Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Penyamaran Bodoh Kang Yebin



Penyamaran Bodoh Kang Yebin


‘Halo, Yul~a. Aku sudah memeriksa semuanya. Bisa kita bertemu nanti sore di tempat biasa? Aku tunggu nanti jam lima sore di Restoran Hotel Qing.’


Tepat setelah itu telepon terputus. Wanita itu sangat menyebalkan. Dia langsung menutup panggilan setelah selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Meski panggilan telah terputus, aku masih diam membengong dengan kepalaku yang memikirkan satu hal. Hotel? Tempat biasa mereka bertemu itu adalah hotel? Fakta bahwa Jin Haeri dengan Yul Oppa ternyata masih berhubungan sudah membuat tubuhku setengah mati mendidih. Sekarang, apa? Mereka sering bertemu secara diam-diam di Hotel Qing? Apa yang sebenarnya mereka lakukan di tempat itu?


Tubuhku semakin mendidih mengingat apa yang baru saja Jin Haeri katakan di seberang telepon. Tetapi aku mencoba untuk tenang.


Tenang, Kang Yebin. Kau sudah berjanji untuk percaya pada Yul Oppa. Kau sudah menerima permohonannya untuk tetap percaya.


Begitu aku berusaha mengelabuhi pikiranku sendiri yang semakin mendidih. Saat aku masih berkecimpung dengan pemikiran itu, kudengar suara langkah kaki Yul Oppa sedang menuruni anak tangga dari lantai dua. Pada saat itu juga aku melempar ponsel yang ada di genggamanku ke atas kursi sofa.


Seolah tak terjadi apa-apa, aku menyerongkan tubuh pada Yul Oppa yang datang bersama dua pelan butik. Dua pelayan butik itu membawakan mahkota berlian di atas tempat khusus berwarna hitam yang terbuat dari beludru.


“Mahkota ini lebih baik kan? Kau menyukainya?” celetuk Yul Oppa semringah begitu tiba di hadapanku. Dengan posisi yang masih terduduk di atas sofa, aku tersenyum dengan menganggukkan kepala.


“Benar sekali. Yang ini terlihat lebih serasi dengan gaun yang kupakai.”


“Benar kan? Pilihanku tidak pernah salah.” Yul Oppa menggumam dengan bangga. Lalu kepalanya menoleh pada pegawai butik. “Tolong pasangkan di atas kepala calon istriku dengan cantik,” ucapnya pada pegawai itu untuk memasangkan mahkota yang baru dipilihnya ke atas kepalaku.


Aku terdiam sembari dua orang pegawai butik ini melepas kain yang menaungi kepalaku dan juga mahkota yang sebelumnya kupakai. Sementara mereka masih mendandaniku, aku melirik ke arah Yul Oppa yang sedang memeriksa ponselnya.


Aku yakin sekali kalau sekarang ia sedang membaca pesan KakaoTalk yang masuk dari Jin Haeri. Dengan dugaan itu aku menatap tajam Yul Oppa. Yang terjadi selanjutnya adalah, Yul Oppa terlihat sedang membalas pesan teks dari wanita itu. Dilihat dari cara membalasnya yang singkat, aku menduga itu adalah jawaban ‘baiklah’ atau ‘okay’.


Jika benar pesan teks dari Haeri itu adalah ajakan untuk bertemu, apa artinya mereka akan bertemu nanti sore? Di restoran Hotel Qing yang tadi disebutkan Jin Haeri dalam telepon singkatnya? Sial! Dadaku bergemuruh menyadari apa yang terjadi. Jika saja api dalam kepalaku ini bisa keluar, mungkin gaun putih melati yang kupakai sekarang sudah terbakar habis! Aku benar-benar marah. Namun, karena gaun ini aku harus menahan diri.


“Sudah, Tuan.”


Perkataan dari pegawai butik yang telah selesai memasang mahkota baru di atas kepalaku membuat Yul Oppa segera menyakui ponselnya ke dalam saku kemeja yang dipakainya. Ia menolehkan kepala. Menatapku dengan tatapan terpesonanya. Kemudian tersenyum semringah seperti beberapa waktu lalu.


“Bagus sekali. Kau berkali lipat lebih cantik dengan mahkota itu,” desus pelan Yul Oppa menghiburku. Tapi, aku masih belum bisa meredakan amarah yang semakin membuat kepalaku memanas.


Tenang, Kang Yebin. Kau tidak boleh menghancurkan gaun supermahal ini jika meluapkan amarah sekarang juga.


***


Perasaan tidak nyaman itu yang membawa kakiku melangkah ke tempat ini. Waktu menunjukkan pukul lima lebih lima menit. Aku berada di lobi Hotel Qing dengan melakukan penyamaran; memakai hoodie ungu dengan topi hitam dan juga masker.


Aku tidak yakin apa yang aku lakukan ini adalah hal yang benar. Tidak. Sudah pasti apa kulakukan secara diam-diam ini adalah hal yang salah. Sama saja aku mengintai. Sama saja aku mencurigai calon suamiku berselingkuh dengan wanita lain.


Bodoh amat! Siapa yang peduli? Anggap saja aku berada di tempat untuk untuk memastikan bahwa Yul Oppa benar-benar tidak berselingkuh dengan siapa pun. Aku berada di tempat ini bukan untuk memergokinya bertemu dengan wanita bernama Jin Haeri yang seorang pengacara itu. Melainkan, untuk memastikan bahwa Yul Oppa tidak memiliki hubungan apa-apa dengan wanita itu. Bahwa Yul Oppa tidak akan menghianatiku menjelang pernikahan kami yang semakin dekat.


Lima belas menit aku menunggu di pojok lobi hotel lantai satu. Tepatnya aku menunggu kedatangan mereka.


“Kenapa mereka tidak datang-datang? Apa jangan-jangan tadi Oppa membatalkan janjinya? Atau dia menolak ajakan Jin Haeri untuk bertemu. Kalau benar begitu, aku patut bersyukur.”


Aku menggumam-gumam tak jelas selagi bersembunyi di balik pot besar di bagian pojok lobi lantai satu. Tepat dua menit setelah itu, aku melihat wanita berbaju merah yang tidak lain adalah Jin Haeri masuk. Diikuti Yul Oppa yang berjalan di belakangnya. Tetapi mereka tidak hanya berdua, ada satu sosok wanita lagi yang berjalan beberapa meter di belakang Yul Oppa. Wanita berambut panjang yang diikat ekor kuda itu tampak asing di mataku.


“Siapa ekor kuda itu? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya.”


“Siapa yang kau maksud?”


“Akh! Aduh.”


Tubuhku terperanjat mendengar seorang perempuan berbisik di telingaku. Aku pun langsung menoleh. Kulihat Somin sedang berdiri di belakangku.


“Somin~a, bagaimana kau ada di sini?” desusku terkejut. Melihat Somin ada di hotel ini cukup mebuatku terkejut.


“Aku yang seharusnya bertanya, bagaimana kau bisa berada di sini?” Somin balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku.


“Hanya saja, aku punya sedikit urusan di sini.” Aku pun menjawab tanpa ragu. Lalu aku teringat suatu hal, “Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa mengenaliku? Dan kenapa kau ada di sini?”


Itu cukup mencurigakan. Padahal aku telah memakai topi dan juga masker untuk menitupi separuh wajahku. Jadi bagaimana Somin tahu kalau yang berdiri di balik pot besar ini adalah aku?”


Somin menghela napas panjang.


“Bagaimana aku tidak tahu? Hoodie ungu itu kan yang hampir setiap hari kau kenakan? Dan bagaimana aku tidak tahu di saat bagian belakang topimu terpampang jelas mana ‘Kang Yebin’?” celetuk Somin yang terdengar seperti helaan napas panjang.


Benar sekali. aku memang hampir setiap hari memakai hoodie ini. Dan topi yang kupakai ini adalah topi dari komunitas yang aku ikuti sehingga tertera nama terang masing-masing. Tapi tetap saja, aku kan pakai masker!


“Kakakku bekerja sebagai resepsionis di sini sejak dua bulan lalu. Aku baru bertemu dengannya lalu melihatmu secara mengejutkan. Dengan identitasmu yang sejelas itu, jangan bilang kalau kau sedang mengintai seseorang.” Somin lanjut berucap.


Aku berdeham-deham ringan.


“Aku benar sedang mengintai kok. Apa salahnya?”


“Dasar bodoh! Bagaimana kau mengintai di saat kau menunjukkan dengan jelas identitasmu?”


Somin yang merutuk-rutuk itu membuatku mengesal. Sial! Aku telah kehilangan jejak Yul Oppa dan kedua wanita yang datang bersamanya.


“Bukan pakaianku yang penting, tapi bagaimana aku bersembunyi dengan baik.”


“Jadi, siapa yang kau intai? Calon suamimu? Yul Oppa?” lanjut Somin bertanya.


Aku mengangguk dengan spontan. Wajahku seketika memasam.


“Ngg. Ada yang perlu kupastikan malam ini juga,” kataku. “Oh ya, restoran hotel itu di lantai berapa?”


“Lantai lima belas. Kau akan ke sana?”


“Hmm. Aku duluan, Somin~a! Saat kau luang, datanglah ke rumahku. Aku benar-benar kerepotan mengemas pesanan sendirian sejak Kak Jangmi menikah,” seruku sambil berjalan menjauh. Dari kejauhan kulihat Somin yang menganggukkan kepalanya.


“Baiklah. Fighting!”


Kata itu yang kudengar dari Somin sebelum menenggelamkan diri ke dalam lift yang hanya ada aku seorang. Setelah pintu tertutup, lift pun naik menuju lantai lima belas tempat restoran berada. Di tempat itu, Yul Oppa dan dua wanita yang datang bersama berada. Entah apa yang mereka bicarakan.


***


“Cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah membungkam mulut Manager Kwon Suk. Dia sudah ditahan sejak dua hari lalu atas tuduhan penggelapan uang Moonlight Coffe. Cepat atau lambat polisi pasti akan menemukan bukti penghindaran pajak yang dia lakukan. Kemungkinan terburuk, begitu bukti itu ditemukan, dia akan menyeret namamu sebagai pemilik Moonlight Coffe. Dan saat kau diselidiki, polisi pasti akan menemukan bukti-bukti tentang Jesica. Ini adalah skenario terburuknya.”


Itu yang dikatakan oleh Haeri yang duduk berseberangan meja denganku. Seorang wanita berambut kucir kuda yang ada di sebelahnya, menganggukkan kepala membenarkan apa yang Haeri ucapkan. Ia adalah rekan pengacara Haeri dari firma hukum tempatnya bekerja. mereka berdua bekeja sama untuk membantuku menuntaskan permasalahan yang sedang terjadi di Moonlight Coffe cabang Mapo.


“Membungkam mulut Kwon Suk adalah yang paling efektif untuk saat ini. Kita bisa melakukannya,” tegas Pengacara Bae.


Aku sama sekali tidak setuju dengan pendapat kedua kuasa hukumku. Entah mengapa, melakukan hal semacam itu justru akan menjeratku suatu saat. Membuktikan bahwa memang ada suatu hal yang ingin aku sembunyikan.


“Kita biarkan saja Kwon Suk membuka mulut. Aku siap menjalani penyelidikan jika memang itu yang terbaik untukku dan juga Moonlight Coffe,” ucapku. Seketika itu juga aku melihat raut wajah kedua kuasa hukumku yang berubah tidak setuju. Mereka menunjukkan pertentangan.


“Yul~a, kau yakin? Jika Kwon Suk menyebut namamu dan membuatmu menjadi dalang atas penghindaran pajak Moonlight Coffe yang dilakukannya, semuanya akan kacau. Kau tau betapa ganasnya media masa sekarang. Para wartawan yang sudah lama menyorot kafemu yang menjadi tempat berkencan para aktris, pasti akan langsung mengheboh begitu berita itu sampai media. Belum lagi para pesaingmu yang akan menjadikan ini kesempatan untuk menjatuhkan Moonlight Coffe. Kau yakin dengan keputusanmu?”


Nada suara Haeri meninggi. Ia sama sekali tidak setuju dengan apa yang aku tegaskan.


“Benar sekali. Kasus Jesica memang tidak seberapa. Namun jika itu sampai terkuak dan sampai di meja publik, Moonlihgt Coffe akan semakin kacau. Kau tau, media sangat sensitif terhadap kasus semacam itu.” Pengacara Bae mengimbuhkan. Raut wajahnya juga menunjukkan pertentangan.


“Ini adalah nasihat terakhirku, Yul~a. Kita bungkam saja mulut Kwon Suk dengan semua hal yang bisa kita lakukan. Kudengar dia memiliki adik yang masih berada di bangku SD. Kita gunakan anak itu, kalau perlu kita tanggung semua biaya sekolahnya sampai menjadi sarjana, untuk menutup mulut Kwon Suk dengan tidak menyebutkan namamu. Lagi pula kau sama sekali tidak terlibat dengan apa yang dia lakukan kan?” Haeri menambahkan.


Tatapanku menajam saat Haeri tiba-tiba menyebutkan adik Kwon Suk yang masih berada di bangku sekolah dasar. Aku ternganga. Itu memang cara yang biasa dilakukan oleh para tangan kotor di bidang hukum untuk memenjarakan orang yang tidak bersalah. Tapi, Kwon Suk memang benar bersalah. Untuk apa aku melakukannya? Terlebih, dengan menjadikan hidup seorang anak kecil tak bersalah menjadi jaminan. Apa ini masih bisa dikatakan perilaku manusia? Kadang aku sama sekali tidak menyukai pola pikir Haeri semacam ini.


Aku menatap Haeri tajam selagi menggumam, “Jangan sentuh keluarganya. Itu adalah kesalahan Kwon Suk dan ia akan dihukum atas perbuatannya. Buat apa aku menyentuh kehidupan seorang anak yang tidak bersalah? Haeri~ya, kukira kau sudah cukup mengenalku. Tapi kau memintaku melakukan hal sekotor itu sementara adikku adalah hakim? Aku tidak hanya akan mengotori tanganku, tapi juga menjadi batu sandungan untuk Hun yang sudah berjuang begitu keras untuk posisinya saat ini.”


Haeri seketika terdiam. Sepertinya ia melupakan itu semua. Sepertinya ia terlalu menghayati perannya sebagai kuasa hukumku.


Suasana mengehening cukup lama setelah aku mengutarakan pendapatku dengan suara yang sedikit ditekan. Kudengar Haeri sedang mengembuskan napas panjang.


“Lalu apa yang kau inginkan? Kau akan membiarkan Kwon Suk menyebut namamu dan menghancurkan Moonlight Coffe?” imbuh Haeri.


Raut wajahku mengeras. Aku menatap Haeri seperti sebelumnya; tajam.


“Moonlight Coffe... aku yang akan melindunginya. Kalian lakukan saja yang terbaik sebagai kuasa hukumku.”


Berbeda dari Haeri yang sampai akhir terlihat menentang keputusanku, Pengacara Bae menganggukkan kepala. Pengacara Bae adalah pengacara dengan bayaran paling mahal di forma hukum tempat Haeri bekerja. Ia terkenal kompeten dan juga penuh strategi alias licik dalam memenangkan kasus di meja pengadilan. Mungkin karena itu Haeri memilihnya sebagai patner.


“Aku setuju saja dengan keputusanmu. Kau pasti ingin Moonlight Coffe bersih dari segala hal yang terasa mengganjal. Kau pasti juga ingin tenang mengelola Moonlight Coffe kedepannya. Ya kan? Karena itu kau memilih jalan ini, untuk membiarkan semuanya terungkap sekarang. Karena keadaan akan semakin memburuk jika terungkapnya di masa depan. Menutupi satu lubang menimbilkan lubang yang lain yang lebih besar. Kurasa keputusan Yul sekarang sudah tepat. Tapi, kau harus tahu konsekuensi atas keputusanmu ini,” kata Pengacara Bae penuh percaya diri. Aku bisa melihat kompetisinya dalam menangani kasus. Tidak heran, ia seperti Kartu As di firma hukum.


Kepalaku mengangguk.


“Aku tahu konsekuensinya. Sewaktu-waktu polisi bisa datang ke rumahku untuk menahanku. Aku sudah cukup memiliki persiapan jika itu benar terjadi. Saat penyelidikan berlangsung, saham Moonlight Coffe mungkin akan jatuh. Dan setelah semuanya selesai, Moonlight Coffe pasti akan lebih jatuh dari yang kubayangkan. Saham merosot, beberapa investor mungkin mencabut investasinya, pelanggan hilang kepercayaan, dan kafe pesaing mungkin menjadikan itu kesempatan untuk naik. Aku tau semua konsekuensinya. Dan aku rasa aku bisa mengatasinya, meski kutau itu tidak mudah.”


Pengacara Bae menganggukkan kepala.


“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak terjadi dampak yang lebih buruk. Paling tidak jika urusan media, kau tidak perli khawatir. Aku cukup memiliki kekuatan untuk bisa mengendalikan media,” ucap Pengacara Bae penuh percaya diri. Aku tahu ia bisa dipercaya untuk hal semacam ini.


“Kau melupakan satu hal,” sahut Haeri setelah mendengar kami bercakap-cakap.


Pandanganku terangkat. Aku menatapnya penasaran.


“Pernikahanmu.... Aku yakin kau tidak bisa menikah dengan kondisi semacam itu. Pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menjalani semua proses hukumnya dan menangani krisis yang dialami Moonlight Coffe sebagai konsekuensi dari keputusan yang kau ambil sekarang.”


Tertegun, pandanganku seketika menurun sementara mataku bergetar. Memang tidak mungkin melangsungkan pernikahan dengan kondisi seperti itu. Bukan masalah gaun pengantin yang telah dipesan atau dekorasi ruangan yang telah dirancang sejak hari ini. Tetapi masalah bagaimana aku harus menjelaskan pada Yebin atas semua kondisi ini. Dan bagaimana aku meyakinkan ia dan ibunya yang telah menunggu hari pernikahan itu dengan penuh gembira.


Bagaimana aku bisa menghancurkan kebahagiaannya? Bagaimana aku bisa menghianati janjiku untuk menikah dengannya musim panas tahun ini? Di antara semua konsekuensi yang kutanggung, ini melihat Yebin kecewa adalah hal yang paling berat. Menghancurkan harapan Yebin atas pernikahan adalah hal yang paling membuatku menderita daripada mendekam di penjara bersama Kwon Suk.


“Karena ini aku menyarankan untuk membungkam mulut Kwon Suk. Karena aku tahu kau akan menikah sebentar lagi,” ucap Haei mengimbuhkan.


“Justru karena aku akan menikah.” Aku menyela kata-kata Haeri. Pandanganku menaik saat lanjut berkata, “Aku ingin membereskan semua, termasuk kasus Jesica, karena aku belum menikah. Aku ingin menanggung semua beban sekarang. Seberat apa pun konsekuensinya, aku ingin membersihkan Moonlight Coffe dari apa pun yang menjerat. Karena jika ini semua terkuak setelah aku menikah, aku akan berbagi beban dengan Yebin. Lebih baik aku menanggung beban ini sendirian daripada membaginya dengan Yebin. Melihatnya berada dalam kesulitan karenaku ribuan kali lebih berat dari menanggung beban ini sendirian. Aku akan memberihkan Moonlight Coffe dari semua hal yang menjadi batu sandungan untuk masa depan, termasuk kasus Jesica. Moonlight Coffe harus bersih dari semua kasus hukum, dengan begitu orang yang akan melanjutkan bisnis Moonlight Coffe bisa terbebas dari jeratan.”


Semua hening mendengar aku berkata-kata. Baik Pengacara Bae atau pun Haeri, keduanya terdiam selama beberapa saat.


“Kau... ingin memberikan Moonlight Coffe pada seseorang?” tanya Haeri ragu sesaat kemudian.


Bersama embusan napas panjang, aku menjawab, “Aku berpikir untuk menyerahkan Moonlight Coffe pada seseorang yang jauh lebih berbakat untuk berbisnis.”


“Maksudmu, Kang Yebin?” Haeri meyakinkan pendengarannya.


Aku hanya diam membenarkan ucapan Haeri. Pada waktu itu juga Haeri mengembuskan napas tak percaya.


“Jadi kau melakukan ini semua untuk masa depan Yebin? Hh! Aku heran, menjadi apa Yebin di kehidupan sebelumnya sampai ia seberuntung itu dengan mendapatkanmu, Yul~a.”


Apa yang kami bertiga bicarakan masik akan beranjut sampai beberapa waktu ke depan. Ada banyak sekali hal yang harus kami bicarakan untuk menyusun strategi hukum dalam menanggapi kasus penggelapan dana dan penghindaran pajak yang dilakukan Kwon Suk. Juga membahas apa saja yang bisa kulakukan untuk tetap suportif menjalani semua proses hukum sampai ke meja hijau.


“Baiklah. Sekarang kita bahas dulu tentang kasus penghindaran pajak Moonlight Coffe yang dilakukan Kwon Suk.” Aku angkat suara untuk melanjutkan pembahasan kami. Mengutarakan apa yang ingin kuutarakan untuk mendapatkan nasihat hukum dari dua wanita pengajara yang duduk berseberangan meja deganku. “Jadi, aku mendapat laporan itu dari....”


Prankkk!


Suara barang pecah yang terdengar menggelegar di ujung sana membuat kepalaku reflek menoleh. Kulihat dari kejauhan seorang pelayan restoran yang sedang bertabrakan dengan pelanggan seorang gadis berpakaian ungu, bertopi dan bermasker. Kejadian itu yang menyebabkan pelayan restoran menjatuhkan nampan berisi piring botol wine yang masih penuh dan beberapa gelas wine. Minuman wine pun tumpah mengenai seluruh pakaian dan rambut dari gadis ber-hoodie ungu. Sedangkan sang gadis tampak terjatuh ke atas lantai bersama beberapa pecahan gelas wine.


“Keributan apa lagi itu?” Suara-suara semacam itu mendesus dari hampir setiap mulut pelanggan restoran yang merasa terganggu.


“Baiklah, lanjutkan,” ucap Pengacara Bae memintaku melanjutkan apa yang tadi hendak kubicarakan.


“Tunggu.”


Bersama perasaan tak enak ini aku masih memerhatikan gadis ber-hoodie ungu itu dari kejauhan. Entah mengapa, pakaian itu terasa familiar. Aku merasa sering melihat seseorang memakai hoodie itu, hampir setiap hari.


“Tu... tunggu....”


Aku menyadarinya.


Seketika itu juga aku berdiri dari duduk. Jantungku terasa mencelos saat berjalan makin dekat pada gadis ber-hoodie ungu yang masih tersungkur di atas lantai dengan pecahan beling yang melukai tubuhnya. Itu adalah Yebin. benar. Dia Kang Yebin. bagaimana bisa ia berada di tempat ini.


“Kang Yebin!”


***