Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Malam terakhir, matahari terbit keesokannya



“Augh, sakit. Pelan-pelan saja, Ajeossi.”


Yebin mengernyit kesakitan sambil berjalan terpincang-pincang dengan dibantu Yul. Wanita itu baru turun dari mobil. Berjalan menuju pintu masuk rumah sakit dengan dipapah Yul yang menyangga tubuh Yebin yang tak seimbang dan terpincang-pincang. Tangan kanan Yul memegangi pinggang Yebin sementara tangan kirinya memegangi kedua highheels Yebin yang baru dilepas. Karena highheels tersebut, pergelangan kaki Yebin cedera. Wanita itu keseleo ketika menuruni undak-undakan ruang resepsi pernikahan seselesainya acara.


“Permisi, tolong rawat dia. Kakinya keseleo.” Yul menyeru pada perawat yang ada di IGD. Dua orang perawat bergerak dengan cekatan dan membantu Yebin berjalan menuju ranjang pasien.


“Kapan keseleonya?” tanya seorang perawat yang mempersiapkan data pasien.


“Tidak lebih dari setengah jam lalu,” jawab Yul.


“Kakinya Nona ini harus difoto X-Ray dulu, Walinya silakan isi data-data pasien dan mengurus di bagian administrasi.” Perawat tersebut berkata sambil mengarahkan Yul menuju meja IGD dan mengurus administrasi. Sementara Yebin yang terbaring di atas ranjang sedang diperiksa apakah ada luka lain di tubuhnya yang perlu di rawat.


Yul mengisi data-data pasien dan memenuhi prosedur administrasi sementara Yebin tengah dilakukan pemeriksaan X-Ray untuk diketahui apakah ada keretakan di persendian.


Setelah pria itu selesai mengisi data, Yebin masih belum keluar dari ruang radiologi. Tepat sepuluh menit kemudian, Yebin pun kembali ke IGD dengan diantarkan dua orang perawat wanita dan satu dokter.


“Bagaimana keadaannya? Apa cederanya parah?” Spontan Yul bertanya kepada dokter yang selesai memeriksa hasil X-Ray pergelangan kaki Yebin.


“Untungnya cedera tidak parah. Hanya ada sedikit keretakan di persendian. Ini akan cukup hanya dengan di-gips. Mohon tunggu sebentar agar perawat kami menyiapkan gipsnya,” ijar dokter tersebut.


Selesai memastikan keadaan Yebin, Yul mengembuskan napas panjang. Ia pun mendekat ke arah ranjang IGD yang ditiduri Yebin. Menutup tirat di sekeliling ranjang. Kemudian duduk di kursi yang disediakan di samping ranjang pasien.


“Apa sangat sakit?” tanya Yul khawatit melihat Yebin yang terbaring di atas ranjang.


Yebin pun beranjak duduk. Ia duduk dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran belakang. Mendapati pergelangan kaki kanannya yang bengkak.


“Hm. Sakit.”


“Kenapa kau tidak berhati-hati? Harusnya kau lebih berhati-hati karena menggunakan highheels.” Yul mengomel pelan pada Yebin yang terluka seperti ini karenanya.


“Bukannya tidak hati-hati. Hanya saja ini pertama kali aku menggunakan highheels setinggi itu,” sahut Yebin yang terdengar seperti gerutuan.


“Kalau begitu kau bisa bilang padaku. Aku bisa mencarikan sepatu yang lebih pendek.” Pria itu lanjut mengomel.


“Sudahlah. Kakiku sudah sakit jadi berhenti menyakiti telingaku,” rutuk Yebin yang tidak ingin lagi mendengar pria itu mengomel.


Yul mengembuskan napas panjang-panjang. Dengan nada suara yang penuh rasa bersalah ia berucap, “Maafkan aku. Kau mengalami semua ini karenaku. Kau juga terluka seperti ini karenaku. Maafkan aku.”


Yebin mendengar Yul yang meminta maaf dengan rasa bersalah yang dalam.


“Jadi, bagaimana jawaban Ajeossi?” sahutnya tiba-tiba.


Pandangan Yul sontak menaik.


“Tadi kau berjanji akan memberiku jawaban begitu resepsi itu berakhir. Jadi, apa jawabanmu, Ajeossi?” Yebin memperjelas pertanyaannya.


Beberapa waktu Yul terdiam. sebenarnya ia masih bimbang memikirkan perasaannya sendiri. ia tidak tahu apakah dirinya itu benar mencintai Yebin atau sekadar menyayanginya sebatas adik.


“Tidak apa-apa, Ajeossi. Dari awal aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar jawabanmu itu. Entah itu hal yang akan menyakitkan. Aku sudah mempersiapkan diri mendengarnya.” Yebin melanjutkan.


“Aku menyayangimu, Kang Yebin. Tapi bukan rasa sayang seperti itu. Selama ini aku menganggapmu sebagai adik perempuanku.” Yul mengucapkannya hati-hati.


Yebin yang mendengar penolakan itu, tersenyum getir merasakan pahitnya perkataan Yul.


“Pada akhirnya kau tetap menolakku. Apa karena usiaku yang masih terlalu muda untuk bisa menjadikanmu kekasih? Atau, Ajeossi sudah memiliki wanita lain?”


Yul seketika menggelengkan kepala. “Tidak. Tidak begitu. Aku hanya merasa kita tidak cocok.”


“Tapi kenapa malam itu kau membalas ciumanku?” tanya Yebin spontan.


Sejenak terdiam Yul menjawab, “Itu... itu aku tidak yakin. Tapi, bisa dikatakan itu adalah reaksi tubuhku yang terjadi begitu saja.”


“Ciumlah aku sekali lagi, Ajeossi. Sebagai ucapan selamat tinggal, ciumlah aku untuk terakhir kalinya. Setelah itu aku akan melupakan semua perasaanku padamu. Meski kutahu itu tidak mudah.” Yebin berucap dengan berani.


Yul mempertimbangkan ucapan Yebin dalam waktu cukup lama. Kemudian ia beranjak dari duduk. Mendekat ke arah Yebin dan mencium bibirnya. Yul mencium Yebin sebagai mana mestinya. Memegangi kepala Yebin dan melumat bibirnya dengan hangat dan lembut.Ciuman mereka berjalan selama beberapa saat sebelum akhirnya seorang dokter datang untuk memasangkan gips di kaki kanan Yebin.


Ini semua sudah berakhir. Dengan adanya ciuman itu. Semuanya sudah berakhir.


***


“Yebin~a!”


Suara teriakan seorang pria membuat Yebin keluar dari rumah. Wanita itu berjalan terpincang-pincang sambil menyakui dompet. Di depan gerbang terlihat Hun yang sedang menunggu Yebin keluar.


Yebin membuka gerbang rumah dan berdiri di depan Hun yang langsung datang setelah ditelepon


“Maaf, Oppa kalau aku merepotkan. Ibuku sedang pergi ke pasar dan aku perlu membeli sesuatu di toserba. Rasanya susah kalau aku ke toserba sendirian dengan kakiku yang seperti ini.” Yebin berucap dengan nada suara penuh rasa bersalah.


Seketika Hun menggeleng. “Tidak. Tidak apa-apa. Kau bisa memanggilku kapan pun jika membutuhkan sesuatu. Kebetulan aku sedang bosan di rumah.” Hun tersenyum memperlihatkan lesung di pipi kirinya. “Ayo, aku akan mengantarmu ke toserba. Ah! Kau tidak perlu ke toserba. Aku akan membelikan apa yang kau butuhkan. Katakan apa itu, aku akan belikan.”


“Tidak, tidak.”


“Temani saja aku ke sana.”


“Baiklah.”


Hun mulai mengalungkan tangan kanan Yebin ke atas lehernya. Membantu wanita itu yang berjalan terpincang-pincang dengan balutan gips yang berat. Mereka berjalan pelan kurang lebih seratus lima puluh meteran. Lalu tiba di toserba yang terlihat sangat sepi saat pagi hari.


Yebin melepaskan tubuhnya dari Hun begitu tiba di depan toserba. Wanita itu berjalan masuk sendirian sementara Hun menunggu di depan toserba sambil terduduk mengamati keadaan sekeliling.


Wanita itu berjalan ke rak di mana pembalut ditata rapi. Sebelum memilih salah satu pembalut tersebut untuk dibelinya, ia melirik ke arah Hun. Memastikan lelaki itu tidak melihat apa yang dibelinya. Setelah selesai memilih, ia pun pergi ke kasir dan melakukan pembayaran.


“Oppa.”


“Kau sudah selesai?”


Tubuh Hun spontan berdiri melihat Yebin yang sudah membeli apa yang dibutuhkannya. Laki-laki itu melihat Yebin yang mengangguk-angguk.


Di depan pintu masuk toserba itu Yebin terlihat kelelahan. Berjalan sejauh seratus lima puluh meter dengan kaki yang seperti itu memang melelahkan. Meski ia telah dibantu Hun, tetap saja itu melelahkan.


Tanpa diduga Hun berjongkok di depan Yebin. Memperlihatkan punggungnya yang lebar dan kokoh.


“Naiklah. Aku akan menggendongmu sampai rumah.”


“Ha? Tidak apa-apa, Oppa. Aku baik-baik saja. tuntun saja aku seperti tadi. Kau tidak perlu menggendongku,” jawab Yebin spontan.


“Cepatlah naik. Atau aku akan meninggalkanmu di sini,” sentak Hun yang membuat Yebin tidak punya pilihan lain.


Yebin pun mulai menempatkan tubuhnya di punggung lebar Hun. Memosisikan diri dengan nyaman di punggung pria itu. Ini adalah pertama kalinya Yebin digendong di punggung oleh laki-laki. Pria terakhir yang menggendong Yebin seperti ini adalah ayahnya, yang sudah lama meninggal.


Dengan Yebin yang ada di punggungnya Hun mulai berjalan menjauhi toserba. Kedua tangannya mengalung ke belakang memegangi kaki Yebin. Sementara tangan Yebin yang membawa keresek belanjaan, mengalung leher Hun. Tanpa disengaja Hun pun melihat sesuatu di dalamnya dan terkekeh.


“Jadi itu yang ingin kau beli sampai harus repot-repot pergi ke toserba sendiri?” celetuk Hun yang seketika membuat Yebin menutup keresek belanjaannya rapat-rapat.


“Kenapa Oppa mengintip?” protesnya.


“Aku tidak mengintip. Hanya saja mataku masih berfungsi dengan baik untuk melihat.”


“Itu sama saja mengintip.”


Hun terkekeh-kekeh. Ia berjalan pelan membawa tubuh Yebin yang tidak begitu berat di punggung.


“Kenapa kau tidak memanggil kakakku? Biasanya, saat ada yang kau butuhkan, kau lebih dulu memanggil kakakku. Kenapa kau tidak melakukannya?” Hun bertanya pelan di sela berjalannya.


“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kalau dia sedang sibuk.”


“Bukan karena kalian bertengkar?”


Hun mengingat tiga hari lalu di mana Yebin dan Yul tampak seperti sedang bertengkar di halte dekat gedung pernikahan. Pada saat itu juga Hun tahu kalau Yebin sudah pernah menyatakan perasaannya pada Yul. Meski kelihatannya hal itu tidak berakhir baik melihat bagaimana Yebin menghindari Yul seperti ini.


“Ti... tidak kok,” dusta Yebin.


“Kalau tidak, apa perasaanmu ditolak oleh kakakku? Sehingga kau menghindarinya seperti ini. Hubungan kalian juga tidak terlihat baik akhir-akhir ini.”


Yebin terdiam mendapati Hun yang ternyata tahu hal itu.


“Ajeossi menceritakannya padamu?”


Kepala Hun otomatis menggeleng.


“Tidak mungkin dia menceritakan hal ini padaku. Aku mendengar percakapan singkat kalian di halte. Dan kau selama ini menunjukkan perasaanmu pada kakakku dengan begitu jelas. Sangat aneh kalau aku tidak tahu kau menyukainya di saat kau sendiri menunjukkannya sejelas itu.”


Mengerti, Yebin menyengirkan hidungnya dan menggumam, “Ah, begitu rupanya. Aku tidak sadar kalau menunjukkan perasaanku terlalu jelas.”


Hun menguntai senyum misterius.


“Jadi, bagaimana? Dia menolak perasaanmu?”


Napas Yebin yang berembus panjang terdengar di telinga Hun.


“Hm. Dia menolakku. Sepertinya aku yang selama ini salah paham. Sikap Ajeossi yang sangat baik padaku, memperhatikanku, dan menjagaku, bukan karena apa-apa. Dia hanya menganggapku seperti adik perempuan. Dia sama sekali tidak memandangku sebagai wanita. Itulah kenapa dia menolak perasaanku setelah menggantungnya begitu lama. Dasar pria kurang ajar.”


Yebin mengakhiri penjelasannya itu dengan umpatan. Memikirkannya lagi membuat Yebin merasa sedih. Ia berniat melupakan Yul. Tapi, itu sangat sulit karena keduanya yang hidup bertetangga dan selalu bertemu setiap hari.


Ada satu kelegaan di sudut hati Hun ketika mendengengar hal tersebut. Tersenyum di atas penderitaan orang lain. ia tahu ini tidaklah benar. Namun, mendapati dirinya yang kembali memiliki kesempatan, Hun merasa lega. Ia merasa lega karena kakaknya yang menolak perasaan Yebin.


“Ah, aku tidak mau mengingatnya. Aku merasa sangat malu. Pada diriku sendiri dan pada orang yang mendengar ceritaku. Aku sangat malu.”


“Kau tidak perlu merasa malu di hadapanku. Karena aku selalu berada di pihakmu.”


***