Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Saingan yang bukan seperti saingan



Waktu masih menunjukkan pukul sembilan ketika kedua manusia itu menyelesaikan malam malam di sebuah restoran. Sebelum menuju Seocho untuk pulang, Yul mampir ke Nohyeon-dong, daerah galeri seninya berada.



“Tempat apa ini Ajeossi?”



Pandangan Yebin menyebar ke sekeliling. Langkahnya mengikuti Yul yang berjalan melewati pintu kaca bangunan di lantai satu yang otomatis terbuka ketika sensornya mendapati keberadaan manusia.



“Kau akan tahu setelah masuk,” desus Yul. Ia berjalan menuju lift yang akan membawanya naik ke lantai sembilan, tempat galeri seninya berada.



Yebin yang penasaran pun diam mengikuti Yul. Keluar dari lift begitu mereka tiba di lantai sembilan. Yul berjalan menuju sebuah ruangan yang memerlukan akses masuk berupa kartu. Pria itu menempelkan sebuah kartu akses pada alat pengaman ruangan. Pintu ruangan pun seketika terbuka. Ia berjalan masuk diikuti Yebin yang berjalan mengekorinya



“Wah, galeri seni siapa ini?” Yebin bergumam mendapati lampu ruangan berwarna keemasan yang otomatis menyala saat ia masuk ke dalam.



Ruangan yang berukuran cukup luas ini penuh terisi lukisan-lukisan indah yang sebagian besar terpajang di dinding. Lampu keemasan ruangan yang menyala temaram menyinari kaca pelapis lukisan. Membuatnya terlihat megah di mata Yebin. Ia penasaran, galeri seni megah milik siapa yang ada di tempat terpencil ini.



Yebin masih terperangah pada lukisan-lukisan di dalam galeri. Kakinya melangkah menelusuri dinding yang dipenuhi lukisan bertajuk natural yang terlihat sangat realistis dan nyata ini. Beberapa lukisan lain bertajuk fantasi dengan latar luar angkasa seperti bimasakti dan galaksi andromeda.



Wanita itu memang tidak banyak mengerti tentang seni seperti lukisan. Namun, ia meyakini bahwa semua lukisan yang ada di galeri ini adalah karya cipta dari tangan seniman yang profesional. Lukisan-lukisan yang terpajang di galeri sangat berbeda jauh dengan lukisan yang ada di dinding rumah Yebin yang goresan dan temanya sangat pasaran. Semua karya lukisan yang mengelilingi pandangan Yebin ini sangat natural dan membawa kesan serta feel yang berbeda. Feel yang Yebin dapat ketika memandangi lukisan itu sama seperti ketika ia melihat lukisan legendaris yang dipoles oleh seniman bernama Moon Jiwook yang galeri seninya sering Yebin datangi bersama Somin.



“Entah mengapa aku merasakan feel yang sama ketika melihat lukisan ‘Putra di Padang Senja’ oleh pelukis Moon Jiwook.” Yebin menggumam sembari memandangi lukisan bertajuk lavender di sudut dinding paling kanan.



Kepala Yul menoleh. Ia mengernyit menatap Yebin yang berdiri di sebelah. “Kau juga menyukai seni?”



Yebin menjawab ragu, “Dibilang penyuka seni, tidak juga. Hanya saja ayahku sangat menggemari lukisan. Aku sering diajak ayahku pergi ke pameran lukisan. Ketika ayahku meninggal, Somin yang menyukai seni lukis sering mengajakku ke galeri Seniman Moon Jiwook.”



Selesai menjawab, Yebin teringat suatu hal.



“Ngomong-ngomong, ini galeri seni siapa? Aku tidak pernah melihat galeri seni ini. Sepertinya ini juga tidak dibuka untuk umum.”



“Seniman Moon Jiwook, dia adalah ayahku.”



Tubuh Yebin sontak mematung mendengar ucapan Yul. Untuk kedua kalinya wanita itu terperangah. Tubuhnya otomatis berputar menghadap Yul. Kepalanya menengadah menatap pria itu penuh keterkejutan. Dengan bodohnya wanita itu bertanya, “Sejak kapan?”



Kedua alis Yul terangkat. “Apa maksudnya sejak kapan? Tentu sejak aku lahir.”



“Bukan begitu,” sahut Yebin sambil menggeleng kecil. “Kenapa aku tidak tahu? Kenapa Ajeossi tidak pernah memberitahuku kalau Seniman Moon yang terkenal itu adalah ayahmu?”



“Kau kan tidak pernah bertanya.” Yul membalas perkataan Yebin. Membuat mata Yebin berkedip-kedip bingung. Wanita itu memang tidak pernah bertanya siapa ayah Yul. Dan untuk apa menanyakannya? Toh Yebin bukan wanita paruh baya yang melihat Yul dari latar belakang keluarga.



“Padahal aku sudah bercerita tentang keluargaku kepada ibumu. Tapi kau sama sekali tidak pernah menanyakan itu,” lanjut Yul setengah mengeluh.



Pandangan Yebin seketika menurun. Dengan menggumam-gumam ia menjelaskan, “Aku hanya merasa sungkan menanyakan tentang keluargamu. Bagaimana aku bertanya di saat Ajeossi tidak pernah berbicara tentang keluargamu? Apalagi kau hidup sendirian.”



Yul menghela napas ringan. Lalu mulai bercerita singkat.



“Seniman Moon Jiwook adalah ayahku. Dan ini adalah galeri seniku. Aku teraliri darah seniman ayahku dan belajar melukis darinya. Ini semua adalah karya lukisku sejak umurku dua puluh. Aku sengaja mendirikan galeri seni pribadi tempatku menyimpan semua lukisan yang sudah jadi.”



Yebin mencerna semua cerita Yul dengan baik. Ia kembali memandangi lukisan Yul yang terpajang di dinding.



“Aku bertanya karena penasaran. Kenapa Ajeossi memilih menjadi bos kafe? Melihat semua lukisan di sini, sepertinya kau seniman yang profesional. Jika Ajeossi lebih fokus melukis dan meninggalkan bisnis kafe, kau pasti bisa menjadi terkenal seperti ayahmu. Kau juga bisa membuka galeri senimu ini untuk umum, atau mengadakan pameran seni.”



Itu semua adalah mimpi Yul yang telah diredamnya. Semua yang dibicarakan Yebin adalah mimpi Yul yang tidak diketahui orang lain. Yul lebih suka melukis dibanding mengurusi bisnis. Ia ingin seperti ayahnya yang menjadi pelukis terkenal. Memiliki galeri seni yang dibuka secara umum sehingga lukisannya dapat dinikmati banyak orang. Mengadakan pemeran seni dan membuat dirinya menjadi penerus ayahnya. Namun, Yul tidak bisa melakukan semua itu karena bisnis kafe yang ibunya miliki. Yul terlanjur menyanggupi permintaan terakhir ibunya untuk mengelola kafe. Karena selain Yul tidak ada lagi yang bisa meneruskan bisnis kafe itu. Hun, adik Yul, juga tidak mungkin mau mengelola kafe di saat dirinya sendiri berjuang untuk menjadi hakim. Yul yang bertanggung jawab atas keluarganyalah yang bisa meneruskan bisnis kafe sang ibu. Itu sudah resikonya menjadi anak pertama.



“Bisnis kafe adalah keharusanku. Dan aku tidak keberatan selagi aku masih bisa melakukan hobi melukisku,” jawab Yul dengan tegas. Ada satu titik dalam benaknya yang bertentangan dengan jawabannya itu.



“Tetap saja, pasti ada saat di mana Ajeossi merasa ingin menggunakan seluruh jiwamu untuk melukis. Benar-benar menggunakan seluruh jiwamu untuk melukis, bukannya jiwa yang terbelah-belah.”



Sekali lagi, Yebin menebak dengan benar apa yang Yul rasakan. Pria itu terdiam selagi Yebin memandangi lukisan seorang pria yang memeluk wanita di suatu tempat luar angkasa yang dinamakan bimasakti.



Kepala Yebin terlintasi satu hal dan ia segera memekik, “Anak laki-laki dalam lukisan ‘Putra di Padang Senja’ itu apakah Ajeossi?” sambil menengok menatap Yul dari samping. “Lukisan itu memperlihatkan seorang anak laki-laki yang melukis matahari di senja hari saat matahari yang sesungguhnya bersembunyi di balik badai salju. Anak laki-laki dalam lukisan itu Ajeossi kan?”



Kepala Yul termanggut sementara bibirnya tersenyum tipis. “Ayahku menyampaikan hasrat melukisku yang besar dalam lukisan ‘Putra di Padang Senja’. Setelah melukis itu ayahku berkata, kalau aku akan tetap melukis tidak peduli badai apa yang menghalangiku. Dan aku merasa apa yang ayah lukis itu benar-benar terjadi. Buktinya saja aku tetap bisa melukis tidak peduli betapa sibuknya aku mengurusi bisnis kafe.”



Yebin mencerna ucapan Yul sambil mengangguk kecil. Tubuhnya berhadapan dengan Yul yang kepalanya sedang menoleh.



“Kenapa Ajeossi mengajakku kemari?” tanya Yebin.




“Ini untukmu. Besok kau ulang tahun kan?” ucap Yul sembari memperlihatkan lukisan cantik itu kepada Yebin.



Wajah Yebin terperengah. Ia melihat wajahnya terpoles sangat cantik dalam lukisan yang diulurkan Yul.



“Wah! Ajeossi yang melukis ini untukku?” pekik Yebin sambil menerima lukisan wajahnya. Ia benar-benar terharu melihat wajahnya dipoles dengan sangat cantik oleh sentuhan tangan seniman Yul. Yebin yang merasa terenyuh pun mendongakkan kepala. Menatap Yul yang menguntai senyum hangat. “Ini benar untukku? Ajeossi yang memberikannya?”



“Besok itu hari Senin dan aku akan sangat sibuk mengurusi kafe. Aku tidak yakin apa besok bisa bertemu denganmu. Jadi kuberikan hadiah ini lebih awal.” Yul mengimbuhkan. Ia menatap Yebin yang tersenyum ceria menggunakan mata bulatnya yang menyipit indah.



“Ini benar-benar bagus.” Yebin menggumam melihat lukisan wajahnya yang dibuat Yul. Tetap ia merasa ada sesuatu yang aneh. “Wajahku terlihat sangat cantik di lukisan ini, seperti telah diedit menggunakan photoshop. Apa aku memang secantik ini di matamu Ajeossi?”



Tenggorokan Yul terasa gatal. Pria itu batuk-batuk dan merasa tidak bisa menjawab pertanyaan Yebin yang tidak diprediksinya. Sambil memiringkan kepala dan melangkah pergi, Yul menggumam-gumam, “Aku tidak yakin.”


***


“Astaga, Kak Minho benar-benar melakukan itu padamu?”



Suara Somin yang menceletuk membuat Yebin mengangguk. Wanita itu tengah mengemasi pesanan yang masuk di portal Biniemoon. Mengemasi barang-barang pesanan customer ke dalam kotak silver yang terdapat logo Biniemoon. Untuk setelah itu dikirimnya ke kurir antar barang Seoul dan ke jasa pengiriman cepat antar kota.



“Aku tidak tahu kalau ternyata laki-laki itu sangat menyedihkan. Sampai saat ini dia tidak berani muncul di hadapanku. Kalau pun aku melihatnya di suatu tempat secara tidak sengaja, dia langsung pergi terbirit-birit seperti tikus celurut.” Yebin lanjut bercerita.



Di sebelahnya, Somin melipat pakaian-pakaian pesanan sesuai yang tercantum di dalam kotak pesanan Biniemoon. Memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam plastik. Juga memasukkan perlengkapan fashion lain ke dalam kotak hitam. Lalu diserahkannya kepada Yebin yang mengemasi barang-barang pesanan customer ke dalam kotak paket Biniemoon.



“Untung saja Ajeossi itu datang tepat waktu. Jika tidak, kau benar-benar celaka.”



Napas Yebin terhela panjang. “Benar sekali. Aku nyaris berada dalam masalah besar jika bukan karena Ajeossi. Malam itu, tanpa kusadari aku menangis begitu saja di pelukan Ajeossi. Seolah tangisanku terjadi begitu alami dan aku bahkan tidak sadar selama beberapa saat kalau aku sedang menangis dalam pelukannya.”



Mulut Somin ternganga. Ia sontak menoleh pada Yebin yang menceritakan hal mengejutkan itu.



“Kau menangis? Yebin yang tidak punya air mata dan berhati es, menanis? Terlebih dari itu di pelukan Ajeossi kau menangis?” pekik Somin tak percaya. Selama berteman dengan Yebin, wanita itu tidak pernah melihat Yebin menangis. Mendengar cerita kalau Yebin baru saja menangis di pelukan seorang pria benar-benar hal yang langka sekaligus mengejutkan untuk Somin.



Sambil menggerutu pelan Yebin menambahi, “Sudah kukatakan, aku pun sempat tidak menyadari kalau aku ini menangis. Semuanya terjadi begitu saja seperti mimpi. Saat aku merasakan sesak didadaku berkurang karena tangis itu, Ajeossi telah memelukkan dalam waktu lama. Aku menyadari itu dan segera melepas pelukannya. Juga menghentikan tangisku yang memalukan.”



“Wah.”



Kepala Somin menggeleng-geleng mendengar cerita Yebin yang seperti karangan, tampak fiktif namun kenyataan. Ia sempat mengira kalau Yebin itu tidak bisa menangis. Entah karena kantung air matanya yang sudah tidak berfungsi, atau karena wanita itu memiliki hati yang kuat seperti batu. Kenyataan kalau Yebin menangis di pelukan Yul benar-benar hal yang sulit untuk Somin cerna. Ia telah berteman lama dengan Yebin. Dan merasa kalau Yebin bahkan tidak akan menangis mendengar kabar kematiannya. Konyol, memang. Tetapi seperti itulah Somin memandang Yebin sebagai satu-satunya wanita yang paling tegar yang pernah dikenalnya.



“Apa jangan-jangan kau menyukai Ajeossi?” tanya Somin.



“Apa maksudmu? Kenapa aku menyukai Ajeossi? Terlebih lagi dia adalah laki-laki yang usianya jauh lebih tua dariku. Tidak mungkin sekali aku menyukai pria itu yang seperti pamanku.” Yebin menjawab tak acuh.



Ia menutup satu kotak pesanan berisi satu atasan pria dan satu atasan wanita, kacamata hitam, dan dua jam tangan pasangan. Kemudian membungkus kotak pesanan nomor dua belas menggunakan bubble wrap agar barang pesanan aman selama pengiriman ke Gangwon-do dan sampai di tangan customer tanpa ada kecacatan.



“Kenapa tidak mungkin? Bayangkan saja. Tidak ada alasan kau menangis di pelukannya. Tapi, kau menangis di pelukan Ajeossi dan itu terjadi seolah-oleh di luar kendalimu. Kenapa? Alam bawah sadarmu yang mengendalikanmu. Karena kau merasa Ajeossi adalah satu-satunya orang yang bisa mendengar tangismu. Karena kau menyukainya. Karena kau merasa sangat nyaman dengan Ajeossi hingga tanpa sadar reaksi tubuhmu tidak terkendali saat bersamanya.” Somin mencerocos panjang lebar. Membuat Yebin menghentikan kegiatannya sejenak.



Itu memang masuk akal. Yebin merasa perkataan Somin itu masuk akal. Namun, ada dorongan dalam diri Yebin untuk tidak memercayai ucapan Somin. Dorongan yang membuat Yebin tak mengacuhkan hal itu.



“Tidak. Kalau diingat-ingat kembali, malam itu aku merasa kacau. Dan aku terharu karena Ajeossi ada di sana pada waktu aku terbangun dari obat bius.”



Begitu Yebin menyimpulkan apa yang terjadi padanya malam itu. Ia merasa ucapan Somin itu sangat tidak masuk akal mengingat Yul yang selama ini dianggapnya sebatas ‘ajeossi baik yang tinggal di depan rumahku’.



Kepala Somin memiring memikirkan kalimat Yebin. “Begitukah? Apa jangan-jangan Ajeossi yang menyukaimu? Dia bahkan melukis wajahmu dan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun,” lanjut Somin menggumam-gumam.



“Tidak masuk akal!” Yebin sektika itu mencetus. Ia tidak tahu kenapa dari tadi Somin mengatakan hal-hal tidak masuk akal. “Kenapa Ajeossi menyukaiku? Dia sudah memiliki kekasih yang sangat cantik.”



“Ah! Apa wanita itu yang kau maksud?”



Somin melongokkan tubuh. Dari jendela lantai dua rumah Yebin, ia melihat seorang wanita turun dari taksi. Wanita tinggi semampai yang berambut coklat terang itu berhenti di depan gerbang rumah Yul. Sedang memencet tombol rumah.



Merasa penasaran pada sosok wanita cantik itu, Somin beranjak dari tempat. Berjongkok di balik jendela lantai dua untuk mengintip Haeri yang sedang datang ke rumah Yul. Tidak lama kemudian, Yul keluar dari rumah. Membukakan pintu gerbang kepada Haeri. Keduanya menebar senyuman aneh yang membuat siapa pun berpikir kalau hubungan mereka tidaklah biasa.



Sementara itu Yebin membatin.



Astaga, wanita itu datang lagi. Sial! Seratus, ralat, dua ratus persen aku yakin mereka akan keluar berkencan setelah ini.


***