Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Hati yang dingin membutuhkan kehangatan



Bab 13


Hati yang dingin membutuhkan kehangatan


“Kau itu benar benar .... Masih sangat polos.”


Mino menjawab kata kata Lysa dengan gumaman pelan. Apa yang gadis itu pikirkan ketika berkata ingin meminum bir di rumah Mino saja, untuk menghemat waktu dan menghemat biaya. Pikir Mino, ada ada saja gadis itu. Bukan masalah waktu atau masalah biaya. Tapi, apa yang wanita dan laki laki lakukan di dalam rumah ketika sedang berdua, menikmati beer di hari yang sudah mulai gelap seperti ini. Meski hal hal terduga itu tidak direncanakan, tetapi jika suasana menduku semuanya bisa terjadi.


“... Kita minum di kedai minum saja. Aku tahu mana tampat yang bagus untuk meminum beer.” Mino lanjut berkata. Hal itu membuat Lysa mengangguk angguk setuju.


“Baiklah.”


Tidak lama kemudian keduanya tiba di sebuah tempat yang cukup sunyi dan tenang. Ini adalah ‘sul jib’ atau rumah minum yang cukup sering Mino datangi.


Bukan tempat di tengah keramaian kota seperti letak Moonlight Coffe. Tetapi ‘sul jib’ ini berada di salah satu gang di area Myeong dong. Yang mana gang tersebut cukup sepi dan tidak begitu banyak dijangkau orang orang yang datang ke Myeong dong. Namun tempat ini adalah tempat langganan Mino ketika ia ingin menghabiskan waktu sendiri dengan meminum seseloki alkohol sebelum pulang ke rumah seusainya bekerja di kafe. Tempat ini memang tidak memiliki banyak pelanggan. Rata rata pelanggan di sini adalah pelanggan tetap yang datang setiap beberapa hari sekali untuk minum minuman alkohol yang dibuat secara tradisional dengan teknik yang cukup unik.


“Ini tempat minum? Kenapa sepi sekali?”


Pertanyaan itu Lysa lontarkan begitu melihat bagian dalam rumah minum yang tidak begitu terisi banyak orang. Rumah minum ini memiliki atap yang tidak begitu tinggi. Sehingga ia tadi melihat Mino harus sedikit menundukkan tubuhnya ketika melewati pintu yang pendek itu. Pun di dalamnya tidak ada banyak bangku. Hanya ada kurang lebih empat meja yang masing masing mejanya hanya terisi dua kursi. Sedangkan orang yang sedang minum di dalamnya hanya ada dua orang. Satu orangnya adalah laki laki muda yang usianya terlihat sedikit tua dari Mino, dan satunya lagi adalah seorang bapak bapak tua yang berpakaian lusuh dengan tatapan rambut yang kusut.


Selaun dua orang pelanggan itu, terdapat satu bartender yang merupakan seorang nenek nenek usia lima puluh tahunan. Nenek itu yang menyajikan minuman alkoho untuk sedikit tamunya yang datang.


“Oh, kau datang lagi rupanya. Lama tidak melihatmu. Di mana saja kau beberapa hari terakhir?” Nenek yang berdiri di balik meja bartender itu menyapa Mino begitu mereka masuk ke dalam rumah minum. Nenek tersebut terlihat akrab dengan Mino sehingga ia menyahut begitu melihat laki laki itu datang bersama seorang gadis.


“Iya, Nek. Pekerjaan saya terlalu padat sampai sampai tidak sempat datang kemari.” Mino membalas sapaan nenek tersebut dengan sopan. Rupanya, keduanya memang sudah akrab.


“Jangan terlalu keras memaksakan diri untuk bekerja. Kau juga punya kehidupan sebagai Han Mino, bukan hanya kehidupan sebagai Manajer Han. Jika ada waktu datanglah kemari. Aku akan buatkan minuman terenak supaya kau juga bisa merasakan diririmu seutuhnya ketika berada di sini.” Nenek itu lanjut berkata.


Lysa yang melihat interaksi keduanya, hanya terdiam. Ia mencoba memahami apa arti dari ‘merasakan dirimu seutuhnya’ yang diucapkan nenek itu. Namun, Mino menganggukkan kepala. Sepertinya laki laki itu mengerti apa yang dimaksud oleh sang nenek.


“Terima kasih Nek.”


“Kau mau minum apa?” tanya Nenek setelah selesai bertukar sapa dengan Mino.


“Berikan saja kami beer, Nek.” Mino berucap.


Seketika terdengar kata ‘kami’ dari Mino, pandangan sang nenek tertuju pada Lysa. Nenek itu menatao wajah Lysa dengan seksama, seolah olah sedang mencoba mencari wajah lysa dalam memorinya. Namun wajah Lysa terasa sangat asing untuk sang nenek. Nenek merasa tidak bisa mengenali siapa wanita yang kali ini dibawa oleh Mino datang kemari.


“Oh, rupanya dia bukan wanita yang sering kau ajak minum di sini. Siapa gadis ini? Apa dia kekasih barumu?” tanya Nenek setelah merasa yakin bahwa dirinya memang tidak mengenali wajah Lysa dan baru pertama kali ini bertemu dengan Lysa.


Kepala Mino sontak menggeleng geleng. “Bukan, Nek. Dia adalah seorang wanita yang baru baru ini kukenal.”


“Ahh, begitu rupanya.” Sang nenek mengangguk anggukkan kepala. “Lalu, bagaimana dengan kekasihmu yang biasanya kau ajak datang kemari itu? Apa kalian sudah menyiapkan pernikahan? Atau jangan jangan sudah menikah?”


Mino hanya tersenyum getir kepada sang nenek. Ia memang cukup sering datang ke tempat ini bersama Jiwon. Dan setiap kali Mino datang ke mari bersama Jiwon, yang nenek lakukan adalah membawa sebuah dupa untuk diletakkan di bawah meja tempat Mino dan kekasihnya minum. Kata nenek, dia sedang mendoakan kebahagiaan pasangan tersebut dengan cara seperti itu.


“Kami sudah putus. Karena suatu keadaan yang tidak bisa dihindari, kami memutuskan untuk berpisah,” jelas Mino singkat.


Terlihat perubahan raut wajah pada sang nenek. Beliau kelihatan begitu sedih mendengar kabar putus Mino dan Jiwon. Pasalnya, mereka sangat cocok sekali saat bersama. Siapa pun yang melihat keduanya duduk bersama di tempat yang sempit namun menenangkan ini pasti akan merasa bahwa mereka adalah pasangan yang akan sangat bahagia jika menikah. Namun, mendengar keduanya sudah putus membuat hati nenek juga terasa sedih.


“Tidak apa apa. Akan ada seorang wanita yang bisa menggantikan posisinya dengan lebih baik. Yang perlu kau lakukan adalah bersabar.” Tutur lembut sang nenek yang terdengar begitu tulus dan hangat di hati Mino. “Tunggu sebentar ya, aku akan buatkan minuman untuk kalian.”


Begitu sang nenek beranjak pergi meninggalkan meja bartender, Mino mengajak Lysa duduk di bangku dekat jendela. Dari bangku ini, terlihat suasana luar gang yang sangat sepi. Mino memerhatikan gang sempit yang menghentang lurus di depan rumah minum ini. Dan merasa bahwa tempat ini sangat istimewa. Di tengah keramaian Myeongdong, yang penuh dengan manusia dan hiruk piruk kehidupan malam, ada satu gang yang sangat sunyi dan sepi seperti ini adalah sebuah keistimewaan.


Tetapi Lysa hanya diam melamun. Sejak tadi wanita itu memikirkan suatu hal yang terasa janggal dalam benaknya. Sembari Mino menatap ke arah jendela, Lysa menatap laki laki itu lurus.


“Ajeossi,” panggil Lysa.


“Hm?” sahutan itu terdengar bersamaan dengan wajah Mino yang menoleh pada Lysa. Mino melihat wajah sendu Lysa dan segera bertanya, “ Ada apa?”


Hati hati, Lysa bertanya dengan pelan. “Ajeossi ... apa kau menganggapku sebagai perempuan? Tidak, tidak. Maksudku, apa kau memandangku sebagai seorang wanita?”


Kening Mino mengerut mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Lysa. Sebenarnya ia tak begitu mengerti apa maksud pertanyaan Lysa. Namun Mino berusaha menjawab seadanya.


“Kalau bukan wanita, apa kau laki laki?” sahut Mino dengan nada bicaranya yang polos dan terkesan tidak berdosa, meski itu bukan maksud dari pertanyaan Lysa.


“maksudku, apa kau memandangku sebagai wanita, dan bukan sebagai perempuan kecil atau remaja yang masih labil?” tanya Lysa berlanjuut. Ia menatap serius Mino yang tampaknya baru mengerti maksud pertanyaannya tadi.


Otot mata Mino melemas. Ia menatap Lysa dengan lembut tanpa beban sedikit pun.


“Aku bukan orang buta usia yang menganggap seorang wanita di usia dua puluh dua tahun itu masih remaja. Kau memang wanita muda, tapi kau bukan perempuan kecil apa lagi remaja yang masih labil.” Mino menjawab dengan cermat, sambil menatap mata Lysa lekat lekat.


Berbeda. Benar benar berbeda. Cara Mino memandang Lysa dengan cara Brian memandang Lysa benar benar berbeda. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh ayah dan juga Brian yang paling dekat dengannya. Dan itu yang membuat Lysa selalu merasa seperti masih remaja meski usianya sudah berkepala dua. Lysa tidak yakin apa Mino mengatakannya dengan jujur. Namun, dari lubuk hati terdalam, Lysa ingin sekali memercayai Mino yang telah membuatnya merasa bukan seperti anak kecil lagi.


“Apa ada masalah dengan itu? Apa kau tidak senang dengan caraku memperlakukanmu?” Mino menyahut. Yang seketika mendapat tanggapan dari Lysa.


“Tidak. Tidak ada yang salah dengan cara Ajeossi memperlakukanku. Hanya saja, beberapa orang masih menganggapku seperti perempuan kecil yang maish labil. Ayahku tidak mengizinkanku untuk bekerja paruh waktu karena merasa aku sebagai gadis kecil tidak bisa melakukannya. Dan bahkan orang yang aku sukai pun tidak pernah melihatku sebagai perempuan. Aku hanya merasa seperti makhluk terkucilkan di dunia ini. Entah bagaimana mengatakannya aku tidak tahu.” Lysa bercerita panjang lebar.


“Itu bukan salahmu. Itu hanya karena mereka tidak menyadari kalau waktu terus berjalan dan kau sudah menjadi seorang wanita dan  bukan anak kecil.” Mino menanggapi.


Kalau dipikir pikir, benar juga kata Mino. Ayah Lysa menganggap Lysa seperti anak kecil karena Lysa adalah satu satunya putri yang dimilik sang ayah. Wajar saja jika ayahnya selalu memperlakukan Lysa seperti putri kecilnya. Karena kebanyakan ayah tidak menyadari waktu yang berlalu begitu cepat ketika ia membesarkan putrinya. Lysa pun merasa wajar jika ayahnya itu cukup protektif terhadapnya dan selalu menjanjikan yang terbaik untuk Lysa meski pun Lysa tidka menuntut apa apa dari sang ayah. Dan untuk Brian, Lysa tidak tahu. Brian masih menganggapnya seperti anak kecil karena terlalu menyayangi Lysa sebagai adik seperti ketika mereka bertemu dua belas tahun lalu. Atau kah hati Brian sudah tertutup sehingga pandangannya terhadap Lysa tidak pernah berubah meski waktu terus berjalan dan keadaan terus saja berubah.


“Lalu, menurut Ajeossi, aku sudah terlihat seperti wanita dewas?” lanjut Lysa bertanya dengan legas. Sejujurnya ia cukup sungkan bertanya seterus terang seperti itu kepada Mino. Namun ia merasa harus mendengarkan jawabannya.


Mino memiringkan kepala. Salah satu tangannya menumpu di atas bangku dan jari jarinya mengelus janggutnya yang mulus. Laki laki itu sedang berpikir cukup dalam tentang pertanyaan Lysa.


“Entahlah, aku tidak bisa menilai orang dalam waktu sesingkat itu. Kalau dipikir pikir, aku baru saja mengenalmu. Dan aku tidak tahu banyak tentangmu. Tapi, dari kesan pertamaku, aku berpikir kalau kau tidak seperti yang mereka katakan tadi.” Mino melontarkan jawaban sambil berpikir keras. Ia menatap Lysa yang memasang wajah penasaran dan penuh harap. Lalu Mino menambahkan, “Kau mengingatkanku pada diriku di masa muda dulu. Ketika siuasiku masih sangat sulit, ketika aku berjuang untuk bertahan hidup di tengah keadaan yang benar benar rumit. Kau mengingatkanku pada masa mudaku. Dan inilah alasan mengapa aku cukup peduli padamu meski kita bukan siapa siapa dan aku baru saja mengenalmu. Karena caramu bertahan hidup mengingatkan pada masa mudaku. Dulu aku menganggapnya hanya sebatas perjuangan bertahan hidup, tapi sekarang melihatnya rasanya cukup berkesan.”


Kedua bola mata Lysa membulat mendengar apa yang Mino ucapkan tentangnya. Kalau dipikir pikir, memang tidak masuk akal kalau lelaki itu memperhatikannya tanpa alasan. Ternyata, itulah alasannya. Karena Lysa mengingatkan Mino pada masa mudanya dulu yang semua keadaan masih sangat sulit.


Nenek yang merupakan bartender rumah minum ini membawakan seteko beer dan dua gelas berwarna bening ke meja tempat Mino dan Lysa duduk. Meletakkan semua itu ke atas meja Mino dan menceletuk demikian.


“Ya, Nenek. Terima kasih.” Mino segera membalas apa yang sang nenek ucapkan. Sementara itu Lysa hanya tersenyum hangat ke arah sang nenek dan menganggukkan kepala seolah berkata terima kasih menggunakan anggukan kepalanya.


Sang nenek membalas senyuman Lysa dengan hangat sebelum berlalu pergi meninggalkannya. Minuman beer yang Lysa tunggu tunggu pun tersaji di depan mata. Tangannya terulur untuk menuangkan air dari teko ke dalam gelasnya, sebelum Mino merebut teko yang hendak diambil Lysa sambil menceletuk.


“He hei. Jika minum berdua, budayanya adalah saling menuangkan minuman untuk satu sama lain. Jadi ambil gelasmu, aku akan menuangkan minuman untukmu.” Mino berkata sambil mengangkat teko berisi minuman beer yang kadar alkoholnya rendah itu.


Ah, Lysa sempat lupa. Kalau di Korea tradisi minumnya memang seperti itu. Lysa belum terbiasa saja dengan tradisi minum karena sebelumnya ia belum pernah minum minum. Apalagi bersama seorang laki laki selain ayahnya atau Brian.


“Iya, baiklah.”


Buru buru Lysa menggambil salah satu gelas beer. Lalu menodongkan gelas tersebut ke arah Mino untuk diisi minumen oleh pria itu. Air beer yang terlihat segar itu pun mengalir perlahan mengisi setengah bagian dari gelas Lysa. Terlihat buih buih dari minuman yang ikut masuk ke dalam gelas Lysa.


Melihat minuman itu ada di depan matanya, Lysa bersiap siap ingin meminum. Tubuhnya terasa paling bersemangat saat ini. Ia tidak sabar memasukkan minuman itu ke dalam perutnya. Tidak sabar menunggu reaksi seperti apa yang akan dikeluarkan tubuhnya setelah minuman berbuih itu masuk ke dalam mulut dan menjalar melewati tenggorokan.


“Kenapa kau hanya menatapinya terus? Buruan minum.” Mino yang melihat Lysa tetap terpaku dalam waktu lama memandangi minuman yang mengisi setengah gelasnya itu, menyahut. Ia rasa Lysa terlalu lama memandang minumannya, atau sedang melamunkan sesuatu. Ah, satu lagi yang penting dan ingin sekali membuat Mino tertawa dengan lepas. Yaitu, ekspresi wajah Lysa yang berkata seolah dirinya benar benar menginginkan minuman itu namun masih takut bagaimana jika minuman itu bisa emmbakar mulutnya.


“Ajeossi, aku akan baik baik saja kan? Tidak ada sesuatu yang akan terjadi di tubuhku kan?” Lysa yang masih tampak ragu itu bertanya penasaram.


“Memang apa yang akan terjadi pada tubuhmu? Itu hanya Beer, bukan alkohol lain yang kadar alkoholnya lebih tinggi. Jadi, tenanglah. Minum saja minumanmu dengan santai dan perlahan lahan. Kalau ada apa apa aku sudah siapkan telepon untuk memanggil 119.” Mino menjawab dengan sedikit cnadaan di belakang.


“Heih, Ajeossi, jangan bercanda,” protes Lysa yang merasa lebih takut karena mendengar Mino membahas 119 (unit pelayanan darurat dalam hal medis).


“Tidak tidak, aku hanya bercanda. Cepatlah minum.” Sambil terkekeh kekeh Mino berkata demikian. Rasanya lucu sekali melihat gadis itu ingin ingin takut melihat beer yang sangat menggiurkan di hadapan. Mino tau perasaan Lysa, karena ia dulu pernah mengalaminya juga.


Setelah memantapkan diri, akhirnya Lysa perlahan lahan meneguk minuman tersebut. minuman yang terasa lembut di mulut itu juga terasa sangat menyegarkan ketika bergerak melewati kerongkongan. Dalam waktu singkat Lysa menghabiskan setengah gelas beer nya.


Took!


Suara itu terdengar ketika Lysa menghantamkan gelas kosong ke atas meha rumah minum. Suara itu membuat Mino tersentak kecil. Lalu pandangannya tertuju pada Lysa yang sedang membelalakkan mata untuk menguraikan apa yang ia rasakan setelah minum alkohol untuk pertama kalinya dalam hidup.


“Bagaimana? Beer di sini enak ya?” Mino menyahuti Lysa yang terlihat sedang berperang melawan diri sendiri untuk menguraikan bagaimana kolaborasi rasa antara mulut dan perutnya setelah dimasuki minuman beer tadi.


“Rasa beernya sangat enak. Terasa lambut dan juga segar. Dan aku tidak merasakan perubahan khusus di dalam perutku. Rasanya hanya seperti ketika aku minum minuman seperti tek hijau atau ramuah herbal Korea yang rasanya segar. Itu saja. Tidak ada perubahan khusus.” Lysa menjelaskan dengan penuh konsentrasi. Pandangannya tertuju pada teko berisi beer yang sedikit isinya telah ia tegak itu.


“Memang itu hanya beer. Jadi rasanya tidak ada bedanya. Tapi kalau kau minum minuman yang kadar alkoholnya lebih tinggi, tenggorokan dan perutmu terasa terbakar namun juga dingin di waktu yang bersamaan.” Mino pengalamannya ketika minum alkohol.


Setelah itu Mino pun mulai mengangkat gelas beernya. Dan otomatis Lysa mengulurkan tangan untuk meraih teko beer dan menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas Mino sampai terisi setengah.


Begitu gelasnya terisi, Mino segera meneguk minumannya. Lalu meletakkan kembali gelas kosongnya ke atas meja.


“Besok pelatihan karyawan paruh waktu di kafe akan dimulai. Pastikan kau ikut di setiap sesinya. Ketinggalan satu pelajaran saja akan sangat menyulitkanmu saat bekerja nanti. Pastikan saja kau datang di sela sela jadwal kuliahmu.” Mino membuka kembali pembicaraan selagi meneruskan kegiatan minum beer bersama Lysa.


“Baiklah. Akan kupastikan kalau aku mengikuti setiap sesi yang ada.”


“Bagus.”


Lysa terdiam setelah menegak kembali minumannya. Satu minggu pertama di Moonlight Coffe, di mulai dari besok, akan menjadi hari hari yang penting untuk Lysa. Ia mulai bekerja di Moonlight Coffe. Dan itu adalah pekerjaan paruh waktu yang pertama kali ia lakukan sepanjang hidupnya. Dan kalau boleh jujur, Lysa sangat berharap kalau Mino tetap berada di Moonlight Coffe dan menjadi manajer umum di sana. Entah apa yang membuat Lysa sangat berharap.


“Ajeossi, kau sungguh akan keluar dari Moonlight Coffe?” tanya Lysa hati hati di tengah kegiatan minum mereka.


Mino termenung sejenak sebelum menjawab, “Entahlah.”


Kedua alis Lysa menaik. Seingatnya, waktu itu Mino berkata dengan yakin sekali kalau dirinya sudah mengajukan surat pengunduran diri ke kafe. Dan sekarang Mino terlihat ragu dengan menjawab ‘entahlah’. Lysa yang menyadari itu, menangkapnya sebagai sebuah kesempatan.


“Kalau boleh tahu, apa alasanmu ingin berhenti bekerja di sana, Ajeossi? Kurasa itu pekerjaan yang sangat sayang untuk ditinggalkan. Terlebih, bos dari Moonlight Coffe sangat memercayai Ajeossi dan mengandalkanmu melakukan banyak tugas.” Lysa bertanya dengan hati hati, tak bermaksud menyinggung perasaan Mino.


Napas Mino terembus pelan. “Alasannya tidak ada yang membutuhkanku lagi.”


“Apa itu maksudnya?” tanya Lysa bingung.


“Tidak ada yang membutuhkanku sebagai Han Mino jika terus bekerja di sana. Pekerjaan sebagai manajer di sana memang sangat bagus, juga posisi yang tetap dan tidak perlu mengkhawatirkan tentang gaji, tunjangan, dan segala fasilitas yang kuperoleh. Tapi apa gunanya semua itu kalau aku tidak dibutuhkan sebagai Han Mino? Selain sebagai manajer, aku juga memiliki kehidupan pribadi sebagai Han Mino. Dan di kehidupanku yang sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang masih membutuhkanku. Semua orang perlahan lahan pergi dariku. Itu membuatku merasa sangat kesepian bahkan ketika aku berada di tengah kerumunan orang.” Mino bercerita panjang lebar dengan pembawaannya yang tenang dan kelam.


Lysa tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Ajeossi yang satu ini. Namun ia terlihat sangat kesulitan. Bukan tentang pekerjaan, tetapi tentang kehidupan pribadi.


“Aku tidak tahu situasi sulit apa yang sedang Ajeossi lalui saat ini. Tapi, jika Ajeossi masih akan tetap bekerja di Moonlight Coffe, aku berjanji akan memperlakukan Ajeossi seperti aku memperlakukanmu saat ini. Aku membutuhkanmu di sana bukan sebagai manajer umum, tapi sebagai laki laki bernama Han Mino yang juga memiliki kehidupan pribadi sebagai manusia dewasa,” ucap Lysa


Apa yang gadis itu ucapkan membuat mata Mino tampak berbinar binar. Ia mengartikan kata kata Lysa dengan sagat pasti. Itu yang ia butuhkan saat ini.


Mino tak dapat menanggapi kata kata Lysa tersebut. mulutnya terbungkam karena perasaan aneh yang muncul dalam benaknya. Seperti perasaan terharu, juga perasaan tenang dan damai di tengah gemuruh hati yang ia rasakan akibat kepergian Jiwon.


Mino terus diam tak bergeming sambil menatap kosong Lysa yang sibuk meneguk minuman beer dari teko. Lelaki itu hanya terus menatap. Tanpa menyadari minuman beer yang sudah Lysa habiskan itu sudah lebih dari setengah teko. Dan sesaat kemudian...


Duukkk!!


Kepala Lysa tiba tiba tersungkur ke atas meja. Wanita itu telah kehilangan kesadaran setelah menghabiskan lebih dari setengah teko minuman Beer.


Melihat itu, Mino seketika terbelalak kaget. Ia sangat terkejut melihat berapa banyak minuman yang sudah Lysa habiskan. Bodohnya. Mino merasa begitu bodoh karena membiarkan wanita itu minum sampai mabuk karena sibuk melamun suatu hal.


“Ahh, sial! Kenapa dia tumbang secepat ini?”


**