Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kim Lysa; gadis yang tidak terduga



Bab 23


Kim Lysa; gadis yang tidak terduga


Tubuh Lysa terasa sangat segar setelah tidur panjangnya yang lebih dari sepuluh jam. Tidurnya sangat nyenyak sekali sampai sampai ia terlihat seperti anak kecil yang pingsan di atas kasur degan selimut tipis yang menutupi tubuh. Gadis itu sangat kelelahan. Ia bekerja selama satu minggu full di tengah kesibukan kuliah dan persiapannya mengikuti ujian musim panas. Dan semalam semua rasa lelah itu telah terlepaskan. Ketika bangun, tubuhnya terasa segar kembali seolah olah ia baru saja dilahirkan kembali ke dunia ini.


Pukul enam pagi Lysa telah bangun dari tidurnya. Ia membersihkan tubuh. Lalu memakai pakaian olahraga dan mengisi botol minumannya sampai penuh. Setelah itu ia keluar dari asrama kampus ynag sangat sepi di hari minggu. Berjalan menuju gerbang kampus sebelum akhirnya seseorang memanggilnya.


“Mau pergi ke mana kau pagi pagi begini?”


Ternyata suara itu berasal dari Brian. Brian sedang berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan kampus. Wajahnya sangat kusur, seperti kelelahan. Kantung mata hitam membuat penampilannya tampak semakin kusut pada pagi hari ini.


“Sam!”


Lysa seketika itu menoleh ke belakang ketika Brian memanggilnya. Dan begitu menoleh, Lysa tampak terkejut melihat penampilan Brian yang berantakan.


“Sam, apa kau baru melembur sampai pagi? Sejak kemarin malam?” tanya Lysa curiga. Ia memasang wajah prihatin melihat wajah Brian yang sangat kusut itu. Dalam hati, Lysa merasa kasihan dan juga iba.


“Ya, ada projek yang harus kuselesaikan.” Brian menjawab dengan nada suara yang benar benar loyo. Lelaki itu menyusul langkah Lysa dan berjalan bersama menuju depan gerbang. “Tapi, kau mau ke mana pagi pagi begini?”


“Eh?” Lysa tampak gelagapan menanggapi pertanyaan Brian.


“Mau ... mau olah raga.” Lysa menjawab dengan gumaman.


“Aku tidak yakin. Sebenarnya kau itu mau ke mana?” desak Brian yang merasa bahwa Lysa sedang berbohong padanya. Satu keahlian yang paling tidak Lysa miliki adalah berbohong. Entah bagaimana ceritanya, setiap gadis itu berbohong pasti ketahuan oleh Brian. “Tidak mungkin kau olah raga dengan make up di wajah dan membawa tas bahu,” lanjut Brian berucap.


“Ah, hehe.”


Lysa yang menyadari bagaimana Brian bisa menebak kebohongannya itu pun tertawa hambar. Selain tertawa hambar di situasi ini, ia tidak tahu harus bagaimana.


“Aku mau ke sebuah tempat, untuk olah raga.” Lysa menjawab dengan ragu ragu.


“Kau benar benar mau olah raga, atau mau bertemu seseorang dengan alasan olah raga?” celetuk Brian yang seolah olah mengetahui isi pikiran Lysa.


Lysa menghela napas panjang panjang. Ia kadang berpikir, jangan jangan Brian itu seorang dukun yang bisa mengetahui isi pikiran orang lain tanpa bertanya. Kenapa di hadapan Brian, Lysa selalu ketahuan dan bahkan tidak bisa berbohong? Sial sekali. Lysa yang merasa dirinya itu sangat sial pun merutuk rutuk dalam hati. Dan ia tetap diam, tidak menjawab.


Sesampainya di depan gerbang, Brian pun merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobil. Kemudian memencet salah satu tombol di kuncinya sehingga mobilnya yang berwarna biru itu mengeluarkan suara ‘bip bip’.


“Naiklah. Entah ke mana kau akan pergi, akan kuantar,” ucap Brian tanpa basa basi. Lelaki itu tahu kalau Lysa akan mengiyakan tawaran tumpangannya. Sehingga begitu mengatakannya, Brian langsung masuk ke dalam mobil dan di susul Lysa kemudian.


“Jadi kau akan ke mana?” tanya Brian. Ia mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya perlahan menjauhi kampus.


“Nohyeon dong.”


“Apa?” Brian seketika itu terkejut mendengar Lysa akan pergi ke Nohyeon dong untuk sekadar olah raga. “Kau pergi ke Nohyeon dong hanya untuk olah raga? Aku benar benar tidak mengerti jalan pikiranmu, Lysa. Kau itu selalu di luar dugaanku,” desus Brian keheranan.


Sebenarnya Lysa melakukan ini karena rasa bersalahnya kepada Mino. Harusnya semalam mereka menghabiskan waktu bersama dengan menonton film di bioskop. Sudah lama sekali Mino mengajak Lysa untuk menonton film. Tetapi karena kesibukan Lysa akan pekerjaan barunya, kesibukan kuliah, dan tugas belajar yang harus dilakukannya untuk persiapan ujian musim panas, tubuh Lysa terasa begitu lelah. Benar benar lelah sampai sampai ia merasa akan segera pingsan jika tidak segera menidurkan tubuhnya yang sangat capai.


Karena rasa bersalahnya itu Lysa pagi pagi berniat untuk mengajak Mino berolah raga bersama di kompleks apartemennya. Dulu, saat pertama kali datang ke kompleks apartemen Mino, Lysa melihat sebuah taman kecil di dekat sana yang terdapat beberapa peralatan olah raga yang bisa di gunakan oleh umum.


“Olah raga itu ... hanya alasan. Sebenarnya aku hanya ingin bertemu dengan seseorang karena kemarin aku membatalkan sebuah janji.” Lysa yang tidak ingin menutup nutupi apa yang pada akhirnya akan ketahuan pun mengatakan hal itu dengan lugas kepada Brian.


Kening Brian mengernyit. Ia mengingat ingat siapa orang yang dikenal Lysa yang tinggal di Nohyeon dong. Padahal Lysa tidak mengenal banyak orang di Seoul karena gadis itu baru tinggal di Korea beberapa bulan saja. Otomatis, orang yang Lysa kenal itu kemungkinan besar tidak akan luput dari Brian. Brian pasti mengenalnya atau paling tidak tahu siapa orang yang membuat Lysa bangun pagi pagi dan pergi jauh jauh ke Nohyeon dong untuk sekadar bertemu dengannya.


Memikirkannya, membuat perasaan Brian tidak enak. Lelaki itu merasakan sebuah ketidak nyamanan dalam benak saat memikirkan siapa yang hendak Lysa temui. Tidak mungkin orang itu adalah perempuan, melihat Lysa yang berdandan dengan begitu segar dan cantik. Kalau bukan perempuan, otomatis ... laki laki.


Tiba tiba terbesit wajah seseorang di benak Brian. Brian teringat seorang laki laki yang bersama Lysa di trotoar dekat sebuah gedung apartemen di Nohyeon dong. Lebih dari satu bulan yang lalu, saat Lysa sedang ulang tahun ... Brian melihatnya.


“Mungkinkah ... yang kau temui itu, laki laki manajer Moonight Coffe?” Brian bertanya ragu ragu dengan raut wajah yang memperlihatkan kewaspadaan dan kecurigaan. Ia melirik ke arah Lysa yang wajahnya tidak dapat berbohong.


“Oh... i—iya.”


Melihat Lysa yang menjawab dengan ragu ragu namun tatapannya berbinar binar. Lysa melirik ke layar ponselnya. Dan mendapati bahwa pesan yang ia kirimkan pada Mino belum dibaca. Ah, mungkin Mino masih tidur, batin Lysa dalam benak.


Yang dirasakan Brian saat ini adalah rasa yang sangat tidak nyaman dan membuatnya tidka bisa berkata apa apa. Padahal ia tidak pernah melihat Lysa sebagai wanita. Namun, mengapa memikirkan gadis itu bersama laki laki membuat Brian merasakan sebelenggu perasaan yang sangat mengganggu dan sama sekali tidak nyaman? Jelas jelas, Brian tidak melihat Lysa sebagai wanita dan hanya mengganggapnya sebagai adik perempuan. Mengapa dia merasa sangat tidak nyaman? Apa memang begini perasaan seorang kakak ketika mengetahui adik perempuannya berkencan dengan laki laki lain? Apa memang seperti ini? Atau jangan jangan ....


“Kau berkencan dengan manajer itu?” Sebelum arah pikirannya semakin tidak jelas, Brian mengakhiri lamunannya tentang Lysa dan sebelenggu perasaan tidak enak yang saat ini ia rasakan.


“Tidak. Kami tidak berkencan.” Lysa menjawab.


Merasa aneh, kedua alis Brian terangkat tinggi tinggi. “Tidak? Lalu apa hubungan kalian?”


Sejujurnya Lysa tidak bisa menjawab dengan pasti. Karena ia sendiri pun tidak tahu hubungan macam apa yang saat ini ia jalani bersama Mino. Hubungan antara laki laki dan perempuan yang sedang sama sama berusaha melupakan seseorang yang menjadi bagian perasaan masa lalu, namun di saat yang bersamaan mereka juga saling merasa nyaman, aman, percaya, saling mengandalkan dan tentunya, berdebar debar. Lysa tidak yakin apa namanya hubungan semacam itu. Sehingga ia hanya menjawab, “Ya seperti ... hubungan dekat. Dan saling membutuhkan.”


“Hubungan dekat yang saling membutuhkan....” Kepala Brian memiring memikirkan satu kalimat itu. Ia tidak yakin hubungan seperti apa yang Lysa maksud. Tapi, ia menyimpulkan suatu hal. “Bukannya kita juga seperti itu? Dekat dan saling membutuhkan. Itu yang mau maksud?” lanjut Brian bertanya.


Apa yang Brian katakan itu sontak membuat kepala Lysa menoleh. Ia tidak yakin dengan apa yang Brian katakan. Dan sejujurnya, Lysa sedikit terluka mendengarnya.


Apa selama ini  Brian mengartikan hubungan mereka dengan seperti itu? Dekat dan saling membutuhkan. Selama dua belas tahun mereka kenal, seperti itukah pandangan Brian tentang hubungannya dengan Lysa?


Bagi Lysa, hubungannya dengan Brian yang sudah tejalin selama dua belas tahun itu lebih dari sekadar dekat dan membutuhkan. Lysa telah menganggap Brian seperti bagian dari kehidupannya. Selama ini Lysa menganggap bahwa Brian adalah bagain dari kebahagiaan dan kehangatan yang ia rasakan. Seperti keluarga yang saling mendukung dan menjadi tempat bersandar untuk Lysa di saat ia berada dalam masa masa terpuruk dalam hidup karena perpecahan keluarganya. Brian menjadi satu satunya tempat untuk Lysa berlindung selama ini. Berlindung dari semua luka yang ia rasakan karena penghiantan sang ibu. Tepat Lysa berteduh dan beradaptasi dengan kehidupan barunya di Korea Selatan. Selain itu, selama dua belas tahun mereka kenal, ada banyak sekali hal yang mereka lalui bersama. Lysa menghabiskan masa sekolah dasarnya dengan Brian yang selalu menjaganya seperti seorang kakak. Masa remaja Lysa juga dihabiskan dengan bersama dengan Brian sebagai orang yang lebih dewasa dan lebih mengerti tentang segala hal. Hingga akhirnya Lysa berumur delapan belas tahun dan Brian harus pergi ke Amerika untuk meneruskan studi S2 di sana.


Brian yang pertama kali mengenalkan Lysa tentang cinta, kedekatan, dan kedewasaan. Brian yang mewarnai masa remaja Lysa dengan hal hal tentang dunia yang tak Lysa ketahui. Brian pula satu satunya orang yang merayakan ulang tahun Lysa yang ke tujuh belas, di saat ayah dan ibunya sendiri sedang sibuk dan tak sempat merayakan ulang tahun bersejarah Lysa di usia ke tujuh belasnya. Tak hanya itu, Brian pula yang mengisi usia tujuh belas tahun Lysa dengan hal hal indah hingga Lysa memiliki momen sweet seventeen yang sering dibicarakan dalam lagu dan novel roman picisan Indonesia. Tetapi semua itu hanya diartikan sebagai ‘hubungan dekat dan membutuhkan’ oleh Brian?


Merasa begitu kecewa dan sedih, Lysa hanya bisa terdiam. Ia membayangkan kembali semua masa kanak-kanak hingga remajanya bersama Brian sebagai laki laki dewasa yang paling memperhatikannya pada saat itu.


Tiba tiba benaknya terasa begitu pedih. Ia tak lagi menaruh rasa suka pada Brian. Namun, mengetahui bahwa semua kenangan indah masa itu yang ternyata hanya dianggap sebatas ‘dekat dan membutuhkan’ oleh Brian tetap saja membuat perasaan Lysa meretih.


Lysa hanya menoleh keluar jendela kaca mobil. Melihat seorang perempuan mengendarai sepeda di trotoar dengan buket bunga yang memenuhi keranjang depan sepedanya. Lysa memperhatikan perempuan itu dengan seksama.


Sekilas, pandangan Brian teralih pada wanita yang mengendarakan sepeda di trotoar, mengikuti arah pandangan Lysa. Lalu ia menyahut, “Tentu aku ingat. Kau mudah terjatuh saat pertama kali menaiki sepeda, sampai lutut dan kedua sikumu penuh goresan.”


“Benar. Tapi, Sam, kau yang mengobati semua goresan lukaku saat belajar menaiki sepeda. Dan kau mengajariku sampai pandai dan aku tidak terjatuh lagi.” Lysa mengimbuhkan.


Sambil mengendarakan mobil, Brian mengingat ingat cerita itu. Kepalanya mengangguk angguk karena ia masih mengingat dengan baik apa yang dibicarakan Lysa.


“Hmm, benar sekali, karena kau sangat gigih.” Brian mengimbuhkan dengan menggumam gumam. Kemudian ia bertanya, “Tapi, kenapa tiba tiba kau membahas itu?”


Lysa mengembuskan napas panjang. Lalu menggeleng geleng.


“Tidak apa apa. Aku hanya ingin memastikan kalau kau juga mengingat momen itu, bukan aku sendirian yang mengingatnya.”


Apa yang Lysa katakan membuat Brian merasa semakin bingung. Namun ia tidak sempat menanyakan lebih lanjut karena mobil yang ia kendarai telah sampai di kompleks apartemen Mino. Brian menghentikan mobilnya. Dan Lysa mulai melepas sabuk pengaman.


“Terima kasih tumpangannya, Sam. Istirahatlah yang baik, aku sangat tidak tega melihat wajahmu yang sangat kusut itu.”


Sambil beranjak turun dari mobil Lysa mengatakan hal itu. Kemudian ia menutup pintu mobil Brian dan melambai lambaikan tangan.


Di dalam mobil itu, Brian hanya terbengong menatap Lysa yang melambai lambaikan tangan di luar. Membengong, meresapi semua perasaan aneh yang ia rasakan. Sampai beberapa saat.


Mendapati Brian yang justru membengong di dalam mobil itu, Lysa mengernyit bingung. Ia kembali melambaikan tangannya untuk memastikan apakah Brian itu sedang melamun di dalam mobil.


“Sam,” panggil Lysa. Namun tak didengarkan oleh Brian. “Brian!”


Begitu namanya dipanggil, Brian tampak tersentak dan langsung menoleh pada Lysa.


“Apa yang kau lakukan, Brian? Kau tidak akan pergi?” tanya Lysa.


Di dalam mobil itu Brian tampak kelabakan. Lelak iitu pun mengangguk anggukkan kepala dan bersiap siap untuk kembali melajukan mobil.


“Baiklah. Hati hati.”


Setelah itu Brian pun menghilang dari hadapan Lysa. Lysa pun segera berbalik badang dengan riang gembira. Meriksa ponsel dan mencari tempat duduk di trotoar.


Ternyata, pesan yang Lysa kirimkan masih belum dibaca oleh Mino. Sepertinya Mino belum bangun. Baiklah. Lagi pula ini adalah akhir pekan. Sudah sewajarnya orang yang sibuk bekerja seperti Mino tidur sampai agak siang di akhir pekan.


Alkhirnya Lysa menunggu di sana selama kurang lebih setengah jam. Hingga akhirnya semua pesan yang dikirimkannya pada Mino itu terbaca dan Lysa segera menengok ke atas, ke arah lantai delapan.


“Ajeossi! Ayo olah raga!”


Tubuh Lysa sontak berdiri melihat Mino muncul di jendela salah satu unit apartemen di lantai delapan. Dari kejauhan, wajah Mino tidak begitu terlihat, tetapi rambutnya tampak berantakan. Sepertinya lelaki itu benar benar baru saja bangun dari tidur dan langsung membaca semua pesan Kakao Talk yang Lysa kirimkan.


Setelah itu terlihat Mino di jendela yang menghilang. dan Lysa langsung mendapati satu pesan masuk dari Mino.


‘Tunggu sebentar.’


Hanya pesan itu yang Mino kirimkan. Lysa yang membaca pesan itu pun kembali duduk ke atas kursi trotoar dan menenggok ke arah taman kecil di sebelah kiri yang masih sepi.


Lysa menunggu selama beberapa menit di sana. Dan sesaat kemudian, Mino muncul dengan pakaian yang sama ketika ia gunakan untuk tidur. Laki laki itu telah mencuci wajahnya, sikat gigi dan menyisir rambut. Namun belum mandi karena tak ingin membuat Lysa menunggu lebih lama dan akhirnya ia buru buru turun.


“Apa kau sudah menunggu lama?” tanya Mino begitu tiba di hadapan Lysa.


“Tidak. Hanya sekitar ... setengah jam,” jawab Lysa spontan.


Mini menghela napas panjang panjang. “Harusnya kau bilang sejak kemarin kalau ingin datang pagi ini.” Lelaki itu merutuk karena merasa amat bersalah kepada Lysa yang sudah menunggunya selama setengah jam. Dan kemudian ia teringat suatu hal, “Ah, apartemenku ada di lantai delapan. Unit 880. Lain kali kalau datang langsung daja datang ke apartemenku dan memencet belnya. Aku pasgi akan bangun kalau ada suara bel, jadi kau tidak perlu menunggu di luar seperti ini.”


“Bolehkah begitu?” Lysa meyakinkan.


Kening Mino mengernyit. “Tentu saja. Kapan pun kau mau, kau boleh bermain ke apartemenku. Aku memiliki peliharaan kucing, ahh... barang kali saja kau suka hewan peliharaan.”


Bermain di apartemen? Berdua? Dengan Ajeossi?


Tiga pertanyaan itu menyembul di kepala Lysa ketika membayangkan dirinya sedang ada di apartemen Mino. Selama ini ia tidak pernah membayangkan untuk datang atau bahkan bermain ke apartemen laki laki. Jangankan laki laki yang baru dikenal seperti Mino, datang ke apartemen Brian saja Lysa tidak pernah. Bukannya tidak mau, hanya saja ia tidak pernah diundang.


Apa yang akan pria dan wanita lakukan di dalam apartemen berdua, Lysa tidak dapat menebak. Mungkin benar benar untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama. Namun bisa jadi lebih, seperti ....


Lysa segera menggelengkan pikirannya yang mulai vulgar itu. Dan lansung beranjak bangkit dari duduk.


“Aku menyukai hewan peliharaan, Ajeossi. Dulu aku sempat memelihara kucing. Tapi kucingku mati karena tetrabrak mobil. Sejak saat itu aku tidak berani lagi memelihara kucing, karena merasa sangat bersalah dan takut jika tidak bisa menjaga kucingku seperti yang sebelumnya. Aku hanya menyukai kucing, suka bermain dengan kucing, tapi tidak dengan memeliharanya,” cerita Lysa.


Mino yang ikut berdiri dan mengikuti langkah pelan Lysa menuju taman kecil di samping gedung apartemen itu mendengarkan cerita Lysa sambil mengangguk anggukkan kepala.


“Kalau begitu datanglah kapan kapan. Ah... jangan pula beri tahu aku lebih dulu kalau mau datang.” Mino membalas.


“Kenapa?”


“Apanya yang kenapa? Tentu aku harus bersiap siap lebih dulu.”


Jawaban tidak terduga Mino itu membuat pipi Lysa seketika merona merah. Apa apaan dengan Ajeossi yang satu itu? Bersiap siap? Bersiap siap untuk apa? Apa yang perlu dia persiapkan kalau Lysa ingin datang ke apartemennya? Yang benar saja....


Tiba tiba saja di kepala Lysa terbesit beberapa adegan fulgar dalam film porno yang pernah ditontonnya sekali bersama teman temannya waktu itu. Ya, benar sekali. Laki laki dan perempuan berdua di apartemen, arti dari ‘bermain-main’ bersama di dalam apartemen, dan si laki laki membutuhkan persiapan. Kalau sudah seperti itu, apa lagi kalau bukan ... berhubungan intim?!


“Ajeossi, aku belum siap!”


**