Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Pecahan tangis yang telah terbendung lama



Bab 39


Pecahan tangis yang telah terbendung lama


“Aku merasa sangau gugup. Semuanya akan baik baik saja bukan?”


Kim Lysa masih berdiri memaku di depan pintu ruang rawat ibunya. Dalam hati ia merasakan banyak keraguan, rasa cemas, dan bimbang. Dan untuk menenangkan dirinya dari segenap emosi yang menguasai benaknya itu, Lysa memegangi  dadanya menggunakan kedua tangan. Dan berusaha menarik napas panjang panjang untuk menenangkan hatinya yang tidak karuan.


“Semuanya akan baik baik saja. Percayalah.” Mino yang sejak tadi berada di samping Lysa itu kembali meyakinkan gadisnya.


Ia tahu, in pasti hal yang berat untuk Lysa. Luka yang pernah ibunya goreskan pada Lysa, dan ingatan buruk yang Lysa miliki tentang ibunya, pasti sangat mencekat dalam hidup Lysa dan memberikan banyak peneritaan untuk Lysa selama ini. namun, sepanjang Mino mengenal Lysa, Lysa adalah sosok wanita yang sangat tegar dan dewasa. Lysa sangat menyayangi ayahnya sampai membuat mimpi yang besar bersama sang ayah. dan ketika ayah yang begitu gadis itu sayangi dihianati oleh ibu kandungnya yang telah melahirkannya di dunia, di situlah ambang kehancuran hidup seorang Kim Lysa. Lysa merasa seolah olah semua hal yang terjadi dalam hidupnya berantakan. Sejak hari di mana Lysa menjadi saksi perselingkuhan ibunya, hidup Lysa telah hancur berkeping keping. Namun gadis itu mencoba tegar dan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dari semua luka yang mencekatnya. Sampai akhirnya Lysa tumbuh menjadi wanita yang tegar dan memiliki pemikiran serta kepribadian yang sangat dewasa, yang berhasil membut Mino jatuh cinta padanya meski keduanya bertemu belum lama.


Awalnya Lysa kembali mreasa ragu untuk berhadap hadapan kembali dengan ibunya. Mengingat di hari pertama, ketika ia datang ke tempat ini bersama Brian, dan akhirnya Lysa tidak bisa masuk karena tak dapat melawan segenap rasa dan beban yang beradu dalam benaknya. Lysa lagi lagi merasa tidak sanggung untuk bertemu dengan sang ibu ketika tiba di depan pintu ruang rawat sang ibu dan sang adik di rumah sakit.


Tapi, keberadaan Mino menjadi alasan tersendiri untuk Lysa merasa lebih kuat lagi. Saat itu Lysa memang begitu kalut sampai sampai ia tidak sanggup untuk bertemu dengan ibu dan akhirnya hanya Brian yang masuk. Kali ini, Lysa memiliki alasan untuk menjadi lebih kuat dan tegar lagi untuk berhadapan dengan ibunya. Karena Lysa kemari bersama Mino. Dan Mino adalah sumber kekuatan terbesar Lysa di saat semua ingatan buruknya di masa lalu kembali menyayat nyayat hatinya yang masih sangat rapuh.


“Aku takut jika aku nanti tidak bisa menahan emosi di hadapan ibuku,” ucap Lysa mengungkapkan kekhawatiran terbesarnya pada Mino. “Selama ini aku merasa marah setiap kali mengingat ibu. Selain merasa marah, aku juga merasakan kekecewaan yang sangat dalam. Marah, kecewa, luka, takut, dan masih banyak lagi emosi yang kurasakan, yang sewaktu waktu bisa meledak di hadapan ibuku. Aku bagaimana? Ayah berpesan padaku, bahwa apa pun yang terjadi dia adalah ibu yang melahirkanku, dan aku tidak boleh membencinya. Tapi, aku tidak tahu kenapa aku seperti ini.”


Tatapan Lysa terasa sangat kalut, menatap Mino yang masih berdiri di sampingnya. Lysa memperlihatkan raut wajahyang sangat pilu saat ini. apa yang ia rasakan dan semua perasaan yang berkecimpung di dalam dada serta kepalanya, seolah tergambarkan lewar raut wajah dan juga tatapannya pada Mino. Membuat Mino dapat merasakannya. Mno dapat merasakan semua yang dirasakan Lysa di dalam hatinya. Rasa marah, kecewa, takut, dan semuanya ... Mino seolah olah dapat merasakan semua emosi itu hanya karena ia menatap Lysa dalam dalam. Laki laki itu tengah menyelam ke dalam hati Lysa untuk merasakan semua emosinya.


Di saat kekhawatiran dan kragu raguan memuncak, tidak banyak yang bisa dikatakan Mino untuk meyakinkan Lysa. Bagaimana pun, kecemasan Lysa saat ini adalah karena luka batin yang pernah Lysa peroleh akibat apa yang ibunya lakukan di masa lalu. Dan semua itu mungkin akan lenyap ketika Lysa dapat berhadapan langsung dengan ibunya.


Tentunya Mino dapat mengerti mengapa ayah Lysa berkata bahwa apa pun yang terjadi, Ibunya Lysa tetaplah menjadi ibu yang melahirkan Lysa di dunia ini dan mengasuhnya. Mino, sebagai seorang anak dan juga sebagai seorang laki laki yang nantinya akan menjadi ayah untuk anaknya, merasa sependapat dengan ayah Lysa yang berkata demikian. Bagi Mino, seburuk apa pun luka yang diberikan oleh seorang ibu kepada anaknya, fakta yang tidak dapat berubah adalah bahwa anak itu telah lahir dari ibu yang memberinya luka ketika dewasa. Namun, disamping semua luka yang seorang ibu goreskan, perasaan seorang ibu terhadap anaknya tidak pernah berubah. Apalagi jika mendengar cerita Lysa semalam tentang ibunya. Di mana Lysa bercerita tentang bagaimana ibunya selama ini menunjukkan kasih sayang yang besar kepadanya dan kepada ayahnya, meski berakhir menghianatinya. Bagaimana pun, perselingkungan ibunya memang bukan hal yang dapat dibenarkan. Namun kasih sayang yang pernah sang ibu berikan juga bukan hal yang dapat dilupakan dengan mudah. Lysa dapat menjadi seseorang yang seperti sekarang, tidak lain dan tidak bukan karena asuhan ibu dan ayahnya sejak ia bayi sampai akhirnya semua kejadian buruk itu terjadi. Dan faktanya, Lysa tidak hanya dibesarkan oleh ayahnya seorang, melainkan ia juga dibesarkan oleh ibunya dengan segenap kasih sayang yang ibu berikan. Meski pun itu semua berakhir dengan penghiantaan.


Terlalu panjang jika Mino mengatakan semua itu di tengah kedadaan yang begitu genting sebelum Lysa masuk ke dalam ruang rawat ibunya dan berhadapan langsung dengan sang ibu. Dan di saat ini, yang Lysa butuhkan bukanlah ceramah panjang yang justru membuat Lysa akan merasa semakin bersalah kepada sang ibu. Satu satunya hal yang gadis itu perlukan untuk bisa melawan semua kecemasan yang dia rasakan saat ini adalah ... keyakinan.


Mino tak banyak berkomentar untuk menenangkan hati Lysa dan membuatnya merasa yakin untuk masuk. Yang Mino lakukan hanyalah mengganggam tangan Lysa dengan hangat, menatapnya penuh keyakinan dan berkata, “Kamu bisa, Kim Lysa. Kamu bisa melakukannya, apa pun yang terjadi.”


Dua kalimat singkat yang Lysa dengarkan dari Mino itu berlaku seperti sebuah sihir untuk Lysa. Hanya dengan mendengarkan kalimat itu, Lysa merasa lebih tenang. Lysa merasa mendapatkan kekuatan besar dari tempat yang tidak dapat ia prediksi, begitu mendengar Mino berkata demikian. Lysa merasakan kecemasannya yang berangsur angsur lenyap dari benaknya. Lysa mendapat keberanian baru untuk bisa berhadap hadapan dengan sang ibu, seperti yang diharapkan ayahnya.


Kepala Lysa pun mengangguk angguk. Sekali lagi, ia menarik napas panjang panjang dan mengembuskannya dengan sangat perlahan. Sambil memegangi gagang pintu, Lysa menoleh ke arah Mino, menatapnya dengan yakin. Dan begitu Mino menanggapi tatapan Lysa itu dengan anggukan kecil dan juga senyuman, barulah Lysa menekan pegangan pintu dan mulai masuk ke dalam ruangan ibunya diikuti Mino di belakang.


Begitu Lysa masuk ke dalam ruangan, pemandangan yang tersaji adalah ibu Lysa yang sedang duduk bersandar di atas ranjang rawat pasien dan sedang menyusui bayinya di pelukan. Dan tepat di sebelahnya, duduk di atas kursi yang letaknya di samping kanan ranjang, terlihat seorang laki laki berusia akhir tiga puluhan yang tidak lain adalah suami baru ibunya, alias ayah tirinya.


“Ooh? Lysa...”


Wanita paruh baya yang memakai baju pasien berwarna biru muda lengkap dengan peralatan kesehatan yang masih menempel di tubuhnya, yang tidak lain adalah ibu Lysa itu tampak terkejut melihat kedatangan Lysa bersama seorang laki laki di belakangnya. Saking terkejutnya sang ibu, bayi yang ada di pelukannya mulai menangis ia tidak menyadari itu.


Untuk sejenak tubuh Lysa masih membeku. Tatapannya menjadi kosong dan otaknya tidak dapat berpikir apa apa. Selagi sang ibu mencoba menenangkan bayi di pelukannya bersama suami muda yang membantunya itu, Lysa masih membengong dengan pikirannya yang kosong.


Lysa tidak yakin apa yang ia rasakan saat ini. hatinya mendadak kosong, begitu pun pikirannya. Tidak ada hal lain yang ia pikirkan kecuali ingatan itu yang kembali terlintas. Ya, ingatan tentang perselingkuhan yang ibunya lakukan. Ingatan yang terus sja menggerorogoti hati Lysa dan membuatnya benar benar tak berdaya. Lysa masih mengingat dengan baik ketika ibunya bercumbu dengan laki laki yang duduk di sebelah ranjang itu, laki laki yang belasan tahun lebih muda dari ibunya, yang naasnya menjadi ayah tiri Lysa.


Awalnya Mino berdiri sedikit di belakang Lysa karena ingin membiarkan Lysa merasa bebas da tidak terbebeni. Namun melihat Lysa yang mendadak menjadi bengong dan kehilangan fokus itu membuat Mino khawatir. Selama beberapa detik Lysa tak bergerak dan juga tak berkutik. Mino yang merasa khawatir terhadap Lysa, mulai merangkul kedua bahu Lysa untuk menyadarkan Lysa dari lamukan. Dan begitu Lysa tersadar dari semua bengongnya akibat rengkuhan tangan Mino pada bahunya, Mino sedikit membungkukkan badan untuk menyapa ibu Lysa yang duduk di atas ranjang pasien.


“Annyeonghasimnikka, Eomoni (Ibu).” Mino menyapa ibu Kim sambil membungkukkan tubuh dengan sopan.


Di atas ranjang itu, ibu Kim alias ibu Lysa terlihat bingung menatap Mino yang baru pertama kali ini ia temui. Karena ingin menyapa kedatangan sang putri, ibu Kim pun menyerahkan bayinya pada sang suami. Si suami itu pun segera menidurkan putranya ke dalam ranjang bayi yang ada di dalam ruangan itu. Lantas berjalan keluar, melalui Lysa yang menundukkan kepala dalam dalam, dan sekilas bertatap tatapan dengan Mino.


Di ruangan itu hanya terdapat ibu kim, bayinya yang masih berusia beberapa hari, Mino, dan juga Lysa. Begitu ayah tiri Lysa berjalan keluar dari ruangan itu, suasana canggung sontak memenuhi ruangan.


“Lysa, akhirnya kau datang juga. Ibu sangat merindukanmu, Nak. Apa kau baik baik saja bersama ayahmu? Kenapa sekarang kau kelihatan begitu kurus? Apa kau tidak suka makanan Korea? Atau, kau tidak kerasan tinggal di negara itu?” Ibu Kim yang terlihat merindukan putrinya itu mulai mengajaknya bericara. Dari tatapannya yang hangat itu, Mino dapat menilai bahwa ibu Kim tampak sangat merindukan Lysa.


Sejak hari perceraiannya dengan ayah Lysa dan saat itu juga Lysa pindah ke Korea Selatan, ibu Kim tidak bertemu Lysa sama sekali. Dan wajar saja jika beliau terlihat sangat merindukan putrinya. Meski pun selama ini ia sangat merindukan Lysa dan penasaran bagaimana kabar putri satu satunya di Korea, ibu Kim tidak dapat menghubungi Lysa. Alasannya adalah karena ibu Kim merasa tidak sanggup dan tidak pantas untuk sekadar menelepn putrinya. Mengingat betapa besar luka yang ibunya goreskan pada Lysa, Ibu Kim sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menelepon Lysa dan menanyakan bagaimana kabarnya di Korea sana. Yang dapat ia lakukan adalah menunggu dan bersabar sampai Lysa memaafkannya dan mendatanginya seperti ini. Walau sebenarnya mendapatkan maaf dari Lysa pun sepertinya mustahil mengingat betapa hancurnya hidup Lysa akibat apa yang Ibu Kim lakukan dengan selingkuhannya itu.


Mendengar semua pertanyaan yang terlontar dari ibunya saat pertama kali melihatnya setelah sekian lama tidak bertemu itu, ingin sekali Lysa menjawab dengan jawaban jawaban yang dapat memuaskan hatinya, jawaban yang mungkin akan menjadi luka untuk didengar seorang ibu. Dan karena Lysa tak ingin melakukannya, gadis itu lebih memilih untuk diam dan tak memberikan jawaban apa pun pada ibunya.


Melihat sikap Lysa yang seperti itu, sang ibu mengerti dengan baik bahwa Lysa masih memendam amarah yang begitu besar untuknya. Dan itu juga membuktikan bahwa Lysa belum bisa memaafkan ibunya.


“Kalau boleh tahu, siapa namamu, Nak?”


Lysa yang berdiri di sebelah Mino itu masih diam membeku dan tak mau bertatap tatapan dengan ibunya. Ibu Kim pun mengalihkan pembicaraan untuk menanyakan siapa laki laki yang datang bersama Lysa itu. Dari gelagat keduanya, ibu Kim menduga bahwa laki laki itu adalah kekasih Lysa. Dan membayangkan Lysa memiliki seorang kekasih yang sangat tampan dan terlihat baik itu, membuat benak ibu Kim terasa sangat lega. Karena paling tidak, meski pun Lysa memiliki ibu yang buruk, gadis itu memiliki laki laki yang baik dan terlihat sangat menyayanginya.


“Perkenalkan, saya Han Mino, kekasih ... tidak, calon suami Lysa.” Begitu Mino memperkenalkan diri, dan itu membuat ibu Kim tampak terkejut.


Lysa sendiri pun merasa terkejut. Ia langsung menaikkan pandangannya pada Mino yang memperkenalkan diri di hadapan sang ibu sebagai calon suami Lysa. Dan tanpa sengaja, ketika pandangan Lysa menaik, ia bertatapan sekilas dengan ibunya. Ternyata, ibunya terlihat semakin tua. Padahal belum genap satu tahun Lysa hidup terpisah dari sang ibu, tapi Lysa merasa ibunya sudah terlihat semakin tua. Kerutan di wajah sang ibu semakin terlihat. Itu membuat Lysa sedikit merasa bersalah karena telah membencinya. Terlepas dari apa pun yang ibunya lakukan, Lysa merasa bersalah karena telah membencinya dalam waktu lama.


Ibu Kim menatap Mino dengan hangat. Lalu tersenyum.


“Meski pun Lysa memiliki ibu yang sangat buruk sepertiku, setidaknya dia bisa memilih laki laki yang baik untuknya,” kata Ibu Kim yang seketika membuat Mino merasa tidak enak. Dan tidak hanya Mino saja yang merasa tertusuk mendengar hal itu, tetapi Lysa juga merasakannya.


Kata kata yang dilntarkan Ibu Kim itu adalah kalimat yang menggambarkan seberapa besar rasa bersalah dan penyesalahannya karena telah melukai anaknya, Lysa. Seberapa besar luka yang telah Lysa rasakan, lebih besar luka yang dirasakan sang ibu yang begitu menyayangi putrinya. Karena tidak mudah bagi seorang itu berkata bahwa dirinya adalah ibu yang sangat buruk untuk putrinya.


“Tidak, Eomoni.” Mino yang mendengar itu segera menyanggah kata kata Ibu Kim. Dan ibu Kim hanya tersenyum.


“Kau sopan juga rupanya.” Gumamnya pelan sambil mengamati wajah Mino. “Namamu tadi, Han Mino?” Tanya ibu Kim.


“Benar. Saya Han Mino.”


“Aku berharap kau bisa menjaga putriku dengan baik di sana. Sayangilah Lysa dan jangan pernah melukainya. Hidup Lysa sudah cukup berat karena memiliki seorang ibu yang buruk dan payah, jadi kau jangan sekali kali melukai Lysa. Ini adalah pesanku untuk laki laki yang ingin menjadi suami untuk Lysa di masa depan.”


Tutur lembut dari ibu Kim itu seperti sengatan listrik yang membuat air mata Lysa otomatis mengalir. Lysa menangis sambil menundukkan kepala dalam dalam. Karena tangisan itu terasa sangat menyakitkan, yang bisa Lysa lakukan hanyalah berpegangan pada Mino supaya dirinya tidak terjatuh.


“Saya akan mengingat pesan Anda, Eomoni.” Mino pun menjawab dengan yakin, sembari memegangi tubuh Lysa yang sangat lemah.


Melihat putrinya menangis, Ibu Kim ikut meneteskan air mata. Namun ia tidak bisa berbuat apa apa karena Lysa sudah terlanjur membencinya.


“Lysa ya,” panggil Ibu Kim kepada Lysa yang masih larut dalam tangisannya. Lysa hanya dapat memeluk tubuh Mino untuk menyembunyikan tangisnya dari sang ibu. Dan mendengarkan suara lembut ibunya di atas ranjang.


Sambil menangis pelan Ibu Kim mengatakan beberapa hal kepada Lysa.


“Ibu tahu, kau pasti sangat membenci ibu. Kau pasti sangat marah pada ibu dan sangat hancur karena ibu. Ibu tau kesalahan yang ibu lakukan itu tidak bisa dimaafkan. Jangan pernah memaafkan ibu, Lysa. Hiduplah bahagia dengan laki laki yang kau sayangi dan jaga ayahmu supaya berumur panjang. Maafkan ibu karena tidak bisa menemanimu lagi. Dan satu hal yang perlu kau tau.” Sejenak ibu Kim menjeda kalimatnya. Ia lantas bertatapan dengan Lysa yang sejak menatapnya sambil menangis. “Kau tidak perlu khawatir, Lysa. Kau sudah tumbuh dengan baik berkat ayahmu. Sejak kau bayi, kau menuruni sifat ayahmu. Meski pun aku melahirkanmu, kau sama sekali tidak sepertiku, Lysa. Kau tidak perlu khawatir, karena kau seperti ayahmu, yang penyayang dan sangat setia.”


Tangisan Lysa pecah seketika itu. Lysa yang sebelumnya telah meneteskan air mata itu menangis semakin deras akibat kata kata ibunya.


Jujur, satu hal yang paling Lysa takutkan di dunia ini. ia takut jika nanti ia menjadi seperti ibunya, yang berselingkuh dan menghianati laki laki yang sangat menyayanginya dan bahkan putrinya. Lysa mengingat dengan baik ungkapan ‘darah lebih kental daripada air’, yang artinya tingkah laku seorang anak tidak akan jauh berbeda dari orang tua yang mengasuhnya. Dan itu membuat Lysa merasa sangat takut pada dirinya sendiri dan masa depan. Bagaimana pun, ingatan Lysa tentang perselingkuhan ibunya itu sangat membekas dan mencekam. Ia sungguh takut pada dirinya jika saja nanti di masa depan ia akan melakukan hal yang sama. Namun, mendengar kata kata ibunya itu, Lysa merasa sangat lega seolah olah beban terbesar yang ia rasakan selama ini terangkat begitu saja. Lysa yang banyak merasakan kecemasan itu merasa sangat lega namun itu membuat tangisannya semakin deras dan tidak terkendali.


Untuk saat ini Lysa maish menangis di pelukan Mino. Namun, setiap detik yang Lysa lalui terasa semakin menyakitkan karena ada ibunya. Hingga akhirnya, sambil menangis tersedu sedu itu Lysa berlari keluar dari ruang rawat sang ibu. Berlari menjauh darinya untuk mencari ketenangan selama beberapa waktu. Mino yang tertinggal di ruangan itu, merasa harus menyusul Lysa untuk ikut menenangkannya.


“Permisi sebentar Eomoni.”


Sambil membungkukkan badan Mino meminta izin. Kemudian laki laki itu ikut berlari keluar ruangan. Dan begitu keluar, terlihat sosok ayah tiri Lysa yang tampak muda itu duduk di atas kursi tunggu di depan ruangan.


Di saat Mino kebingungan menebak ke arah mana Lysa berlari, sang ayah tiri itu menunjuk ke arah selatan dan berbicara, “Lysa pergi ke sana, ke arah kolam,” dalam bahasa inggris karena mengerti bahwa Mino tidak bisa berbahasa Indonesia.


“Thank you,” sahut Mino lalu segera berlari ke arah yang ditunjuk oleh ayah tiri Lysa. Mino berlari kencang untuk menyusul Lysa. Dan begitu tiba di kolam, terlihat sosok Kim Lysa yang sedang duduk berjongkok di antara pot bunga di pinggiran kolam ikan. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut dan menangis tersedu sedu dengan begitu pedihnya. Mino yang melihat hal itu, melangkah pelan menghampiri Lysa. Memeluk tubuh Lysa yang membuat Lysa seketika duduk di atas lantai karena kakinya yang semakin lemas.


“Tidak apa apa, Lysa. Semua akan baik baik saja.” Mino berucap. Lysa yang mendengar kalimat itu dari Mino, sontak memeluk laki laki itu dan memecahkan tangisan di depan dadanya. Membasahi pakaian Mino dengan air matanya yang telah terbendung dalam waktu lama.


**