Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Perasaan yang seperti lukisan abstrak



“Kenapa Oppa tidak menjelaskannya? Sepertinya hakim wanita itu salah paham.”


Yebin menolehkan tubuhnya menatap Hun yang terlihat berkemudi penuh konsentrasi. Bagaimanapun, ia merasa bingung mendengar Hun yang seolah membiarkan hakim wanita itu salah paham tentang hubungan mereka.


Sembari mengemudi itu Hun menoleh sekilas kepada Yebin yang terlihat bingung.


“Ah, aku cuman ingin orang-orang di kantor berpikiran bahwa aku juga memiliki kehidupan yang normal seperti kebanyakan orang. Selama ini mereka berpikiran kalau aku ini terlalu serius dan seolah-olah hanya memusatkan hidupku di kehakiman. Setidaknya dengan mengira aku sedang berkencan, rekan kerjaku di kantor juga berpikir kalau aku juga tidak jauh berbeda dari mereka,” jelas Hun panjang lebar.


Mendengarnya, Yebin merasa bisa menerimanya.


“Begitu rupanya.”


“Kenapa? Apa kau merasa tidak nyaman?” lanjut Hun bertanya hati-hati.


Yebin spontan mengeleng. “Tidak. Aku sama sekali tidak keberatan. Hun Oppa sudah berbuat baik padaku. Setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk membalasmu”


Hun tersenyum menggunakan sudut matanya yang menyipit. Lesung pipit di pipi kirinya terlihat dalam ketika senyuman itu tersungging semakin lebar.


“Lain kali aku akan mengajakmu refreshing ke tempat lain. Sepertinya nonton film itu tidak cocok untukmu.”


Sontak Yebin tertawa geli, menertawakan dirinya sendiri. Ia merasa malu lantaran dirinya yang tadi ketiduran saat menonton film bersama Hun.


Lampu merah di pesimpangan jalan menyala. Mobil Yul baru saja berhenti tepat di sebelah mobil silver Hun. Pria itu menoleh. Menatap kedua manusia di dalam mobil silver tersebut yang tampak sedang bercanda ria bersama.


“Apa yang mereka bicarakan sampai terlihat begitu senang?” decak Yul melihat Yebin yang tampak senang bercakap-cakap dengan Yul. Tidak dapat disangkal, benak Yul terasa tidak nyaman melihat hal itu. Ia merasakan sesuatu yang mengganjal benak. Yang tiba-tiba membuat mood-nya memburuk. “Hah, harusnya aku yang memberi tumpangan pulang Nona Kang.”


Lampu hijau menyala kemudian. Yul kembali melajukan mobilnya menuju Seocho. Sementara ia sedang mengemudi, ponsel di dalam sakunya berdering. Segera Yul memakai hansfree di salah salah satu telinga. Lalu menjawab telepon yang masuk dari salah seorang temannya.


“Halo? Ada apa?” sahut Yul begitu sambungan telepon terhubung. “Tentu saja aku datang ke pesta pernikahan Minsik.... Apa katamu? Harus membawa pasangan? Pesta pernikahan macam apa yang harus membawa pasangan? Lalu bagaimana dengan orang yang jomblo sepertiku?”


Pria itu memutuk-rutuk pada temannya di seberang telepon. Setelah mengembuskan napas panjang-panjang, Yul menjawab, “Baiklah, baiklah. Aku akan tetap datang kok. Yah, meski harus membawa anak anjingku.”


***


“Nona Kang!”


Dari balik gerbang rumah yang masih tertutup, Yul memanggil Yebin di jalan. Wanita itu sedang menuntun sepedanya setelah membeli beberapa kebutuhan dari toserba.


Yul yang sejak tadi menunggu Yebin pun membuka pintu gerbang dan kembali menceletuk, “Kenapa kau susah-susah membawa sepeda kalau hanya menuntunnya begitu?”


Langkah Yebin seketika berhenti. Tubuhnya menyerong pada Yul yang berjalan mendekat.


“Aku yang menuntun kenapa Ajeossi yang sewot?” cetus Yebin. Tatapan sinisnya menusuk kedua mata Yul yang sipit.


“Aduh, mataku.”


Lima belas hari. Ini sudah lima belas hari sejak Yebin menyatakan cintanya kepada Yul. Dan ia belum mendengar jawaban apa-apa dari pria itu.


Yebin ingin menahan diri. Ia ingin sedikit lebih bersabar lagi sampai pria itu menepati janjinya untuk memberi jawaban kepastian. Sampai saat itu tiba, Yebin ingin menunggu dengan sabar walau ia tak tahu sampai kapan. Mungkin pria itu benar-benar mempertimbangkan perasaan Yebin, jadi membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk berpikir. Semakin lama menunggu, Yebin berpikir peluangnya akan semakin besar. Peluang untuk menjadikan laki-laki itu kekasihnya.


“Kenapa Ajeossi memanggilku?” tanya Yebin melihat Yul yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu padanya.


“Tidak. Aku kebetulan sedang ada di depan rumah dan melihatmu pulang dari toserba,” jawab Yul sambil mengalihkan matanya dari Yebin.


“Tck-tck. Kebetulan? Yang benar saja. Aku melihatmu ada di balik gerbang sejak ada di ujung jalan sana.” Yebin mencerocos.


“Benar. Aku tidak bohong.”


Dasar bodoh. Padahal ia sudah tertangkap basah oleh Yebin. Masih saja mau menutupi kebohongannya. Yebin yang merasa heran, mengangguk-angguk.


“Ah, ya.... Kalau begitu aku pergi saja. Lagi pula Ajeossi tidak mau bilang apa-apa.”


Yebin hendak berlalu meninggalkan Yul sebelum pria itu menyeru, “Apa hari ini kau sibuk?”


Tanpa membalik tubuhnya Yebin menjawab, “Hm. Aku benar-benar sibuk.”


“Hei, Kang Yebin. Kalau orang dewasa berbicara, hormatilah. Siapa yang kau ajak bicara dengan menghadap ke situ?,” rutuk Yul yang seketika membuat Yebin mengembuskan napas panjang.


Segera Yebin menolehkan kepadanya pada Yul. Dengan pandangannya yang malas ia menjawab, “Ya. Aku sangat sibuk, Ajeossi. Jangan menyita waktuku. Aku mau mengemas pesanan sekarang juga.”


Yul menahan napasnya di dalam perut melihat Yebin yang sepetinya benar-benar sibuk.


“Be... begitukah?”


“Ya, begitu. Sekarang apa aku boleh pergi?” Yebin memastikan setelah melihat Yul yang sepertinya tidak ingin mengatakan hal lain.


Ragu-ragu Yul menjawab, “Tentu.”


Segera Yebin melengoskan kepalanya dari Yul. Berlalu pergi meninggalkan pria itu sambil menuntun sepeda kayuhnya memasuki gerbang rumah. Sementara itu, di depan gerbang rumahnya sendiri Yul mengmbuskan napas panjang-panjang.


“Hhh. Bagaimana aku mengatakannya? Nona Kang pasti tidak mau karena sangat sibuk.” Di pinggir jalan itu Yul menggumam-gumam tidak jelas seorang diri. Ia berpikir beberapa waktu sambil menatap rumah di seberang jalan. “Entahlah. Aku akan mengatakannya lebih dulu.”


Yul berjalan cepat menuju rumah Yebin. Di sana, Miyoon tengah sibuk menyirami tanaman. Yul bertanya di mana Yebin dan Miyoon menyuruhnya mencari wanita itu di kamar tidur lantai dua. Sepertinya wanita itu sedang mengepak pesanan setelah membeli solatip di toserba.


“Mau kubantu?” sahut Yul dari ambang pintu. Membuat Yebin sontak menoleh.


“Kalau Ajeossi bersedia membantu, aku tidak menolak.”


Begitu mendapat izin, Yul berjalan memasuki kamar Yebin. Kamar tidur Yebin yang tidak terlalu luas ini menjadi semakin sempit karena dua lemari pakaian berukuran besar tempat Yebin menyimpan stok barang dan puluhan boks berlabel Biniemoon.


Yul mengambil duduk di atas ranjang tidur Yebin yang berukurang sedang. Kemudian mengamati tumpukan pakaian dan barang-barang fashion lainnya yang diletakkan di atas ranjang. Semua barang-barang itu terdapat kode pesanannya di bagian pembungkus luar.


“Aku tinggal menyusunnya sesuai daftar pesanan ini kan?” tanya Yul sambil melihat daftar pesanan di tablet Yebin yang menyala.


“Ya.”


Yebin ikut mendudukkan tubuhnya ke atas ranjang. Kemudian memulai pekerjaannya mengepak pesanan para customer Biniemoon. Yul yang memilah barang sesuai nomor pesanan yang tertera di tablet. Sementara Yebin memeriksa kembali barang pesanan tersebut sebelum dikemas ke dalam boks berlogo Biniemoon yang di bagian pinggirnya terdapat formulir berisi alamat tujuan dan identitas pengirim serta penerima.


Keduanya mulai sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing di atas ranjang. Di sela pekerjaan yang dilakukannya, Yul memulai pembicaraan.


“Apa besok kau punya acara?” tanya Yul.


“Tentu punya. Besok adalah hari Senin. Aku harus mengunggah produk-produk baru di website Biniemoon.” Yebin menjawab dengan pandangannya yang tidak teralih dari kotak pesanan.


“Kapan kau melakukannya?”


“Mungkin pagi.”


“Apa membutuhkan waktu lama untuk mengunggah produknya?”


“Sekitar satu sampai dua jam. Aku juga perlu memeriksa semua barang yang ada di website dan memperbarui semua stoknya.”


Kepala Yul mengangguk-angguk. Yebin menyadari suatu hal dan bertanya, “Kenapa?”


“Tidak apa-apa. Besok itu seorang temanku ada yang menikah. Dan sebenarnya aku ingin mengajakmu ke resepsi pernikahan itu. Tapi kelihatannya kau sangat sibuk. Aku tidak ingin menganggu pekerjaanmu,” jawab Yul hati-hati.


Wanita itu kelihatan sedang berpikir. Ia mempertimbangkan ucapan Yul itu dan memberi tanggapan.


“Kapan resepsinya dimulai?”


“Sekitar pukul empat sore. Mungkin sampai malam. Ada pesta setelah itu.”


Sambil menganggukkan kepalanya Yebin berucap, “Kalau jam empat sore, aku bisa. Semua pekerjaanku mungkin sudah selesai jam segitu.”


“Sungguh?” sahut Yul antusias.


Yebin mengangguk yakin.


Keesokan harinya Yebin menyelesaikan perkerjaan Biniemoon dalam waktu lebih singkat karena Yul yang membantunya. Pria itu memilih tidak pergi ke kafe dan memasrahkan pekerjaan kafe kepada Jisoo, manajernya. Ia membantu Yebin sejak pagi untuk mengunggah produk baru di website. Setelah itu mengemasi barang pesanan seperti biasanya.


Pada pukul dua siang keduanya berangkat ke salon bersama. Bagaimanapun, resepsi pernikahan temannya itu acara yang cukup penting untuk menjaga image Yul sebagai pemilik Moonlight Coffe. Ia perlu mendandani Yebin secantik mungkin dan melakukan beberapa treatment kecantikan untuk wanita itu.


Di salon Yebin mendapat pijatan massage. Mendapat perawatan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Juga dirias dengan cantik oleh perias yang bekerja di salon. Ia tak tahu berapa banyak Yul menghabiskan uang untuk semua perawatan kecantikan ini. Yang pasti, Yebin menebak-nebak itu lebih dari lima juta won. Jumlah yang menurutnya itu sangat banyak.


Cermian rias yang berukuran besar itu memperlihatkan penampilan Yebin setelah mendapatkan perawatan kecantikan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia mengamati wajahnya yang berkilauan seperti intan. Yebin tidak yakin apakah yang terpantul di cermin itu benar dirinya, atau orang lain. Ia merasa wajahnya benar-benar berbeda. Kulit tubuhnya menjadi sangat cerah dan berkilauan. Wajahnya terlihat mulus seperti porselan. Kini, Yebin tahu kenapa aktris di televisi itu terlihat sangat cantik seperti permata. Karena mereka tidak sayang mengeluarkan uang puluhan juga untuk perawatan tubuh semacam ini.


“Wah, memang benar kalau uang itu bisa membuat wanita lebih cantik. Aku harus menghasilkan banyak uang. Agar setiap hari bisa cantik seperti ini.”


Kepala Yebin menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati polesan wajahnya yang seperti porselen, licin dan bercahaya. Ia mengamati seisi wajahnya yang terbalut make up supermahal yang membuatnya berkali lipat lebih cantik. Rambut coklatnya yang panjang terurai dengan beberapa lekukan yang membentuk gelombang. Ia memakai anting mutiara yang panjangnya lebih dari lima sentimeter. Juga memakai kalung mutiara yanng sepadan. Gaun berwarna navy melekat di tubuhnya yang ramping. Memperlihatkan garis leger dan lekuk tubuhhya yang indah.


“Ini polesan terakhir, Nyonya. Tuan Moon meminta warna lipstick yang lebih merah.”


Seorang perias salon berucap. Ia membawakan lipstick berwarna leci untuk Yebin.


“Ah, saya masih mahasiswa. Tolong jangan panggil Nyonya.” Yebin berkata.


“Maaf, maksud saya, Nona.”


Perias itu mulai memoleskan lipstick merah tersebut ke bibir Yebin. Mewarnai bibir tipis wanita itu dengan rapi dan teliti. Terakhir, melapisi lipstick merah menggunakan lipgloss untuk kesan yang berbinar-binar.


“Sudah selesai. Tuan Moon menunggu Nona di luar.”


“Ya, baiklah.”


Yebin beranjak bangkit dari duduk. Berjalan di atas highheels berwarna perak yang menjadikan tubuhnya lima belas centi lebih tinggi. Keluar dari ruang rias untuk menghampiri Yul yang menunggunya di depan ruangan.


“Ajeossi, aku sudah selesai.”


Tubuh Yul sontak beranjak bangun mendengar Yebin memanggilnya. Yul segera menoleh dan mendapati Yebin yang berjalan menuju arahnya.


Pemandangan yang tidak biasa. Yul sampai terpaku beberapa waktu melihat perubahan pada Yebin. Senyum menawan pria itu otomatis mengembang di wajahnya yang tampan melihat Yebin yang tampil begitu cantik hari ini. Tatapan Yul yang berbinar, ditambah kedua lesung pipitnya yang dalam itu menunjukkan bahwa dirinya terpesona pada Yebin.


“Kau... sungguh Yebin?” desus Yul seketika Yebin tiba di hadapannya.


***