
**Menjadi Istri yang Pintar dan Mandiri
Yebin Pov**
“Apa itu?”
“Aku berpikir untuk memberikan voucher hadiah berupa kupon minum di Moonlight Coffe dengan diskon 50 persen. Kurasa itu bagus untuk meningkatkan jumlah pelanggan kafe dan menaikkan popularitas Moonlight Coffe. Yang kulihat selama ini, kupon kupon semacam itu banyak ada di salon kecantikan dan restoran mahal. Kalau kupon untuk kafe, aku masih belum menemukannya. Karena itu aku memikirkan bagaimana jika aku membuat kupon semacam itu untuk Moonlight Coffe. Selain untuk meningkatkan penjualan, secara tidak langsung itu juga bisa menyatukan pelanggan Biniemoon dengan pelanggan Moonlight Coffe. Menurutmu bagaimana, Oppa?”
Mendengar penjelasan panjang lebarku tentang kupon itu, Oppa menghentikan sejenak kegiatan makannya. Ia menatap ke arahku sabil berpikir dalam dalam. sementara itu aku menunggu jawabannya dengan perasaan berdebar debar.
Itu memang sedang aku pertimbangkan sejak beberapa hari yang lalu. Aku yakin, dengan cara itu, bukan pelanggan Biniemoon yang akan bertambah. Tetapi juga pelanggan Moonlight Coffe. Karena ketika pelanggan Biniemoon mendapat kupon secara Cuma Cuma, mau tidak mau mereka akan menggunakan kupon itu dengan membeli minum di Moonlight Coffe. Dan ketika mereka datang ke Moonlight Coffe, mereka akan tau perubahan yang mendasar di dalamnya, tentang pelayanan dan segala macam promosi yang diberlakukan. Pun untuk orang orang yang memiliki pemikiran negatif tentang Moonlight Coffe, akan memiliki persepsi yang berbeda dengan mendatangi tempat itu secara langsung, bukan hanya dari membaca artikel di internet.
Oppa terlihat sedang berpikir dengan konsenterasi. Memikirkan ucapanku tadi secara matang.
“Kurasa itu bukan ide buruk. Kau bisa melakukannya, membuat kupon atau semacamnya untuk pelanggan Biniemoon.”
Kedua mataku terbelalak antusias mendengar jawaban positif Oppa. Seketika itu aku terperanjat. Kulihat raut wajah setuju yang Oppa tunjukkan, dihiasi senyuman menawan yang memperlihatkan ketulusan.
“Sungguh? Tapi, untuk melakukannya aku harus bekerja sama dengan Moonlight Coffe. Pada alat pembayaran Moonlight Coffe juga harus dipasang perangkat khusus untuk bisa melakukan scanning pada kode voucher. Soalnya di setiap voucher nanti akan ada hadiah dan potongan yang berbeda beda,” lanjutku menjelaskan.
Kelihatannya Oppa sangat yakin pada penjelasanku. Dilihat dari kepalanya yang mengangguk seolah menyetujui semua yang kukatakan.
“Tidak masalah untuk masalah itu. Saat semua voucher sudah selesai kamu buat, akan ada teknisi yang akan memasang perangkat scaning itu pada semua alat pembayaran yang digunakan kafe. Dan nanti tugas teknisi itu untuk mengirimkan perangkat itu pada setiap cabang Moonlight Coffe di seluruh kota.”
Itu jauh di luar dugaanku. Dalam angan anganku, aku hanya akan memberlakukan voucher diskon itu di Moonlight Coffe Gangnam saja. Karena untuk permulaan, akan sangat merepotkan jika di sebua cabang Moonlight Coffe diberlakukan voucher itu. Mengingat Oppa yang sekarang masih sangat sibuk.
“Semua cabang kafe?” tanyaku meyakinkan.
Oppa mengangguk dengan begitu yakin.
“Tentu saja. Voucher itu harusnya bisa digunakan di semua cabang Moonlight Coffe. Pelanggan Biniemoon kan tidak hanya ada di Gangnam. Tetapi di seluruh Seoul bahkan sampai luar kota. Kan tidak adik untuk semua pelanggan Biniemoon jika voucher hanya bisa diberlakukan di satu tempat. Jadi, semua cabang Moonlight Coffe juga harus dipasang perangkat itu untuk bisa diberlakukan voucher. Sehingga orang orang bisa memilih untuk datang ke Moonlight Coffe terdekat untuk menggunakan voucher itu, dari pada terbuang sia sia karena kendala tempat?”
Masuk akal juga. Kenapa aku tidak sempat memikirkannya. Yang kupikirkan hanyalah berapa besar diskon yang bisa diberlakukan, dan bagaimana caranya memberlakukan voucher itu di perangkat Moonlight Coffe. Aku sama sekali tidak kepikiran untuk memberlakukan voucher itu di semua cabang Moonlight Coffe karena alasan taknis.
“Bukannya merepotkan jika harus memasang perangkat itu ke semua cabang Moonlight Coffe? Apalagi Oppa kan sedang sibuk sibuknya?” kataku.
Benar benar Yul Oppa. Caranya meyakinkanku dengan sedikit menyombongkan diri, sangatlah sesuai dengan Yul Oppa.
“Kalau begitu aku tidak merepotkan kan? Baiklah. Mulai besok aku dan Somin akan membuat voucher sebanyak mungkin untuk Moonlight Coffe. Kalau semuanya sudah selesai, aku akan mengatakannya pada Oppa.”
Oppa hanya membalas ucapanku dengan senyuman memikat di wajah. Kemudian tangannya terulur untuk mencubit pipiku dengan begitu gemasnya.
“Aigoo ... istriku pintar sekali. Kau benar benar terlahir sebagai pebisnis. Sepertinya Moonlight Coffe akan lebih maju jika kau yang mengelolanya,” canda Oppa yang sedang merasa gemas. Ia kemudian melepas cubitannya dan menatapku dengan tatapan yang lebih serius namun tetap terasa kelembutannya.
“Tapi, Yebin~a.”
“Ada apa?”
“Aku akan lebih senang jika kau berbisnis hanya untuk bersenang senang. Artinya, untuk sekadar melakukan apa yang kau sukai, bukan mencari nafkah. Karena mencari nafkah adalah tugasku. Jadi kau tidak perlu bekerja begitu keras. Ketika capek istirahatlah. Kau juga bisa sesekali meliburkan Biniemoon sehari atau dua hari untuk pergi berlibur. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Cukup berbisnis untuk sekedar meluapkan apa yang kau sukai. Ya?”
Oppa menasihatiku, karena ia tahu betapa kerasnya aku dulu membangun Biniemoon sampai tidak tidur semalaman. Ia tahu betapa kerasnya aku memperjuangkan Biniemoon. Juga tau betapa lelahnya aku ketika mengemas semua barang barang pesanan beserta mengurusi semua stok di ruang penyimpanan. Meski aku telah dibantu Somin, tetap saja rasanya melelahkan. Mengingat betapa banyaknya pesanan yang masuk setiap harinya. Pun setiap harinya jumlah pengguna yang berbelanja di Biniemoon bertambah.
Setelah mendapat persetujuan dari Yul Oppa, aku dan Somin gencar membuat voucher digital yang nantinya akan kujadikan sebagai hadiah bagi para pelanggan yang melakukan transaksi belanja di Biniemoon.
Satu minggu setelahnya, semua voucher sudah selesai kubuat. Aku dan Somin datang ke Moonlight Coffe untuk melihat pemasangan perangkat pada mesin pembayaran yang berfungsi untuk melakukan scanning voucher supaya bisa diunakan langsung oleh pelanggan. Perangkat itu telah terhubung dengan perangkat di Biniemoon sehingga siapa saja yang telah menggunakan voucher itu bisa terlihat melalui laporan. Laporan itulah yang akan kugunakan untuk melihat seberapa tinggi tingkat keantusiasan pelanggan Biniemoon dalam menggunakan voucher yang diberikan sebagai hadiah secara Cuma Cuma. Melalui laporan itu, aku juga bisa melihat seberapa besr meningkatkan pelanggan Moonlight Coffe atas adanya hadiah voucher tersebut.
Bisa dikatakan, sambil menyelam minum air. Sambil meningkatkan penjualan Biniemoon aku juga meningkatkan jumlah pelanggan Moonlight Coffe, melalui voucher yang pastinya akan sangat sayang jika tidak digunakan.
Dua bulan berlalu dan hasil dari itu semua sangat terlihat. Tentu. Hasil yang kumaksud bukan hasil dari voucher Biniemoon untuk Moonlight Coffe. Tetapi hasil dari semua kerja keras Oppa dan semua tim yang menjadi bagian dari Moonlight Coffe.
Selama dua bulan ini promosi Moonlight Coffe sangat gencar dilakukan. Ada iklan di mana mana. Setiap kali aku membuka internet, ada foto dari penyanyi sensual Han Lia yang terlihat sedang menikmati kopi dan membaca majalah di Moonlight Coffe. Selain itu, sosial media dari Han Lia itu juga terisi beberapa foto ketika dirinya menghabiskan waktu ketika tidak ada jadwal di Moonlight Coffe.
Semua promosi Moonlight Coffememang melibatkan Han Lia. Mengingat ia adalah model yang telah menandatangani kontrak dengan Moonlight Coffe. Suka tidak suka, mau tidak mau, aku harus mengakui bahwa karena Han Lia, orang orang yang sempat melupakan Moonlight Coffe menjadi berdatangan kembali setelah memalingkan diri ke kafe lain.
Mulai dari iklan di jejaring sosial yang memperlihatkan Han Lia dan Moonlight Coffe, sampai festival di berbagai tempat yang diselenggarakan Moonlight Coffe dengan bintang utamanya Han Lia dan juga beberapa band indi yang ikut memeriahkannya seperti band SORAN. Wawancara eksklusif Han Lia di Moonlight Coffe Gangnam yang dulunya menjadi rujukan para aktris. Juga acara fansign yang beberpa kali dilakukan di halaman Moonlight Coffe. Juga, salah satunya yang terlihat kecil namun membawa dampak besar adalah voucher hadiah Biniemoon. Dan semua orang orang yang bekerja di balik layar seperti Yul Oppa dan semua manager Moonlight Coffe. Berkat kerja keras mereka semua selama beberapa bulan terakhir ini, Moonlight Coffe yang sedang dilanda krisis telah kembali seperti semula.
***