak berbuat apa apa untuk mengatasi krisis. Bagaimana nasip kita kalau Monlight Coffe benar benar bangkrut. Ahh, aku harus cari pekerjaan baru untuk berjaga-jaga,” ujar seorang pelayan berambut bob.


“Benar sekali. Aku bahkan jarang melihat Tuan Moon datang ke kafe beberapa hari belakangan. Bagaimana ini? apa dia berniat membiarkan Moonlight Coffe jatuh dengan sendirinya?” sahut pelayan lain yang berambut panjang diikat.


“Tau ah. Aku harus segera cari pekerjaan baru.”


Aku masih berusaha menahan kesabaran ketika kedua pelayan itu mengatakan hal yang tidak baik tentang mencari pekerjaan baru dan juga Yul Oppa. Padahal aku mengerti dengan baik betapa keras usaha yang dilakukan Yul Oppa untuk mengatasi permasalahan ini. Ia terlihat jarang di rumah. Ia sibuk menemui semua investor Moonlight Coffe untuk meyakinkan mereka agar tak mencabut saham yang dimiliki karena bagaimana pun krisis yang dialami Moonlight Coffe ini akan segera ditangani. Meski pada akhirnya beberapa investor memilih untuk mencabut investasinya. Selain itu, untuk mengatasi defisit dana Moonlight Coffe, Oppa juga telah menjual beberapa sahamnya di perusahaan lain. bahkan menggunakan aset pribadinya untuk tetap memberikan gaji yang layak kepada semua karyawannya.


Bisa bisanya pelayan wanita itu berkata sok tahu tentang Yul Oppa? Mereka bahkan tidak tau apa apa tentang bisnis dan mengikuti opini publik tentang jatuhnya Moonlight Coffe tentang satu skandal yang menimpa seorang manajernya.


Baik. Untuk saat ini aku akan menahan diri. aku akan lebih bersabar menyikapi dua pelayan wanita yang tidka tahu diri itu. Tetapi, kemarahanku telah menuentuh ubun ubun ketika mendengarkan mereka berbicara...


“Apa jangan-jangan Tuan Moon juga terlibat dalam kasus manajer itu? Atau ia juga terlibat dalam kasus lain dan sekarang sedang melakukan penyelidikan? Pantas saja ia tak begitu mengurusi kafe dan membiarkan kafe semakin kering seperti ini. Sepertinya dia benar-benar berniat untuk membiarkan Moonlight Coffe jatuh.”


Seketika aku naik darah mendengar argumen itu. Tidak. Ucapan itu bahkan tidak pantas untuk dikatakan argumen. Karena itu hanya prasangka mereka, hanya sebatas persepsi dari otak mereka yang sangat dangkal.


Merasa tidak bisa menahan emosi amarahku lebih lama lagi, aku segera bangkit dari duduk. Tatapanku menajam. Kepalaku terasa panas karena terbakar amarah. Sebentar lagi amarah yang beradu dalam kepalaku ini akan meledak.


Setibanya di hadapan kedua pelayan itu, aku langsung menceletuk.


“Permisi, apa kalian sungguh pelayan Moonlight Coffe?” tanyaku ketus.


Nada suaraku yang meninggi sontak memicu perhatian orang-orang di dalam kafe. Begitu pun dua pelayan berambut bob dan berambut ikat panjang yag langsung menoleh padaku. Sepertinya mereka belum lama bekerja di sini, merkea terlihat tidak mengenaliku sebagai calon istri pemilik kafe ini.


“Siapa Anda....?”


“Aku bertanya, apa kalian itu sungguh bekerja di sini?! Kalau begitu kenapa kalian tidak bekerja saja dengan baik alih alih terus menggosip? Apa mulut kalian itu tidak bisa diam? Apa kalian digaji oleh bos kafe untuk membicarakannya di belakang alih alih bekerja dengan profesional?!”


Aku berteriak tak bisa menahan amarah yang beradu dalam kepalaku. Membuat kedua pelayan itu diam membisu. Mereka berdua terlihat berusia beberapa tahun di atasku. Tapi, siapa yang peduli? Kelakuan mereka masih seperti anak remaja yang suka bergosip. Tidak. Bahkan anak remaja jaman sekarang pun tidak suka bergosip seperti mereka.


Aku mengacungkan jari manisku. Memperlihatkan cincin berlian yang melingkar dengan indah pada jari manis tangan kiriku. Dan langsung menceletuk.


“Aku tunangan dari Tuan Moon yang kalian bicarakan itu. Kenapa!” Aku kembali berteriak. Meneriaki kedua pelayan tidka tau diri ini. “Di mana loyalitas kalian pada kafe? Di mana rasa hormatmu pada Tuan Moon yang telah menggajimu setiap bulan dengan gaji yang tidak sedikit? Bisa-bisanya kalian berkata begitu padahal tidak tahu perjuangan apa yang dia lakukan untuk mempertahankan pekerjaan kalian dan Moonlight Coffe? Jaga bicaramu!”


“Kang Yebin!”


Tepat ketika aku selesai bicara, kudengar Yul Oppa menyebutkan namaku dengan membentak dari kejauhan. Aku tidak yakin sejak kapan Oppa keluar dari ruangannya. Dan aku tidak peduli. Aku masih dikuasai amarah pada kedua karyawan kafe yang sangat tidak memiliki loyalitas ini.


“Oppa, lihatlah dua karyawanmu. Mereka....”


“hentikan!”


Belum selesai aku berbicara, Yul Oppa memotong ucapanku. Sekali lagi ia membentakku. Kulihat raut wajah penuh amarah darinya.


Aku tidka mengerti sama sekal. Apa yang membuat Yul Oppa marah sampai membantakku. Padahal aku telah mempertahankan martabatnya dan Moonlight Coffe dari gosip gosip buruk yang dibicarakan karyawannya.


“Hentikan. Ayi kita keluar.”


Oppa langsung menyeretku keluar dari bangunan kafe. Menarik tanganku dengan kasar. Mencengkeramnya. Membuat tidka bisa berbuat apa-apa selain menurut ketika ia langsung membukakan pintu mobil dan memasukkanku paksa ke dalam mobil.


Perasaan marahku masih belum mereda. Dadaku naik turun karena rasa kesal sekaligus amarah kepada dua pelayan kafe. Namun di sela itu aku juga bingung melihat Yul Oppa yang tampak begitu marah. ia melajukan mobil menjauhi bangunan kafe tanpa berbicara sama sekali. namun tatapan dan raut wajahnya memperlihatkan kalau ia sedang marah. Marah kepadaku, yang membelanya.


“Dua pelayan kafe tadi sudah bersikap kurang ajar. Aku hanya menegurnya dengan caraku....”


“Diam!”


Aku terperanjat mendengar Yul Oppa yang tiba-tiba membentakku. Hatiku terasa seperti tersambar halilintar. Hancur berkeping-keping. Sangat menyakitkan.


Dengan menggertakkan rahangku, aku diam. Tanpa kusadari mataku berkaca melihat Yul Oppa sampai semarah ini padahal aku tidak melakukan kesalahan. Tapi aku berusaha untuk tidak menangis. Kedua tanganku mengepal erat. Aku berhasil menahan air mataku supaya tidak jatuh.


Tepat setelah itu Yul Oppa menepikan mobilnya. Lalu berhenti. Ia terlihat sedang meredam amarah dan menenangkan diri begitu mobil berhenti di pinggir jalan dekat halte bus.


Yul Oppa menyerongkan tubuh, menghadapku. Tatapannya kini berubah mendung. Tapi aku tak gentar. Raut wajahku telah mengeras tidak peduli apa yang akan Yul Oppa lontarkan. Hatiku terlanjut sakit. Aku tidak bisa menangis. Yang bisa kulakukan hanyalah mempertahankan raut wajah ini dan tatapan tajamku.


“Yebin~a, kumohon. Jangan terlibat,” kata Yul Oppa putus asa.


“Aku tidak melakukan kesalahan. Dan aku akan terus terlibat,” jawabku dengan pandangan yang lurus ke depan. Menatap luasnya jalan raya Seoul.


“Kang Yebin!”


***