Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Hukuman Kecemburuan



Hukuman Kecemburuan


Yul POV


Aku merasa tidak nyaman, ketika Han Lia mulai mengorek ngorek kehidupan pribadiku. Ini memang pertama kali kami bertemu. Tetapi sikapnya seolah sudah mengenalku selama sepuluh tahun. Aku tidak mengerti apakah sikap itu menjadi hal yang baik atau justru menyebalkan. Hanya saja aku merasa sedikit tidak nyaman dengan pertanyaannya.


“Sepertinya kau tertarik sekali dengan kehidupan pernikahanku dan juga istriku. Tapi, aku datang kemari bukan untuk membicarakannya. Aku datang kemari sebagai pemilik Moonlight Coffe yang ingin melakukan kerja sama kontrak denganmu,” jawabku tegas. benar sekali. aku datang kemari bukan untuk berkenalan dengannya atau bahken menjalin hubungan baik dengannya. Aku datang sebagai orang yang ingin melakukan kerja sama untuk meningkatkan market Moonlight Coffe.


Wajah memberengutnya itu, meski bagi beberapa laki laki adalah ha lyang menggemaskan dan imut, bagiku semakin lama semakin menyebalkan. Namun aku menahan diri untuk tidak memperlihatkan rasa sebalku.


“Hei, setidaknya Oppa bisa menjawab pertanyaanku kan?” ungkapnya. Ternyata Han Lia adalah wanita yang sangat keras kepala. Meski kuyakin tidka ada wanita di dunia ini yang keras kepalanya melebihi Kang Yebin.


Aku hanya tersenyum getir. Tak menjawab pertanyaannya yang seperti memaksa. Hingga sesaat kemudian, manajer Han Lia masuk ke dalam ruangan sambil membawa persyaratan kontrak.


“Ini poin poin persyaratan yang harus terpenuhi untuk bisa bekerja sama dengan Han Lia. Saya harap Tuan Moon membaca dengan seksama dan bersedia mempertimbangkan semua ini,” ungkap manager sambil mengulurkan map berwarna hitam.


Aku menerima map itu. kemudian berdiri dari duduk.


“Nanti siang bisakah Anda bersama Han Lia datang ke Moonlight Coffe yang terletak di Gangnam? Kita perlu membahas beberapa poin lain terkait kerja sama dan hal apa saja yang akan pihak agensi dapat dengan kerja sama ini. Jadi bisakah Anda berdua datang?” kataku.


“Siang pukul berapa?”


“Sekitar jam satu atau jam dua.”


Seketika itu juga manajer mengiyakan.


“Baik. Kami akan ke Moonlight Coffe nanti setelan jam makan siang.”


“Oppa, sebentar lagi kan makan siang? Bagaimana kalau kita bertiga makan siang bersama saja? lagi pula, jadwalku menyanyi di stasiun televisi itu kan nanti sore.” Han Lia menyahut pada managernya. Wanita ini sepertinya memanggil semua laki laki dengan sebutan Oppa.


“Benar. Tapi kalau sekarang ada hal lain yang perlu kuurus bersama presdir.”


“Tidak apa apa. Kalau begitu, aku berangkat ke Moonlight Coffe bersama Tuan Moon saja. Oppa nanti bisa menyusul. Ya?” tawar Han Lia setenah memaksa. Sikap kekanak kanakannya ini membuatku merasa muak.


“Kau ingin begitu. Ya terserah kamu saja.” Manajer yang sepertinya memang sejak awal memanjakan Han Lia itu segera mengiyakan permintaan aktrisnya. “Tuan Moon, saya titip Lia kepada Anda ya? Dia tidak bisa menyetir mobil. saya nanti akan menyusul ke Moonlight Coffe begitu urusan saya dengan presdir agensi selesai.”


Sebenarnya aku merasa berat karena harus bersama wanita yang entah bagaimana terlihat tertarik dengan kehidupan pernikahanku. Tapi, aku tidak punya pilihan lain.


Kepalaku pun mengangguk angguk.


“Baiklah.”


Aku keluar dari ruang artis, diikuti oleh Han Lia yang berjalan di sampingku seperti bayangan. Memakai kaca mata hitamnya yang berbentuk seperti kucing dengan dua sudutnya yang menonjol.


Begitu tiba di basement, aku merogoh saku celana untuk mengambil kunci mobil. kemudian memencet tombol pemanggil sehingga mobilku berbunyi ‘bip bip’ diingingi lampu sen nya yang menyala.


Kunyalakan mobil yang akan membawa kami meninggalkan gedung agensi ini. seketika itu, Han Lia kembali melontarkan pertanyaan, mengajakku berbicara.


“Bagaimana perasaanmu, Oppa?”


Aku heran saja. perasaan beberapa waktu lalu dia memanggilku dengan sebutan Tuan Moon di hadapan manajernya. Dan sekarang, dia memanggilku dengan sebutan Oppa lagi?


“Perasaan apa maksudmu?”


“Ya perasaan Oppa berada di dalam satu mobil denganku. Kebanyakan lelaki yang menjadi pengagumku bahkan rela untuk mengantre berjam jam untuk sekedar menapat tanda tanganku, berfoto denganku, juga bersalaman denganku. Jadi bagaimana perasaan Oppa bisa berada dalam mobil denganku?” tanyanya dengan sangat percaya diri.


Dangkal sekali pemikiran wanita ini. dia membandingkanku dengan para lelaki yang menjadi penggemarnya. Bahkan bertanya seolah olah ia adalah dewi yang diidolakan semua orang tanpa terkecuali.


“Yang kau maksud adalah kebanyakan lelaki. Dan aku tidak termasuk dalam kebanyakan lelaki itu.”


Aku maish berusaha tenang mendengar helaan napas panjang Han Lia. Terdengar sekali desahan kecewanya mendengar ucapanku yang terkesan kaku.


“Oppa itu kaku sekali orangnya. Apa karena kau sudah memiliki istri, jadi kau menjaga jarak dariku?” tanyanya sebal.


“kau akan tahu setelah nanti kau menikah. meski sebenarnya aku juga tidak yakin. Yang pasti, aku berharap ini adalah terakhir kalinya kau membahas tentang kehidupan pribadiku. Aku datang bukan sebagai teman apalagi penggemar, tetapi aku datang untuk bekerja sama denganmu. Aku yang akan memberimu bayaran dan aku membutuhkan popularitas serta bakatmu untuk Moonlight Coffe. Itu saja cukup. Tidka lebih. Berhati hatilah mulai sekarang.”


Aku menegaskannya lagi kepada Han Lia. Bahwa aku datang utuk bekerja sama dengannya. Untuk bekerja sama dalam sebuah perjanjian kontrak antara pemilik kafe dengan penyanyi idola. Aku akan lebih senang jika ia mengerti maksudku dan tidak lagi menanyakan hal hal yang bersifat pribadi. Selain tidak nyaman, aku juga merasa perlu menjaga privasiku atau pun privasi Yebin sebagai istriku. Aku menyadari, bahwa aku adalah pria beristri yang bersikap sebagai suami di mana pun aku berada.


Mobil menjadi sangat hening setelah itu. Han Lia tak lagi menanyaiku mengenai hal hal di luar pekerjaan yang sifatnya pribadi. Kami menempuh perjalanan menuju Moonlight Coffe Gangnam dengan pembahasan pembahasan penting seperti di kota mana saja festival itu akan di selenggarakan, berapa lama kontrak berlangsung, sampai membicarakan konsep pemotretan seperti apa yang ingin diambil sebagai media promosi Moonlight Coffe.


Setelah berkendara selama beberapa saat, aku pun tiba di Moonlight Coffe Gangnam. Seperti yang diduga, Han Lia segera memakai kembali kacamata kucingnya. Merapikan rambut keritingnya yang terurai panjang sebelum akhirnya turun dari mobil.


“Oppa, aku lapar. Kenapa kita tidka mampir dulu ke restoran untuk makan siang?” keluh Han Lia begitu ia turun dari mobil.


“Akan kupesankan makanan lewat layanan pesan antar.”


Begitu memberikan jawaban yang sepertinya tidak memuaskan untuk Han Lia, aku mengunci mobil dengan baik. Lantas hendak berbalik untuk mausk ke dalam kafe. Namun aku dikejutkan dengan suara seorang wanita yang setiap hari kudengar.


“Sayang!”


Dari arah pintu masuk kafe, Yebin menceletuk memanggilku. Secara spontan aku pun menoleh. Mendapati Yebin yang menunjukkan raut wajah kesal bercampur sedih.


Aku terkejut. Sejak kapan Yebin berdiri di sana? Sebelum itu, untuk apa Yebin ada di kafe pada waktu siang ini? Bukannya ia berkata akan bertemu dosen pembimbingnya untuk membicarakan persyaratan kelulusan? Mengabaikan kedua hal itu, baru saja aku mendengar Yebin memanggilku sayang? Apa aku tidak salah dengar? Yebin sempat menolak ketika aku menyuruhnya berhenti memanggilku dengan sebutan Oppa, karena kami sudah resmi menjadi suami istri. Ia menolak memanggilku dengan sebutan yang lebih romantis seperti ‘sayang’ karena masih merasa canggung.


“Sayang dari mana saja? Aku menunggumu sejak tadi.” Yebin lanjut berujar sambil berjalan mendekat padaku. Namun di balik perkataannya yang terkesan romantis karena kata ‘sayang’, kulihat raut wajah Yebin yang menyiratkan amarah dan juga rasa kesal


Aku hanya bisa membatin, ‘Aduh. Bisa bisa malam ini aku tidak mendapat jatah karena wanita kacamata kucing yang menumpang di mobilku. Hh, sial. Seharusnya ku katakan saja kalau aku ada urusan penting sehingga tidak bisa memberinya tumpangan.’


***