Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Awal baru Kang Yebin



Aku tidak mengerti mengapa setiap bertemu lelaki itu aku selalu merasa tidak. Seolah olah aku telah berbuat yang tidak tidak sebagai perempuan bersuami. Padahal, aku juga tidak melakukan apa apa dengannya. Saat mengingat ingatnya kembali, aku menyadari bahwa ketidak nyamananku bertemu dengannya itu ditimbulkan oleh lelaki itu sendiri. Ia terlihat seperti ingin menggodaku, yang jelas jelas memiliki suami. Namun sejujurnya aku pun tak yakin apakah ia benar menggodaku atau perlakuannya itu hanya untuk sekadar main main. Atau, ia adalah laki laki playboy yang memperlakukan semua wanita dengan seperti itu.


Aku yang duduk di tempat ini seorang diri setelah Oppa beranjak menuju toilet, masih merasa terkejut melihat keberadaan lelaki berambut pirang yang tidak lain namanya adalah Leo Park itu. ia memperlihatkan senyum semringah, tepat seperti senyum yang sering kulihat saat pertama kali kenal dengan Yul Oppa. Di samping senyumnya itu, tangannya juga melambai lambai. Seolah olah ia merasa amat begitu senang bisa bertemu secara kebetulan denganku di pesawat menuju Korea ini.


“Halo!” serunya. “Kau yang di Kuba kemarin kan? Yang tersungkur ke tanah bersamaku gara gara pot.”


Seolah olah tidak yakin, ia bertanya dengan antusias. Aku pun hanya menganggukkan kepala, untuk sekadar menjaga kesopanan.


“... Wah, kebetulan sekali kita bertemu lagi di pesawat. Kau baik baik saja? sepertinya pagi kemarin kau sangat terkejut gara gara put bunga yang jatuh itu.”


Sepertinya karakter lelaki ini memang seperti itu, mudah mengakrabkan diri dan cukup sok kenal. Aku memang merasa berterima kasih padanya. Tanpa pertolongannya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanku sekarang. Karena rasa terima kasihku inilah, aku pun menanggapinya dengan sopan.


“Baik baik saja. Untuk kemarin... terima kasih.”


Kepalanya termanggut dengan begitu ringan.


“Tadi itu suamimu kan? Ah, anehnya aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Kalian tinggal di Seoul?” lanjutnya bertanya.


“Kami tinggal di Seoul.”


“Ah, pantas saja. Sepertinya aku benar pernah melihat suamimu di sebuah tempat yang mungkin tidak asing. Wajah suamimu juga terlihat familiar untukku. Sepertinya bukan satu atau dua kali saja aku pernah melihat suamimu, tapi sering kail. Anehnya... aku sama sekali tidak ingat.”


“Oh, begitukah?” Aku menanggapinya sambil mengangguk angguk. Tidak bisa kusangkal bahwa orang Seoul yang mengenal Oppa sangatlah banyak, tidak terhitung jumlahnya.


Hampir di setiap tempat Oppa memiliki kenalan dan dikenal banyak orang sebagai bos dari Moonlight Coffe. Tidak heran jika lelaki ini juga mengenal Oppa.


“Senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa berteman baik jika dipertemukan


kembali.”


Itu menjadi ungkapan terakhir Leo Park sebelum akhirnya Oppa kembali dari kamar mandi. Oppa dan lelaki itu sempat beradu pandang dan Oppa menganggukkan kepalanya untuk menyapa. Setibanya Oppa di tempat duduknya, sepertinya ia teringat siapa lelaki yang baru dia sapa itu.


“Oh! Anda yang kemarin di Kuba kan? Yang menyelamatkan istri saya.”


Lelaki itu membalas sapaan Oppa dengan seutas senyum manis. Lalu Oppa mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan lelaki itu.


“Senang bertemu denganmu. Aku merasa sangat berterima kasih untuk peristiwa kemarin. Terima kasih telah beriniatif menyelamatkan Yebin.”


Tentu saja, lelaki itu menyambut uluran tangan Oppa dengan baik. Mereka pun bersalaman dan saling menunjukkan kesopanan. Astaga, ternyata laki itu juga bisa bersikap sopan pada suamiku. Aku kita ia bersikap kurang ajar pada semua orang dengan memakai bahasa informal. Nyatanya saat mengobrol dengan suamiku, ia memakai bahasa formal layaknya laki laki sejati.


“Ngomong ngomong, wajah anda terlihat familiar. Apa mungkin kita pernah bertemu sebelumnya?” lanjut lelaki itu bertanya.


Terlihat Oppa yang meragu. Kelihatannya ia juga tak yakin apa pernah bertemu dengan lelaki itu.


“Saya tidak yakin.”


“Begitukah? Pokoknya, senang bertemu dengan Anda.”


**


YUL POV


Semenjak kehilangan bayinya, sikap Yebin memang sedikit berubah. Ia yang semula mudah marah dan banyak bicara, menjadi lebih pendiam dan tak banyak membantah. saat hari mulai gelap, ia juga sering melamun sabil melihat matahari terbenam.


Sebenarnya aku sudah membicarakan baik baik dengannya, untuk pergi menemui psikiater dan mendengarkan beberapa nasihat. Tetapi Yebin bersikeras tak mau karena merasa dirinya baik baik saja. Setelah itu ia meminta untuk pergi berbulan madu.


Jika diingat ingat, kami memang belum sempat pergi berbulan madu ke tempat lain setelah menikah dikarenakan urusan pekerjaanku. Tidak ada alasan untuk aku menolak permintaan Yebin. Sehingga hari itu kami berangkat ke Kuba. Aku berpikir liburan akan cukup membantu memulihkan keadaan


Yebin pasca keguguran. Ia pasti sekarang masih berada dalam tekanan berat karena kehilangan bayi yang sangat ia harapkan kelahirannya.


Aku berharap Yebin bisa kembali seperti semula. Cepat atau lambat, aku akan membantu pemulihannya. Yebin tidaklah sebatas seorang istri. Tetapi ia pernah menjadi ibu yang harus kehilangan bayinya saat masih berada dalam kandungan. Tentu saja, baik aku maupun Yebin mengharapkan keberaadaan anak. Tetapi yang terpenting sekarang adalah Yebin. Aku berarap yebin bisa pulih seperti Yebin yang sebelumnya, yang ceria, banyak bicara, yang suka mengomel ngomel, dan yang kadang juga sedikit manja.


Sekembalinya kami dari Kuba untuk berbulan madu, aku mengenalkan Yebin pada seorang psikiater yang dulu pernah kudatangi. Yebin berbicara beberapa hal pada psikiater itu. Menceritakan semua kegelisahan yang mungkin belum perah kudengar. Juga mendapat beberapa nasihat melalui sesi konseling yang beberapa hari sekail Yebin ikuti dalam dua bulan terakhir ini.


Hasilnya sangat positif untuk Yebin. Di dua minggu pertama, ia bercerita padaku bahwa ia tak lagi merasa kosong aau pun hampa saat melihat matahari terbenam. Ia juga lebih jarang melamun. Ia disibukkan dengan urusan Biniemoon sehingga waktu luang yang biasanya ia gunakan untuk melamun dan merasa kehilangan itu banyak terpotong.


Psikiater itu juga menyarankan pada Yebin untuk sering sering bertemu banyak orang di luar. Bertemu teman dan banyak menghabiskan waktu untuk bersenang senang di luar.


“Wah, itu kan Soran. Sayang, ayo kita ke sana!”


Saat itu kami baru saja berbelanja di Mall dan hendak beranjak pulang dengan semua barang belanjaan kami di mobil. Tetapi di tengah perjalanan tiba tiba Yebin menceletuk memintaku untuk menghentikan mobil.


Rupanya ia melihat ratusan orang menggerombol dalam sebuah acara festival musik yang diselenggarakan di taman Sungai Han. Orang orang menggerombil dan mendekat ke panggung. Tedengar sorakan yang begitu meriah saat penyanyi band bernama Soran itu melantunkan lagu festival yang sangat meriah.


Karena permintaan Yebin, aku pun membawa kendaraanku memasuki area taman. Memarkirkannya di tempat yang disediakan dan membawa Yebin turun untuk menyaksikan festival itu.


“Menarik sekali. Sudah lama sekali aku tidak mengikuti festival seperti ini!” Di sebelahku, Yebin meninggikan suaranya untuk menyamai suara musik yang menggelegar. Lama sekali aku juga tak melihat Yebin seantusias ini.


“Kau menyukainya?” tanyakku. Kami sedang berdiri di ujung belakang menyaksikan penambilan band itu dari sudut yang jauh.


“Aku menyukainya. Aku sering pergi melihat band festival seperti ini saat masih kuliah bersama teman temanku. Kadang aku bahkan rela membolos,” cerita Yebin yang seketika membuatku terkekeh. Melihat Yebin seceria dan seantusias ini melihat penampilan band festival, aku merasa senang lebih dari apa pun.


“Menyenangkan sekali. Sekarang kau tidak perlu lagi membolos untuk melihat mereka,” celetukku yang membuat Yebin langsung memperlihatkan senyum meriahnya.


Perlahan lahan Yebin mulai keluar dari lembah yang membuatnya merasa kelam. Di awal, sikap cerianya itu memang telah kembali. Tapi ia tetap memiliki beberap saat di mana menjadi sendu kembali saat teringat pada bayinya. Mungkin itu adalah kesalahanku. Di usia kehamilannya yang masih sangat muda, Yebin begitu bersemangat untuk membeli perlengkapan bayi dan juga kebutuhan kebutuhan hamil. Dan aku lupa menyembunyikan semua perlengkapan bayi itu dari lemari pakaian kami. Membuat Yebin selalu kembali bersedih saat teringat semuanya. Bahkan ia masih menangis saat melihat foto USG bayi kami yang masih sangat mungil dalam kandungan itu.


Hal itu terjadi dalam satu bulan pertama Yebin menghadiri konseling. Dan setelah itu Yebin masih mengikuti beberapa sesi konseling lagi pada bulan berikutnya.


Kurasa Yebin benar benar sudah kembali seperti semula setelah menghadiri sesi konseling rutin selama kurang lebih dua bulan ini. Perbedaannya jelas terlihat. Di mana ia tak lagi bersedih atau bahkan menangis lagi saat melihat foto USG bayinya atau sedang mengepak perlengkapan bayi untuk disimpan di tempat yang lebih baik. Ia juga berkata padaku bahwa semua kekosongan yang ia rasakan sebelumnya itu kini telah terisi. Ia tak lagi merasa bersalah atau pun sedih saat mengingat bayi yang sempat ia kandung. Justru sebaliknya, Yebin berkata padaku bahwa keamilannya yang dalam sekejap hilang itu akan dijadikannya sebagai kenagan yang indah. Saat saat ia mengandung, akan diingatkan sebagai memori yang indah. Bukan lagi memori menyakitkan yang membuat hari harinya menjadi kelam.


Saat kami sedang melakukan malam malam bersama di sebuah restoran di Gangnam, Yebin memulai pembicaraan dengan hal yang tidak terduga.


“Keinginan yang mana?”


“Di Kuba sore itu, aku sudah mengatakan padamu, Oppa. Aku ingin mengelola Moonlight Coffe Aku ingin menggantikan tugasmu di sana, dan aku menginginkanmu untuk melakukan apa yang sangat kau sukai; melukis.”


Reflek, keningku mengerut. Aku cukup terkejut mendengar Yebin mengatakan hal itu. Juga menimbang nimbang apakah yang dikatakannya itu benar benar keinginannya dan bukan beban yang ingin ia ambil alih dariku.


Aku melepaskan pisau dan garpu yang kugunakan untuk menyantap daging steak yang tersaji di atas meja. Lantas bertanya padanya, “Kau tidak bercanda mengatakan hal itu?”


Yebin pun ikut melepaskan peralatan makanya. Ia menatapku bersungguh sungguh.


“Tentu saja aku serius. Oppa berpikir aku bercanda mengatakannya?”


Aku bergeming beberapa saat menatap Yebin lekat. “Kalau begitu jelaskan alasanmu ingin menggantikan tugasku di kafe,” lanjutku bertanya.


“Kenapa? Oppa tidak percaya padaku?”


“Bukannya begitu. Aku hanya penasaran saja apa alasanmu ingin melakukannya.”


“Pertama karena aku merasa Biniemoon sudah stabil dan akan baik baik saja aku tinggalkan untuk mengurusi hal lain. Kedua, aku merasa aku sanggup melakukannya. Dan ketiga, karena aku ingin membiarkanmu melakukan apa yang kau sukai. Oppa sudah cukup mengurusi Moonlight Coffe. Dan sekarang saatnya kau kembali pada hal yang membuatmu selalu merasa senang,” jelas Yebin.


Napas ringanku terhela panjang panjang. Sudah kuduga. Yebin ingin mengambil alih pekerjaanku di kafe karena ingin membuatku terbebas dari semua tugas tugas yang bagiku cukup berat itu. Aku bisa mengerti maksud Yebin untuk bisa memberikan kesempatan padaku. Kesempatan untuk kembali melakukan hal yang selama ini tak bisa kulakukan akibat berkecimpung di dunia bisnis. Juga kesempatan untuk aku bisa kembali mengejar mimpiku sebagai pelukis seperti mendiang ayahku.


Tetapi alasan Yebin itu tidak dapat kuterima.


“Kalau begitu jangan melakukannya. Jangan berpikir untuk mengambil alih pekerjaanku di kafe. Dan jangan meinggalkan Biniemoon yang telah kau perjuangkan dan telah kau besarkan dengan kedua tanganmu sendiri.” Aku menegaskan. Tetapi bukan Yebin jika langsung mengangguk mengiyakan begitu saja.


“Aku ingin melakukannya karena aku menyukainya, Oppa. Aku melakukn bisnis karena aku menyukainya. Tidak ada alasan lain. Karena itu aku ingin Oppa juga melakukan apa yang kau sukai. Aku tahu yang kau sukai adalah melukis. Dan aku ingin kau kembali melukis, melakukan apa yang kau sukai.” Yebin menyergah.


Napasku terembus panjang. Aku menatap Yebin sendu sambil berkata, “Aku sudah menyerah untuk melukis, Yebin-a. Sudah sangat lama aku menyerah dan memilih untuk tidak melakukannya lagi. Itu sudah keputusanku. Dan aku akan terus menekuni pekerjaan yang kulakukan saat ini.”


“Paling tidak Oppa harus bahagia melakukannya. Selama ini aku tidak pernah melihatmu terlihat bahagia saat bekerja. Di rumah atau pun di kafe, kau tidak pernah terlihat bahagia saat mengerjakan sesutu untuk kafe. Oppa hanya menganggap pekerjaan itu sebatas pekerjaan, atau bahkan beban.” Yebin kembali menimpali. “Baiklah. Kalau oppa menunjukkan bahwa kau bahagia melakukan pekerjaanmu sebagai pemilik kafe, aku akan diam saja dan membiarkanmu meneruskannya. Jika tidak, jangan salahkan aku jika aku nanti akan terus merengek.”


Aku hanya terdiam menatapnya selama beberapa saat. Sementara itu, Yebin melanjutkan kegiatan makannya.


“Kau tidak tahu, bahwa selama ini aku sudah cukup merasa bahagia. Aku memilikimu, dan kau baik baik saja. Aku sudah merasa sangat bahagia. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku dengan itu semua. Jadi jangan berkata yang aneh aneh, lanjutkan saja makanmu dengan baik.”


Yebin tak menyanggah apa apa. Namun kudengar helaan napas panjangnya yang ringan.


Saat ini Yebin memang hanya diam. Namun sikapnya yang keras kepala itu tidak akan langsung mengiyaan perkataanku. Ia pasti akan melakukan hal hal tidak terduga yang akan membuatku terkejut. Itu adalah ciri khas Kang Yebin, yang tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkan.


Saat aku masih berjalan keluar dari restoran seselesainya makan malam, satu panggilan masuk. Segera aku merogoh saku kemeja dan menjawab panggilan yang masuk dari manager kafe yang baru.


“Halo,” sahutku pada orang di seberang telepon.


“Oh, dia ingin bertemu denganku sekarang di kafe? Kenapa mendadak sekali? Sepenting itukah urusannya?”


Napasku terhela mendengar jawaban dari seberang telepon.


“Baiklah. Aku akan ke kafe sekarang juga. Katakan padanya untuk menunggu, karena aku harus mengantar istriku pulang terlebih dahulu.”


Setelah panggilan itu berakhir. Aku langsung menoleh pada Yebin yang berdiri di sebelahku.


“Kenapa, Oppa? Kau harus pergi ke kafe semalam ini?” tanyanya.


Dengan berat hati aku mengangguk.


“Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu. Dan langsunglah tidur, jangan menungguku. Sepertinya aku akan pulang di waktu yang larut,” kataku.


“baiklah,” jawab Yebin sambil menganggukkan kepala. kami pun lanjut berjalan masuk ke dalam mobil.


Begitu aku mulai mengendarakan mobil, Yebin yang duduk di kursi penumpang bagian depan itu kembali melontarkan pertanyaan.


“Siapa yang ingin menemuimu di kafe selarut ini?” tanya Yebin.


“Sebelumnya aku sudah pernah bercerita kan? Aku ingin memperulas jangkauan Moonlight Coffe. Aku ingin membuka indukan baru di bidang ritail jasa maupun barang/produk. Untuk itu aku membutuhkan nasihat dari orang yang ahli di bidang pemasaran. Aku mengundang seorang konsultan bisnis untuk membicarakan hal ini matang matang.”


Kepala Yebin termanggut manggut mencerna pejelasanku. Lalu tiba tiba ia terbelalk dan menceletuk.


“Konsultan bisnis?!” pekik Yebin yang ikut membuatku terkejut.


“Ya, kenapa?”


“Konsultan itu... namanya siapa?” tanya Yebin ragu.


“Namanya Leo Park. Dia cukup terkenal di bidang ini. Tapi belum pernah bertemu secara langsung dengannya. Kenapa? Kau mengenalnya?” jawabku.


Yebin tampak terkejut mendengar nama itu. Lalu ia berkata, “Oppa, kau ingat lelaki yang kita temui di pesawat? Yang menyelamatkanku di Kuba saat akan kejauhan pot bunga. Dia adalah Leo Park.”


“Ah, begitukah?” sahutku terkejut. Cham... dunia ini sempit sekali, batinku. Ternyata lelaki yang pernah menyelamatkan istriku itu adalah Leo Park. “Wah, menarik sekali. Tapi, bagaimana kau tahu kalau lelaki itu adalah Leo Park?” lanjutku bertanya.


“Eh?”


**