Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kemarahan Terbesar Yul



**Kemarahan Terbesar Yul


Yul Pov**


Kukira pergi menonton pameran seni seorang seniman ternama di Korea hari ini akan membuat stres karena bekerjaku hilang. Yang ada, aku malah dibuat stres gara gara Kang Yebin.


Sebelum berangkat ke mari sudah ku tekankan, agar ia tidak memakai pakaian minim dengan belahan dada yang terlihat dan juga rok mini di atas lutut. Aku menyuruhnya untuk berpakaian yang sedikit panjang dan terttup. Tetapi Yebin tidak mau menuruti kata kataku dan memilih untuk mamkaai pakaian minim karena musim panas di luar menjadi sangat panas dan ia tidak ingin kepanasan jika memakai pakaian lebih panjang.


Setelah melewati perdebatan yang sangat panjang tadi pagi, akhirnya kami berangkat menuju pameran seni. Kang Yebin yang keras kepala itu sampai akhir tidak menuruti kata kataku dan memilih memakai pakaian yang diinginkannya.


Dengan perasaan kesal dan juga was was kami berangkat. Begitu tiba di tempat pameran seni berada, kejadian yang tidaka menyenangkan terjadi.


Kejadiannya seperti ini ...


Aku dan Yebin berjalan turun dari mobil begitu tiba di lokasi gedung tempat pameran seni itu berada. Setelah melakukan check in dan mengikuti semua prosedur masuk, kami berjalan jalan melihat semua lukisan yang perpajang di dinding.


Satu lukisan besar yang ada di sudut selatan ruangan menarik perhatianku. Itu adalah lukisan besar yang memperlihatkan bentuk wajah seseorang. Polesan yang unik dengan menggunakan metode khusus. Juga gorean cat warna warni. Itu membentuk wajah seorang pria yang merupakan seniman legendaris negeri ini. betul. Itu adalah ayahku. Jae Min Chul yang mengadakan pameran lukisan ini menggambar wajah ayahku sebagai role modelnya. Aku memang mengenal pelukis Jae Min Chul yang merupakan murid tersayang ayahku. Kami saling mengenal dan beberapa kali bertemu. Meski sekarang kami tidak pernah bertemu lagi karena kesibukaku mengurusi kafe. Andai juga beliau tau kedatanganku, mungkin ia akan menyambutku dengan hangat.


Kupandanngi lukisan berbentuk wajah ayah. Ada satu sudut dalam hatiku yang memberontak ketika melihat lukisan itu. memberontak karena sebenarnya aku juga seorang pelukis. Jiwaku memberontak dari apa yang aku lakukan sekarang. Semua angan dan imajinasi yang beradu di otakku kian mengendap karena hampir tiga bulan terakhir aku tak lagi melukis. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sebagai pemilik kafe alih alih pelukis. Semua angan yang ada di otakku, yang telah mengendap dan hampir saja tenggelam di telan masa, memberontak ketika aku melihat lukisan ini.


Aku sangat ingin melukis. Aku ingin meneruskan visi ayahku untuk membuat dunia yang berbeda menggunakan lukisan. Aku ingin mengeluarkan semua angan dan imajinasiku dalam bentuk lukisan yang utuh, sebagai pelukis, sebagai seniman hebat yang lahir dari darah pelukis ayahku.


Impianku sejak dulu, dan sampai usia ku yang menjelang tiga puluh enam ini, adalah menjadi pelukis seperti ayahku. Pelukis yang memiliki galeri lukisan sendiri. pelukis yang beberapa bulan sekali menyelenggarakan pameran seni untuk dinikmati banyak orang. Yang sering memberikan ilmu kepada para peserta didik di sekolah kesenian melalui kunjunganku setiap bulan. Serta pelukis yang menyelenggarakan acara lelang lukisan yang hasil dari lelangan itu akan disumbangkan ke berbagai yayasan sosial untuk menujunjang perekonomian masyarakat yang kurang mampu dan membutuhkan.


Itu semua dalah impianku sebagai Moon Yul. Tapi, sekarang aku harus berglut dengan bisnis yang sama sekali bukan menjadi pasion ku. Bagaimanapun aku harus mengelola Moonlight Coffe, untuk meneruskan bisnis yang telah dibangun ibuku dengan bersusah payah. Apalagi aku sekarang sebagai kepala keluarga sekaligus suami. Aku harus mencari nafkah untuk menghidupi keluargaku dan anak anak ku kelak. Meski pun rasanya sangat berat bekerja pada bidang yang bukan menjadi minatku, aku harus melakukannya. Karena sekarang hidupku bukan hanya ada aku, tetapi juga ada Yebin yang menjadi bagian dari hidupku.


Pemberontakan yang aku rasakan ini sangat menyesakkan. Gejolak gejolak yang hadir sebagai pemberontakan dari jiwa pelukisku ini membuat dadaku semakin sesak. Tapi di sisi lain aku juga merasakan ketenangan. Melihat lukisan ini membuat sebagian dari jiwaku tenteram. Seolah aku telah berada dalam duniaku yang sesungguhnya. Bukan sebagai pemilik kafe, tetapi sebagai seniman. Berada di pameran seni ini, menatapi banyak lukisan indah karya seniman ternama negeri ini, membuatku sejenak melupakan semua urusan tentang bisnis yang penuh dengan tangangan dan persaingan.


Cukup lama aku terdiam memandangi lukisan ini. Terdiam dan melamun.


Merasa puas memandangi setiap gorean yang membentuk lekukan wajah ayahku itu, aku pun memalingkan pandangan.


“Yebin~a.”


Aku menyadari jika Yebin tak lagi di sampingku. Ke mana ia pergi? Tidak tidak. Sejak kapan Yebin tidak ada di sampingku?


Aku sampai tidka menyadari jika Yebin telah tidka ada di sampingku lagi. Mungkin lamunanku tentang lukisan itu tadi terlalu larut sampai aku tidak menyadari kepergian Yebin. Padahal beberapa waktu lalu Yebin masih berdiri di sampingku dengan menggandeng lengan kananku. Tatpi sekarang sudah tidak ada. aku tidak tau perginya entah ke mana.


Kang Yebin memang selalu asik sendirian saat aku mengajaknya keluar bersama. Ia senang menikmati kesendiriannya dengan berjalan jalan ke sana ke mari tanpa memedulikan aku yang mencarinya ke semua tempat. Yebin yang bandel itu selalu saja membuatku kerepotan setiap kali kami keluar bersama, entah saat berbelanja di pusat perbelanjaan, saat membeli sayuran segar di pasar tradisional, atah bahkan ketika sedang melihat pameran seni ini.


“Aduh. Ke mana perginya Kang Yebin? Selalu saja dia pergi sendirian tanpaku.”


Dengan merutuk rutuk aku pergi mencari Yebin. di antara banyaknya orang yang ada di tempat pelaksanaan pameran seni ini, aku mencari keberadaan Yebin.


Beberapa kali aku memutar tubuh wanita yang ku kira adalah Yebin, yang ternyata bukan. Hingga sejurus kemudian, aku melihat Yebin tampak asik memandangi lukisan bunga di sisi utara ruangan.


Keberadaanku masih cukup jauh dengan Yebin, kurang lebih sepuluh meter. Di jarak itu, aku melihat seorang orang lelaki bertubuh tambun berdiri di sebelah Yebin.


Melihat itu, seketika aku naik pitam. Kemarahanku langsung memuncak dan aku berjalan secepat mungkin ke arah Yebin.


“Kang Yebin!”


Teriakku yang seketika membuat Yebin tersentak dan langsung berbalik. Lelaki berbaju merah yang berniat melakukan hal tidak senonoh terhadap Yebin pun langsung menurunkan tangannya.


Aku tiba di sebelah Yebin dan langsung merangkul bahunya. Menjauhkan Yebin dari lelaki kurang ajar yang terlihat jauh lebih muda dariku ini. Kami sempat bertatap muka. Ia melihat tatapan penuh amarahku dan perlahan lahan beringsut pergi meninggalkan aku dengan Yebin.


Sekepergian laki laki kurang ajar itu, aku melepaskan rengkuhanku pada pundak Yebin. Amarah dalam kepalaku masih berkobar. Aku tidak bisa lagi membiarkan Yebin memakai pakaian belahan dada terbuka dan juga rok mini.


“Oppa, apa yang terjadi?”


Mungkin Yebin melihat tatapanku yang penuh amarah. Juga mendengar deru napasku yang berat seperti ketika orang sedang menahan kemarahan.


Benar. Aku memang sedang marah. aku marah karena ia tidak mau menuruti kata kataku tadi. Ia tak menuruti ucapanku yang melarangnya memakai pakaian mini dan terbuka seperti itu. Tidak mau mendengarkanku sebagai suaminya. Pergi seenaknya sendiri ketika aku masih melihat lukisan. Jalan jalan sendirian tanpaku. Dan hampir mendapat perlakuan tidak senonoh alias pelecehan seksual dari lelaki kurang ajar tadi. Pelecehan seksual itu memang tidka terjadi karena aku segera menghampiri Yebin dan membuatnya pergi. Tapi ... tetapi lelaki itu terlanjur melihat belahan dada Yebin yang terbuka. Aku marah besar! Aku marah besar karena Yebin terlalu sembrono hingga membiarkan bagian tubuhnya dilihat oleh lelaki lain selain aku. Padahal, yang boleh melihat tubuh Yebin adalah aku. Aku! Karena aku adalah suaminya. Aku yang memiliki Yebin seutuhnya. Berani sekali lelaki muda itu melihat belahan dada istriku?!


Ingin sekali aku mencolok kedua mata lelaki tadi. Tapi, ia sudah terlanjur pergi. Dan aku tidak ingin masuk kantor polisi untuk yang kedua kalinya. Sehingga, yang bisa kulakukan sekarang adalah memarahi Yebin yang sangat sembrono dengan memakai pakaian seperti itu.


“Ayo keluar.”


Tak menunggu lama aku mencengkeram tangan Yebin dan menyeretnya keluar. Padahal belum ada setengah jam kami masuk untuk melihat pameran lukisan, tapi aku mengajaknya keluar. Sungguh. Aku tidak bisa membiarkan Yebin memakai pakaian seperti itu lebih lama lagi.


“Oppa, apa yang terjadi? Kenapa kita tiba tiba keluar? Oppa, oppa.”


Yebin mencoba memberontak. Tapi aku tak mendengar semua perkataannya. Tetap menariknya keluar dari gedung. Berjalan menuju mobil kami yang terparkir di halaman.


Ketika kami masih menuruni undak undakan, Yebin menyentakkan tangannya dengan keras dan akhirnya genggamanku terlepas.


“Oppa, ada apa sebenarnya?!” teriaknya bingung melihat sikapku yang seperti ini.


Tubuhku berbalik. Memandangi Yebin wajahnya bersungut sungut.


“Aku yang harusnya bertanya. Kau itu sebenarnya kenapa?” Aku balas menimpali dengan suara yang sama tingginya seperti Yebin.


“Aku? Memang apa salahku? Apa kesalahan yang kuperbuat sampai sampai Oppa menyeretku keluar seperti ini?”


Aku yang semakin marah, mencoba mengendalikan emosi dengan beberapa kali menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Rasanya ingin sekali lagi aku beteriak. Namun, jika aku berteriak, Yebin akan semakin berteriak dan kami akhirnya bertengkar hebat seperti orang kerasukan.


Yang coba kulakukan adalah mengendalikan emosi. Mencoba berkata kata tanpa berteriak. Mungkin dengan cara itu Yebin bisa mengerti penjelasanku.


Setelah merasa emosiku sedikit terkendali, aku mengembuskan napas panjang.


“Baiklah. Ayo kita bicara. Tapi tidak di sini.”


***