Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Ketegaran Kang Yebin



Ketegaran Kang Yebin


Yul Pov


“Bayiku ... telah hilang rupanya.”


Yebin akhirnya mengerti, tentang bayinya yang telah tiada. Bola mata Yebin bergetar. Namun Yebin tak menangis. Ia hanya terdiam lalu mengalihkan pandangannya dariku.


“Oppa, aku ngantuk. Aku tidur dulu,” ungkapnya sambil kembali membaringkan tubuhnya ke atas kasur.


“Baiklah. kau bisa tidur.”


Aku segera beranjak turun dari ranjang tidur. Lalu menyelimuti tubuh Yebin menggunakan selimut tebal.


Baik. Mungkin Yebin perlu mengistirahatkan tubuh maupun pikirannya dengan cara tidur. Aku tahu Yebin pastinya sangat syok. Tapi ia berusaha menutupi itu dariku. Yang justru membuatku bertambah khawatir.


Selesai menyelimuti tubuh Yebin yang sedang bersiap untuk tidur, aku hendak menuju sofa untuk mengambil ponsel. Aku hendak memesankan Yebin makanan untuk ia lahap begitu nanti ia bangun. Namun sebelum aku berjalan meninggalkan ranjang, Yebin menarik tanganku, melarangku pergi.


“Oppa, aku masih kedinginan. Naiklah ke sini bersamaku,” ucap Yebin lirih sambil menahan tanganku.


“Baiklah.”


Tanpa menunggu lama aku segera naik ke atas ranjang ruang VIP yang ukurannya lebih besar dari pada ranjang pasien pada umumnya.


Aku membaringkan tubuh di sebelah Yebin. menyusupkan tubuhku di antara selimut yang Yebin kenakan. Lalu memeluk tubuh Yebin, memberinya kehangatan.


“Kau sungguh baik baik saja?” tanyaku lirih pada Yebin yang ada di dekapanku.


Yebin membalas pelukanku. Mulai memejampkan kedua matanya sambil mengandarkan kepala ke dadaku.


“Hm. Aku baik baik saja.”


Yebin lebih tegar dari yang kubayangkan. Meski sempat merasa ragu, aku mencoba untuk percaya pada yang Yebin katakan. Bahwa ia baik baik saja. bahwa Yebin bisa mengatasi kesedihannya setelah kehilangan bayi dalam kandungannya.


“Sekarang tidurlah. Nanti setelah tidur kamu mau makan apa?” lanjutku menanyai.


“Hm.... Aku mau Jjampong dan Jjajangmyeon, sama minuman Americano.”


“Baiklah. Nanti akan kupesankan itu semua.”


***


Aku ternganga, bersama Hun yang beberapa waktu lalu tiba di rumah sakit untuk menjenguk Yebin. Hun dan aku kini duduk di sofa ruang rawat. Menatap ke arah Yebin yang tengah memakan Jjajangmyun nya dengan begtiu lahap setelah menghabiskan dua mangkuk Jjampong.


“Hyung, apa Yebin sungguh sakit? Bagaimana bisa ia menghabiskan tiga porsi makanan dengan selahap itu?” gumam Hun pelan. ia sama ternganganya sepertiku melihat Yebin yang sednag menghabiskan mangkuk ketiga dari makanan yang beberapa waktu lalu kupesan.


Saat Hun tiba, Yebin sudah terbangun dari tidur. Ia langsung memakan makanan yang kupesankan ketika ia tidur. Untung saja semua makanan yang berbahan dasar mie itu masih hangat dan belum lembek. Jadi Yebin bisa menikmati semuanya tanpa terkecuali.


Namun melihat Yebin makan dengan selahap itu justru membuatku merasa was was. Aku merasa sepertinya reaksi Yebin cukup tidak wajar. Ia baru saja kehilangan bayinya. Sama sekali tidak menangis dan hanya terlihat sedikit sedih. Pun ia makan dengan begitu lahap sampai menghabiskan tiga porsi makanan seorang diri. apa yang terjadi pada Yebin ini justru membuatku merasa khawatir.


“Oppa,” panggil Yebin setelah menghabiskan mangkuk ketiganya.


“Oh, iya, ada apa?” aku segera menyahut.


“Ambilkan aku minum.”


“Baiklah.”


Aku segera beranjak bangkit dari duduk. Berjalan menuju dapur untuk mengambilkan Yebin air minum. Lalu menghampiri Yebin di ranjangnya dan memberikan satu gelas air minum.


“Minumlah perlahan.”


Yebin segera menerima gelas berisi air putih yang aku berikan. Lalu meneguk air itu sampai habis. Setelah itu, Yebin kembali menyandarkan tubuh pada sandaran belakang ranjang. Meraih remote televisi dan menyalakan televisi yang terpasang di dinding ruangan.


“Ada lagi yang kau butuhkan?” tanyaku.


“Tidak ada.”


“Kalau begitu aku keluar sebentar bersama Hun ya. Kalau membutuhkan apa apa, langsung telefon saja aku,” kataku.


Aku beranjak pergi setelah melihat Yebin menganggukkan kepala. Memberi aba aba pada Hun untuk mengikutiku keluar. Ada yang ingin kubicarakan dengan Hun, sebagai sesama laki laki.


Aku berjalan di koridor rumah sakit. Menuju jendela yang ada di ujung. Sesampainya di sana, aku berdiri menghadap Hun dengan raut wajahku yang cemas.


“Apa kau juga berpikir kalau sikap Yebin sedikit aneh?” tanyaku pelan.


Hun tampak berpikir. “Sedikit. Tapi, mengingat seperti apa Yebin di kehidupan nyata, sepertinya tidak begitu aneh. Mungkin dia merasa sedih setelah keguguran. Tapi sedang mencoba meluapkan kesedihannya dengan cara lain, seperti makan melebihi porsi biasanya. Dari yang kudengar, beberapa wanita makan sangat banyak dan makan makanan pedas saat sedih. Untuk meluapkan kesedihan. Mungkin Yebin tadi sedang melakukan itu.”


Penjelasan Hun memang terdengar masuk akal. kepalaku mengangguk angguk, merasa hal itu memang masuk akal.


Benar. Mungkin Yebin hanya ingin meluapkan kesedihannya dengan cara lain. Bukan dengan cara menangis dan meraung raung, tapi dengan cara lain yang tak memperlihatkan seberapa dalam ia bersedih.


“Aku berharap itu benar.”


Keesokan harinya Yebin telah diperbolehkan pulang oleh dokter. Setibanya di rumah, Yebin disambut oleh ibu. Ibu telah menyiapkan sarapan pagi untuk kami bertiga. Sehingga begitu tiba di rumah, kami pun sarapan bersama di rumah itu.


Yebin sudah kembali ceria seperti biasa ketika keluar dari rumah sakit. Ia banyak tersenyum dan juga banyak tertawa. Meski pada beberapa kesempatan, aku mendapati senyum di wajahnya yang terasa sangat hampa.


Meski ia telah kehilangan bayi dalam kandungannya (hal yang pastinya sangat menyakitkan untuk semua ibu di dunia ini), Yebin tetap seperti biasanya. Tertawa cerita dan tersenyum. Bahkan, siang harinya ketika ia baru kembali dari rumah sakit, Yebin mengajakku berbelanja kebutuhan karena mendapati barang barang rumah yang habis. Dan sore harinya, ia berkata padaku bahwa mulai besok ia akan kembali bekerja di Biniemoon. Ia juga berkata ingin mempekerjakan dua orang lagi untuk membantu Somin menjadi karyawan Biniemoon.


Tentu saja aku menyetujui semua keinginannya. Hari ini, hari kepulangan Yebin, aku cuti dari bekerja. siang harinya aku menemani Yebin berbelanja kebutuhan. Lalu sore harinya ia meminta izin untuk menambah karyawan Biniemoon dan segera kusetujui. Kupikir, Yebin akan kesulitan mengerjakan Biniemoon jika hanya dengan Somin. Sehingga aku menyetujui keinginannya untuk mempekerjakan dua orang lagi untuk Biniemoon.


Dari segala sisi, tidak ada lagi yang perlu kucemaskan tentang Yebin. Yebin telah ceria seperti biasa. Ia tak berada dalam kesedihan yang berlarut larut karena keguguran janinnya. Dan, Yebin juga bisa meneruskan kesehariannya dengan biasa tanpa menunjukkan tanda tanda bahwa ia mengalami depresi atau pun trauma.


Aku bersyukur melihat semua itu. yebin jauh lebih tegar dari yang kubayangkan. Aku bisa memercayai Yebin bahwa ia memang baik baik saja.


Seselesainya makan malam, Yebin berkata ingin tidur lebih awal karena badannya capek setelah berbelanja sampai menjelang sore. Ia pun beranjak tidur pada waktu yang masih menunjukkan pukul delapan. Ia juga memintaku untuk ikut tidur di sebelahnya, memeluknya seperti malam malam sebelumnya. Meski sebenarnya aku masih ingin mengerjakan suatu pekerjaan kafe, aku pun menuruti keinginan Yebin. Mengesampingkan semua pekerjaanku, pada waktu yang masih tergolong sore itu aku tidur bersama Yebin. memeluknya dalam dekapan yang hangat. Melihat Yebin terlelap hingga aku pun ikut terlelap.


Tepat pada pukul sebelas aku terbangun. Aku terbangun karena sebelum tidur aku belum sempat menyelesaikan salah satu pekerjaan kafe yang siang tadi dikirim oleh Jisoo~ssi. Sehingga aku terbangun di malam hari untuk memeriksa pekerjaan itu.


Kamar dalam keadaan gelap ketika aku terbangun dengan mengerjap ngerjapkan mataku. Di antara kegelapan yang masih berlangsung ini, kuamati sekeliling. Dan Yebin tidak ada di sebelahku.


Ah, mungkin dia sedang ke kamar mandi. Dengan pemikiran itu aku menengok ke arah kamar mandi yang gelap. Artinya, Yebin tidak ada di kamar mandi.


Atau Yebin merasa lapar dan akhirnya terbangun di malam hari untuk makan? Kadang kala Yebin terbangun di malam hari karena lapar. Benar. Mungkin Yebin sedang lapar.


Dengan pemikiran itu lagi, aku pun beranjak turun dari kamar. berjalan keluar. Mencari keberadaan Yebin yang mungkin sedang ada di dapur. Begitu aku turun, dapur dalam keadaan yang masih gelap. Aku tidak melihat ada tanda tanda keberadaan Yebin di dapur yang gelap itu.


Seketika aku mencemas. Jika di kamar mandi tidak ada dan di dapur pun tidak ada, ke mana Yebin berada di tengah malam seperti ini?


Aku yang masih berada di depan dapur ini seketika terbangun dari semua rasa kantukku. Yang aku pikirkan hanyalah Yebin. di mana Yebin berada di waktu seperti ini. sementara keadaan rumahku semuanya gelap. Seluruh lantai satu gelap. Tidka trlihat tanda tanda keberadaan kang Yebin.


“Yebin~a,” panggilku. Barang kali saja Yebin ada di antara semua kegelapan itu dan mendengarkan panggilanku.


Selama beberapa detik aku tak mendengar jawaban apa pun. Malahan, telingaku menangkap suara suara isakan tangis dari arah dapur yang menggelap.


Jangan jangan ... Dengan memikirkan segala kemungkinan, aku meneruskan berjalan ke arah dapur. Dan, betapa terkejutnya aku melihat Yebin duduk meringkuk di bawah meja dapur sambil memeluk kedua lututnya dan ... menangis.


Lidahku terasa kelu untuk sekedar memanggil Yebin. urat dan nadiku terasa membeku. Jantungku teremas dan seolah berhenti memompa darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Aku begitu saja terjongkok ke atas lantai dan memeluk tubuh Yebin ku yang sedang menangis terisak.


Kukira dia baik baik saja. kukira Yebin tak lagi bersedih. Karena ia selalu tersenyum. Karena ia selalu memperlihatkan bahwa ia baik baik saja. Ternyata, Yebin menangis terisak di belakangku. Tanpa diketahui seorang pun, Yebin meluapkan segala kesedihannya sendirian. Karena ia tak ingin melikatku bersedih ketika ia bersedih.


Tidak peduli seberapa tegarnya seorang ibu, pasti akan menangis setelah kehilangan bayi yang amat di sayanginya. Tidka peduli seberapa tegarnya kang Yebin, ia tetaplah seorang ibu yang baru saja kehilangan bayi yang dikandungnya. Yebin tetaplah seorang ibu meski ia kehilangan bayinya. Yebin memiliki perasaan yang sangat rentan ketika itu berhubungan dengan bayinya. Dan, aku melupakan fakta itu. Aku melupakannya karena terbuai dalam senyum Yebin yang kukira baik baik saja.


Tangis Yebin makin pecah dan keras ketika ia berada dalam pelukanku. Membuat perasaanku tertatih tatih. Hatiku benar benar hancur berkeping mendapati Yebin yang menangis dengan begitu menyesakkannya dalam pelukanku. Dan aku pun hampir ikut menangis. Tapi aku menahan diri. Aku menguatkan perasaankku untuk tidka menangis. Aku harus tetap kuat, supaya bisa melindungi Kang Yebin yang hatinya sedang terguncang setelah ia kehilangan bayi yang dikandungnya.


Aku mengeratkan pelukan. Memberikan kecupan hangat pada wajah Yebin sembari membelai rambut hitamnya.


“Tidak apa apa. Kau bisa menangis sepuasmu, Kang Yebin. jangan menahannya. Jangan pernah menahannya lagi. Benar. Kau bisa menangis sampai kau merasa lega,” lirihku pada Yebin sembari memeluk tubuhnya yang terkulai tak berdaya.


Tangis Yebin kembali mengeras. Di sela sela tangisnya, Yebin melontarkan apa yang selama ini ada di dalam benaknya. Mengeluarkan semuanya sekaligus.


“Aku ibu yang jahat, Oppa. Aku tidak bisa menjaga bayiku dengan baik. Aku telah membuat bayiku hilang dari dunia ini. Aku ibu yang jahat, ibu yang bodoh, karena tidak bisa menjaga bayiku. Oppa, aku harus bagaimana tanpa bayiku lagi? Apa yang harus kulakukan tanpa bayiku? Aku sudah berjanji, akan membelikan pakaian yang paling bagus dan paling mahal untuk bayiku nanti. Aku sudah berjanji, akan membelikannya kereta dorong yang bagus untuknya ketika lahir. Aku ... aku sudah berjanji untuk menjadikanmu seorang ayah. Aku harus bagaimana, Oppa? Apa yang harus kulakukan tanpa bayiku?”


Pertahananku hancurlah sudah. Aku ikut meneteskan air mata mendengar semua ungkapan kesedihan Yebin. aku ikut menangis sembari terus mendekapnya erat di depan dada bidangku.


Sebesar itulah Yebin menanggung rasa sedih selama ini. Sebesar itulah Yebin merasa kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya. Bodohnya aku karena terbuai dalam lekukan Yebin yang diperlihatkannya, tanpa menunjukkan kesedihan yang lebih dalam dari jurang. Bodohnya aku karena menganggap Yebin baik baik saja.


Aku hanya diam, ketika Yebin mengeluarkan seisi kepalanya. Aku hanya diam, ketika Yebin meluapkan segala kesedihannya dalam tangisan yang meraung raung. Aku hanya diam, dan tetap mendekapnya hangat bersama kehangatan tubuhku yang mengalirinya. Sampai tangisnya berhenti. Sampai kantung air matanya mengering karena terlalu banyak menangis.


***