Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kehidupan Pernikahan



**Kehidupan Pernikahan Yebin


Yebin POV**


Kukira kehidupan pernikahan akan jauh berbeda dari kehidupanku yang sebelumnya. Ternyata, tidak jauh berbeda. Yang berbeda hanyalah kami berdua yang kini tinggal di satu atap, meski sebelum sebelumnya aku juga sering keluar masuk rumah Yul Oppa dan menganggap rumah itu menjadi rumah keduaku.


Aku tetap melanjutkan rutinitasku seperti biasanya. Mengurusi stok barang barang yang aku jual di Biniemoon. Mengemas pesanan dan memanggil jasa kurir antar untuk mengarkankan semua barang yang kukemas kepada pelanggan. Lalu jika memiliki waktu luang, aku bertemu teman temanku untuk sekedar berbincang atau menghabiskan waktu bersama.


“Aduh. Aku lupa memcatat barang barang dumah yang habis. Bagaimana ya?”


Selagi melepaskan sabuk pengaman yang melindungi tubuhku, aku menggumam gumam tidak jelas seorang diri. Aku lupa jika sekarang aku hanya tinggal berdua dengan laki laki yang dua minggu lalu resmi menjadi suamiku. Dan aku masih belum terbiasa dengan kehidupan rumah tangga. Sering berbuat kesalahan kesalahan kecil. Sering lupa mengerjakan suatu hal. Juga seperti sekarang, aku lupa mencatat keperluan rumah apa saja yang habis saat hendak berbelanja bersama Yul Oppa.


“Kita cari saja di dalam. nanti kau pasti akan ingat. Tidak perlu cemberut begitu,” sahut Yul Oppa yang sedang beranjak turun. Aku menyadari, ternyata Yul Oppa mendengarkan gumaman pelanku. Kukira aku tadi hanya berbicara sendirian.


Begitu kami berdua turun dari mobil, aku menggandeng lengan Yul Oppa. Kami berjalan bersama. Masuk ke dalam bangunan super mall atau pusat perbelanjaan terbesar yang ada di distrik Gangnam. Kami berdua hendak membeli kebutuhan rumah tangga bersama pada waktu sore menjelang malam ini.


“Biasanya dengan siapa Oppa berbelanja?” tanyaku selagi menggandeng lengan kanan Yul Oppa yang berjalan mengimbangi langkahku.


“Ya kadang sendiri. Kalau Hun ada di rumah, aku mengajak Hun. Atau, kadang juga aku ditemani Haeri.”


Sial. Lagi lagi aku mendengar nama itu. Aku sungguh sebal ketika Yul Oppa menyebutkan nama Haeri di hadapanku.


Baiklah. kuakui hubungan mereka memang sangat dekat sebagai teman. Sehingga wanita itu sering menemani Oppa berbelanja dan lain lain. Tapi, entah mengapa aku selalu merasa kesal setiap kali Yul Oppa menyebutkan nama wanita itu. Walau sebenarnya yang menyebabkan Oppa menyebutkan nama Haeri adalah aku. Oppa hanya menjawab pertanyaanku tentang siapa yang biasanya menemaninya berbelanja.


Aku hanya menghela napas panjang ke dalam perut.


“Mulai sekarang, aku yang akan mengurusi semua kebutuhanmu, Oppa. Jadi katakan saja padaku semua yang kau butuhkan. Dan jangan menyembunyikan apa pun. Ya?”


Oppa menoleh, menatapku selagi menguntai senyuman menawan pada wajahnya yang tampan. Melihat wajah Oppa, aku tersenyum getir dan segera berucap.


“Oh ya, nanti kita mencari alat culur elektronik. Oppa tidak bisa bercukur selama beberapa hari karena alat cukurmu rusak kan?” tanyaku.


Rambut rambut halus di area bawah hidung dan juga dagu Oppa terlihat karena ia tidak bisa bercukur karena alat pencukurnya rusak. Sedangkan membutuhkan waktu lama untuk bercukur dengan cara manual. Karena kesibukannya mengurusi kafe selama dua mingguan setelah pernikahan kami ini, Yul Oppa sangat sibuk hingga tak sempat merawat tubuhnya dengan baik. Dan yang memprihatinkan adalah, Yul Oppa terlihat beberapa tahun lebih tua karena rambut rambut halus di wajahnya. Ini yang paling membuatku sedih.


“Apa kau yang akan mencukurnya?” Yul Oppa bertanya penuh semangat.


“Tentu saja.”


Kami mulai memasuki pusat perbelanjaan. Aku berjalan di depan untuk memilih barang barang kebutuhan sedangkan Oppa di belakangku mendorong troli belanja.


Mulai dari kebutuhan pokok seperti bahan bahan makanan, susu instan, sereal gandum, roti gandum, selai kacang dan selai coklat, telur, ramyeon, dan beberapa kebutuhan pokok lainnya. Membeli tisu toilet dan tisu makanan. Membeli sabun mandi dan shampo. Serta semua kebutuhan rumah tangga yang sekiranya aku butuhkan di rumah.


Aku berjalan menyusuri rak yang berisi peralatan dapur. Kulihat beberapa peralatan dapur yang tampak menggemaskan. Seperti cangkir couple, sendok piring sumpit dan garbu couple, dan beberapa peralatan makan lainnya yang berpasanga. Itu semua tampak menggemaskan. Aku merasa ingin membelinya. Tetapi peralatan makan di rumah Yul Oppa sudah cukup.


“Oppa, perlukan kita membeli barang barang pasangan?” tanyaku kepada Oppa dengan bingung. Sungguh. Barnag barang itu terlihat sangat menggemaskan. Pasti rasanya sangat manis dan romantis ketika menggunakan barnag itu bersama Yul Oppa.


“Beli saja jika kau ingin.”


“Kalau begitu tidak usah beli.”


“Tapi aku sangat menginginkannya. Lihatlah, itu semua terlihat sangat mengemaskan dan lucu.”


Terdengar Yul Oppa yang menghela napas dalam dalam.


“Kalau mau beli ya beli saja. kalau tidak ya tidak usah. Kenapa ribet sekali, Nyonya Moon?” ucap Yul Oppa.


“Aku ingin membelinya. Tapi bagaiman dengan barang barang yang sudah ada di dapur?” tukasku.


“Kau bisa menggunakan yang kau inginkan dan menyimpan yang tidak terpakai. Tidak perlu memikirkannya dalam dalam.”


Baiklah. seperti yang Oppa katakan, aku pun mengambil dua pasang peralatan makanan dan juga mug keramik couple untuk kumasukkan ke dalam troli belanja. Oppa yang melihatku akhirnya mengambil keputusan setelah merasa bingung, mengembuskan napas lega.


“Sudah? Sekarang apa lagi yang ingin kau beli?” tanya Yul Oppa. Troli yang didorongnya sudah kampur penuh oleh barang belanjaan. Tapi aku merasa masih ada yang kurang.


“Oh! Aku ingin membeli buah buahan. Hampir saja aku melupakannya.”


Setelah itu aku berjalan menuju stan buah buahan. Sedangkan Oppa mengikutiku di belakang. Aku berjalan dengan penuh riang. Mencari stan buah buahan segar yang aku cari, buah melon kesukaanku. Tapi, aku tidak menemukannya. Di mana letak stan buah melon?


Aku terus berjalan mencari buah melon di antara banyaknya penjual buah di lantai tiga departmen store ini. hingga aku menyadari suatu hal. Oppa... Yul Oppa, di mana dia? Aku pastikan tadi Yul Oppa berjalan di belakangku. Tapi, sekarang ia tidak ada. aku menyebarkan pandangan ke sekaliling. Mencari keberadaan Oppa, tapi tetap tidak ada.


Gawat! Apa Oppa hilang?


***


Yul POV


Menemani istri berbelanja tidak semudah yang aku bayangkan. Kupikir berbelanja dengan istri bisa sambil mestra mesraan seperti yang sering disajikan dalam drama yang tayang di televisi setiap akhir pekan. Bergandengan tangan. Memilih barang barang kebutuhan dengan begitu romantisnya. Tapi, realitanya tidka demikian. Yebin yang asik sendirian ketika berbelanja, malah berjalan mendahuluiku seperti seorang pemimpin, sedangkan aku hanya bodyguard nya. Ia asik berbelanja sendirian. Hanya menanyaiku ini itu yang ketika aku jawab justru membuatnya semakin bingung.


Aku tidak begitu mengerti kenapa wanita sangat ribet saat berbelanja. Menginginkan barang yang di rumah sudah ada. Dan meminta pendapatku meski ujung ujungnya semakin bingung dan membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan. Realitanya, berbelanja dengan pasangan tidak seromantis yang aku lihat dalam melo drama akhir pelan. Karena Yebin sibuk bebelanja sendiri sampai sampai melupakanku.


Di lantai ini aku telah kehilangan jejak Yebin. aku tidak tau ke mana ia pergi setelah berkata ingin membeli buah buahan. Tetapi di tempat yang penuh dengan penjual buah ini Yebin tidak terlihat sama sekali.


Aku tidak tahu harus ke mana untuk mencari keberadaan Yebin yang mungkin sedang sibuk mencari buah buahan segar. Tidka mungkin kan aku mencari Yebin dengan melaporkan kehilangannya pada kantor securiti? Toh, dia bukan anak kecil yang tidka tahu arah dan tidak tahu mana pintu keluar.


Aku mencoba menghubungi nomor Yebin. Tapi sial, dia tidak menjawab teleponku.


Harus kucari di mana Kang Yebin? Di antara ratusna, atau bahkan ribuan orang yang ada di pusat perbelanjaan ini, bagaimana aku mencari keberadaan Yebin.


Pada akhirnya aku hanya bisa berjalan tak tentu arah. Aku berjalan pelahan sambil mendorong troli belanja yang penuh dengan barang barang kebutuhan rumahan ini. Menyusuri setiap sudut di lantai tiha yang merupakan tempat berbagai macam buah buahan segar dan juga sayuran segar berada. Sambil menyebarkan pandangan, mencari keberadaan Yebin di antara para pelanggan departemen store dan para petugas yang berjaga di setiap stan buah buahan dan juga sayuran.


“Aku ditinggalkan. Dia tidak menjawab teleponku. Dan bahkan tidak meneleponku balik. Bagitu ya, Kang Yebin? Dasar. Hmph!”


***